Fanfiction

Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki

.

.:Red Balloon and Blue Sky:.

Chapter 2. Meet You

.

Hari minggu, kuil di bukit belakang Sekolah Teikou sepi. Tidak ada satu pun pengunjung di pagi hari selain Akashi dan Tetsuya. Satu bungkus kue mochi khas musim semi dibawa mereka untuk ucapan terima kasih karena selama ini telah membantu mereka.

Dengan tidak sabarnya Tetsuya berlari sekencang mungkin untuk mengapai anjing kecil yang mungkin seusianya. Anjing itu menjilat - jilat Tetsuya dengan semangat. Tetsuya sendiri tidak merasa terganggu dan hanya tertawa senang sembari memeluk erat.

"Wah, Tetsuya-kun datang kesini."

Sosok wanita paruh baya yang berbalut yukata khusus untuk Miiko tersenyum hangat, menyapa dua tamu mereka yang datang pagi - pagi. Akashi memperhatikan seluk - beluk wanita itu. Tidak ada yang mencurigakan.

"Mitsuko-san," Tetsuya langsung melepaskan anjing kecil itu. "Selamat pagi!"

Wanita disapa Mitsuko itu tertawa kecil sambil meletakan sapu di dinding. Dia memperhatikan sosok pria dewasa berambut merah yang daritadi mengekor Tetsuya.

"Biar kutebak, kau ayah Tetsuya-kun."

Akashi mengangguk dan tetap mempertahankaan imej formal milknya. "Terima kasih telah merawat Tetsuya," Akashi menyerahkan kue mochi itu. "Tetsuya yang membuatnya."

"Wah, kalau begitu terima kasih Tetsuya-kun."

Tetsuya hanya tersenyum malu - malu.

"Satu lagi, aku ingin memberi ini." Akashi menyerahkan sebuah amplop coklat yang jelas berisi uang.

Mitsuko tersenyum dan memberi isyarat penolakan. "Aku mengerti, pasti sakit memiliki anak di luar nikah. Bahkan tidak sedikit mereka meng-abrosi atau menjual mereka. Ah, aku tidak bisa membayangkan mereka yang akhirnya merasakan kematian pedih."

Hening sejenak.

"Tapi aku bersyukur, kau tidak membuang Tetsuya-kun. Kau tahu, Tetsuya-kun tergolong anak baik dan rajin lho."

"Tentu saja," jawab Akashi penuh keyakinan. "Tetsuya sekarang satu - satunya keluarga yang kumiliki. Sekarang, aku bersumpah akan melindunginya."

"Syukurlah..." akhirnya Mitsuko bisa bernafas lega.

Namun kalau boleh jujur, sebenarnya Mitsuko sama sekali tidak yakin dengan ucapan Akashi. Pasalnya Akashi adalah pria kasar dan hampir satu tahun membuat Tetsuya menderita. Walau dirinya tidak memiliki hubungan darah, Mitsuko menganggap Tetsuya anaknya.

Tapi setelah melihat interaksi mereka hangat dan sama sekali lega membuat Mitsuko benar - benar senang. Siapa yang tidak senang, melihat anak sebaik Tetsuya mendapatkan kebahagiaan yang pantas untuknya.

Ya, tidak ada salahnya mempercayai Akashi Seijuurou. Kalau misalnya Akashi kembali kasar terhadap Tetsuya, Mitsuko tidak segan - segan melaporkan ke pihak berwajib dan akan mengurus Tetsuya di kuil ini.

Saat ini, bocah berambut biru itu tengah sibuk kejar - kejaran dengan anjing kecil yang dinamain Nigou―jelas nama sama sekali dilihat dari matanya yang mirip dengan Tetsuya―riang. Dengan bola yang ada di kuil itu, Tetsuya memasang ancang - ancang untuk menendang bola itu.

Sayangnya bola itu mendarat di hutan belakang kuil.

"Ahh..." Tetsuya memandang cemburut. "Nigou, aku ambil dulu ya!"

Anggukan anjing itu terdengar ketika Tetsuya berlari menelusuri hutan dan mencari bola itu. Tidak sulit menemukan bola yang ukurannya hampir sama dengan bola basket. Buktinya saja, Tetsuya langsung melihat bola itu yang tidak begitu jauh dari pagar kuil.

Sebelum Tetsuya sempat mengambil bola itu, seorang pria tinggi yang memiliki imej cowok berkharisma itu mengambil bola itu. Menyadari Tetsuya yang berhenti berlari, pria itu menoleh―mendapati Tetsuya yang mulai waspada.

"Ini bolamu?" tanya pria itu ramah, namun tidak menurunkan tingkat kewaspadaannya.

Tetsuya hanya mengangguk singkat.

Seuntas senyuman terukir di wajah pria itu. "Maaf telah mengambil bolamu." Dia menyerahkan bola itu. "Aku rasa kau mirip seseorang yang kukenal. Siapa namamu?"

Pria itu mengulurkan tangannya. Awalnya Tetsuya ragu untuk menyalaminya. Namun melihat senyuman hangat pria tersebut membuat keraguan Tetsuya perlahan menghilang. Pria itu tersenyum begitu merasakan sentuhan tangan kecil Tetsuya.

"Akashi Tetsuya."

"Akashi?" Mata pria itu terbelak―namun tidak kaget. "Hebat. Bahkan nama marga kalian sama persis. Namaku Kise Ryouta."

"Kise Ryouta?" Rasanya Tetsuya pernah dengar nama itu.

Kise tertawa pelan, "Aku model dan sekarang jadwal pemotretan di hutan Sakura dekat danau sini. Kalau kau?"

"Tetsuya mengunjungi kuil dan bawa mochi untuk Mitsuko-san!"

"Kuil?"

Tetsuya mengangguk, "Ada diujung sana."

Mata Kise terarah pagar yang membatasi kuil dengan hutan. Tidak terlalu jauh. "Nee, Tetsuyacchi, antarkan aku ke kuil. Aku ingin berdoa, boleh?"

Tetsuya mengangguk dan menarik Kise untuk berjalan menelusuri hutan itu. Tidak membutuhkan waktu lama, Kise dapat melihat kuil kecil yang masih memiliki unsur Budha.

"Tetsuya...!"

Mata Akashi terbelak sempurna. Kaget, melihat Tetsuya―daritadi dia cari―dan seorang pria berambut pirang tepat berada disampingnya. Pria itu, Kise, Akashi mengenalnya. Tidak hanya mengenalnya, Akashi dan Kise memiliki hubungan layaknya saudara kandung.

Tapi kebencian Akashi terhadap Kise telah memutuskan hubungan mereka. Ironisnya, Akashi sudah tidak menganggap Kise saudaranya. Hanya sebatas kenal hubungan mereka sekarang.

"A-akashicchi..."

"Kenapa kau disini?!" seru Akashi kalap. Matanya memandang Tetsuya, menyuruh bocah itu menjauh dari Kise. "Kau―"

"Kumohon, pulanglah!" Kise langsung membungkukan punggungya, seolah berhadapan seorang Kaisar Jepang yang selalu dianggap dewa. "Kami semua merindukanmu!"

Akashi memandang Kise rendah. Kebenciannya makin memucak.

"Akashicchi! Kumohon pulanglah, kami semua sudah berubah!"

Bukannya peduli, Akashi malah menarik paksa Tetsuya yang berada disamping. "Tetsuya! Lain kali jangan berbicara dengan orang tidak kenal. Ayo kita pulang."

Sebelum Kise berusaha menggapai Akashi, pundak Kise merasakan sentuhan tangan. Kise menoleh, mendapati wanita paruh baya berbalut yukata berusaha menahannya. Wanita itu menggeleng pelan seolah mengatakan percuma mengejar Akashi dan Tetsuya.

"Aku tidak kenal siapa kau. Namun kelihatannya kau kenal dengan Akashi-san. Namaku Mitsuko Kagome. Maukah kau mendengar ceritaku sejenak?"

Semula Kise bimbang, namun melihat Akashi mengendarai sepeda dan Tetsuya memandang Kise dari kejauhan membuat Kise menahan dirinya. Mungkin tidak ada salahnya jika mendengar cerita Mitsuko terlebih dahulu.

Sesaat, Tetsuya berpikir kalau Akashi sedang mood yang buruk.

Sore ini Tetsuya menghabiskan waktunya di taman bersama Kagami. Bermain di boks pasir dan membuat istana pasir. Jangan lupa bibi Kagami yang mau membantu mereka membuat istana pasir.

Sungguh, sebenarnya Tetsuya sangat ingin mengajak Akashi bermain bersama. Namun karena pria identik warna merah itu terus mengurung diri di kamarnya, Tetsuya tidak jadi mengajaknya.

Apa karena paman model yang bernama Kise Ryouta?

"Yap! Jadi!"

Kagami dan Tetsuya tepuk tangan ketika melihat istana pasir mereka sempurna. Ukiran pagar, pintu dan jendela dibuat sempurna oleh bibi Kagami, Alex. Wanita berdarah Amerika - Jepang itu tersenyum bangga melihat karyanya.

"Alex-san hebat!" puji Tetsuya.

"Hehehe, biasa saja." Alex menyeringai. "O ya, Tetsuya, jangan pakai embel - embel san. Aku terasa tua jadinya."

"Alex-nee sama sekali enggak laku!" cibir Kagami.

"Taiga!" Alex menjitak Kagami.

Tetsuya tertawa. Kagami memang ada benarnya. Seumuran Alex seharusnya memiliki setidaknya pacar. Namun dilihat dari gaya Alex sendiri―identik dengan wanita tomboy―sama sekali tidak menandakan bahwa dirinya memiliki pacar.

Sebenarnya Alex sendiri masih belum ingin mencari pacar. Bukannya dia sama sekali tidak laku―malah dia terkenal di kalangan cowok dengan bakat basketnya. Namun, masalah Himuro yang tak kunjung selesai membuatnya sebagai kerabat dekat memilih untuk merawatnya.

Tidak mungkin Alex akan mengorbankan keluarganya hanya karena mencari pacar.

Kalau bicara soal Himuro, pemuda itu masih saja enggan bermain bersama Kagami di taman. Bukannya Himuro membenci Kagami, tapi prioritasnya sekarang adalah masalah yang ia miliki. Alex sendiri tidak habis pikir kalau Himuro masih saja mempermasalahkan masa lalunya ditengah hidupnya yang Alex bilang cukup damai.

"Kalau tidak salah, namamu Akashi Tetsuya?"

Tetsuya mengganguk. Alex tersenyum hangat padanya.

"Kau mirip sekali dengan pria yang kukenal. Pria yang hebat namun kehidupannya hancur."

"Eh?"

Alex memandang langit, seolah membuang efek misterius. "Aku pernah kenal pria yang hampir mirip sepertimu. Namanya hampir sama denganmu―kecuali nama belakang tentunya."

"Alex-nee dekat dengan orang itu?" tanya Kagami.

"Tidak begitu sih," Alex diam sejenak. "Aku pernah menjadi rekan kerjanya saat jual-beli saham di Amerika. Dia pintar, lumayan tampan dan absolut―aku sama sekali tidak suka dengan itu. Setelah memiliki anak diluar nikah, dan hidupnya berubah."

Kini Tetsuya diam. Rasanya kondisi yang diceritakan Alex sama seperti ayahnya. "Apakah kehidupan pria itu berubah?"

Alex menggeleng sedih. "Tidak ada yang berubah, Tetsuya-kun. Semuanya hancur ketika seorang anak haram datang kehidupan pria itu."

"Eh?"

Mata Alex menutup sejenak. "Sudah, jangan bicara masa lalu. Tidak baik mengungkit - ungkit masa lalu."

Tetsuya menangguk pasrah dan Alex hanya tersenyum tipis. Alex sebenarnya ingin menceritakan semua, berharap semua beban yang dia tanggung setidaknya terangkat. Namun, Tetsuya hanyalah anak kecil seumuran Kagami dan tidak mengenal ibunya. Posisi Tetsuya hampir sama dengan Himuro.

"Kalau begitu, menurutmu apakah pria itu akan berubah?"

"Tentu saja!" seru Tetsuya bersemangat. "Kalau kita percaya, pasti akan berubah! Kita harus berani mengambil langkah baru. Asal memiliki seorang yang mau menemaninya, pasti pria itu bahagia karena bisa tertawa dan menangisi bersama!"

"Tetsuya―" belum sempat Alex mengeluarkan kalimatnya, tiba - tiba Kagami menerjangnya dari belakang. "Kagami...!"

"Alex-nee sama Tetsuya jangan bicara sendiri dong!" cibir Kagami. "Aku jangan dicuekin! Alex-nee, Tetsuya... Ayo beli eskrim!"

"Ta-tapi Tetsuya tidak bawa uang."

"Oke, kalau begitu aku yang traktir!" sebelum Tetsuya menolak, Alex tersenyum sumigrah dan menyerahkan koin 500 yen ke Tetsuya dan Kagami. "Anggap saja ini salam pertemuan pertama kita dan hadiah telah menjawab pertanyaanku."

"Terima kasih, Alex-nee."

Kafe tempat pertemuan Kise dan Akashi tidak bisa dibilang mewah. Hanya kafe bernuansa anak remaja yang tidak terlalu murah dan terlalu mahal. Kalau dipikir - pikir, Kise dan Akashi telah menginjak usia diatas 25 tahun, sama sekali tidak beken di kafe yang didominasi oleh anak sekolah.

Ya, kalau Kise boleh memilih, dia lebih suka berada di restaurant kelas atas yang cocok dengan dompetnya. Hanya saja, sekarang Akashi tidak lebih pria biasa dengan pekerjaan sebagai guru di SMA Teikou dan memiliki seorang anak bernama Akashi Tetsuya. Pastinya hidupnya biasa - biasa saja.

Ah, jika Kise meminta di restaurant mewah pasti dia akan mati.

Kise menegak lemon tea yang daritadi menganggur dihadapannya. Akashi belum datang dan Kise sengaja datang lebih cepat. Walau Akashi sudah banyak berubah, tetap saja dia menuntut displin waktu. Kise sangat ingat saat dia terlambat lima menit dan berakhir hukuman mengerikan.

"Akashicchi." sahut Kise begitu melihat Akashi duduk di bangku depannya.

"Kau sepertinya sudah lama disini," Akashi langsung mengambil buku menu saat pelayan datang menghampiri mereka. "Satu paket burger dan coca - cola makan disini dan satu paket ayam dengan vanilla milkshake, bungkus."

"Aku pesan satu paket burger dengan fanta." Kise memberikan buku menunya ke pelayan itu. "Nee, apakah itu untuk Tetsuyacchi?"

"Jangan terlalu akrab dengan Tetsuya."

"Eh―kenapa?"

Akashi tidak menjawab. Hanya memandang tajam Kise. Pasti Akashi masih marah dengan Kise.

Tak sampai lima belas menit, dua makanan tersaji dan satu makanan yang telah dibungkus rapi dihadapan mereka. Mereka berdua tidak berbicara sama sekali. Hanya menghabiskan makanan sembari memandang satu sama lain.

Lalu, Akashi memecahkan keheningan. "Apa maumu?"

"Aku hanya ingin bertemu denganmu Akashicchi," ucap Kise lirih. "Sudah hampir 6 tahun kita sama sekali tidak bertemu."

"Lalu?"

"Anggap saja ini reunian!" Kise tertawa garing. "Kau tahu, ayahmu sangat merindukanmu."

"Dia begitu karena dia butuh pewaris," kata Akashi. "Kalau dia punya anak selain aku, mungkin dia tidak peduli lagi denganku."

"Kalau begitu... Apakah Akashicchi tidak mengunjungi Kyoto―maksudku bertemu dengan yang lain?"

"Untuk apa aku bertemu mereka?" Akashi menatap tajam. "Hidupku sudah tenang dan aku sudah bahagia. Aku tidak akan pernah merusak kebahagiaan kecil ini karena mereka."

"Tapi Akashicchi, setidaknya kau beri salam atau bertemu lah. Bagaimanapun juga mereka tetap keluargamu."

"Mereka keluargaku dan mereka telah membuangku."

"Kenapa kau bilang begitu Akashicchi?!" seru Kise kalap. "Kau melupakan jasa mereka masa lalu? Justru kaulah yang salah—Ah tidak—seandainya saja kau bisa jaga diri, seandainya saja kau tidak terpengaruh dengan wanita itu, kau pasti tidak perlu menderita seperti ini!"

"Ryouta! Jaga sopan santunmu!"

"Sekarang kau tidak berhak memerintahkanku!" Ini untuk pertama kalinya Kise berani dihadapan Akashi. "Dimana Akashicchi yang kukenal? Apa karena anak itu, kau berubah?! Seandainya anak itu tidak dilahirkan pasti ka—"

Sebelum Kise menyelesaikan kalimatnya, Akashi hampir saja menusuknya dengan pisau ditangannya. Kalau saja Kise tidak menghindar, dipastikan pisau itu menusuk lehernya. Akashi sendiri menatapnya tajam, tidak ada keraguan dimatanya. Dia mungkin saja menusuk Kise.

"Kalau kau ingin diriku yang lama. Maka, aku perintahkan untuk tidak mengejarku lagi. Perintahku absolut."

"Tunggu dulu...!"

"Aku benci mengulang Ryouta. Jika kau berani mengatakan itu, aku tidak akan ragu membunuh." Akashi masih tetap mempertahankan pisau ditangannya. "Aku juga tidak ragu untuk membunuhmu jika kau menyakiti anakku."

Kise sontak diam. Keyakinan Akashi sama sekali tidak bisa diubah. "A-aku mengerti," hanya itu yang bisa Kise jawab.

Tanpa banyak bicara, Akashi menurunkan pisaunya. Matanya tetap menatap tajam Kise. Akashi malas berhubungan dentan orang - orang masa lalunya yang menganggu kebahagiaannya. Tanpa pamit, Akashi meninggalkan Kise dengan membawa pesanannya.

Kise hanya termenung. Namun beberapa detik kemudian, lamunan Kise pecah karena bunyi ponselnya. Sebelum mengangkatnya, Kise memandang sejenak ponselnya.

Kasamatsu Yukio. Seniornya semasa kuliah sekaligus managernya

"Kise!" terdengar suara agak membentak namun menyiratkan khawatir. "Kau dimana?! Aku hampir mati mencarimu!"

Kise tertawa kecil, "Aku lagi di kafe. Yah... Ketemuan teman lama."

"Teman lama, Aomine maksudmu?"

Kise menggeleng. "Bukan. Akashicchi―Akashi Seijuurou."

"A-apa? Kau ketemuan dengan Akashi-san."

"Pria itu... tetap saja mengandalkan egonya."

Akashi terus mengayuh sepedanya menuju taman. Emosinya daritadi terus meluap. Ia ingin sekali melampiaskan emosi ini. Apa saja asalkan bisa menenangkan pikirannya kacau.

Kehadiran Kise jelas diluar perhitungannya. Kise salah satu temannya semenjak SMP. Bagi Akashi, Kise sama saja adik kecil yang butuh pengawasan. Oke, mungkin sekarang sudah berubah. Tapi tetap saja, Akashi tidak bisa melupakan begitu saja.

"Papa!" Akashi langsung menghentikan laju sepedanya. Manik heterokromnya mendapati Tetsuya sedang menikmati eskrim. Bocah lugu itu langsung berlari ke Akashi. "Papa darimana?"

"Papa ketemuan teman lama." Akashi memperhatikan sekeliling taman dekat apartemennya. "Kau sendirian Tetsuya?"

Tetsuya menggeleng. "Tadi Alex-nee dan Kagami-kun harus pulang. Sebentar lagi 'kan malam," jelas Tetsuya. "Tetsuya baru ingin pulang."

"Kalau begitu. Ayo naik."

Tetsuya langsung naik di bangku belakang Akashi. Namun sebelum Akashi siap mengayuh sepedanya, tiba - tiba mobil BMW mewah melintas di hadapan Akashi dan berhenti. Mobil itu menutup jalan dan membuat Akashi sama sekali tidak bisa lewat.

Pintu sopir mobil itu terbuka. Seorang pria berambut merah dan mengeluarkan aura tidak bersahabat keluar dari mobil itu. Sepasang matanya menatap Akashi dan Tetsuya di sepeda keranjang.

Akashi membalas pandangan tajam―tidak suka dengan orang itu. Tidak, Akashi sangat benci orang itu.

"Sudah lama... Aku tidak bertemu denganmu, Seijuurou-kun."

"Ayah..."

.

.

.

Chapter 2 - End

=To Be Continued=

Sehabis Ujian Sekolah, boleh buka laptop, bikin fanfiction! :D

Hehehe... Aku langgar Hiatus ya. Biarin, masih stress UN, aku pengen melegakan pikiran. Hohoho~ gimana gaya tulisanku pada pasca stress? Ancur kah? Silakan komentar di review box! XD

Waow, 31?! Kokoro ini senang! Makasih semuanya... Aku akan berusaha update tepat waktu!

Okie doki, waktunya bales review.

[Mel] Yup. Akashi akan ketemu orang yang dimasa lalu. Namun Akashi enggak nyakitin orang tapi... Eits, hampir bocorin~ tunggu chapter2nya ya~ arigato~

[Arista Raska] wah... Arigato, apakah masih terasa. ff ini dihapus tergantung respon readers saja.

[Just-Sky] Aku suka momen mereka. Bikin melting XD oke, udah update, arigato

[ .5] udah update kok, arigato

[Rey Ai] untuk sequel ff itu aku lagi proses penyusunan ide. Ditunggu saja, arigato!

[GalaxyandOrbit] Sipp bos! Arigato!

[Dee Kyou] Gyaaa! Kalau diculik, gimana Akashinya?! Oke, udah lanjut, arigato atas reviewnya!

[Myadorabletetsuya] Iyaa... Aku merasa kasihan sama mereka TT...TT (padahal aku yang nulis) arigato atas reviewnya!

[ByuuBee] Oke! Aku update! Arigato!

[Yuna Seijuurou] sudah update Yunacchi, jangan lupa update OST-nya! aku selalu menunggu! Arigato!

[Ruki-chan SukiSuki'ssu] Rahasia. Hohoho~ oke, aku update. Arigato!

[Seijuurou Eisha] tentu saja mereka adalah masalah, toh orangnya bermasalah~ arigato atas reviewnya~

[Spring Field Sakura] arigato... Oke udah lanjut !

[Kuro-KuriKuri] udah update, maaf lama... Arigato gozaimasu!

[Kurokolovers] Oke, aku akan lanjut! Arigato reviewnya!

[Himawari Wia] Tentu saja, cuma Akashi enggak mau terima mereka D: Midorima bukan kepala sekolah, tapi eksyen-nya nanti. Arigato!

[AllanH] hubungan mereka... kau akan tahu nanti. Arigato reviewnya! Terus review ya!

[Aliyss] Oke! Semangatkan aku ya! Arigato

[Kagamine Micha] Oke! Aku update, arigato!

[mfayumu] sudah lanjut, arigato!

[InfiKiss] hee... Midorima bukan kepala sekolah, tenang aja... Nanti midorima eksyen kok~ belum, ibunya belum muncul, arigato~

[Akenemori] Aku jadi terharu... Murochin... Ah, itu rahasia. Arigato!

[HoshiKirari] Makasih... Maaf udah bikin lama, tapi arigato telah review! XD

[dinodeer] enggak masalah kok XD makasih telah review! XDDD

[Miyuji Nina] Wah... Makasih Nina, aku tunggu fanfic darimu XD

[v3treas namikaze uchiha] oke, aku lanjutkan Arigato!

[Anagata Okita] kalau sekarang dapet enggak? arigato telah review!

[Angel Muaffi] ini udah lanjut, arigato XD

[Mr DongDong] Oke, aku lanjutkan! Arigato!

[S Kaze] Tentu saja, siapa dulu dong, Akashi! Arigato XD

[Akaya Akiko] Maaf lamaa... Tapi makasih. Semua pertanyaan rahasia jawabannya. Kan gak seru kalo misalnya dikasih tahu, ssu XD

.

Semuanya, aku sangat berterimakasih! Tanpa kalian chapter ini tidak akan ada!

Oya, siapapun tahu tempat bales review lewat PM via hp mohon bilang. Aku tidak tahu caranya

Oke, review or delete!

So, kumohon review ya! TT^TT

.

Salam hangat,

Aihara

Spoiler

.

"Aku perintahkan kau untuk pulang!"

.

"Kumohon Tetsuya, jangan tinggalkan ayah... Kau hanya satu - satunya kumiliki sekarang."

.

"Kenapa dia harus disini?!"

.

"Kau tahu apa Alex, tidak ada! Sejak awal tidak ada pernah peduli denganku kecuali Kagami."

.

"Jika kau teruskan dendam konyol ini. Aku akan bawa Kagami ke Amerika!"

.

"Ayo tersenyum Tatsuya-nii... Tetsuya sedih kalau Tatsuya-nii menangis."

.

"Kurasa... Nasib kita sama ya, Tetsuya."

.

Chapter 3 - Himuro Tatsuya