Biar bulan mulai tenggelam,

Bintang akan tetap bercanda

Malam ini aku tersenyum

Malam minggu ini milik tawa


A KaiHun Fanfiction

.

Standart Disclaimer Applied

.

Lee TaeRin Presents

.

GRAFITI


Sekali lagi aku sadar bahwa aku ini cantik. Dan, aku punya penyakit yang mereka sebut narcissism. Biar saja. Sekali lagi aku melihat refleksiku di cermin. Hari ini aku memakai summer dress birukeluaran Betsey Johnson, peep toe Kate Spade, dan white cuff watch bertengger sempurna di pergelangan tanganku. Tema hari ini putih-biru. Lalu aku mencari hoop earrings-ku, biasanya aku letakkan di kotak aksesori. Tetapi, mengapa hari ini tidak ada? Aku agak sensitif mengenai barang-barang yang hilang. Semua aku beli karena aku tahu itu milikku. Tercipta untukku!

"Ahn ahjumma!" dengan agak sewot aku menjerit. Ahn ahjumma tergopoh-gopoh mengetuk pintu kamarku.

"Nde, nona?" suaranya terdengar gemetar. Aku maklum. Aku ini tipe yang jarang memarahi para maid. Aku memang agak dingin terhadap mereka, tetapi aku jarang menjeriti mereka.

"Siapa yang membereskan kamarku?" tanyaku menyelidik.

"Saya, nona," katanya.

"Ahjumma menyentuh kotak ini, tidak?" tanyaku menyelidik.

"Tidak, Nona," katanya. Sebenarnya aku kasihan juga. Ia hampir separuh abad. Sudah lama mengurus keluarga kami.

"Benar?" tanyaku curiga.

"Sumpah, Nona," katanya. Aku merinding. Aku bnci mendengar orang bersumpah. Orang bersumpah karena hal yang penting. Yang benar-benar penting. Bukan hal sepele seperti antingku.

"LuHan masuk kamarku tidak?" tanyaku lagi. Ahn ahjumma tampak tak berani buka mulut.

"Ahjumma? Aku bisa marah. Barangku hilang. Ahjumma tidak mau dipecat, 'kan?"

"Ani, Nona. Iya, kemarin waktu Nona pergi, Nona LuHan masuk," katanya menunduk.

"Ya sudah, terima kasih," kataku. Seharusnya aku tahu bahwa ini kerjaan adikku yang kurang ajar. Aku mengetuk kamarnya dngan gedoran keras. Ahn ahjumma menatapku diam-diam. Ketakutan. Aku menangkap pandangannya. Tetapi, aku diam saja. Itu haknya.

"LuHan!" aku menjerit dan menggedor pintu kamar adikku lagi. LuHan keluar dengan wajah menantang. Teman-temannya sedang ada dalam kamarnya. Semuanya memandangiku. Antara benci dan kagum, kukira.

"Wae?" balasnya membentak.

"Kau mengambil hoop earrings-ku tidak?" tanyaku melotot. LuHan langsung menampik.

"Enak saja. Pakai otakmu, jamgan asal menuduhku!" katanya. Aku maklum akan perkataannnya. Tetapi, aku tidak maklum akan kebohongannya. Aku mendorong pintunya sehingga ia agak tergeser. Ia menjerit seperti oang gila. Aku tidak peduli. Aku menggeledah kamarnya. Lalu, aku melihat milikku, digenggam temannya yang berkacamata.

"Berikan padaku," kataku meminta. Temannya menyerahkan dengan ragu-ragu.

"Jangan!" pekik LuHan memelototi temannya. Tetapi, aku menatap temannya dengan tegas. Anting itu ada di tanganku sekarang.

"Kau kalau menganggap sudah bisa tanpa aku, tak perlu mencuri barangku," katau sinis meninggalkan kamarnya. LuHan membanting pintu.

Tetapi aku tidak sebodoh itu. Hari ini Eomma libur. Dan, dia sedang berada di perpustakaan yang selantai dengan kamrku dan kamar LuHan. Ia langsung keluar.

"SeHun? Kau apakan LuHan?" tanyanya.

"LuHan mengambil antingku. Mencuri. Dia tak meminta izin," kataku kesal, menunjukkan antingku.

"Mungkin dia mau meminjam? Kenapa begitu saja kau sudah marah?" Tanya Eomma sambil menaikkan alisnya.

"Jelas aku marah! Ini punyaku!" kataku kesal.

"Tapi, Eomma yang beli juga, 'kan?" Eomma berkata.

"Ini AKU yang beli. Dengan uangKu. Dan, aku tidak suka luHan pakai," kataku.

"Dia 'kan adikmu juga. Ada apa denganmu, SeHun?" Eomma denga nada heran bertanya.

"Dia harus minta izin, bukan mencuri. Eomma harus bilang pada LuHan," kataku sambil berlalu. Aku kesal. Marah. Aku membanting pintu kamar saking sebalnya. Benda ini milikku. Kubeli dengan gaji pertama sebagai ketua redaksi. Itulah enaknya sekolah di sekolahku. Semua hasil kerja dihargai. Dan, majalahku laku keras. Karena itulah deadline -ku penting. Apalagi majalahku itu bukan hanya dijual di dalam sekolah. Di luar sekolah juga sering dijual. Karena itulah, teman-teman LuHan memandangiku kagum. Aku pernah dipotret untuk cover-nya. Waktu itu debut-nya. Mereka merasa aku paling pantas. Aku setuju saja.

.

.

Aku senang sekali ketika teman-teman LuHan memandangiku kagum karena teman-temanku yang keren, berikut BaekHyun, yang datang kemudian dengan kostum yang tak kalah kerennya. Hari ini tema kita warna biru. Dan, mobil yang menjemput benar-benar mentereng. Tentu saja aku senang. Sementara LuHan, di antara teman-temannya, hanya dia yang paling keren. Aku agak bangga juga. LuHan tahu cara memakai baju agar tampak keren. Tentu saja teman-temannya yang ini tidak sebanding dengan LuHan. Mereka masih didandani oleh Eomma mereka.

BaekHyun, Ren, dan Luna masuk dalam rumah dan menyapa Eommaku. Semuanya santai. Eomma juga. Ia tampak santai.

"Eomma mau ikut tidak?" tanyaku mengajak.

"Ani, Eomma akan ke fitness center nanti," kata Eomma. Aku mengangguk saja.

"Kita berangkat dulu, Ahjumma," kata BaekHyun mengecup pipi Eomma, setelah aku mengecup Eomma. Eomma tersenyum sambil melambaikan tangan padaku dan teman-temanku.

"Bye, LuHan…" BaekHyun melambaikan tangan pada LuHan dan teman-temannya. LuHan membuang muka. Biarkan saja. Itu haknya.

.

.

Malam minggu ini kamu pergi ke sirkuit setelah sehrian mengelilingi mall. Sirkuit liar. Alasannya, bukan hanya karena hari ini –malam minggu ini—para bembalap yang sudah lama menghilang akan datang. Kebanyakan mereka menghilang kaena mulai sibuk kerja atau sibuk kuliah. Atau malah sudah berkeluarga. Tetapi, alasannya karena hari ini tidak ada batasan. Dan, ada lima tim paling hebat yang akan bertanding hari ini. Karena itu, hari ini akan ramai. Mobil-mobil mentereng. Ditambah namja-namja keren.

Jarang sekali ada mobil tanpa streetlight . Hanya dua. Salah satunya yang diparkir Ren. Tetapi mobil ini ceper. Dan, sudahlah, ini lebih mobil fesyen daripada mobil untuk balap. Tapi, kalau dilihat-lihat lagi jarang ada mobil yang bukan mobil fesyen. Rata-rata mereka pamer karena berduit, jadi tidak ada yang keberatan untuk memodifikasi mobilnya. Banyak dengan boost Nitrous agar mungkin tampak keren. Sekali suntik langsung tancap. Tetapi, untuk yang mengetahui seni dan kepraktisan dalam balap, tentunya memilih Turbo. Tetapi, aku bukan ahlinya.

Sekarang sudah hampir fajar. Aku tahu Eomma tidak pernah setuju aku pulang pagi. Tetapi, Eomma harus mengizinkan aku untuk yang ini. Dan, untungnya Eomma mengerti. Langit menggelap. Tetapi, asap dan lampu mobil dimana-mana. Deruman mesin terdengar membelah malam.

Jam tiga. Aku sudah lelah. Dari tadi aku dikenalkan dan berkenalan dengan orang-orang yang tidak aku kenal. Tetapi, dari pakaian dan mobilnya aku tahu mereka semua orang-orang yang tahu benar cara menghabiskan uang orang tua. Aku lebih respek pada kelima pembalap dari kelima tim yang akan balapan. Mereka, desas-desus umurnya bukan lagi remaj. Katanya sudah melegenda, mereka itu. Tetapi, aku tidak tahu. Aku hanya tahu satu dari lima tim yang ikut. Mungkin mereka berlima bukan tipe yang sembarangan menjejal-jejalkuan suspensi dengan bodykit yang besar-besar, dan dengan wing yang selebar meja makan.

Aku mengantuk. Bosan melihat mereka yang 'membuka' dengan balapan lintasan lurus. Bosan juga menunggu bos-bos itu datang. Tetapi, derumannya terdengar. Dan, mereka yang sama mengantuknya dengan aku langsung menengok. Sebuah GT-R muncul. Semua bersorak. TaeYang tersenyum di dalamnya. Disusul 911 yang di dalamnya duduk JongHyun. Keduanya berusia dua puluh delapan. Tetapi masih berjiwa muda. Sebuah Aventador muncul. Aku tidak percaya. Itu ChanYeol! ChanYeol alumni Seoul International School! Lalu Ferrari muncul, pengemudinya bernama DongHae. Aku agak merinding. Mungkin karena aura yang dipancarkan sekitarku yang begitu senang. Atau…

Karena Evolution hitam itu muncul. Dan dia, berada di dalamnya. Tampak dingin seperti biasanya. Tampan seperti biasanya. Hitam karena mobilnya. Hitam karena bajunya. Hitam karena interiornya. Serba hitam.

BaekHyun menyikutku. Ia tahu aku suka pada dia. Tetapi, dia adalah hitam. Meskipun aku berlari sampai jatuh dan mungkin mati, ia takkan menghampiriku. Ia akan terus pergi dariku. Aku takkan menggapainya. Tetapi, ia keren!

Mesin-mesin dimatikan. Orang-orang dimunduri. Aku baru tahu begini rasanya bila benar-benar berada di sebuah balapan liar. Kelima mobil itu berjajar. Tidak merapat. Tetapi, cukup rapat. Deru turbo mengaum-aum bagai music. Aku tidak menggandrungi mobil, tetapi aku suka suaranya. Sorak sorai terdengar. Taruhan digantung. RPM diset.

"YAK!" bendera berkibar.

Mereka melesat. Start Evo hitam itu paling akhir. Tetapi, pengemudinya tampak tenang-tenang saja. Keempat mobil lainnya saling menyalip dan saling mendahului. Evo hitam mengikuti saja. Tidak banyak bacot. Tikungan pertama, Evo hitam itu menyalip GT-R. an GT-R itu putus asa membalas. Tetapi, tidak bisa disalip balik. Lintasan lurus. Ferrari kini di belakang Evo hitam.

Kata mereka, ini adalah Tiga Raja. ChanYeol, JongHyun, dan dia. Sekali-kali Evo hitam mencoba menyalip 911. Tetapi tampaknya JongHyun begitu andal memegang kemudi mobilnya. Evo hitam itu tampak tersenyum. Dibanting stirnya ke kiri, 911 menghadang. Tetapi, Evo htam itu bukannya ingin menyalip dari kiri. Ia mengambil kesempatan itu dan menghantam kanan 911 sebelum mobil yang satu itu sadar bahwa bayangan tersebut sudah menyalipnya. 911 mencoba berbagai cara membalas. Tetapi, ini hebatnya Evo hitam itu. Tidak ada yang bisa menyalipnya jika ia berada di depan.

Sekarang ChanYeol dan dia. Sesekali Evo hitam dan Aventador setara berjajar. Kecepatannya sama-sama luar biasa. Mereka menikung. Jantungku berdebar. Udara panas dan lengket. Kotor pula. Tetapi, aku ingin menunggu. Aku ingin tahu siapa yang menang.

"Daebak.. dua-duanya seumuran. Sama-sama muda. Tumben anak muda menang." Kata teman Luna –MinHo.

"Biasanya?" Tanya baekHyun.

"Biasanya JongHyun mengang. Tapi, mereka berdua memang rival sejati." Kata MinHo.

"Tumben Kai ikut balapan liar," kata Luna. Hatiku berdebar makin kencang. Aku selalu menghindari namanya. Aku SELALU menghindari namanya. Karena, nama itu bagaikan gunung yang meletus jika disebutkan. Keringat dingin mengucur. Aku begitu menyayanginya. Kim JongIn. Namanya begitu. Kai, begitu ia dipanggil. Kai, pengemudi Evo hitam.

Lintasan lurus. Evo hitam menjajari Aventador. Keduanya bersaing ketat. Saling menjajari. Saling melirik. Entah mengapa, Evo hitam seperti tersenyum. Senyum misterius yang selalu menghiasi wajahnya. Aventador tampak sudah kalah. Ia hanya membalas senyum Evo hitam dengan anggukan. Lalu, deruman Lancer Evolution itu menggarang, memblokir jalan Aventador. Membelah malam di atas yang lain. Menguasai aspal bagai raja tengah malam. Senyuman kemenangan ada di sana. ChanYeol tidak bisa lagi menggas. Mobil mereka sama hebat. Teknik Kai lebih unggul. Evo hitam berhenti. Ia dikerubungi orang-orang. Aku tersenyum saja. Lagipula aku tak bisa apa-apa.

Aventador berhenti di belakang Evo berwarna hitam itu. Kai dan ChanYeol sama-sama keluar. Mereka saling berjabat tangan dan saling merangkul. Seperti sahabat lama. Mungkin memang sahabat.

Aku kenal Park ChanYeol. Dia alumni SeoulInternational School. Berkali-kali dia datang untuk briefing tentang aturan-aturan dalam tim basket. Bebrapa prestasi pernah ia buat ketika ia an angkatannya masih berada dalam tim basket SIS. Katanya, SIS adalah dewa. Tidak boleh kalah.

Wajah ChanYeol sangat familiar. Aku yakin ChanYeol pernah melihatku. Aku juga yakin dia tahu siapa aku. Aku pernah bertanya pada Coach Robson, seorang pelatih dari Minnesota, Amerika Serikat, apakah aku boleh mewawancarai tim basket sekolah kami yang superior itu. Coach berkata bahwa aku lebih baik mewawancarai ChanYeol. Karena, Coach mendefinisikan ChanYeol sebagai "Thebeauty of basket." Aku langsung tertawa di tempat. Demikian juga, ChanYeol yang saat itu berada di sana. Ia juga tertawa. Dan aku tahu, dia tahu siapa aku.

"Sapa saja, SeHun! Aku tahu kau kenal dengan ChanYeol," kata BaekHyun berbisik. ChanYeol dan Kai mendekat kearah kami. Mungkin mereka menuju stan minuman. Aku berdebar. Sapa. Tidak. Sapa. Tidak. Sapa. Lima jari saja cukup. ChanYeol dan kai di depan mata.

"Hai," aku menyapa. ChanYeol dan Kai sama-sama menoleh.

"Eh, SeHun ya?" ChanYeol berkata. Aku tersenyum mengangguk. Kai tidak peduli, ia mengedarkan pandangannya pada sekeliling. Lalu Ren berkata Eommanya telepon. Maka, aku melambaikan tangan pada ChanYeol. Kai tampak memandangi kami tak acuh. Apakah ia tahu kalau aku sekarang ini adalah juniornya? Apa dia ingat akan aku?

.

.

TBC

Big Thankseu to:

RanHwa19, daddykaimommysehun, KusnentiKyuKai, Nagisa Kitagawa, urikaihun, , kihae forever