Rasa itu kugenggam
Kulukis di atas kanvas
Tetapi cinta adalah hitam
Sesosok yang jauh di atas
A KaiHun Fanfiction
.
Standart Disclaimer Applied
.
Lee TaeRin Presents
.
GRAFITI
.
Rapat OSIS hari ini makan waktu lumayan lama. Aku ketinggalan satu jam pelajaran. Hari ini aku semrawut. Kacau balau. Karena:
1. Lima hari lagi aku ulang tahun ke-16. Tidak ada yang menyinggung.
2. Amber belum selesai mengetik artikelnya. Besok harus diserahkan pada pencetak.
3. BaekHyun terlibat kasus lagi. Anak ini tidak pernah kapok terlibat masalah. Ia ketahuan memalsukan tanda tangan surat panggilan.
4. Aku kehilangan post-it tema majalah bulan ini.
5. Miss Elizabeth baru saja meminta aku melukis untuk pagelaran seni dua bulan lagi. Tiga lukisan.
.
.
Karier akademikku adalah sesuatu yang membanggakan. Mungkin aku memang bukan di bidang Matematika dan Fisika. Lagipula aku masih kelas sepuluh. Kelas sebelas aku baru memilih subjek pelajaran. Dan, tentu saja aku memilih Matematika dua unit. Matematika di kelas sebelas terbagi dua, yang susah dan yang mudah. Yang mudah hanya dua unit, yang susah tiga unit. Aku akan mengambil yang mudah. Tidak perlu dipertanyakan. Meskipun bila mengambil Matematika tiga unit, akan lebih memuluskan jalan menuju universitas. Mungkin LuHan akan, tetapi, aku? Tidak. Tidak-tidak, terima kasih.
"SeHun, ini bahan yang kau cari. Sudah aku print. Butuh research juga, ya? Bahannya setebal ini?" Yuri menyerahkan dua puluh lembar fakta yang berhasil dia kumpulkan mengenai Spontaneous Human Combustion (SHC), yakni proses pembakaran tubuh manusia tanpa dipicu factor dari luar. Artikel ini untuk halaman sains. Aku tidak tahu gunanya apa. Tetapi, begitulah aku menentukannya. Dan lagi, ini bukan tugasku. Aku hanya menurunkan bala bantuan. Biar JongDae yang gila sendiri menulis artikelnya. Menelitinya memang menyenangkan. Apalagi fenomena ajaib seperti itu. Bayangkan, tubuh manusia gosong dengan sendirinya? Tetapi ini 'kan insolvent mystery, tidak ada konklusi yang jelas pada akhirnya.
JongDae berada di kelasnya ketika au masuk. Ia langsung menghampiriku. Aku menyerahkan tumpukan dokumen SHC itu padanya. JongDae merengut membacanya.
"Spontaneous Human Combustion? Kenapa ini?" tanyanya. Aku memutar bola mata sambil menjelaskan.
"Karena ini jarang ada yang tahu. Coba kau hitung dari seluruh sekolah. Mungkin bisa dihitung jari, siapa saja yang tahu," kataku.
"Tapi, apa tidak lebih baik kita membahas yang lain? SHC ini 'kan tidak jelas akhirnya," kata JongDae. Ya… tetapi ada dokumentasi BBC yang menunjukkan ini pernah terjadi.
"Okay, kalau yang lain misalnya apa?" tanyaku menantang.
"SARS?" ragunya
"SARS? Astaga. Ini sudah 2014 dan kau masih ingin membahas SARS?" kataku.
"Tapi, menginformasikan. Kita bisa memberitahu mereka bagaimana penelitiannya, sudah sampai mana. Kalau SHC? Ini bukan sesuatu yang menjadi bahan makanan sehari-hari," kata JongDae.
"Kalau kau mau membahas SARS, aku bisa mengusulkan pada Miss Elizabeth untuk membuat rubric kesehatan. Kau bisa puas membahas SARS disana," kataku. Final.
"Tapi—" JongDae baru akan menyampaikan debatnya lagi. Aku memotong.
"Ti… tik," kataku pergi.
.
.
Terkadang aku lelah. Aku tidak tahu apa gunanya aku bkerja. Memang benar aku digaji. Tetapi, aku lebih tidak tahu lagi mengapa aku sekolah. Aku benci sekolah. Ini benar-benar melelahkan. Khususnya, ketika aku harus peduli dengan rumus-rumus linear. Ampun, aku bahkan tidak tahu apa fungsi rumus-rumus linear itu. Dan bila digunjingkan soal prestasi, memang benar sebagai ketua redaksi, prestasiku lumayan. Tetapi, aku tidak tahu, aku tidak punya alasan mengapa aku perlu sekolah. Aku ingin menjadi pengacara. Tetapi, apa semua peraturan tentang hokum itu diajarkan di sekolah? Mereka mengajarkan tentang vektor, aku tidak bisa menyelesaikan studi suatu kasus dengan rumus fisika. Mereka mengajarkan tentang persamaan rumus kuadrat yang aku tidak mengerti fungsinya. Untuk APA?
Aku seringkali bertanya. Untuk apa aku sekolah? aku benci. Untuk apa nilai-nilaiku harus bagus? Untuk Eomma? Eomma seringkali berkata, "Jika nilaimu bagus, Eomma bisa membuktikan pada Appa kalau Eomma adalah ibu yang baik. Eomma berhasil mendidikmu."
Tapi, apa? Tanpa dibuktikan juga, Appa tahu kalau Eomma itu ibu yang baik. Dan lagi, Eomma berhasil mendidik? Mendidik apa? Bahakan, untuk mengajarkan LuHan saja Eomma tidak sukses. Eomma hanya membayar uang sekolah dan para maid. Sisanya, ia tidak peduli. Aku sering kali lelah. Terkadang aku ingin mati saja. Aku tidak tahu untuk apa aku hidup. Aku lelah.
Aku tidak keberatan bila saja mereka mau menurut padaku. Kalau saja JongDae tidak protes, aku rela saja bekerja. Tetapi, mereka sering kali protes mengenai topic yang sudah kutentukan. Dikira udah menentukan bahan? Tidak. Kita harus tahu kira-kira tema apa yang komersil. Dan, SARS? Itu sudah—please—bertahun-tahun yang lalu. Miss Elizabeth bisa terkena serangan jantung jika aku mengajukan topic tentang SARS untuk rubrik sains.
Karier akademikku membanggakan. Tetapi, aku tidak tahu untuk apa. Kalau untuk membuat Appa tahu bahwa Eomma sukses mendidikku, bagaimana kalau Eomma saja yang sekolah?
.
.
Jung Ahjussi menurunkan aku di lobi tempat les melukis. Aku menaiki tangganya, memasuki elevator. Sesekali melirik-lirik. Siapa tahu dia terlambat sehingga satu elevator denganku. Tetapi, sampai pintu elevator itu menutup tidak ada siapa-siapa lagi yang masuk. Aku memijit tombol lantai lima. Menghela napas, menyadari betapa bodohnya aku berharap seperti tadi. Sudah jelas dia tidak mungkin terlambat.
Kelas itu bau terpentin seperti biasa. Berderet-deret kanvas ditegakkan. Ketika aku masuk, sapaan dan sapaan bersahut. Lalu, aku melihat stan di sebelahku seharusnya kosong. Tetapi, hari ini ditempati oleh seorang yeoja berambut pirang pasir.
"Nugu?" tanyaku pada TaeMin, temanku.
"Murid baru. Belum ada yang mengajaknya berkenalan," katanya. Aku mengangguk dan mengambil tempatku.
"Hai," sapaku. Ia balas tersenyum.
"Kau murid baru, ya? Aku SeHun," kataku. Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya yang aku sambut.
" SooJung," katanya. Nama itu membuatku terserang kilat. Tetapi, nama SooJung bukan hanya satu, 'kan?
"Kau pasti sudah lama melukis? Bisa masuk grade dua ini," kataku. Ia mengangguk.
"Eum.. tadinya karena namjachinggu-ku suka sekali melukis. Dia juga disini, di grade empat. Kelas orang-orang pro," katanya. Sekali lagi aku bagai disambar. Karena dia berada di grade empat. Dan, yeojachinggunya bernama SooJung.
"Oh, siapa?" tanyaku.
"Kim JongIn. Tapi dia biasa dipanggil Kai," katanya. Dan aku tersenyum, tidak berkata lagi. Harusnya aku berpegang pada semua prinsipku bahwa aku membenci orang dengan huruf awalan 'S', seperti SooJung dan mantan Kai yang seorang model, Suzy.
Mungkin mantan Kai—Suzy—adalah yeoja terakhir yang ia seriusi. Tiga tahun mereka menjalin hubungan. Tetapi, Suzy memutuskan Kai begitu saja. Alasannya? Dia bilang Kai menghalangi kariernya sebagai model. Padahal aku tahu karena Suzy telah berhasil menggaet seorang musisi hebat yang bisa mendongkrak kariernya sebagai model. Menurut teman-temanku, Kai sempat stress. Mungkin stresnya belum hilang sampai sekarang. Karena, aku tidak yakin Kai serius dengan SooJung.
Dari tempat inilah aku mengenal Kai. Saat itu Ahn Saem, guru melukisku menunjukkan karya Kai yang hebat. Lukisan abstrak dengan dominasi warna hitam. Seperti warna kesukaannya. Tidak mudah membuat gradasi dengan dominasi warna hitam. Tetapi, Kai dengan suksesnya melukis lukisan yang akhirnya dipamerkan di pagelaran seni internasional. Kemudian, aku baru tahu kalau dia ternyata hobi otomotif. Ia adalah salah satu pembalap gelap. Maka, aku rela memohon-mohon pada Eomma untuk pergi Sabtu lalu. Aku tidak menyesal. Dia tahu aku. Dia pernah melihatku. Tetapi, kenapa aku tidak berani berkenalan?
"Annyeonghaseyo.. bagaimana liburannya?" Ahn Saem menyapa, memotong lamunanku. Semua tersenyum dan berkata serempak,
"Baik.." Ahn Saem tersenyum dan mengeluarkan sebuah prism segitiga dari kaca. Warna-warna pelangi terlihat dari sana. Saking banyaknya wrna, aku tahu ini sulit.
"Kalian sekarang akan membagi warna-warna ini. Kita pernah melukis warna dari benda padat. Sekarang kita melukis warna dari benda transparan," katanya tersenyum. Anak-anak mengeluh.
Kanvas aku berdirikan, dengan palet yang berisi warna-warna dari cat minyak yang bercampur terpentin. Aku senang melukis. Kugambar garis mejanya. Meja kayu yang penuh ukiran seni abad pertengahan. Lalu, kugambar dulu outline prisma itu. mulailah cat minyak beraksi. Aku memakai kuas nomor satu untuk memudahkan. Lalu aku mulai mewarnai dengan kuas nomor empat. Aku tidak tahu bagaimana. Aku suka ketika kuasnya menyentuh kanvas. Dimana baunya menguar.
Aku merasakan seperti getaran kecil di seluruh relung jantungku. Aku tahu bahwa ini adalah jiwaku yang melukis. Sesuatu yang kulakukan dengan alasan. Aku menyukainya. Aku menuangkan seluruhnya diriku, seutuhnya diriku dalam refleksi cat. Tanganku bergerak seakan berdiri sendiri. Aku tidak menyukai objeknya. Tetapi, aku menyukai bunyi basah yang terdengar setiap kali cat menyentuh lukisan basah. Aku menyukai sapuannya. Aku menyukai baunya. Aku suka rasanya. Aku suka warnanya. Ini seperti hanya… ini seperti aku, berada dalam duniaku, dimana hanya ada aku. Sendiri. Dalam apa yang kusukai. Aku tersenyum sepanjang lukisan. Aku menyukainya.
Dan, di sana pintu membuka. Ia tersenyum. Kai. Kai berada dalam kelasku. Wajahku memerah. Ku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tetapi, wajahku memerah dan tanganku gemetaran. Aku lupa tadi aku sampai dimana. Yang aku tahu aku sedang melukis sebuah benda berwarna-warni. Terkadang memang banyak senior yang masuk ke kelas. Untuk mensurvei, mungkin. Tetapi, aku gemetaran. Seperti musik dalam diriku yang bernyanyi dengan sendirinya. Ahn Saem berbincang sebentar dengannya. Aku ingin mendengar suaranya. Aku ingin mendengar tawanya. Aku igin berada di dekatnya. Tetapi, aku terlalu… takut. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh kelas. Aku berpura-pura konsentrasi pada lukisanku. Tetapi, aku tahu ia memandang ke arahku. Mungkin juga kearah yeojachinggunya.
Ia berkeliling sekitar kelas. Aku tak peduli lagi. Ia berhenti pada masing-masing orang sekitar satu menit. Lalu mendekati SooJung. Sekitar tiga menit. Apa aku terlalu banyak memakai warna biru? Sebelum aku sadar, ia sudah berdiri di sampingku.
"Lukisannya bagus." Suaranya rendah. Aku mengontrol diriku, tersenyum, dan berterima kasih. Ia mengamatinya lama. Aku seakan tidak tahan. Tanganku bergerak lagi. Tetapi… entah mengapa, begitu nyaman berada di dekatnya. Jantungku berdebar, aku ingin lari darinya. Tetapi, aku tidak bisa. Seakan ia menarikku untuk tetap berada di sampingnya. Begitu aman. Aku tidak tahu prasaan apa ini. Hatiku berdegup kencang. Tetapi, hangat. Entahlah. Aku memakai warna merah lembut.
"Lukisannya bagus," katanya lagi.
Aku menoleh padanya. "Jeongmal?" aku bertanya sambil tersenyum. Ia mengangguk dengan wajah serius.
"Kesannya hangat," katanya tersenyum. Lalu, ia menuju depan kelas. Hangat. Seperti orang jatuh cinta. Entahlah. Aku senang.
.
.
BaekHyun tertawa melihatku. Aku sudah meminta Jung Ahjussi menjemput BaekHyun sebelum menjemputku. Aku ingin teman bicara. Aku bernyanyi, tak peduli suaraku cempreng atau jelek. Aku begitu senang. Aku ingin menjerit! Aku begitu bahagia. Yang bisa terlihat hanyalah aku yang tertawa. Aku hanya ingin tertawa. Aku hanya bisa bahagia. Aku jatuh cinta! Aku begitu menyayanginya. Aku memeluk BaekHyun, lalu membuka kaca jendela dan menjerit sekuat tenaga. Sampai pengendara mobil sebelah menoleh. Tetapi, aku tidak peduli. Hanya ada Kai di dunia ini. Tidak peduli ia sudah mempunyai yeojachinggu atau apa. Aku hanya bisa bahagia. BaekHyun tertawa, lalu ia membuka kaca jendela juga, menjerit lagi. Jung ahjussi kelabakan. Tetapi, aku hanya bisa tertawa. Aku menertawainya.
"Kim Kai! Aaaaaaa!" sorakku. BaekHyun tertawa.
"Aaah… yang sedang jatuh cinta. Arra, arra," godanya. Aku tersenyum saja. Lalu, aku terdiam. Mengulang lagi rekaman dimana ia memujiku sambil tersenyum. Memutar ulang rekaman suaranya. Aku jatuh cinta! JATUH CINTA!
"BaekHyun! Aku sayang Kai… aku sayang dia!" sorakku ketika separuh rohku masih melayang-layang beserta semua kenangan tentang dirinya.
"Tembak lah…" kata BaekHyun.
Aku lau terdiam. "Dia sudah punya yeojachinggu," kataku. Kini seluruh tubuhku utuh berada dalam mobil. Malah, mungkin melesak dalam jok. Kuceritaka tentang SooJung. Mataku hampir berair. BaekHyun menatapku. Seakan ia mengerti. Aku menganggap semuanya penting. Menganggap BaekHyun penting. Hanya dia yang mengerti aku.
"Kau tahu, SeHun. Kau terlalu baik. Kalau aku jadi kau, sudah kuambil Kai dari dulu," kata BaekHyun.
Aku tenggelam lagi dalam keputusasaanku. "Aniyo. Aku tidak mau menjadi orang ketiga," kataku.
"Kenapa kau tidak mengajaknya berkenalan," tanya BaekHyun.
Aku takut! Tapi….
"Shireo. Aku takut kalau kami berkenalan, aku tidak lagi suka dengannya. Aku tidak mau kalau sampai tidak suka lagi padanya. Aku sayang dia, Baek," kataku. Aku tidak tahu sedang bicara apa. Tetapi, aku benar-benar takut. Dan, BaekHyun tampaknya mengerti.
"Aish, kalau kau sudah sayang padanya, bagaimanapun dia, kau pasti tetap sayang," kata BaekHyun.
"Mungkin. Ah, molla. Kau, bagaimana kau bisa bersama namjachinggumu sekarang?" tanyaku. BaekHyun tertawa. Ia sekarang sedang jalan dengan namja yang benar-benar ia mau. Hanya untuk menambah koleksinya, mungkin. Atau, hanya sebagai alat yang—
"Aku bosan dengannya. Besok dia mengajakku nonton, kau mau ikut? Tenang saja, dia yang bayar. Hahaha… maaf, ya. Buat apa kau punya namjachinggu kalau tidak kau manfaatkan untuk membayari ini itu?" katanya santai. Jadi, seperti yang kukatakan. Namja untuknya hanya sebagai bank, kartu kredit, atau apalah namanya.
"Tega, kau," kataku.
"Coba kau pikir. Lebih baik kau punya namjachinggu jelek tapi bisa memberikan apapun yang kau mau daripada namjachinggu yang tampan, bertubuh atletis tapi pelit setengah mati. Yaa… tapi kalau bisa sih yang pertama dan kedua. Yang pertama untuk mainan, yang kedua untuk pajangan," tawanya. Aku salut akan kekejamannya dalam masalah ini.
Aku memandangi sahabatku ini dengan tatapan antara prihatin dan salut. Itu haknya. Aku tetap akan menyayanginya, walaupun seandainya ia adalah buronan polisi. Aku akan menyembunyikannya di bawah tempat tidurku agar tidak ada yang tahu. Aku akan mengusir LuHan jauh-jauh. Aku tetap ngobrol dengannya seperti sekarang. Dia adalah belahan jiwaku yang lainnya. Aku takkan tahu cara hidup tanpanya. Aku memeluknya lagi. Ia kaget.
"Neo micheosso? Memang orang jatuh cinta bisa gila, ya?"
.
.
.
.
Iya. Orang jatuh cinta itu bisa gila.
.
.
.
.
.
.
TBC
Big Thankseu:
Rizsasa, choimellooo, daddykaimommysehun, urikaihun, RanHwa19, Nagisa Kitagawa, , Kim XiuXiu Hunnie, KusnentiKyuKai
.
A/N: Annyeonghaseyooooo~~ akhirnya saya update Grafiti juga.. #ElapKeringetBaekHyun. Masih ada yang menunggu kelanjutan FF ini kah? Hahaha
Mianhae kalau updatenya lama sekali. Akhir-akhir ini susah banget dapet feel Kaihun. Banyaknya malah HunKai. Hadehh. Masa ya, tiap youtube-an, yang ada si Kai sekarang jadi kelihatan imut. Yang SeHunnya jadi keliatan manly banget. Mana sekarang si SeHun jauh lebih tinggi dari Kai. Astaganaga.. kembalikan maknaeku yang imut itu! #GarukGarukTanah
Udahan ah sesi curhatnya. Pokoknya saya akan tetap pada pendirian saya. KaiHun selamanya!
Sooo, riviewnya saya tunggu lhoo.. kamsahamnida readers-nim..
#LambaiLambaiArtikelJongDae
