Cinta- cinta,

Bisakah kau tumbuh?

Cinta- cinta,

Cintaku bukan miliknya!


A KaiHun Fanfiction

.

Standart Disclaimer Applied

.

Lee TaeRin Presents

.

GRAFITI


Aku menemui Miss Elizabeth sambil menyerahkan kanvas lukisan pertamaku. Tenggat waktunya sedikit. Sampai akhir Mei saja. Di sana, di depan kantor ruang guru, aku dengar suara Miss Elizabeth.

"JongDae, if SeHun has decided, that's a final." Suara Miss Elizabeth terdengar tegas. (Kalau SeHun sudah menentukan, itu adalah final)

"I need a chance, Miss. I have my own aspiration, in whichI assure you, will hit the market," kata JongDae. (Aku butuh kesempatan. Aku punya aspirasiku sendiri, dimana aku yakin akan menembus pasaran) Mereka membicarakanku! Pasti tentang artikel SHC yang kuminta ia kerjakan.

"Maybe next month. SeHun has put it that way, that's the way you'll go," (Mungkin bulan depan. SeHun telah menentukan dengan cara itu maka kau harus melaksanakannya)

"She's not a God! I condemn how she works! She's sucks! She'll do nothing without my help!" (Dia bukan Tuhan! Aku mengkritik cara kerjanya! Dia payah! Dia tidak ada apa- apanya tanpa bantuanku!) Oke, JongDae melamapaui batas. Kupecat nanti. Awas!

"Have you talked about this to her?" (Apa kau pernah membicarakan ini padanya?)

"Like she would care," kata JongDae. (Seperti dia peduli saja) Aku menganga. Tentu saja aku peduli! Aku selalu mendengarkan kritik dan sarannya. Aku membuka pintu kantor Miss Elizabeth, student councelor, dengan hentakan kuat.

"I'm sorry for overhearing, I didn't mean to. However, JongDae, you can always talk to me about yoaur article. In which, I WOULD care," ktaku garang. Tetapi, dengan nada professional. (Maaf, aku tidak sengaja mendengar. Bagaimanapun, Jongdae, kau selalu bisa bicara padaku tentang artikelmu itu. yang pasti, aku akan peduli) JongDae memutar bola matanya.

"See? SeHun will listen. So… chop-chop… off you go. What's it, SeHun?" (Benar 'kan? SeHun akan mendengarkan. Sudah selesai. Ada apa, SeHun?) Miss Elizabeth berpaling padaku. JongDae hampir saja keluar, lalu ia berbalik.

"In case you didn't notice, SeHun, I sent you an e-mail abot this," katanya. (Sipa tahu kau tidak memperhatikan, SeHun, aku sudah mengirim e-mail padamu tentang ini) Aku membeku. E-mail sebaris yang langsung ku hapus itu.

"I'll check my mailbox," kataku mengangguk. (Aku akan cek mailbox-ku)

.

.

Miss Elizabeth memuji lukisanku. Aku senang- senang saja. Tetapi, aku cukup kesal akan apa yang dilakukan JongDae. Mungkin aku harus bicara dengannya. Belum lagi ujian matematika-ku? Hanya mendapat nilai 10 dari 30. Hmmm… itu nilainya berapa ya? Kira-kira dapat tiga. Haha… benar-benar tidak aneh. Mata pelajaran yang paling kubenci. BaekHyun saja dapat nilai 15 dari 30. Agak menurunkan gengsi. Nilaiku, semua nilaiku tidak pernah dibawah BaekHyun. Hari ini bagai godam. Padahal aku selalu menang. Aku benci hari ini. Mungkin bisa lebih baik nanti siang. Ketika aku les lukis. Tadi Miss Elizabeth sempat menganjurkan agar diadakan re-summit tentang topic. Siapa tahu ada yang protes seperti JongDae. Baik, akan kupikirkan. Setelah aku menemukan dimana JongDae yang kurang ajar itu.

Aku masuk ke lapangan basket. JongDae 'kan tim basket. Biasanya, setiap Selasa tim basket selalu latihan. Aku memasuki gym. Beberapa sorak-sorai cheerleader terdengar sahut-sahutan. Mengingatkanku pada film Bring It On yang diperankan oleh Kristen Dunst. Aku hanya ingat satu yel, "Be Aggressive, be-e aggressive." Karena, hanya itu yang paling mudah. JongDae langsung kutemukan. Sedang duduk di bangku cadangan. Langsung saja aku menghampirinya. Ia tampak kaget.

"JongDae, aku mau bicara," kataku. Ia menatapku tidak senang.

"Apa lagi? Kau mau bilang kalau aku tidak professional?" tanyanya.

"Bukan itu. tapi aku tidak setuju denganmu. Kenapa kau harus langsung bicara dengan Miss Elizabeth segala?" tanyaku menuntut.

"Bukannya kau yang suruh?" balasnya sewot. Aku menganga.

"Kapan?" tanyaku.

"Katanya, kalau aku ingin membahas SARS, aku bisa minta langsung ke Miss Elizabeth, 'kan? Ya sudah, aku lakukan apa yang kau mau. Sekarang kenapa aku yang salah?" bentaknya. Terlau keras. Aku menatapnya tak percaya. Aku tidak serius saat itu. aku kan hanya mengancam! Bagaiman ia bisa menganggapi itu serius? Bagaimana?

"tapi aku tidak serius waktu itu, JongDae," kataku.

"Makanya, lain kali pikir dulu sebelum bicara!" katanya sadis. Dia jahat. JongDae jahat. Teganya?

"Okay, aku minta maaf. Jadi, bagaiman sekarang? Bahannya sudah aku cari. Temanya juga sudah ditentukan. Kalau kau mau re-summit, aku akan adakan seperti maumu. Bagaimana?" tanyaku. Menunggu kompromi.

"Terserah kau saja lah. Aku tidak peduli. Kau hanya menganggapku pembantu saja. Tapi, aku sarankan kau adakan saja rapat lagi. Biar ketahuan apa yang namanya demokrasi! Aku tidak mau didikte olehmu!" katanya.

"Oke, besok. Saat makan siang," kataku.

.

.

Harusnya kupecat saja dia. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi padaku. Cowok macam apa itu? mungkin dia bahkan tidak lebih sopan daripada seorang alien hemafrodit. Kalau ada. Aku kini melangkah gusar kea rah pintu gym. Memaki-maki JongDae yang kurang kerjaan. Lalu, seseorang menabrakku. Tidak begitu kuat. Tetapi, aku goyang juga.

"Ehh… mianhae," katanya. Aku pusing sejenak. Ruangan terasa gelap. Ini karena aku anemia. Lalu, aku mengangkat pandangan pada pria jangkung yang tidak punya mata itu.

"Gwaenchanha?" tanyanya. Aku mengerjapakan mata, untuk menjernihkan pandangan. Dan, ChanYeol berdiri di hadapanku.

"ChanYeol?" aku bertanga, untuk meyakinkan.

"Maaf ya, tadi keasyikan main. Gwaenchanha? " tanyanya. Aku menggeleng.

"Eum, nan gwaenchanha," kataku.

"Tadi ku jadi linglung begitu," katanya. Matanya menatap mataku lama. Aku tersenyum saja.

"Ani, aku anemia. Sering begitu," kataku. Ia mengalihkan matanya.

"Serius? Gwaenchanha?" tanyanya. Aku risih.

"Jeongmal," kataku.

"Aku tidak yakin. Minum dulu yuk," ajaknya. Aku mengeluh.

"Oke lah…," kataku. Toh, tidak ada ruginya juga.

ChanYeol menempelkan botol air mineral itu ke pipiku. Adem. Aku berterima kasih dan tersenyum. Ia duduk di seberangku. Lalu, ia membuka botolnya sekali putar dan meneguk airnya dengan rakus. Aku maklum saja, ia banjir keringat. Tentunya ia haus.

"Masih pusing?" tanyanya.

"Dari tadi sudah tidak," kataku meneguk air.

"Mianhae, aku tak sengaja."

"Dari tadi… ampun deh, ChanYeol… ChanYeol," kataku tertawa. ChanYeol menyeringai.

"Kenapa belum pulang? Bukannya sekolah sudah selesai setengah jam yang lalu?" tanyanya.

"Tadi ada latihan paduan suara. Terus aku ketemu JongDae, soal majalah. Terus, aku ditabrak dan sekarang aku sedang minum dengan orang yang menabrakku," kataku.

"Kamu lucu deh," katannya denag tampang jahil.

"Oh ya? Aku tahu kok, aku ini lucu," kataku. ChanYeol tersenyum paksa.

"Tapi kamu tidak selucu aku," katanya.

"Kamu bukannya lucu, kamu aneh," kataku membalas. ChanYeol tertawa.

" Tebak ya, siapa yang marah kalau David Beckham nggak pulang ke rumah?" tanyanya.

"Molla," kataku, mengaku.

"Posh Spice," katanya menjawab.

"Ohh…," aku mengerti.

"Will Smith?"

"Jada Pinkett Smith," jawabku.

"Kalau Lee Sungmin?" tanyanya lagi.

"Kim Sa Eun," kataku.

"Lee Seung Gi?"

"Im Yoon Ah," jawabku yakin.

"Maaf, anda salah," katanya lucu.

"Jadi?"

"Eomma-nya," katanya. Aku tertawa keras. Aku selalu suka permainan psikologi seperti ini. Pasangan- pasangan sebelumnya adalah pasangan yang sudah menikah. Sementara Lee Seung Gi kan belum. Lucu. Dia benar- benar lucu. Tipe oang yang punya tiga pasang funny bones.

"Kalau kau yang tidak pulang, siapa yang marah?" tanyanya. Ia tidak tertawa lagi.

"Eomma lah…," kataku dengan santai.

"Oh… memangnya tidak ada pacar ya?" tanyanya. Aku menggeleng.

"Ani… mugkin selain Eomma, Ahn Saem yang marah. Aku harus pulang. Sebentar lagi les lukis," kataku, siap- siap mengangkat pantat. Ia tersenyum.

"Kutelepon ya?" katanya.

"Oke deh, terserah," kataku memberikan nomorku. ChanYeol mengantarku sampai ke mobil, membukakan pintu untukku. Tipe- tipe gentleman. Tidak seperti JongDae, cowok bukan cewek nggak ada tampang.

.

.

Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan berganti baju. Jam sudah menunjukkan jam setegah lima. Aku bisa terlambat ini. Aku harus segera berangkat. Segera, setelah aku menemukan gelang gadingku.

Aku tidak habis pikir. Ini kan rumahku sendiri? Kenapa bisa gelangku lenyap begitu saja? Aku menggedor kamar LuHan. Kali ini tanpa ampun. Ia sedang siap- siap les matematika. Ia keluar denga kaos lycra Giordano dan celana Bali. Dengan GELANG GADING yang disembunyikan dariku.

"Kau kalau mau pinjam ijin dulu sama yang punya. Jangan asal ambil saja!" benakku. LuHan tidak menunduk. Ia bahkan menatapku kurang ajar.

"Aku juga tidak butuh!" katanya sambil melempar gelang itu padaku. Aku geram. Tetapi, aku tidak mau bertengkar. Tidak sekarang. Aku berbalik memasang gelang itu di tanganku. Lalu, dari balik punggungku terdengar jeritan kesal. Jeritan LuHan, antara frustasi dan jengkel.

"Aku tidak butuh kakak sepertimu! Lebih baik aku punya kakak seperti kakak teman-temanku! Mereka semua, meskipun mereka bukan model, peduli dengan adiknya! Mau pinjam-pinjaman, tidak sepertimu!" jeritnya. Dasar orang gila.

"Aku juga tidak minta adik sepertimu," kataku menutup pintu kamar. Benar. Aku tidak pernah minta adik cerewet, menyebalkan, dan tidak tahu diri seperti LuHan. Aku minta adik yang penurut, adik yang rajin, adik yang tahu bagaiman menghargai kakaknya. Bukan yang kurang ajar seperti itu.

.

.

Di dalam mobil tadi, pikiranku terarah pada Kai. Aku bosan SMS terus dengan BaekHyun. Terkadang SMS itu bisa membosankan, karena tidak kunjung habis. Mendingan telepon. Jadi, SMS terakhir BaekHyun tidak kubalas. Aku keluar dari mobil. Menapaki tangga gedung. Melirik sekitar. Siapa tahu hari ini, hari ini saja… Kai terlambat? Tetapi tampaknya percuma. Ya… sudah berapa kali sih, aku berdoa seperti ini? Berapa kali sih, dikabulkan? Hasilnya nihil. Aku memasuki elevator. Perlahan- lahan pintu elevator menutup ketika aku memijit nomor lima. Nyaris tertutup. Sampai tiba- tiba aku mendengar suara.

"Tunggu!" Aku langsung menekan tombol buka. Hatiku melompat. Antara grogi dan girang. Untuk kali ini. Untuk kali ini saja… permintaanku didengar! Aku menyingkir pada sosok berbaju hitam- hitam yang membawa tas berisi kanvas itu. ia mengenaliku. Aku tersenyum ketika ia tersenyum. Ia TERSENYUM! Haha… aku bisa terbang.

"Kita sering bertemu, kan ya?" tanyanya. Aku mengengguk.

"Itu… lukisan baru?" tanyaku menunjuk tas hitamnya. Ia balas mengangguk.

"Iya. Kita belum pernah berkenalan, kan? Kim JongIn," katanya menjulurkan tangan, aku menyambutnya. Tangannya besar. Besar dan terlatih. Kulitnya tidak sehalus Yixing, kakak angkatku yang pesolek itu.

"Oh SeHun, panggil saja SeHun, eum.. Kai-ssi."

"Haha.. panggil saja JongIn. Santai saja," katanya. Aku tersenyum heran. Setahuku ia tak pernah suka jika dipanggil dengan nama aslinya—JongIn. Hanya orang- orang tertentu saja yang memanggilnya begitu. Bahkan ChanYeolpun tidak memanggilnya JongIn.

TING….

JongIn melambaikan tangan padaku. Aku membalasnya. Lantai lima, kenapa kau harus memisahkan aku darinya? Kapan lagi aku bisa berbicara dengannya? Sudahlah, pokoknya aku sudah berkenalan. Aku melangkah menuju kelas. SooJung belum datang. Heran, biasanya –aku mengambil contoh dari BaekHyun—kalau menuju tempat yang sama, sang namja akan menjemput. Bahkan, untuk mengarungi separu Seoul sekalipun. Tetapi, kenapa mereka tidak berangkat bersama?

Ahn saem memasuki ruangan. Kembali bertanya tentang akhir pekan. Kami menjawab seperti biasa. Lalu, SooJung masuk dengan menenteng kanvasnya. Seperti juga aku dengan kanvas lukisan prismaku. Ahn saem mempersilahkannya masuk dan duduk. Ia duduk di sebelahku. Ahn saem memuji lukisan kami. Terutama, lukisanku dan SooJung.

Agak aneh. Ketika aku memandangi lukisan SooJung, tampaknya lukisan itu sedikit berbeda. Bahkan sama sekali berbeda. Minggu lalu lukisannya masih… entahlah… kacau. Semrawut. Warna putihnya terlalu tebal. Lalu, minggu ini? Lukisan ini begitu cantik. Begitu nyata. Begitu… hitam. Outline mejanya tampak lebih hitam dari aslinya. Begitu juga dengan outline prisma. Warna biasan peangi juga ada gradasi warna hitam. Samapi aku menyadari…. Ini bukan lukisan SooJung. Ini lukisan JongIn. Aku marah. Teganya ia memanfaatkan JongIn? Teganya! Kuteliti lagi lukisan itu. benar. Tanda tangan JongIn yang berwarna abu gelap terdapat di pojokannya. Hampir tidak kelihatan. Tetapi, aku tahu lukisan- lukisan JongIn. Aku tahu letak tanda tangannya. Aku tahu ini lukisan JongIn.

"Lukisannya agak lain, ya?" kataku pura- pura riang.

Soojung menatapku bingung. "Lain bagaimana?" tanyanya.

"Seperti, agak sedikit gelap ," kataku. SooJung tersenyum.

"Menurutku lebih bagis begini," katanya.

"Ohh… melukisnya bareng Kai ya?" tanyaku. SooJung langsung menatapku jengkel.

"Ani. Aku melukisnya sendiri."

"Oh," kataku. Gaya tidak pedulian.

.

.

.

#*%&#*$%*$!

.

.

.

.

.

.

TBC


A/N: oke-oke saya tahu chapter kemarin jelek, pendek, ga ada KaiHunnya, dan apapun itu. maafkan saya, maaffff…. Jangan rajam saya…. #lebay.

Sebagai ungkapan permintaan maaf, saya update cepat dan ada nyempil sedikit tuh KaiHun moment diantara ChanHun moment. Hehe…

Sekarang saya lagi suka lihat ChanYeol bareng SeHun, kayaknya ChanYeol sayang banget gitu sama SeHun. Jadi gemes sendiri lihatnya. Tapi tetep saya KaiHun sejati kok, yahh walaupun sekarang sudah tinggi SeHun daripada si JongIn. Hahaha….

Reviewnya ya readers-nim…

PS: saya mau update A Little Wish setelah sekian lama, tapi kok rasanya masih belum sreg gitu ya…

Bow bareng ChanKaiHun