Entah sejak kapan...

Kenapa kau memandangku seolah telah mengerti semuanya?

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : SasuSaku

Waning : OOC,GAJE,TYPO,yang berminat boleh baca.

Genre : Romance,Drama

~0o0o0o0o0o0o0o0o0o~

.

.

Don't like,don't read!

.

.

Sakura POV

Dari kecil,aku selalu membayangkan bagaimana menjadi seorang putri. Menikah dengan pangeran dan hidup bahagia selamanya. Aku tak tahu bahwa kisah itu dilandasi perasaan cinta.

Seorang pangeran berjalan ke arahku. Aku tak dapat melihat wajahnya karena adanya cahaya. Kulihat ia menuju ke arahku dengan sekuntum bunga di tangannya. Perlahan ia mendekat,hingga berjarak dua meter dariku,namun entah kenapa aku masih tak bisa melihat wajahnya.

Yang ku tahu adalah wangi tubuhnya seperti orang yang ku kenal. Aku tak tahu. Hingga akhirnya ia mengulurkan tangannya padaku.

"Kau memang mainanku Haruno Sakura!"

.

.

'BRUK!'

"Hosh...hosh...ah~ yokatta! Ini hanya mimpi! Walau dalam mimpi ternyata dia adalah manusia yang kejam!"

Pandanganku terasa aneh. Kenapa? Sejak kapan kamarku ber-cat biru? Entah kenapa perasaanku menjadi tak enak. Ku arahkan pandanganku ke sisi lain dan melihat seseorang tengah tertidur pulas di sampingku.

"EH?"

"Hn,urusai na. Apa kau tak tahu ini masih sangat pagi?"

Tubuhku bergetar. Orang itu bangun dengan wajah seperti orang bangun tidur pada umumnya. Aku tak percaya ini! kenapa Sasuke berada satu ranjang denganku?!

"GYAAAA! DASAR BOCAH MESUM!"

Aku melemparnya dengan bantal sekuat tenaga,berharap ia jera. Ia tampak tak suka dengan balasanku hingga menatapku dingin. Aku terdiam,bukankah ia masih bocah? Aku meragukan perkataan Kakashi,sekretaris Sasuke yang mengungkapkan bahwa Sasuke masih berusia 14 tahun.

"Apa? Bukankah ini biasa yang dilakukan oleh dua orang yang akan menikah?"

'Ternyata bocah ini harus lebih banyak belajar!' pikirku tak suka. Aku harus cepat-cepat keluar dari sini.

"Hm, hari ini aku ada kegiatan yang bernama sekolah,jadi ku mohon untuk tidak menggangguku,"

"Tidak!"

Aku kesal. Bocah sepertinya bisa membuat keputusan sepihak? Aku mulai bangkit dari ranjang ingin pergi dari kamar tersebut tanpa memperdulikan ucapannya,namun kurasakan ia memegang tanganku hingga aku menoleh.

"Hn? Kau membantah? Sungguh menggelikan jika putri keluarga Haruno bisa bersikap seperti ini,dan sepertinya kau yang memulai game ini nona Haruno."

Aku hanya tersenyum walau sebenarnya agak menakutkan untuk membantahnya. Di ruangan ini hanya ada kami berdua,dimana para pelayan yang kemarin?! Sungguh sebuah bencana.

"Ta-tapi aku masih ingin sekolah,baka!"

"Tidak! Hari ini kau tidak boleh pergi,kau adalah tunanganku. Jadi,diamlah dan duduk manis hinga aku mengijinkanmu!"

'Cih,dasar boca egois!' pikirku kesal.

Beberapa menit setelah Sasuke mengatakan hal itu,terdengar suara pintu kamar terbuka dan menampakan seseorang bermasker,yaitu Kakashi sambil membawa sesuatu. Ia berjalan ke arah ranjangku hingga aku menaikan alis.

"Bagaimana malam pertama anda nona Haruno? Apa berjalan lancar?"

"Eh? Ma-malam pertama? Maksudmu aku dengan bocah itu?" kataku keras sambil menunjuk-nunjuk Sasuke yang masih setengah sadar.

"Apa? Kau meremehkanku? Tenang saja,aku bisa membuatmu puas walau hanya satu jam,Sakura." ujar Sasuke membuat wajahku memerah. Aku memandangnya aneh,mana mungkin bocah ini calon suamiku!.

.

.

Setelah kejadian tadi pagi,aku tak henti berkomat-kamit mengeluarkan sumpah serapah untuk bocah yang sombong itu. ia tidak mengijinkanku ke sekolah,dan dia malah pergi meninggalkanku entah kemana di mension besar ini bersama para pelayan yang lumayan banyak.

Aku heran,apa ia pergi sekolah? Bukankah ia juga seorang direktur? Aku tak bisa membayangkan jika ia mengurus sebuah perusaan besar Uchiha Corp sendirian dengan usia yang masih amat muda. Entah kenapa,kini aku jadi khawatir padanya. Entah kenapa aku ingin menjaganya.

"Nona Sakura,kenapa melamun? Memikirkan tuan Sasuke kah?"

Aku terkejut melihat sumber suara yang berasal dari belakangku. Ternyata ia adalah nenek Chiyo,ketua pelayan disini. Untung saja aku tidak mati muda karena terkejut.

"Hah? Mana mungkin aku memikirkan bocah ingusan seperti dia. Tipeku itu adalah pria yang memiliki sifat dewasa,bukan bocah seperti dia!"

"Lalu kenapa muka nona Sakura merah jika membicarakan tuan Sasuke?"

Aku sempat panik. Kenapa wajahku bisa memerah di saat seperti ini?! apalagi aku tak tahu ingin bilang apa pada nenek Chiyo.

"Ano,aku ingin bertanya. Memangnya walau sudah bekerja,apa Sasuke masih bersekolah?"

"Iya,nona Sakura. tuan Sasuke saat ini masih bersekolah di Konoha International Junior High School,dan selalu mendapat peringkat pertama 'S class',"

"APA? I-itukan sekolah yang sulit?"

"Sepertinya begitu. Hohoho."

Berfikir sejenak. Apa Sasuke itu robot? Walau masih sekolah sudah mengelola perusahaan. Aku terdiam,apa sebaiknya aku bersikap lebih baik padanya? Aku menggeleng keras. Mana mungkin orang egois dan sombong seperti dia perlu di kasihani.

"Etto,bagaimana dengan orang tua-,"

"Maaf nona Sakura sepertinya aku harus kembali ke dapur."

Nenek Chiyo tampak kebingungan. Ia segera berlari meninggalkanku yang masih terdiam di tempat semula. Tapi entah kenapa rasa ingin tahu tentang Sasuke membuatku sangat senang.

~0o00o0o0o00o0~

Normal POV

Di sebuah sekolah paling terkenal di Konoha. Sekolah menengah pertama yang telah mengambil banyak siswa jenius,dan kaya. Seorang pria berambut reven tengah berjalan menuju sekolahnya dengan beberapa pelayan mengelilinginya.

Semua mata memandang tampak terpaku. Bukan hanya wajah yang rupawan, harta,otak encer, tahta pun ia miliki. Bahkan para gurupun hanya memandang takjub pada orang itu. mereka tak menyangka bahwa orang sehebat itu adalah salah satu murid mereka.

"Kakashi,apa jadwal pertama ku?"

"Hm,pukul 08.00 am,rapat bersama para petinggi Konoha. Pukul 10.00 am melakukan upacara minum teh bersama keluarga Akasuna. Pukul 01.00 pm makan siang bersama-,"

"Batalkan. Batalkan jadwalku melakukan upacara minum teh hingga ke depannya. Khusus hari ini aku akan pulang pukul 10.00 am!"

"Apa anda yakin? Bukankah upacara minum teh keluarga Akasuna sangat penting?"

"Hn, masih ada mainan yang menungguku di rumah." Ujar Sasuke seraya menyeringai.

~0o0o0o0~

Flashback

Sebelum mengetahui acara perjodohan tersebut,Sakura yang masih polos tanpa pernah mengenal apa itu perasaan cinta kini harus dijodohkan dengan seorang bocah yang memiliki umur lebih muda darinya.

Bermula awal pertemuannya dengan sang calon suami terjadi pada waktu berangkat ke sekolah. Ia yang mengayuh sepedanya dengan kencang karena terlambat tak melihat keadaan sekitar hingga ia menabrak seseorang,dan tentu saja Sakura langsung membelokan sepeda ke arah yang berlawanan hingga akhirnya menabrak sebuah pohon.

Ia tampak kesakitan,dan beruntungnya ia tak terluka. Ia melihat ke sekelilingnya dan mendapati seorang bocah tengah menatapnya datar. Bocah itu perlahan melangkah ke arahnya dengan wajah datar.

"Hei,apa yang kau lakukan terhadapku?" ujar bocah itu sambil memperlihatkan seragamnya yang robek di bagian lengan.

"Heh? Kenapa aku?"

"Hn,saat kau berbelok dengan kecepatan seperti itu dengan tiba-tiba."

Sakura melihat tindakan bocah tersebut hanya merenggut kesal. Ia berfikir,bukankah itu juga kesalahan bocah itu? untung saja wajahnya rupawan,sehingga membuat Sakura berfikir dua kali untuk memukulnya.

"E-etto,gomen! Aku yang salah,jadi maaf ya. Nee-chan memang buru-buru!" dusta Sakura seraya mengambil sepedanya yang berada di samping pohon dan segera menuju sekolahnya. Bocah yang melihat Sakura itu,tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyuman.

"Fufu..nee-chan?" gumamnya sambil tersenyum. Ia mengambil sebuah handphone dari saku celananya,mencari sebuah nama yang akan ia hubungi.

"Kakashi,aku ingin kau mencari tau tentang gadis berambut pink dengan seragam Konoha High School. Aku membutuhkannya." Ujarnya singkat,tampak tak bisa dibantah. Bocah itu melanjutkan perjalanannya melewati taman hingga sampai di gang sempit.

Tampaknya disana tidak ada seorang pun. Ia berjalan kearah sebuah gundukan tanah dengan sebuah papan yang menancap di atasnya. Ia tampak memandang datar gundukan tanah tersebut sesekali tertawa,walaupun air mata tak bisa di bendung lagi.

"Heh, kalian sungguh jahat meninggalkanku kaa-san,tou-san."

Ia tampak kacau kali ini. Sesekali ia memegang dadanya merasakan sakit. Yang dipikirannya hanyalah rasa penyesalan yang tak berujung.

.

.

TBC..