Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Pairing : SasuSaku
Waning : OOC,GAJE,TYPO,yang berminat boleh baca.
Genre : Romance,Drama
~0o0o0o0o0o0o0o0o0o~
.
.
Don't like,don't read!
.
.
Entah sudah berapa lama gadis itu melamun. Seharian tanpa melakukan apapun pastinya membuat perasaan malas tambah membesar. Terkurung di dalam mension besar sambil menunggu sang pemiliknya yang tak menampakan batang hidungnya sejak dua hari lalu. Ia berfikir, apakah pekerjaannya sangat berat hingga tak pulang berhari-hari?
Sakura menghela nafas panjang. Berada dalam mension besar ini bersama pelayan-pelayan tanpa diberi kewenangan menikmati udara segar diluar sana membuatnya merasa mati muda. Ia tampak lesu dengan sebuah honey pie dan beberapa buah macaron di depannya.
Memang, patissiere di mension ini setara dengan patissiere kelas kakap internasional. Namun, entah mengapa kali ini ia tak nafsu memakan hidangan langka itu. perasaannya resah, entah memikirkan orang tuanya atau bocah mesum itu.
Sakura yakin, di sekolah, kini Ino tengah bersenang-senang tanpa dirinya. Selintas ide merasuk ke kepala pink Haruno Sakura. ia bangkit dari kursi yang sedari tadi ia duduki sehingga membuat para pelayan mau tak mau menatap Sakura.
"Huaah, memang hari ini sangat baik untuk membersihkan diri. Jadi, bisakah kalian semua keluar dari kamarku?" tampak para pelayan itu mengangguk, sepertinya ia sangat mematuhi ucapan Sakura.
Setelah beberapa waktu, tinggalah Sakura sendiri di dalam kamarnya. Ia tampak menyeringai puas dengan kilatan aneh dimatanya.
"Sejauh ini sukses, bocah kerdil itu tak akan pulang jadi aku bebas!"
Ia mengganti pakaian biasanya dengan seragam sekolah Konoha High School, membiarkan rambutnya tergerai dengan bando kelinci sebagai pelengkapnya. Ia mengambil tas ranselnya dan perlahan keluar ke arah pintu, kemudian menjalankan misinya.
'Kabur dari mension ini!'
Bagaikan di film-film action, tampak Sakura angat lihai dalam mengendap-endap keluar dari mension hingga sampai keluar dari gerbang mension dengan selamat.
Dengan senang, Haruno Sakura berjalan menyusuri jalan. Ia sadar telah buta arah melihat beberapa kendaraan berlalu lalang. Ia bingung, masalahnya kini adalah ia tak membawa uang seperserpun.
Bagaikan orang hilang, Sakura menoleh kemana-mana dengan keringatan bercucuran. Sungguh lucu jika seorang yang baru saja kabur dari kadangnya kemudian balik lagi. Dengan panik, ia sudah tak bisa berfikir hingga sebuah klakson mobil mengagetkannya.
'DIN...DIN!'
Mobil itu terhenti, begitu pula Sakura yang masih menutup wajahnya karena ketakunan akan maut yang nyaris menimpanya. Orang di dalam mobil itu pun keluar. Sakura masih menutup wajahnya dengan tangan bergetar tak berani melihat.
"Sakura?"
Mendengar orang itu menyebut namanya, Sakurapun menyingkirkan tangannya yang semula menutup wajahnya sehingga ia bisa melihat siapa orang itu.
"Sa-sasuke? Kenapa kau disini?" tanya Sakura kalang kabut. "Seharusnya aku yang bilang seperti itu. kenapa kau keluar rumah?" Sakura terdiam sambil menunduk. Namun, detik berikutnya ia mengangkat kepalanya dan menatap tajam Sasuke.
"Kau! Kemana saja kau, hah? Siapa yang tak bosan dikurung di mension besar itu!" maki Sakura tak puas.
"Bodoh! Sudah kubilang jangan keluar. Kau tahu, diluar sana banyak orang yang mengincarmu terutama saingan bisnisku." Penerangan Sasuke membuat wajahnya memerah. Apa artinya Sasuke menghawatirkannya?
"Sa-sasuke, kenapa kau bawa mobil sendiri? Kau kan masih kecil!" bentak sakura mencari-cari alasan sambil melihat mobil yang masih berdiam di dekat mereka.
"Sungguh bodohnya kau. Apa kau tak melihat supir ku ada di dalam?"
~~0o0o00o000o~~
Ternyata rencana kabur dari rumah cukup menyulitkan. Sakura mendapat pelajaran kali ini, yaitu tidak lupa membawa uang ketika kabur dari rumah! Bagaikan senyuman penjahat di malam hari, ia tertawa bagaikan penyihir yang telah mengalahkan putri salju dengan apel beracunnya.
"Tertawamu mengerikan!" entah sejak kapan bocah itu, Uchiha Sasuke berada di sebelahnya sambil membawa buku tebal. "Hei, kemana saja kau dua hari ini?"
"Bukan urusanmu."
Sakura merasakan urat kemarahannya terlihat jelas ketika di balas dengan seperti itu. tentu saja ia wajib tahu, karena ia adalah sandera dari mension ini.
"Besok aku ingin ke sekolah. Kuingatkan jangan menghalangiku, akan kucabut semua rambut ayam mu itu!" gertak Sakura membuat Sasuke tersenyum nyaris tak terlihat. "Lakukan saja."
Sakura agak terkejut. Apakah bocah ayam ini sangat takut jika rambutnya dicabut? Kenapa Sakura tak menggertaknya dari dulu jika seperti itu.
.
.
Dengan dua pengawal, satu supir pribadi, dilengkapi fasilitas kendaraan mewah, dan.. satu orang bocah. Tak habis pikir jika Sakura datang ke sekolah dengan keadaan seperti ini, apalagi ditemani seorang bocah.
Wajahnya datar, tingginya pun tak lebih tinggi dari Sakura, pastinya semua orang disekolah ini mengira Sakura membawa seorang adik ke sekolah. Pagi hari yang cerah kini terasa gelap. mimpi baik Sakura semalam telah berubah menjadi mimpi buruk.
'Tak ada yang lebih memalukan dari ini'
Semua orang memandangnya setiap menginjakan satu langkah demi langkah. Dan yang paling aneh, mengapa bocah itu mengikutinya dari belakang dengan para pengawalnya. Seperti selebriti yang baru saja masuk sekolah, ia dipandang ribuan mata dengan tatapan kagum. Entah, kegeeran atau kenyataan yang dipandang Sasuke atau Sakura?
Ino berlari menghampiri Sakura dengan riang seakan mendapat info untuk gosip barunya. Sasuke yang melihat sekolah mulai ribut pun tampak mulai risih dengan bisikan-bisikan aneh yang mengucapkan kata manis, unyu, ataupun kata tabu lainnya.
Sakura dan Ino yang berbicara santai pun terkejut melihat Sasuke yang tiba-tiba berhenti berjalan membuat para pengikutnya ikut berhenti.
"Hei, berhenti bergumam yang tidak jelas. Dasar gadis jala- " Sakura membekap mulut Sasuke dengan kedua tangannya.
"AHAHA, MAAF SEMUA. ADIKKU MEMANG KASAR DAN TAK PUNYA MORAL, MAAF!"
Mungkin inilah kata-kata terakhir yang diucapkan Sakura. Semua yang memandangnya kembali ke aktivitas masing-masing, begitu juga dengan Ino yang langsung berlari ketika melihat pacarnya yang baru saja masuk ke dalam gedung sekolah.
" Hee, 'adik'? walau tadi adalah keadaan mendesak, tak kusangka kau mengucapkan kata-kata itu," kritik Sasuke pedas membuat Sakura dibungkam kata-kata. "Kata-katamu yang akan keluar pasti akan membuat gempar seluruh sekolah. Maaf saja, aku malas menulis surat permohonan maaf untukmu."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Sakura berbalik dan langsung menuju kelasnya meninggalkan Sasuke yang tengah tersenyum- ah bukan, maksudnya menyeringai.
"Haha, ini menyenangkan!"
TBC..
A/N :
Gomen minna, nggak sempat ngelanjutin ff ini. dan kali ini pun fanficnya pendek dan kata-katanya pun kurang :'( .Gara-gara sakit aku jadi nggak bisa mikirin lagi ini fanfic gimana kedepannya. Jadi gomen sebesar-besarnya.
