Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Pairing : SasuSaku
Waning : OOC,GAJE,TYPO,yang berminat boleh baca.
Genre : Romance,Drama
~0o0o0o0o0o0o0o0o0o~
.
.
Don't like,don't read!
.
.
Seorang pria tengah duduk santai di bangkunya dengan tatapan kosong. Bukannya tak punya teman, melainkan saat ini teman-temannya tampak sedang bermain sepak bola dengan semangatnya. Prinsipnya, ia tak ingin membuang-buang tenaga hanya untuk permainan yang merebutkan satu bola.
Ia menatap ke arah jendela melihat permainan teman-temannya, menghiraukan sekumpulan gadis yang datang ke kelasnya hanya untuk sekedar melihatnya ataupun berkeperluan yang tidak penting.
"Sasuke! Kau mau ikut pertandingan bola besok lusa? Tim kami kekurangan orang." Toleh Sasuke ketika mendengar suara yang membuyarkan pikirannya.
"Hn, bukankah timmu sudah pas Naruto?" balas Sasuke dengan tatapan datar. "Chouji itu pemain yang payah. Lagipula ia hanya pemain cadangan,"
"Tidak ada yang namanya pemain yang payah dalam tim." Seketika suasana kelas nampak ribut karena ucapan bijak dari Sasuke. Dan Naruto kini hanya swedrop ria.
Ditempat lain, Sakura yang sudah bisa menikmati masa SMA nya dengan tenang tengah tersenyum, walaupun ia masih terikat kontrak menjadi tunangan seorang bocah. Namun, yang membuatnya bingung akhir-akhir ini adalah ia merasa sering di awasi seseorang membuatnya agak takut.
Ketika berbelanja bersama Ino sepulang sekolah, seorang pria dengan sengaja menabraknya hingga terjatuh. Lalu, ketika pulang ke rumah Sasuke ia diikuti seseorang seharian. Bagaimana tidak, kalau ia sangat ketakutan.
Dan tentu saja, Sakura tak berniat melaporkan hal ini pada Sasuke. Ia bahkan sudah menolak diantar dengan mobil plus bodyguard kelas internasional. Mungkin, jika mengetahui hal ini,Sasuke bakal mendatangkan seorang hitman untuk menjaganya.
'Drrtt...drrtttt'
Sakura merasakan saku roknya bergetar dan mengambil sebuah smartphone dari sana. Dengan malas, ia memencet hanphone layar sentuh itu dengan jemari lentiknya dengan cepat.
'Sepulang sekolah aku akan menjemputmu.'
Pesannya begitu singkat, nyaris saja Sakura tak jadi membacanya. Ia meletakan handphonenya kembali ke sakunya, dan melaksanakan tujuan awalnya pergi ke kantin.
.
.
Sungguh heran Sakura tak menemukan sebuah mobil mewah di depan sekolahnya. Biasanya Sasuke dan para pengikutnya bakal parkir di tempat yang bisa Sakura jangkau. Ia berdiri sudah beberapa menit setelah bel pulang berbunyi, namun tak ada satupun orang yang menjemputnya.
"Mungkin dia lupa,"gumam Sakura agak kecewa dan mulai melangkahkan kakinya.
"Sakura!" gadis itu menoleh mendengar arahnya suara yang memanggil namanya. Terlihat Sasuke tengah berlari dengan peluh membasahi tubuhnya. "Eh, kau kenapa Sasuke?"
"Hn, aku terlambat. Di jalan sedang macet, jadi aku berlari sampai sini." Hampir saja Sakura bersemu karena mengira Sasuke berjuang demi dirinya. "Heh, tak kusangka kau mau bersusah payah demi menepati janjimu. Lalu, mana kata maaf darimu?"
"Hn, untuk apa aku mengatakan itu padamu? Bukankah itu sia-sia?" memang, menurut Sakura bocah yang paling menyebalkan yang pernah ia temui adalah bocah di depannya ini. sudah mesum, tak tau sopan santun pada yang lebih tua, bahkan gayanya dan cara bicara sungguh menyebalkan.
"Jadi, dengan alasan apa kau ingin menjemputku sekolah?" tanya Sakura to the point. "Aku hanya ingin mendinginkan kepala di suatu tempat denganmu." Sakura merespon ucapan Sasuke dengan pandangan lain, sehingga ia kalang kabut.
"Su-suatu tempat? Berdua? Apa maksudmu?!" teriak Sakura, dan untungnya kini di sekitar gerbang para murid sudah berkurang. "Memangnya apa yang kau pikirkan?"
"Eh, tidak ada. Ayo, aku tak ingin pulang malam." Bentak Sakura dengan nada agak malu. Sungguh kesalahpahaman yang kurang mengenakan.
'Seharusnya itu ucapanku' pikir Sasuke kesal.
Sasuke membimbing Sakura ke sebuah tempat dibalik kuil yang terlihat masih terawat. Bukannya tujuan Sasuke mengajak Sakura ke kuil, melainkan menuju halaman belakang kuil yang penuh pepohonan, bahkan semak-semak yang menjulang tinggi.
Mau tak mau, kedua orang ini melewatinya dengan susah payah. Sasuke yang notabene tinggi yang rata-rata pendek, kini malah berada di depan sakura untuk mengahalau semak-semak itu. Melihat Sasuke yang berjuang begitu, Sakura langsung menarik baju Sasuke.
"Mungkin sebaiknya, kita berjuang bersama-sama." Sakura tak tahu kenapa ia tersenyum pada Sasuke. Dan ia pula tak tahu mengapa ucapan itu keluar dari mulutnya.
Sakura berjalan ke samping Sasuke, kemudian membantunya menghalau semak-semak itu hingga akhinya ia tiba di tempat tujuan yang Sasuke maksud.
Mata gadis itu memandang takjub, mulutnya ternganga. Sasuke hanya tersenyum menghilangkan peluh di keningnya. Tak diherankan jika Sakura terpesona dengan apa yang ia lihat. Sebuah sungai mengalir dikelilingi bebatuan yang terlihat rapi.
Jujur saja, tempat ini masih kalah jauh dengan pemandangan luar negeri. Namun, entah kenapa Sakura merasakan sensasi yang berbeda ketika angin berhembus menerpa wajahnya. Rasanya sungguh menyenangkan.
"Kau yang pertama," ujar Sasuke ambigu, membuat Sakura berhenti bermain-main air. "Pertama apa?" sorot mata Sasuke tampak sedih, dan kesepian.
"Kau gadis pertama yang datang kesini selain kaa-san. Datang kesini hanya membuat kenangan buruk terungkit" hembusan angin tampak membawa kesedihan yang mendalam. "Aku tahu, tapi untuk saat ini, bagiku ini adalah kenangan yang indah." Ujar Sakura jujur.
Kali ini Sasuke sadar,orang yang bersamanya saat ini adalah Sakura. ia mulai tersenyum simpul, sedangkan Sakura tengah asik bermain air.
CBUR!
Sasuke terkejut dan melihat Sakura basah kuyup ditengah sungai. Bukannya menolong, Sasuke malah tertawa kecil melihat Sakura yang frustasi. Gadis itu mulai bangkit dan berjalan menuju ke tepian, tepatnya ke arah Sasuke yang duduk santai.
"Sakura, pakaian dalammu kelihatan." Ujar sasuke singkat sambil menoleh ke arah lain. Dan tentu saja, ucapan itu membuat gadis itu malu setengah mati. Ia berusaha menutupi bagian atas tubuhnya karena seragam yang lumayan tipis.
"Gunakan ini. aku tak mau kau masuk angin, maka ini akan menjadi kenangan yang buruk nantinya."
BLUSH!
Sakura meraih jas yang diberi Sasuke. Maklum, sekolah Uchiha Sasuke ini memang terkenal, dan seragamnya memakai jas, sungguh elit.
Wajah Sakura sudah merah sempurna, ketika merasakan wangi tubuh Sasuke yang masih melekat di jasnya. Jantungnya tak berhenti berdebar, wajahnya pun kini kian memerah. Sebenarnya ini kenapa?
TBC..
A/N :
Sankyu minna-san yang udah baca fanfic chapter 4. Mohon dukungan untuk seterusnya, dan riviewnya ya^^
