An: wow, unexpected respond! Huwaaa gomawoo sebagai terimakasih aku udah update cepet nih hehe. Oya, aku… orangnya… garing… mianhae kalau ff ini ga bikin ngakak, humor tetep ada, tapi targetku di ff ini adalah genre drama dengan pelajaran soal cinta gitu deh *tsah. Pokoknya dijelasin kok di chapter ini si yeol itu apa. Selamat membaca ya, semoga sukaJ
"You Who Came From The Roof"
.
Pairing : Chanbaek and other cast seiring berjalannya cerita (and sorry, I don't mean harsh for baekyeon)
.
Disclaimer : Their belongs to themselves and god.
.
Genre : fantasy, romance, friendship, sad and humor (maybe._.)
.
© hinagiku2705
.
Warning : Yaoi, Boys Love
SORRY FOR TYPHO_
.
Happy reading yorobun! ^^
Chapter 1. Mischievous angel
"Hei, apa yang sedang kau lakukan" lelaki yang berada di jalan angkat suara. Tak ada jawaban. Merasa tak ditanggapi, lelaki yang itu kembali berseru dengan suaranya yang terbilang tinggi. " halllo,, kau yang ada di atas atap, apa yang sedang kau lakukan disana?!"
Kedua bola mata berbeda warna itupun saling bertemu.
"Jika mahluk hidup yang ia lihat merupakan mahluk dari kelas aves yang memiliki paruh dan bersayap maka Baekhyun tak akan heran. Namun yang berada di atap setinggi 7 meter itu adalah seorang lelaki bertubuh tinggi dan – walaupun baekhyun enggan mengakui pada awalnya- berwajah tampan. Baekhyun tidak melihat adanya tangga yang bersandar di sekitar pemuda tersebut. Lagipula cuaca panas sekali, orang normal mana yang memilih untuk berada di atas rumah dibanding berada di dalam kamar dan menyalakan pendingin ruangan.
"kau—bicara padaku?" laki-laki yang memilih berada di atap dibanding menikmati AC itu bertanya keheranan.
"siapa lagi? Jelas aku bicara padamu"
"kau bisa melihatku?" kali ini baekhyun hampir yakin 100% persen bahwa lelaki jangkung itu tidak waras. Ia bermaksud kembali pergi meninggalkan orang aneh tersebut.
"mianhae, aku permisi dulu" belum sempat baekhyun berjalan menjauh lelaki aneh itu nampak ingin menghentikannya.
"Tunggu dulu manusia. Aku penasaran padamu." Suara bernada rendah menyapa indera pendengaran Baekhyun. Tak lupa tangan yang besar dan hangat menghentikan pergerakan baekhyun untuk berjalan menjauh.
"M—mwo?" baekhyun terkejut, ia limbung ke belakang akibat tarikan pada pergelangan tangannya. "Apa yang kau la—IGE MWOYA?" seandainya bola mata dapat keluar dari maniknya maka hal tersebut yang mungkin terjadi pada Baekhyun. Selain tak menyangka lelaki yang tadi berada di atap dapat menyentuhnya dalam sekejap, baekhyun sunggah tak mengira lelaki tersebut memiliki anggota tubuh yang berbeda dari manusia pada normalnya. Sepasang sayap putih bersih terbentang di bagian belakang tubuh orang asing itu. Baekhyun sungguh kehilangan kata.
"Err aku bicara padamu." Tanya lelaki asing itu kepada baekhyun.
"…."
"hei kau tidak kehilangan kesadaran sambil berdirikan?" lelaki bersayap itu menjentikan jarinnya tepat di muka baekhyun. Tetap tak ada reaksi.
"…."
"haiss—benar-benar pingsan seper-"
"pilihan pertama. Kau itu malaikat. Pilihan kedua kau mutan. Jadi, mahluk apa kau sebenarnya?" baekhyun yang telah kembali ke bumi memotong ucapan lelaki yang memiliki perbedaan tinggi cukup jelas dengan dirinya.
"well, kalian para manusia memberikan sebutan pada kami malaikat. Tapi kami lebih senang menyebut diri kami tangan kanan sang penguasa." Sambil berkata, pemuda bersayap itu menghilangkan sayap putihnya.
"K- kau malaikat?"
" Ya. Lebih tepatnya aku dari divisi Te Amo yang berada di bawah kepemimpinan Eros. Namaku Chanly. Salam kenal keturunan adam."
"Ja—jadi karena bisa melihatmu apakah waktu ku hidup tinggal sebentar lagi?" seolah tak menghiraukan penjelasan chanly, Baekhyun dengan nada panik kembali bertanya.
"Hah? Mana aku tahu. Kau tidak mendengarkan penjelasanku, hei manusia." Chanly meletakan kedua tangannya di pinggang. " jangan samakan aku dengan orang-orang dari divisi Vita yang berwajah dingin dan muram itu. Aku bukan malaikat pencabut nyawa. Sudah ku katakan kan, aku ini anggota divisi Te Amo kami bertugas menyebarkan kasih sayang diantara kalian yang memiliki beragam emosi."
Belum sempat baekhyun memberikan respon, dari kejauhan ia melihat nyonya kim -tetangganya- mengayuh sepeda keaarahnya.
"annyeong baekhyunee, sampaikan salamku pada kedua orangtuamu nak." Sapa wanita paruh baya itu ramah.
"annyeong, baik ahjuma. Akan kusampaikan." Setelah menurunkan tangannya yang memberikan salam perpisahan kepada Kim ahjumma, baekhyun kembali fokus kepada chanly. Ia sadar orang lain tak bisa melihat pemuda jangkung dihadapannya.
"Ikut aku err—ch-chanly. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan."
Chanly menghela nafas "baiklah". Kedua mahluk yang seharunya berada di dunia berbeda itu berjalan menuju rumah baekhyun.
^o^
Baekhyun bukanlah seorang yang memiliki imijinasi tinggi. Ia tak pernah menaruh minat khusus untuk membayangkan dunia yang bukan dunianya beserta segala macam mahluk-mahluk asing baginya. Oleh karena itu saat ada yang menyebutkan kata 'malaikat cinta' maka yang ia bayangkan adalah wujud yang paling sering diceritakan, manusia berambut pirang yang mengenakan lilitan kain putih serta bersayap. Tak lupa perut buncit beserta harpa atau pun panah cinta. Namun sosok yang sekarang berada satu ruangan dengannya ini walaupun bersayap, ia mengenakan pakaian modern semi formal serta rupa dan badan selayaknya model top pria. Dan alih-alih membawa panah, pemuda bernama chanly ini membawa pistol margolin. Berbeda dengan pistol jenis mcm di dunianya yang diproduksi rusia, senapan itu berwarna silver dan terdapat ukiran-ukiran huruf asing yang Baekhyun yakin bukan bahasa manusia.
"ok, kita kembali ke permasalahan kita yang tertunda." Baekhyun membuka percakapan. "kau merupakan malaikat penebar cinta. Hidupku tidak terancam. Namun tiba-tiba saja aku bisa melihatmu. Jujur, aku sendiri juga tidak mengerti kenapa. Dan kita disini sekarang agar aku bisa mendengar segala hal tentang dirimu."
"kalian manusia memang arogan." Baekhyun nampak tidak senang, namun chaly tak memperdulikannya. "aku merupakan salah satu dari apa yang kalian sebut sebagai malaikat penebar cinta. Kami tidak menimbulkan perasaan cinta. Kutegaskan sekali lagi, kami tidak mampu mengontrol emosi. Cinta ataupun kasih saying yang dapat melahirkan dan menguasainya adalah individu yang bersangkutan. Tugas kami adalah menekan emosi yang lain untuk memenangkan rasa cinta yang tulus."
"maksudmu?"
"seperti yang tadi telah aku katakan manusia merupakan wadah dari beragam emosi. Emosi merupakan suatu yang tidak pasti dan sulit untuk dikontrol. Cinta merupakan salah satu emosi yang disukai oleh Sang penguasa. Cinta itu mulia dan indah. Untuk itu lah kami ada. Saat manusia telah mencapai puncak utuk menumpahkan cintanya maka kami akan menembakan carus bullet. Tembakan tersebut akan menekan emosi seperti ketakutan, nafsu, dan kebohongan sehingga yang manusia itu keluarkan adalah cinta yang tulus."
Baekhyun yang biasanya tak bisa berhenti bicara terdiam mendengarkan penjelasan chanly. "tapi ada kalanya cinta berujung dengan kesedihan seperti bunuh diri atau pembunuhan bukan?" Tanya baekhyun.
"Tolong pahami, itu bukanlah cinta. Cinta itu putih dan tulus. Hal-hal negatif yang kau ucapkan tadi didasari atas obsesi atau rasa egois. Jika itu benar-benar cinta, maka akhir baiklah yang akan didapatkan. Sang penguasa selalu memberi apa yang terbaik."
"bagaimana dengan perselingkuhan atau rasa cemburu?" baekhyun menampilkan mimik bingung.
Chanly yang melayang di atas kasur baekhyun kembali menjawab dengan tenang. "kau perlu ingat di dunia ini tersebar juga para penghianat taman suci, ah kalian menyebut taman suci sebagai surga. Para penghianat ini telah bersumpah untuk selalu membawa kalian ke jalan yang salah. Dan karena pada dasarnya manusia itu lemah, banyak yang akhirnya termakan godaan para penghianat itu. Akhirnya seperti yang kau katakan tadi, penghinatan akan cintapun terjadi." Chanly merubah posisinya, ia terbang menuju jendela baekhyun dan duduk di tepinya. Ia memandang baekhyun lekat "kami tak bisa selalu menjaga dan melindungi kalian. Kami bergerak atas perintah sang penguasa. Jadi jika kau saat ini memiliki orang terkasih byun, jagalah ia baik-baik."
Ucapan chanly mengingatkan baekhyun akan kekasihnya. Baekhyun merogoh kantung dan meraih ponselnya. Tak ada pesan baru yang masuk semenjak pesan terakhir dari kekasihnya, kim taeyeon, yang mengatakan mereka tak bisa bertemu siang tadi akibat kesibukan taeyon. Baekhyun mengerti kekasih yang tiga tahun lebih tua darinya itu juga jauh lebih sibuk. Oleh karena itu ia mencoba berusaha sabar dan menerimanya, walaupun sejujurnya ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan kekasihnya. Pemuda yang bermata coklat itu kembali menatap chanly. Chanly tinggi, bertelinga lebar, bermata bulat besar, dan berambut coklat tua pendek. Jika baekhyun tak melihat sayap dipunggungnya baekhyun akan menyangka sosok di hadapannya ini ulzzang.
"Jadi kau juga tak bisa memberikan jawaban mengapa aku bisa melihatmu?"
"bukan hanya melihat, kau juga bisa berkontak fisik denganku. Dan ya, aku juga tak tahu alasannya. Oleh karena itu kuharap kau mulai membiasakan diri."
"apa maksudmu?" baekhyun bertanyan heran.
"aku memang tidak akan terus-terusan bersamamu. Tapi aku akan sering mengawasimu dari dekat sampai aku menemukan jawabannya." Chanly berkata santai sembari melonggarkan kerah kemeja yang ia kenakan.
"MWO?"
Hari-hari baekhyun bersama malaikat cinta yang aneh itupun dimulai.
^o^
Auuuuu
Lolongan anjing jenis golden retriever mengusik ketenangan baekhyun. Perlahan ia membuka matanya. Bias cahaya matahari pagi langsung membuatnya menutup mata kembali. Setelah mengumpulkan kesadarannya baekhyun bangkit dari ranjangnya dan melihat jam yang berada di meja kecil.
"Mwo?! Sudah jam setengah delapan. Haisss aku bisa telat." Dengan gerakan yang cukup kasar baekhyun menendang selimutnya dan berlari ke kamar mandi. Walaupun sibuk menyiapkan dirinya untuk pergi ke sekolah baekhyun masih sempat meruntuk alas an mengapa ia semalam tak bisa tidur dan berakhir kesianagan pagi itu. Salahkan sosok bersayap itu. Gara-gara ucapannya yang menyatakan bahwa ia akan mengikuti baekhyun kemana-mana membuat pemuda dengan eye smile itu kepikiran semalam suntuk. Ia tak bisa menebak apa yang bakal terjadi kedepannya.
"selamat pagi appa, eomma" baekhyun mengucapkan salam kepada kedua orangtuanya yang tengah menikmati sarapan di meja makan.
"kau kesiangan baekhyunee"
"kenapa kau tidak membangunkanku eomma~" baekhyun berkata manja.
"aigoo kau sudah besar, seharusnya sudah terlatih untuk disiplin. Ayo cepat habiskan dulu roti dan susunya. Nanti kau benar-benar terlambat."
"heumm" baekhyun menjawab seraya memakan sarapannya hingga habis. Setelah selesai dengan sarapan dan mengucapkan salam perpisahan kepada kedua orangtuanya, baekhyun berlari-lari kecil ia menuju pintu depan rumahnya.
Woof woof. Salak ramah seekor anjing.
"aisss, mianhae cucumber, aku tidak ada waktu bermain denganmu. Aku sedang terburu-buru, menyingkirlah." Anjing peliharaan keluarga Byun tersebut menghentikan ekornya yang tadi bergoyang dengan riang. Ia memandang majikannya yang berlari keluar rumah dengan pandangan sedih.
Tanpa ada yang menyadari suatu sosok jangkung tampak melayang di atas halaman rumah keluarga Byun. "dinginnya. Anak itu ternyata bodoh juga ya." Setelah berucap singkat, sosok itu mengepakan sayapnya dan terbang menjauh.
^o^
Awalnya baekhyun tak paham. Namun sekarang baekhyun mengerti perasaan Harry Potter yang keberatan akan keputusan peri rumah, yang bernama dobi, yang menyatakan setia melindungi dan mengikutinya. Tetapi berbeda dengan dobi yang ternyata benar-benar menyelamatkan harry potter di saat-saat genting, sosok yang juga bertelinga lebar seperti dobi dan menyatakan akan mengikuti baekhyun ternyata tidak membantu baekhyun sama sekali.
Contohnya seperti saat ini. Titik peluh mulai bermunculan di dahi baekhyun, namun ia belum bisa juga menyelesaikan grafik pertidaksamaan yang berada dihadapannya. Sejujurnya baekhyun ingin sekali langsung saja menggabar kurva berbentuk payung, tanpa perlu berurusan dengan angka dan abjad yang seolah berteriak-teriak minta diperhatikan. Namun baekhyun cukup waras. Ia tak mau cho songsaenim menambah hukumannya ; karena tadi pagi baekhyun telat masuk kelas pagi tadi. Setelah dipikirkan kembali jika malaikat dan setan benar-benar nyata, maka gurunya yang bernama lengkap cho kyuhyun itu merupakan orang yang cocok menjadi teman minum-minum para setan sepertinya. Gurunya tersebut kejam dengan caranya sendiri. Bulu kuduk baekhyun meremang memikirkannya.
"Belum selesai juga byun?"
"N- ne songsaenim.. ahaha, nampaknya aku hanya bisa menyelesaikan hingga tahap ini saja." Baekhyun menggaruk tenguknya yang tidak gatal dengan tangan yang tidak menggengam spidol.
Kyuhyun tersenyum. Senyuman yang mungkin akan membuat berberapa siswi terkagum, namun malah membuat baekhyun merinding saat ini. "pulang sekolah nanti datanglah keruanganku. Akan ada pekerjaan tambahan untukmu Byun."
"Ne songsaenim." Baekhyun kembali berjalan ke bangkunya dengan perasaan kesal. "sial", runtuknya dalam hati. Baekhyun bejalan gontai kembali ke tempat duduknya. Nampak berberapa teman sekelasnya ada yang memberikan tatapan prihatin serta memberi semangat dengan gerakan bibir atau tangan.
"Kau kan sudah kelas tiga seharusnya bisa mengerjakan soal tersebut."
Suara rendah itu... baekhyun yang baru saja duduk dibangkunya melirik ke samping. Benar saja, ulzangg jadi-jadian yang menggangunya sejak kemarin berdiri dengan tenang di sebelahnya.
"chankkaman, kenapa tidak ada yang merasa heran dengan kehadiran orang ini?" baekhyun keheranan. Bahkan kyuhyun masih kembali mengajar dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"wajar kelas ini tidak heboh." Seolah dapat membaca pikiran baekhyun, chanly mengarahkan bola matanya dan berbicara kepada baekhyun. "manusia tidak bisa melihat dan mendengar kami, ya hal itu tidak berlaku padamu sih. Untuk pagi ini kurasa aku sudah cukup mengamatimu, aku akan kembali bekerja." Chanly membalikan badannya dan berjalan kea rah jendela, sebelum benar-benar melayang pergi malaikat cinta itu mengusak rambut baekhyun hingga mencuatkan jambul.
"belajarlah yang baik mungil. Jangan berbuat nakal." Ucap chanly sebagai salam perpisahan, ia pun meninggalkan baekhyun yang berwajah tak dapat ditebak ekspresinya.
"Dia, mengataiku mungil? Dia, menyuruhku tidak berbuat macam-macam? What the?!" baekhyun geram. Hari itu kali pertama ada orang yang mengatakan hal semacam itu pada seorang byun baekhyun. Sungguh baekhyun sang diva sangat jarang dipandang remeh orang lain. Dan dalam waktu kurang dari 24 jam seorang yang baru dikenalnya memaksa masuk dalam hidup dan mengejeknya.
Setidaknya baekhyun belajar satu hal hari itu, malaikat bisa menghina juga rupanya.
TBC
Special Thanks for people who review, favorite, and follow! Mian belum bisa balas review satu-satu_ di next chapter bakal aku bales hehe. RNR please~
Oktober 2014
