"You Who Came From The Roof"
.
Pairing :Chanbaek and other cast seiring berjalannya cerita (and sorry, I don't mean harsh for baekyeon)
.
Disclaimer : Their belongs to themselves and god.
.
Genre : fantasy, romance, friendship, sad and humor (maybe._.)
.
© hinagiku2705
.
Warning : Yaoi, Boys Love
SORRY FOR TYPHO_
.
Happy reading yorobun! ^^
Chapter 4. Pup emergency!
"Baek,,, baekhyun,, byun baekhyun?"
Jentikan jari di depan wajahnya menyadarkan baekhyun dari lamunan. Baekhyun menoleh keatas, manik matanya bertemu pandang dengan kim Myungsoo.
"gwencana? Kau sepertinya sedang tidak sehat." Sang ketua kelas bertanya sambil mengerutkan alis.
Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya. "aku tidak apa-apa myungsoo-sshi. Ada apa memanggilku?"
Myungsoo sadar sebenarnya ada yang disembunyikan baekhyun, namun ia memilih untuk tidak mencampuri urusan orang lain lebih dalam. "ini aku bermaksud membagikan lembar formulir pemilihan universitas. Semua murid kelas ini telah mengambil, tapi dari tadi kau belum juga menghampiriku jadi kuberikan langsung saja."
Baekhyun menerima kertas yang diberikan myungsoo, ia membacanya sekilas kemudian kembali menatap myungsoo. "terimakasih myungsoo-sshi, maaf merepotkan."
"gwencana. Aku harap apa pun yang menggagu pikiranmu itu dapat cepat terselesaikan baek." Myungsoo berucap bijak seraya menjauhi baekhyun.
Baekhyun salut akan pengertian ketua kelasnya yang memang berkepala dingin itu. Tak lain dan tak bukan yang menggangu pemikirannya saat ini adalah kekasihnya, kim taeyeon. Sudah sepekan sejak baekhyun melihat taeyeon terlihat ceria bersama namja lain. Baekhyu tak berniat bertingkah gegabah dan impulsif dengan langsung memberikan deretan pertanyaan pada yeojanya itu. Berberapa hari ini baekhyun sengaja tak menghubungi taeyeon. Namun gadis itu juga turut tak menghubunginya balik.
Sedih? Entahlah, yang pasti baekhyun masih bisa terbahak jika bersama teman-temannya atau saat menonton TV.
Kecewa? Mungkin, setidaknya hatinya tidak berdenyut perih saat topik mengenai pacaran atau gadisnya itu disebut.
Singkat kata, baekhyun bingung dengan perasaannya sendiri. Hal tersebut tentu akan berbeda dengan kondisi 2 tahun yang lalu. Masih jelas dalam otak baekhyun saat dirinya baru pertama kali menjadi siswa di Jangwoon high school ia langsung terpesona dengan salah seorang seniornya. Seniornya itu pandai menyanyi, cantik, juga dikenal ramah. Baekhyun yang notabenenya murid baru saat itu tak goyah untuk menarik perhatian sunbae yang memang primadona sekolah, taeyeon. Walaupun sebagian orang meremehkannya, dan ternyata meluluhkan hati taeyeon termasuk sulit, pada akhirnya baekhyun berhasil menjadi kekasih gadis tersebut. Wajar saja, baekhyun termasuk pribadi yang ceria, bersemangat, dan tak mudah menyerah. Terkabulah permohonannya. Namun sekarang, baekhyun dibuat meragu dengan perasaanya sendiri.
"Baekhyun!"
Baekhyun menoleh ke sumber suara. Nampak kim jongdae memasuki kelasnya. Tanpa dipersilahkan namja berbibir unik temannya itu menghempaskan diri duduk di bangku yang terletak tepat di depan meja baekhyun
"aku bosan" ujar jongdae langsung pada inti permasalahan.
"wae? Kemana yang lain?"
"teman-teman sekelasku pada serius di kelas seperti biasa. Yixing dipanggil ke ruang guru, mungkin membicarakan perihal pemilihan universitas. Sedangkan minnie dia juga sibuk di kelas mengerjakan tugas kelompok bersama teman sekelasnya." Jongdae menjelaskan sembari memainkan alat tulis yang berada di meja baekhyun.
Baekhyun merenungi kata jongdae. Mereka akan semakin sibuk dengan persiapan ujian, begitu pikr baekyun.
"bagaimana denganmu baek"
"heum,, eh, ada apa dae? Maaf aku melamun"
Jongdae menaikan sebelah alisnya, "dasar kau ini. Aku bertanya bagaimana dengan rencanamu sendiri? Apa kau tetap mengikuti pilihan orang tuamu yang menyarankan jurusan ekonomi di Seoul university?"
Baekhyun mengerjap, tanda sedang berpikir. Ia kemudian ia menghela nafas. "benar dae, aku akan mengikuti saran mereka. Kurasa kesempatanku masuk dunia kerja akan lebih baik jika aku mengikuti jurusan ekonomi."
Kali ini jongdae yang nampak berpikir. "heumm,,, aku sendiri tertarik Korea National University of Arts masuk jurusan musicology sepertinya akan mengasikan." Ujar jongdae dengan mata berbinar.
Mau tak mau baekhyun turut tersenyum melihat kawannya itu. Merekapun terlarut dalam pembicaraan soal universitas. Baekhyun mensugestikan dirinya untuk mengkesampingkan dahulu soal taeyeon. Kali ini ia berniat untuk fokus menanti ujian yang akan menyambutnya.
^0^
"lama juga kau menghilang" baekhyun berucap datar dengan suara yang pelan. Mahluk disebelahnya yang saat ini tengah menghilangkan sayap dipunggunya menatap baekhyun.
"kau merindukanku manusia? Maaf, aku juga memiliki banyak tanggung jawab."
Raut muka baekhyun berubah menjadi kesal "huh, siapa juga yang rin—"
"Si alis tebal dan mata rusa juga sering mempertanyakan mengapa aku banyak menghabiskan waktu di dunia fana. Aku tak mau mereka terlalu mencemaskanku, jadi aku memutuskan untuk tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di dunia ini."
Keras kepala. Sedikit cerewet. Serta memiliki rasa ingin tahu yang besar. Itulah chanly, sang malaikat cinta.
Baekhyun benar-benar gemas terhadap tingkah laku malaikat yang sering seenaknya sendiri itu. Ia melangkahkan kakinya lebih cepat berharap ia agar ia lebih cepat juga mencapai tempat bimbingan belajarnya dan berhenti mendengar celoteh sang malaikat aneh. Saat akan berkelok di ujung jalan baekhyun merasakan seseorang menarik lengannya. Benar saja, chanly menarik ujung lengan kemeja baekhyun. Setelah memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka baekhyun bermaksud akan memarahi chaly. Belum sempat baekhyun bergerak chanly memundurkan dirinya ke arah bawah naungan bangunan, ia memejamkan matanya. Baekhyun ternganga. Chanly yang semula mengenakan kemeja putih dan vest hitam, berganti gaya menjadi berpakaian kasual. Seketika baekhyun sadar chanly tengah merubah wujudnya ke dalam mode manusia.
"ikut aku baek" chanly kembali menarik tangan baekhyun. Ia melangkah ke arah jalan raya bermaksud menyeberanginya.
Baekhyun tiba-tiba teringat kejadia saat chaly menggengam tangannya, ia kembali salah tingkah. "lepaskan! Kau mau menculiku ya? Hei." Baekhyun meronta, namun chanly konstan menghiraukannya. Akhirnya baekhyun hanya bisa pasrah, ia mengikuti kemanapun chanly membawanya. Setelah membawa kedua tubuh berbeda tinggi menyebrang jalan, chanly membimbing baekhyun ke sebuah jalan kecil yang terletak dia antara dua gedung pertokoan.
Baekhyun mengernyitkan alisnya. "ini kan gang menuju tempat pembuangan sampah?" dari ujung gang mereka melihat seorang wanita paruh baya nampak tertegun di depan bak sampah. baekhyun dan chanly memasuki gang dan menghampiri wanita tersebut itu.
"ahjuma, ada yang bisa kami bantu?" dengan sigap chanly bertanya kepada wanita tersebut. Wanita yang telah meletakan kedua kantung sampah di tangannya seketika menghentikan langkahnya untuk mendekati bak sampak. Ia sungguh terkejut dengan kedatangan kedua pemuda yang rupawan.
"i—iya anak muda. Saat akan membuang sampah aku mendengar suara lirih seperti tangisan dari bak sampah ini. Aku bermaksud membongkar bak ini, kurasa ada hewan yang terjebak di dalam sana." Setelah tersadar dari rasa terkejutnya wanita tersebut menjawab dengan nada tegas dan khawatir.
Chanly tersenyum menenangkan. "jangan khawartir ahjuma, kami akan membantu anda. Ayo baek" chanly kini memasuki bak sampah dengan sigap, ia membantu wanita itu naik ke dalam bak sampah. Kemudian chaly mengulurkan tangannya untuk membantu baekhyun. Baekhyun masih tertegun dengan ekspresi yang tak bisa ditebak.
"baek" nada chanly terasa tak terbantahkan. Baekhyun pun bergabung ke dalam bak sampah itu.
Byun baekhyun, 17 tahun, ia sadar ia banyak disenangi orang karena sifatnya yang ceria dan lucu. Ia juga memiliki fisik yang menarik dengan gaya fashion yang bagus. Namun saat ini alih-alih seperti siswa normal yang pergi ke tempat bimbingan belajar untuk mempersiapkan diri untuk ujian. Ia sibuk mengaduk-ngaduk tempat sampah, mencari sesuatu yang tidak pasti. Baekhyun mati-matian menahan nafas dan keluhan. Aroma busuk sampah menguar. ia juga harus berhati-hati dengan langkahnya agar tidak terjatuh dan bergabung dalam tumpukan sampah. Baekhyun masih menggerutu dalam hati saat ia merasa salah satu trash bag bergulir akibat gerakannya menimbulkan suara rintihan pelan.
"ch- chan, kemarilah." Setengah panik baekhyun berusaha mengangkat trash bag tersebut dan memanggil chanly. Ketiga orang dalam bak sampah kini telah keluar dan mengerubungi sebuah trash bag hitam. Chaly nampak berusaha membuka ikatan transh bag tersebut, sedangkan baekhyun dan ahjuma (yang baru saja diketahui bermarga bang) menunggu dengan rasa cemas dan penasaran. Setelah plastik tersebut terbuka ketiga orang tersebut menemukan pemandangan yang menyayat hati.
Plastik tersebut ternyata berisi sampah sisa makanan. Bekas tulang ikan, kulit pisang nampak bercecer di dalam plastik lain di dalam trash bag hitam tersebut. Namun, di dalam trash bag itu pun nampak seekor anak anjing berbulu putih yang gemetaran. Tubuh anak anjing itu tampak aneh dengan posisi meluruskan badannya. Dari mulut kecilnya nampak sekali ia berusaha mengeluarkan erangan-erangan kesakitan dan ketakutan.
"ahjuma, apakah anda memiliki kendaraan. Kita harus membawa anjing ini ke dokter." Chanly berucap lugas. Nyonya bang yang semula terpaku dan nampak akan menangis miris berusaha kembali fokus. Ia berucap "tunggulah sebentar nak" kemudian menghilang di ujung gang.
Usia anjing itu jelas kurang dari sebulan, tubuhnya kelihatan rapuh. Dan buku-bulunya yang basah menambah penderitaan anjing itu karena kedinginan. Baekhyun melihat anjing tersebut mendengking-dengking lebih keras saat chanly memegang tubuh anjing itu. Anak anjing itu ketakutan. Baekhyun merasakan hatinya pedih sekali, perutnya juga terasa mual. Ia tak habis pikir mengapa ada orang yang tidak memiliki perasaan hingga menyiksa jiwa tanpa dosa itu.
Chanly tiba-tiba melepaskan kausnya.
"chan?" baekhyun bertanya dengan sedikit berdebar dan muka memerah. Ia reflek memalingkan mukanya setelah melihat tubuh chanly yang walaupun tidak kekar berotot namun ateletis serta nampak tegap dan mulus.
"gwencana, aku bisa memvisualisasikan pakaianku lagi nantinya." Jawab chanly seraya membentuk kaus yang digunakannya untuk menyelimuti anjing kecil dihadapannya.
Baekhyun mengangguk mengerti. Kemudian baekhyun membantu chanly membungkus anjing tersebut dengan kehati-hatian yang amat tinggi seolah yang mereka selimuti adalah porselen yang saat disentuh bisa retak kapan saja. Anjing itu tetap merintih dalam dekapan baekhyun, namun badannya sudah tidak terlalu gemetaran lagi. Selang berberapa waktu kemudian nyonya bang datang dengan mobil pengangkut barangnya, kedua manusia beserta satu jelmaan malaikat (yang telah memvisualisasikan kausnya kembali) itu pun lantas pergi ke klinik hewan terdekat.
^o^
Nyonya byun merasa heran. Ia menatap putra bungsunya menutup pintu gerbang dengan lesu. Nyonya byun yang semula bermaksud membuka pintu rumah menghentikan aktivitasnya dan mendekati baekhyun.
"baekhyunee, ada apa nak? Kau terlihat lemas sekali." Nyanyo byun berucap dengan nada yang sarat ke khawatiran. Disentuhnya pundak putranya yang juga telah berada di depan pintu.
Bukannya menjawab baekhyun malah menjelaskan hal lain. "mianhae eomma. Aku tadi tidak masuk bimbingan belajar. Ada hal tak terduga terjadi."
"tak apa chagi, kau boleh sekali-kali membolos jika sedang tak enak badan." Nyonya byun berucap sambil membuka pintu bagi mereka berdua.
Sebenarnya bukan itu alasannya namun baekhyun sepperti malas membahas lebih jauh lagi ia memutuskan mengiyakan pemikiran eommanya.
"mandilah dulu ne. Biar eomma siapka makan malam untuk kita." Ujar wanita tersebut seraya memasuki rumah.
Baekhyun melangkah gontai. Setengah jam kemudian ia nampak menjernihkan kepalanya dibawah guyuran shower dalam kamar mandi. Pikirannya kembali ke insiden berberapa saat yang lalu.
Anak anjing yang ditemukan di bak sampak tersebut berada dalam keadaan yang tak baik saat dibawa ke klinik. Dokter memvonis anjing tersebut mengalami berberapa pergeseran tulang pada kakinya dan kekurangan nutrisi. Tindakan operasi pun segera dilakukan. Berberapa jam setelahnya operasi tersebut selesai, hasilnya cukup melegakan hati. Anjing tersebut selamat walau ada kemungkinana hingga dewasa ia tidak dapat berjalan normal. Nyonya bang menyanggupi membayar operasi tersebut dan berkeinginan mengadopsi anjing itu. Dengan sedikit emosi nyonya bang bersumpah akan mengungkit insiden ini ke media sosial dan melaporkannya ke kelompok pecinta hewan di lingkungannya.
Baekhyun cukup lega membayangkan nasib selanjutnya anak anjing tersebut. Di bawah guyuran shower baekhyun memandang tangannya. Masih teringat saat akan meninggalkan klinik hewan, baekhyun sempat menyentuh pelan moncong anjing itu sebagai tanda perpisahan. Ia sungguh terkejut karena sadar anak anjing yang dalam keadaan lemah itu menguatkan diri untuk sadar dan menjilat jemari baekhyun seolah mengucapkan terimakasih. Baekhyun merasa amat tersentuh.
"wae? Kenapa manusia bisa berlaku kejam terhadap mahluk manis itu?"
SKIP TIME
"enak baekhyunee?"
"nde eomma, mashita!" baekhyun menjawab dengan mulut yang stengah penuh.
Nyonya Byun menggelengkan kepala melihat tingkah putranya yang nampak kekanakan. Kedua orang tersebut tengah memakan makan malam bersama. Selang berberapa waktu kemudian terdengar suara orang memasuki rumah.
"aku pulang" sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah pintu gerbang.
"eh? Baekboom?"
Nyonya byun tergopoh meletakan alat makannya dan berjalan ke pintu depan, sedangkan baekhyun yang sedang meminum air mineral nyaris saja tersedak.
"mwo?" baekhyun menoleh kebelakang melihat sumber suara yang semakin mendekat. Benar saja yang datang bersama ibunya itu kakak lelakinya, baekbom.
"hai bocah, merindukanku?" baekboom mengeluarkan senyuman mengejek ke adik laki-lakinya.
"yang benar saja. Huh, dunia terasa lebih damai jika kau tidak datang hyung."
Baek boom hanya menggidikan bahu menanggapi sindiran adiknya itu. Ia meletakan barangnya di sudut ruangan dan mengambil buah apel yang terletak ditengah meja makan.
"ahhh aku rindu sekali rumah. Eomma, tak apakan untuk dua hari ini aku di rumah saja. Aku sudah mendapatkan cuti dari kantor." Nyonyaa byun mengangguk sembari tersenyum lembut, sedangkan baekhyun yang merasa geli dengan tingkah kakaknya memutuskan kembali ke kamarnya setelah membereskan sisa makannya.
"aku kembali ke kamar dulu eomma. Kau juga lebih baik tidak mengganguku hyung."
Baek boom memutar bolanya malas. "yaya terserah kau sajalah." Ia memandang ke penjuru ruangan "hmm kemana anak itu?"
Baekhyun yang melewati hyungnya sempat bingung dengan mendengarkan gumaman tersebut. Namun ia memutuskan untuk tidak memikirkan lebih lanjut. Saat akan menaiki tangga menuju ke kamarnya baekhyun melihat chanly berdiri di undakan paling bawah, dengan tatapan fokus ke arah ruang makan dan ruang keluarga.
"apa yang kau lakukan?" baekhyun bertanya dengan berbisik, ia sadar tak ada yang bisa melihat chanly di rumah ini.
Bukannya menjawab chanly malah berjalan melewati baekhyun. Ia tetap memasang ekspresi tenang, namun nampak ekspresi keseriusan di wajah tampannya tersebut. Baekhyun mengerjap bingung ia memandang ke arah chanly berjalan. Dari ruang makan tiba-tiba saja baekboom keluar. Chanly menjadi tepat berada di belakang baekboom. Detik selanjutnya baekhyun berlari panik ke arah chanly. Bagaimana tidak? Chanly tiba-tiba saja mengeluarkan pistolnya seoalah ingin menembak baeboom.
"hentikan!" baekhyun berucap pelan namun tegas. Pemuda itu melintangkan badannya di belakang baekboom yang berjalan ke ruang keluarga. Chanly kini menjadi nampak menodongkan pistolnya ke arah baekhyun.
"ini tugasku, menyingkirlah manusia"
Chanly berucap nada yang seperti biasa tenang dan angkuh. Baekhyun menjadi kesal bukan main dibuatnya.
"apa maksudmu huh? Katamu kau itu malaikat. Tapi kau sekarang bermaksud melukai kakaku?" baekhyun memicingkan matanya, ketara sekali nada dingin dalam pertanyaannya.
"byun baekhyun. Percalah padaku." Seulas senyuman kecil tersungging di bibir chanly. Baekhyun tidak ingin menjadi subjektif, namun ia merasa ekspresi chaly yang seperti itu sekan dipenuhi kelembutan.
"aaa disitu kau rupanya, kemari nak!" suara baekboom yang berasa dari belakang menyadarkan baekhyun yang sempat kehilangan fokus akan keadaan sekitarnya. Semuanya terjadi begitu cepat.
Tangan panjang chanly mendorong pundak baekhyun sehingga terhindar dari moncong pistol.
Dorrr
Muntahan peluru pun dikeluarkan dari pistol yang digenggam chanly.
"Andwaeee"
Dalam waktu sepersekian detik baekhyun berteriak dalam hati sekaligus berusaha dengan frustasi menghalangi tembakan chanly.
TBC
AN: Mian telat update. Account FFN bermasalah yorobun:'(
Special thanks for yang review, follow, and favorite XD
Review lagi ne, Hina butuh kritik dan saran untuk memperbaiki tulisan hehe. Oya jurusan dan berita (soal anak anjing dalam trash bag) yang dalam cerita ini beneran terjadi lohL gomawo~
November 2014
