"You Who Came From The Roof"

.

Pairing : Chanbaek and other cast seiring berjalannya cerita (and sorry, I don't mean harsh for baekyeon)

.

Disclaimer : Their belongs to themselves and god.

.

Genre : fantasy, romance, friendship, sad and humor (maybe._.)

.

© hinagiku2705

.

Warning : Yaoi, Boys Love

SORRY FOR TYPHO_

.

Happy reading yorobun! ^^

Chapter 4. Hello love, goodbye love

Andwaaee!

Baekhyun terpekik kaget. Ia yang limbung ke samping tidak sempat menghentikan tembakan chanly. Pistol yang ditembakan chanly tepat menuju ke arah baekboom dan,, cucumber. Dengan menumpukan sebelah tangannya ke dinding, baekhyun tertegun. Tidak seperti film action yang biasa ditontonnya, tembakan itu alih-alih meninggalkan jejak bau mesiu ataupun darah-darah namun tembakan itu menciptakan suatu kubah keperakan yang menyelubungi baekboom dan cucumber. Baekboom dan cucumber benar-benar bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Baekboom nampak asik mengelus dan menggaruk belakan telinga cucumber, sedangkan anjing peliharaan keluarga byun tersebut membalasnya dengan salakan ramah dan gotangan ekor yang ceoat karena kesenangan.

Baekhyun terdiam kebingungan.

"ikatan mereka semakin menguat." Chanly tiba-tiba angkat bicara, ia memasukkan kembali pistolnya. "ayo kita bicarakan ini dikamarmu." Seolah dapat membaca pikiran baekhyun chaly menyeret baekhyun yang masih terdiam dan meninggalkan baekboom serta cucumber yang mungkin akan merasa aneh dengan tingkah laku baekhyun.

Setelah sampai di kamar baekhyun, baekhyun lantas bertanya. "baiklah, jadi yang tadi itu apa?" baekhyun bersila di atas tempat tidurnya, ia memandang chanly tajam.

"seperti yang sudah kukatakan sebelumnya baek. Aku malaikat cinta. Tugasku adalah menguatkan rasa cinta diantara kalian para mahluk fana." Chanly duduk dengan nyaman di kursi belajar baekhyun. Ia kembali menjelaskan. "kau tentu tidak bisa berpikir bahwa apa yang dinamakan cinta hanya sebatas antar sepasang kekasih bukan? Manusia dengan tumbuhan, anak dengan orangtua, atau kasih sayang kepada sahabat. Cinta dapat tumbuh dalam bentuk yang berbeda-beda.

"jadi maksudmu tadi kau mengenguatkan rasa err.. c- cinta antara kakakku dan cucumber?"

Chanly mengangguk, "Ya. Tadi aku melepaskan tembakanku agar kakakmu sadar bahwa ada nyawa yang menunggu kedatangannya dengan semangat. Anjingmu itu sebenarnya kesepian, ia merindukan kehangatan dari kalian sekeluarga. Bayangkan saja kau selalu sendirian di rumah, dan selama berjam-jam kau tidak tahu pasti kapan orang lain akan dating kepadamu." Chanly menyilangkan kedua kakinya, manik matanya yang berwarna violet bertemu dengan manik dark brown baekhyun. "itu lah yang dirasakan anjingmu. Kalian para manusia memang kurang peka dengan sesuatu yang diluar kebutuhan atau kepentingan diri kalian masing-masing. Sudah naluri kalian untuk menjadi egois.

Mendengar ucapan chanly baekhyun menundukan kepalanya. ia menyesal semakin dewasa ia juga merasa semakin cuek dengan cucumber.

"Kau tahu, bagi kalian manusia hewan peliharaan itu hanya potongan memori yang sekedar lewat. Namun bagi hewan tersebut kalian manusia memori yang ada untuk sepanjang hidupnya."

"itu karena kami manusia hidup lebih lama dari mereka." Baekhyun berucap lirih, tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang hangat dan nyaman membelai kepalanya.

Benar saja, tiba-tiba chanly telah berada di samping baekhyun sembari mengusap pucuk kepala baekhyun untuk memberi sensasi menenangkan bagi pemuda yang lebih mungil. "jangan kau sesali apa yang telah berlalu. Saat ini jika kau telah memahami kebenaran, berusahalah menjadi orang yang lebih baik."

Baekhyun meneguk salivanya pelan, ia membuang pandangan kesembarang arah asal tidak bertatapan dengan chanly "Kau benar chan. Aku tak mau menjadi orang yang tidak peduli ataupun kejam seperti orang yang membuang anak anjing tadi pagi, aku mencoba lebih peduli terhadap lingkunganku." Baekhyun tersenyum lembut, ia merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Chanly juga ikut tersenyum memandang baekhyun.

Dalam benaknya, baekhyun berpikir ia tak menyangka akan mendapat moral dari malaikat aneh yang akhir-akkhir ini mengusiknya. Sebelum terbuai kealam mimpinya, baekhyun sempat berucap samar tanpa sepengatahuan chanly "gomawo".

^0^

Teriknya musim panas tak menghalangi Han songsaenim untuk menyuruh murid-murid kelas tiga mengelilingi lapangan saat kelas olahraga. Setelah mengelilingi lapangan selama 3 kali yang dirasa seperti lari mengelilingi stadion seoul) baekhyun menjatuhkan tubuhnya di atas meja. Ia tidak memperdulikan tubuhnya yang berbau keringat. Yang menjadi fokus pikirannya saat ini adalah menormalkan kembali metabolisme tubuhnya.

"apa kyuhyun songsaenim membagi ilmu keiblisannya pada han songsaenim ya?" pikir baekhyun. Baru saja berberapa menit baekhyun merasakan kedamaian, tiba-tiba saja selembar kertas menghalagi pandangannya.

"M-mwo? Apa ini" baekhyun terkesiap seraya menegahan tubuhnya dari posisinya yang bersandar santai diatas meja.

"Dasar,, bukannya langsung berganti seperti yang lain, tapi kau malah duduk santai disini" jongdae rupanya yang menggangu ketenangan baekhyun.

"biar saja, ini kan jam istirahat. Lagipula tadi sepertinya han sogsaenim tidak rela aku selesai lebih cepat daripada yang lain, ia menambah porsi lari untuku menjadi 5 keliling." Baekhyun bergidik membayangkan apa yang dialaminya tadi.

"ternyata walaupun kecil staminamu besar ya. Mantan ketua klub hapkido memang tak boleh diremehkan."

"Jangan mengodaku jongdae, aku sedang tak mau bercanda. Apa tujuanmu kemari? Kau tidak bermaksud pendekatan denganku kan?" Tanya baekhyun. Ia mengambil kertas yang tadi diulurkan jongdae dan membacanya dalam hati.

Jongdae yang semula sedang dalam mood menggoda baekhyun memutar bola matanya malas. "in your dream byun baekhyun. Bacalah pengumuman itu dulu." Jongdaepun duduk di kursi depan meja baekhyun.

Baekhyun yang telah memahami apa yang akan dibicarakan oleh jongdae menurunkan kertas yang baru saja dibacanya dan memandang heran temannya yang balik menatapnya. "kau mengajaku untuk tampil di festifal sekolah musim semi nanti?" baekhyun bertanya setengah tak percaya.

"yup, tepat sekali"

"tapi dae, kau sendiri yang mengatakan kita murid kelas tiga seharusnya focus dengan ujian." Baekhyun meletakan kertas yang ia genggam ke atas meja. "lagipula aku tak pernah menyanyi di depan banyak orang." Tambah baekhyun dengan suara yang lebih pelan.

Jongdae memandang sahabatnya intens. Baekhyun sadar, jongdae sedang mengeluarkan jurus tatapan-untuk-tidak-bilang-tidak. Jujur, baekhyun benci tatapan itu.

"byun baekhyun, menjadi teman dekatmu selama berberapa tahun membuatku sadar kau sebenarnya memiliki potensi untuk menyanyi"

"Kim jongdae,,,"

"aku tak menerima penolakan. Aku tahu baek kita memang seharusnya fokus untuk ujian, tapi aku juga yakin kita berdua bisa belajar sekaligus mengikuti acara ini. Ini kesempatan baek, aku melihat ada aura bintang yang tertanam dalam dirimu."

Baekhyun menelan ludah kasar. Walau jongdae membicarakan soal dirinya, baekhyun tahu jika mereka mengajukan diri untuk menjadi pengisi acara dalam festival secara tidak langsung itu juga menjadi kesempatan bagi jongdae untuk mengasah dirinya sebelum memasuki universitas. Jujur saja baekhyun sedikit tertarik. Baekhyun senang menyanyi walau sekedarnya saja. Ia juga merasa butuh selingan diantara kesibukannya belajar.

"Baekhyun." Jongdae tiba menggengam kedua tangan baekhyun. Baekhyun hanya bisa kebingungan melihat tindak temannya yang tidak terduga.

"aku tahu kau mungkin menganggap pilihanku ini seenaknya sendiri. Tapi ini tidak menjadi kesepatan bagiku saja baek. Saat aku melihatmu menyanyi di noerebang aku melihat ada kemilau dari dirimu. Err, baiklah itu hiperbolis.." jongdae berucap dengan cepat saat melihat raut muka baekhyun yang berubah

"tapi aku serius baekhyun, aku merasa kau juga patut mencoba kesempatan ini. Ini sekali seumur hidup." Jongdae kembali meyakinkan.

Kehinangan tercipta diantara keduanya. Tangan jongdae masih menggemgam tangan dengan posisi tangan mereka yang berada tepat di depan muka keduanya.

"jadi,,, sekarang menjadi sepasang kekasih." Sebuah suara menghilangkan keheningan.

"yixing?" kedua orang yang semula bersentuhan tangan terkejut dan salah tingkah akibat kedatangan zhang yixing yang tiba-tiba.

^0^

"Kau masih sering bertemu mahluk fana itu?" pertanyaan terlontar dari seorang malaikat dengan blazer dan celana putih. Dipandangnya rekannya yang tengah duduk bersantai di suatu bangku taman yang berada di Serenity garden.

Chanly memandang sahabatnya. Wajah cantik lulu tak mengurangi ketajaman matanya yang memancarkan pesona kelembutan dan kemanjaan ketika sedang mengintrogasi chanly.

"Ya, begitulah."

"Kau sadar dengan posisimu kan chan?"

Chanly mencoba menjelaskan situasinya. "lulu, aku tetap sadar dengan kewajibanku. Kau yang sudah lama mengenalku pasti mengerti bahwa aku ini—"

"suka ikut campur urusan mahluk lain? Tertarik dengan kehidupan manusia? Malaikat aneh?" Lulu memotong perkataan chanly. Malaikat berwajah rupawan itu menghela nafas panjang selayaknya manusia yang frustasi. "ya aku mengenalmu dengan baik chan. Tapi kau harus selalu ingat tempatmu adalah disini, Serenity garden, dan kita bukan mahluk fana. Eksistensi kita berbeda dan berada di luar dunia manusia. Aku harap kau tak pernah melupakan atau menolak fakta itu."

Chaly terdiam, ia mengakui perkataan tajam sahabatnya itu ada benarnya. Sepeninggal lulu chanly mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Serenity garden memberikan suasana kedamaian seperti biasanya, udara sejuk yang sedikit membawa aroma bunga-bunga latunan suara gemericik air dan musik lembut tak pernah terlepas dari tempat ini. Chanly sadar ia tak seharusnya mencampuri urusan manusia terlalu dalam. Tapi entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang menahannya. Perasaannya sendiri, ataupun seorang manusia yang bernama Byun baekhyun. Bakhyun, chanly tersenyum kecil mengingat manusia yang dijumpainya 2 bulan lalu saat ia berada di atas atap. Harus chanly akui baekhyun memang banyak berbicara dan cenderung bersikap berlebihan dalam kesehariannya. Tapi chaly melihat sisi lain yang menarik dari manusia itu. Baekhyun memiliki wajah yang manis dan hati yang baik, chanly menyadari hal itu. Manusia yang tinggi tubuhnya lebih mungil dari chaly itu juga memiliki sifat tidak mudah menyerah serta senyum yang menyenangkan. Chanly sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa seperhatian ini kepada baekhyun. Tapi satu hal yang chanly pahami, ia tidak bisa berhenti masuk dalam kehidupan baekhyun.

"Ini hanya karena rasa penasaran." Chanly mengulang kalimat tersebut dalam hati, mengabaikan pikirannya yang kembali membayangkan mahluk fana yang bernama Byun baekhyun.

^0^

Baekhyun melengguh bosan. Ia menenggelamkan kepalanya di kedua tangan yang terllipat di atas meja. Malam hari ini seperti biasanya ia akan mengikuti bimbingan belajar. Semuanya berjalan seperti biasanya, kecuali fakta bahwa belakangan ini teman dekatnya, Huang zitao, tidak menunjukan batang hidungnya.

"kemana anak itu? Sudah tiga hari ini ia tidak terlihat." Ucap baekhyun dalam hati. Jujur saja baekhyun merindukan tao. Dibalik wajahnya yang sangar dan dingin baekhyun amat menyadari Tao adalah orang yang hangat dan polos. Baekhyun merasa nyaman berteman dengan Tao. Ia ingin Tao lebih banyak tersenyum agar orang-orang tak merasa segan karena menilai Tao dari penampilannya. Namun Tao malah menghilang akhir-akhir ini. Baekhyun jadi teringat berberapa waktu yang lalu terdapat luka di wajah tao, dan baekhyun berharap semoga luka tersebut memang benar akibat kecelakaan bukan luka karena hal-hal yang baekhyun sendiri tidak ingin pikirkan terjadi kepada Tao.

Memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya baekhyun menegakan tubuhnya dan mengambil ponsel yang berada di saku. Saat itulah baekhyun kembali teringat dengan Taeyeon. Berberapa minggu telah berlalu semenjak insiden malam itu. Hubungan baekhyun dan taeyeon pun cenderung statis. Baekhyun mendengus, ia betekad akan melakukan sesuatu untuk merubah hubungan yang tak tentu arah ini. Jemari lentik baekhyupun menari diatas ponselnya mengetikan sesuatu.

To: taengoo

Malam taeng,, nanti jam 8 kita bisa bertemu di kafe Kona Beans? Aku pulang cepat dari bimbingan belajar dan ada yang ingin aku bicarakan.

^0^

Seorang wanita dengan rambut coklat dan tinggi semapai nampak menikmati ice coffe americano. Didepan wanita itu nampak scheduler dan agenda yang berisi berberapa coretan yang mengartikan jadwal kegiatan dan berberapa catatan penting yang nampak rumit.

"Maaf aku terlambat. Apa kau sudah menunggu lama?" suara seorang namja yang sedikit tersenggal membuyarkan wanita tersebut dari dunianya.

"Tidak apa-apa baekoong duduklah dulu." Taeyeon mempersilahkan baekhyun duduk. Baekhyun pun meletakan tasnya, ia pun beranjak ke counter untuk memesan caramel latte favoritnya. Setelah mendapatkan pesannanya baekhyun seraya kembali ke tempat duduknya dimana taeyeon telah membereskan segala urusan pekerjaanya. Obrolan ringan mengalir diantara keduanya. Saling bertukar kabar, menceritakan keseharian, serta sedikit candaan mewarnai perbincangan mereka.

"jadi, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan taeng" baekhyun angkat bicara dengan nada serius menakhiri basa basinya. Taeyeon yang tengah menyeruput minumannya meletakan gelas kopi tersebut dan memandang baekhyun.

"apa yang ingin kau tanyakan baek? Tumben sekali kau seserius ini." Taeyeon menjawab masih disertai senyuman kecil di bibirnya.

"sebenarnya, hubungan kita ini mau dibawa seperti apa?"

Hening diantara kedua insan tersebut.

Baekhyun kembali berbicara. "terlepas dari kita bisa berbicara santai seperti ini aku tidak merasa hubungan kita berjalan dengan lancar. Rasanya hanya aku saja sisi yang menuntut atau meminta. Aku merasa ini aneh taeng, aku selalu berusaha untuk mendekatimu dan kau meresponya. Tapi hanya itu saja. Selanjutnya kau seperti tidak tertarik membawa hubungan kita dengan serius.

"baekyun,," taeyeon berucap sendu. "mianhae, maaf membuatmu merasa seperti itu".

Baekhyun tak membalas ucapan taeyeon ia ingin mendengar penjelasan lebih lanjut dari gadis itu.

"aku menyukaimu baekhyun, sungguh. Kau bisa membuatku merasa nyaman dan senang karena pembawaanmu itu. Tapi semakin kesininya aku merasa tak bisa membawa diri ke hubungan yang lebih dalam karena aku tak mau menggangu konsentrasimu dalam menyiapkan ujian."

"kau menganggapku sebagai anak-anak tae?"

"tidak! Bukan begitu baek. tapi baek satu hal yang harus kau sadari, kehidupan saat sekolah dan bekerja adalah kehidupan yang sangat berbeda. selain aku juga mengambil kuliah secara online, hal tersebut membuatku sangat sibuk. Aku tak bisa memenuhi tuntutanmu yang meminta perhatian banyak dariku, mianhae baek.

"jadi aku terlalu menuntut mu?"

"tidak juga—aku—aigoo bagaimana mengatakannya ya." Taeyeon nampak menggerakan tubuhnya di bangku dengan tidak nyaman

"taeyon" baekhyun kembali berucap dengan nada lembut, namun ia memanggil taeyeon tida dengan nama kecil yang biasa mereka gunakan untuk memanggil pasangannya masing-masing seolah memberi arti tersendiri bagi ucapan baekhyun berikutnya. "apa kau masih mencintaiku?"

Taeyeon terdiam, kata-kata yang diucapkannya untuk memecah keheningan entah mengapa tidak terlalu membuat baekhyun terkejut. "...mianhae baek."

"tak perlu kau jelaskan taeyon noona. Aku rasa aku sudah tau apa jawabanmu."

"baek,, aku"

"tak apa, aku tak bermaksud memaksa. Kita sudah sama-sama dewasa dan mengerti. Aku rasa hubungan ini tak bisa berlanjut lagi." Baekhyun berucap sembari mengaduk minumannya asal. Ia mengucapkan kalimat terakhir dengan nada yang sedikit bergetar. " Kita akhiri saja hubungan ini, bagaimana?"

TBC

AN: bersambung dengan gajenya. Mian. Banyak yang belum terjelaskan di ff ini so stay read and comment ne. gomawo yorobun :*

Special thanks for review follow and favorite di chapter 4&5 ^^

Rizuchan || ParkbyunieTut92 || neli amelia || KyungMiie || Hana || pcyfg || Special bubble || YOONA || chanbaekyu || KyusungChanbaek

November 2014