"You Who Came From The Roof"
.
Pairing :Chanbaek and other cast seiring berjalannya cerita
.
Disclaimer : Their belongs to themselves and god.
.
Genre : fantasy, romance, friendship, sad and humor (maybe._.)
.
© hinagiku2705
.
Warning : Yaoi, Boys Love
SORRY FOR TYPHO_
.
Happy reading yorobun! ^^
Chapter 6. Looking to your eyes, butter butter flies
Bias matahari senja memasuki kamar tidur bernuansa minimalis. Seorang namja yang bergelung dibawah selimut mengerang pelan akibat manik matanya yang tertimpa bias matahari tersebut. Baekhyun mengerjap perlahan, ia berusaha membiasakan netranya dengan penerangan kamarnya yang terbanjiri cahaya senja.
"sudah sore rupanya" gumam baekhyun saat melirik jam yang terletak di nakas samping tempat tidurnya.
"Arghh aku bosan!"
Baekhyun bermonolog gusar. Bagaimana tidak, hari ini adalah tanggal 31 desember, sehari menjelang hari pergantian tahun. Dan kondisi byun baekhyun saat ini terbilang cukup ironis. Kedua orangtuanya kembali ke Incheon menjenguk neneknya, baekboom menginap di Jeju bersama rekan kerjanya, sedangkan ia sendiri terkapar di rumah akibat demam tinggi. Ia seorang diri dan sedikit frustasi, namun jika ia menyalahkan seseorang maka harusnya ia menyalahkan dirinya sendiri. Berberapa hari lalu dengan dalil merayakan natal bersama teman-temannya, baekhyun pergi hingga dini hari. Dengan cerobohnya ia tak membawa jaket padahal dirinya tidak kuat dingin. Tak berdaya dan kesal, disinilah baekhyun sekarang. Eommanya telah menyiapkan dan memasankan persediaan makanan dan obat untuk baekhyun. Namun jujur saja yang baekhyun butuhkan sekarang adalah teman untuk menghilagkan bosan. Memang ia tidak benar-benar sendiri, cucumber berada di rumah, tapi tentu saja beda rasanya jika harus membandingkan interaksi antar manusia dan anjing.
Namja yang sedang memiliki suhu diatas rata-rata itu mengatupkan kedua bola matanya, berharap demamnya segera menghilang.
"Menikmati waktumu byun?"
Baekhyun melirik ke sumber suara. "diamlah"
Chanly tersenyum jahil. Keberadaan dan kebiasaan chanly yang muncul tiba-tiba nampaknya telah menjadi biasa dalam hidup baekhyun. Baekhyun memperhatikan chanly yang berjalan menuju tempat favoritnya di kamar itu, kursi belajar baekhyun.
"aku membawakanmu makanan"
"hah?"
Chanly menjentikan jarinya dan Pofff… sebuah mangkuk dengan uap yang tampak mengebul disekitarnya tiba-tiba muncul. Mangkuk dan alasnya yang entah darimana tersebut melayang menuju ranjang tempat baekhyun berada.
"makanlah, itu ramyun yang telah disiapkan eommamu. Aku hanya menghangatkannya" ujar chanly seolah dapat membaca ekspresi wajah baekhyun yang terlihat bingung.
Baekhyun tampak ragu. "kau tidak berniat mencampur makanan ini dengan sesuatu kan?"
"iya aku memang mencampurnya dengan sesuatu. Ssh—dengarkan aku dulu." Sela chanly yang memperhatikan gelagat baekhyun yang seolah ingin protes. "aku mencampurnya dengan bahan dari duniaku, dan bisa dipastikan bahan itu tidak akan membahayakan nyawamu, malah sebaliknya campuran itu akan menambah energy kehidupan kalian para manusia.
Namja yang sedang sakit memandang makanan yang tersaji dihadapannya. Dengan gerakan ragu-ragu baekhyun menyodokan sendok ke dalam ramyun tersebut.
"Hati-hati itu pa.."
Ach!
"nas.." chanly menyelesaikan ucapannya yang terlambat ditangkap oleh baekhyun. Malaikat itupun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keaarah ranjang yang ditiduri oleh namja yang saat ini sedang menjulurkan lidahnya kesakitan akan rasa panas.
"Dasar, sekali bocah tetap saja bocah. Sini, kemarikan mangkuknya"
"Mau apa kau?"
Chanly tidak menjawab, ia mengambil alih mangkuk. Namja jangkung itupun menyedokan dan meniup-niup ramyun terebut.
"ya! Kau bermaksud menyuapiku? Aku bukan bocah, kembalikan!"
"Ayo buka mulutmu. Aaa~"
"Yang benar saja kau kira aku mau diperlakukan seperti ini?! Berikan mangkuknya aku bisa makan sen—heummmm"
Omongan baekhyun terputus dengan sesuap ramyun hangat yang menginvasi mulutnya. Rasa hangat, asin, dan manis bercampur dalam mulut baekhyun. Walau baekhyun ingin mengeluarkan rangkaian kata-kata protes, menit-menit selanjutnya ia lalui dengan menerima suapan dari Chanly.
"Eotte?" sudut bibir chanly tertarik keatas "Anak baik, kalau kau penurut seperti ini demammu pasti akan cepat hilang."
Baekhyun yang merasa sudah mendapatkan sedikit tenaganya kembali (aneh memang ia bisa kembali sedikit bugar, namun mengingat omongan chanly dan "bahan tambahannya" baekhyun langsung paham mengapa ia merasa lebih pulih) ingin membalas ocehan chanly. Namun belum sempat sejumlah kata meluncur dari bibir tipisnya itu, suatu hal membuat baekhyun kehilangan kata-kata dan terpaku. Suatu benda halus berwarna putih menyapa bibirnya dengan lembut. Benda yang dikenal sebagai tisu tersebut bergerak secara lembut menelusuri sudut bibir baekhyun. Chanly sang penggerak tisu tersebut tersenyum sembari membersihkan sisa kegiatan makan manusia di hadapannya.
Konyol. Hal normal yang seharusnya baekhyun lakukan adalah memprotes (kembali) tindakan chanly dengan argumen dirinya adalah namja dewasa yang sudah bisa membersihkan mulutnya sendiri (dan hei ia tidak makan hingga berantakan kemana-mana). Namun tubuhnya bereaksi lain. Sungguh reaksi layaknya gadis remaja yang sedang dimabuk cinta seperti yang berada dalam drama-drama yang sering ia tonton adalah hal terakhir yang ingin diharapkan baekhyun bereaksi dalam dirinya. Ironis, lihatlah kondisinya sekarang; pipinya sedikit bersemu, jantungnya berdetak lebih kencang, dan jangan lupakan majas mengenai berjuta kupu-kupu terasa terbang dalam perutnya; itulah yang dirasakan baekhyun saat ini. Senyum lembut chanly adalah hal terakhir yang dilihat baekhyun sebelum namja berbadan mungil tersebut menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya dan meringkuk seperti kepompong guna menghindari tatapan heran dari seorang malaikat yang baru saja menyuapinya.
^o^
"Berjanjilah baekhyun. Berjanjilah untuk tidak jatuh cinta padaku."
Baekhyun kembali teringat dengan kalimat yang diucapkan chanly berberapa minggu lalu. Walau cerewet dan cenderung berego tinggi, baekhyun bukanlah tipe pembengkang yang tidak dapat menerima keputusan orang lain. Oleh karena itulah ia menolak permintaan chanly dan berjanji untuk menepatinya. Akan tetapi hal tersebut (diluar dugaan) ternyata sulit untuk dilakukan.
Baekhyun tidak menapik kenyataan. Ia adalah seorang bisexual, ia dapat tertarik kepada yeoja ataupun namja, tergantung situasi dan kecocokan. Namun hal yang ingin berusaha diingkari oleh baekhyun adalah perasaan tertariknya kepada mahluk asing yang sudah lebih dari setengah tahun ini menghatuinya.
Mereka berbeda dunia, mereka merupakan dua mahluk dengan tujuan hidup yang berbeda. Garis hidup mereka tidak mungkin bersinggungan. Baekhyun mengetahui dan paham akan hal itu. Akan tetapi reaksi yang dikeluarkan raga baekhyun seakan mengkhianati dirinya sendiri. Jantungnya berdetak lebih cepat saat chanly tersenyum kepadanya, tubuhnya merinding saat chanly berkontak fisik dengannya, wajahnya bersemu saat chanly memujinya. Baekhyun tak menyukai benih yang mulai tumbuh itu, namun harus ia akui ia ingin benih itu terus berkembang.
"kenapa harus serumit ini?" ujar baekhyun nyaris tanpa suara.
"huh? Kau bilang apa baek?"
Baekhyun tersentak. pikirannya yang sempat berkelana ke mahluk tertentu yang berbadan besar dan bersuara berat tersadarkan kembali.
"ani. Bukan apa-apa xiumin.
Xiumin yang telah membereskan barangngya di loker pun menunggu baekhyun yang kembali membereskan barang-barangnya.
"Tumben sekali kau melamun seperti itu. Seharusnya kau senang baek. Coba lihat, coklat sebanyak itu pasti asik sekali.
Baekhyun melirik sekantung tas yang berisikan makanan manis yang banyak digemari orang-orang. Beraneka macam coklat dengan beragam bentuk dan warna yang manis sekaligus menarik nampak menggiurkan. Namun entah mengapa baekhyun tak berselera memakan semua coklat tersebut. Atas nama sopan santu baekhyun menerima coklat tersebut dan bermaksud memakannya nanti.
Sekilas terlintas di pikiran baekhyun untuk memberikan barang tanda kasih sayang itu pada seseorang. Namun baekhyun langsung menepik pemikirannya tersebut. Kenyataan tak bisa berubah.
Ia manusia, chanly malaikat.
"Hey. Lama sekali kalian ini, ayo kita pulang"
Suara jongdae membuyarkan baekhyun yang kembali terhanyut dalam lamunan. Xiumin yang menyadari perubahan perilaku temannya itupun menjadi cemas.
"baek, kau benar tidak apa-apa? Rasanya belakangan ini kau berubah."
"ehhh jinja?" jongdae dengan hebohnya menangkup wajah baekhyun dan meletakan tangannya ke kening baekhyun. "hmm kau tidak demam. Berarti kau tidak sedang sakit. Apa kau ada masalah baekhyun?"
Baekhyun menjaukan dirinya dari jangkauan jongdae. "aku memang sedang memiliki masalah" ujarnya jujur. Tak aka nada gunanya juga ia berbohong karena baekhyun yakin teman-temannya itu akan menyadari dan ia tak mau membuat mereka cemas.
"gwencana. Saat ini aku memang tidak bisa menjelaskannya pada kalian. Jika semuanya sudah beres aku pasti akan menceritakannya pada kalian." Baekhyun tersenyum berusaha meyakinkan kedua sahabatnya.
Jongdae dan xiumin hanya bisa diam tak membantah pernyataan baekhyun. Mereka sadar tak akan ada gunanya juga memaksa baekhyun yang keras kepala.
"Sudahlah,, chaa, ayo kita pulang" baekhyun mengakhiri perdebatan dengan mendorong jongdae yang berada dihadapannya dan menarik lengan namja berwajah kotak tersebut.
Pemuda bermarga byun yang berusaha mengalihkan perhatian itu melewatkan tatapan cemas sekaligus rasa bersalah dari temannya yang bernama kim jongdae.
"Mianhae baek" ucap jongdae lirih. Xiumin yang menangkap ucapan teman disebelahnya itu mengalihkan perhatiannya. Kali ini jongdae yang nampak tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Sekali lagi, sebuah tatapan terlawat untuk disadari. Tatapan xiumin yang mengandung makna kesedihan saat memandang seorang Kim jongdae.
^o^
"uwaaa banyak sekali. Kau mau memakan ini semua baek?"
Baekhyun memperhatikan Tao yang nampak mengagumi coklat pemberian fans baekhyun.
"ani,,, aku sudah terlalu manis. Jika makan terlalu banyak coklat mau jadi seperti apa pesonaku nanti."
"cihh dasar diva."
"lebih baik daripada dianggap mafia."
Kedua kawan sebaya yang berbeda tinggi cukup jauh itu saling menatap dalam diam. Namun keheningan sesaat itu terpecahkan dengan deru tawa dari kedua namja tersebut.
"ya! Hahaha mafia ya? Mungkin akan lebih baik jika aku benar-benar mafia. Uang tidak akan jadi masalah untukku."
"haha dasar jika kau mafia, mana sudi aku berteman denganmu. Ya,,, kecuali kalau kau bersedia membelikan aku stock eye liner."
"Pftt, jangankan stock eyeliner byun aku juga dapat memberimu gadis-gadis model bintang endorse mereka. Ups,, tapi rasanya kau tak akan mau ya, kau kan sedang dimabuk cinta dengan laki-laki yang seperti tiang listrik itu kan." Tao menaik-naikan kedua alisnya menggoda baekhyun.
Mendengar ucapan Tao yang sempat menyinggung Chanly baekhyun sempat terdiam dan menegang seketika. Akan tetapi baekhyun seepat kilat berhasil menguasai dirinya dan menanggapi ucapan Tao.
"Mwoo? Yang benar saja T-a-o, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan raksasa bodoh itu."
"heumm, ujar seseorang yang telinganya memaerah saat aku menyinggung topik tentang seorang pria."
"aku tidak,,, haiss, sudahlah" baekhyun mengacak rambutnya kesal "kemana seongsaenim kita ini, kenapa ia lama sekali? Sebagai guru tidak seharusnya ia membuat siswanya menunggu. Huh guru macam apa itu."
Tao tersenyum mendengar penuturan baekhyun. Mereka hanya bertemu di tempat les ini, namun Tao merasa ada ikatan tersendiri yang menghubungkan dirinya dengan baekhyun. Dapat dikatakan selayaknya sahabat mereka saling mengerti satu sama lain. Tao sadar betul namja yang melenguh kesal disebelahnya itu sebenarnya sedang salah tingkah. Melihat tingkah baekhyun saat ini Tao merasa senang. Ia merasa baekhyun dan namja tinggi berambut hitam itu cocok sekali, dibandingkan saat baekhyun dengan yeoja chinggu yang sebelumya.
"Kau mau mampir ke rumahku minggu ini untuk membuat coklat Baekhyun?" perkataan Tao mengalir begitu saja, memotong keluhan baekhyun seputar "belajar sendiri akan lebih baik daripa menghadapi ketidak disiplinan".
"H—huh?" butuh berberapa saat bagi baekhyun untuk mencerna perkataan Tao. Tao mengundangnya? Seorang huang Zitao mengajak baekhyun ke rumahnya? Baekhyun tak ingin membuang kesempatan tersebut. Dengan segera ingin menerima undangan itu namun sebuah pertanyaan terlintas dalam benaknya.
"membuat coklat?"
"Ehm,," tao memberikan senyuman yang menurut baekhyun yang tidak terlalu innocent. "Aku mengundangmu baekhyun. Kau sepertinya butuh bantuan untuk mendekati namja jangkung idamanmu itu. Jadi sekarang Zitao yang baik hati ini menawarkan bantuannya."
Rahang baekhyun seolah ingin jatuh. Ia reflek akan menyangkal pertanyaan tersebut, namun mengingat ini adalah kesempatan langka baekhyun berpikir dua kali.
"B—baiklah."
Tao tersenyum kecil. "aku akan mengirimkan alamatku sabtu pagi nanti baekhyun." Ucap tao dengan nada kemenangan. Tao sadar apa yang ia tawarkan barusan bertentangan dengan permintaannya berberapa minggu lalu yang meminta baekhyun untuk menjaga jarak dari kehidupannya. Akan tetapi Tao mendapat perasaan lain. Aneh memang, tapi entah mengapa Tao merasa mendekatkan baekhyun dengan namja yang waktu itu merupakan keputusan baik yang dapat membuat temannya senang. Mereka berdua nampak cocok, pikir Tao. Urusan mengenai masalah dirumahnya Tao akan memikirkannya nanti saja.
Baekhyun sebenarnya sedikit resah dengan keputusannya, apalagi mengingat peringatan Tao waktu itu. Namun baekhyun mengerti saat Tao sudah memutuskan, maka menolaknya merupakan keputusan yang buruk karena dengan tampang yang garang itu Tao sangatlah perasa. Namja penggemar eyeliner itu hanya bisa berharap semoga akhir minggu mereka dapat berjalan dengan baik.
Setelah bisa mengurangi rasa resahnya, baekhyun kembali teringat chanly. Ia inggin sekali merasa kesal dan malas. Sayangnya kupu-kupu imajiner yang berda dalam tubuh baekhyun seakan tidak dapat diajak bekerjasama, mereka serasa mengepakan sayapnya dengan semangat sehigga baekhyun merasa ada gelombang semangat dan hangat dalam dirinya.
"Sial" runtuk baekhyun dalam hati.
^o^
"Kau mulai tertarik pada manusia itu chan."
Chanly membuka netranya yang semula tertutup. Ia sedang menikmati suasana sore hari dilokasi favoritnya, di atas atap, saat rekannya yang bernama Kris tiba-tiba datang menghampirinya.
"tumben kau datang kemari Kris. Biasanya jika urusan pekerjaan selesai kau akan langsung kembali ke serenity garden"
"salahkah aku jika ingin sekedar menghabiskan waktu dengan rekan kerjaku?"
Mengingat karakter Kris sebenarnya chanly ingin berkata "Iya, tentu saja salah mengingat kau merupakan malaikat teraneh yang aku temui dalam serenity garden" namun chanly sadar berkata seperti itu akan berimbas buruk, ia pun memutuskan untuk membungkam mulutnya.
Menghadapi chanly tak memberikan reaksi apapun Kris juga ikut terdiam. Laki-laki yang bertubuh tinggi dari rekannya itu pun mendudukan tubuhnya.
"eksistensi kita sebagai malaikat telah lama adanya. Selama beratus-ratus tahun ini kita mengetahui suatu emosi yang diberi nama Cinta, namun kita tak pernah mengerti betul bagaimana artinya."
"…."
"Kau malaikat yang aneh chan, kita malaikat seolah diprogram untuk menjalankan perintah saja. Namun kau berbeda, kau juga bertanya dan berusaha mencari jawaban."
"…"
"rasa ingin tahu itu sesungguhnya berbahaya, akan tetapi kurasa akhir dimana kita mendapatkan jawaban dari apa yang menghatui mereka akan sangat melegakan. bahaya yang kita terima akan terasa sebanding degan hasil tersebut."
"sebenarnya apa maksudmu mengatakan semua ini, Kris?"
Kris tersenyum kecil tanpa memandang chanly. Chanly melihat temannya yang sedang menerawang, sesunguhnya ia penasaran dengan apa yang sedang Kris pikirkan. Siluet kris dari samping nampak mempesona. Dalam hati chanyeol mengakui temannya itu sangat mempesona, namun perlu digaris bawahi pemikiran Kris cenderung tidak dapat diduga sehingga alih-alih malaikat chanly berpikir figure Kris akan cocok sekali dengan iblis yang penuh tipu muslihat.
"Chan apa menurutmu kita bisa merasakan apa yang manusia sebut rasa bahagia?" kris tiba-tiba memecah keheningan.
"…. Aku tidak tahu kris. Aku tak mengerti."
"Tapi bukan berarti kau tidak mau merasakannya bukan?"
Chanly terhenyak dengan pernyataan Kris. Itu lah sumber rasa keinginan tahunya selama ini. Ia ingin tau apa itu bahagia. Bagaimana rasanya terluka, ketakutan, atau,,, jatuh cinta. Belum sempat Chanly menjawab Kris kembali berucap.
"lakukan yang ingin kau lakukan. Jangan pernah takut chan." Setelah mengeluarkan pernyataan tersebut Kris berdiri dan merenggangkan tubuhnya. Dan secepat ia datang, Kris tiba-tiba saja memunculkan sayapnya dan terbang meninggalkan Chanly seorang diri yang kebingungan.
"dia memang aneh" gumam chanly. Chanly merenungkan pernyataan Kris. Ia memang hidup dengan cukup lama dan ia telah mendengar banyak filosofi hidup dalam kehidupan manusia. Namun sejujurnya chanly belum benar-benar mengerti filosofi tersebut. Itulah bayaran yang harus ia terima sebagai mahluk abadi, ia tak dapat mengerti nilai-nilai berharga yang didapat dari adanya keterbatasan.
Menghela nafas kasar, chanly kembali berbaring. Sorotan matahari senja menyapu wajahnya. Tiba-tiba saja pikiran chanly tertuju pada seorang namja berambut kecoklatan serta memiliki senyuman yang cerah layaknya sang surya. Benak chanly kembali terpusat pada namja tersebut. Tubuhnya menghangat, suatu reaksi tak normal yang ia rasa tidak ia dapatkan dari terpaan mentari senja. Chanly gelisah sekaligus menyukai perasaan tersebut.
"Sial" runtuk Chanly dalam hati.
"We're all a little weird. And life is a little weird. And when we find someone whose weirdness is compatible with ours, we join up with them and fall into mutually satisfying weirdness—and call it love—true love." Robert fulghum.
TBC
AN: please kill me in you dream. I`m sorry for this mega late update. Anybody read this story? Well kalo masih ada, mohon review ne. Hina butuh tanggapan buat memperbaiki tulisan, hehe. Gomawoyo^^
I want to say special Thanks for Neli Amelia yang udah ngingetin aku untuk update. Huhu thanks a lot dear. Sebagai perminta maaf karena telat aku bikin drabble deh :`D
Special thanks for yang review, follow, and favorite XD All of you are the best!
