Main Cast

Oh Sehun x Lu Han

WARNING

Gender-bender/ Genderswitch for Lu Han, I changed Lu Han's name to Xi Luhan

Romance, Friendship and Fluff


My Other Half

Chapter I: Bestfriend or More?


Pagi ini tidak biasanya Luhan bangun terlambat. Terang saja, sepasang sahabat kecil itu menghabiskan waktu semalaman untuk bergadang sekaligus melepas rindu. Saat ini wajah cantik Luhan semakin cantik karena senyumnya mengembang. Andai saja ada orang lain melihat cerahnya senyuman Luhan yang mengalahkan mentari pagi, pasti akan meleleh dibuatnya.

"Ternyata aku tidak bermimpi, kau benar-benar sudah kembali Hunnie..." Karena keduanya tidur berhadapan, jarak mereka hanya terpaut beberapa centi sehingga dengan mudah Luhan dapat menelusuri wajah runcing dan rahang tegas milik Sehun yang menurutnya seperti karakter manga hidup yang keluar dari komik kesukaannya. Luhan mengusap surai coklat gelap Sehun dengan sayang dan sedikit mengangkat tubuhnya untuk mengecup kening Sehun. Luhan memejamkan matanya sambil menghirup aroma khas Sehun yang menguar dari surai coklatnya.

Baru saja Luhan merasa nyaman dengan posisi itu saat tiba-tiba―

"Hanya di kening?"

Luhan membulatkan matanya dan segera menarik bibir cherry manisnya dari kening lelaki itu, sementara Sehun hanya tertawa tanpa suara dan mengangkat dagu Luhan agar mata rusanya menatap langsung ke arah mata Sehun yang―demi Tuhan― sangat menghanyutkan.

"Oh ayolah Lu, bukankah kita sudah melakukan yang lebih semalam? Hm?" Goda Sehun dengan nada serak khas orang yang baru bangun tidur.

Blush

Ya Tuhan Oh Sehun, ini masih pagi dan kau sudah membuat wajah seseorang memerah seperti tomat?

Karena gadis itu tak kunjung menjawab pertanyaan Sehun, ia berinisiatif untuk memeluk rusa kecilnya yang― oh! Terlalu menggemaskan. Sehun memeluk Luhan yang kemudian seenaknya ia jadikan guling dan mereka berdua berguling-guling di kasur Luhan yang untungnya cukup luas untuk kedua pasang sahabat ini.

Keduanya hanya tertawa geli karena tingkah mereka yang kekanak-kanakan. Meskipun mereka berdua sudah beranjak dewasa, keduanya tetap memiliki sifat playful layaknya anak kecil.

Saat mereka berdua sudah lelah tertawa dan berguling di kasur, Sehun mendudukan dirinya diatas kasur yang kemudian langsung diikuti oleh Luhan. Tangan keduanya masih saling bertautan dan Sehun menarik Luhan ke pangkuannya. Gadis cantik itu tentu saja tidak dapat menolak, dan posisi mereka saat ini― Well, terbilang cukup intim. Sehun duduk sembari bersandar di dashboard kasur Luhan, sementara rusa kecilnya melingkarkan kaki mungil nan mulus miliknya ke pinggang Sehun. Dan jangan lupakan kedua tangan kecil Luhan yang melingkar sempurna di leher jenjang Sehun. Luhan memeluk Sehun, dan Sehun memeluk Luhan. Luhan merebahkan kepalanya di bahu Sehun, dan begitu pula sebaliknya.

Cukup lama mereka terdiam dalam posisi ini, dan lagi-lagi anak bungsu keluarga Oh yang mesum itu melakukan kegiatan favoritnya yang menjadi candu akhir-akhir ini. Menyesap leher putih dan mulus milik Luhan sambil memainkan surai coklat muda halus yang beraroma bayi.

"Hun..." Sehun yang sedang memainkan rambut ikal dan panjang Luhan pun mengalihkan perhatiannya.

"Ya, baby?" Luhan mengangkat kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke arah Sehun, tepat saat hidung keduanya bersentuhan―

"Kau bau."

Sehun membelakkan mata sipitnya. Apa ia tidak salah dengar?

"NE?"

"Ya, kau bau. Kau pasti belum mandi dari kemarin kan?" Ujar Luhan dengan polosnya.

JLEB

"Aish! Kau ini memang paling pintar merusak momen romantis" Gerutu Sehun tidak jelas yang sepertinya tidak dapat didengar Luhan.

"Kau bilang apa?" Luhan mengerjapkan kedua pasang mata rusanya yang imut dengan kepala yang dimiringkan.

"A-ani, hanya saja― Yak! Berani-beraninya kau mengataiku bau, kau juga kan belum mandi!" Luhan hanya mendengus jengkel lalu menangkup pipi Sehun dan mencubitnya gemas.

"Arra, arra, kalau begitu kita mandi sekarang. Bukankah kita akan pergi jalan-jalan hari ini?" Seketika mood Sehun langsung membaik.

"Kau benar, kita tidak memiliki banyak waktu, ayo kita mandi!" Sehun pun bangkit dengan posisi Luhan yang masih dalam gendongannya. Sehun seperti sedang menggendong koala mungil saat ini. Tentu saja posisi ini lagi-lagi membuat Luhan blushing―tanpa sepengetahuan Sehun tentunya―.

"Kita... M-maksudmu?" Lelaki itu pun menyeringai dengan cukup menakutkan, kemudian mendekatkan bibir tipisnya ke telinga Luhan dan berbisik seduktif.

"Ya, kita. Bagaimana kalau kita― mandi bersama?" Secara reflek Luhan turun dari gendongan Sehun dan menghujani namja mesum itu dengan pukulan rusanya yang bertubi-tubi.

"YAAAK! MATI KAU OH SEHUN JELEK DAN MESUUUM!"

Sehun pun langsung lari terbirit-birit menuju kamarnya yang tentu saja hanya perlu menyebrang lewat balkon. Ia tertawa puas karena sudah berhasil menggoda Baby Deer-nya pagi ini.

Sementara itu di kamar Luhan, gadis rusa itu masih mengatur nafasnya yang tersenggal akibat emosi yang meluap-luap dan tentu saja karena sebenarnya ia malu. Digoda oleh sahabat setampan Sehun? Oh ayolah, itu memalukan!

Sehun tentu saja hanya remaja normal seusianya, dan dengan pasti ia mengenali gejolak aneh yang hampir tidak terkendali tadi. Ia akui memang ia yang memulai. Mulai dari tidur satu ranjang bersama Luhan dengan keadaan gadis itu berbalut piama tipis, memangku Luhan dengan keadaan berhadapan dan saling memeluk, serta jangan lupakan posisi sexy butt Luhan yang berhadapan langsung dengan Sehun junior. Brilliant Oh Sehun, brilliant. Sekarang kau tanggung sendiri akibatnya dan silahkan urusi masalahmu dengan tanganmu sendiri―jika kalian mengerti maksudku―.

.

.

.

Liburan sangat cepat berakhir, namun kedua pasang sahabat yang saling 'menyayangi'―begitu menurut mereka― itu menghabiskan sisa liburannya dengan cara-cara menyenangkan. Pergi ke taman hiburan, bermain di pantai, menonton film, atau sekedar berjalan-jalan asalkan mereka tetap bersama. Terdengar seperti kencan sebenarnya, bedanya hal-hal tersebut mereka lakukan dengan status sahabat. Tidak lebih. Dan ya, tentu saja hari-hari itu mereka habiskan dengan diakhiri tidur bersama―meskipun tidak melakukan yang macam-macam― baik di kamar Sehun maupun Luhan.

Karena hari ini masih dalam minggu pertama masuk sekolah, kegiatan belajar pun belum terlalu efektif dan banyak jam pelajaran kosong. Luhan yang belum makan sedari pagi pun menyeret Sehun ke kantin untuk menemaninya makan. Beruntung sehabis istirahat kabarnya Jung seonsaengnim tidak masuk dan hanya memberikan tugas saja.

"Uwaaa, akhirnya aku bisa makan. Perutku sudah mengamuk minta diisi Hunnie..." Sehun yang sedang merangkul Luhan pun terkekeh dan menjawil hidung bangir Luhan yang menggemaskan.

"Tunggulah disini, okay?" Sehun menepuk kepala Luhan seperti sedang meminta anak kecil untuk menurut.

"OKAY!" Jawab Luhan semangat dengan aegyo dan suara seperti anak kecil. Sehun pun tersenyum dan mencubit pelan pipi chubby Luhan yang alaminya sudah pink merona.

Karena Sehun tidak tega melihat Luhan-nya kelaparan, ia pun memesankan makanan di kedai yang menyediakan nasi beserta lauk kesukaan Luhan. Selang beberapa menit kemudian, Sehun kembali dengan nampan berisi satu set makanan lengkap dengan milkshake strawberry kesukaan Luhan.

"Jja! Satu set makanan bergizi dan mengenyangkan untuk rusa kecilku yang kelaparan!"

"Kyaa! Sehunnie jjang!"

CUP

"Terima kasih sahabat terbaikku yang paling tampan dan bodoh di duniaaa!"

Luhan menghadiahi Sehun satu kecupan manis meskipun hanya di pipi. Setelah itu, tanpa melihat reaksi Sehun, Luhan memakan makanannya dengan lahap tanpa mempedulikan tatapan lapar Sehun. Bukan, bukan lapar karena makanan maksudku, tapi―ehem― lapar karena hal yang lain.

"Wae? Kau ingin makan juga?" Sehun menggeleng.

"Ani, melihatmu saja aku sudah kenyang" Sehun tersenyum manis sambil membersihkan sudut bibir Luhan yang terkena saus tomat.

"Tapi bukannya kau juga belum sarapan Sehunnie?" Luhan pun berinisiatif membungkus sepotong daging dengan sayuran kemudian mencelupkannya ke saus pelengkap. Setelah selesai, Luhan mengarahkan sumpitnya ke mulut Sehun.

"Satu suap, please?" Ujar Luhan dengan nada memohon. Well, mana mungkin Sehun menolak. Dengan senang hati lelaki bermarga Oh itu membuka mulutnya dan menerima suapan Luhan. Gadis pecinta komik itu pun tersenyum puas dan kembali melanjutkan acara makannya.

"Hmm, Lu" Panggil Sehun dengan mulut yang masih terus mengunyah.

"Ya, Sehun?"

"Aku tidak mengerti, kenapa setiap makanan yang ada campur tangannya denganmu pasti rasanya enak ya?" Luhan yang mendengar itu pun hampir tersedak dan langsung meminum milkshake-nya.

"Tsk, kau ini suka sekali membual. Jangan-jangan kau juga lapar dan ingin aku suapi lagi ya?" Sehun yang dituding seperti itu pun hanya mendengus.

"Ck, tidak juga. Kau tahu tidak, kalau menurutku... ini pertanda bahwa kau akan menjadi istri yang baik untukku kelak"

UHUK UHUK UHUK

Sehun pun tertawa melihat sahabatnya yang sekarang benar-benar tersedak karena ucapannya barusan. Ia hanya membantu menepuk-nepuk punggung Luhan untuk meredakan batuknya. Dan untuk menetralisir kegugupannya, Luhan makan dengan cepat dan tentu saja itu membuat Sehun mau tidak mau tersenyum dalam hati.

"Hey, makanlah pelan-pelan, makananmu tak akan lari ke arahku baby..." Tegur Sehun sembari merapikan helaian rambut Luhan dan menyisipkan rambut yang menganggu makannya ke belakang telinga Luhan.

"Hehe mian, tapi aku benar-benar lapar Sehunnie" Luhan pun kembali menyuapkan sesendok nasi ke mulut kecilnya, Sehun yang melihat sebutir nasi di sudut bibir Luhan tiba-tiba saja mengambil kesempatan dan mencium sudut bibir Luhan.

"Y-ya! Sehun! Apa yang kau lakukan!" Teriak Luhan histeris.

"Membersihkan nasi di sudut bibirmu" Jawab Sehun kalem.

"Mwo? Alasan! Ugh, kau ini semenjak kembali dari Jepang kenapa jadi mesum dan aneh sekali sih!"

Mendengar ucapan Luhan tentang Jepang, Sehun mendadak melamun dan tersenyum miris memikirkan alasan sebenarnya ia pergi ke Jepang. Sebersit rasa bersalah menghantuinya lagi karena membohongi Luhan, tapi Sehun segera mengenyahkan pikiran itu dan berniat menjelaskannya nanti. Toh ini demi kebaikkan mereka berdua.

Sehun tersadar dari lamunannya saat suara lembut seorang perempuan―walaupun tentu saja suara Luhannya lebih lembut―menyapa telinganya.

"Sehun oppa?" Sehun menolehkan arah pandangnya ke sebelah kiri, tepat saat seorang gadis yang barusan memanggil namanya mendekat.

"Ha...young? Eh, Hayoung?" Lelaki keturunan Oh itu menyipitkan matanya untuk mengamati gadis didepannya.

"Ternyata benar itu kau oppa!" Gadis itu memeluk Sehun tanpa aba-aba, membuat Sehun hampir terjungkal dan tidak berkutik, namun akhirnya ia membalas pelukan gadis bernama Hayoung itu.

"Hayoung-ah! Kau benar-benar datang?" Jarang-jarang seorang Oh Sehun bersikap ramah terhadap orang lain―selain Luhan tentunya― dan kedua orang yang tengah berpelukan itu tak luput dari pandangan tajam sepasang mata rusa yang kini hanya diam memperhatikan mereka sambil menahan... emosi mungkin?

"Hehe tentu saja, kau tahu pasti alasan kenapa aku meninggalkan Jepang untuk Korea!" Sehun hanya terkekeh dan mengacak poni Hayoung.

"Majja! siapa lagi kalau bukan―"

SRET

Belum selesai Sehun berbicara, Luhan bangkit dari kursinya dan langsung menatap Sehun datar.

"Sehun aku sudah tidak lapar, makan saja ditemani dia ya" Dingin. Nada suara Luhan sangat dingin dan Sehun tahu, Luhan hanya menggunakan nada itu ketika ia marah atau kecewa. Sehun segera menarik pergelangan tangan Luhan sebelum ia melangkah pergi.

"Y-ya, Lu! Tunggu! Kau saja belum berkenalan dengannya!" Gadis keturunan Cina yang mungil dan cantik itu hanya memutar bola matanya malas.

"Hmm, geurae, Hayoung-ssi kan?" Hayoung mengangguk semangat dan mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Luhan.

"Benar sekali, dan kau pasti teman Sehun oppa yang―" Tanpa menghiraukan uluran tangan Hayoung, Luhan langsung memotong perkataan gadis itu.

"Ya ya ya, aku 'teman' Sehun, namaku Luhan. Sudah ya, aku ingin kembali ke kelas" Luhan sedikit membungkuk untuk berpamitan, meninggalkan Hayoung yang perlahan menarik kembali tangannya dan Sehun yang masih terdiam karena otak geniusnya masih mencerna apa yang barusan terjadi.

"Eumm, oppa, sepertinya Luhan eonni salah paham" Gumaman Hayoung menyadarkan Sehun dari pikirannya sendiri. Ia masih menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat kecilnya. Maklum, otak genius Sehun memang tidak begitu bekerja jika menyangkut hal wanita, sekalipun itu Luhan.

"Salah paham― kenapa?"

"Aigoo! Kau itu buta atau apa? Kau tidak lihat reaksi Luhan eonni tadi? Dia pasti berpikir yang tidak-tidak tentang hubungan kita oppa!" Jika saja Sehun bukan oppa-nya, mungkin saat ini Hayoung sudah memukul kepala Sehun yang lambat sekali kerjanya saat menyangkut wanita.

"Tidak-tidak apanya! Lagipula kau kan hanya sepupuku! Mana mungkin ia salah paham" Bela Sehun.

"Ck, itu menurutmu. Tapi Luhan eonni kan tidak tahu aku sepupumu dari Jepang, dan lagipula ia belum pernah bertemu denganku"

"Ah iya juga, tapi... ah sudahlah lagipula Luhan tidak akan marah karena hal sepele seperti itu"

"Hmm ya, padahal aku hampir saja bilang bahwa ia adalah 'teman'-mu yang setiap saat kau ceritakan itu kan?"

"Betul sekali, dia Luhanku" Sehun berkata lirih. 'Luhan-ku?' batinnya.

"Sudahlah, nanti kau jelaskan saja pada eonni. Kau sudah bilang alasanmu sebenarnya pergi ke Jepang kan?"

"Aku takut Luhan marah dan tidak mau menerimaku, jadi... belum" Lelaki tampan bekulit putih nyaris albino itu tertunduk lirih.

"Ah punya saudara genius tapi bodoh sepertimu memang merepotkan ya" Gumam Hayoung yang sialnya masih dapat didengar Sehun.

"Yak! Apa yang kau bilang barusan? Kurang ajar kau Oh Hayoung!"

"Biar saja, toh dirimu memang bodoh. Sudah ya aku juga ingin ke kelas. Bye oppa!" Hayoung pun melenggang pergi meninggalkan Sehun yang masih terduduk di kantin. Ucapan Hayoung membuatnya berfikir kapan waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Luhan.

.

.

.

Jam istirahat masih tersisa beberapa menit lagi, dan Sehun memutuskan untuk menyusul Luhan ke kelas dan mencari tahu kenapa sahabat terbaiknya itu tiba-tiba menjadi bad-mood.

Sehun dapat melihat Luhan sedang membaca sebuah komik dengan serius. Dan otak Sehun yang memang pada dasarnya jahil ingin sedikit memberi kejutan untuk sahabat tersayangnya.

GREP

Sehun memeluk Luhan dari belakang sambil menutup kedua mata rusanya. Dilihat dari reaksi Luhan, hal itu cukup menunjukkan bahwa Sehun sedikit mengejutkannya. Tetapi tanpa menghiraukan cengiran dan keberadaan Sehun, Luhan hanya menatapnya datar dan kembali terfokus pada komiknya.

"Hey baby, kau kenapa sih?" Sehun yang sudah melepaskan pelukannya beralih merangkul Luhan dari bangku di samping Luhan.

"Tak apa" Jawab Luhan singkat dan masih dengan nada yang sama. Namun sebagai seorang titisan keluarga Oh yang cerdik, ia tidak kehabisan akal. Sehun merebut paksa komik Luhan dan kemudian meletakannya di meja. Hal itu tentu saja membuat Luhan otomatis menatap jengkel ke arah mata tajam Sehun. Lelaki itu mengusapkan kedua ibu jarinya di pipi Luhan, sedikit mencubitnya dan mengecup pipi Luhan yang sedikit merona.

"Kau jelas kenapa-napa Luhanku sayang" Sehun mempertemukan ujung hidung mereka sementara kedua tangannya masih bertengger di pipi chubby Luhan. Luhan yang sedang tidak mood berbicara dan melakukan skin-ship dengan Sehun pun cepat-cepat menjauhkan wajahnya dari wajah Sehun yang― ugh, sebenarnya Luhan akui begitu tampan.

"Jangan panggil aku seperti itu, menggelikan" Gerutu Luhan tanpa melihat Sehun.

"Hey! Kau ini sebenarnya kenapa Lu?"

"..." Luhan hanya diam sementara punggung tangan Sehun mengecek suhu tubuh Luhan.

"Kau sakit hm? Tapi badanmu tidak panas"

'Ya, badanku tidak panas. Tetapi hatiku yang panas Oh Sehun bodoh!' Gerutu Luhan dalam hati.

"Ahh, atau kau sedang datang bulan?" Perkataan itu berhasil membuat Sehun ditatap tajam oleh Luhan.

"Eh, tapi tidak mungkin. Periodemu masih dua minggu lagi kan Lu?" WHAT― baiklah, untuk kali ini entah Luhan ingin marah atau salut pada Sehun yang bahkan mengetahui kapan jadwal periode bulanannya.

"Kalau begitu... apa gara-gara Hayoung?"

BINGO!

Jawaban yang tepat Sehun! Dan Luhan hanya berdeham pelan guna menetralisir kegugupannya.

"Ayolah jawab, jangan mendiamkan aku seperti itu Xi Luhan" Luhan hanya mendengus kesal.

"Siapa yang mendiamkanmu? Buktinya sekarang kita sedang berbicara kan!"

"Kau baru berbicara sekarang!" Hardik Sehun tidak mau kalah.

"Lalu kau mau aku berbicara seperti apa!" Sergah Luhan frustasi.

"Ck. Sudahlah, tak ada gunanya berdebat denganmu, lebih baik aku ke kelas Hayoung"

Sehun pun segera bangkit dari kursinya meninggalkan Luhan yang mematung. Lagi-lagi Hayoung.

Memang Luhan belum mengetahui secara pasti siapa itu Hayoung, tetapi dari apa yang ia lihat, hubungan mereka cukup dekat. Sehun biasa saja saat Hayoung memeluknya. Dan Luhan baru sadar bahwa Hayoung menyebutkan sesuatu tentang Jepang. Ah― mungkinkah Hayoung teman yang Sehun temui saat mengikuti dance competition di Jepang? Luhan hanya tertawa miris menyadarinya.

Jadi itu alasan Sehun jarang menghubunginya saat berada di Jepang? Sehun sudah memiliki Hayoung?

Lagi-lagi Luhan tertawa miris.

'Hayoung lebih tinggi dariku, badannya pun berisi, tidak sepertiku yang lebih kurus. Dan― ia terlihat menyenangkan, ck. Sudah kubilang jangan berharap terlalu banyak Xi Luhan'

.

.

.

Sementara itu, Sehun benar-benar melakukan ucapannya, ia pergi ke kelas Hayoung yang berada satu lantai di atas kelasnya.

"Ya ya ya! Kalian baru bertemu sebentar saja sudah bermesraan!" Sehun menginterupsi kegiatan sepasang kekasih yang sedang bercengkrama dengan kedua tangan mereka yang bertautan.

"Sudahlah oppa, kau terlalu berlebihan. Kau pasti iri karena tidak bisa bermesraan dengan Luhan eonni kan?" Ejek sang wanita dari pasangan yang Sehun interupsi kegiatannya.

"Diam kau magnae keluarga Oh menyebalkan" Cibir Sehun.

"Siapa suruh memulai duluan, mehrong!"

"Hyung, Youngie, hentikan" Lerai sang pria yang merupakan kekasih dari wanita itu "Biarkan kami berduaan dulu ya hyung, kasihan kan Hayoung jauh-jauh pindah dari Jepang ke Korea demi pertunangan kami" Pria itu pun memeluk wanitanya dari samping, menghasilkan Sehun yang membuat gestur seperti orang ingin muntah.

"Bodoh, Jepang dan Korea kan tidak sejauh itu Dongwoon-ah!" Sehun melipat kedua tangannya dan bersandar di salah satu rak buku.

"Ya tapi tetap saja kan? Oh iya hyung, aku butuh bantuanmu. Sepulang sekolah bisa tolong antarkan Hayoung ke apartemenku tidak?" Pinta Dongwoon dengan sedikit merengek.

"Mwo? Kenapa harus aku? Luhan bagaimana? Nanti Luhan pulang bersama siapa? Bagaimana kalau nanti dijalan Luhan―"

"Ya! Hyung! Kau ini berlebihan sekali sih, Lulu noona kan bisa pulang dengan Kyungsoo noona, rumahnya searah juga kan?"

Sehun tampak berpikir.

"Ayolah hyung, waktu di Jepang aku yang membantumu, sekarang kau hanya perlu membantu mengantar Hayoung, kasihan dia belum hafal jalan hyung..." Rengek Dongwoon dengan aegyo yang menurut Sehun―sangat―menjijikkan.

"Dasar pamrih! Heol. Yasudah, memangnya kau mau kemana sih?"

"Mempersiapkan sebuah pernikahan" Ujar Dongwoon sumringah.

"MWO?!"

.

.

.

Sehun pun kembali ke kelasnya dengan mood yang masih juga belum berubah. Banyak pikiran yang berkecamuk di otak geniusnya setelah mengobrol dengan Dongwoon dan Hayoung. Ia segera mendudukkan dirinya disamping Luhan dan kembali melamun.

"Sudah selesai urusanmu dengan Hayoung?" Luhan memecahkan keheningan duluan meskipun dengan nada sarkastik.

"Belum" Sehun hanya menjawab sekenanya.

"Oh" Respon Luhan kali ini sayangnya menambah buruk mood Sehun.

"Hari ini kau pulang sendiri ya" Tutur Sehun datar.

"Ne?" Tanpa menghiraukan nada terkejut Luhan, Sehun malah semakin memperparah atmosfir dingin yang melanda keduanya.

"Aku ingin mengantar Hayoung" Ucap Sehun dingin dan menancap tepat menusuk hati Luhan. Sementara Luhan hanya membeku.

"..."

"Kenapa? Kau tidak bisa pulang sendiri, hah?" Dari nadanya saja sudah jelas Sehun seperti meremehkan Luhan.

"Tentu saja aku bisa! Memangnya kau pikir aku tidak bisa mengurus diriku sendiri?" Luhan menjawab dengan setengah berteriak. Tanpa ia sadari, air matanya sudah menggenang dan tinggal menunggu persetujuan empunya untuk mengalir.

"Ya, kau memang tidak bisa dan selalu membutuhkanku kan? Bisa apa kau tanpaku? Dasar cengeng"

TES

Dengan berakhirnya ucapan Sehun, Luhan pun segera membereskan bukunya dan bangkit dari kursinya tanpa mempedulikan air matanya yang mengalir semakin deras. Karena kebetulan bel pulang sudah berbunyi, maka Luhan pun ingin segera meninggalkan Sehun tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi. Luhan sangat kecewa, bisa-bisanya Sehun berkata seperti itu. Selama bertahun-tahun mereka bersahabat, mereka belum pernah bertengkar sehebat ini.

Beberapa langkah setelah Luhan pergi menjauh, Luhan menghentikan langkahnya.

"Kau... bukan Sehun-ku"

Dan ya, Sehun masih dapat mendengar perkataan lirih Luhan meskipun ia sudah berdiri cukup jauh. Luhan pun pergi, meninggalkan Sehun yang masih tetap mempertahankan wajah datarnya, dan seisi kelas yang menonton drama secara gratis dan live di kelas mereka.

.

.

.

Shit! Apa yang sudah aku lakukan!'

.

.

.

To Be Continued


A/N.

Hello, sebelumnya aku mau berterimakasih sama reviewers di prolog kemarin!

Urushibara Puterrizme, gaemgyu, niasw3ty, oshxlh904, Kim Rae Sun, ruixi1, BeibiEXOl, n13zelf, lulurara, vhienatrialvin, AhnSera, sakuralu, ruriminhaha, 0312luLuEXOticS, xiaolu odult, lisnana1, DoRaeMi, HunjustforHan, Guest and Young Ji Wang.

Karena rata-rata reviewnya minta ff ini lanjut, jawabannya ini yaa udah aku lanjut. Terimakasih udah review dan ngasih aku semangat, kalian daebak dan baik banget! Untuk Liyya eonni, makasih banyak feedback-nya! /peluk/. Untuk ruriminhaha, aku 98l jadi panggil Ail boleh atau eonni/ dek Ail juga boleh ehehe. Dan untuk Young Ji Wang, ahh tidaaak ff lamaku ketahuan ahaha yang itu sedang aku usahakan untuk lanjut, sumpah aku kira ff itu udah tenggelem gaada yang liat.

Oh iya, maafkan aku memasukkan pairing Hayoung-Dongwoon untuk support cast huhu maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan pairing tersebut.

Aku minta maaf juga baru update sekarang karena ffn di laptop aku tiba-tiba gabisa kebuka (lagi), akhirnya setelah nanya sana sini bisa kebuka (lagi) ahaha. Next chapter aku usahakan update kilat kalau masih ada yang berminat huhuhu. So, mind to review again?