Main Cast

Oh Sehun x Lu Han

WARNING

Gender-bender/ Genderswitch for Lu Han, I changed Lu Han's name to Xi Luhan

Romance, Friendship and Fluff


My Other Half

Chapter II: It's Always Been You


Luhan terus berlari tanpa mempedulikan langit yang semakin gelap atau kakinya yang sudah pegal karena berlari cukup jauh. Ia juga tidak peduli akan tatapan orang-orang yang seolah-olah berkata Luhan adalah seorang remaja yang stress karena patah hati. Gadis itu bahkan tidak membawa payung ataupun jaket, ia tak membawa apapun untuk melindunginya dari dingin ataupun hujan yang sebentar lagi nampaknya akan turun.

Setelah ia berlari cukup jauh dari sekolah, Luhan pun mengistirahatkan dirinya di salah satu bangku taman di dekat taman bermain yang saat liburan lalu ia kunjungi bersama Sehun.

Oh Sehun.

Lagi-lagi nama itu teringat di benak Luhan. Nama yang telah membuat Luhan lari sejauh ini hanya karena merasa kecewa dengannya.

Luhan ingin tertawa. Apa haknya untuk merasa kecewa? Bukankah harusnya ia merasa bahagia jika Sehun bahagia? Bukankah seumur hidup mereka bersahabat Sehun belum pernah berpacaran? Lantas mengapa Luhan harus marah saat Sehun menemukan pujaan hatinya? Sahabat macam apa kau ini Xi Luhan?

Tetapi sayangnya bukan itu saja yang membuat Luhan kecewa. Bahkan sangat kecewa. Faktor utama yang membuat Luhan sangat kecewa terhadap namja yang semur hidupnya selalu disamping Luhan itu adalah karena ia tega berkata sekasar itu terhadapnya. Well, meskipun bukan kata-kata kasar secara harafiah, tetap saja kata-kata itu terdengar kasar dan menyakitkan bagi Luhan.

Luhan sering mentertawakan adegan drama dimana sang pemeran utama menangis dibawah hujan. Menurut Luhan itu konyol, karena sang pemeran utama terlalu berlebihan dan mendramatisir. Bukankah ia bisa menangis di dalam kamarnya, daripada harus hujan-hujanan diluar dan menangis? Menyedihkan.

Setidaknya begitulah pikiran Luhan sebelum ia mengalaminya sendiri.

Langit sudah gelap sepenuhnya dan hujan sudah mulai turun. Disaat semua orang sibuk untuk meneduh atau membuka payung mereka, Luhan hanya diam dan menutup matanya sambil bersandar di bangku taman. Hujan berangin sialnya semakin memperburuk suasana. Baju seragam Luhan yang cukup tipis sudah basah seluruhnya, badannya semakin dingin dan ia mulai menggigil. Siapapun dapat melihat bibir Luhan yang membiru dan wajah cantiknya semakin pucat. Dalam hitungan menit, Luhan sudah menutup matanya dan merasakan semuanya menjadi gelap.

.

.

.

Sementara itu, setelah mengatar Hayoung, Sehun memutuskan untuk mampir sebentar di apartemen Dongwoon. Ia menatap kosong keluar jendela yang basah karena diterpa hujan. Hujannya cukup besar dan berangin meskipun tidak diiringi petir. Tiba-tiba perasaanya mulai tak enak dan tentu saja pikirannya hanya tertuju pada sebuah nama, Luhan.

Apakah Luhan sudah pulang?

Apakah Luhan tidak kehujanan?

Apakah Luhan masih menangis karena ucapanku?

Apakah... Luhan baik-baik saja?

Setidaknya hal-hal itulah yang kerap berlalu-lalang di benak Sehun. Jika boleh jujur, sebenarnya Sehun memutuskan untuk mampir di apartmen Dongwoon karena tidak ingin cepat-cepat bertemu Luhan di rumah. Ia masih sedikit kesal karena Luhan mengacuhkan Sehun saat di sekolah tadi. Meskipun ia melihat Luhan menangis, ia berpura-pura tidak peduli dan memutuskan untuk ikut mengacuhkannya.

"Jika kau tetap egois seperti itu mana mungkin Luhan akan menerimamu?"

Hayoung yang datang dari arah dapur sudah berada di samping Sehun sambil menyuguhkan segelas coklat panas untuknya, sedangkan Sehun hanya menghembuskan nafas kasar dan mendengus.

"Lupakan saja, aku cukup yakin Luhan tak akan menerimaku. Aku akan mencari alasan lain untuk Ayah dan... lagipula kami hanya sahabat."

Hayoung menggelengkan kepalanya heran. Ia tak habis pikir kenapa pasangan sahabat ini selalu menyangkal perasaan mereka masing-masing. Apakah sesulit itu menungkapkan perasaan diantara status hubungan sahabat? Entahlah, Hayoung tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Gadis bungsu keluarga Oh ini saja berkenalan dengan Dongwoon lewat orang tuanya―yang Hayoung yakini memang dari awal orang tuanya sudah berniat menjodohkannya dengan Dongwoon―. Tetapi setidaknya ia beruntung karena ia benar-benar mencintai pria berdarah Korea dengan campuran timur tengah itu tanpa paksaan meski dijodohkan.

"Ooh, sahabat yang masing-masing memendam cinta maksudmu?" Goda Hayoung.

Sehun menatap Hayoung dengan pandangan mencemooh. "Mungkin maksudmu itu cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ia hanya menganggapku sahabat Hayoung-ah. Tidak lebih. Dan tidak akan lebih dari itu." Sehun segera mengenggak coklat panas buatan Hayoung dalam sekali teguk.

"Kau benar-benar seorang genius yang bodoh. Kau tahu itu?"

Sehun mengerutkan keningnya karena nada Hayoung yang seolah mengintimidasinya. "Kau ingin meledekku?" Cerca Sehun, sementara Hayoung hanya tersenyum sinis.

"Hah, sudah kubilang kau memang bodoh." Sambil membawa gelas kosong yang ia suguhkan untuk Sehun, ia melenggang santai ke arah dapur.

"Sebenarnya percakapan ini mengarah kemana sih? Kau tidak nyambung." Sehun menuntut penjelasan dari adik sepupunya yang akhir-akhir ini sering sekali memberinya kata-kata ambigu yang membingungkan. Pria yang disebut-sebut keturunan keluarga Oh paling tampan itu pun melangkahkan kakinya mengikuti Hayoung ke arah dapur.

"Hey oppa-ku yang bodoh, mau kuberi petunjuk?"

"..." Sehun hanya mengangkat sebelah alisnya tanda ia mulai tertarik dengan percakapan ini. Dari tatapannya ia seolah mengatakan 'Apa? Cepat beritahu!'. Untung saja adik sepupunya ini sudah hafal dengan sifat Sehun. Kalau tidak, gelas kosong yang berada di tangannya saat ini pasti sudah melayang karena wajah menyebalkan Sehun.

"Heol, baiklah. Kau tak perlu menjawab pertanyaanku. Kau hanya perlu mencernanya dan memikirkannya baik-baik dengan hatimu, jangan menggunakan otakmu saja! Kau tahu? Otak genius sekalipun bisa berbohong terhadap perasaanmu sendiri. Tetapi hati? Percayalah, sepintar apapun seseorang menyangkal perasaannya, debaran jantungmu tak akan pernah berdusta,oppa" Hayoung pun menghela nafas panjang dan melanjutkan perkataanya.

"Baiklah. Pertama, apa Luhan pernah berpacaran dengan namja lain sebelumnya?"

'Tidak. Luhan kan selalu bersamaku, jadi mana mungkin ia pernah berpacaran.' Jawab Sehun tegas meskipun dalam hati.

"Kedua, apakah Luhan pernah menerima ajakan kencan orang lain selain dirimu?"

'Tidak, satu-satunya namja yang pernah pergi berduaan dengan Luhan hanya aku, dan hanya boleh denganku!' Gerutunya dalam hati.

"Ketiga, apakah Luhan selalu mengkhawatirkan dan merindukanmu saat kau berada jauh darinya?"

'Tentu saja! Luhan jelas-jelas mengatakan itu saat aku berada di Jepang.' Sehun menjawab pertanyaan ini dengan percaya diri. Memang benar kan?

"Keempat, hal apa yang menurutmu membuat Luhan mengacuhkanmu seharian ini?"

'Karena... ia salah paham terhadap hubunganku dengan Hayoung? Ah, tapi itu salahnya sendiri! Lagipula mengapa harus salah paham pada sepupuku sendiri.'

Hayoung memutar bola matanya malas karena tahu dengan pasti apa yang sedang dipikirkan sepupu geniusnya yang sangat tidak peka ini. "Jika kau menyalahkan Luhan karena salah paham, maka kau bodoh. Perempuan mana yang tidak akan salah paham melihat lelaki yang disukainya memeluk perempuan lain selain dirinya?"

Sehun menatap Hayoung tajam seolah membenarkan tebakan Hayoung. 'Sial, apakah Hayoung seorang pembaca pikiran?'

"Aku bukan seorang pembaca pikiran, jika itu yang kau pikirkan..." Sehun mendengus, "...dan kelima, jika ia tidak menyukaimu, untuk apa ia menangis saat kau melontarkan kata-kata kasar terhadapnya? Jika ia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapmu, ia pasti akan menganggap perkataanmu angin lalu! Dan kau tahu artinya apa? Kau telah menyakiti hati Luhan eonni, oppa..."

DEG

Seperti dihimpit batu yang besar, hati Sehun mendadak menjadi sesak. Entah mengapa tiba-tiba ia tersadar betapa bodohnya ia membiarkan Luhan menangis sendirian tanpa dirinya. Bukankah ia sudah berjanji akan selalu berada di samping Luhan bagaimanapun keadaannya?

"Pikirkanlah baik-baik. Aku ingin ke supermarket di lantai dasar, jika kau berubah pikiran, kau bisa hubungi aku." Hayoung pun mengenakan jaketnya dan melangkah keluar meninggalkan Sehun sendirian di dapur.

Sehun masih termenung, tanpa menyadari air matanya sedikit menetes meskipun akhirnya dapat ia tahan. Sehun mengeluarkan ponsel pintarnya dan mentap lock-screen ponselnya lekat-lekat. Di foto itu, dengan latar bianglala di taman bermain, Luhan terlihat sedang bersandar nyaman di bahu Sehun sambil tersenyum manis sementara Sehun mengecup puncak kepala Luhan. Sebelah tangan Sehun digunakan untuk memeluk Luhan dari samping, sementara tangan satunya ia gunakan untuk memegang ponselnya demi mengabadikan momen itu.

Sehun membuka kontaknya dan menghubungi nomor seorang wanita yang selama hidupnya juga sudah mengenal Sehun sejak ia baru lahir.

"Yeoboseyo?" Sapa suara seorang wanita dengan lembut di seberang sana.

"Y-yeoboseyo? Xi eomma?"

"Sehun-ah? Ada apa sayang? Sesuatu terjadi pada Luhan?" Wanita itu terlihat senang Sehun menghubunginya, meskipun diakhiri dengan nada khawatir saat menanyakan keadaan putrinya.

"A-aniya eomma. Hmm, memangnya eomma sedang dimana?"

Wanita paruh baya itu terkekeh dengan anggun dan menjawab pertanyaan Sehun. "Eomma di Beijing sayang, eomma dan appa akan tinggal selama beberapa bulan disini karena perusahaan kami di Beijing mengalami sedikit masalah."

Yap, jika kalian menduga orang yang ditelepon Sehun ini adalah ibunya Luhan, dugaan kalian tepat. Wanita ini adalah ibu kandung dari seorang gadis cantik yang selalu menyita hati dan pikiran Sehun selama ini dan seumur hidupnya. Sehun dan Luhan memang sudah terlalu erat hubungannya, sehingga Sehun terbiasa memanggil eomma dan appa pada orang tua Luhan, dan begitu pun sebaliknya.

"Ne? Lalu bagaimana dengan Luhan? Ia sendirian dirumah?" Nada panik bercampur rasa khawatir terdengar jelas dari cara Sehun berbicara. Sementara nyonya Xi, Xi Zitao yang tak kalah cantiknya dari Luhan tersenyum samar di seberang sana. Entah mengapa ia senang karena Sehun terdengar begitu mengkhawatirkan putri semata wayangnya.

"Ya, ia sendirian dirumah karena ia tidak ingin ikut kami ke Beijing, Sehun. Luhan belum bercerita padamu?"

"Err, sepertinya belum eomma." Meskipun Zitao tahu pasti ada masalah diantara mereka berdua, ia tak ingin mencampuri urusan kedua anak kesayangannya.

Setelah terdiam beberapa saat karena memikirkan sesuatu, Zitao mulai bersuara lagi.

"Mmm... Sehun-ah?"

"Ya, eomma?"

"Jaga Luhan sementara kami tidak ada ya. Kami hanya menyewa pelayan untuk membersihkan rumah dan ia tidak menginap. Ia hanya datang 3 kali dalam satu minggu, itu pun datang saat pagi dan pulang ketika sore. Jadi eomma harap kau mau menjaga Luhan dengan baik." Pesan Zitao.

"Ah? N-ne eomma tentu saja, Sehun― akan menjaga Luhan." Meskipun wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu dapat mendengar ketidak yakinan dalam nada bicara Sehun, ia tetap berfikiran positif.

"Anak baik, ah... andai saja kalian berdua cepat-cepat menikah." Sehun membulatkan matanya. Apa-apaan ini? Kenapa eomma Luhan ikut-ikutan menggodanya?

"Mwoya! Aish, eomma ini bicara apa!" Zitao yang gemas dengan―ehem―seseorang yang kemungkinan besar akan menjadi menantunya kelak ini pun tertawa karena berhasil menggoda Sehun.

"Ahahaha, aduh kau ini. Oh ya Sehun-ah, mau eomma beritahu rahasia?" Tawar Zitao setelah berhenti tertawa.

"Hmm, boleh. Memangnya tentang apa eomma?" Tanya Sehun penasaran.

"Luhan. Tentang Luhan. Sehun-ah, kau tahu tidak?" Sehun menggeleng pelan tanpa bersuara.

"Luhan itu, sebenarnya tidak ingin ikut kami karena ia tidak mau berada jauh darimu Sehun-ah..." Tunggu. A-apa? Benarkah? Tiba-tiba saja Sehun serasa dihujam belati yang terbuat dari es sekarang, "...ia menangis sambil memohon pada eomma dan appa agar ia tetap tinggal di rumah dan― tetap bersamamu." Ucap Zitao final.

TES

Air mata Sehun mengalir tanpa komando. Runtuh sudah pertahanan Sehun. Kini ia benar-benar menyesal dan merasa seperti orang bodoh yang sangat jahat karena telah menyakiti Luhan yang jelas-jelas menyayanginya. Ia memang bodoh karena berpikir bahwa dengan ia membalas acuh terhadap Luhan, Luhan lah yang pada akhirnya akan menyesal. Tetapi siapa sangka? Senjata itu telah memakan tuannya sendiri. Kini Sehun lah yang menyesal.

"Eomma... maafkan Sehun." Suara serak Sehun yang dapat Zitao tangkap dengan jelas pun seperti memperjelas hipotesa Zitao.

"Kenapa meminta maaf sayang?" Tanya Zitao lembut, khas seorang ibu.

"Sehun membuat Luhan menangis, eomma..." Zitao merasa iba dengan lelaki yang diam-diam pun merupakan pujaan hati anak semata wayangnya.

Ah, tentang mengapa Zitao bisa tahu? Tentu saja, seorang ibu dapat mengenali dan memahami anaknya dengan baik. Ibu yang awet muda ini masih dengan mudah dapat melihat tatapan kasih sayang Luhan yang tulus terhadap Sehun. Dan jika ia tidak salah, tatapan Sehun juga sama dengan cara Luhan menatapnya. It's just full of love.

"Oh Sehun, dengarkan eomma. Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri sayang, dan kau harus tau betapa besar Luhan menyayangimu. Ia sampai bersikeras meyakinkan eomma dan Yifan appa untuk tinggal demi bersamamu. Tak apa jika kau membuat putri kesayangan eomma menangis, tapi kau harus ingat, satu tangisan Luhan harus kau bayar dengan seribu senyuman. Arrachi?"

"Arraseo eomma!"

Setelah cukup lama bercakap-cakap dengan eomma Luhan, akhirnya Sehun mengakhiri panggilannya dan membulatkan tekadnya untuk segera pulang ke rumah dan menemui Luhan-nya. Ia juga sudah bertekad untuk menjelaskan keperluan sebenarnya ia pergi ke Jepang kepada Luhan.

'Semoga kalian berdua cepat-cepat bersatu dan semua rencana berjalan lancar...' Batin Zitao di Beijing sana sambil tersenyum penuh arti.

.

.

.

Karena hujan masih cukup deras dan Sehun tidak membawa mobil, akhirnya ia meminjam mobil Dongwoon yang kebetulan masih ada satu di basement apartemen. Dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang normal, Sehun pun memacu mobilnya untuk segera menuju rumah Luhan.

BRAK

Sehun berlari masuk ke rumah Luhan tanpa mempedulikan bajunya yang sedikit basah karena terkena hujan. Jika kalian bertanya bagaimana Sehun bisa masuk, maka jawabannya adalah karena Zitao memang pernah menitipkan kunci cadangan rumahnya kepada Sehun, dan untungnya sampai sekarang Sehun belum mengembalikan kunci itu.

"Luhan!" Teriaknya saat ia sudah berada di dalam ruang tengah rumah mewah kediaman keluarga Xi.

"Xi Luhaaan!" Ia semakin gencar berteriak, dan saat dirasanya tak ada respon dari gadis bermata rusa itu ia segera berlari menuju kamar Luhan.

CKLEK

Saat ia membuka kamar Luhan, ternyata gadis itu tak ada di kamarnya. Ia pun menju kamar mandi yang masih berada di ruangan yang sama, tetapi nihil. Luhan tak ada disana. Sehun mengacak rambutnya frustasi karena tak menemukan Luhan di rumahnya. Maka Sehun segera keluar dan mencari Luhan di segala penjuru ruangan.

"Luuu maafkan aku, kau dimana Lu?" Suara beratnya mulai terdengar lirih.

"Baby, apa kau bersembunyi?" Bisik Sehun pelan seakan Luhan akan mendengarnya.

Karena ia sudah memastikan Luhan tak ada di seluruh penjuru rumah ini, Sehun kembali ke kamar Luhan dan merebahkan tubuhnya di ranjang Luhan.

Sehun jadi teringat Kyungsoo, karena biasanya jika Sehun ada kegiatan tambahan dan Luhan enggan menunggunya, gadis itu akan pulang bersama Kyungsoo. Maka ia pun segera membuka kontaknya dan men-dial nomor gadis bermata owl itu.

"Yeoboseyo?" Suara jernih gadis yang merupakan kekasih dari teman Sehun yang bernama Jongin itu menyapa telinganya.

"Yeoboseyo? Kyungsoo?"

Kyungsoo cukup heran karena menangkap nada Sehun yang terdengar panik. "Ah, ne. Tumben kau menelepon, ada apa Sehun?"

"Uh.. apa kau pulang bersama Luhan tadi?" Ucap Sehun tanpa basa-basi.

"Umm tidak, tapi tadi aku melihat Luhan berlari keluar sekolah sambil menunduk. Kukira ia menangis, ia juga pergi berlawanan arah dari rumah. Kurasa... ia pergi ke tempat lain?" Kyungsoo memang berkata jujur, dan dari informasi singkat tersebut Sehun seolah sudah dapat menebak kemana Luhan pergi.

"Jadi... Luhan tidak pulang?"

"Aku tidak tahu pasti, kenapa kau tidak tanya mencarinya? Diluar hujan deras, aku khawatir Luhan kehujanan." Ujar Kyungsoo yang sepertinya ikut-ikutan gelisah. Bagaimana pun, Luhan salah satu teman yang paling dekat dengannya. Meskipun nampaknya Luhan lebih memilih untuk bersama Sehun setiap saat.

"Ah, geurae, kalau begitu gomawo Kyungsoo!"

Sehun sudah memikirkan satu tempat di benaknya. Tempat dimana dulu ia dan Luhan sering menghabiskan waktu bersama sambil meminum bubble tea.

.

.

.

Setelah sampai di tempat yang ia perkirakan, Sehun segera keluar tanpa mempedulikan hujan yang membasahi tubuhnya. Ia berlari menuju sebuah bangku taman yang menghadap langsung ke sebuah kedai Bubble Tea.

Dan tepat saat ia mendekat, Sehun dapat melihat seorang gadis terkulai dan tak sadarkan diri di salah satu bangku taman. Oh astaga, kaki Sehun seketika lemas melihat pemandangan yang seakan menggores hatinya.

Itu... Luhan-nya.

Maka dengan sisa tenaganya, ia segera berlari dan menghampiri gadis itu.

"L-lu..." Sehun menepuk-nepuk pipi Luhan, namun tak ada respon dari gadis itu. "Luhan?" Sehun mencium pelipis Luhan dan merasakan suhu tubuh Luhan yang sangat dingin.

Astaga, ia benar-benar hipotermia kalau begini! "Luhan kau dengar aku?" Tetap tak ada respon dari Luhan, dan bibir gadis itu semakin membiru.

'SHIT!'

Sehun pun segera menggendong Luhan yang tak sadarkan diri dan membawanya ke mobil.

"Bertahanlah Lu, aku akan menjagamu"

.

.

.

"Eunghh..." Luhan mulai terganggu dari tidurnya. Ia mencoba untuk membuka matanya tetapi sangat sulit. Pening yang sangat kentara membuatnya sulit melihat keadaan, bahkan untuk membuka matanya. Luhan meraba tempat dimana ia berbaring saat ini, dan sedikit terkejut saat mendapati dirinya sudah berada di ranjang empuknya. Tangannya pun merambat untuk meraba pakaian yang ia kenakan, dan Luhan pun terkejut sekaligus was-was ketika mendapati dirinya sudah berganti pakaian. Dan―Oh! Gadis itu menutup mulutnya karena hampir berteriak saat melihat sesosok laki-laki masih mengenakan seragam yang terlihat lembab karena hujan.

Siapa lagi kalau bukan Oh Sehun?

Ketika lelaki itu merasa ada pergerakan dari kasur, ia segera terbangun dan mendapati ekspresi wajah Luhan yang sulit ditebak. Matanya menyiratkan kemarahan, kekecewaan namun―maafkan Sehun jika ia sedikit berhalusiasi―tapi ia merasa mata Luhan sedikit menyiratkan kekhawatiran.

Sehun segera mendekat, kemudian menggenggam tangan Luhan dan mengusap surai halus Luhan yang sudah setengah kering. "Lu? Kau sudah bangun? Apa kau merasa sakit? A-atau kau masih pusing? Kau ingin kubuatkan teh atau―"

"Kau yang mengganti pakaianku?" Sergah Luhan dengan nada datar dan menusuk tanpa mempedulikan pertanyaan Sehun yang bertubi-tubi.

"O-oh itu, maafkan aku Lu. Ya, aku mengganti pakaianmu, tapi sungguh aku tidak berbuat macam-macam, aku hanya takut demammu semakin parah dan kau pasti akan kedinginan, atau kau―"

"Aku baik-baik saja Sehun-ssi." Potong Luhan cepat. Gadis itu pun menyingkirkan tangan Sehun dari kepalanya dan menarik tangannya dari genggaman Sehun.

"Lulu..." Panggil Sehun lirih. Ia sedih melihat reaksi Luhan yang seolah mendorongnya menjauh.

"Jangan panggil namaku seperti itu Sehun-ssi. Sudahlah, kau bisa pulang sekarang, aku bisa menjaga diriku sendiri." Luhan sengaja memberi penekanan terhadap kalimat terakhirnya tanpa melihat ke arah Sehun.

Sehun masih tetap bersikeras dan kembali menggenggam kedua tangan Luhan, "Lu tapi kau masih pucat, demammu juga belum turun baby..."

"Cih, memangnya apa pedulimu!" Teriak Luhan frustasi sambil menghempaskan kedua tangan Sehun agar berhenti menyentuhnya.

"Apa yang kau bicarakan Lu? Tentu saja aku peduli..." Tutur Sehun lembut. Lelaki itu masih berusaha tenang agar Luhan mau memaafkannya.

"Tidak! Kau tidak pernah peduli padaku dan―"

"Kau adalah orang tepenting dalam hidupku dan kau bilang aku tak peduli padamu?" Kini giliran Sehun yang memotong tuduhan tidak masuk akal Luhan, emosinya sudah mulai terpancing dan teriakan Sehun pun tak kalah frustasinya dengan Luhan.

Luhan memutuskan kontak matanya dengan Sehun, "Bohong. Kau bohong! Hiks... kau lebih peduli pada Hayoung" Lirih Luhan hampir tak terdengar, namun setidaknya Sehun masih dapat mendengarnya.

"A-apa?"

"Kenapa? Kau ingin menyangkal? Bukankah itu sudah jelas? Kau menyukai Hayoung dan kalian diam-diam berpacaran dengannya selama di Jepang, iya kan!"

Luhan meluapkan seluruh emosi dan beban pikirannya tepat didepan Sehun. Ia merasa lega sekaligus sakit, lega karena hal yang mengganggu pikirannya sudah enyah, tetapi sakit karena ia takut Sehun akan menjauhinya setelah ini. Dalam hitungan detik, Luhan sudah menangis hebat dan menenggelamkan wajahnya di bantal, guna meredam tangisannya.

Sehun menjernihkan pikirannya sebentar dan segera naik ke ranjang gadis yang tengah menangis itu, kemudian ia menarik bantal yang Luhan gunakan untuk meredam tangisannya. Dengan sigap, Sehun menggantikan posisi bantal itu dan meneggelamkan Luhan di pelukannya. Setidaknya Sehun bersyukur, Luhan tak menolak kali ini. Anak tunggal keluarga Xi itu terlalu lelah untuk sekedar memberontak, dan akhirnya membiarkan Sehun memeluk sambil mengusap lembut surai coklat mudanya yang sudah mulai kering.

"Kau selalu punya aku untuk melampiaskan kesedihanmu Lu, bukankah aku sudah berjanji akan selalu berada di sisimu? Aku bahkan tak tahu apa yang membuatmu seperti ini..." Luhan hanya terdiam, namun tangisannya berangsur mereda dan hanya terisak sesekali.

Sehun mengangkat wajah Luhan dari pelukannya dan menempelkan keningnya di kening Luhan. Matanya menatap lurus dan dalam ke arah iris coklat tua Luhan, "Kau bahkan tetap memukau saat menangis, Lu." Kemudian Sehun mengangkat wajahnya untuk mendaratkan bibir tipisnya di dahi Luhan. Setelah menyalurkan perasaan sayangnya terhadap Luhan lewat ciuman di kening, ia turun untuk mengecup sepasang mata indah favoritnya.

"Aku tak ingin melihat sepasang mata rusa favoritku ini mengeluarkan air mata, apalagi disebabkan olehku..." Luhan memejamkan matanya erat, menikmati setiap inchi kecupan dan sentuhan lembut Sehun. Ia bahkan sudah sedikit melupakan amarahnya.

Sehun turun untuk mengecup hidung bangir Luhan, lalu mengecup sayang kedua pipi chubby Luhan yang merona sebelum ia akhirnya mempertemukan kembali bibirnya dengan bibir cherry Luhan yang selalu menjadi candunya semenjak ia menciumnya pertama kali.

Awalnya Sehun hanya mengecup bibir yang selalu membuatnya ketagihan untuk merasakan manisnya lagi, kemudian ia mulai melumat lembut dan menyesap bibir pink mungil yang memerah itu. Luhan yang awalnya diam saja pun berangsur membalas lumatan Sehun terhadap bibirnya. Tangan Luhan terangkat untuk mencengkram rambut Sehun dan membuat pola abstrak disana, seolah memintanya untuk jangan berhenti dan mencegah Sehun menjauh darinya.

Sehun semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Luhan yang berisi dan menonjol di bagian-bagian yang tepat. Lelaki itu menuntun gadis yang selalu menjadi teman hidupnya untuk berbaring diatas ranjang, Sehun pun semakin bersemangat saat dirasanya tak ada penolakan dari Luhan. Oh―lagipula gadis itu terlihat menikmatinya.

"Nggh... Sehunn...B-bajumu basah..." Erang Luhan disela-sela ciuman panas mereka yang masih dapat Sehun dengar.

Sehun pun melepaskan pagutan bibir keduanya dengan terpaksa. "Geurae? Lalu apa maumu, hm?" Godanya seduktif sambil mengangkat dagu Luhan agar gadis itu menatapnya.

"G-ganti bajumu Hun, nanti kau kedinginan." Ucap Luhan terbata tanpa memalingkan pandangannya dari Sehun.

Lelaki yang mulai tersulut nafsu itu pun menyeringai, "Kurasa tak perlu ganti" Dengan gerakan lambat yang menyiksa, Sehun pun segera membuka satu persatu kancing kemeja sekolahnya dan melucuti seluruh pakaian atasnya dari tubuh atletis yang menjadi pujaan seluruh murid perempuan―bahkan laki-laki―di sekolahnya. Ugh, bahkan Sehun membuat Luhan semakin merona karena posisi Sehun yang mengangkangi Luhan sambil bertelanjang dada.

Sehun berhenti sebentar untuk meloloskan tali ikat pinggangnya yang menggangu. "Lu, celana ini juga mengganggu, aku lepas sekalian saja ya."

"Engg, terserah kau Sehunnie..." Luhan menggigit bibirnya, mulai gelisah melihat Sehun yang―Oh astaga demi seluruh koleksi Hello Kittnya!―sangat sexy.

Sehun pun kini hanya mengenakan boxer hitam tipis yang terlihat ketat karena sesuatu yang―ehem―terbangun dari arah selangkangannya. Puas melihat reaksi Luhan yang merona, lelaki nyaris sempurna itu mendekatkan bibir tipis menggodanya ke telinga Luhan.

"Lu, kau curang. Aku hanya menggunakan boxer sedangkan kau masih berpakaian lengkap."

GLUK

Luhan menengguk salivanya karena kata-kata Sehun yang sepertinya―memang―sengaja menggodanya. Tuhan, tolong selamatkan rusa kecil ini!

"L-lalu aku harus apa?" Luhan merutuki bibirnya yang seenaknya berkata seperti itu. Bodoh! Kenapa kau jadi ikut-ikutan mengundang sisi kelakian Sehun disaat-saat seperti ini Luhan!

"Biar kubantu, Luhan-ku..."

Sehun mengenggelamkan wajahnya di ceruk leher Luhan dan tangannya mulai bekerja untuk melucuti pakaian Luhan. Luhan masih mendesah tertahan saat Sehun memberi tanda-tanda kecil berbekas di leher putih mulusnya, tanpa menyadari keadaan tubuhnya yang sekarang hanya terlindungi bra hitam dan celana dalam senada dengan bra-nya.

"Wow, sepertinya pakaian dalam kita serasi Lu" Sehun memandangi rusa kecilnya yang―ASTAGA, DEMI TUGAS MATEMATIKAKU YANG MENUMPUK!―sangat imut dan tentu saja sexy. Tubuh Luhan bagaikan porselen yang mulus tanpa cacat. Sehun berani bersumpah, semua koleksi majalah yadong milik Jongin atau Chanyeol masih kalah menggairahkan daripada pemandangan live di depan matanya saat ini. Sehun remaja normal, ingat?

"S-sehun jangan tatap aku seperti itu!"

Sehun terkekeh pelan dan mengunci pergerakan Luhan sepenuhnya. "Kalau begitu, aku tak akan melihatnya." Dan dengan berakhirnya ucapan Sehun, ia segera meneggelamkan wajahnya di belahan payudara sintal Luhan yang sialnya cukup besar sampai Sehun menyesal karena tak menikmatinya lebih lama saat mengganti baju seragam Luhan dengan piyama tadi.

Luhan memejamkan matanya dan sedikit melesakkan kepalanya ke bantal. "Astaga, S-sehun-ahhh... sebenarnya apa yang ingin kau lakukan."

Lelaki itu menjawab dengan santai dengan tangannya yang masih bergerilya di payudara Luhan. "Menikmati tubuhmu, boleh kan?"

Tunggu. Tubuhnya? Hanya tubuhnya? Seketika Luhan tersadar dari gairahnya yang mulai tak terkendali dan hampir membuncah. Ia mendorong Sehun dengan cukup kuat sehingga payudara sintalnya terlepas dari genggaman Sehun.

"Jadi kau hanya ingin tubuhku?"

Oh tidak, Sehun. Lagi-lagi kau salah bicara.

"A-ani, Lu..." Sehun mengacak rambutnya frustasi karena dirasanya ia kembali salah bicara "...bukan begitu maksudku!"

Luhan tersenyum miris dan menutupi tubuhnya yang hampir polos dengan selimut Hello Kitty kesayangannya. "Sudahlah, tak usah dipikirkan. Maafkan aku, apakah aku hanya terlihat seperti wanita penggoda di matamu?" Luhan menunduk dan beringsut menjauh dari Sehun.

'Oh tidak Lu, bahkan aku yang menggodamu duluan!' Sehun ingin mengatakannya tapi lidahnya terlalu kelu dan otak geniusnya kembali macet hanya karena melihat Luhan yang kembali bersedih. 'Sial, padahal tadi Luhan sudah mulai melupakan kesedihannya'.

"Sehunnie... Hayoung akan sakit hati jika kau berbuat seperti ini denganku" Bisik Luhan lirih, meskipun ia tidak rela mengatakan itu.

Sehun terdiam dengan dahi yang berkerut dan sedikit membuka mulutnya karena bingung. "Siapa? Hayoung? Kenapa dia harus sakit hati?" Tanyanya bingung.

"Karena... ia kekasihmu kan?" Jawab Luhan ragu-ragu, meskipun hatinya sudah mengantisipasi jawaban terburuk yang akan keluar dari mulut Sehun.

"Mwo? Bwahahahahaha ahahah ah- perutku ahahahaha..." Alih-alih mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya, Luhan malah disuguhi pemandangan seorang lelaki tampan yang terpingkal-pingkal di kasurnya karena tertawa―dengan sedikit berlebihan―itu.

"Yak! Kenapa kau malah tertawa!"

"...ahahahha Luhan-ku astaga! Lu, kau ini terlalu berburuk sangka padaku ahahaha..." Sehun yang gemas akan kesalah pahaman Luhan itu pun memeluknya erat dan mengajaknya untuk berguling di kasur empuk milik Luhan.

Luhan yang masih dilanda rasa penasaran itu pun menghentikan pergerakan Sehun dan mencengkram bahunya erat. "Tapi aku serius!"

"...ah ah ahaha aduh, Luhan-ku, sayangku, Baby Deer-ku, Hayoung itu sepupu dekatku, kami masih berhubungan darah dan aku tidak cukup gila untuk berhubungan dengan sepupuku sendiri sayang." Sehun yang semakin gemas dengan Luhan pun menjawil hidung bangirnya dan mengecup ujung bibirnya cukup lama.

"Lagipula... Hayoung sudah bertunangan dengan adik kelas kita, Son Dongwoon. Kau tahu dia kan?"

Luhan mengangguk kecil dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher jenjang Sehun, "Ah..." Luhan sangat malu! Astaga, jadi selama ini ia hanya salah paham? "...ternyata begitu" Luhan menyesal karena sempat mengacuhkan Sehun yang berujung pertengkaran karena kesalah pahamannya tentang hubungan Sehun dan Hayoung. Diam-diam Luhan bersyukur karena ia masih memiliki kesempatan untuk memenangkan hati Sehun sepenuhnya―meskipun tanpa ia ketahui Sehun memang sudah mendedikasikan penuh seluruh hatinya untuk Luhan―.

Sehun yang tak tahan melihat kelakuan Luhan yang meringkuk manja di ceruk lehernya itu pun menaikkan tubuh mungil Luhan keatas sehingga ia terduduk di atas perut atletis ber-abs miliknya. Dan ya, dengan posisi Luhan diatas Sehun saat ini semakin memudahkan Sehun untuk menikmati pemandangan yang tak akan pernah rela ia tukar dengan apapun. Tubuh Luhan memang benar-benar sempurna dan mulus tanpa cacat. Meskipun mungil, bentuk tubuhnya tetap sempurna dan―ehem―benar-benar menonjol di bagian yang tepat. Kalian tentu ingat keadaan Luhan yang hanya berbalut bra dan celana dalam hitam bukan? Dan sialnya, itu semakin memicu membuncahnya gairah Sehun.

Tangan nakal Sehun mulai merambat dan mengelus paha bagian luar milik Luhan, gadis itu menutup rapat bibir cherry-nya agar tidak mengeluarkan desahan-desahan erotis yang nantinya akan semakin membuat Sehun bersemangat menggodanya. Sehun tidak mudah menyerah tentu saja, tangan panjangnya mulai merambat ke paha bagian dalam milik Luhan dan mau tak mau membuat Luhan menggigit bibirnya. Salahkan Sehun yang pada dasarnya begitu mesum, ia malah menganggap Luhan balas menggodanya dengan menggigit bibirnya secara sensual.

"Jadi bolehkah kita melanjutkannya?"

"..." Luhan tak menjawab karena masih memejamkan matanya dan menggigit bibir cherry-nya yang nyaris berdarah karena terus ia gigit.

"Jangan gigit bibirmu seperti itu baby, kau boleh mendesah jika kau mau." Goda Sehun yang sekarang tangan-tangan nakalnya sudah merambat naik dan mengelus pinggang Luhan seduktif.

"Mmmh... Sehun hentikan..." Luhan meminta setengah hati, meskipun nyatanya ia―sangat―menikmati setiap sentuhan Sehun di tubuhnya. Luhan menginginkan lebih, tentu saja. Tetapi, bercinta dengan 'sahabatmu' sendiri apakah tidak terdengar ekstrim? Apalagi Luhan menyadari fakta bahwa hanya ia disini pihak yang mencintai Sehun. Jadi... tidak bisa dikategorikan bercinta kan?

"Hentikan? Kau yakin?"

"..." Luhan diam saja membuat Sehun semakin bersemangat menggoda gadis rusa yang terlalu banyak mengambil hatinya.

Sehun terkekeh pelan membuat mata sipitnya semakin tak terlihat. Ia menyadari raut wajah Luhan yang seolah takut atau mungkin bimbang. Maka dengan gerakan lambat, Sehun menarik gadisnya untuk bersandar di dada bidangnya dan kemudian memeluknya erat seolah Luhan adalah harta paling berharga yang ada di hidupnya―meskipun memang begitu kenyataannya. Ia mengusap surai lembut Luhan dan mencium pucuk kepalanya dengan lembut dan penuh perasaan. Mencoba mengalirkan segenap perasaan kasih sayang dan cintanya terhadap gadis yang berada di pelukannya saat ini.

Posisi Luhan yang berada tepat diatas Sehun membuatnya dengan jelas mendengar detak jantung Sehun yang menggila. Dan tanpa ia sadari, Sehun tersenyum bahagia karena merasakan detak jantung Luhan yang sama tidak karuannya dengan miliknya. Sehun jadi teringat kata-kata Hayoung tadi siang,

'...sepintar apapun seseorang menyangkal perasaannya, debaran jantungmu tak akan pernah berdusta.'

Sehun sedikit mengangkat tubuh gadisnya agar bertatapan langsung dengan manik coklat pekat miliknya. "Hey, aku hanya bercanda Lu. Tenang saja, aku akan selalu menjaga kesucianmu. Ini belum saatnya." Dan Sehun pun kembali mencium bibir Luhan, kali ini dengan penuh perasaan tanpa ada nafsu yang terselip didalamnya. Sehun melumat lembut bibir manis Luhan sebelum melepaskannya dan beralih mencium kening Luhan. Gadis itu sangat terlena oleh kelembutan dan setiap sentuhan yang Sehun berikan kepadanya.

"Tapi kau harus ingat, hanya aku yang boleh merenggut hal itu darimu, aku harus menjadi yang pertama dan satu-satunya yang dapat memilikimu seutuhnya."

Luhan tertawa kecil dan turun dari tubuh atletis Sehun, ia berbaring nyaman tepat di samping Sehun dan menghadap tepat ke wajah tampan sahabatnya. "Cih, mengapa aku harus menyerahkan seluruh aset berhargaku padamu? Memangnya siapa kau, huh?" Tantang Luhan dengan tangan mungilnya yang mulai bermain di dada Sehun.

Sehun tersenyum tipis dan mendekatkan wajahnya sampai menyentuh hidung Luhan, "Aku? Calon suamimu."

Luhan hanya mengerjapkan matanya imut karena masih dalam proses mencerna perkataan Sehun. Dan saat ia tersadar, "Yak! Aku serius bodoh!" Dan satu pukulan rusa pun berhasil Sehun dapatkan dari tangan mungil yeoja yang dicintainya itu.

Sehun memasang tampan poker face-nya dan menggenggam kedua tangan mungil Luhan, "Dan kau tahu betul aku juga serius, Xi Luhan." Bisiknya dengan nada yang sangat meyakinkan.

"A-ah! Terserah kau saja lah!"

Akhirnya Sehun pun tak dapat menahan tawanya lagi dan beralih untuk memeluk Luhan dalam posisi tidur berhadapan. "Kekeke... Jadi terserah padaku? Berarti kau setuju kan menikah denganku?" Godanya sambil mencolek dagu Luhan yang berbentuk V-line tanpa campur tangan operasi.

Luhan semakin malu dan Sehun tak boleh melihat wajahnya yang pasti sudah semerah tomat busuk! Maka dengan cepat ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sehun, "Aaaaa... Mollaaaa!" teriaknya manja.

Ah, betapa Sehun sangat merindukan saat-saat seperti ini, menggoda Luhan-nya yang manja adalah salah satu kegiatan favoritnya sedari dulu.

Sehun selalu merasa bersalah karena ia seolah mempermainkan hati Luhan. Setiap kaum Hawa di dunia ini, ia yakini pasti sangat mengharapkan sebuah kepastian dari pujaan hatinya. Sehun tahu itu. Dan ia juga tahu bahwa Luhan menginginkan itu. Diam-diam Sehun bersyukur karena memiliki perempuan sesempurna Luhan di hidupnya. Sehun tak pernah mengutarakan kalimat cintanya secara langsung. Ia lebih suka bertindak dan menunjukkan rasa cintanya lewat perlakuan spesial terhadap perempuan yang dicintainya.

Namun, seiring berjalannya waktu, manusia selalu memiliki batas penantian dan kesabarannya. Luhan mulai meragukan perasaan Sehun terhadapnya. Luhan mulai meragukan semua perlakuan spesial Sehun terhadapnya. Apakah perlakuan Sehun hanya sebatas rasa sayang terhadap sahabat? Luhan tidak pernah tahu, meskipun ia menyadari bahwa satu-satunya gadis yang ada di mata lelaki itu hanya dirinya. Gadis itu selalu menunggu pernyataan itu dari bibir tipis Sehun. Sayangnya... 17 tahun mereka hidup bersama, Sehun tak pernah menyatakan apapun terhadapnya.

Luhan membuka mata rusanya, dan tepat di depannya ia dapat melihat Sehun yang sepertinya telah tertidur. Luhan yakin Sehun pasti lelah karena ulahnya. Luhan tersenyum tipis dan kembali merasakan detak jantungnya yang berulah. Bagaimana tidak? Di depannya, seorang lelaki yang sangat tampan dan kebetulan ia cintai tengah memeluknya posesif. Tangan kekarnya mengambil alih bantal Luhan dan menjadikan tangannya sebagai bantal sehingga Luhan benar-benar merasa nyaman di pelukan namja itu. Luhan pun mencium bibir tipis Sehun dan berbisik lirih di telinganya, berharap ia dapat medengar bisikan Luhan dalam tidurnya,

"Maafkan aku... aku mencintaimu Sehun."

.

.

.

'Mungkin aku harus menunggu satu hari lagi untuk menjelaskan semuanya padamu Lu,
dan tenang saja, aku akan segera meresmikan hubungan kita.

Terima kasih telah bersabar untukku,

aku mencintaimu...'

.

.

.

To Be Continued


A/N.

Terima kasih banyak untuk reviewers di chapter I!

niasw3ty, eviloshhd, BeibiEXOl, rikha-chan, hanalu93, , Hundanhan, DoRaeMi, Kim Rae Sun, vidyafa11, WinDeerDoBacon-dkl, siti .x. lu, selukr, ruixi1, ruriminhaha, AhnSera, Young Ji Wang, Hunhan Selu, leadernya exo gapunya akun, 0312luLuEXOticS, sehun . oppa, doremifaseul, hanhyewon357, kkamjongiee, Urushibara Puterrizme, HunjustforHan, JeonJeongkukie, farfaridah16, monggujanggu96, niesha sha, HUNsayHAN, Guest, ChagiLu, Oh Juna93, Kachimato, lulutokki9094, tchandra07 . tc, Vhiena Sehun, lululala and KyuvilHundsome.

Terimakasih juga untuk yang sudah fav dan follow tanpa review huhu, chap ini review ya? Ahaha. Maaf ya aku bilang two-shoot ternyata udah chapter 2 masih belum kelar huhu aku masih pengen nambahin beberapa cerita hehe.
Oiya kemarin ada request dari readers bilang tolong Sehunnya dimesumin lagi ahaha ini ya udah aku bikin mesum. Ada yang mau request atau saran lagi? ^^

So... mind to review again?