Main Cast

Oh Sehun x Lu Han

WARNING

Gender-bender/ Genderswitch for Lu Han, I changed Lu Han's name to Xi Luhan

Romance, Friendship and Fluff


My Other Half

Chapter III: Luhan is Mine!


"Selamat pagi Luhan-ku!" Teriak seorang lelaki yang hampir merusak indra pendengaran Luhan pagi ini. Gadis yang masih setengah tertidur itu pun menggerutu malas karena dibangunkan sepagi ini oleh laki-laki albino yang sifatnya memang sangat sulit ditebak. Kadang-kadang ia bertingkah konyol, kadang-kadang pula ia terlampau ceria melebihi temannya Chanyeol. Namun seringkali ia menjadi pria dingin, dan tentu saja seringkali mesum—yang satu ini khusus jika saat bersama Luhan saja—. Dan ya, laki-laki ini siapa lagi kalau bukan tuan muda Oh Sehun?

Gadis yang merasa tidurnya terusik langsung terbangun dan duduk bersila di kasurnya, kemudian melirik sekilas ke arah pemuda yang masih setia berdiri di ambang pintu kamarnya.

"Ck. Hunnie kau ini berisik sekali, kau lupa hari ini hari Sabtu, huh?" Gerutu Luhan yang terlihat seperti meracau tidak jelas karena ia masih sangat mengantuk. Luhan juga belum sadar kalau ia masih menggunakan pakaian tidurnya semalam. Sekedar mengingatkan, Luhan masih hanya terbalut bra dan celana dalam hitam saat ini. Cahaya matahari yang terang semakin membuat tubuh mulusnya bersinar dan terlihat jelas oleh Sehun.

Sehun terkekeh karena merasa sahabatnya terlihat semakin menggemaskan saja setiap harinya. Ia pun berjalan mendekat ke arah Luhan dan duduk di samping gadis itu. "Baby, kau harus makan ne? Kemarin kau belum makan seharian." Tuturnya lembut sambil merapikan surai coklat muda Luhan yang sedikit berantakan karena baru bangun tidur.

Luhan mendengus malas dan melipat tangannya di depan dada, "Itu kan gara-gara kau yang membuatku tidak nafsu makan Oh Sehun!"

Pria yang dipanggil Oh Sehun hanya tersenyum tipis melihat kelakuan yeoja yang telah mencuri hatinya sejak dulu itu. Dengan gerakan pelan Sehun bangkit dari kasur. Namun yang terjadi selanjutnya adalah, lelaki itu berlutut di depan Luhan yang masih berada diatas kasur. "Kalau begitu, hari ini Oh Sehun akan melayani tuan putri Xi seharian. Bagaimana?"

Tanpa pikir panjang, seketika Luhan sudah mengembangkan senyumannya, "DEAAAAL!" Luhan berteriak semangat melupakan keadaannya yang minim busana, lebih parahnya lagi, gadis itu meloncat girang di kasurnya tanpa menyadari tatapan lapar serigala buas di depannya.

'Sial! Kenapa kenapa payudaranya berguncang seperti itu! Membuatku gerah saja!' Runtuk Sehun dalam hati seraya menengguk salivanya.

Sebelum fantasi Sehun semakin liar, ia pun berinisiatif untuk segera mengalihkan perhatiannya. "Uhm... kalau begitu kajja Lu! Kita turun, aku sudah membuat pancake kesukaanmu."

"JINJJAYO? AAAAA SEHUNNIE BAIK SEKALI!" Luhan berteriak semangat sambil bertepuk tangan seperti balita yang senang ketika dibelikan mainan kesukaanya. Luhan semakin memekik senang, kemudian menerjang Sehun dan otomatis melingkarkan kakinya ke pinggang kekar namja itu. Untung saja Sehun cukup kuat untuk menopang berat badan Luhan yang meskipun mungil, tidak dapat dikatakan ringan juga.

Sehun melepaskan Luhan dari gendongannya dan menurunkannya di kasur, "Tentu saja, ayo Lu kita turun sekarang." Sehun mengulurkan tangannya bermaksud menggandeng Luhan untuk turun ke meja makan.

Alih-alih menyambut uluran tangan Sehun, Luhan menggembungkan pipinya dan memajukan bibirnya. "Shireo!" Tolak Luhan.

"Wae? Kau tidak mau memakan masakanku?"

Luhan menggelengkan kepalanya imut. "Aniii, bukan begitu Sehunnie..."

Sehun mulai gemas dengan tingkah laku Luhan yang penuh aegyo hari ini. "Geurae, lalu kenapa hm?"

Luhan mengerucutkan bibirnya kembali, kemudian merentangkan kedua tangannya ke arah Sehun, "Gendong!"

Sehun terdiam sebentar sambil membulatkan mata sipitnya, "N-ne?"

"Gendong aku seperti koala!" Pinta Luhan lagi.

"Aish, dasar bayi rusa manja." Sehun pun segera menuruti keinginan Luhan dan membawanya untuk digendong seperti koala.

Oh ya, posisi ini merupakan favorit Luhan, dan sebenarnya Sehun juga lebih suka posisi gendongan koala daripada bridal style, lagipula... gendongan koala terlihat lebih intim kan? Uhm—ya, kalian mengerti maksudku tentunya.

Baru beberapa detik Luhan berada di dekapan dan gendongan Sehun, akhirnya bayi rusa itu menyadari bahwa ia masih dalam keadaan minim busana. Astaga. Kemana saja kau ini! Dasa rusa bodoh yang cantik. "E-eoh, sebentar, turunkan aku Sehunnie, aku ganti pakaian dulu." Ucapnya malu.

Alih-alih menurunkan Luhan, Sehun malah tidak mau melepaskan gendongannya dan tidak membiarkan Luhan turun. "Tidak perlu, aku lebih menyukai penampilanmu seperti ini, lebih... sexy." Bisiknya seduktif.

Gadis itu meninju pelan bahu tegap Sehun. "Y-ya! Tapi aku malu Sehun." Keluhnya hampir frustasi. Luhan berniat menyembunyikan wajahnya yang—sangat—merona, namun tanpa gadis itu sadari, ia malah semakin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sehun.

Sehun terkekeh pelan karena tingkah menggemaskan Luhan. Ia merasa ini tidak adil, mengapa di dunia ini harus ada makhluk imut namun dalam waktu yang bersamaan ia juga sangat sexy. Ini. Sangat. Tidak. Adil. Terkadang Sehun merasa kasihan pada gadis-gadis diluar sana yang kesempurnaan paras dan tubuhnya tak ada yang dapat menandingi Luhan.

"Kenapa harus malu denganku? Aku sudah lihat kan kemarin?" Goda Sehun santai, membuat Luhan semakin malu dan rona merah di wajahnya sudah tidak dapat dikendalikan.

"Pokoknya tidak mau! Aku ingin mengganti bajuku!" Teriak Luhan frustasi. Walaupun biasanya ia memenangkan debat melawan Sehun,—itu pun karena Sehun selalu mengalah—namun kali ini Luhan terlalu malu bahkan untuk mengangkat kepalanya.

Jika Luhan sudah berteriak, artinya sebentar lagi ia akan murka. Maka sebelum itu terjadi, kali ini Sehun lagi-lagi harus—sedikit—mengalah. "Aish, sudahlah kau pakai kemeja saja, tanpa bawahan!" Ucap Sehun final.

"Mwo? Mana bisa begi—"

"Kau memilih memakai kemeja atau seperti ini saja hm?"

Dengan tatapan mengintimidasi yang Sehun lontarkan, Luhan tak mungkin bisa mengelak kali ini. "U-uh baiklah sekarang turunkan aku, aku ingin mengambil kemejaku di lemari." Gerutunya pelan.

Sialnya, sebelum Luhan turun dari gendongan Sehun, lelaki itu terlebih dahulu menahannya. "Siapa bilang kau akan memakai kemejamu? Kau tunggu disini, biar aku yang pilihkan."

Sehun pun menurunkan Luhan di kasurnya dan beranjak ke lemari pakaian Luhan.

"Cha, untung saja bajuku banyak yang kusimpan di kamarmu." Ucap Sehun sambil tersenyum puas dan langsung menghampiri rusa kecilnya di kasur.

"Mm, setidaknya kemejamu lebih besar." Luhan segera mengambil kemeja itu dari tangan Sehun dan menempelkannya di badan mungilnya.

"Ya, dan menambah kesan sexy padamu kan?" Goda Sehun santai.

"Sehunnie jangan menggodaku terus!"

Sehun hanya tertawa kecil karena Luhan memang begitu menggemaskan di matanya. "Kekeke arraseo, sini aku pakaikan."

Luhan diam saja dan tidak protes apa-apa ketika Sehun memakaikan kemejanya dengan telaten. Meskipun Luhan tahu diam-diam Sehun terus melirik ke satu arah. Jakun Sehun yang naik turun juga tidak luput dari pengelihatan tajamnya.

"Ehem, kau liat apa tuan Oh Sehun?" Dehaman Luhan membuyarkan Sehun dari lamunan nistanya.

"A-aniya, aku tidak melihat apa-apa." Elak pemuda itu.

"Tsk, kau ini memang benar-benar mesum ternyata." Ujar Luhan dengan nada marah yang dibuat-buat.

"Mesum pun hanya di depanmu, tidak dengan gadis-gadis lain kan?" Skak mat! Lagi-lagi Luhan harus menyembunyikan rona wajahnya sebelum Sehun melihatnya.

"Baiklah, karena tuan putri sudah siap, maka kuda OSH akan meluncur secepatnya!"

Untung saja Sehun sudah selesai memakaikan kemejanya, jadi Luhan tidak perlu repot-repot untuk membalas godaan Sehun. Terima kasih Dewi Fortuna yang baik!

Tanpa aba-aba Sehun pun segera mengangkat Luhan dan menggendongnya seperti ingin menculik seekor rusa langka.

"KYAAAAA! SEHUNNIEEEE!"

.

.

.

Setelah 3 minggu, kegiatan sekolah mulai berjalan seperti biasa. Namun, tidak biasanya seorang periang seperti Luhan terlihat murung memandangi objek nyata di sampingnya. Sepasang mata rusa itu terlihat khawatir karena Sehun mendadak lesu hari ini, wajahnya juga pucat dan sesekali ia meringis.

"Hunnie, gwaenchana?" Tanya Luhan sambil menyentuh pipi tirus Sehun.

Sehun mengalihkan pandangannya ke samping dan mendapatkan wajah khawatir Luhan yang sangat imut, "Hm? Aku hanya sedikit pusing Lu." Jawab Sehun tenang diiringi senyuman—meski Luhan tau senyumannya sangat dipaksakan—.

"Aigoo, siapa suruh kau melewatkan sarapan hm?" Luhan menangkup wajah tegas Sehun dan mengusap peluh di kening lelaki itu yang mulai menetes.

Gadis cantik itu menghela nafasnya dan mengusap lembut surai coklat gelap sahabatnya, "Badanmu dingin. Kau pasti lapar."

Lelaki itu hanya bisa menggeleng lemah, "Aku mual, maka dari itu aku memilih untuk tidak makan apapun." Jawab Sehun sekenanya.

Luhan pun menghela nafas kasar dan membawa Sehun ke pelukannya. Tentu saja dengan senang hati Sehun menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Luhan. Lelaki berkulit pucat itu diam-diam tersenyum senang tatkala Luhan mengusap surainya dengan lembut sambil memeluknya sayang. Dengan manja, Sehun pun semakin mengeratkan pelukannya dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping sahabat cantiknya itu. Oh, okay. Jadi sebenarnya siapa yang lebih manja disini?

"Kau harus makan, kau tidak boleh sakit, dan kau harus mengisi tenagamu Sehun." Tutur Luhan lembut namun menuntut.

Sehun mengerucutkan bibirnya, tanda ia tidak setuju dengan Luhan. Namun, selang beberapa detik kemudian wajah namja itu berubah menjadi sumringah, "Baiklah, aku mau makan. Tapi ada syaratnya."

Luhan memutar bola matanya malas namun tangannya masih bertengger di surai coklat gelap Sehun. "Kau ini. Baiklah, apa syaratnya?" Gerutu Luhan seolah tidak rela.

Lelaki bermarga Oh itu sontak tersenyum penuh kemenangan, ia mendekatkan wajahnya pada Luhan dan menunjuk bibir tipisnya dengan jari telunjuknya, "Kisseu..."

PLETAK

"Ya! Ya! Kalian sedang apa? Mau berbuat macam-macam di kelas eoh?"

Belum sempat Luhan mengomel, Jongin sudah menginterupsi kegiatan Luhan yang sedang menyerang Sehun dengan jitakan mautnya.

"Ugh, singkirkan dugaan anehmu itu Jongin." Protes Sehun sambil mengusap-usap kepala berharganya yang kemungkinan mengalami geger otak karena jitakan Luhan yang meskipun tubuhnya mungil, tapi kekuatannya menyerupai Hulk. Uhm—yang satu ini Sehun memang melebih-lebihkan.

"Benar, jangan berpikiran macam-macam kau!" Ancam Luhan yang terdengar imut baik di telinga Sehun maupun Jongin.

"Tsk, tidak macam-macam bagaimana kalau bibir kalian tadi saja hampir menempel!"

"Ya! Dan harusnya memang sudah menempel jika kau tidak datang, makhluk hitam!"

"Benar kata— EH? MWOYA SEHUN MAKSUDMU APAAA?"

Luhan sudah sangat malu kali ini, sementara sahabat ajaibnya malah berhigh-five ria dengan temannya yang Sehun panggil 'Makhluk Hitam' itu. Dan karena suara tertawa keduanya membuat Luhan jengkel, akhirnya Luhan memutuskan untuk pergi keluar kelas guna menenangkan diri dan menghindari malu.

Sehun masih tertawa lemah dan merutuki teman 'Hitam'-nya, "Oh, ahaha astaga Kim Jongin, jika Luhan marah karena hal tadi aku akan menyalahkanmu!"

Lelaki berkulit tan tersebut hanya berdecih dan menoyor kepala teman 'Albino'-nya yang terlihat pucat itu, "Apakah itu sebuah ancaman?" tantangnya.

Tanpa menghiraukan perkataan Jongin, Sehun segera bangkit untuk mecari Luhan.

"Cih, dasar pasangan aneh. Sama-sama memiliki perasaan tapi sama-sama pengecut juga. Tsk, untung aku jantan." Gerutu Jongin sambil berlalu dan berniat mengunjungi kelas kekasihnya, Do Kyungsoo.

Insting Sehun mengatakan bahwa gadisnya itu menuju Kantin, dan benar saja, dengan mudah Sehun dapat menemukan gadis cantiknya di antrian kedai makanan siang.

Luhan menolehkan kepalanya ke belakang saat merasakan kedua tangan yang terasa familiar memeluknya dari belakang dan sedikit meremas pinggangnya. Tak perlu menoleh dua kali, karena siapa lagi manusia di bumi ini yang berani beraninya memeluk Luhan selain Sehun?

"Lulu-ya~ tega sekali kau meninggalkanku?" Bisik Sehun manja sambil menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Luhan.

Luhan mendengus, "Siapa suruh kau begitu menyebalkan?"

Pelaku pemelukan paksa tersebut hanya tertawa lemah, "Baiklah, aku memang menyebalkan. Jadi... maafkan aku ya?" pinta Sehun dengan gaya seduktifnya.

"Sudahlah, kau diam saja dan cari tempat duduk. Jangan ikut mengantri! Sudah tau kau sedang lemah begini. Cepat pergi!"

Sehun mengulum senyumnya, ia tahu Luhan memang tidak marah padanya. Ia bahkan tahu gadis itu pasti sangat khawatir meskipun nadanya terdengar ketus. Luhan bahkan tanpa sadar menyuruh Sehun mencari tempat agar ia tidak kelelahan kan? Sungguh calon istri idaman.

"Baiklah Luhan sayang, aku tunggu disana ya?"

CUP

Satu kecupan manis mendarat di pelipis Luhan.

Belum sempat Luhan melontarkan protes, Sehun sudah terlebih dahulu meluncur ke tempat duduk untuk berdua yang kosong di pojok kantin. Dasar modus, ia pasti sengaja memilih tempat itu karena tidak mau diganggu orang lain nantinya.

Selang beberapa menit, Luhan datang dengan tumpukan makanan di nampan yang ia bawa.

Dengan tangan mungilnya, ia mampu membawa satu set lengkap Bibimbap, Mul Kimchi, Ayam Goreng Madu, Kue Beras, serta lengkap dengan Choco Bubble Tea kesukaan Sehun.

"Astaga Lu, banyak sekali? Ini semua untuk—" Tatap Sehun tidak percaya pada makanan-makanan yang Luhan sajikan di depannya.

"Ya, habiskan. Aku menghabiskan banyak uang untuk itu." Potong Luhan, masih dengan nada ketusnya.

Sehun mendadak ciut jika Luhan sudah memasang tampang juteknya, "Arra, akan aku habiskan. Terima kasih sahabatku yang paling cantik di dunia!" Ia segera melahap semuanya, tak mau membuat Luhan khawatir jika ia kekurangan tenaga seperti tadi, itu sangat— tidak jantan.

"Ah ya, Sehunnie, nanti pulang sekolah kau duluan saja. Aku pulang dengan Xiumin." Ucap Luhan santai sambil memperhatikan Sehun yang mulutnya masih penuh dengan makanan. Kemana perginya sifat dingin dan sok kerennya bocah ini?

UHUK!

"Y-ya! Sehunnie gwaenchana?" Dengan sigap Luhan segera mengambil beberapa helai tissue dan membersihkan sudut bibir Sehun. Karena panik, ia juga langsung berpindah tempat duduk ke samping Sehun dan menepuk punggungnya perlahan.

"Kau tak apa?" Tanya Luhan khawatir, masih setia menepuk punggung Sehun dengan perlahan.

"Katakan lagi, kau pulang dengan siapa?" Suara Sehun mendadak dingin, jelas Luhan tidak menyukai ini.

"X-xiumin?"

"Ada urusan apa kau dengannya?" Lanjut Sehun, masih dalam nada menusuk.

"Uhm, dia memintaku menemaninya mencari toko buku, kau tahu kan ia belum hafal betul tentang Korea? Dan satu-satunya murid yang menguasai bahasa mandarin di kelas hanya aku jadi—"

"Oh. Perhatian sekali." Potong lelaki itu cepat tanpa menatap Luhan.

Luhan menghela nafasnya dan merengkuh wajah Sehun dengan kedua tangan mungilnya, "Aku hanya membantunya Sehun, kau tidak perlu—"

"Sepertinya aku tidak nafsu makan lagi, terima kasih atas makanannya. Aku duluan."

Sehun pun segera beranjak dari kursinya, meninggalkan Luhan yang masih menatapnya dengan tatapan kosong. Oh, rasanya Luhan seperti de javu. Jika waktu itu Luhan yang meninggalkan Sehun karena ia salah paham terhadap Hayoung, maka sekarang giliran Sehun yang salah paham? Bagus sekali Xi Luhan. Kau berhasil membuat hubungan kalian memburuk dalam sekejap mata.

Hampa?

Ya, sekiranya itulah satu kata yang mewakili perasaan Luhan kali ini. Ia begitu hampa tanpa Sehun disampingnya, padahal mereka masih baik-baik saja beberapa menit lalu. Luhan menyesal, seharusnya ia tahu Sehun tidak menyukai Luhan bersama orang lain. Luhan tahu itu, dan seharusnya Luhan menolak ajakan Xiumin.

'Kenapa aku begitu bodoh?'

.

.

.

Oh, aku hampir lupa menceritakan lelaki pendek dan berwajah bulat yang baru saja masuk ke kelas mereka 1 minggu lalu ini.

Akhir-akhir ini Sehun sering memperhatikan seorang laki-laki berperawakan gembul dan tidak terlalu tinggi sering mengobrol dengan Luhan. Laki-laki itu memang Sehun akui terlihat manis, tetapi wajah imutnya jujur saja membuat Sehun sedikit muak. Apalagi ia sering meminta bantuan Luhan dalam hal pelajaran atau bahkan soal makanan, kebudayaan Korea, kebiasaan pelajar Korea, dan hal-hal tidak penting lainnya yang namja itu tanyakan pada Luhan.

Tidak, sebenarnya Sehun tidak marah pada Luhan. Ia cukup percaya diri untuk tidak cemburu pada laki-laki pendek dan gembul seperti Xiumin. Sehun juga tahu, jika Luhan memang dekat dengan laki-laki itu, pasti karena laki-laki itulah yang genit. Bukan Luhannya.

"Yak! Kau! Namja kerdil!" Panggilan Sehun di koridor yang cukup sepi terdengar menggema sampai ke telinga target yang dipanggil.

Lelaki yang sering Sehun perhatikan akhir-akhir ini itu pun menolehkan wajah imutnya ke sumber suara, "Kau memanggilku?"

"Tsk. Ya tentu saja kau! Siapa lagi laki-laki pendek di sekitar sini selain kau?" Dengan santainya, Sehun berjalan layaknya penguasa sekolah ke arah laki-laki yang sedang menunjukan wajah tidak senangnya.

"Kau ada perlu denganku atau hanya ingin menghinaku, Sehun-ssi?" Lontar lelaki berpipi gembil itu tanpa ragu-ragu.

Oh? Ternyata ia galak juga. Ck, sangat tidak pantas dengan wajahnya. "Diamlah namja kerdil, aku harus memperingatkanmu sesuatu!"

"Ck. Tentang?" Lelaki itu masih memasang tampang menyebalkannya membuat Sehun semakin gemas untuk mencium wajah laki-laki itu dengan kepalan tangannya.

"Luhan. Xi. Lu. Han." Papar Sehun penuh penekanan pada nama 'sahabat' paling cantik sedunia miliknya.

"Luhan? Oh, ada apa dengan Lulu Deer?"

Sehun semakin gerah, lancang sekali pria pendek ini? "MWO? YAK KAU PANGGIL LUHANKU BARUSAN DENGAN APA?"

"Lulu... Deer?" Jawab Xiumin dengan nada menantang.

"BERANINYA KAU! YAK!" Sehun segera mengeluarkan jurus tendangan bokongnya yang lumayan menyakitkan tanpa ampun.

"Ya! Ya! Sehun kau ingin membuat masalah dengan murid baru?" Sahut suara yang tiba-tiba muncul di belakang Sehun.

"Bukan aku yang membuat masalah Jongin! Namja kerdil ini yang memulai!" Seru Sehun tidak mau kalah.

Namja yang dipanggil kerdil itu pun semakin tidak terima, "Ya! Aku bahkan tidak tahu apa salahku dan kau tiba-tiba menendang bokongku tanpa ampun!" belanya.

"Lagipula siapa suruh wajahmu begitu menyebalkan, ugh dasar laki-laki kerdil genit!" Astaga, Tuhan tolong maafkan Sehun yang berargumen tanpa alasan itu.

"Dasar musang albino aneh, kenapa kau ambil pusing dengan tinggiku! Dan wajah juga wajahku, kenapa kau yang pusing? Jika kau tak suka melihatku kan bisa menutup matamu!" Balasnya tak kalah sengit.

"Musang? Kau bilang aku musang? Bahkan wajamu seperti hamster yang—"

"OH SEHUN! KIM XIUMIN! HENTIKAN!"

Suara berat Jongin yang membahana di koridor berhasil menginterupsi perang mulut antara Sehun dengan lelaki bernama Xiumin itu.

Jongin segera menegahi keduanya. Konyol memang, mengingat mereka hanya adu mulut dan bukan terlibat perkelahian yang serius. Itu pun Jongin yakin, masalahnya tidak jauh-jauh dari primadonna sekolahnya, Xi Luhan. "Kalian ini kenapa? Dan kau Sehun, apa masalahmu sampai mencari ribut seperti ini?"

"ISH! DIA MENYEBALKAN HYUNG! DIA MENCOBA MENDEKATI LUHAN! LUHANKU!" Sehun merajuk sambil berteriak membuat Jongin kewalahan karena sikap teman anehnya satu ini. Apakah Sehun lupa akan citra 'Pangeran Es'-nya di sekolah ini?

Karena teriakan Sehun yang begitu memekikkan telinga sampai ke penjuru koridor, Luhan pun segera keluar dari kelas dan melihat Sehun yang kelihatannya dalam mood yang sangat buruk.

Gadis cantik itu segera mengapit tangan Sehun dan mengusap pipi tirusnya, "Sehunnie kau kenapa?" tanyanya khawatir.

"Lu-luhan?" Cicit Xiumin tidak rela karena gadis incarannya sangat perhatian kepada namja musang itu.

"Hm? Kau kenapa Sehun?"

GREP

"Lu, kau milikku kan?" Tanya Sehun dengan penuh penekanan, meskipun tidak cukup keras untuk didengar seluruh manusia yang tengah menonton adegan drama secara live itu secara gratis, tetapi perkataannya cukup untuk sampai ke telinga Xiumin.

Luhan mengangguk dalam rengkuhan posesif Sehun, "Ya, aku milikmu."

"Bagus, kalau begitu kita harus tunjukkan ke namja hamster ini!" Bisik Sehun yang masih terdengar sampai ke telinga Xiumin.

Namja hamster? Oh— Luhan baru menyadari ada Xiumin di depannya, "Maksudmu Xiu—"

Sebelum Luhan menyelesaikannya, Sehun sudah membungkam bibir cherry Luhan dengan bibir tipisnya. Ia mendorong Luhan sampai gadis itu terhimpit antara dirinya dan loker. Meskipun diawali hanya dengan sedikit melumat, Sehun mulai memperdalam ciumannya karena Luhan pun sudah terpancing dan membalas ciuman panas Sehun. Tangan mungil Luhan sudah merambat ke leher jenjang Sehun, sementara tangan Sehun berada di pinggang gadis itu dan satu tangannya lagi sudah berhasil menyusup ke dalam seragamnya.

Sehun mungkin lupa, tak mempedulikan fakta bahwa saat ini ia berada di tengah-tengah koridor dan adegan panasnya ditonton oleh puluhan murid yang melintas.

"Taehyung, i-itu Luhan noona dan Sehun hyung sedang apa ya?"

"Aku juga tidak tahu Kookie."

Jongin yang melihat adiknya Kim Taehyung dan sahabat adiknya Jeon Jungkook pun segera menghampiri mereka dan menutup mata keduanya dari belakang.

"UWAAAA SIAPA YANG MEMATIKAN LAMPU!" Teriak kedua bocah itu bersamaan.

Jongin hanya menghela nafas dan menarik kedua bocah itu menjauh agar tidak melihat adegan tidak senonoh secara live. "Kalian bocah-bocah kecil belum boleh melihatnya."

"Tapi hyung itu sepertinya seru! Kenapa kami tidak boleh lihat?"

PLETAK

"Kalian masih terlalu polos, sudah sana ambil PSP hyung di tas dan kau boleh bermain bersama Jungkook!"

"JINJJA? UWAAH GOMAWO HYUNG!"

Dan setelah itu Taehyung dan Jungkook segera menuju kelas Jongin dan berlari sambil berpegangan tangan layaknya murid taman kanak-kanak.

"Ck. Mempunyai adik yang bermental anak SD itu merepotkan."

Jongin yang mengerti situasi pun segera mengusir murid-murid yang masih setia menonton adegan panas Sehun dan Luhan. Ia pun tak lupa menghampiri Xiumin yang masih membelakkan mata bulatnya melihat pujaan hatinya bercumbu panas dengan laki-laki menyebalkan bernama Oh Sehun itu.

"Usaha bagus bung, tetapi tidak. Luhan itu milik sahabatku, lebih baik kau segera cari pengganti." Jongin pun memberikannya semangat dengan tepukan di punggung Xiumin.

Saat Jongin sudah beranjak, ia berbalik lagi, "Oh ya, kudengar ada murid pindahan dari Qingdao di kelas sebelah. Chen Kim. Semoga berhasil bung."

PUK PUK

.

.

.

"H-hunnie, sudah..."

Setelah mereka rasa koridor sudah sepi, Luhan pun berinisiatif untuk melepaskan tautan panasnya dengan Sehun. Keduanya terengah, berlomba-lomba mencari oksigen untuk menetralkan nafas masing-masing.

Kancing Luhan sudah hampir terbuka seluruhnya, beruntung ia menggunakan blazer sekolahnya sehingga tak perlu khawatir tubuhnya terekspos terang-terangan. Sehun pun tak jauh berbeda, dasinya sudah jatuh ke lantai dan rambutnya jauh dari kata rapi.

Luhan tertawa pelan mengingat kejadian beberapa menit lalu dan meneggelamkan wajah mungilnya di dada sahabat tampannya.

"Oh astaga, sekarang bagaimana aku menjelaskannya pada Xiumin?" Ujar Luhan dengan nada jengkel yang dibuat-buat.

"Ya! Kau benar-benar menyukainya?" Mata sipit Sehun mendadak sebesar Xiumin saat ini.

Luhan tergelak puas, "Tidak, tentu saja. Hanya bercanda Se-hu-nie!"

CTAK!

"HYAAA! Sehunnie sakit!" Gerutu Luhan sambil mengusap-usap dahinya karena telah berhasil dianiaya Sehun.

"Cup. Cup. Cup. Oh, kau pantas mendapatkannya karena hampir membuatku cemburu Nona Rusa."

Perlakuan Sehun mau tak mau membuat Luhan—lagi-lagi—hanya bisa merona malu. Ugh, ayolah bahkan tiga buah kecupan singkat sudah berefek begitu dahsyat pada Luhan?

"Rapikan penampilanmu, kita lanjutkan dirumahmu." Bisik Sehun seduktif sebelum mendapat pukulan ringan dari Nona Rusanya.

.

.

.

Seperti hari-hari sebelumnya, sepulang sekolah Sehun dan Luhan pasti menghabiskan waktu bersama di kamar Luhan. Sehun yang sedang asik sendiri bermain game mulai bosan karena hanya bermain sendirian. Ia pun segera mem-pause game yang sudah ia tamatkan beberapa kali tersebut dan beralih mencari ponselnya.

TRING

Ponsel pintar Sehun berbunyi, tanda ia mendapatkan sebuah pesan masuk.

From: Oh Hayoung

Oppa, paman menanyakan kabarmu.

Bagaimana? Kau sudah menjelaskannya pada Luhan eonni?

Kau sudah mengatakan yang sebenarnya?

Cepat balas.

xxx

To: Oh Hayoung

Belum.

xxx

From: Oh Hayoung

Kau gila? Mau kau tunda sampai kapan? Sampai eonni mendapatkan jodoh lain?

Sampai paman menyusulmu ke Korea?

Kau ingin paman yang bertemu langsung dengan Luhan eonni?

xxx

Sehun melempar ponselnya asal dan tidak berniat untuk membalas pesan terakhir dari sepupu cerewetnya. Ia mendesah perlahan, bermaksud agar Luhan tidak mengkhawatirkannya.

Oh, haruskah Sehun mengatakan semuanya pada Luhan sekarang?

"Lu," panggil Sehun pelan.

"Hm? Ada apa Sehunnie?" Luhan yang sedang sibuk tenggelam di dunia gadget-nya pun segera menolehkan kepalanya dan mengalihkan perhatiannya pada Sehun.

"Boleh aku bertanya?" Sehun beringsut mendekat.

"Tentang?" Luhan meraih sebuah bantal sofa di dekatnya dan meletakannya di paha mungil miliknya.

"Kau." Ucap Sehun seraya merebahkan kepalanya di pangkuan Luhan.

"Aku?"

"Ya, kau. Siapa lagi memangnya?"

Luhan terkekeh pelan seraya mengusap surai lelaki tampan yang berbaring nyaman di pahanya, "Ahaha aniya, memangnya kenapa?"

"Hmm... hanya penasaran, kenapa kau belum pernah berpacaran selama ini?" Tanya Sehun to the point.

"Ah, itu— entahlah, mungkin aku belum menemukan yang tepat."

"Tapi Lu, banyak sekali laki-laki tampan yang uhm— maksudku meskipun mereka tidak lebih tampan dariku tentu saja, tapi mereka lumayan tampan seperti Myungsoo, Song Mino, Hongbin, Hanbin, bahkan adik kelas kita Lee Taeyong itu juga mengajakmu berkencan kan?" Tutur Sehun bersemangat.

"Hmm lalu?"

Sehun mengacak rambutnya frustasi, mengapa susah sekali menjelaskannya? "Aish, maksudku apa kau tidak sedikitpun mempertimbangkan mereka? Untuk sekedar kencan mungkin?"

Sepasang mata rusa yang cantik itu hanya mengerjap bingung, "Uhm, kenapa kau penasaran sekali sih?"

"Habisnya kau aneh! Kenapa tidak mau berkencan dengan lelaki manapun."

"Jadi kau bukan laki-laki ya?" Lontar Luhan santai.

"Yak! Aku tidak dihitung, kita sudah terlalu sering bersama-sama kemanapun, kapanpun dan selalu berdua Luhannieku sayangku sahabatku cintaku— Oh Tuhan!"

"Lalu? Itu tidak masalah bagiku." Jawab Luhan tenang sambil menumpukan wajahnya di dada bidang Sehun, membuat wajah keduanya hanya terpaut beberapa centi.

"Luuu~ ayolah jawab saja, aku penasaran!" Desak Sehun, membuat Luhan mengangkat kepalanya lagi.

"Heol, itu karena hatiku sudah dimiliki orang lain! Puas? Aku tak menginginkan mereka, aku tak peduli kau bilang mereka tampan, pintar, kaya atau apapun. Aku sungguh tak peduli, karena di hatiku sudah ada satu nama dan hanya akan ada satu nama. Puas kau Oh Sehun?"

Luhan mengatakannya begitu lancar, membuat hati kecil Sehun menciut. Bagaimana jika itu bukan dirinya? Bagaimana jika ia memang hanya sahabat dan tidak lebih dari sahabat di mata Luhan?

"A-ah, jadi begitu..."

Luhan masih menetralkan nafasnya dan berbalik bertanya, "Lalu kau sendiri? Kenapa kau belum pernah berpacaran juga?"

"Alasanku sama sepertimu."

"Ah Geurae? Kalau begitu kita sama. Siapa gadis malang itu?" Tanya Luhan dengan suara tercekat yang sepertinya tidak Sehun sadari.

"Ya! Jadi maksudmu orang yang aku sukai bernasib malang? Dasar rusa menyebalkan!" Lelaki itu bangkit dari posisi berbaringnya dan dengan mudahnya memindahkan Luhan ke pangkuannya. Seperti biasa, setelah ini Sehun akan menghukum Luhan dengan cara tersendiri.

"Oh! Ahahahah Sehunnie hentikan, baiklah baiklah jadi siapa gadis beruntung itu hmm?" Beruntung Sehun sudah mengampuni gadis mungil itu dan secara natural Luhan langsung melingkarkan kakinya di pinggang pemuda tampan di depannya.

Sehun tersenyum manis dan mimik muka menyebalkannya seketika hilang, digantikan dengan Oh Sehun yang sangat tampan dan rupawan.

Sehun mendekatkan wajahnya ke arah Luhan yang masih menatapnya lurus, dengan halus ia mendaratkan dua kecupan mendalam di kedua mata favoritnya. "Sayangnya, dia... tak pernah melihatku Lu."

Gadis cantik itu mengerjapkan iris rusanya bingung. "M-maksudmu?"

"Kau tahu, perasaan saat kau sangat mencintai seseorang dan bahkan tak pernah terpikir suatu saat bagaimana kau harus melanjutkan hidup tanpanya?"

Luhan mengangguk. Karena sejujurnya ia juga merasakan hal yang sama.

"Ia berada dekat denganku Lu, dekat sekali." Lirih pemuda tampan yang saat ini sedang menempelkan keningnya ke kening sahabat kecilnya. Teman hidupnya.

Sehun memejamkan matanya, berharap lewat keintiman yang mereka lakukan, Luhan akan merasakan beban di dadanya yang kerap membuncah setiap kali gadis itu berada di sampingnya.

Sang gadis lambat laun merasakan keputus asaan yang tersirat dari lelakinya. Ya, bolehkah Luhan anggap begitu? Oh Sehun, lelakinya.

"Tapi... kurasa ia tak pernah menganggapku sebagai seorang pria. Maksudku, benar-benar seorang pria, bukan sebagai teman. Kau mengerti maksudku?" Luhan mengangguk ragu.

Perlahan Sehun membuka kedua mata tajamnya dan menusuk kedalam binar mata rusa milik gadis di hadapannya, "Lu, kau tahu kan kapan saja aku berbohong?"

Lagi-lagi Luhan menangguk ragu, tidak dapat bersuara.

"Maka tatap aku Lu, dan kau dapat menilai apakah aku berbohong atau tidak."

Oh Sehun, bahkan tanpa kau suruh, tatapan gadis itu sudah terkunci sepenuhnya padamu sejak tadi.

"Luhan, aku... mencintaimu. Aku sangat amat mencintaimu, selalu dirimu dan hanya dirimu, Lu."

DEG.

Sehun... apa?

.

.

.

"Maukah kau, Xi Luhan, mengganti namamu menjadi Oh Luhan dan...

menikah denganku? Secepatnya?"

.

.

.

To Be Continued


A/N.

Terima kasih banyak untuk reviewers di chapter II!

hxnhxn, rikha-chan, ruixi1, WinDeerDoBacon-dkl, Oh Juna93, NonaLu, AhnSera, niasw3ty, Hyeriii, Bee48, BeibiEXOl, ohrere, ruriminhaha, snowy07, HUNsayHAN, MinGyuTae00, vidyafa11, hunhanoids, SehanOh, KyuvilHundsome, hanalu93, Young Ji Wang, Hunhan Selu, Vhiena Sehun, eviloshhd, 0312luLuEXOticS, younlaycious88, monggujanggu96, SEmyLU, arvita. kim, ChagiLu, OhByunSoo, ShinJiWoo920202, lululala, mellamolla, niesha sha, Guest 1, levy. c. fiverz, hunhan hanhun, Sniaanggrn, Han Lu, Guest 2, farfaridah16, tchandra07. tc, meilindaa. purbaniingrum, hun12han20selu, ohsehawnn, NopwillineKaiSoo, kkmjongiee, Kapan Lanjut, princess is backk, DeerHun, Silver Orange, lisnana1, Kim Myeonii, ohmydeer, ramyoon, rahmyukkim, luluchan, noVi, Oh selu, XD.

Special thanks untuk para readers yang menyempatkan diri mereview marathon dari chapter 1-3! Tapi tetep, para readers yang selalu rutin review tiap ff ini update aku lebih berterimakasih lagi! /terharu/.

OH YA! Di chapter kemarin banyak yang minta HUNHAN NC kyahahaha sabar ya, jadian aja belom masa udah mau nganu? Tenang aja, ada waktunya hahaha tunggu saja.

Sedikit spoiler, chap depan akan terungkap ngapain aja sih si Sehun ini di Jepang dan apa yang ia sembunyikan dari Luhan? Jeng jeng jeng. Jadi jangan protes dulu ya kalo chap ini isinya cuma fluffy fluffy doang hehe masih dalam rangka sukacita HunHan Month kan?

Ga kerasa ff ini terbengkalai dari jaman HunHan Bubble Tea Couple Event. Pasti udah kadaluarsa banget ya ff ini? Tapi makasih banget ternyata sampe saat ini masih bertambah fav dan follow meskipun tanpa review sih heuheu. Jadi, berhubung aku udah selesai UN, waktu luang jadi banyak deh yuhuuuu~ tak perlu khawatir, ff ini bakal lanjut tanpa hiatus lagi, syaratnya cuma satu: review saja cukup hehe.

Satu lagi, special special special thanks to Oh Juna93, tiehanhun9094 dan kkmjongiee yang nagihin ff ini lanjut ahaha maaf ya lama (banget).

So... mind to review again?