ANGEL IN DISGUISE

|PurpleliciousVioletta|

Warns: OC! OOC! dan masalah lainnya

.

Malam di tengah musim semi seperti sekarang ini memang menyegarkan. Angin malam bertiup tak terlalu kencang. Dingin tak terlalu mencengkeram diri. Bentuk bulan sudah mulai berubah cembung, tapi keindahannya tak berkurang jua.

Suasana hati Tsukioka sudah mulai stabil belakangan ini. Setelah kejadian penyerangan terhadap anggota klannya di mansion utama, gadis itu mencoba keluar dari keterpurukan dan bersikap lebih dewasa. Ia sadar, kesedihan yang berlarut-larut malah membuatnya semakin tak berdaya.

Siang tadi, diam-diam tanpa sepengetahuan Hibari ia meminta kepada Kusakabe untuk membelikannya beberapa botol sake. Namun, betapa baiknya Kusakabe, pria itu malah membelikannya beberapa kotak langsung dengan alasan untuk persediaan. Ia meminta Kusakabe membelikannya karena dalam rumah itu tak ada satupun sake maupun minuman alkohol lainnya.

Tsukioka malam ini benar-benar berniat untuk minum. Ia berencana menenggelamkan dirinya dalam minuman memabukkan itu untuk melepas semua rasa gusar yang tersisa. Kebetulan malam ini insomnianya kembali kembali membuatnya terjaga. Maka, sekitar tengah malam lewat dan yakin jika Hibari dan Kusakabe tengah lelap dalam bunga tidur mereka, Tsukioka berjalan mengendap-endap keluar dari kamarnya. Langkahnya hati-hati menuju roka yang menghadap taman di pusat rumah.

Tsukioka sangat menyukai memandang bulan –sesuai dengan namanya. Dan minum di bawah sinar bulan –ah, surga dunia baginya. Cuaca sedang berbahagia untuknya.

Satu teguk.

Tsukioka meringis nikmat. Entah berapa lama ia tidak minum sake. Ia selalu minum sake bersama kakeknya dan anggota klannya yang lain jika ada suatu perayaan. Ia memandang getir cangkir sake yang ia genggam. Bau khas menguar dari dalam cangkir itu.

"Kau kira aku tidak tahu, jika kau meminta Tetsu membelikanmu sake, Herbivore?"

Mendadak tubuh Tsukioka kaku karena terkejut. Ia berbalik dan melihat Hibari tengah men-death glare dirinya. Tangannya dilipat di depan dada, menandakan bahwa ia sedang kesal.

"A-aku– Ugh! Tolong jangan ganggu aku malam ini!" Tsukioka kembali berpaling. Jantungnya masih berdegup kencang karena ulahnya ketahuan Hibari.

"Mengganggumu? Bukankah kau yang selalu menggangguku?"

Hibari merusak malam indahnya. Tsukioka menggerutu kesal. Ia berdiri menghadap Hibari.

"Oh, maaf kalau begitu. Lalu, kenapa kau tidak bicara dengan Reborn-san untuk melepas tanggung jawabmu untuk melindungiku? Aku juga tak ingin tinggal bersama pria ketus yang terus menutup diri dari orang lain!" mulutnya tak dapat ia tahan, "hei, bahkan tempat ini payah, tidak ada sake, wine, atau yang lainnya. Aku tidak yakin orang sepertimu tidak pernah minum!"

"Aku tidak minum alkohol," Hibari memperjelas, "wanita sepertimu hebat juga. Kuat meminum minuman seperti itu."

Ucapan Hibari terdengar sedang menyindirnya. Tsukioka semakin tersulut amarah. "Oh, maaf saja. Dari kecil aku sudah dibesarkan oleh sekumpulan yakuza berwajah sangar, yang hobi berjudi, dan mabuk-mabukan. Tapi mereka tidak pernah mengajariku hal-hal kotor. Aku sendiri yang menginginkan ini."

Wajah Tsukioka merah padam saking kesalnya. Sementara Hibari masih memasang wajah tak peduli. Mereka diam dan saling menatap –sampai Hibari beranjak duduk tak jauh dari Tsukioka.

Tsukioka yang heran berusaha mengacuhkannya dan kembali duduk. Dituangnya lagi sake ke dalam cangkir kecil dan meminumnya. Beberapa kali ia mendesah nikmat, seakan debatnya dengan Hibari tadi sudah ia lupakan.

"Maaf. Aku tak bermaksud mengganggumu atau bicara kasar padamu," Tsukioka tiba-tiba bicara, "hei, kau bisa ceritakan tentang dirimu kan? Sesuatu yang kau suka, misalnya." Tsukioka mencoba mencairkan suasana tegang diantara mereka. Namun, tak ada tanggapan dari Hibari.

Tsukioka tetap tak menyerah. "Sake," Hibari menoleh, "kalau aku mau, kita bisa minum bersama. Yeah, aku masih tidak percaya kau tidak minum. Tapi –hei, aku belum pernah dengar ada seorang mafia 'bersih' yang tidak pernah minum."

"Aku bukan tidak pernah minum. Aku hanya tidak suka minum," jelas Hibari.

Tsukioka mulai sumringah. Sepertinya Hibari juga sudah mendinginkan kepalanya.

"Jaa, kau mau minum seteguk saja? Hanya malam ini," tawar Tsukioka yang sudah menyiapkan cangkir lain untuk hibari. "Jika kau tidak ingin Kusakabe-san mengetahuinya, aku janji akan tutup mulut soal ini."

Hibari –seperti biasa, menatap tajam cangkir yang sudah dituangkan sake yang di sodorkan Tsukioka. Apa-apaan Herbivore Bodoh satu ini, pikirnya. Tapi ia tak menolaknya. Ia meraih cangkir sake itu dan masih menatapnya.

Tsukioka tersenyum. Hibari tidaklah terlalu menyebalkan. Hanya saja, ucapannya yang terlalu ketus dan minim ekspresi.

"Kanpai?" ucap Tsukioka tersenyum kearah Hibari.

"Terserahmu, Herbivore."

Mereka sama-sama meneguk cangkir sakenya masing-masing. Tsukioka kembali mendesah nikmat. Sementara Hibari hanya diam.

"Wah, sake ini memang luar biasa! Satu cangkir lagi?" tanya Tsukioka sumringah.

Tapi Hibari tak bergeming. Tiba-tiba tangannya yang masih memegang cangkir sake terkulai lemah ke lantai. Cangkir sakenya pun menggelinding di lantai.

Tsukioka yang melihatnya pun meletakkan cangkirnya dan menghampiri Hibari. Digundang-guncangkannya tubuh pria itu yang masih tak bergeming.

"Hei, Hibari-san, kau kenapa?" Ia mulai panik, takut kalau Hibari keracunan karena meminum sake barusan.

Hibari tiba-tiba menoleh dan menatap lekat gadis dihadapannya. Wajah pucatnya terlihat memerah. Matanya agak sayu.

Tsukioka merasa canggung karena Hibari terus menatapnya lekat. Apalagi ketika satu tangan Hibari menyentuh wajahnya, mengusap pelan sebelah pipinya.

"Tsuki– oka," ucapnya lirih.

Baru kali itu Hibari menyebut namanya. Padahal sebelumnya ia selalu di panggil 'Herbivore' oleh pria muda itu. Tsukioka merasa dadanya sesak –tapi bukan karena asma. Wajahnya dirasa hangat dan ia yakin semburat merah muncul di wajah mungilnya."Hi-Hibari-san."

Hal yang mengejutkannya lagi adalah ketika Hibari tiba-tiba memeluknya. Tubuhnya di dekap pria itu erat-erat. Ia bahkan dapat mendengar napas Hibari yang berat dan suhu tubuhnya yang hangat.

"Hi-Hibari-san, lepaskan– aku!" Tsukioka mencoba melepaskan diri. Tapi apa daya, kekuatannya kalah dari Hibari. Akhirnya ia pun menyerah dan membiarkan Hibari mendekapnya.

Tubuh Hibari tiba-tiba jatuh tertidur di lantai –masih tetap mendekap tubuh mungil Tsukioka. Matanya terpejam. Wajahnya masih penuh dengan semburat merah, dan ia –tertidur.

Tsukioka yang menyadarinya, hanya berdecak, "tck, baru satu teguk saja kau sudah mabuk berat! Dasar pria ketus payah!"

.

Tubuh Hibari terasa hangat dan pegal. Apalagi sebelah tangannya terasa kebas dan berat –seperti tertindih sesuatu. Ia membuka sedikit matanya. Cahaya mentari langsung menelusup masuk dan menyilaukan matanya.

Setelah beberapa saat beradaptasi dengan cahaya pagi, Hibari segera melihat apa yang menyebabkan sebelah tangannya terasa kebas. Hibari langsung benar-benar tersadar saat melihat Tsukioka yang masih terlelap di sampingnya dengan kepada gadis itu bersandar di sebelah tangannya.

Wajah Tsukioka terlihat damai dan manis saat ia terlelap. Tapi Hibari tidak peduli itu. Di dorongnya tubuh gadis itu sehingga tubuhnya sendiri tak tertimpa lagi oleh gadis itu.

Namun, karena Hibari mendorongnya agak kuat, kepala Tsukioka membentur lantai dan terbangun. Ia meringis kesakitan.

Hibari tak peduli itu dan segera pergi meninggalkan Tsukioka yang terbangun karena ulahnya.

"Ittai!" gumam Tsukioka tertahan

.

"Aku tahu, tapi ini benar-benar mendesak. Apa lagi–" Tsuna menoleh ke arah Tsukioka yang tengah duduk manis memperhatikan mereka. "Apa lagi Hibari-san harus tetap menjaga Tsukioka-san."

"Jadi, apa keputusanmu, Tsuna?" Tanya Reborn.

"Aku akan menyerahkan misi ini kepada Chrome."

"Biar aku saja!" Hibari tiba-tiba memotong. "Aku akan pergi. Dia–" menatap Tsukioka, "akan diurus Tetsu dan satu orang bodoh."

Tsukioka yang merasa tengah dibicarakan oleh para Vongola itu terlihat gugup. "Tidak usah mengkhawatirkan aku."

"Maaf, Tsukioka-san, Hibari-san harus melakukan satu pekerjaan di luar beberapa hari. Tapi, jika kau merasa kurang aman, kau bisa tinggal disini untuk sementara saat Hibari-san pergi," ucap Tsuna member penjelasan.

"Tidak apa-apa, Sawada-san. Lagipula aku tak hobi keluyuran. Aku akan tetap berada di base Hibari-san. Aku mengerti keadaannya."

"Jaa, Hibari, apa dia benar-benar mau melakukannya?" tanya Reborn pada Hibari.

"Jika dia menolak, aku akan menggigitnya sampai mati."

"He, aku tahu kau melakukannya!" Reborn menyeringai, "Tsukioka."

"Ya, Reborn-san?"

"Aku sudah mendapat kabar dari Kaguyama semalam."

"Ojii-chan?"

"Saat ini dia aman, dan akan segera kembali ke Jepang. Dia akhirnya mengatakan hubungan kalian dengan Gianero famiglia. Lost Christ System. Dia mengatakan jika kau memiliki rancangannya."

Tsukioka terdiam. Ia terlihat lesu ketika Rebor mengucapkan The Lost Christ System.

"Kaguyama memintamu untuk menjelaskan apa itu Lost Christ System kepadaku."

"I-itu.."

Dadanya kembali sesak. Tsukoioka menyadari jika rasa gusar yang selama ini tersisa mungkin karena LCS yang selama ini ia bawa kemana pun.

"LCS adalah sebuah box berisi tujuh api yang bisa menghancurkan sistem dunia," ucap Hibari.

Tak hanya Reborn dan Tsuna, Tsukioka sendiri terkejut ketika Hibari menjawab pertanyaan yang seharusnya ia jawab.

"Hm, seperti box weapon?" tanya Reborn.

"Mungkin. Belum ada yang menciptakannya."

"Bagaimana kau bisa tahu, Hibari-san? Apa Tsukioka-san yang memberitahunya?" Kini Tsukioka kembali menjadi pusat perhatian tiga laki-laki di ruangan itu.

"Uhm, ya," jawabnya, "sebenarnya, aku ingin memberitahu Reborn-san dan Sawada-san tentang hal ini juga. Tapi, aku takut. Jika ada yang tahu jika aku berada di dalam pengawasan Vongole, kemungkinan besar Vongole juga dalam bahaya."

"Tak usah khawatir, Tsukioka-san. Untung saja, pilihan Reborn tepat –memilih Hibari-san untuk menjagamu. Tapi tetap saja kita harus waspada. Sistem Vongola di Italia hampir berhasil musuh bobol. Di sini pun demikian. Aku akan meminta Giannini memperkuat keamanan base," ucap Tsuna.

"Hm, lalu bagaimana dengan Lost Christ System ini? Dimana rancangannya?"

"Desain prototype-nya ada disini –di punggungku."

"Seseorang menggambarnya di punggungmu?" tanya Reborn.

"Ayahku. LCS adalah rancangannya yang gagal karena tak rampung. Aku meminta seorang teman memotretnya untuk aku analisis. Dan, entah mengapa, Gianero family mengetahuinya. Mereka mulai mengincarku."

"Apa mungkin temanmu yang menyebarkannya?"

"Aku tidak tahu. Yang memotretnya adalah teman satu asramaku. Dia memang pendiam, dan agak pemalu. Jadi, aku yakin bukan dia yang menyebarkannya."

"Tapi itu tidak menutup kemungkinan, Tsukioka."

Reborn dan Tsuna diam. Keduanya tampak berpikir. Sementara Hibari hanya menyilangkan kedua tangannya dan mendengarkan.

"A-apa kalian ingin melihatnya? Meski ini masih prototype yang ayahku rancang, tapi 65% hampir sempurna." Sebenarnya Tsukioka agak ragu mengatakannya. Ia harus membuka pakaian atasnya untuk memperlihatkan punggungnya pada semua orang yang merupakan laki-laki di ruangan itu. Dan –itu benar-benar membuatnya sangat malu.

"Jujur, aku ingin melihatnya. Bagaimana denganmu, Tsuna?" ujar Reborn.

"Ya, sebenarnya aku juga penasaran. Tapi, desain itu ada di tubuh wanita, Reborn! Ada CCTV di seluruh base ini. Jika ada yang salah mengartikannya, kita akan di kira melakukan pelecehan seksual pada Tsukioka-san." Tsuna mulai dilema.

"A-aku tak mempermasalahkannya, jika ini dapat menyelamatkan semua orang," ucap Tsukioka yakin. Ia mulai membuka satu persatu kancing one piece bagian atasnya. Namun, saat ia hendak melorotkan pakaiannya, Hibari menarik tangan Tsukioka. Sontak saja, wanita muda itu menghentikan niatnya.

"A-apa–"

"Ayo, kembali, Herbivore!" Hibari menarik paksa sebelah tangan Tsukioka.

"Hibari, kau tidak ingin makan siang disini?" tawar Reborn sambil menyeringai setelah melihat reaksi Hibari barusan.

"Hm," Hibari tersenyum –ah, tidak. Ia menyeringan, "tidak. Tetsu sudah memesan hamburger steak siang ini," jawabnya, kemudian kembali menyeret Tsukioka pergi.

Sesaat setelah keluar dan pintu ruangan itu tertutup, Hibari melepas tangan Tsukioka dan berjalan tanpa menunggu wanita itu. "Rapikan pakaianmu!"

Lidah Tsukioka terasa kelu. Ia masih kaget karena tiba-tiba Hibari menariknya barusan. Namun, meski masih syok, ia menuruti perintah Hibari untuk merapikan pakaiannya yang setengah terbuka, lalu berlalu kecil mengekori Hibari.

Sementara di ruangan barusan, Tsuna tampak terkejut dan Reborn masih menyeringai meski pasangan baby sitter dan anak asuhannya tadi sudah pergi.

"A-apa yang Hibari-san lakukan tadi? ah, aku benar-benar terkejut!" ujar Tsuna yang mulai tenang.

"Bukankah jelas, dia melaksanakan tugasnya?" ujar Reborn.

"Tapi, tetap saja. Aku merasa Hibari-san sedikit berbeda."

"Sudahlah, Tsuna. Tentang LCS ini, jangan sampai siapapun tahu dulu. Biarkan ini menjadi rahasia kita," Reborn melompat dari kursinya dan mulai berjalan meninggalkan ruangan itu, "aku lapar. Ayo, makan siang!"

.

Baru kali ini Tsukioka makan siang bersama Hibari –tentu, Kusakabe juga ada disana. Sebelumnya ia tak pernah tahu bagaimana keseharian Hibari selain marah-marah dan mengatainya meski mereka kini satu atap. Ia pun sempat bertanya-tanya, apakah pria itu selalu sibuk dengan dokumen-dokumen misi yang ia ambol ketika makan siang.

Menu makan siang Hibari pun hanya sebuah hamburger steak yang cukup besar. Tsukioka sendiri cukup terkejut melihatnya. Berbeda dengannya dan Kusakabe dengan menu normal.

"Yare-yare."

Tsukioka menangkap suara asing yang tiba-tiba terdengar.

"Kau masih saja suka memakan junk food, Kyoya. Tidak baik jika terlalu banyak memakan makanan seperti itu."

"D-Dino-san!" Kusakabe tampak terkejut juga.

Hibari menoleh –menatap pria berambut pirang yang bersandar di pintu.

"Kon'nichiwa, Minna-san," ucap Dino tersenyum.

"Dino-san, kenapa kau tidak memberitahu dulu jika akan datang?" tanya Kusakabe.

"Kyoya, kau tidak memberitahu Tetsuya?" ucapnya pada Hibari yang kembali sibuk dengan hamburger steak dan berkas-berkasnya, "Kyoya yang memintaku datang. Jadi, salahkan saja bosmu itu." Kemudian beranjak menuju Hibari, Tsukioka, dan Kusakabe yang sedang menyantap makan siang mereka.

"Ah, apa kau ingin makan siang juga bersama kami? Aku akan memasak untukmu," tawar Kusakabe hendak beranjak.

"Tidak usah,Tetsuya. Aku sudah makan di perjalanan tadi."

"Romario?" ucap Hibari.

"Di Italia. Sesuai permintaanmu." Dino kemudian duduk diantara Hibari dan Tsukioka. Lalu menatap satu-satunya sosok asing yang balik menatapnya juga. "Hm, siapa nona cantik ini? Pacar baru Kyoya?"

"Jangan bodoh," sanggah Hibari.

"Oh, apa dia anak asuhanmu itu, Kyoya? Jadi, kau benar-benar menjadi baby sitter?"

Hibari tidak menjawab.

"A-ano, aku Tsukioka Ame. Salam kenal."

"Ho, Ame? Aku Dino. Salam kenal juga. Pasti berat bagimu tinggal bersama Kyoya."

Tsukioka terkekeh. Sekilas ia melirik Hibari karena khawatir jawabannya akan membuat pria itu kesal. "A-ah, tidak juga."

"Haha, Kyoya memang seperti itu. Hm, aku heran mengapa Reborn memintanya menjadi baby sitter, padahal dia sendiri masih sering didampingi Tetsuya."

Hibari mendelik, "bagaimana denganmu, Teme? Tidak ada Romario disini. Pasti sulit sekali, bukan?" Hibari menyeringai.

"Lihat, Ame, dia marah!"

Tsukioka tak mampu berbicara apapun melihat tingkah konyol Dino yang menggoda Hibari. Dan Hibari pun tampaknya agak menikmati.

"Kyoya, berapa lama kau akan pergi?"

"Apa? Kyo-san, kau mau kemana?" Kusakabe terkejut. Tak biasanya Hibari akan pergi tanpa memberitahunya.

"Italia. 3 hari, mungkin seminggu."

"Kyoya, kau tidak pergi dengan Tetsuya?"

"Tidak, aku ingin cepat. Mana mungkin aku meninggalkan herbivore ini sendirian denganmu. Tetsu, kau awasi saja dua orang ini. Jangan sampai dia berbuat macam-macam pada wanita ini," pesan Hibari.

"Tapi, Kyo-san–"

"Tetsuya," tegur Dino –membuat pria berambut unik itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia menjawab pesan Hibari

.

Sejak pagi di hari itu, bumi diguyur hujan tanpa henti. Jalanan penuh dengan bulatan paying warna-warni jika dilihat dari langit.

Seorang gadis duduk diam sambil menerawang keluar lewat etalase café di sampingnya. Tubuhnya kurus mungil. Kulitnya putih pucat dengan surai hitam panjang. Ia dudul sendiri disana –tak bosan melihat orang berlalu lalang diluar meski hari hujan.

"Hei, Pelayan, pelanggan tetapmu datang."

Suara lembut seorang pria tiba-tiba terdengar, membuat gadis itu refleks menoleh. Ditatapnya sosok pria yang menegurnya tadi. ia tersenum, kemudian menyebut nama pria itu.

"Bagaimana jika manajermu melihat kelakuan pegawainya hanya bermalas-malasan disini?" pria itu kembali berujar. Kemudian menarik sebuah kursi dan duduk dihadapan gadis itu.

"Bos bahkan juga malas datang kemari jika hari hujan. Si koki dan yang lainnya sedang berjudi di belakang," gadis itu bangkit dari kursinya, "pesan apa, Tuan?"

Pria muda tadi segera membuka booklet menu yang tersedia di meja itu. Dibacanya satu persatu menu disana sambil berpikir sejenak.

"Kurasa kopi dulu. Aku bingung memilih menu apa."

"Baiklah. Kopi satu." Si gadis pelayan mencatat pesanan pelanggannya, lalu pamit untuk membuat pesanan.

"Cielle."

Si gadis berhenti, berbalik menatap pria yang memanggilnya.

"Jangan lupa ditambahkan gula."

.

continua

entah kenapa aku bisa bikin fic ini. dengan bahasa yang amburadul. dan imajinasi konyol.

Oke, gausah banyak-banyak dulu, silakan review.. kritik dan sarannya juga yaa^^