haaai! akhirnya bisa update juga yg selama hampir setaun /emg udah setaun-.-/ kena what-the-fukkin-writer-block, thanks to kakak reselusi & delu4selu yang senantiasa memberikan inspirasi bejat :v kkk, juga buat kakak mr.S selaku editor yang-sekarang-super-sibuk-kuliah terimakasih sudah menyempatkan diri mengedit ff yang... err... biasa aja padahal ente gak suka hunhan :3 /bighug/
Well, happy readinggggg!
.
.
Dinginnya Korea membuat keenam member EXO-M itu ingin cepat-cepat datang ke dorm EXO-K dan meneguk coklat panas. Juga berbagi cerita yang dapat menghangatkan suhu di bawah nol derajat celcius yang mereka rasakan sekarang.
"Ada apa dengan Luhan-Hyung?" Xiumin hanya mengangkat bahu saat ditanyai oleh Chen.
Ya memang Luhan bertingkah aneh akhir-akhir ini, apalagi di pagi ini. Lihat saja wajahnya ditekuk seperti itu, lingkar hitam dibawah matanya juga terlihat ketara sekali. Wow, kau ingin menyaingi si panda Tao, huh?
Mungkin Luhan sakit. Tidak! Dia tidak sakit. Luhan baik-baik saja, hanya saja… ini tentang yaaa kau tahu kan, Sehun…
Istilah kerennya sih, galau mungkin—eh?
Luhan bingung akan perasaannya sendiri. Ia tidak tahu apa yang ia pikirkan tentang Sehun.
Luhan melangkah gontai melewati mereka berdua yang sedang cengo saling menatap. Luhan membenarkan posisi syalnya. Headsetnya masih setia bertengger manis di telinga Luhan.
Sudah 15 menit setelah kedatangan mereka di Korea. Hanya tinggal menunggu jemputan dari… "…baiklah kalau begitu, kami akan naik taksi saja. Nee, jaga kesehatanmu, Hyung." Kris menutup telfonnya.
"Manager-Hyung tidak bisa menjemput kita di bandara. So, kita harus cari taksi." Oh kasihan sekali mereka.
Mereka berjalan menyusuri tempat padat manusia bernama bandara dengan santai. Walau mereka seorang idol, mereka bisa membiaskan diri di tengah kerumunan orang tanpa dikenali—dengan pakaian mendukung tentu saja.
Atau mungkin karena mereka memulai debutnya di China. Well, bisa jadi.
Semua berjalan dengan Kris, Chen dengan Xiumin, Lay? Walau dia sendiri tapi koneksi teleponnya tidak pernah terputus. Contohnya pagi ini saja sudah hampir enam kali ia menjawab telepon dari Suho sang guardian. Mungkin Suho begitu khawatir dengan Lay-nya tersayang—atau mungkin ia sudah…
—tidak tahan? Eh? Entahlah lebih baik kita tidak perlu mencampuri urusan mereka.
Sudah tanpa pasangan, berjalan paling belakang pula. Sungguh pemandangan yang menyakitkan untuk Luhan yang berada di letak paling strategis.
Luhan berjalan gontai seperti tidak punya semangat hidup saja, padahal beberapa hari kemarin ia bergairah sekali saat melakukan—ehem sexphone-nya bersama Sehun. Kemana perginya gairah itu?—ups!
Mendengarkan lagu bahkan tidak sedikitpun bayangan Sehun hilang, lalu Luhan harus apa? Ia melepas headsetnya kemudian merogoh saku jaketnya, mengeluarkan smartphone hendak mematikan lagu yang sedang diputar tapi tiba-tiba…
GREP!
Seseorang membekap mulutnya dan menariknya kesamping. Walau berontak tapi tenaga orang itu lebih kuat daripada Luhan, ia takut.
Luhan ditarik kedalam ruangan bertulikan Men Restroom.
Ia melirik ke cermin pada wastafel yang memantulkan bayangan seorang…
Se-Sehun?
Luhan memberontak berusaha melepaskan tangan Sehun dari mulut Luhan.
"Sssstt… Tenanglah Lu…" Sehun berbisik tepat di telinga Luhan dan lebih terdengar seperti…
—sedang mendesah. Hun, kau cari mati, huh?
Luhan mulai tenang tidak memberontak tapi tidak dengan jantungnya. Debaran sialan itu mengganggu nafasnya, jika sudah begini otomatis wajah Luhan akan terlihat sedikit memerah.
Luhan yang masih kalut dengan perasaannya tidak menyadari syal yang dipakai sudah lepas dari lehernya yang jenjang. Perbuatan siapa lagi kalau bukan seseorang yang sedang memeluknya erat dari belakang.
Sehun menopangkan dagunya di pundak Luhan."Lu, aku merindukanmu."
"A-Aku juga Se-Sehunie…" Sehun semakin terlena dengan harum tubuh Luhan yang tengah ia hirup, membuatnya kecanduan dan selalu dirindukannya.
Kecupan singkat disana-sini hampir saja membuat desahan sexy Luhan lolos dari mulutnya jika ia tidak segera menggigit bibir bawahnya.
Ceruk hingga tengkuk tak luput dari bibir Sehun.
Kecupan demi kecupan Sehun kini berubah menjadi jilatan hingga hisapan dan membuat bekas merah keunguan yang kentara pada leher Luhan.
"Ah Huun… nghh…" Luhan luluh oleh perbuatan Sehun, titik sensitifnya tidak pernah luput dari hisapan seorang Oh Sehun.
Desahannya yang lolos terdengar hingga ke telinga adanya lampu hijau dari Luhan, Sehun semakin bersemangat mencumbui tengkuk Luhan.
Tangannya tidak tinggal diam. Mengelus pelan perut Luhan membuat Luhan merasakan sensasi aneh pada tubuhnya.
Luhan merasa tidak puas dengan ini, ia butuh pelampiasan. Luhan memutar tubuhnya menghadap Sehun dan segera menciumi bibir Sehun dengan kasar.
Tentu saja itu membuat Sehun terperangah. Ia pikir Luhan sudah terbuai dengan permainannya.
Saling menghisap satu sama lain seakan sedang menghisap permen dengan rasa terbaik di dunia.
"Ngh…" Luhan tidak bisa menahan desahannya.
Entah sejak kapan lidah mereka kini bertautan, saling mendorong mencari siapa pemenangnya, siapa yang paling dominan dan tentu saja ini membuat keduanya mendesah tertahan.
Lama berciuman hingga sampai pada batasnya, mereka perlu memasok oksigen. Walau enggan melepas, Sehun tidak ingin kekasihnya mati kehabisan nafas. Konyol sekali jika memang terjadi.
Nafas Luhan memburu, ia rakus menghirup udara agar masuk ke paru-parunya.
Baru sepersekian detik ciuman itu terlepas, Sehun kembali berkutat dengan leher jenjang Luhan.
"Se…hun… ah!" Titik sensitifnya berhasil dijamah oleh lidah Sehun yang begitu lihai seperti seorang pro.
Kecupan dengan jejak di sana-sini yang menadai leher Luhan seakan-akan Luhan hanya milik Oh Sehun.
Luhan hanya bisa pasrah, ia menginginkan lebih dari ini. Tangannya bergerak meremas rambut belakang Sehun sesuai dengan permainan Sehun di lehernya.
Luhan makin menengadahkan kepalanya memberikan akses lebih mudah untuk Sehun.
Tangan Sehun tidak tinggal diam, jika tadi hanya mengusap perut Luhan, kini turun ke tonjolan pada celana Luhan. Mengelusnya perlahan membuat pemiliknya menggelinjang.
Astaga! Sadar tidak mereka berbuat ini di tempat umum? Persetan dengan Sehun. Luhan! Ini tempat umum eoh!
Luhan terbelalak saat tonjolan di celananya diremas oleh Sehun. Dirinya khawatir. Bagaimana jika seseorang melihat adegan tidak senonoh ini? Hancurlah sudah reputasi EXO, reputasi dirinya dan Sehun.
Lengannya mendorong Sehun untuk menjauh menghentikan perbuatan nistanya di tempat umum tapi tenaganya seakan habis terkuras tak berdaya.
BRUK!
Luhan terbanting ke dinding di belakangnya. Bibir Sehun masih setia menjelajahi leher indah Luhan, sedangkan tangannya kini gencar membuka satu persatu kancing kemeja Luhan.
"Sehun hentikan!" Akal sehat Luhan sudah kembali. Dengan paksa Luhan mendorong Sehun. Sehun terhuyung ke belakang hampir jatuh terduduk di lantai andai saja ia tidak segera menyeimbangkan tubuhnya.
Sehun mengernyit heran. Bukannya tadi Luhan yang membuat semuanya semakin panas? Ada apa dengannya?
Sekarang Luhan benar-benar kacau, lihat saja cardigan merah pada bahu kanan—seharusnya—kini turun hingga lengannya, rambutnya berantakan, kemeja putihnya keluar menyusul cardigan merahnya, bahkan jaket tebal serta syalnya sudah terkapar mengenaskan dilantai.
Hot memang—bagi Sehun. Bibirnya yang pink kissable terlumuri oleh saliva mereka berdua sisa percumbuan tadi dan membuatnya mengkilap terkena cahaya.
Nafas Luhan satu dua, tak beda jauh dengan Sehun yang juga demikian.
Tapi sorot mata Luhan kini bukan lagi berisi nafsu yang menggebu, seperti—syarat akan kecewa dan rasa marah.
Ia membenahi letak cardigan merahnya dan berjalan cepat melewati Sehun yang masih tidak mengerti dengan rusanya.
Sehun sendirian dalam kamar mandi seperti orang dungu, dia menatap syal dan jaket di lantai marmer dan mulai memungutinya satu persatu.
Tangan kanannya menarik pintu dan berjalan keluar.
Matanya menangkap kertas yang tertempel di pintu kamar mandi tadi, rusak lengkap dengan capslocknya. Bahunya di sentuh saat sedang mengamati kertas yang jelas-jelas bohong, sebelum menarik Luhan masuk, ia bahkan sempat melakukan panggilan alam—dan itu membuktikan bahwa toiletnya tidak rusak. Aneh.
"Bagaimana? Kerjaku bagus kan?" Kai menunjuk pintu toilet dengan dagunya.
Ia menoleh, mendapati Kai dengan seringai di wajahnya tapi sedikit demi sedikit seringai itu pudar melihat Sehun bermuka masam sambil menjinjing jaket dan syal berwarna senada ditangannya.
Oh jadi Kai ikut andil dalam kegiatan Sehun tadi, pantas.
"Ada apa, Bro? Wajahmu jelek sekali." Sehun melepas nafas berat, bukan karena diejek berwajah jelek—hei! Mau bagaimanapun Sehun lebih tampan dari kkamjong, ini menyangkut Luhan dan perlakuannya ditolak membuat Sehun merasa orang paling hina.
"Kurasa Luhan-Hyung membenciku." Nanar, matanya menatap jaket dan syal Luhan di tangan kirinya dan Kai hanya angkat bahu.
.
.
.
Beberapa menit setelah memutuskan untuk memesan paket Happy-Hours pramusaji datang dan menyuguhkan satu cup kopi ukuran sedang dan piring kecil berisi donat rasa greentea.
Pramusaji itu tersenyum lalu menggumamkan selamat menikmati dan berlalu meninggalkan Luhan tanpa senyum sedikitpun.
Mungkin ia syok, atau mungkin malu—ung itu leher dengan bercak merah tanpa syal jelas membuat beberapa pasang mata berbisik dan tersenyum maklum.
Ia meruntuki dirinya yang pergi begitu saja melupakan syal biru lautnya juga Sehun yang tanpa dosa membuat tanda itu.
Astaga! Lupakan Sehun!
Luhan merasa kepalanya hampir pecah. Seharusnya ia memaklumi memiliki kekasih yang berhormon tinggi seperti Sehun. Masalahnya tempat umum! Kalau di ruangan privasi mungkin ia akan berpikir dua kali untuk menolak sentuhan Sehun—uhuk.
Persetan dengan Sehun, ia lebih memilih menikmati minuman berkafein tinggi yang membuatnya tenang untuk sementara ini.
.
.
.
Sehun pikir Luhan mungkin sudah mendahuluinya pulang ke dorm. Ia pun beranjak dari sana bersama Kai menuju tempat parkir.
"Apa yang terjadi?" Kai masih penasaran.
Sehun menghela nafas setelah memasang sabuk pengamannya lalu ia menatap sendu jaket dan syal Luhan.
"Berhentilah menatap benda itu dan jawab pertanyaanku. Astaga! Aku bisa gila!"
Ya Sehun seharusnya berhenti menatap dan berbuat sesuatu—seperti minta maaf. Tak ada salahnya kan?
"Luhan menolakku, Kai, bagaimana ini?" Kai hanya memutar bola matanya bosan dan menghidupkan mesin mobilnya. Tak lama mobil mereka melaju keluar kawasan airport.
"Saat aku ditolak Kyungsoo-Hyung kau malah sibuk mentertawaiku. Hah! Itu karma Sehun! Ahaha." Sehun memincingkan matanya menatap Kai yang kini tengah bersenandung.
"Ini bukan saatnya bercanda, kau tahu? Ck!"
"Baiklah baiklah. Kau seharusnya minta maaf pada Luhan-Hyung. Salahkan nafsu besarmu itu yang meledak-ledak tak terkontrol."
Ini mungkin salah Sehun—memang!
Sehun memakai syal biru laut di tangannya. Harum khas Luhan pun tercium dan ia semakin merasa bersalah.
Setelah sampai di depan EXO's Dormitory, Kai memarkirkan mobilnya.
Kehidupan artis pasti tak jauh dari fans, mereka berkerumun di depan EXO's Dormitory dan—astaga! Bagaimana mereka bisa lewat?
Berbagai macam teriakan dan dorongan dari berbagai arah mereka pun berhasil masuk.
"Astaga apa mereka gila?" Kai berhenti sejenak untuk membenahi pakaiannya sedangkan Sehun tidak peduli dengan pakaiannya atau teriakan fans 'Sehun saranghae' atau desakan fans atau keluhan Kai, ia—mungkin—panik.
"Mana Luhan-Hyung?" tanya Sehun pada Xiumin saat tiba di dorm. Xiumin berhenti meminum coklatnya lalu menatap sang maknae.
"Loh Kai bilang Luhan sedang bersamamu. Dia belum pulang—DAN KAU MENINGGALKANNYA?" Sehun mengusap wajahnya kasar. Kemana anak itu?
Xiumin hampir saja menjitak kepala Sehun tapi si maknae langsung masuk kekamarnya.
"Ada apa dengan HunHan?" tanyanya pada Kai yang baru saja datang dan mendapati Kai mengangkat bahunya.
Kai duduk di sofa yang sama seperti Xiumin.
Itu berarti Kai 'bersih' dari masalah HunHan—setidaknya itu menurut Xiumin. Ia tidak mau ikut campur masalah sahabat rusanya itu atau lebih tepatnya ia lebih memilih coklat panas yang menggoda. Nanti saja menanyakannya.
Baru saja Xiumin akan duduk dan ia harus berdiri—lagi—karena sebagai sahabat yang baik ia setidaknya bertanya pada Sehun.
Sehun keluar dari kamarnya.
"Kau ada masalah dengan Luhan?" bukannya menjawab Sehun berjalan melewatinya TANPA melirik sedikitpun.
Xiumin tidak dihiraukan membuat Kai meledakan tawanya.
.
.
.
Matanya dengan awas menelusuri toko-toko sekitar airport. Sehun berpikir Luhan tidak akan pergi terlalu jauh, ia kan masih termasuk orang awam, belum terlalu mengenal Korea. Lagipula—astaga! Ini sudah malam!
Berbagai pikiran aneh mulai muncul di kepala Sehun.
Bagaimana jika Luhan diculik? Atau bagaimana jika Luhan bunuh diri?
Rasanya ia lebih memilih membakar semua poster Miranda Kerr daripada harus berpisah dengan Luhan.
Hatinya berdebar takut, ia meruntuki dirinya sendiri. Hampir saja Sehun menangis jika ia tidak melihat sosok manis yang sedang duduk di halte bis. Luhan?
Awalnya ia tidak yakin, pasalnya Luhan pergi tanpa syal dan beanie dan Sehun sangat yakin itu, lantaran ia memakai syal yang dipakai luhan tadi. Tapi semua pertanyaannya terjawab setelah melihat cardigan merah yang dikenakannya.
Dengan tergesah Sehun memarkirkan mobilnya sembarangan, lalu menyebrang jalan mendekati sosok Luhan dan benar saja itu Luhan.
"Hyung, ayo pulang. Wajahmu pucat." Luhan melotot melihat Sehun tapi setelah Sehun memakaikan jaketnya pada Luhan, pandangannya melembut. Sehun juga melepas syal biru laut Luhan dan memakaikannya pada Luhan.
Syalnya bertumpuk dan membuat setengah wajah Luhan tertutupi.
Luhan benar-benar telihat seperti anak kecil bersama dengan orang tuanya. Tangan Sehun gatal untuk tidak menyubit pipi Luhan.
Luhan meringis. Ia sibuk mengelus pipinya yang dicubit Sehun, sakit sih tapi menyenangkan. Sehun mengulurkan tangan kanannya.
Luhan tersenyum kemudian menyambut tangan Sehun.
Sepanjang perjalanan hingga tiba di dorm, Sehun tak henti-hentinya mengumamkan kata maaf pada Luhan. Tapi apa balasan Luhan? Ia hanya tertawa kecil.
"Lu, apa yang lucu? Aku serius." Mata Sehun tak lepas dari rusanya yang kini tengah sibuk meminum coklat panas bersama Xiumin.
"Aniyo, aku masih marah padamu." Lalu Luhan membuang mukanya berlawanan arah.
Sehun membuang nafas sejenak lalu meninggalkan Luhan. Ia lebih baik tidur.
Lima belas menit di atas kasur, Sehun masih menerawang kejadian hari ini.
Menyesal sih tapi untuk apa hanya menyesali perbuatan jika tidak bertindak sesuatu—enngg… Entahlah, Sehun mengangkat bahunya acuh, memiringkan badannya dan mencoba memejamkan matanya.
Seseorang membuka pintu.
Berhubung di kamar ini hanya dihuni oleh Sehun dan D.O, mungkin saja D.O.
Matanya memang terpejam tapi ia tidak tidur. Ia masih mendengar dengan jelas langkah kaki seseorang yang baru saja membuka pintu.
Dahinya mengernyit. Loh? Bukankah D.O Hyung sedang ada talkshow bersama Suho Hyung dan Baekhyun Hyung?
"Aku tahu kau tidak tidur."
Kai. Sehun menghela nafas.
"Ada apa?" ujar Sehun tanpa membalikan tubuhnya.
"Aku ingin ke practice room, apa kau mau ikut?"
"Tidak."
Sehun tahu Kai duduk di tepi ranjang tempat Sehun berbaring. Walau dia tidur membelakangi Kai, ranjangnya sedikit bergoyang.
"Kau yakin?"
"…" Sehun tidak menjawab sedikitpun.
"Luhan Hyung sedang bersama Xiumin Hyung, kau pasti tahu."
Sehun hanya menghela nafas. Ini kali pertama bagi Kai melihat sohib seperjuangannya itu uring-uringan seperti ini.
"Ayolah! Aku ingin kesana!"
"Pergi saja sendiri."
"Tidak mau!"
"Fans pasti salah mengerti jika aku pergi dengan—tunggu…" Kai mengernyitkan dahinya.
Sehun melirik kai sejenak kemudian ia bangkit dan duduk menghadap Kai.
"Kau memberikanku ide bagus!"
Kai masih memahami ucapan Sehun, lihat saja dia berpikir dengan keras sekarang.
"Sudahlah ayo cepat!" ucapan Sehun menyadarkan Kai dari kecengoannya.
"Bagaimana bisa kau berganti pakaian secepat itu?"
Astaga! Kai masih tidak bisa mencerna apa yang terjadi.
Kai mengikuti Sehun keluar kamar dan mereka melewati Luhan Xiumin yang sedang asyik bercanda dengan segelas coklat di tangan mereka.
Berhubung pintu kamar Sehun, D.O dan Suho adalah pintu yang paling berisik—jika di buka pasti akan mengeluarkan suara menyebalkan—bagi Baekhyun.
Otomatis itu membuat Luhan serta Xiumin beralih pandang kearah Sehun dan Kai yang baru saja keluar dari sana.
Awalnya Kai pikir Sehun akan mengajak Luhan dan ternyata ia salah besar.
Sehun lewat begitu saja di hadapan Luhan dan Xiumin.
Dan tentu saja itu membuat Kai makin tidak mengerti keadaan. Siapa saja sadarkan Kai dari kelinglungannya.
.
.
.
Sudah empat puluh lima menit yang lalu semenjak acara talkshow D.O, Suho dan Baekhyun.
Kai berjanji akan menjemput kekasihnya itu sesudah latihan, namun 45 menit berlalu, Kyungsoo belum juga memberi kabar.
Entahlah. Mungkin ia sedang berbincang sedikit dengan beberapa crew disana.
"Apa-apaan dia responnya hanya 'Sehun belikan aku banana yoghurt saat pulang nanti' bahkan dia tidak memberikanku uangnya." Ia menirukan gaya bicara Luhan yang sama sekali tidak mirip, bahkan mengejek lebih tepatnya. Sehun mengusap wajahnya kasar.
"Sejak kapan kau menjadi uring-uringan seperti ini?" Ucapan Kai sontak membuat Sehun menghela nafas.
"Astaga Kyungie lama sekali." Sesekali mata seorang Kim Jongin mendelik kearah jam tangan yang ia kenakan.
Semua terjadi begitu saja, entahlah Sehun rasa ini semua membingungkan. Kalau dipikir menggunakan logika sih yaa memang aneh.
Luhan itu tipe orang yang sensitive, apalagi menyangkut perasaan. Contohnya saja saat di toilet bandara, saat Sehun hampir berhasil mem-uhuk-perkosanya lalu ia kabur tanpa mengenakan syalnya padahal cuaca bersalju seperti ini.
Lalu saat Sehun mencarinya dan menemukannya sedang duduk disebuah kursi halte bis di tengah salju dengan syal merah dan beanie yang baru pertama kali ia lihat.
Apa ia bertemu seseorang?
Siapa peduli! Dia kan punya uang untuk membeli itu semua! Cih!
"Geez, aku gila."
Kai hanya berdecih pelan dan memutar matanya malas, Sehun bukan tipe orang yang begitu mudahnya galau.
Jika sudah seperti ini, mau bagaimana lagi.
"Kuberitahu sesuatu." Kai mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam sakunya.
"Sebenarnya ini untuk kugunakan malam ini, tapi melihatmu seperti ini—ah sudahlah. Gunakan ini."
Sehun sepertinya tidak berminat, melihat itu, Kai menarik tangan sehun dan meletakan bungkusan tadi pada telapak tangannya.
"Campurkan beberapa pada minuman atau makanan Luhan Hyung."
Sehun menatap bungkusan ditangannya horor.
"Jangan bilang—"
Kai mengangguk.
"Tepat sekali."
"Ku-kurasa ini ide bagus." Cih! Ia pasti sudah membayangkan jika dia telah mencampurkan isi dalam bungkusan ditelapaknya pada makanan atau minuman yang hendak dikonsumsi luhan.
Cara klasik.
Tak akan ada yang bisa menolak reaksi dari—ehem—obat perangsang.
"Tapi..." Ia mendesah pelan. Kejadian tadi masih terbayang didepan mata.
Sudah pasti luhan membencinya, ia pasti akan lebih dibenci ketika luhan tahu sehun bermain licik—menaruh obat perangsang untuk dikonsumsi luhan secara tidak langsung.
Matanya sendu seperti sudah tak bernyawa.
Tamatlah riwayat oh sehun, maknae exo tersexy.
"Ah maaf menunggu lama, aku habis bertemu seseorang hehe." Kai mendelik dari smartphonenya.
"Tak apa, kami baru selesai latihan. Astaga! Musim salju begini kau tetap saja melupakan syalmu?!" Kyungsoo tertawa kecil.
"Aku baik-baik saja." Tanpa bicara lagi, Kai melepas syal yang dikenakannya dan memakaikannya pada Kyungsoo.
Mereka berbincang hangat dan penuh cinta melupakan Sehun yang masih berada disana.
Kata orang, serasa dunia milik berdua.
Sehun melotot. Perkataan yang diucapkan Kyungsoo pada Kai tadi seakan menyindirnya.
Bisa saja Luhan bertemu seseorang lalu mereka—lupakan!
"Sehun? Kau baik baik saja? Dari tadi kami panggil kau diam saja? Kai dia kenapa?" Baik kai maupun sehun tidak seorangpun menjawab pertanyaan kyungsoo. Setidaknya kai meresponnya dengan mengangkat bahu.
"Ah maaf, kalian duluan saja, aku akan pergi ke supermarket sebentar." Sehun melengos begitu saja meninggalkan Kai dan Kyungsoo yang saling bertatapan.
.
.
.
"Terima kasih, datang lagi ya!" pelayan supermarket itu begitu antusias melihat Sehun berbelanja disana. Siapa lagi? Maknae exo.
Sehun melambaikan tangannya saat melihat taxi, ia pun masuk.
01:57 AM
Luhan pasti sudah tidur.
"Terima kasih." Sehun mengucapkan itu setelah memberikan beberapa lembar uang kepada supir taxi.
Sepi.
Tidak ada fans disini. Lagipula sudah tengah malam.
Lelah. Tubuhnya butuh air hangat.
Sehun meletakan belanjaannya diatas meja makan.
Ia mengeluarkan yoghurt banana dan sereal dengan rasa yang sama pula.
Apa dia sudah tidur?
Sehun mengangkat bahu lalu mulai membuat sereal dan menuangkan yoghurt banana digelas.
Dorm terasa sepi. Hanya terdengar dentingan gelas dengan sendok dan derap langkah kakinya saat berjalan ke kamar.
Sehun menaruh nampan berisi yoghurt dan sereal kesukaan Luhan diatas meja nakas.
'Sudah kuduga dia tidur.'
Sehun duduk disamping ranjang. Sehun teringat akan bungkusan yang diberikan oleh kai, tapi tekadnya mengatakan bahwa ia tidak harus bermain curang.
Ia menatap luhan yang tengah tertidur menghadap kearahnya.
Ia tersenyum.
Tangannya menggapai rambut yang menghalangi wajah sang kekasih lalu mengelus pipinya dengan lembut.
GREP!
Luhan memegang tangan Sehun.
Ia membuka mata perlahan kemudian tersenyum.
"Seharusnya kau taruh tanganmu disini." Luhan membawa tangan Sehun menyentuh belakang kepalanya.
Sehun mengernyit heran.
"Disini tempat yang tepat untuk tanganmu." Luhan menggerakan tangan Sehun keatas dan kebawa.
"Menjambak kecil rambutku saat aku mengulum penismu itu." Luhan memaksa tangan Sehun untuk menggenggam rambutnya.
Sehun melebarkan matanya.
"Menjilatinya, menghisapnya. Uhh aku merindukan penismu." Luhan bangun dan duduk berhadapan dengan Sehun tanpa melepaskan tangannya.
Matanya sayu dan digigitnya bibir sexy itu membangunkan monster yang terlelap.
"Bagaimana—"
"—Sehun sayang?"
.
.
TBC
.
.
how? masih kurang panjang? pfft~ mau sepanjang anu sehun? no no no! anu sehun cuma milik luhan hoho, btw kenalan yuk! pin bb, insta, fb, twttr, line, no hp, no sepatu lewat pm ya
p/s: chap 3 done, 4 done, 5 sedang proses~~~
yay! tunggu update yaaaa!
anyway~
REVIEW!
