In Time [Chapter 8]
Author : Vitamin
Main Cast :
- Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
- Do Kyungsoo-ah
- Kim Jongin
Genre : Drama, Romance, and Hurt.
Leght : 15 keatas(?)
Summary : Suatu saat kita akan kembali bersama, walaupun kau ataupun aku tidak mengenal satu sama lain, namun aku yakin kau pasti akan mengenalku dan aku pun akan mengenalmu. Cinta kitalah yang mempertemukan kita kembali.
Previous
"Apakah itu juga sebuah rayuan?" tanya Baekhyun.
Chanyeol menggeleng pelan "Tidak, aku serius. Aku mencintaimu.."
Senyum Baekhyun merekah hingga membuat mata nya berbentuk bulan sabit yang sempurna dan lucu.
"Aku tahu"
Chanyeol merengut "Hanya itu? Tidak ada yang lain?"
Baekhyun tertawa melihat ekspresi wajah merajuk Chanyeol "Baiklah, maafkan aku. Aku juga mencintaimu, Jenderal Park" Chanyeol menarik kedua sudut bibir nya keatas dan Baekhyun pun membalas senyuman Chanyeol.
Chapter 8
"Beberapa tentara dari Kepolisian berjaga disetiap sudut Ibukota, Tuan"
"Apa?!"
"Jenderal Park lah yang mentitah kan perintah itu"
"Kurang ajar! Berani sekali dia"
"Lalu kita harus bagaimana, Tuan?"
"Kita fokus diperbatasan saja, perketat penjagaan!"
"Baik"
Kau sudah berani menantang ku rupa nya, tunggulah kehancuran mu Jenderal Park!
.
.
_In Time_
.
.
"Chanyeol, apakah harus secepat ini? Bahkan saat itu juga Ayah mu belum tentu memaafkan mu, beliau mungkin bisa marah lagi dan lebih parah nya kita akan berpi—"
"Tenanglah, Baekhyun-ah. Aku sudah yakin, ingat ucapan ku kemarin? Aku akan melindungi dan selalu disisi mu, apapun yang terjadi" potong Chanyeol, ia tahu bahwa lelaki mungil ini pasti sangat mencemaskan masalah ini.
Chanyeol juga mengakui jika ini memang terlalu cepat namun ia juga tak bisa terus-terusan seperti ini, menjalani hubungan dengan cara petak umpet untuk menghindari Ayah nya.
Chanyeol pun sama cemas nya dengan Baekhyun, tetapi lelaki tinggi ini berusaha menyembunyikan nya dan melempar senyuman menenangkan seolah memberikan keyakinan kepada pemuda mungil itu dan tentu dirinya juga bahwa semua akan baik-baik saja –semoga—.
Baekhyun menggigit bibir bawah nya dengan cemas. Siang ini mereka berdua telah didepan rumah Chanyeol bermaksud meminta perizinan atau lebih tepat nya restu kepada kedua orangtua Chanyeol tentang hubungan mereka.
Baekhyun awalnya menolak mentah-mentah permintaan Chanyeol saat mengajak nya kerumah sang kekasih, namun setelah di yakinkan Baekhyun mau walau terpaksa dan hati yang was-was.
"Baekhyun, lebih cepat lebih baik kedua orangtua ku mengetahui hubungan kita. Sepandainya kita menutupi bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Jadi, daripada Ayah ku mengetahui hal ini dari orang suruhan nya, semua nya akan semakin sulit" jelas Chanyeol sambil meremas pundak Baekhyun.
Baekhyun makin cemas dan takut.
"Ayah ku hanya melihat dari sudut pandang yang dilihat orang lain, tetapi jika kita menjelaskan nya dengan sudut pandang kita, semua nya akan lebih jelas dan orangtua ku pun akan mengerti" lanjut Chanyeol terus berusaha menyakinkan Baekhyun yang menatapnya dengan iris mata yang bergetar.
"Walau hubungan kita salah, tapi perasaan kita tidak akan pernah salah. Ini anugerah yang sangat luar biasa. Jadi, kau tak usah khawatir, ada aku disini karena aku mencintaimu …"
Baekhyun memang takut tetapi sekaligus tenang juga mendengar penuturan Chanyeol.
Ya, itulah yang dikatakan Chanyeol tempo lalu seminggu setelah saling jujur dengan perasaan mereka. Baekhyun sebenarnya mau-mau saja mengunjungi orangtua Chanyeol, malah ia senang saat Chanyeol mengajak nya, karna membuktikan bahwa Jenderal ini serius kepada nya hanya saja ia masih takut, apakah mereka akan terpisah lagi?
"Ingat Baek, aku akan selalu disamping mu, aku akan selalu menjadi tameng mu, kita hadapi ini bersama-sama, mengerti?" Baekhyun mengangguk ragu "Bagus, aku mencintaimu" ucap Chanyeol final, sebenarnya ia juga ingin mengecup kening si mungil hanya saja mereka sekarang sedang di area publik.
Dan itu adalah ucapan sebagai pembukaan Chanyeol dan Baekhyun sebelum mereka memasuki Hanok –Rumah Tradisional Korea-, setelah melewati Soseldêmun –Gerbang utama Hanok- mereka berdua disuguhkan langsung oleh Haengnangchae -bangunan untuk tempat tinggal para pelayan yang tepat berada di dekat pintu masuk- dan Sarangbang ruang untuk kamu pria, untuk belajar atau menerima tamu.
Dulu tempat itu Chanyeol lah yang sering memakai nya untuk belajar saat ia masih menjadi mahasiswa atau bermain Janggi dengan sang Ayah, mengingat itu ia sangat merindukan kedua orangtua nya, terutama Ayah nya.
Chanyeol dan Changmin memang lah sangat dekat, mereka bagaikan bukan seperti Ayah dan anak lagi melainkan seperti seorang sahabat. Chanyeol pun tak canggung untuk merangkul dan berbicara informal kepada Changmin mengingat Changmin adalah Ayah nya sendiri yang harus ia hormati.
Walau Changmin sibuk dengan kegiatan nya sebagai seorang pedagang terkenal dan ia pun sekarang ikut andil dalam masalah Kerajaan, namun ia bukanlah menjadi seorang politikus melainkan relawan untuk rakyat yang menderita.
Serta Chanyeol yang sibuk di Biro nya, mereka masih menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga, dan memberi obat rindu kepada sosok wanita satu-satu nya dikeluarga kecil mereka.
Sesaat Chanyeol dan Baekhyun masuk seluruh pelayan yang memang sedang mondar-mandir di halaman rumah menatap terkejut kedatangan Tuan Muda mereka. Paman Lee yang memang kepala pelayan di rumah Chanyeol langsung menghampiri membungkuk sebentar kepada Tuan nya yang hampir sebulan ini tidak pulang.
"Tuan Muda, akhirnya anda pulang juga. Kami mencemaskan anda selama anda pergi" sahut Paman Lee bernapas lega, Chanyeol menanggapi nya dengan senyuman khas nya.
"Dimana Ayah dan Ibu?"
"Ah, Tuan dan Nyonya ada di Sarangchae"
*Bangunan untuk pria atau kepala keluarga, termasuk untuk makan dan tidur, dan berada di bagian depan, sama seperti Sarangbang.
"Baiklah, beritau Ayah bahwa aku disini"
.
.
_In Time_
.
.
"Apakah Chanyeol akan pulang?" tanya Yuri sambil menuangkan teh ke dalam gelas kecil, Changmin yang duduk didepan nya merengut tidak suka.
"Apa maksudmu?" tanya Changmin dengan nada tak bersahabat. Yuri hanya menghela napas lemas, ia begitu merindukan anak lelaki nya. Biasa nya saat-saat seperti ini mereka bertiga akan berkumpul disini sambil mengobrol, bertukar pikiran, atau bermain Janggi.
"Aku ibu nya yang mengandung dan yang melahirkan nya, jadi perasaan ku lebih peka daripada dirimu, suami ku~" sahut Yuri gemas sembari ada nada menyindir Changmin. Sedangkan Kepala Keluarga itu hanya mendengus sebal.
Yuri termenung, kening nya merengut seperti berpikir keras "Chanyeol akan pulang, hari ini!" Yuri menyahut keras.
Changmin hanya menatap bingung istri nya "Apa sekarang kau ingin berubah menjadi cenayang?" sindir nya, Yuri hanya mendelik "Awas saja jika perasaan ku benar! Jika Chanyeol hari ini juga pulang, kuharap kau menyetujui pembicaraan kita kemarin"
"Apa-apaan!"
"Pokok nya aku tidak mau tahu"
"Kau ingin bertaruh, heh?"
Yuri tersenyum lebar "Boleh! Seperti biasa" setelah nya Yuri hanya tersenyum menyeramkan membuat Changmin merinding. Sebenarnya ia sedikit takut juga dengan taruhan ini.
Heol~ ia takut karna biasa nya firasat Yuri yang notabe istri nya selalu saja benar. Seperti saat itu, Yuri berkata bahwa ia mempunyai firasat bahwa anak nya adalah seorang lelaki yang sangat gagah dan bijaksana sehingga ia bisa memimpin pasukan. Changmin yang mendengar nya merengut tak suka.
Kalian tahu bukan bahwa keluarga nya selalu menghindari segala sesuatu berbau Kerajaan. Namun, setelah itu ucapan Yuri terbukti benar, anak lelaki mereka menjadi Pemimpin Pasukan Elit di Joseon, dan hal yang harus kalian tahu, mereka pada saat itu sedang bertaruh. Dan akhirnya membuat Changmin harus menyetujui apapun keputusan Yuri.
Namun, Changmin juga bukan terpaksa menerima anak lelaki nya menjadi Pemimpin Pasukan Elit, karna berkat usaha Chanyeol setidak nya rakyat sekarang lebih aman dan lebih diperhatikan.
Sungguh mengesankan, bukan?
.
.
_In Time_
.
.
Paman Lee mengetuk sebentar lalu masuk kedalam ruangan, tak lupa juga membungkuk sebentar sebagai formalitas antara majikan dan pelayan "Tuan Besar, Tuan Muda ada disini dan ia ingin bertemu dengan anda" lapor Paman Lee membuat senyuman Changmin kian melebar.
Sedangkan Yuri terkejut mata nya membulat sempurna serta sebuauh senyuman lebar menghiasi wajah cantik nya, sedangkan Changmin hanya mendesah frustasi, seharusnyaia tidak usah mengikuti permainan istri nya.
Bagaimana bisa tebakan istri nya benar? Apakah istri nya ini cenayang?
"Park Changmin, kau tidak ingin menyuruh nya masuk?" suara menyeramkan Yuri terdengar, Changmin hanya meneguk kasar ludah nya.
"Suruh dia masuk" titah Changmin dengan nada lemas, kemudian Paman Lee membungkuk kembali dan berjalan keluar.
"Aku menang!"
"Ya, sudah terlihat jelas diwajah mu"
Yuri hanya mendelik kearah Changmin dan tersenyum setan "Ingat perjanjian kita! Semua nya berada ditanganku" desis Yuri seram, namun Changmin membalas nya dengan tatapan datar.
Suara pintu terbuka menampak kan sosok tinggi Chanyeol yang menurun dari Ayah nya sendiri yang memang perawakan tinggi. Ekspresi Chanyeol begitu tenang atau mungkin datar.
Yuri tersenyum melihat anak lelaki nya pulang, dan keadaan nya cukup baik dibanding kan saat kemarin ia datang ke Biro Militer "Chanyeol, anak lelaki ku. Akhirnya kau pulang, sayang" kata Yuri bahagia, Chanyeol mengalihkan tatapan nya menatap sang Ibu.
Senyuman khas Chanyeol merekah melihat sosok Ibu yang ia rindukan "Ibu …" Yuri membalas nya dengan senyuman keibuan nya yang amat Chanyeol sukai, dan seakan memberikan nya kekuatan.
Ternyata Chanyeol datang tak hanya sendiri, dibelakang nya terlihat sosok mungil yang menunduk dalam dan bersembunyi dibalik tubuh tinggi Chanyeol, Changmin yang melihat nya pun hanya memasang ekspresi datar.
Chanyeol melangkahkan kaki nya memasuki ruangan Sarangchae diikuti oleh si mungil yang melangkahkan kaki nya takut. Dua manusia berbeda tinggi tubuh itu membungkuk hormat kepada sepasang suami-istri.
Yuri terus mengembangkan senyuman nya "Duduklah …" titah Yuri lembut.
Changmin yang melihat nya hanya meneguk sekaligus teh dalam gelas nya seakan ia sudah marah sekarang, berbeda sekali dengan Yuri yang terus tersenyum seakan menyambut baik kedatangan mereka "Bagaimana kabarmu, Nak?"
Chanyeol tersenyum tipis mendengar pertanyaan sang Ibu "Aku baik-baik saja, Ibu. Bagaimana dirimu?"
"Ibu juga baik, sayang. Bahkan sekarang lebih baik setelah melihat mu pulang ke rumah" Chanyeol yang mendengar jawaban Ibu nya hanya menunduk dan Baekhyun pun yang mendengar nya hanya meremas Daphohitam Chanyeol, baik Chanyeol maupun Baekhyun merasa bersalah "Maafkan aku …" sesal Chanyeol.
Yuri hanya membalas nya dengan senyum lembut "Tidak, sayang. Tidak apa-apa, Ibu mengerti" Chanyeol semakin merasa bersalah kepada Ibu nya. Ia tahu wanita yang melahirkan nya pasti sangat mengkhawatirkan diri nya.
Keheningan terjadi dalam ruangan itu, baik Chanyeol maupun Baekhyun tak ada yang bersuara, Yuri yang merasa kecanggungan itu semakin kental berdehem berusaha mencairkan suasana "Baiklah, kau kesini pasti ada hal yang ingin kau beritau, bukan? Melihat kau membawa pemuda itu"
Chanyeol dan Baekhyun menegang mendengar ucapan Yuri seakan menohok mereka. Sepertinya, sepasang suami-istri ini tahu maksud kedatangan mereka.
Chanyeol menghembuskan napas
Inilah saat nya
Kemudian, Chanyeol menatap kedua orangtua nya "Ayah, Ibu ..." Baekhyun semakin meremas Daphohitam Chanyeol. Jantung kedua nya berdetak kencang, aliran darah mereka berpacu cepat dengan ketegangan yang terjadi.
"Tentang keputusan kemarin kurasa aku belum memutuskan nya, jadi aku akan memberi keputusan nya sekarang ….
Aku memilih Baekhyun, Ayah"
Baik Yuri maupun Changmin tidak bersuara, mereka terdiam mendengar keputusan anak lelaki mereka.
"Maafkan aku, tetapi sungguh, Ayah jangan pisahkan kami. Aku sangat mencintai nya, kumohon restui kami" ucap Chanyeol lirih, berusaha menahan ketakutan dan mengumpulkan keberanian. Sedang kan Baekhyun hanya terus menunduk dan mata nya mulai memanas.
"Kau yakin dengan keputusan mu?" tanya Yuri memandang lembut anak lelaki kebanggan nya, Chanyeol menundukkan kepala nya "Maafkan aku, Ibu. Tapi, aku sudah yakin dengan keputusan ku" ucap Chanyeol dengan tegas.
Yuri tersenyum mendengar nya "Nak, jika memang hal itu bisa membuat mu bahagia—"
"Yuri!" potong Changmin dingin, Yuri terdiam lalu mata nya menatap tajam Changmin "Kupikir, kita sudah membicarakan hal ini?" sindir wanita itu.
"Jangan gegabah!"
"Aku tetap tidak akan merestui me—"
"Park Changmin! Bukan kah kita sudah membicarakan nya?!"
Baik Chanyeol maupun Baekhyun hanya terdiam mendengar pertengkaran kecil antara orangtua Chanyeol, sebenarnya mereka hanya bingung maksud dari ucapan Yuri.
"Tidak, ini semua salah. Sangat salah"
Yuri geram dengan sifat keras kepala suami nya "Changm—"
"Aku kepala keluarga disini" desis Changmin marah.
Ucapan itu sukses membuat Yuri terdiam.
"Jawaban ku tetap sama. Semua perasaan mu itu salah, Park Chanyeol" Chanyeol memejamkan mata mendengar jawaban Ayah nya. Lalu, membuka kelopak mata nya perlahan, tidak, ia tidak boleh menyerah! Bukan kah ia sudah berjanji kepada Baekhyun.
"Turuti perintah Ayah mu ini, Jenderal Park! Kau dari dulu memang keras kepala"
Chanyeol terdiam tidak membalas sindiran Ayah nya, rahang nya mengeras menahan emosi. Baekhyun hanya terduduk lemas, semua nya terasa semakin sulit saja. Saat mendengar jawaban Ayah Chanyeol seakan mencekik nya. Sangat sesak.
"Kau memang benar, Ayah tetapi apa Ayah tidak ingat sifat ini aku dapat dari siapa?"
Changmin tercekat dengan pertanyaan Chanyeol, apa anak nya ini bermaksud menyindir nya?
Yuri tercenung, tak lama senyuman tipis terpantri dibibir nya.
Bertahan lah, Nak. Terus yakin kan, Ayah mu – jerit Yuri dalam hati.
"Ayah juga pernah berada di posisi ku"
"Kau— berani sekali!"
"Tidak, Ayah. Aku bukan bermaksud mengungkit masa lalu, tetapi Ayah juga pasti tahu rasa nya mempertahankan perasaan kita sendiri dari penolakan orang lain"
"Aku tidak bermaksud menyindir mu, Ayah. Hanya, mengertilah, aku ada diposisi mu seperti saat Ayah mempertahankan Ibu"
Changmin menatap garang anak nya, namun kata-kata Chanyeol memang ada benar nya dan membuat perasaan mengganjal dalam hati nya muncul. Changmin mengingat lagi saat ia berusaha meyakinkan kedua orangtua nya dulu.
Changmin yang saat itu jatuh cinta kepada Yuri, dan akhirnya mereka saling mengetahui perasaan mereka hingga hubungan itu pun terjalin. Setelah lama hubungan itu terjalin Changmin mengambil langkah tegas. Ia ingin meminang sang pujaan hati.
Namun, saat mereka memberitau kan hal ini kepada keluarga Yuri, semua nya menolak. Changmin tentu saja tak ingin melepaskan calon pendamping hidup nya. Alasan nya klise, baik keluarga Changmin atau Yuri mempertimbangkan masalah status mereka.
Changmin yang memang dari keluarga berada sedangkan Yuri dari kalangan biasa, menjadi penghalang mereka. Kedua keluarga itu berusaha memisahkan kedua nya, namun memang Changmin yang keras kepala, susah diatur, dan sangat susah diberitau, kedua keluarga itu menyerah. Akhirnya mereka menerima kedua nya.
Lelaki beranak satu ini merasa seperti déjà vu. Dan pemikiran itu cukup membuat Changmin merenung. Sifat Chanyeol memang menurun dari nya, keras kepala dan sangat tidak suka diatur maka dari itu mereka berdua adalah seorang pemimpin. Jika memang ia sudah mengambil keputusan, apapun rintangan nya ia tetap teguh kepada keputusan nya.
Itulah Changmin dan Chanyeol.
Changmin hanya menghela napas berat. Dia tidak bisa menyalahkan anak nya juga untuk masalah ini.
"Ayah, kumohon …" pinta Chanyeol lirih membuyarkan lamunan Changmin.
Changmin menatap Chanyeol dan Baekhyun bergantian, risih juga saat melihat mereka, Chanyeol yang menatap harap dan Baekhyun yang menangis terisak.
Changmin menutup mata nya mendengar permohonan anak nya, sedikit miris dalam hati nya karna Chanyeol tak pernah sampai begini memohon kepada nya.
"Tidak, ingat Park Chanyeol kau adalah seorang lelaki dan dia pun sama. Kau anak dari seorang Park Changmin"
Chanyeol menunduk, ia mulai mengerti tujuan penolakan Ayah nya "Jadi, hanya itu? Jika aku dan Baekhyun bisa bersama, aku akan pergi dari Keluarga ini"
"Chanyeol-ah …" panggil Baekhyun pelan dan lirih. Ya Tuhan, kejadian ini terulang lagi. Haruskah Chanyeol pergi meninggalkan keluarga nya demi menjaga nama keluarga nya?
Ya, bertahan. Hanya kata itu membuat Baekhyun dan Chanyeol yakin.
Baekhyun menggigit jari telunjuk nya menahan tangisan yang kapanpun bisa meledak, Chanyeol melirik nya dan langsung menggenggam jemari Baekhyun. Sedangkan sang empu terkejut dengan tindakan Chanyeol, Baekhyun menatap Chanyeol dengan mata yang basah.
"Jangan menangis, percayalah padaku …" bisik Chanyeol dengan senyuman lembut. Baekhyun hanya menggigit bibir bawah nya.
"Tidak, Nak. Kau tidak usah pergi dari Keluarga ini, jika memang hal itu membuat mu bahagia, ambilah kebahagiaan itu, sayang"
Chanyeol tergelak dengan penuturan Ibu nya yang mendukung nya, apa mendukung nya? Apakah ini mimpi? Senyum Chanyeol langsung merekah seketika dan Baekhyun hanya terbengong.
"Ayah mu, bukan memikirkan tentang keluarga, tapi dirimu" jelas Yuri "Aku?" Chanyeol menunjuk diri nya sendiri, Yuri hanya mengangguk "Kau tahu bukan jika hubungan ini sangat tabu bagi masyarakat, Ayah mu hanya mengkhawatirkan mu" Yuri melirik sekilas kearah Changmin yang sibuk dengan teh nya.
"Kau adalah anak seorang Park Changmin, dan seorang Pemimpin Pasuka Elit di negeri Joseon ini. Setelah kau menjabat sebagai Pemimpin dan menjalankan tugas mu dengan baik, banyak sekali orang yang terugikan oleh semua tindakan yang menurut mu benar tetapi salah di mata mereka"
Chanyeol tercenung oleh penjelasan Ibu nya. Yah, semua nya menjadi masuk akal dengan semua perlakuan Ayah nya. Chanyeol bisa dibilang adalah termasuk kalangan Bangsawan karna jabatan nya di Biro Militer.
Memang, Chanyeol melakukan tugasnya dengan baik namun setelah ia menyelesaikan tugas nya itu dan menjebloskan semua orang yang bersalah bahkan hukuman mati pun terjadi, semakin banyak orang licik yang geram dengan sikap Chanyeol.
Chanyeol pun memang tak memungkiri hal ini, kenapa ia tak memikirkan hal ini? mungkin, karna ia terlalu serius kepada sosok Baekhyun. Sedangkan si mungil pun memikirkan hal yang sama seperti Chanyeol.
Biar bagaimana pun, jika mereka semua orang licik itu mengetahui hal ini. Tak dipungkiri kehidupan Chanyeol ataupun Baekhyun terancam. Masalah baru lagi, Chanyeol mendesah frustasi.
"Kau mengerti, sayang? Jadi, jangan marah lagi pada Ayah mu" ujar Yuri, Chanyeol menatap Ayah nya "Ayah—"
"Tidak, jangan memberikan aku tatapan seperti itu. Semua ucapan Ibu mu, benar"
"Jadi?"
"Chanyeol-ah, kau adalah anak ku satu-satu nya. Orangtua mana yang tidak ingin melihat anak nya bahagia, walau ini salah, malah sangat salah. Namun, untuk anak ku dengan perasaan nya yang berharga, apa boleh buat"
Chanyeol tersenyum bahagia menatap sang Ayah yang membalas senyuman nya, Baekhyun pun yang tadi nya menunduk langsung mendongkak menatap tak percaya Ayah nya.
Yuri pun tersenyum melihat kedua lelaki jagoan nya kembali bersama. Hah~ cukup lelah juga memiliki dua lelaki yang sama keras kepala nya.
"Hey, jangan menangis. Maafkan atas perkataan ku yang kemarin" tutur Changmin menatap Baekhyun, lalu si mungil menggeleng pelan "Tidak, itu semua bukan lah salah anda. Saya mengerti, seharusnya saya pun harus memikirkan hal itu"
Changmin hanya menatap teduh wajah Baekhyun. Chanyeol dan Baekhyun saling menatap lalu tersenyum, perasaan hangat langsung melingkupi dada mereka. Perasaan lega menyeruak keluar dan beban dipundak mereka entah pergi kemana.
"Aigoo~ kalian manis sekali. Siapa nama mu?" ucap Yuri gemas, Baekhyun hanya tersenyum malu.
"Byun Baekhyun …"
.
.
In Time
.
.
Chanyeol berjalan sendirian di keheningan malam yang disinari Bulan, dengan tangan yang dilipat kebelakang menjadi kebiasaan nya semenjak dulu, wajah nya mengadah keatas menatap sang Rembulan yang memancarkan cahaya nya yang diberikan oleh Sang Surya.
Senyuman sedari tadi ia pancarkan, hari ini menjadi hari terbaik bagi nya. Orangtua nya mulai dekat dengan Baekhyun, walau masih canggung karena kalian tahu lah hubungan mereka yang …. Err aneh, mungkin.
Namun, baik Changmin ataupun Yuri tak mempermasalahkan orientasi anak nya, karna mereka yakin apapun keputusan Chanyeol adalah pilihan terbaik nya.
Chanyeol dengan tiba-tiba menghentikan langkah nya, iris mata nya melirik kebelakang. Entah kenapa setelah mengantarkan Baekhyun pulang, ia merasa ada yang mengikuti nya. itulah yang membuat nya was-was dari tadi.
Chanyeol kembali melanjutkan langkah nya dan ia semakin merasakan kehadiran orang itu. Dengan tiba-tiba Chanyeol berlari kencang dan menghilang dari pernglihatan orang itu.
Napas orang itu terengah-engah setelah mengejar Chanyeol, dan ia tak bisa menemukan sosok Chanyeol. Namun, tanpa diketahui orang itu Chanyeol bersembunyi disela rumah yang gelap.
Siapa kau? Akan ku ingat wajahmu!
.
.
In Time
.
.
Seperti biasa Chanyeol selalu terlihat tampan dan gagah dengan pakaian khas militer nya, Gugunbok. Dan ditambah dengan senyuman bahagia terpantri diwajah nya membuat para prajurit yang bertemu dengan Chanyeol pun merasakan aura kebahagiaan Jenderal ini ikut tersenyum.
Jongin yang berdiri diujung lorong pun ikut tersenyum, namun itu adalah senyuman menggelikan.
"Jongin-ah!"
"Hyung, kau terlihat bahagia sekali, apakah terjadi sesuatu?"
Chanyeol yang mendengar nya melebarkan senyum nya "Ya, terjadi sesuatu yang membuat dada ku sesak karna saking bahagia nya" ucap Chanyeol di ikuti gelak tawa bass nya "Ya, aku sudah mendengar nya dari Bibi"
"Ibu memberitau mu? Aish, Ibu itu tidak asik! Aku kan ingin memberikan kabar bahagia ini langsung dari mulut ku" gerutu Chanyeol, Jongin hanya tersenyum melihat sosok Chanyeol yang dulu kembali "Lagipula, Hyung ataupun Bibi sama saja. Inti nya kalian berdua itu sudah direstui"
"Hah, sudahlah. Lupakan saja, oh ya Jongin, ikut kekantor ku" titah Chanyeol, Jongin menatap lelaki tinggi itu lalu mengangguk mengerti.
"Ada apa, Hyung?" tanya Jongin setelah mereka masuk dan duduk berhadapan "Semalam, setelah aku mengantarkan Baekhyun pulang, aku di ikuti oleh seseorang" ucap Chanyeol serius.
Jongin terbelalak terkejut "Benarkah, Hyung? Lalu?" Chanyeol menerawang "Aku sudah merasakan nya setelah aku cukup jauh dari rumah Baekhyun, dan aku sengaja memancing nya untuk keluar. Aku melihat nya, tubuhnya tinggi seperti mu, kulit nya putih pucat, serta mata nya yang tajam seperti elang" jelas Chanyeol, Jongin pun termenung mendengar penjelasan Chanyeol.
"Apakah mereka itu salah satu pemberontak?" Chanyeol menggeleng pelan "Sepertinya, bukan. Mengingat dari fisik serta pakaian nya, dia terlihat seperti seorang pengawal dibandingkan pemberontak"
"Lalu, siapa dia?"
.
.
In Time
.
.
Chanyeol dan Jongin berjalan beriringan dipasar, mereka terlihat sangat tampan. Chanyeol dengan Sokgui berwarna putih serta Dapho berwarna Magenta, dan Jongin memakai Sokgui berwarna putih dan Jeogori berwarna biru langit. Dan tak lupa Gat serta Gatkeun yang menghiasi nya.
Kedua nya terlihat sangat bersinar dengan pakaian cerah seperti itu. Bahkan mereka menjadi pusat perhatian sekarang, siapa yang tidak akan melewatkan pemandangan indah itu.
Bahkan para Gisaeng sudah menatap menggoda kearah mereka berharap dua lelaki tampan nan gagah itu mau melirik mereka, namun sayang baik Chanyeol maupun Jongin sibuk dengan diri mereka sendiri.
Chanyeol dengan tiba-tiba mencekal lengan Jongin sehingga langkah lelaki itu terhenti mendadak, Jongin menatap Chanyeol "Hyung, ada apa?" tanya Jongin heran.
"Lihat, lelaki yang berdiri dibelakang Menteri Shin" jelas Chanyeol, kemudian Jongin mengikuti arahan Chanyeol. Kening nya merengut heran, lalu saat mulut nya terbuka Chanyeol sudah memotong nya
"Lelaki itu yang mengikuti ku setelah mengantarkan Baekhyun"
Mata Jongin terbelalak tak percaya "Yang benar, Hyung?!" Chayeol mengangguk yakin.
"Lalu, maksud ia mengikuti mu apa?"
.
.
In Time
.
.
"Kau sudah menunggu lama?"
"Tidak, aku belum lama disini"
Chanyeol tersenyum mendengar jawaban si mungil, Chanyeol memposisikan tubuh nya disebelah Baekhyun yang memandang kebawah melihat aktivitas negeri Joseon.
"Kudengar dari Jongin, kau akan ke perbatasan?" tanya Baekhyun tanpa mengalihkan wajah nya, Chanyeol mengangguk pelan "Ya, ada masalah yang harus aku selesai kan"
"Kapan kau akan berangkat?"
"Besok, aku akan berangkat dengan beberapa pasukan ku"
Baekhyun menunduk "Kenapa kau baru sekarang mengatakan nya padaku?" guman Baekhyun pelan, namun masih terdengar oleh Chanyeol "Hey, kau marah padaku?".
Baekhyun menggeleng cepat lalu mendongkak kan kepala nya menatap Chanyeol lemas "Kau akhir-akhir ini sangat sibuk" rajuk Baekhyun, ah Chanyeol mengerti bahwa lelaki mungil nya merindukan sosok nya.
Chanyeol tersenyum "Oh, Cendekiawan Byun sedang merindukan ku rupa nya" ucap Chanyeol dengan nada menggoda, Baekhyun hanya menatap kesal kearah Chanyeol "Menyebalkan!".
Chanyeol melingkarkan lengan nya disekitar pinggang si mungil, merengkuh dengan penuh perasaan membuat hati dan tubuh si mungil hangat seketika "Maaf, jika aku tak punya waktu untukmu" Baekhyun memejamkan mata nya mendengar penuturan Chanyeol yang tepat ditelinga nya. Rasa geli dan panas menyeruak tiba-tiba.
Baekhyun mengalihkan wajah nya menatap dekat wajah Chanyeol "Tidak, aku mengerti. Kekasihku ini seorang Pemimpin Pasuka Elit negeri Joseon, dan aku bangga bisa memiliki nya" lirih Baekhyun sambil tersenyum tipis.
Chanyeol merasa beruntung bisa memiliki Baekhyun, walau hubungan mereka salah, namun mereka menikmati setiap detik saat mereka bersama. Sebesar apapun atau seberat apapun rintangan yang menanti mereka didepan, dua hal yang selalu ia ingat. Karna, Chanyeol mencintai dan percaya kepada Baekhyun.
Ciuman manis itu kembali terjadi ditempat yang sama, mungkin mereka pasti akan selalu mengingat tempat ini karna inilah saksi bisu cinta mereka. terdengar menggelikan namun harus kalian tahu, itulah kenyataan nya.
Chanyeol lamat-lamat mencium bibir Baekhyun, menyesap dan menikmati setiap inci bibir Baekhyun. Sedangkan si mungil, mencoba menikmati dan selalu mengingat ciuman hangat dan lembut yang Chanyeol selalu berikan.
.
.
In Time
.
.
Rombongan pasukan Chanyeol yang akan ke perbatasan sudah berangkat, dan selama Chanyeol tak ada di Biro Militer, Jongin lah menggantikan nya. mereka selalu seperti ini, jika Chanyeol sedang ada dinas, Jongin lah yang selalu menggantikan nya.
Setelah melewati perjalanan yang panjang, akhirnya rombongan Chanyeol selamat sampai di Perbatasan negeri Joseon. Penjaga terlihat dipenjuru itu titah nya, karna para pemberontak semakin mencemaskan rakyat, dan Raja sendiri.
Saat Chanyeol lewat beserta pejabat penting lain nya di Biro Militer, semua prajurit membungkuk hormat. Mereka semua tahu bagaimana bijaksana serta tegas nya Pemimpin Pasukan Elit ini.
Perwira Jo membungkuk kan badan nya saat Chanyeol memasuki kantor, Chanyeol dengan gagah nya duduk di kursi lalu semua para pejabat penting itu ikut duduk. Dan percakapan tentang pemberontakan serta keamanan pun di mulai.
Semua nya terkesan kepada Chanyeol yang cakap serta memiliki rencana yang cukup kuat, membuat mereka semua semakin yakin dan kuat, karna beberapa hari yang lalu sempat ada kelemahan militer di perbatasan maka dari itu Chanyeol datang mengunjungi perbatasan untuk memberikan motivasi serta semangat.
.
.
In Time
.
.
Chanyeol berdiri terdiam menatap para prajurit dan menjaga perbatasan, cukup lega melihat mereka kembali semangat mengingat betapa buruk nya kelemahan militer disini. Chanyeol pun menambah beberapa pasukan serta para Perwira tinggi lain nya untuk ikut andil dalam permasalahan ini.
Ia pun tak menyangka jika pengaruh pemberontakan ini sangat mengkhawatirkan, sebelum nya tidak pernah seperti ini. dan cukup membuat tanda tanya besar bagi Chanyeol.
Siapakah dalang dari semua ini?
Sesaat kemudian Chanyeol melihat siluet seseorang yang berjalan tergesa-gesa masuk kedalam hutan. Chanyeol pun mengikuti orang itu hingga cukup dalam memasuki hutan. Lalu tiba-tiba orang itu menghilang, Chanyeol berjengit dan langsung memasang tanda hati-hati.
Mata Chanyeol bergerak cepat, meneliti setiap disekitar nya karna pencahayaan yang sangat minim membuat nya sulit untuk melihat sekitar.
"Aku disini"
Suara lelaki dibelakang nya, dengan cepat Chanyeol membalikkan tubuh nya. Chanyeol hanya melihat siluet lelaki itu, mata Chanyeol memincing tajam lalu tersenyum miring.
"Ternyata kau"
Walau Chanyeol hanya bertemu dengan lelaki itu dua kali dengan kondisi yang berbeda, tetapi ingat dia adalah Pemimpin Pasukan Elit yang tegas, cerdas, serta teguh pada prinsip-prinsip nya, tidak sulit untuk mengingat wajah orang itu.
"Jenderal Park, seperti nya anda sudah tahu saya"
"Ya, kau cukup untuk ku kelabui malam itu"
"Kupikir, aku juga sudah membalas nya malam ini"
Chanyeol menatap datar namun tajam sosok itu "Katakan, apa mau mu?" sosok itu melangkahkan kaki nya menghampiri cahaya bulan "Kita mempunyai misi yang sama"
Chanyeol mengangkat sebelah alisnya "Apa maksudmu?" lelaki itu tersenyum menyeringai "Tentang pemberontakan, aku mengetahui semua nya" mata Chanyeol terbelalak tak percaya.
TBC
Hayo loh~ siapa sosok itu? Apakah ada yang bisa nebak? Tapi, aku yakin kalian udah tahu siapa orang itu.
Tapi kenapa aku merasa chapter ini agak gimana gitu, kalian ngerasa gak? Apalagi part ChanBaek minta restu, ITU ABSURD BANGET! AKU LAGI STUCK SAAT ITU, JADI MAAFKAN AKU HUUUWWAAAA~~~~~
Menurut kalian tulisan ku gimana, coba dong kasih kritik ataupun masukan dari kalian, sehingga aku bisa mengoreksi kesalahan-kesalahan ku…
