Oke, aku datang dengan ff baru :')
Padahal yang Stars belom selese
Tapi mumpung dapet ide, tulis aja, nanti keburu ilang
Ini juga terinspirasi dari puisi yang tidak sengaja aku buat
Disclaimer: Boboiboy dkk punya animonsta, cerita punyaku :)
Warning: Typo(s), OOC, No super power, Pairing(?), Kata yang berbelit, dll
Happy reding guys ('3')/
Namaku Yaya. Seorang siswi SMP kelas 7. Aku orangnya pendiam. Aku juga tidak mempunyai banyak teman. Sampai Dia datang. Memasuki hidupku. Dan mengubah semua alur hidupku.
Mungkin kau menyadarinya
Mungkin juga tidak
Tapi aku selalu dibelakangmu
Melihatmu dari kejauhan
Melihatmu tertawa
Melihatmu tersenyum
Melihatmu menangis
Aku terduduk di bangku kelasku yang ramai ini. Kelas 7-E. Itulah kelasku. Kelas yang sangat ramai apalagi jika istirahat dan jam pelajaran yang kosong.
Aku menyandarkan diriku pada kursi yang kutempati. Mengambil buku tulis bersampul cokelat juga pensil mekanik dan penghapus dari laci mejaku. Aku menaruhnya di atas meja. Aku membuka halaman terakhir buku tulis itu dan mulai menyorat-nyoret kertas halaman belakang buku itu. Aku menggambar seorang anak berkerudung yang duduk menekuk lutut sendirian di pojokan sebuah ruangan persegi dan orang-orang yang ramai berkumpul bersama di tengah ruangan itu. Dan jika dilihat-lihat, keadaan orang gambar itu sama seperti keadaanku saat ini. Sendirian.
Aku memang tidak mudah berteman. Yah, itu juga karena aku orangnya pendiam dan susah untuk berkomunikasi. Aku juga tidak bisa bersosialisasi dengan baik dengan teman-teman sekelasku. Jika ada tugas kelompok, pasti tidak ada yang mau merekrutku, dan aku juga tidak pernah berusaha untuk menjadi salah satu dari kelompok mereka. Mereka tidak mendekatiku, dan aku tidak mendekatinya.
Apa aku kesepian? Entahlah. Aku merasa nyaman sendirian. Tak akan ada yang menggangguku menggambar. Tak akan ada yang menggungguku belajar. Juga tidak ada yang mengajakku mengobrol ketika pelajaran berlangsung. Dan aku bersyukur karena itu aku bisa fokus dengan materi yang disampaikan oleh guru yang sedang mengajar.
Bisa dibilang, aku ini orangnya pintar. Nilai rata-rata ulanganku selalu 90 keatas. Namun, mungkin karena sifatku ini, tidak banyak orang yang mengenaliku. Bahkan, teman-teman sekelasku ada yang tidak tahu namaku dan baru tahu kalau aku sekelas dengan mereka. Tapi aku tidak peduli. Terserah mereka mau membicarakanku dari belakang atau bahkan tidak mengenaliku. Aku tidak peduli.
"Eh, eskul pramuka mau ada lomba ya?"
Dan sekarang, memang sedang musimnya lomba-lomba. Jadi, anak-anak sering membicarakan tentang lomba eskul yang mereka ikuti. Dan aku? Aku tidak masuk eskul manapun di sekolah ini. Alasannya? Malas. Lebih enak setelah bel pulang berbunyi langsung pulang daripada harus tertahan di sekolah sampai sore. Dan aku memang tidak mau memasuki eskul manapun. Tidak tertarik. Dan menurutku, untuk apa ikut eskul kalau yang akan di tes adalah mata pelajaran kelas biasa? Tidak ada gunanya.
Aku memang sendirian, tidak ada yang mau menemaniku ataupun bersamaku.
"Eh, Ya, ngapain lu?"
Kecuali dia.
Aku menoleh kepadanya. Seorang pemuda dengan topi dinosaurus jingga yang dipakai menghadap belakang. Boboiboy. Yah, memang hanya dia seorang yang 'Berani' mendekatiku, bahkan mengajakku mengobrol.
"Kamu ga liat ya?" tanyaku balik padanya.
"Gambar," jawabnya.
"Terus?" aku memalingkan mukaku.
"Iih... ngambek ya?" candanya sambil duduk dibangku sebelahku tempatku duduk.
"Iya," jawabku singkat tak menatap Boboiboy.
"Sorry atuuh... jangan ngambek.."
"Bisa ga gitu, ga? Aku ga suka," jawabku ketus. Kesal? Tentu. Siapa yang mau dikatakan seperti itu oleh laki-laki? Yah, mungkin bagi perempuan lain, mereka akan tersipu malu atau salah tingkah. Tapi tidak denganku. Aku tidak suka diperlakukan seperti itu, itu bagaikan - - - - 'Pacar'. Dan aku sama sekali tidak suka.
"Tuh kan, marah lagi..."
"Tuh kan, kamu ngomongnya gitu lagi..." balasku dingin.
"Tapi kan—"
"Sudah ah, jangan ganggu," kataku sambil melanjutkan gambarku yang sempat terhenti karenanya tadi.
Dan seketika, kami berdua terdiam. Sekitar kami menjadi sunyi. Tidak ada suara. Aku melirik ke sebelah memastikan Boboiboy. Dan dia sedang mendengarkan lagu dengan earphone hitam yang menempel di kedua telinganya. Matanya terpejam menikmati lagu yang ia dengarkan. Mulutnya juga berkomat-kamit tanpa suara, sepertinya, dia mengikuti lirik lagu yang dia dengar. Aku menggeleng tanpa sebab, dan melanjutkan gambarku lagi.
Sekarang, aku menggambar di halaman yang berbeda dengan gambar yang sama seperti gambar yang sebelumnya, namun, aku menambahkan gambar seorang laki-laki bertopi yang berdiri di samping perempuan itu dan sedang menunduk memperhatikan perempuan itu.
Aku menggambar lagi di halaman sebelahnya, sama seperti yang sebelumnya. Aku mengubah posisi perempuan yang duduk itu menjadi mendongak melihat ke arah lelaki itu.
Dan aku menggambar gambar yang sama di halaman berbeda dengan lelaki yang sudah duduk berjongkok disamping perempuan itu. Dan perempuan itu kembali menghadap lelaki itu bingung.
Aku terus menggambar kelanjutan cerita dari gambarku itu. Dari akhirnya pemuda itu mengajak mengobrol perempuan kesepian itu, lalu, perempuan itu mulai membalas obrolannya ragu, sampai akhirnya mereka berdua terlihat akrab sedang berbincang-bincang sambil tersenyum dan tertawa bersama.
"Eh Ya, Lu belum nentuin eskul yang mau lu ikutin?" tanya Boboiboy.
Aku menengok ke arahnya, "Belum. Tak akan mungkin," jawabku.
Boboiboy menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia menjawab, "Lu ga tahu ya? Kan setiap siswa wajib ikut eskul walaupun hanya satu."
"Yah, mau gimana lagi? Emang kamu punya rekomendasi?" tanyaku.
"Lu ikut eskul Rohis aja! Biar sama kayak gua!" serunya.
"Rohis?" tanyaku tidak mengerti. Yah, aku memang tidak pernah mendengar ada eskul yang namanya itu sampai sekarang pemuda di sampingku ini mengatakannya. Jadi, wajar saja kalau aku kurang tahu bahkan sama sekali tidak tahu apa-apa tentang eskul itu.
"Iya, Rohani Islami," jawabnya semangat.
"Mmm... maksudnya?"
"Yah, jadi kita bakal belajar tentang Islam disana. Dan jangan salah, Rohis ga cuman baca Qur'an doang, Rohis itu juga ada seninya, marawis, qosidah, kaligrafi, pokoknya banyak deh! Lu ikut yaaa..." jelas sekaligus harapnya. Matanya sudah memasang puppy-eyes yang menurutku - - - - weird.
Yang bisa kulakukan hanyalah mengambil nafas panjang pasrah dan berusaha tidak menatap mata lawan bicaraku itu. Lagi pula, semua murid wajib ikut eskul, dan daripada sama sekali tidak ikut, ini lebih baik, "Hhh, oke deh. Terserah kamu aja."
"YEEEEY! Kumpul aja di hari Jum'at sepulang sekolah di musholla. Oke?" seru yang dilanjutkan dengan tanyanya. Kalau dilihat dari sikapnya, sepertinya dia sangat senang. Dan aku tersenyum geli melihat kelakuannya itu. Entah mengapa.
"Iya deh.."
"Mm.. ngomong-ngomong, lu gambar apaan emang?" tanyanya tiba-tiba sambil melihat dengan teliti ke arah halaman buku tulis di depanku yangg berisi gambar yang sudah selesai kubuat.
"Ada aja. Kepo amat sih lu," jawabku kesal sembari menyembunyikan buku tulis itu darinya.
"Idiih... mulai nih main rahasia-rahasiaan..."
"Udah ah. Ngeselin amat lu," aku mengambil buku tulisku dan kembali menaruhnya di laci mejaku. Aku menoleh ke arah Boboiboy yang sedari tadi memerhatikanku. Dia cemberut kecewa, dan aku tidak suka mukanya yang seperti itu. Aneh.
0ooOoo0
"Selesaai~" ucapku senang melihat buku tulis catatan yang sudah terisi penuh oleh tulisanku di atas mejaku. Aku masih di sekolah, dan memang kebiasaaanku mengerjaan PR di sekolah. Supaya di rumah nanti aku bisa santai tidak harus was-was memikirkan PR yang belum terselesaikan.
Kelas sekarang memang sepi, hanya ada 3 sampai 4 orang yang ada di kelas yang biasanya ramai ini. Tentu saja, bel pulang sekolah sudah berdering sedari tadi. Dan kebanyakan siswa, pasti sudah pulang ke rumahnya masing-masing atau menghadiri eskul yang mereka ikuti. Walaupun sekarang hari Selasa, dan biasanya jarang ada kegiatan eskul di sekolah, namun eskul pramuka akan ikut lomba dan pastinya mereka latihan setiap hari. Dan ada banyak anak di kelasku yang ikut eskul itu.
Aku menaruh semua buku dan tempat pensil yang ada di laci ataupun atas mejaku kedalam tas, lalu menarik resleting tas itu supaya tertutup. Aku beranjak dari kursi dan pergi keluar kelas tanpa berpamitan pada anak-anak yang masih ada di dalam kelas.
Saat aku menapakan kakiku di lantai luar kelas, sebuah panggilan – yang menjengkelkan – dari orang yang paling tidak ingin aku temui menyapaku.
"Yaya!"
Aku terdiam di depan pintu kelas, menarik nafas panjang, dan membuangnya perlahan. Aku menoleh ke arah sumber suara. Koridor kelas di sebelah kelasku. 7-F. Dan seperti yang kuduga, orang itu sedang berlari kecil menghampiriku. Dengan tas hitam besar juga jaket yang selalu ia pakai. Jam berapa sekarang? 3 sore, kenapa dia belum pulang? Apa dia melakukan hal yang buruk dan di omeli panjang lebar oleh gurunya dan baru selesai tadi? Tidak mungkin. Boboiboy bukan orang yang seperti itu. Aku menggelengkan kepalaku berusaha menghilangkan semua pemikiranku tentangnya. Namun, rasa penasaranku menang, dan aku berniat untuk menanyakannya sekarang.
"Yaya, lu ngapain belum pulang?" oke, dia duluan yang nanya.
"Ngarjain PR. Kamu?" tanyaku balik.
"Tadi ada kerkom. Pulang bareng yuk," jawab dan ajaknya padaku. Wait the second, pulang bareng? Lu kira aku apaan sampai mau pulang bareng sama lu, berdua oke, hanya berdua!?
"Tapi pulangnya ga berdua doang kok, bareng temen aku. Tuh yang disana," dia menunjuk ke arah 2 orang pemuda yang sepertiinya menunggunya. Dan dia menjawabnya seakan bisa membaca pikiranku.
"Hhh.." aku hanya bisa mendesah pasrah. Lagipula, rumah kita berdua memang searah, dan setdaknya, kita tidak pulang berdua. Jadi ya, apa salahnya? Sudah lama juga aku tidak pulang sekolah bersama temanku yang lain seperti ini. "Iya deh," jawabku.
Dan tepat seperti dugaanku, muka Boboiboy menjadi cerah seakan matahari ada tepat diatasnya. "Oke, ayo atuh balik. Nanti kelamaan," ucapnya.
Boboiboy pun berjalan ke arah teman-temannya dan mengajaknya bicara sebentar, mungkin memberitahu kalau aku akan pulang bersama mereka. Dan kuharap, mereka mau menerimaku.
Awalnya, aku melihat wajah teman-temannya yang terlihat bingung, dan aku mulai khawatir. Tunggu, kenapa aku jadi khawatir begini? Bukannya aku lebih suka sendirian menjalani hidup di SMP ini daripada memiliki banyak orang yang mengerumuniku? Tapi, ketika aku melihat wajah temannya yang tersenyum gembira, aku merasa lega. Sepertinya, mereka menerimaku. Kedua teman Boboiboy itu datang menghampiriku.
"Hei, lu pasti Yaya. Boboiboy banyak banget cerita tentang lu di kelas. Gua Fang," sapanya ramah. Pemuda dihadapanku ini memakai kacamata, tinggi, dan juga rambutnya yang agak berantakan berwarna ungu tua. Aku bahkan harus sedikit mendongak supaya bisa melihat mukanya. Fang ya? Keren.
"Gua Gopal. Salam kenal ya," sapa anak lainnya. Tubuhnya gemuk dan pipinya juga chubby tembem. Namanya? Gopal kan? Aku ga salah?
"Iya, namaku Yaya. Salam kenal juga," jawabku ramah dengan senyuman terbaikku pada kedua teman baruku ini.
"Kenalannya sudah? Ayo balik. Lapar aku, mau makan," suara Boboiboy menghentikan keegiatan kami bertiga. Kami serempak mengangguk, ketiga sahabat itu berjalan duluan, aku mengikuti mereka dari belakang, tak mau mengganggu percakapan mereka sejak mulai jalan tadi yang sepertinya seru.
Aku ikut terbawa suasana, dan tanpa aku sadari, aku sudah tersenyum-senyum sendiri melihat kelakuan teman baruku itu.
"Lu kenapa, Ya?" tanya Boboiboy yang sepertinya memerhatikanku sedari tadi, "Kok senyum-senyum sendiri gitu?" lanjutnya.
"Ah, ng, nggak kok. Aku heran aja, kalian pada ngomongin apaan sih?" jawabku yang sekaligus merupakan sebuah pertanyaan. Argh! Aku malu! Pasti mukaku sudah memerah saking malunya, kenapa aku bisa terbawa suasana begitu? Kenapa aku malah jadi enak ya kalau bareng mereka?
"Oh, kita lagi ngomongin LS, Lost Saga. Anak cewek mah jarang ada yang tahu," jawab Fang tiba-tiba.
"Hei, siapa bilang anak cewek ga tahu LS? Aku tahu kok, kan aku dulu main LS," balasku. Dan yang kulihat selanjutnya adalah ketiga lelaki itu berhenti serempak dan menatapku tak percaya. "Kenapa?"
"HUOOOH! Ga nyangka kalau ada cewek yang main LS. Gua baru tahu!" seru Gopal tiba-tiba.
"Gua juga! Selama ini, gua cuman tahunya yang main LS itu anak cowok doang," tambah Fang.
"Jangan ngerendahin anak cewek dooong," balasku sambil tertawa kecil melihat ekspresi Gopal dan Fang.
"Eh, Yaya, kok lu tumben mau banyak ngomong? Biasanya lu diam aja di kelas, ga mau bicara sama siapapun," ujar Boboiboy yang membuatku tersentak. Iya juga ya? Kenapa aku berani mengobrol dengan mereka ya? Padahal, aku baru mengenal mereka hari ini. Mungkin, karena mereka meladeniku seperti biasa layaknya teman, aku jadi berani dan nyaman berada di samping mereka.
"Yaya? Kok melamun?" tanya Fang yang sontak mengagetkanku. Aku bahkan tidak merasa aku melamun.
"Mm.. hehe, nggak kok," jawabku sambil menaruh tangan kananku di belakang kepala.
"Eh, Ya, lu balik kemana emang?" tanya Gopal.
Langkahku terhenti. "Ah, iya! Sampai lupa. Aku duluan ya, Assalamu'alaikum," kataku yang baru sadar kalau gang rumahku sudah terlewat saking asyiknya mengobrol. Aku berlari meninggalkan mereka sambil melambaikan tanganku.
"Wa'alaikum salam," balas mereka bertiga bersamaan.
Yah, mungkin aku akan mulai bisa bergaul lebih baik dengan mereka mulai besok nanti.
Aku mungkin bukan siapa-siapa bagimu
Mungkin bagimu aku hanyalah teman
Tapi itu sudah cukup bagiku
Asalkan kau menjadi temanku
Aku sudah senang
Asalkan kau mau menerimaku apa adanya
Aku sudah bahagia
TBC or DisC?
Oke, aku ga tahu ini genrenya bakal jadi apa
Jadi aku mau nanya, menurut kalian, genre fic ini apaan? .-.
Review?
