Oke, i'm back

Sorry ga update cepet... habisnya, kan mau UKK dan internetnya yang ngadat -_-

Lanjut ya

Disclaimer: Boboiboy dkk punya animonsta, cerita punyaku :3

Warning: Typo(s), No super power, OOC parah, karakter tambahan, kata yang berbelit, dll

Happy reading guys .-.


"Yaya!" panggil Boboiboy. Ia sudah muncul dibalik pintu. Tunggu, untuk apa di memanggilku? Aku beranjak berjalan kearah Boboiboy.

"Kenapa?" tanyaku begitu sampai dihadapannya.

"Lu jadi masuk Rohis kan?" tanyanya memulai topik pembicaraan.

"Iya, nyelow aja kali."

"Oke, gua tunggu di musholla ya!"

"Sip," dan Boboiboy pun berlari kecil meninggalkanku. Hey, ini sudah yang kelima kalinya dia menanyakan hal itu padaku. Setiap hari disetiap istirahat, dia pasti menghampiriku untuk menanyakan hal yang sama. Dan jujur, really, i don't like it. Dia menggangguku yang sedang asyik-asyiknya menggambar di waktu kosong ini. Annoying.

Aku berjalan dari pintu kelas menuju bangkuku. Tempat dimana aku bisa dengan santai menggambar sesuka hatiku. Yah, itu juga karena menggambar di rumah, sudah tidak aman lagi. Jika ibuku melihatku menggambar, pasti akan langsung disuruh berhenti. Why? Menggambar itu kan hobiku. Ya wajar dong kalau aku suka menggambar, aku selalu menggambar dimanapun. Yah, bayangkan saja, itu seperti kamu disuruh melupakan dan meninggalkan hobi juga hal kesukaanmu yang selalu kau lakukan sehari-hari. Bagaimana rasanya?

Aku duduk dibangkuku, menyenderkan punggungku ke kursi, mengambil buku tulis dan pensil dari laci meja, dan tepat ketika aku akan mempertemukan ujung pensilku ke atas lembaran kertas –

KRIIIING...

-Bel berbunyi.

See? Argh! Baru saja aku mau menumpahkan semua imajinasiku pada kertas itu, dan bel berbunyi! Hampir saja aku mau berteriak kalau aku tidak sadar bahwa aku berada di dalam kelas yang hampir semuanya tidak pernah tahu aku. Aku hanya menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, mencoba menenangkan diri sendiri.

Sudahlah, lagipula, hari ini hari Jum'at. Hari dimana aku seharusnya masuk ekskul yang, namanya apa? Rohis? Jadi wajar saja kalau dia selalu datang untuk memastikan apa aku jadi ikut atau tidak.

Aku melihat jadwal pelajaran. Habis ini, matematika, lalu pulang. Aku mengalihkan pandanganku dari jadwal itu menuju tas hitamku di belakangku. Aku mengambil dua buku tulis bersampul merah yang bertuliskan 'Buku Catatan' dan 'Buku Latihan' dari dalam tasku. Tak lupa aku juga mengeluarkan buku paket matematika, jangka, juga penggaris. Yah, guru yang satu ini memang paling suka memberikan tugas atau PR yang segunung dan juga catatan yang selautan. Banyak. Oke, mungkin bukan banyak, tapi, terlalu banyak. Bahkan, buku catatan dan latihanku masing-masing sudah double, dua buku yang dijadikan satu.

Dan akhirnya, pelajaran dimulai dengan salam dari guru itu yang lalu dijawab oleh para murid serempak dan dilanjutkan dengan membaca basmalah. Seperti anak TK. Dan untungnya, hanya di pelajaran ini saja para murid harus melakukan hal itu.

Pelajaran hari ini, Al-Jabar. Memang tidak sulit, tapi variabel yang banyak itu membuat pusing. 3xy+5y+7+10xy+7x+6x+7y+10=.Pokoknya disamain dulu variabelnya, konstanta ditulis terakhir. Lalu, baru dijumlahkan, dan ketemu hasilnya 13xy+12y+13x+17. Itu masih dasar, masih ada Al-Jabar dalam bentuk pecahan, pemfaktoran, yah, intinya mah masih ada yang lain.

2 jam pun terlewati. Dan akhirnya, bel pulang berbunyi. Kami semua serempak mengucapkan hamdalah sekeras mungkin sebagai rasa senang karena pelajaran berakhir. Begitu guru itu keluar...

"YEEEAAAYYY!" anak-anak berlompat, berjingkrak-jingkrak senang, berteriak, bahkan ada yang menari tidak jelas saking senangnya. Aku? Aku hanya mendesah, membereskan bukuku dari atas meja, dan menaruhnya kembali dalam tas. Aku beranjak dari tempat duduk menuju pintu keluar kelas. Aku duduk di tepat duduk diluar kelasku sambil menyender.

"Sekarang ya?" gumamku. Ya, sekarang, waktu disaat aku akan pergi ke musholla dan menjadi salah satu dari anggota ekskul yang baru aku tahu. Sesaat, aku sempat berfikiran kalau aku akan membatalkannya saja, pulang ke rumah, dan menikmati kehidupan. Namun, ketika aku berdiri dan ingin pulang ke rumah, meninggalkan sekolah...

"Yaya!" lagi?! Oke, rencanaku pulang ke rumah batal total!

Aku menoleh ke aarah sumber suara. Seperti yang kuduga. Dari 7-F. Boboiboy berlari ke arahku, diikuti Fang dan Gopal dibelakangnya. Tunggu, Fang dan Gopal?

"Yaya, jadi kan?" tanya Boboiboy setelah sampai dihadapanku. Okey, again, 6 times, new record.

"Iya cantik.. nyelow..." oke, aku bohong. Sebenarnya aku tidak mau. Alasannya sama seperti sebelumnya. Malas.

"Itu Fang sama Gopal ngapain?" tanyaku melepas rasa penasaranku.

"Oh ya, gua belum ngasih tahu ya. Fang sama Gopal juga udah jadi anggota Rohis dari dulu," jawabnya sembari menunjuk ke arah dua anak itu.

"Oh."

"Ya udah ah, kelamaan. Ayo cepetan! Nanti telat," seru Fang menghentikan percakapan aku dan Boboiboy.

Boboiboy berjalan duluan, diikuti Fang, Gopal, dan aku di paling belakang. Kami menaiki tangga hingga sampai di musholla.

"Kak Daniel!" teriak Boboiboy sesampainya di depan musholla.

"Kenapa?" jawab seseorang dari dalam yang akhirnya keluar musholla menemui kami. Orangnya tinggi dan putih, lebih tinggi dari Fang pastinya, matanya sipit, rambutnya pendek belah kiri, sepertinya orangnya pendiam. Ini Kak Daniel kan namanya?

"Ini Kak, ada yang mau masuk Rohis," balas Boboiboy. Kak Daniel memerhatikan melihatku sesaat, dan aku hanya berdiri diam tak bergerak sama sekali. Terlalu gugup.

"Oke, tunggu bentar ya. Bila!" katanya yang lalu dia kembali masuk ke dalam musholla memanggil orang lainnya.

Akhirnya, orang yang dipanggil keluar, sepertinya setinggi Boboiboy, memakai kerudung kaus putih dengan pin biru putih yang menempel dikerudungnya.

"Kamu mau masuk Rohis?" tanyanya padaku.

"I, iya Kak," jawabku gugup. Sebenarnya, aku masih bingung, mau masuk atau tidak. Tapi, mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur mengatakan 'Iya'.

"Nama kamu siapa?" tanyanya kembali.

"Yaya Kak."

"Oke, bentar. Punya nomor Hp?"

"Punya, emang kenapa?"

"Tolong tulis nomor Hp kamu di kolom ini," katanya sambil menyodorkan buku tulis kecil pink bercover gambar sapi juga pulpennya padaku. Dia juga menunjuk kearah kolom yang harus aku isi.

Aku menerimanya, "O, oke."

Aku pun mengisi kolom yang Kak Bila tunjukkan, lalu mengasihnya kembali pada Kak Bila. "Ini, sudah."

"Sekarang, yuk masuk," ajak Kak Bila padaku.

Aku mengangguk kecil, melepas sepatuku, dan masuk ke dalam musholla diikuti Boboiboy dan yang lainnya.

Saat aku memasuki ruangan itu, aku melihat ada beberapa orang yang duduk membentuk bulat dan ada satu orang guru(?) didepan mereka. Dan, semuanya melihat kearahku, heran. Aku hanya berjalan menunduk menuju ke tempat anak-anak perempuan. Aku duduk dibarisan paling belakang. Yah, aku merasa tenang sampai tiba-tiba guru itu menyuruhku untuk memperkenalkan diri di depan semua orang yang ada disana. Awalnya aku menolak, namun, Kak Bila mendorongku menuju barisan paling depan. Jadi, mau tak mau, aku harus melakukannya.

"Assalamu'alaikum," kataku sebagai pembuka. "Mmm.. namaku Yaya dari kelas 7-E," aku mengatakannya dengan terbata-bata karena gugup.

Semua hening sampai ada anak yang mengangkat tangannya dan bertanya, "Alasan kamu masuk Rohis apa?"

Semua orang melihat ke arah orang yang bertanya. Kak Daniel. Dan aku, akan menjawab dengan sejujur-jujurnya.

"Sebenarnya... aku masuk ekskul ini karena disuruh Temanku dan memang karena aku tidak mengikuti kegiatan ekskul manapun," kataku jujur sambil menekankan kata Teman dan mataku yang melihat ke arah Boboiboy dengan tajam saat mengatakannya. Orang yang bersangkutan hanya tertawa cengengesan sambil menatapku. "Tapi ya, sekalian aja nyoba. Siapa tahu aku bakal betah disini," lanjutku.

Setelah aku menjawab pertanyaan itu, sekumpulan tangan diangkat, mau bertanya. Dan aku hanya bisa mendesah pasrah menyiapkan mentalku juga jawaban untuk pertanyaan yang akan mereka lontarkan padaku.

0ooOoo0

"Akhirnya..." aku menghela nafas panjang. Capek. Tentu saja, aku harus menjawab sekian banyak pertanyaan yang menyerbuku dan kebanyakan pertanyaan itu adalah tentang hal yang tidak jelas. Seperti punya pacar,cita-cita, nama orang tua, lahir tanggal dan dimana, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan aneh lainnya.

"Yaya, maaf ya yang tadi. Mereka memang suka begitu. Tapi lama-lama kamu bakal biasa kok," ucap Kak Bila disebelahku. Aku tersenyum tipis padanya.

Sekarang, aku, Kak Bila, dan anak-anak perempuan lainnya berada di dalam kelas 9-G. Aku tak tahu kenapa aku ada disini. Tapi kata Kak Bila, disaat yang laki-lakinya sholat jum'at, yang perempuannya ada mentoring. Dan jujur, aku bahkan tidak tahu apa itu mentoring. Yah, karena aku orangnya pendiam, aku tidak berani menanyakannya pada Kak Bila.

"Assalamu'alaikum.." salam seseorang dari pintu kelas. Perempuan dengan kerudung biru panjang, kacamata, baju biru bergaris hitam, rok hitam panjang, tas ransel, juga sepatu kets. Berarti - - - kuliah?

"Kak Nisa!" seru Kak Bila.

"Wa'alaikum salam gitu Kak.." kataku pada Kak Bila dengan tatapanku yang masih lurus menuju buku novel yang kubaca.

"Eh? Siapa itu? Anak baru ya?" tanya anak kuliah tadi yang sudah diketahui sekarang namanya. Kak Nisa.

"Iya Kak," jawab Kak Bila.

"Waah.. perkenalkan diri doong... Kakak kan belum tahu nama kamu.." sekarang, Kak Nisa berbicara padaku. Wait, perkenalkan diri? Lagi? Ayolah, cukup satu kali saja.

"Nama dia Yaya Kak," ucap anak perempuan yang lainnya, yang membuat aku bernafas lega. Namanya? Aini? Benar kan?

"Oke deh, yuk mulai mentoringnya."

Dan akhirnya, kami semua melingkar dan mendengarkan materi dari Kak Nisa.

Mungkin, sudah sekitar setengah jam berlalu, dan sepertinya, sholat jum'at juga sudah selesai. Jadi, kami semua kembali berjalan ke musholla.

Sesampainya, aku melihat Boboiboy, Fang, dan Gopal sedang duduk bertiga menyender di tembok. Aku menghampiri mereka.

"Lu pada ga ada kerjaan lain?" tanyaku.

Mereka semua mendongak melihatku karena aku masih berdiri.

"Eh, Ya. Duduk sini dulu," balas Boboiboy.

Aku menurutinya dan duduk di depan mereka bertiga. "Kenapa?"

"Gua mau cerita."

"He?"

.

.

.

.

.

.

"Wahahaha! Demi apa lu?! Dasar aneh!" aku tertawa lepas mendengar cerita Boboiboy, memang lucu. Perutku bahkan sampai sakit dan aku sudah mau menangis saking tak bisa menahan tawa. Boboiboy, Fang, dan Gopal juga ikut tertawa. Dan akhirnya, atmosfer yang awalnya sunyi sekarang sudah tidak sunyi lagi.

"Atuh ya. Siapa suruh dianya kayak gitu?! Memang aneh dasar.." balas Boboiboy.

"Tapi setidaknya laaah, masa' lu suruh nawar harga di McD beneran dilakuin?"

"Dianya orangnya terlalu polos kali. Ga tahu apa-apa," tambah Fang, masih dengan tawanya yang keras.

"Wkwkwk. Itu polos atau apa sih? Orang mah, nawar harga di pasar, lah ini? Di McD?" sambung Gopal.

"Oh ya, gua punya serem cerita nih," Kata Fang tiba-tiba.

Dan seketika, kami bertiga terdiam dan menatap Fang serius.

"Jadi gini, kemaren gua kan naek motor..." Fang memulai ceritanya, dan kami bertiga semakin serius menatap Fang.

"Nah terus, gua liat ada becak..."

Kami semakin serius.

"Lu tau ga, becaknya kenapa?" tanya Fang dengan nada serius.

"Kenapa?" jawab Gopal.

"Becaknya..." Fang menghentikan ceritanya sesaat, dan itu membuat kami semakin penasaran. "RODANYA ADA TIGA!" teriak Fang tiba-tiba sambil mengangkat tangannya ke udara.

Krik..

Krik..

Krik..

Hening..

"Ellaah, garing ah!" ucap Boboiboy memecah keheningan.

"Eh? Kok ga pada kaget sih? Gua nyoba gitu ke sodara gua mempan tuh.." balas Fang.

"Sodara lu kelas berapa emang?" sekarang Gopal yang bertanya.

"Kelas 4 SD," jawab Fang. SPJ. Singkat, padat, jelas, juga dengan santainya.

Dan seketika, semuanya hening... lagi.

"Lu kira kita kelas berapa emang? Lu nyamain kita sama anak kelas 4 SD ya?!" seruku kesal pada Fang.

"Lu sih, kayaknya memang anak 4 SD deh, Ya," balas Bobiboy tiba-tiba.

"He? What did you say? Tolong diulangi..." kataku dingin dengan tatapan death-glareku padanya.

"Gua bilang, lu kayaknya memang anak kelas 4 SD de—" dan perkataan Boboiboy terhenti begitu melihatku sudah berdiri dihadapannya dengan tas tenteng merah yang memang selalu aku bawa.

"4 SD ya?" tanyaku lagi.

"Ng, nggak kok, hehehe..." ucap Boboiboy gugup.

"LU MAAH!" dan setelah itu, aku memukulkan tas merahku pada Boboiboy sebagai rasa kesalku padanya.

"Ciee... berduaan terus nih..." canda Fang.

Aku menoleh ke arah Fang maish denga tatapan death-glareku, "Apa Fang?"

"Iya juga ya, kalian memang cocok," tambah Gopal yang membuatku menjadi tambah kesal.

"HEY! SINI LU PADA!" dan akupun mengejar mereka bertiga dengan tas merah ditanganku yang sudah siap dipukulkan pada orang yang lambat larinya. Yah, aku tidak sepenuhnya marah, sebenarnya, aku juga tertawa senang mendapat hiburan seperti ini. Sudah lama sejak terakhir kali aku bisa tertawa lepas dan melakukan semua hal yang kusuka. Dan ketiga orang itu adalah anak-anak yang sudah mewujudkannya. Kami berempat berlarian di dalam musholla dengan senyum dan tawa yang keluar dari mulut kami.


Aku selalu mengawasimu

Aku siap menjadi tempat curhatmu

Aku senang saat kau mengejekku

Aku bahagia saat kau mengajakku berbicara

Aku tertawa karena kelakuan konyolmu


Oh ya, maksud dari "Lu pada" itu "Kalian"

Oke... bakal lama updatenya karena UKK yang sudah di depan mata :')

Review?