Sebelumnya makasih buat yang udah baca ff gajeku. Maaf sebelumnya kupertegas Bukan maksud aku nanggepin saran itu sebagai flame atau apa, Aku juga hanya ngemukain pendapat aku dan prinsip aku selama jdi author . Intinya aku cuma ga mau ngubah apa yg udah trkonsep di otak ku untuk jln cerita yg bakal ku buat sampai end ini Aku mnta maf kalau kalian juga nanggepin nya aku egois atau apa yang ga mau nerima saranMakasih atas saran dan masukan kalian, sekali lagi aku minta maaf...aku hanya ingin semua cerita yg udah terkonsep sampai cerita ku end itu bener" terealisasi...karena ini semua murni imanjinasiku..Maf membuat kalian tersinggung dan terima kasih atas saran, masukan, dan kritik yang membangun lewat review kalian...Saya menghargainya
.
.
.
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Author : Hani Yuya
Judul : My Wish, Kimi no Soba ni Iru Kara.
Rate : M (for lime)
Pairing : Sasusaku, slight Sasuhina
Gendere: Romance, Angst
Nb : Sebenernya ini fanfic pesenan reader yang udah lama blum kubuat... inti ceritanya dia yang buat. Aku cuma menjabarkan jadi sebuah crita. Gomenne veronica septiana... baru buat sekarang. Semoga tak mengecewakan.
.
.
.
.
.
Cahaya bulan yang indah menyinari alam beserta isinya saat sang surya tertidur di balik awan di malam hari. Ditambah banyaknya bintang yang berhamburan di langit menambah indahnya pemandangan malam.
Aku berdiri di balkon kamar, memandang indahnya langit malam yang bertaburan kemerlapnya bintang. Terlintas sosok pemuda raven yang akhir-akhir ini menganggu pikiranku.
Kupegang dadaku yang bergemuruh ketika membayangkan sosoknya. Kami -sama kenapa harus dia yang mengambil hatiku. Kenapa harus dia yang selalu muncul di benakku?
Puk
Tiba-tiba seorang menepuk pundakku. Tak perlu berbalik, karena kutau itu siapa. Dia Sasori -nii.
"Sedang memikirkan apa, Sakura?" Nii -chan berdiri disampingku.
"Entahlah nii-chan, akhir-akhir ini ada seorang pria yang mengganggu pikiranku"
Dia mengernyit, "Siapa?" Terdengar nada tak suka darinya.
Aku menoleh, tersenyum tipis,"Kau mengenalnya nii-chan... dia Uchiha Sasuke" Ucapku sendu.
Wajahnya menegang, manik hazelnya menatapku tajam."TIDAK BOLEH!" Ujarnya tegas penuh penekanan.
"Karena dia menyukai Hinata -chan kan? bukankah begitu nii-chan! Aku tau itu"
"Ck, kalau sudah tau, lupakanlah dia" Ia mendesah. Memijit keningnya pelan.
Aku menunduk, "Tidak bisa nii-chan, sudah pernah kulakukan. Tapi tetap tak bisa" Jawabku lirih.
Kedua tangannya mencengkram pundakku erat, "Dengar... kau harus melupakannya. Sebelum terlalu jauh" lalu memelukku, "Aku tak ingin melihatmu sedih dan terluka nantinya,hanya kau sisa keluargaku satu-satunya Sakura. Tak akan kubiarkan kau menderita karena dia" melepaskan pelukannya, kemudian mengecup keningku sekilas.
"Tidurlah, sudah malam" Nii-chan beranjak pergi meninggalkanku sendiri di beranda.
Aku menengadahkan wajahku ke langit, liquid bening mengalir jatuh membasahi permukaan wajahku.
"Beritau aku nii-chan, beritau aku cara melupakannya... hiks" Aku menangis terisak dibawah langit malam.
Jika tau begini sakitnya jatuh cinta, lebih baik aku tak pernah mengenal cinta.
.
.
.
.
.
.
Hari ketiga aku menjalani hukuman Anko -sensei, aku berjalan gontai menuju halaman belakang sekolah keringat bercucuran di pelipisku. Sejak tadi pagi, kepalaku pusing, pandanganku pun sedikit buram. Selangkah demi selagkah aku berjalan pelan, sesekali berhenti menyandarkan tubuhku menempel tembok.
Apakah ini efek tak tidur semalaman? gara-gara memikirkannya aku menangis semalaman. Lihat! Mungkin mataku bengkak saat ini. Ah,, bagaimana ini aku tak sanggup melangkah lagi, kakiku tak bisa menopang berat badanku lebih lama lagi. Aku jatuh terduduk di tanah, padahal tinggal beberapa meter lagi sampai ke tempat biasa dia selalu menunggu.
Kudongakkan kepala melihat daun momiji yang masih terus berguguran, daun momiji yang berwarna cokelat jatuh berguguran sepanjang hari tanpa berhenti, sampai akhir batas musim gugur berganti nanti.
"Hei! Kenapa kau duduk disini, Pinky?"
Mataku membulat ketika mendapati wajah Sasuke-senpai yang berada tepat di depan wajahku, menghalangi pandanganku yang sedang mendongak keatas menikmati gugurnya daun momiji.
"Sa-su-ke -sen -pai?!" Jawabku terbata-bata.
Ia mengernyit, tampak memikirkan sesuatu ketika menatap wajahku. Segera ia memposisikan diri di depanku.
"Hn, kau terlihat pucat?"
Tangan kanannya terulur, menempelkan punggung tangannya ke jidat lebarku.
"Pantas kau demam" Ujarnya datar. Ia melihat jam tangannya, "Untuk hari ini tak usah memunguti daun momiji, nanti biar aku yang menjelaskannya pada Anko-sensei, sebaiknya kau pulang. Akan ku antar"
Apakah aku tak salah dengar, dia ingin mengantarku? Kami -sama aku senang sekali. Sebuah senyuman merekah di bibirku.
Namun senyumku kembali pudar ketika seorang pemuda berhelai hitam klimis dengan kulit pucatnya berlari terengah-engah mendekati kami dan membawa kabar buruk tentang gadis manis bak putri raja Hyuuga Hinata.
"Sasuke, cepat ke UKS... Hinata pingsan, aku tak tau Naruto dan Neji berada dimana"
"Ck, bukankah tadi Dobe bersama Hinata? Kemana dia? BAKA DOBE!"
Kulihat expresi marah mendominasi di wajah tampan penuh akan pesona itu. Ia langsung beranjak pergi tanpa berkata apapun padaku. Lagi-lagi aku menelan kekecewaan. Padahal tadi ia berucap ingin mengantarku bukan? Keadaanku pun tak jauh berbeda dengannya, Aku juga sedang sakit! Ternyata aku memang bukanlah siapa-siapa baginya.
Aku tak berhak memprotes dirinya yang lebih mementingkan Hinata daripada diriku. Dibandingkan dengan Hinata, aku hanyalah seorang wanita biasa yang tak masuk hitungan olehnya.
"Kau adik Sasori kan? Biar kuantar kau pulang" Ujar pemuda bernama Sai itu tiba-tiba.
Aku masih diam tak merespon tawarannya, hanya memamerkan senyum tipis kearahnya. Menekan rasa sakit yang menjalar di dadaku.
Karena aku tak sanggup untuk berucap, jika satu kata saja yang keluar dari mulutku, mungkin air mata yang sejak tadi kutahan akan mengalir jatuh dari sudut mataku.
Aku berusaha untuk beranjak dari dudukku, mengabaikan rasa pusing yang semakin menjadi di bagian kepala. Tubuhku limbung kebelakang.
PUK
Seorang menahan tubuhku dari belakang, tubuh kekarnya memeluk tubuh kecilku. Aku mendongak, melihat siapakah dia. Kulihat manik jade yang teduh namun memandang penuh kekhawatiran kearahku. Seakan mengatakan 'Apa yang telah terjadi?'
"Biar aku saja yang mengantarnya pulang" Ucap Gaara-senpai kepada Sai.
"Baiklah, lagipula aku sudah ada janji dengan Ino akan mengantarnya pulang sekarang. Aku tertolong berkat kedatanganmu Gaara. Jaa, aku pergi dulu"
"Hn"
Sai berlalu pergi meninggalkan kami berdua.
Sreeett
Tiba-tiba Gaara menggendongku bridal style. Lalu menarik tubuhku semakin dekat dengannya, ia seakan tau jika saat ini hatiku rapuh. Mendekatkan bibirnya ditelingaku, sebuah kata yang terucap dari bibirnya bagai alunan lagu sedih menyayat hati.
"Menangislah jika kau ingin, akan kupinjamkan dadaku"
Sontak kukalungkan tanganku di lehernya, memeluk erat dirinya, lalu menumpahkan semua air mata yang tak dapat kubendung lagi. Menangis terisak dipelukannya. Gaara tak berkata apapun lagi, ia mulai melangkah membawaku pergi meninggalkan halaman belakang sekolah.
.
.
.
.
.
.
Waktu terus berjalan, padahal rasanya baru kemarin aku mengenalnya. Namun masa hukumanku sudah memasuki hari ke 5.
Jam 4, Aku telat... Gara-gara menumpahkan cairan yang disediakan untuk tes tadi Orochimaru sensei menghukumku membereskan ruang labotarium seorang diri. Aku berlari sekuat tenaga, apakah ia sudah datang? Apakah masih menungguku? Bolehkah aku berharap jika ia masih menungguku?
Langkahku terhenti, sontak bersembunyi di balik pohon Momiji ketika melihat dua orang manusia yang berbeda genre berada tak jauh dariku. Ya, Sasuke dan Hinata, sedang apa mereka berdua disana? Sebelah alisku terangkat, berusaha menajamkan pendengaranku.
"Aku menyukaimu, Hinata"
DEG
Mataku membulat, jantungku berdetak tak seperti biasanya. Liquid bening menetes melalui sudut mataku. Sakit?! Bahkan lebih sakit dibanding luka gores terkena pisau. Kami-sama kenapa kau terus menerus memperlihatkan hal yang membuat hatiku sakit.
"Maaf, Sasuke -kun. Bukankah kau sudah tau, aku dan Naruto-kun berpacaran. Aku tak bisa menerimamu." Kulihat Hinata merunduk meminta maaf padanya.
"Tak bisakah kau menerimaku, Hinata. Menjadi kekasih keduamu pun tak jadi masalah buatku" Ucapnya lirih. Mencengkram pundak sang gadis.
Perkataannya sukses membuat mulutku menganga. Bukankah ia seorang pemuda yang dingin, kasar dan selalu seenaknya. Tak kusangka di depan Hinata ia luluh bagaikan sebuah boneka yang bisa diperlakukan apa saja oleh pemiliknya.
"Maaf,Sasuke -kun... aku tak bisa, sebaiknya kau lupakan saja aku. Permisi" Setelah berucap ia pergi meninggalkan Sasuke yang diam membatu.
Kulihat tubuhnya bergetar, dan jatuh bersimpuh diatas tanah. Tangannya berulang kali memukul tanah. Terdengar jelas ia mengeluh sakit yang ia rasakan di dadanya.
"BRENGSEK! Sejak dulu hanya DOBE yang menarik perhatianmu, apakah pesona Uchiha yang kumiliki tak bisa menyainginya?" Ucapnya lirih dan bergetar.
Kami-sama, begitu besarnya kah kau mencintainya. Apakah masih ada ruang kosong dihatimu untuk gadis lain yang menaruh hati padamu Sasuke?
Aku berlari meninggalkan dirinya sendirian. Derai air mata masih setia mengalir di pipiku.
BRUUKK.
Karena tak memperhatikan jalan aku menabrak seseorang, tangan kekarnya menahan tubuhku yang limbung. Kudongakkan wajahku menatapnya. Manik jadenya membulat ketika melihat wajahku, ia langsung menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Hanya mengatakan sebuah kata, dan berhasil membuatku menangis terisak dalam pelukannya.
"Menangislah"
Sabaku no Gaara lagi-lagi meminjamkan dadanya untukku. Kadang membuatku berfikir, kenapa pilihan hatiku tak jatuh saja padanya. Andai aku mengenalmu lebih dulu dibanding Sasuke. Mungkin hatiku akan jatuh padamu Sabaku no Gaara.
.
.
.
.
.
.
BRAK
Pintu kelas terbuka lebar, dentuman bunyi pintu yang kencang menghantam tembok karena ulah gadis blonde yang membuka kasar pintunya. Ia langsung menghambur masuk berlari kearahku membuat seluruh anak di dalam kelas menoleh kearahnya.
Ino langsung memelukku erat, "Syukurlah kau tak apa-apa" Ucapnya, menghela nafas lega.
Aku menaikkan sebelah alisku ,"Ada apa memangnya?" Tanyaku heran dengan sikap anehnya. Ia melepas pelukanku.
"Sai -senpai kemarin bilang padaku kau sakit? Aku mencemaskanmu, Baka"
Ino berkata dengan nada yang khawatir, aku terkekeh pelan.
"Aku baik-baik saja, itu sudah 2 hari yang lalu pig, kau telat" Aku memutar bola mata bosan. "Tapi tak kusangka kau jadi dekat dengan Sai -senpai sejak saat bertemu di kantin"
Ino tersipu malu, lalu tersenyum, "Ya, berkatmu. Hehe"
Aku senang jika kau senang, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Kau beruntung Ino, pemuda yang kau sukai membalas cintamu. Tidak seperti aku yang bertepuk sebelah tangan dengannya. itu membuatku sedikit iri denganmu.
.
.
.
.
.
.
Hari ini hari terakhir masa hukumanku, dan kebersamaanku dengannya. Apakah dia baik-baik saja setelah kejadian itu ia menjadi lebih pendiam. Aku terus memunguti daun momiji yang mengering.
"Biar kubantu"
Ia tiba-tiba berdiri di depanku, memakai sarung tangan dan memunguti daun momiji satu persatu, melirik kearahku.
"Eh?"
"Kenapa diam?Cepat bantu aku BAKA PINKY" Sewotnya yang melihat aku diam tak membantunya.
"Hai "
Aku menghampirinya, entah mengapa senyum merekah diwajahku. Sepertinya hatinya sudah lebih baik daripada sebelumnya. Meski hatiku pun tak jauh berbeda dengannya, tapi ketika melihat dirinya yang kembali seperti biasa membuat hatiku senang melupakan rasa sakit dihatiku sejenak.
Hosh... Hosh... Hosh.
Selama dua jam penuh kami bekerja tanpa istirahat, aku meraup oksigen sebanyak -banyaknya. Kubaringkan tubuhku di hamparan rerumputan dibawah pohon momiji. Dia memposisikan duduk disampingku. Menenguk air minum botolnya.
"Minumlah" ia menyodorkan bekas minumannya yang masih setengah beranjak duduk, mengambilnya.
"Arigatou, Sasuke-senpai "
Sejenak kulihat lubang botol bekas bibirnya menempel tadi, wajahku memerah seperti tomat kesukaannya, lalu meminumnya, kusebut ini sebagai ciuman tak langsung darinya.
.
.
.
.
.
.
Waktu berjalan dengan cepat, sudah hampir 6 bulan aku mengenalnya. Lihat! Bunga momiji yang berguguran di musim gugur beberapa bulan lau, kini mulai berbunga kembali. Sekarang waktunya bunga musim semi yang bermekaran, dan jatuh berguguran. Bunga yang identik sama dengan warna rambutku ini sangat indah dan cantik.
Hari ini kami semua akan merayakan hari kelulusan Kakakku, Sasuke, Naruto, Neji, Gaara dan Sai yang akan melanjutkan studinya ke Universitas. Kami semua akan datang menikmati hanami di taman Konoha. Sudah kuputuskan akan mengatakan perasaanku hari ini.
Entah mengapa kakiku melangkah menuju halaman belakang sekolah, meski bunga momiji belum menampilkan warna yang indah saat ini. Langkahku terhenti saat mendapati Sasuke- senpai yang tertidur dengan posisi duduk bersandarkan pohon disana. Aku mendekatinya, ikut berjongkok si depannya. Tersenyum tipis melihat wajah manisnya ketika tidur saat ini.
"Aku menyukaimu Sasuke-senpai" gumamku pelan secara tak sadar.
"Maaf"
Mataku membulat ketika mendengar suara dari bibirnya. Perlahan matanya terbuka dan menampakkan sepasang Onyx yang hitam kelam namun indah. Ia menatap mataku intens, membuatku memalingkan wajah kesamping karena malu. Ia lalu beranjak berdiri, sebelum pergi meninggalkanku sekali lagi mengatakan hal yang benar-benar membuat hatiku hancur berkeping-keping.
"Sudah ada seorang gadis yang kusukai, lupakanlah aku"
Ia berlalu meninggalkanku sendirian... pernyataannya sukses membuat liquid bening menetes jatuh dipipiku. Sejak bertemu denganmu aku tau takkan bisa menggapaimu. Tapi... kenapa aku masih nekad mengejar bayangmu yang tak pernah bisa kugapai. Jawabannya hanya satu... Aku mencintaimu Sasuke-senpai meski hatiku hancur karenamu.
Pertama kali menyatakan cintaku padanya saat musim semi hari kelulusannya aku harus menelan bulat -bulat kekecewaan, namun perjuanganku masih tetap berlanjut.
.
.
.
.
.
.
Sejak saat itu aku hanya bertemu dengannya di toko dessert milik keluarga Hinata. Menjalani rutinitas part time ku disana. Hari ini aku berjanji bertemu Gaara di sebuah cafe. Ia ingin mengatakan sesuatu yang penting katanya. Berulang kali aku melihat jam di tanganku, jam 7 malam. Aku langsung pergi setelah pekerjaanku selesai. Tapi ditengah jalan Hinata menelponku.
Aku mengernyit baru tadi kami bertemu, "Ada apa Hinata-chan? Heee?" Aku terbelalak tak percaya, "Bagaimana bisa Naruto melamarmu, kita masih sekolah kan?"
Aku memijit jidatku perlahan, katanya mereka akan bertunangan dulu untuk sementara waktu. Setelah Hinata lulus mereka akan menikah. Sontak terlintas sosok Sasuke di kepalaku.
"Bagaimana dengan Sasuke-senpai ...maksudku apa dia sudah tau... AARRGGHH SIAL!"
Klik
Aku segera mematikan sambungannya ketika ia bilang sudah memberitahu Sasuke barusan. Aku segera mencari sosoknya sampai melupakan Gaara yang sedang menungguku di cafe.
Dia masih mencintainya sampai saat ini, aku tau dimatanya hanya ada dia. Berulang kali jari lentikku menekan nomernya, tapi nihil hanya mesin penjawab yang menjawab panggilanku.
"Kau pergi kemana! Sasuke- senpai"
Setelah beberapa jam akhirnya aku menemukannya, berdiri di bawah pohon Momiji yang selalu mekar tak mengenal musim di atas bukit Konoha. Ia selalu pergi kesini jika ingin menyendiri. Hanya aku yang tau kebiasaannya ini, mungkin aku seorang penguntit. Aku terus melangkah mendekatinya.
"Kenapa tak menjawab telponku, Sasuke-senpai?"
Ia tak menjawab, tatapannya sendu, kosong seperti tak ada pancaran kehidupan disana. Kuulurkan tanganku menyentuh pipinya, basah?Kulihat jejak air mata masih membekas di pipinya. Kami -sama kenapa bukan aku gadis yang ia tangisi?Kenapa bukan aku gadis yang dicintainya? Jika begitu aku akan sangat bahagia, mati pun rela jika dia memilihku sebagai gadis yang dicintainya.
Aku memeluk dirinya yang kini rapuh,andai kau tau Sasuke 'AKU LEBIH MENCINTAIMU DIBANDINGKAN WANITA ITU.' Tapi kenapa hatimu hanya tertuju padanya, padahal kau pun tau cintanya bukan untukmu. Aku menangis terisak memeluknya, sedikit menarik baju di pundaknya.
"Aku mencintaimu Sasuke- senpai, sejak dulu" Ucapku lirih.
Tanpa sadar aku mengungkapkan perasaanku sekali lagi. Namun bukan penolakan yang kudengar dari mulutnya kali ini, tapi sebuah jawaban yang akan mengukir kehidupanku yang baru penuh akan luka dan kesedihan.
"Menikahlah denganku... Sakura"
Nafasku tercekak di tenggorokan, pikiranku melayang entah kemana, otakku tak mampu untuk berfikir. Pertama kalinya ia memanggil namaku, tubuhku merespon dengan sendirinya, kepalaku mengangguk tanpa berfikir ulang.
"Ya" Hanya satu kata yang terucap dari bibirku. Menerima lamarannya.
Saat itu aku tak menyadari, jika tanpa sadar aku pun melukai hati seorang pemuda yang terus menungguku di tempat yang kami janjikan. Sabaku no Gaara yang setia menunggu kedatanganku yang tak kan pernah datang menemuinya. Diwaktu yang sama aku telah menyakiti pemuda yang tulus mencintaiku sebelum ia sempat mengungkapkan perasaannya padaku.
.
.
.
.
.
.
"TIDAK" Suara lantang nii-chan terdengar nyaring di dalam ruangan apartemen kami.
"Kumohon nii-chan, ijinkan aku menikah dengannya. Kumohon" pintaku memohon restu darinya. Dan sukses menerima deathglare darinya.
"Kau gila Sakura! Kau masih sekolah! Dan lagi dia tak mencintaimu, dia hanya menjadikanmu pelampiasan" Lirihnya, menatapku sendu.
"Aku tau itu nii -chan" Jawabku tegas.
"Lalu kenapa kau masih ingin menerima dirinya?" Ucapnya lirih. Menahan amarah yang semakin memuncak.
"Aku mencintainya nii-chan, sampai tak tertahankan"
Sasori-nii hanya memandangku sendu, sebelum pergi meninggalkanku ia mencoba mengingatkanku.
"Kau akan menyesal suatu hari nanti Sakura, meski kau memiliki raganya tapi hatinya bukan untukmu. Lakukanlah sesukamu" Selesai berucap ia berlalu meninggalkanku sendiri.
"Cinta tak harus memiliki, itu kan maksudmu nii -chan, tapi aku ingin memilikinya meski hatinya bukan untukku"
.
.
.
.
.
.
Angin yang berhembus kencang mengombang ambing helaian soft pink ku. Langit yang tadinya cerah kini tertutup awan hitam. Aku berdiri bersandarkan pagar pembatas di atas atap sekolah. Mendongak ke langit, melihat awan hitam yang akan segera memuntahkan isinya, disertai gemuruhnya suara geledek dan kilatan petir.
Tes... tes...
Setetes rinai hujan mulai jatuh menyentuh permukaan kulit wajahku yang putih sehalus porselin. Aku tak bergeming dari tempatku, banyak hal yang kupikirkan saat ini.
BRAK
Aku menoleh kesumber suara, ketika mendengar suara pintu atap yang dibuka paksa. Terlihat seorang gadis kuning blonde berjalan mendekatiku dengan raut wajah yang terlihat marah.
PLAK
Dia menampar pipi kiriku ketika berdiri tepat dihadapanku, aku cukup terkejut dengan tindakannya. Ingin marah ,namun niat itu menghilang ketika melihat liquid bening mengalir dari sudut manik shappirenya yang indah.
SRET
Ia menarik tubuhku kedalam pelukannya. Memelukku erat dan hampir meremukkan tulangku.
"Kenapa?... kenapa kau selalu menyimpannya sendiri? Aku sahabatmu bukan? Kau tak pernah menceritakan masalahmu padaku, selalu tersenyum di depanku guna menutupi kesedihanmu, memutuskan sesuatu tanpa berunding dulu denganku! Jujur aku kecewa padamu... juga pada diriku. Kenapa aku tak tau selama ini kau selalu menyimpan seribu luka dan kepedihan yang amat mendalam sampai akupun ikut merasa sakit ketika mendengar kenyataan pahit tentang kisahmu dari mulut orang terdekatmu"
'Ah, pasti nii-chan yang menceritakan semuanya pada Ino' Batinku.
Semakin lama rinai hujan semakin banyak menetes. Seakan mewakili diriku menangis. Bibirku terangkat menyunggingkan sebuah senyuman tipis, aku membalas memeluknya.
"Maaf" Aku menenggelamkan wajahku dipundaknya. Mencengkram erat punggungnya.
ZRASSSSHH
Air hujan yang menetes kini semakin lama semakin deras menetes membasahi seluruh pakaian yang kami gunakan. Ino semakin memeluk erat tubuhku menangis terisak. Begitu juga diriku.
Kami berdua tak berniat beranjak untuk sekedar berteduh meski langit seakan mengamuk dengan kilatan petir dan suara geluduk yang terdengar kencang sampai memekakkan telinga.
Inikah yang disebut jalinan persahabatan?Aku bersyukur mempunyai sahabat sepertinya. Meski cerewet dia rela menumpahkan air matanya untukku, ikut merasa sakit atas penderitaanku.
.
.
.
.
.
.
Akhirnya inilah akhir keputusan yang kuambil, kuputuskan berhenti sekolah dan menikah dengannya. Melawan perintah kakakku dan mengecewakan dirinya. Aku hanya ingin berada disampingnya, hanya ini kesempatan yang kumiliki untuk berada disisinya. Kami-sama aku minta maaf atas keegoisanku, aku telah banyak membuat orang lain menderita.
Kami tak melakukan pesta pernikahan, aku dan Sasuke hanya menyerahkan dokumen data diri masing-masing dan menyerahkannya ke kantor pencatatan sipil setempat. Lalu mulai menjalani hidup berdua di apartemen milik Sasuke.
Sasuke sendiri memutuskan berhenti kuliah dan bekerja di salah satu perusahaan furniture terbesar di Konoha. Karena ia mempunyai jiwa pembisnis yang kuat sehingga kini ia diangkat menjadi karyawan tetap disana. Sedangkan aku, kini bekerja di salah satu klinik anak dekat apartemen kami.
Sejak memutuskan menikah, aku belum bertemu dengan Sasori-nii lagi. Aku sudah tak punya muka untuk sekedar bertegur sapa dengannya. Betapa buruknya diriku, lebih mementingkan orang yang dicintai daripada kakak kandung yang menyayangiku dengan sepenuh hati yang rela bekerja mati-matian hanya untuk membiayaiku sekolah dan kehidupan sehari-hari, guna menggantikan peran orangtua ku yang pergi meninggalkan kami berdua beberapa tahun silam. Air susu dibalas dengan air tuba, mungkin itu pribahasa yang cocok untukku. Maaf... kata itu yang terus teriang dikepalaku hingga saat ini yang belum sempat kusampaikan di usia pernikahanku yang masih seumur jagung.
"Tadaima"
"Okaeri, Sasuke-senpai "
"Biasakan memanggilku dengan suffix 'kun' Sakura. Kita bukan murid sekolah lagi" Ia mendekat dan mencium jidat lebarku, "Kau kini istriku, Uchiha Sakura" Ujarnya seraya memamerkan senyum tipis diwajah coolnya.
Kami -sama, bolehkah aku merasa bahagia atas pernyataan yang keluar dari bibirnya. Dia mengakuiku sebagai istrinya meski tak pernah mengucapkan kata cinta padaku. Biarlah itu sudah cukup bagiku, diakui keberadaanku olehnya sudah membuatku senang.
Aku menghambur memeluk dirinya."Sasuke-kun, bolehkan aku memanggilmu begitu seterusnya?"
"Hn... tentu"
Aku menenggelamkan wajahku di dadanya, hatiku mendesir, kini bukanlah tangisan kesedihan yang keluar dari manikbemeraldku, tapi aku menangis bahagia di pelukannya. Sudah lama aku menanti datangnya hari ini. Berharap ini bukanlah mimpi sesaat, yang jika kuterbangun akan jatuh ke jurang kesedihan yang sama.
Sasuke melepaskan pelukanku, mengulurkan tangannya menghapus jejak air mataku, Onyx dan emerald kami bertemu. Jarinya kini berada tepat di daguku, mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku.
Ciuman pertama yang ia berikan setelah satu tahun pernikahan kami. Ciuman yang awalnya lembut kini menjadi lumatan, sebelah tangannya kini pindah kebelakang punggung kepalaku dan sebelahnya lagi melingkar di pinggangku.
Akupun mengalungkan kedua tanganku di lehernya. Kini ciumannya berubah menjadi lumatan, lidahnya masuk menjelajahi isi mulutku, berusaha mencari lidahku dan mengajaknya berdansa di rongga mulutku.
Mengabsen seluruh gigi putihku dan kadang dihisap lalu digigit kecil bibir bawahku. Tangannya pun kini bergerak liar meremas kedua tonjolan di dadaku.
"Nnggghhh... ah"
Aku mendesah pelan atas perlakuan sensual yang ia lakukan padaku. Ia melepas pagutannya mencari pasokan oksigen, sisa-sisa benang saliva jatuh menetes dari selah bibirku.
"Kyaaaa...!"
Tiba-tiba ia menggendongku ala bridal style. Menjilat sisa benang saliva di bibirku. Lalu berkata...
"Kita lanjutkan di kamar, melakukan malam pertama yang sempat tertunda"
Bluuussshhh
Wajahku memerah bagai buah tomat kesukaannya. Aku sontak menyembunyikan wajahku di didadanya, aku mendengar ia terkekeh geli melihatku yang tersipu malu. Lalu ia membawaku ke kamar dan melakukan malam pertama kami.
Saat itu aku menjadi seorang wanita sepenuhnya. Selama satu tahun hidup bersama dengannya aku baru merasakan menjadi seorang istri yang sesungguhnya malam itu.
Malam indah yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku, meski sampai akhir kegiatan kami di atas ranjang ia tak pernah mengatakan 'Cinta' padaku. Tapi cukup membuatku merasa bahagia.
"Berjanjilah Sasuke-kun, tetaplah berada di sampingku"
"Hn... aku janji."
Saat itu aku bahagia, sangat bahagia. Membiarkan diriku hanyut akan janjinya padaku. Tanpa tau kepedihan yang berkepanjangan menantiku sebentar lagi.
.
.
TBC
Arigatou buat semua silent reader dan kalian semua yg udah R&R. Next chap terakhir.
