NB: AKHIRNYA INI CHAP TERAKHIR DARI CERITA INI, SEMOGA READER & SILENT READER PUAS DENGAN END NYA. OK, AKU GA AKAN NGOMONG PANJANG LEBAR. DLDR

.

.

.

.

.

Huek... Huek...

Entah sudah berapa kali aku keluar masuk kamar mandi saat berada di klinik anak tempatku bekerja. Kepalaku pusing, perutku mual.

"Sakura-chan, apa kau kurang enak badan?" Tanya seorang wanita paruh baya berhelai kuning blonde dikuncir satu, sang pemilik klinik menghampiriku. Paras wajahnya yang cantik tak luput dimakan usia.

"Entahlah, Tsunade - ba-san, sudah satu minggu terakhir aku tak enak badan" Ujarku lesuh tak bertenaga.

"Biar kuperiksa"

Ia menuntunku berjalan, membawaku ke ruang prakteknya. Dengan teliti ia memeriksa keadaan tubuhku. Ekspresi wajahnya tiba-tiba terlihat senang, aku terlonjak kaget ketika ia menghambur memelukku. Tepat di depan kupingku ia membisikkan dua kata yang membuat diriku tercekak tak percaya.

"Kau hamil Sakura, selamat"

"Benarkah?" jawabku sedikit tak percaya

Aku mempererat pelukannya. Liquid bening menetes begitu saja dari sudut mataku. Kami-sama terimakasih.

.

.

.

.

.

.

.

.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Author : Hani Yuya

Judul : My Wish, Kimi no Soba ni Iru Kara.

Rate : T+

Pairing : Sasusaku, slight Sasuhina - Gaasaku.

Gendere: Romance, Angst

A/N : Sebenernya ini fanfic pesenan reader yang udah lama blum kubuat... inti ceritanya dia yang buat. Aku cuma menjabarkan jadi sebuah crita. Gomenne veronica septiana... baru buat sekarang. Semoga tak mengecewakan.
.

.

.

.

.

.

.

Tik... Tik... Tik...

Suara detik jam mengalun pelan, sejak pulang dari klinik anak aku tak berhenti tersenyum. Tak sabar menunggu kepulangannya dan memberitau bahwa aku mengandung anaknya.

Aku duduk di depan meja kotatsu(meja penghangat asal jepang) menyilangkan kedua tangan di atas meja untuk bantalan kepalaku.

Berulang kali kulirik jam yang nenempel di dinding. Jam 10 malam, dia belum juga pulang? tak biasanya ia pulang telat. Hatiku kini gelisah, terlintas firasat buruk di benakku. Kami-sama semoga dia baik-baik saja.

Tok... Tok...

Suara ketukan pintu membuatku terbangun, kulihat jam dinding sekali lagi. Ah, jam 12 malam, aku ketiduran. Aku lekas membukakan pintu untuknya.

"Okaeri Sasuke-kun" Ujarku semangat, ketika pintu kubuka.

Ia terkesiap,"Hn, tadaima" Jawabnya seraya mengecup jidat lebarku sekilas.

Kulihat wajahnya yang terlihat lelah, jadi kuurungkan niatku untuk memberitaukan tentang kehamilanku. Dia butuh istirahat, aku tak mau dia jatuh sakit karena kelelahan nantinya.

"Mandilah dulu Sasuke-kun, aku akan membuatkan makanan untukmu"

"Hn" Ia mengangguk dan segera beranjak pergi ke kamar mandi, menuruti setiap perkataanku. Membuatku tersenyum tipis dibuatnya.

Kini bolehkah kuberharap akan perasaanmu padaku Sasuke-kun.
.

.

.

.

.

.
Entah kenapa sudah beberapa hari ini ia pulang telat kerumah. Sasuke-kun hanya bilang...

'Akhir-akhir ini aku disibukkan dengan permintaan klien yang menumpuk, Sakura. Jadi aku sering pulang telat karena menyelesaikan itu semua, itu sudah menjadi tanggung jawabku'

Meski hatiku gelisah aku tetap ingin percaya padanya. Sampai hari itu aku mengetahui sesuatu, yang membuatku harus menelan kenyataan yang pahit sekali lagi.

"Sasuke -kun, kau mau kemana?" Tanyaku heran ketika melihat ia tergesa-gesa memasukkan baju ke dalam koper miliknya.

"Aku akan ditugaskan ke Suna untuk 1 bulan, Sakura" Ujarnya tanpa menoleh ke arahku yang berdiri di belakangnya.

"Satu bulan! Itu lama sekali Sasuke-kun! Kau tak pernah memberitahuku sebelumnya?" Jawabku kesal, seraya mengembungkan pipiku. Lalu melangkah mendekatinya dan berdiri tepat di sampingnya.

Sasuke mendesah pelan, berhenti sejenak, lalu menoleh kearahku. Ia mengangkat tangannya ke atas kepalaku dan mengacak pelan helaian merah mudaku.

"Hn, maaf... aku sendiri baru mendapat kabar tadi sore" Jawabnya dengan raut wajah penuh akan penyesalan.

"Kapan kau berangkat?"

"Besok pagi"

Aku langsung menghambur memeluk tubuh kekarnya dengan sangat erat, seakan tak rela akan kepergiannya. Entah mengapa aku merasa ini pelukan terakhirku untuknya.

"Kembalilah secepatnya Sasuke-kun, karena aku kini mengandung anakmu"

Aku merasakan ia balik memelukku erat, aku senang ia merespon perkataanku. Kami-sama kuharap waktu berhenti sekarang, aku tak ingin melepas pelukannya. Perasaan senang sekaligus sedih menjalar di hatiku. Senang karena ia balik memelukku erat seakan tak ingin pergi meninggalkanku sendiri, sedih karena dalam jangka waktu panjang ia pergi tugas meninggalkanku.

"Arigatou, Sakura"

Namun dua kata yang keluar dari bibirnya membuat hatiku tenang. Tanpa tau keesokan harinya tak sengaja aku melihat message di handphone genggamnya. Membuatku terbelalak tak percaya ketika membacanya.

'Sasuke-kun, aku butuh pertolonganmu. Kumohon datanglah ke apartemenku. Hinata'

Ah, aku lagi-lagi menelan kekecewaan, wanita yang dulu dicintainya kini hadir kembali ditengah-tengah kami.

Hei, kau bilang ditugaskan pergi ke Suna bukan? Ah, aku tau, itu hanya alasanmu untuk pergi menemuinya, bukankah begitu Sasuke-kun?

Aku mengantar kepergianmu, menahan semua rasa sakit dan kecewa yang menjalar di setiap lubung hatiku. Jadi ini alasannya kau tak pernah mengucapkan kata cinta untukku.

Jika kau tak menyukaiku kenapa kau mau menikahiku?

Oh... kami sama... untuk kedua kalinya kau patahkan harapanku, berharap pada janji semu yang pernah terucap dari mulutnya. Namun kini ternyata dia masih tetap mengharapkan cinta dari wanita yang dulu ada dihatinya.

.

.

.

# Flashback Off #

.

.

.

.

Hari berganti begitu cepat dari musim semi sampai musim gugur, 9 bulan sudah kau tak pernah pulang ataupun memberikanku kabar tentang keberadaanmu. Apakah aku benar-benar sudah tidak bisa menjadi satu-satunya wanita dihatimu Sasuke-kun. Padahal kini aku telah mengandung anakmu.

Kami sama berikan aku kekuatan untuk tetap mempertahankan bayi yang kukandung ini, Karena aku tetap akan melahirkannya, lalu menunggu kepulangannya.

Ahh, tapi aku tak yakin kita akan sempat bertemu nanti. Tapi tak apa, aku percayakan anakku padamu Sasuke -kun.

Andai kau tau... 'AKU MENCINTAIMU SASUKE KUN MELEBIHI CINTAMU PADANYA '

Liquid bening terus mengalir dari manik emeraldku bak air yang menganak sungai, kubuka mataku yang sejak tadi terpejam, mengingat pedihnya perjalanan cintaku yang bertepuk sebelah tangan.

Semoga di kehidupanku selanjutnya kaulah yang menaruh hatimu padaku. Itulah akhir dari permohonanku, kumohon Kami-sama kabulkan permintaanku untuk terakhir kalinya.

.

.

#Sakura Pov Off#
.

.
.

.

.
"Sakura, apa yang kau lakukan disini? Aku mencarimu kemana-mana... Hosh... Hosh"

Seorang pemuda berhelai merah dengan tato Ai di wajahnya terlihat tergesa-gesa, keringat bercucuran dari manik jade nya. Ia menghampiri sang wanita dan mengalungkan selimut yang ia bawa guna menutupi tubuh sang wanita yang sedang duduk bersender dibelakang pohon Momiji.

"Apakah sudah waktunya, Gaara kun?" Ujar sang gadis dengan wajah sendu.

Pemuda yang dipanggil Gaara itu, menggigit bibir bawahnya kencang, matanya berkaca-kaca, melihat raut wajah sang gadis yang terlihat pucat, Lalu menghambur memeluknya.

"Aku mencintaimu Sakura, aku bersedia menggantikan 'Dia'... dan selalu berada disampingmu. Aku juga tak kan pernah meninggalkanmu sendirian. Jadi kumohon... batalkan keputusanmu!"

Gaara mempererat pelukannya, memeluk erat sang wanita bersurai merah muda yang rapuh saat ini. Meyakinkan sang wanita kalau masih ada pria yang mencintainya dengan setulus hati.

"Arigatou, Gaara-senpai. Ini sudah menjadi keputusanku, terimakasih selama 6 bulan ini kau selalu menemaniku, berkat kau aku hidup sampai saat ini. Kau selalu mencari cara agar aku tersenyum dan itu sukses membuatku lupa akan dirinya meski sesaat. Sejak dulu sampai saat ini aku selalu membuatmu repot. Dan tak pernah bisa membalas semua kebaikan yang kau berikan padaku. Maaf aku tak bisa membalas perasaanmu. Sejak dulu sampai saat ini hanya dia yang kucintai, meski ia tak pernah mencintaiku"

"Begitu besarnya kah cintamu padanya Sakura?"

Jatuh sudah air mata yang sejak tadi ditahan sang pemuda bertato Ai ini. Menumpahkan seluruh rasa sakit didadanya, melihat wanita yang dicintainya sejak dulu kini semakin rapuh, bahkan kehilangan cahayanya.

"Ya, jika perlu aku bersedia mati untuknya" Jawabnya tegas tanpa keraguan sedikitpun.

Gaara tak berniat untuk melepaskan ia tau, suatu saat nanti tak akan bisa memeluknya lagi.

'Akupun begitu Sakura, andai aku bisa menggantikan posisimu saat ini' Gaara membatin.

Sakura melepas pelukannya, menatap manik jade Gaara sendu, tangannya terangkat menghapus jejak air mata di pipi pemuda bertato Ai ini.

Cup

Sebuah kecupan di pipi, ia berikan kepada pemuda bertato Ai itu, membuat sang empu terbelalak tak percaya atas perlakuan sang gadis.

"Sekarang bawa aku ke ruangan itu" Pinta sang gadis.

"Ya" Jawabnya lirih.

Gaara membantu Sakura berdiri dan menuntunnya ke ruangan hidup dan matinya. Ya, ruangan operasi.

Sebenarnya ia hamil di luar kandungan, selama ini ia menahan sakit dan berusaha menjaga bayinya sekuat tenaga. Ini adalah buah cinta ia dan Sasuke, Sakura hanya ingin bayinya hidup tanpa peduli dengan nyawanya sendiri. Dokter yang merawat kehamilannya juga sudah memfonis keadaan dirinya dan anaknya.

Hanya salah satu diantara mereka yang selamat, mau tidak mau Sakura harus memutuskan. Dan inilah keputusan yang diambilnya. Ia lebih mementingkan menyelamatkan sang cabang bayi daripada nyawanya sendiri. Sungguh ironis memang, begitu besarnya rasa cintanya pada sang suami dan anak yang ada di rahimnya, sampai ia tak peduli dengan dirinya sendiri..

.

.

.

Sakura menghentikan langkahnya ketika melihat kakak tercintanya dan sahabat wanitanya sudah berada di depan ruang operasi.

"Forehead!" Ino yang melihat Sakura berdiri tak jauh darinya berlari mendekat, lalu memeluknya.

"Kapan kau datang Pig?" Tanyanya heran.

"Aku merindukanmu, aku tak mau kehilanganmu, hiks" Ino mulai terisak di pelukan Sakura, sang gadis blonde terus menerus mengumamkan kata-kata yang ambigu.

Sakura menoleh ke samping, menatap tajam pemuda bertato Ai itu.

"Kau yang memberitau mereka berdua Gaara -senpai?"

"Hn, aku tak bisa menyembunyikan ini lebih lama lagi, terutama dari kakakmu yang cerewet."

.

.

.

Terlihat Sasori masih diam tak bergeming menatap nanar Sakura dari kejauhan. Satu tahun tak ada kabar tentang adiknya, tiba-tiba dikabari hal buruk tentangnya, miris memang.

Seorang kakak mana yang tak akan sedih jika mendengar kabar buruk tentang adik semata wayangnya, satu-satunya orang terpenting dalam hidupnya kini akan segera meninggalkan dirinya menyusul kedua orang tuanya pergi dari dunia ini.

Hatinya bagai tersayat sebilah pisau tajam,bila tergores sedikit saja bisa menimbulkan luka yang amat sakit. Kini liquid bening menetes dari manik jadenya yang indah. Sakura tak sanggup melihat kakaknya menangis. Ia melepas pelukan Ino dan mulai berjalan mendekati Sasori. Tepat dihadapan kakaknya, tangannya terulur menghapus air mata yang masih setia mengalir dari manik jade pemuda baby face itu.

"Maaf... maafkan aku nii-chan..." Ucapnya terisak, menekan bibir bawahnya kencang menahan perasan sesak dihatinya, ia sungguh menyesali perbuatannya yang selama ini sudah menyakiti perasaan kakaknya. Tentang kepergiannya yang lebih memilih bersama orang yang dicintainya dan juga tentang perbuatannya yang tak mengabari kakaknya setahun lamanya setelah memutuskan menikah dengan Sasuke.

"Maaf telah menyakiti perasaanmu, maaf juga telah meninggalkanmu sendiri, dan yang terakhir ... aku minta maaf sering kali membuatmu menangis...hiks." Sakura mencengkram baju bagian depan Sasori kencang, menundukkan wajahnya dan menangis terisak, ia tak sanggup kalau memandang wajah Sasori secara langsung.

Sreet

Sasori memeluknya."Tak perlu bicara lagi! Padahal kau rela meninggalkanku dan memutuskan hidup bersamanya, akan kubunuh Uchiha brengsek itu bila bertemu nanti! Berani sekali ia meninggalkan adikku seorang diri, disaat kau membutuhkan dirinya"

Sasori murka, marah wajahnya kini terlihat sangat menyeramkan. Matanya memicing tajam ketika bicara tentang pemuda raven itu. Ia mengeratkan pelukannya, seakan tak mau lagi kehilangan.

Cukup sudah setelah kedua orang tuanya kini ia harus kehilangan adiknya. Hei, bukankah masih ada yang akan menemanimu nanti Sasori? Anak yang akan lahir dari rahim adikmu, ia yang akan menggantikan Sakura berada disampingmu. Tapi tetap saja tak akan mengisi ruang kosong dihatimu bukan? karena sosoknya tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun.

"Nona Haruno, sudah waktunya" Sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka.

Sakura memejamkan mata sejenak menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Melepas pelukan Sasori, mengecup keningnya pelan. Lalu emerald dan hazel saling menatap. Sakura tersenyum namun air mata menetes dari manik emeraldnya yang indah, Sasori tau itu senyum yang dipaksakan.

"Aku sayang Nii-chan, kau satu-satunya keluarga yang kupunya. Maaf selama ini menyia -nyiakan kasih sayangmu." Lalu Sakura berbalik menghampiri sahabat wanita satu-satunya. Memegang tangannya erat.

"Aku menyayangimu Pig, kau sudah kuanggap sebagai saudara perempuanku dan selamat atas pernikahanmu dengan Sai- senpai, akhirnya kau menikah dengannya, aku turut bahagia meski tak datang di hari pernikahanmu "

Ino menggigit bibir bawahnya, menangis terisak. Memegang kencang tangan Sakura, seakan tak rela untuk melepaskannya. Lalu Sakura melirik Gaara yang berada di samping Ino.

"Andai dulu aku mengenalmu lebih awal Gaara -senpai, sebelum aku mengenal Sasuke-kun. Mungkin aku akan jatuh cinta padamu. Kau pemuda yang baik, siapapun akan jatuh hati padamu. Tapi sayang, takdir berkata lain. Aku mencintainya melebihi apapun di dunia ini. Bolehkah aku meminta sebuah permintaan?"

"Katakanlah Sakura"

Bibirnya bergetar, "Tolong... hiks…hiks… tolong jaga anakku, lindungi dia. Kumohon, jaga dia seperti anakmu sendiri" Sakura terisak, membungkukkan badan memohon pada Gaara.

Gaara mendekat, memegang bahu Sakura, mengangkat badan sang wanita berdiri tegap kembali, menempatkan tangannya ke dagu sang wanita agar lurus menatap wajahnya.

"Tanpa kau suruh aku akan melindunginya sepenuh hati, menjaganya semampuku, bahkan rela mati untuknya, kau tak perlu cemas Sakura." Gaara mengecup jidat lebar sang wanita sekilas, "Aku janji akan selalu berada disampingnya." Lanjutnya.

Sebuah senyum merekah di wajah pucatnya,"Arigatou, Gaara -senpai."

.

.

.

.

.

Sakura pun menjalani operasi besarnya. Sasori, Ino dan Gaara menunggu di luar ruang operasi.

Sasori kini duduk membungkukkan badannya, matanya menatap kosong lantai dibawahnya. Sesekali menghapus air mata yang masih terus menetes dari manik hazelnya. Terbayang berbagai kenangan manis dan pahit tentang kehidupannya dengan sang adik.

Ino yang duduk disebelah Sasori sibuk menelpon seseorang disebrang sana.

"Hiks, Sai -kun cepat kemari, aku tak sanggup bila sendiri disini... hiks, aku belum siap kehilangannya." Ujarnya terisak, lalu Ino terdiam sebentar, raut wajahnya menegang " Dia? Baik kutunggu, bawa dia kemari bersamamu!" klik... ia menutup handpone genggamnya. Menatap nanar daun pintu dimana Sakura mempertaruhkan nyawanya di dalam sana. Sambil berharap dalam hati semoga terjadi keajaiban.

Sedangkan Gaara, dia berdiri tepat di samping pintu, menyenderkan punggungnya membelakangi tembok dan mendongak keatas melihat langit- langit rumah Sakit.

Lalu memejamkan matanya, mengingat lagi awal pertemuannya dengan Sakura semenjak selama satu tahun tak bertemu.

# Gaara Pov On#

.

.

Matahari bersinar lebih terang di awal musim panas ini. Mungkin kini suhu panasnya mencapai 40% celcius bahkan lebih. Gaara berjalan membelai keramaian kota saat jam menunjukkan pukul 12 siang. Keringat bercucuran di pelipisnya, wajahnya memerah karena efek terbakar sinar matahari yang sangat panas dan juga menyilaukan mata.

Disepanjang perjalanan ia bergerutu tak jelas, mulutnya berulang kali mengucapkan sumpah serapah untuk kedua sahabatnya. Gara-gara kalah saat bertaruh tadi, akhirnya mau tak mau ia harus menuruti permintaan Sai dan Sasori untuk membelikan mereka makan siang. Apalagi ia yang harus membayarnya, Gaara mendesah panjang mengucak-ngucak helaian merahnya frustasi.

'Akan kubalas kalian nanti' Batinnya mengancam.

Lalu saat ia ingin masuk ke dalam supermarket, tak sengaja tubuhnya bertubrukan dengan seorang wanita.

Bruuk

"Maaf... aku tak senga...Sakura!"

Manik jadenya terbelalak tak percaya ketika menyadari wanita yang bertubrukan dengannya adalah adik dari sahabatnya Sasori yang sedang mereka cari selama ini.

"Gaara-senpai!"

Sakura pun tak kalah terkejut, seketika raut wajahnya berubah panik, ia mencoba melarikan diri namun Gaara mencengkram lengannya.

"Tck, tunggu, kenapa kau ingin melarikan diri dariku?" Gaara berdecak heran. Apakah Sakura tak merindukan dirinya? Seperti dirinya yang merindukan sang wanita merah muda sepanjang hari, sampai muncul di setiap mimpinya.

"Maaf" Hanya satu kata yang keluar dari bibir merah bak buah cerry itu.

Belum sempat Gaara merespon perkataan Sakura, ia kembali dikejutkan dengan rintihan sang wanita. Sakura memegang perutnya dan merintih kesakitan. Badannya terhuyung ke depan hingga jatuh kepelukan Gara.

"SAKURA! "

Gaara yang panik segera menggendong tubuh Sakura ala bridal style. Menghentikan taksi dan membawanya kerumah sakit. Sejak saat itu ia tau jika Sakura sedang mengandung anak Sasuke.

Bagai tersambar petir, hatinya hancur seketika. Ternyata ini alasan Sakura tidak datang saat dirinya ingin bertemu dengannya dulu, padahal ia terus menunggu sang wanita sampai menjelang pagi. Tapi sayang sang wanita berhelai merah muda ini tak pernah datang menemuinya.

Lalu ia malah mendapat kabar dari Sasori bahwa Sakura menghilang. Ia tak pernah menduga sebelumnya kalau Sakura menikah dengan Sasuke. Pantas saja Sasuke menghilang tepat pada saat ia mendengar hilangnya Sakura.

"Berjanjilah Gaara -senpai, jangan beritau keadaanku pada nii-chan" Mohonnya.

Gaara berjanji akan merahasiakan keberadaannya pada semuanya termasuk anak yang kini dikandungnya berada di luar rahimnya. Padahal resiko kehamilannya sangat tinggi, berulang kali sang dokter menyarankan menggugurkan cabang bayinya namun Sakura bersikeras ingin melahirkannya. Berharap pada keajaiban, semoga bayinya bertahan sampai batas waktu normal seorang ibu mengandung 9 bulan lamanya.

"YA, aku janji "

Sejak saat itu Sakura tinggal dirumah sakit, setiap hari Gaara selalu menyempatkan diri berkunjung kerumah sakit bahkan ia lebih sering berada disana dibanding menjalankan kuliahnya serta bertemu dengan sahabatnya

Ia hanya ingin melewatkan waktu yang pendek namun sangat berarti dengan wanita yang sudah berhasil mengambil hatinya ini semenjak pertama kali bertemu. Namun akhirnya ia tak sanggup membohongi Sasori kakak kandung sang wanita lebih lama lagi tentang keberadaan adiknya dan memberitahukannya tepat saat Sakura menjalankan operasi sesarnya.

Ya, akhirnya Sakura diberi mukzizat, berhasil mempertahankan cabang bayinya sampai batas waktu melahirkan, ditambah lagi bayinya sehat walafiat meski berada di luar rahimnya. Mustahil memang, tapi sepertinya Kami-sama mengabulkan permohonannya kali ini.

.

.

.
#Gaara Pov Off#

.

.

Kreekk

Pintu ruang operasi terbuka, membuat pemuda bertato Ai ini segera membuka matanya. Sasori dan Ino beranjak dari duduknya, berjalan mendekati dokter wanita berhelai hitam pendek sebatas pundak itu.

"Bagaimana keadaan adikku dan bayinya Akane-sensei" Tanya Sasori panik.

Sang dokter menggeleng-gelengkan kepalanya, wajahnya sendu dan terlihat kecewa, "Maaf, kami tak bisa menyelamatkan ibunya, kami hanya berhasil menyelamatkan bayinya. Tapi kami dalam masalah sekarang, bayinya tak mau menangis sejak tadi. Jika tak segera menangis ia pun akan bernasib sama dengan ibunya" Jelas sang dokter panjang lebar.

Huwaaaaa

"SAKURA…hiks..hiks"

Ino menjerit pilu, mendengar sahabatnya sudah tak bernyawa dan meninggalkan dirinya di dunia ini, tiba-tiba ia pingsan tak sanggup menerima kenyataan, refleks Sasori berdiri di belakang Ino,membiarkan tubuhnya menjadi tumpuan berat badan sang wanita blonde. Pandangannya kosong, tangannya mengepal ia pun mulai ikut terisak.

Sedangkan Gaara langsung menghambur masuk ke dalam ruangan tempat Sakura meregang nyawa. Menatap nanar Sakura yang kini terbaring diatas meja operasi dengan manik emeraldnya yang tertutup rapat dan sudah tak bernyawa.

Ia menggigit bibir bawahnya kencang, tangannya mengepal. Lalu segera manik jadenya menoleh menatap bayi mungil yang baru saja lahir di dunia ini, ia mendekat dan mengambil alih menggendongnya. Bayi yang masih dipenuhi cairan merah pekat hampir diseluruh badannya itu belum mengeluarkan air mata setetespun. Tatapannya datar namun terlihat sedih, seakan tau bahwa ia telah kehilangan orang yang telah melahirkannya ke dunia ini.

Manik jade nya menatap lembut manik Onyx sang bayi, "Menangislah"

Hanya satu kata yang terucap dari bibir pemuda merah itu sukses membuat sang bayi menangis.

Ueeee... Ueeee... Ueee...

Ia mengecup jidat lebar sang bayi. "Uchiha Sarada, itu namamu." Lalu berjalan mendekati Sakura,"Lihat, Sakura dia gadis yang cantik seperti dirimu, meski mata dan rambut mirip dengan Sasuke, tapi lihat, jidat lebarnya mirip denganmu bukan?" Gaara tersenyum getir. Liquid bening menetes dari manik jadenya. Nafasnya sesak tercekak di tenggorokan.

"Aku berjanji akan melindungi"

Braakkkk

Suara dentuman pintu yang dibuka paksa terbentur tembok menyita atensi Gaara yang belum sempat menuntaskan kalimatnya. Matanya membulat ketika mendapati sosok seorang pemuda. yang selama ini dirindukan oleh wanita berhelai merah muda bak musim semi itu.

Pria itu berlari tergopoh -gopoh mendekat menuju meja operasi. Bajunya lusuh, keringat membanjiri wajahnya yang tampan, tubuhnya bergetar hebat saat mendapati wanitanya kini tak bernyawa, sekarang hanya seonggok mayat tanpa jiwa di dalamnya.

"SAKURAAAA"

HUUUWAAAAAA

Tangisnya pecah, ia menjerit histeris ,lalu memeluk tubuh wanitanya. Berulang kali memanggil namanya.

"SAKURA... KUMOHON BUKA MATAMU... KUMOHON... JANGAN TINGGALKAN AKU, AKU BELUM SEMPAT MENGATAKANNYA PADAMU BUKAN...? DENGAR...! AKU MENCINTAIMU, SANGAT MENCINTAIMU!JADI CEPAT BUKA MATAMU UCHIHA SAKURA"

Berulang kali Sasuke menggoyang-goyangkan tubuh sang wanita, mengelus wajah cantik bak musim semi itu. Mengecupnya mulai dari jidat, pipi, sampai bibir semerah buah cherry itu. Namun nihil sang wanita tak merespon sama sekali.

Ia menangis terisak, mencengkram erat kedua bahu wanitanya dan menenggelamkan wajahnya di dada sang istri yang sudah tak bernyawa ini.

Gaara menatap Sasuke marah juga kasihan. Ingin rasanya ia melayangkan tinju ke wajah rupawan pria raven itu, namun sayang kini ia masih menggendong bayi kecil buah hati Sakura dan Sasuke.

"JELASKAN PADAKU SASUKE! KENAPA KAU MENINGGALKANNYA SENDIRIAN, HA?" Ujar Gaara dengan nada marah penuh penekanan di setiap katanya.

Sasuke tak merespon pertanyaan Gaara, ia masih menangis terisak memeluk istrinya.

BRAKK

Lagi-lagi dentuman pintu berbunyi nyaring memekkan telinga, terlihat sosok pemuda berwajah baby face datang mendekat dengan raut wajah marah, aura membunuh menguar dari tubuhnya.

"UCHIHA SASUKE, KAU TAK BERHAK MEMELUK ADIKKU. BRENGSEK" Sasori menarik tubuh Sasuke melepas paksa pelukannya dari tubuh sang adik.

DUAK

Sebuah pukulan melayang di wajah tampannya.

DUAK... DUAK... DUAK...

Berulang kali Sasori menghantamkan tinjunya ke wajah tampan Sasuke, hingga luka memar dan darah mengalir dari sudut bibirnya. Sasuke diam tak merespon, ia pasrah diperlakukan kasar oleh kakak iparnya, sahabatnya dulu.

"Kenapa kau tak merespon, hah! Kau menyesal heh, Sasuke.? MENYESAL KARENA LEBIH MEMILIH WANITA LAIN DI BANDINGKAN ADIKKU, JAWAB SASUKE!" Ujarnya dengan nada tinggi penuh penekanan di akhir kalimatnya.

DUAK

Tiba-tiba Sasuke ikut meninju wajah baby face Sasori, seakan tak terima dengan penuturan pemuda baby face itu tentang dirinya. Manik Onyxnya menatap tajam manik jade milik Sasori dengan percikan api amarahnya.

"KAU TIDAK TAU APA-APA SASORI, AKU TAK MENCAMPAKKANNYA... KINI AKU BAHKAN TAK RELA KEHILANGANNYA" Kilatnya marah, Sasuke jatuh terduduk. Kakinya lemas seakan tak bisa menopang berat tubuhnya.

"Saat aku ditugaskan pergi ke Suna, mobil yang kutumpangi mengalami kecelakaan. Kau tau aku hampir mati dulu. Koma selama 7 bulan. Lihat...!" Sasuke menyibak poni yang menutupi sebelah mata kirinya, "Sebelah mataku buta semenjak kecelakaan itu" Ujarnya lirih.

Terlihat luka gores memanjang di bagian mata kirinya. Gaara dan Sasori terperangah tak percaya.

"Saat aku tersadar dari tidur panjagku, hanya Sakura yang terlintas dibenakku. Tak mau membuang waktu lebih lama lagi, aku langsung pulang kerumah,ingin segera melihat keadaannya selama sepeninggalanku. Tapi saat kupulang ia tak ada disana, aku panik dan tak tau harus berbuat apa. Aku mencarinya terus menerus selama 2 bulan terakhir, bertanya pada teman dan juga kerabat dekatnya. Namun nihil. Aku mulai putus asa, tapi tadi Sai menghubungiku. Memberitau keberadaan Sakura padaku, mendengar kabar darinya aku langsung menuju kemari. Berharap bertemu dengannya... hiks" Tangannya mengepal erat menahan perasaan sesak dihatinya, ia kembali terisak.

"Jika kau peduli padanya kenapa tidak kau katakan sebelumnya Sasuke?" Ujar Gaara sendu.

"Ya, ini salahku. Tak pernah mengungkapkan perasaanku padanya" Sasuke bicara dengan nada penuh akan penyesalan.

"Tch, jangan membuatku tertawa dengan omong kosongmu itu Sasuke. KAU HANYA MENGANGGAP ADIKKU PELAMPIASAN BUKAN! KAU SAMA SEKALI TIDAK MENCINTAI"

"AKU MENCINTAINYA SASORI, BAHKAN SANGAT MENCINTAINYA!" Teriak Sasuke lantang.

Sasori masih tak percaya dengan penuturan Sasuke,sekali lagi mencoba mengeluarkan semua asumsinya tentang adik iparnya itu. Namun belum sempat menuntaskan kalimatnya Sasuke memutusnya, manik Onyx Sasuke menatap tajam manik hazel milik Sasori. Tak ada keraguan dimatanya.

Membuat Sasori tergagap, "Kau serius? Sejak kapan?" Kini emosi Sasori mereda, rasa penasaran lebih mendominasinya.

"Entahlah sejak kapan dia mulai masuk dalam hidupku, semenjak menikah dengannya, aku benar-benar tersadar ia wanita yang baik. Rela meninggalkanmu yang notaben kakak kandungnya hanya untuk hidup bersamaku, memutuskan berhenti sekolah dan kerja part time di klinik anak dekat apartemen guna membantuku membiayai kehidupan kami sehari-hari. Selalu tersenyum menyambut kepulanganku, itu semua membuatku sedikit-demi sedikit menaruh perasaan padanya. Hingga kini, sekarang aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku bahagia saat ia bilang telah mengandung anakku. Aku merasa hidupku lebih berwarna karena kami akan kedatangan anggota baru di keluarga kecil kami"

"Lalu... apa alasanmu tak bilang bahwa kau juga mencintainya Sasuke?" Tanya Gaara menggeram kesal.

"Kau tau kan gengsi seorang Uchiha sangat besar" Kini Sasuke menatap Gaara dengan senyum kecutnya,"Aku malu mengungkapkannya, karena dulu aku pernah menolaknya. Berulang kali kuyakinkan diriku untuk berterus terang. Tapi aku tak kunjung mengatakannya. Sekarang aku menyesal tak pernah mengatakan cinta padanya"

"Lalu, kenapa Sakura bilang padaku sebelum kau berangkat tugas ke Suna, Hinata mengirim pesan padamu, kau tidak mengarang cerita kan? untuk menutupi perselingkuhanmu" Gaara menatap tajam mata Sasuke, meminta penjelasan darinya.

"Sasuke tak datang ketempatku!"

Sebuah suara merdu seorang wanita berhelai panjang dengan manik lavendernya menginterupsi mereka. Sontak semua mata menolah pada sosok anggun bak putri raja yang kini berdiri diambang pintu. Dengan pelan ia melangkah mendekati Gaara dan mengambil alih menggendong malaikat kecil buah hati Sakura dan sahabatnya, Sasuke.

"Pagi itu aku memang mengiriminya pesan, karena Naruto-kun butuh bantuannya. Tapi secara halus ia menolak, katanya ia sedang ada tugas luar kota" Ujarnya sendu, menatap Sakura yang kini terbaring di atas meja operasi

"Maaf, Sakura aku telah membuatmu salah paham dengan hubungan kami. Sasuke sering bercerita tentang dirimu padaku. Andai kau tau perasaannya padaku sudah hilang semenjak kau hadir dalam hidupnya, maaf tak pernah memberitaumu tentang ini... karena aku tak pernah tau jika kau menyukainya… hiks " Hinata pun ikut terisak.

"Jadi ini hanya kesalahpahaman?" Ujar Gaara tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Hinata mengangguk, Gaara menoleh ke arah Sakura.

"Kau dengar kan Sakura, kau salah paham. Sasuke juga mencintaimu, kau tidak bertepuk sebelah tangan. Aku turut senang mendengarnya. Kuharap kau tenang disana" Ujar Gaara mengelus wajah Sakura lembut.

Sasori mengulurkan tangannya membantu Sasuke berdiri. Lalu Hinata mendekati Sasuke dan memberikan gadis kecil buah hatinya ke pelukan ayahnya. Sasuke menatap miris bayi wanita di gendongannya.

"Uchiha Sarada, itu nama gadis kecilmu Sasuke, Sakura lah yang memilihkan nama itu untuknya" Ujar Gaara.

Sasuke menatap bayinya dengan raut wajah sedih,"Kau mirip denganku, sepasang manik Onyx, helaian raven... tapi jidat lebarmu mirip ibumu. Selamat datang ke dunia sayang, aku akan menjadi seorang ayah sekaligus seorang ibu untukmu" Berbagai ocehan ia lontarkan. Kadang ia terkekeh pelan disela tangisnya. Perasaan bahagia dan sedih kini tercampur aduk dihatinya. Mengobrak abrik perasaannya.

Sekali lagi ia ingin mengucapkan salam perpisahan pada istrinya untuk yang terakhir kalinya. Ia menidurkan sang bayi tepat di samping tubuh sang istri. Menatap nanar kearahnya.

"Dengar Sakura, anak kita perempuan, dan dia cantik sepertimu." Sasuke menggigit bibirnya kencang tak peduli rasa perih disekitar bibirnya karena ulah Sasori tadi. "Aku berjanji akan menjaganya, tak kan kubiarkan ia bersedih. Aku mencintaimu Sakura, andai kau terlahir kembali, aku pasti tak akan pernah melepaskanmu. Sekali lagi aku akan menjadikanmu milikku. Tak kan pernah mengabaikan ataupun melepaskanmu"

Sasuke kembali mengecup kening, pipi dan bibir wanitanya. Lalu memeluknya erat, sangat erat seakan tak ingin melepasnya untuk yang terakhir kalinya.
.

.

.

Di ruangan lainnya, seorang wanita sedang melahirkan anak pertamanya.

Hue-Hue -Hue...

Suara tangis bayi pecah memenuhi ruangan. Seorang bayi yang baru lahir itu mempunyai helaian merah muda dan manik emerald yang indah.

"Akasuna Sakura, rambutnya sama seperti bunga Sakura yang berguguran di musim semi. Suatu ketika nanti ia akan tumbuh cantik seperti bunga khas jepang itu."

.

.

.

.

.
End

Akan kubuat lanjutan cerita ini dari sudut pandang Sasuke/ Sasuke POV. Minna arigatou udah baca ff gaje ini.R&R