Waktu berjalan terus tanpa henti. Tak terasa sekolah sudah memulai tahun ajaran baru selama tiga bulan. SMP Kunugigaoka, kelas 3-E, sudah melewati banyak hal menyenangkan sekaligus menegangkan bersama dengan makhluk super dengan kecepatan Mach 20, yang mereka sebut Koro-sensei.

Belajar, latihan membunuh, bermain, berjuang bangkit dari diskriminasi, dan masih banyak lagi.

Saat ini, satu hal yang akan dilakukan kelas END ini adalah...

Berusaha menjadi top 50 di ujian mid semester.

.

.

.

Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei

In Dilemma © shichigatsudesu

Chapter 2 : Start!

.

.

.

Ujian mid semester SMP Kunugigaoka akan dilaksanakan seminggu yang akan datang. Meskipun kelas E menerapkan sesi belajar cepat, akan tetapi Isogai merasa ilmu yang didapatkannya masih kurang. Ia tahu bagaimana tingkat kesulitan ujian di sekolah elit yang memiliki level tinggi dibandingkan sekolah lain itu.

Bukannya ikemen itu menyia-nyiakan usaha Koro-sensei. Isogai hanya ingin menambah ilmu.

"Isogai-kun!"

Isogai yang merasa namanya dipanggil segera menoleh ke arah sumber suara. Ia memicingkan mata, mempertajam penglihatannya agar dapat melihat sosok orang yang memanggilnya.

Maklumlah, gedung kelas 3-E tidak memiliki sumber listrik, sehingga saat menjelang sore gedung bobrok itu mulai gelap.

Beberapa saat kemudian Isogai dapat melihat sosok siswi kelas 3-E yang memanggilnya. "Ahh, Nakamura. Ada apa?"

Gadis bermarga Nakamura itu berhenti di hadapan Isogai. Rio tersenyum sebelum menjawab pertanyaan si ikemen.

Bahaya! Isogai tidak bisa mengontrol diri sendiri. Detakan jantungnya semakin kencang saja, sejak saat itu—

—sejak ia menolong Rio dari lubang yang hampir diinjaknya, kemudian memegang lengannya dan menatapnya.

Mengingat itu, Isogai semakin kacau jika berhadapan dengan sosok Nakamura Rio.

"Kau sendirian saja, Isogai-kun? Maehara-kun mana?" tanyanya.

"Ahh, itu..." Isogai bingung hendak menjawab apa, mengingat Maehara sedang bersama pacar barunya saat ini, sehingga Isogai tidak pulang bersama si cassanova. "Maehara ada kencan"

"HAAHH?" Rio terbelalak kaget. "Bukannya dia sudah putus? Sekarang sudah punya pacar baru lagi? Yang benar saja?!"

Isogai memperhatikan Rio yang memberikan pertanyaan bertubi-tubi. Ekspresi terkejut gadis itu sangat lucu, menurutnya. Isogai jadi ingin tertawa.

"Begitulah orang populer macam Maehara" Isogai tertawa seraya melangkah meninggalkan gedung tua yang menjadi tempat belajarnya. Rio mengekornya di belakang.

"Tapi kau juga populer, Isogai-kun"

"Hah?" Isogai merasa bingung.

"Kau populer dikalangan anak perempuan juga kan? Tapi kau kalah dalam hal menggombal sehingga Maehara-kun jauh lebih populer" jelas Rio panjang lebar.

"Menggombal, ya?" ulang si rambut hitam mencuat.

"Hmm. Kau tidak suka tebar pesona, umbar janji atau mengatakan kata-kata manis dengan mudah" tutur Rio pada Isogai, sembari menggunakan jarinya untuk berhitung dan menganggukkan kepalanya sesekali.

Isogai hanya menelan ludah.

"Selain itu, kau memiliki banyak sisi positif dibandingkan Maehara-kun" Rio berucap dengan polos. Isogai semakin merona. "Seharusnya kau jauh lebih populer"

"Ano..." Isogai memecah suasana mendebarkannya. Rio menolehkan kepalanya. "Kau sedang tidak memujiku, kan?"

Rio tertawa. "Tentu saja aku memu—"

Rio menggantungkan kalimatnya, setelah melihat Isogai dengan wajah merahnya. Selang beberapa detik ia terdiam. Tak lama si rambut pirang menyadarkan sesuatu.

"Ahh, maaf, Isogai-kun. Aku- tidak bermaksud"

Rio menundukkan kepalanya, merasa ia telah memujinya berlebihan. Menurutnya, pujian seperti itu terkesan mengejek.

"Tidak apa-apa, Nakamura. Aku hanya malu"

Keduanya pun terdiam. Atmosfer canggung menyelimuti mereka. Rasanya Isogai ingin melemparkan sebuah topik, hanya saja ia tidak tahu topik apa yang dapat membuat gadis di sebelahnya tertarik.

Begitu juga dengan Rio. Ia ingin memecahkan kesunyian di antara mereka berdua. Gadis pirang itu merasa tidak nyaman apabila ia dan lawan bicara sama-sama diam. Mengingat Nakamura Rio itu orang yang ceria dan mudah bergaul, maka situasi seperti ini terasa aneh baginya.

Kesunyian tersebut kini mengantarkan mereka ke gedung utama. Rio hendak berbelok menuju jalan utama, tetapi ketika ia menolehkan kepalanya, Isogai masuk ke dalam gedung utama. Gadis berambut pirang itu segera menyusul langkah si ikemen.

"Isogai-kun, kau mau kemana?" tanya Rio.

"Aku mau ke perpustakaan" jawab Isogai. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Ahh, aku belum memberitahumu, ya?"

Rio hanya menatap bingung Isogai.

"Karena kau masih disini, bagaimana kalau kau ikut aku ke perpustakaan?" ajak Isogai akhirnya. Rio menghela napas. Jadi ini yang ia maksud.

"Boleh, kalau kau tidak keberatan"

.

.

.

Udara dingin menyambut Isogai dan Rio ketika mereka berdua membuka pintu kaca perpustakaan yang besar. Mereka berdua mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru perpustakaan, dan akhirnya menemukan satu meja kosong.

"Lihat, lihat, bukankah mereka dari kelas E?"

"Sedang apa mereka disini?"

"Aku harap mereka berdua tidak macam-macam, misalnya mencuri buku-buku perpustakaan"

"Apa mereka itu sepasang kekasih?"

"Huuuaaaaahhh, pasangan bodoh"

Terdengar jelas oleh kedua telinga Isogai dan Rio bahwa orang-orang yang berdesis itu adalah penghuni gedung utama Kunugigaoka. Mereka berdua sama-sama panas, padahal ruang perpustakaan tersebut memiliki AC sebanyak tiga buah dengan kondisi yang sedang menyala.

Sial! Mengapa bangku yang kami dapatkan harus sejauh ini? Rutuk Isogai dalam hati.

Isogai mengepalkan tangannya, kemudian bahunya bergetar saking kesalnya. Ia berusaha meredakan amarahnya, dan menghilangkan nafsu membunuhnya yang tiba-tiba saja membara di luar kendalinya.

Sebuah tepukan pelan mendarat di bahu Isogai. "Sudahlah, kita langsung belajar saja, yuk?"

Isogai menoleh ke arah Rio, menatap gadis itu yang tersenyum ke arahnya. Bahunya dan tangan gadis itu masih bersentuhan, membawa sensasi tersendiri bagi seorang Isogai Yuuma. Sang ikemen membalas senyumannya.

"Baiklah"

Isogai dan Rio memulai kegiatan belajar mereka. Suasana disana begitu hening, hanya terdapat suara halus yang dihasilkan buku-buku, suara ketukan di meja, serta desisan dari anak-anak gedung utama yang sama sekali tak digubris oleh mereka berdua. Isogai dan Rio tetap fokus terhadap buku, sebagaimana tujuan mereka pergi ke perpustakaan sejak awal— belajar.

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Isogai masih anteng membaca buku IPS, sedangkan Rio sudah menguap sebanyak tiga kali. Sang ikemen merasakan sinyal kantuk dari si surai pirang, sehingga pemuda tersebut langsung menghentikan aktivitas membacanya.

"Kau lelah, Nakamura?"

Rio menggeleng, lalu menguap lagi. "Udara dingin dari AC itu membuatku mengantuk. Sudah lama aku tidak belajar di tempat yang nyaman seperti ini"

Isogai hanya ber-oh-ria. Selang sedetik, ia menemukan sebuah topik pembicaraan baru, berbarengan dengan buku IPS-nya yang ia tutup. "Ngomong-ngomong soal belajar, bagaimana bisa kau masuk ke kelas E?" tanya Isogai dengan intonasi yang halus sekali, berharap lawan bicaranya tidak merasa tersinggung.

Rio menundukkan kepalanya. Bungkam. Isogai merasakan hawa tidak enak yang ditimbulkan si surai pirang.

"Maafkan aku, aku hanya penasaran. Kalau kau keberatan tidak usah diceritakan"

Rio menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Aku hanya... merutuki kebodohanku saja"

Isogai menaikkan sebelah alisnya. Ia tidak dapat mengerti kalimat Rio barusan. Ketika hendak bertanya, gadis itu terlihat membuka mulut. Mungkin ia akan memulai bercerita, pikir Isogai. Si ikemen pun menggulung pertanyaannya.

"Dulu, aku itu orangnya jenius— kata orang. Aku merasa terganggu apabila aku dipanggil begitu. Maka dari itu, aku mulai berpikir 'aku ingin jadi orang bodoh', 'aku ingin kehidupan yang biasa saja seperti orang lain'. Dan jadilah sekarang, aku yang masuk ke kelas E"

Isogai terdiam mendengarkan cerita dari Nakamura Rio. Ia tidak memberikan saran apapun, juga tidak mengatai Rio bodoh. Seolah terhipnotis dengan cerita pahit si pirang, Isogai bungkam.

"Hei" Rio menjentikkan jari tepat dihadapan wajah Isogai, membuat sang ikemen sadar bahwa ia sedang melamun.

Isogai mengerjap beberapa kali. "Ya?"

"Jangan menalumn begitu, jelek tahu!"

"Hah?" Isogai menganga.

"Ayo kita pulang, sudah sore" ajak Rio pada Isogai. Ia membalas dengan anggukkan kepala, rapmbutnya yang mencuat ikutan mengangguk. Setelah mengembalikan buku, mereka berdua pun segera pergi meninggalkan gedung utama.

"Isogai-kun, apa besok kau akan pergi ke perpustakaan lagi?" tanya Rio.

"Ya, aku akan belajar di perpustakaan sampai minggu depan"

"Boleh aku ikut lagi?"

Isogai mengerjapkan matanya untuk kedua kali. Mengangguk ragu. "B-Boleh"

Sedetik kemudian Rio mengembangkan senyumnya bak bunga yang sedang mekar. Ia melompat-lompat kegirangan, seperti anak kecil saja. Meskipun begitu, Isogai senang memandangnya. Gadis rambut pirang ini menggemaskan, pikirnya.

.

.

.

Meskipun langit telah berubah kemerahan, akan tetapi jalan raya tak kunjung surut dari keramaian. Rio berjalan menyusuri trotoar yang padat akan manusia. Sembari melirikkan matanya kesana kemari, siapa tahu akan ada yang menarik.

Ternyata benar, ada yang menarik perhatiannya.

Seseorang yang sebaya dengannya hendak membukakan pintu supermarket di hadapannya. Ia mengenakan style casual, dengan celana jeans selutut dan kaos biru yang menjadi pakaian sehari-harinya di rumah. Pemuda itu berhenti sejenak, kemudian menolehkan kepalanya ke arah Rio, seolah angin membisikkan padanya bahwa gadis pirang itu ada didekatnya.

Rio terkejut karen pasalnya ia tidak memberikan sinyal apapun. Meskipun begitu, ia berusaha untuk tetap ramah pada si surai merah— Akabane Karma.

"Nakamura-san? Kau belum pulang ternyata" ucap Karma seraya menjelalatkan matanya, memperhatikan baju seragam yang masih digunakan si rambut pirang.

Rio berlari kecil menuju Karma. "Kau sedang apa?"

"Aku mau belanja" Karma mendorong pintu kaca supermarket. "Mau menemaniku?"

Rio terkejut mendengar ajakan Karma, sehingga ia diam saja. Namun langkahnya mengikuti Karma masuk ke dalam supermarket, entah apa yang telah menggerakkan kaki mulusnya itu.

Karma mengambil sebuah trolly di dekat pintu masuk, kemudian mendorong benda itu sambil memperhatikan rak-rak yang berjajar di samping kanan kirinya. Satu demi satu ia mengambil benda yang dibutuhkannya, mulai dari ramen instan, telur, kecap, sampai beberapa kotak jus stroberi kesukaannya.

"Nakamura-san, mengapa kau baru pulang?" tanya Karma membuka topik pembicaraan.

"Barusan aku mampir dulu ke perpustakaan"

"Perpustakaan?" ulang si surai merah.

Rio mengangguk. "Aku ingin menambah ilmuku, agar aku bisa masuk top 50 di ujian nanti"

"Hmm, benar juga" Karma mengangguk-angguk setuju. Matanya kembali jelalatan, mencari benda lain yang ia cari. "Kau pergi dengan siapa? Sendirian?"

"Tidak. Aku pergi dengan Isogai-kun"

DEG!

Karma yang hendak mengambil saus mayonaise tiba-tiba saja tangannya berhenti bergerak setelah nama si ketua kelas disebut. Ia diam, merasa waktu telah berhenti untuk sementara. Tak lama tangannya bergerak lagi meraih satu botol mayonaise. Ditatapnya saus berwarna putih itu dengan pandangan yang sendu— kecewa.

"Hanya Isogai-kun, atau masih ada lagi?"

"Tidak, hanya kita berdua"

Karma semakin kecewa. Botol mayonaise yang diambil masih dipegangnya. Bukannya dimasukkan ke dalam trolly, tetapi si surai merah malah menggenggamnya agak keras. Bersyukur mayonaise-nya tidak menyembur keluar.

"Oh, begitu" hanya itu yang keluar dari mulut murid absen satu di kelas E sembari memasukkan mayonaise ke dalam trolly.

"Kau mau ikut, Karma-kun?"

Karma menenggakkan kepalanya, menengok ke arah Rio. Apa gadis itu benar-benar mengajaknya? "Hah? Aku? Untuk apa?"

"Belajar lah! Kau pikir kita ke perpustakaan untuk apa?" Rio menepuk jidatnya yang terekspos itu. Ia tidak menyangka kalau seorang Akabane Karma ternyata bisa jadi bodoh juga.

Si surai merah merutuki dirinya sendiri, sadar bahwa ia sedang melamun. "Hmm, boleh juga" jawab Karma dengan santai, namun suaranya terdengar lebih lemah dari sebelumnya.

Meskipun begitu, Rio tidak sadar. Gadis pirang itu tidak merasakan perasaan cemburu Karma yang muncul ketika ia menyebutkan nama Isogai. Ia malah merapalkan kalimat-kalimat syukur karena Karma mau bergabung dengannya dan Isogai.

"Kalau begitu, mulai besok jangan pulang cepat ya? Kita akan terus belajar di perpustakaan sampai mid semester tiba" ucap Rio dengan semangat.

Karma hanya mengiyakan, padahal hatinya berat sekali untuk menerima ajakan Rio. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya menjadi lilin ditengah-tengah si pirang dan si ikemen yang sedang asyik bercakap-cakap membicarakan pelajaran. Atau mungkin mereka membicarakan sesuatu yang pribadi?

Hmm, membayangkannya saja membuat Karma merasa panas. Api cemburunya membara semakin besar, ia harus cepat-cepat meredakannya.

"Loh, Karma-kun. Mengapa kau mengambil wasabi dan mustard? Kau ingin membuat makanan apa?" Rio merasa kebingungan ketika melihat Karma mengambil wasabi dan mustard dalam jumlah yang tidak sedikit.

"Ahh, ini?" Ia mengacungkan wasabi dan mustard. "Ini untuk perjalanan pulang. Daerah rumahku banyak sekali preman yang muncul menjelang malam. Jika aku dalam bahaya, aku akan menggunakan ini"

Apa yang akan kau lakukan dengan itu? Rio bergidik ngeri.

"Baiklah, aku sudah selesai. Kau mau lihat-lihat dulu, Nakamura-san?" tawar Karma. Rio yang semula sweatdrop kini ekspresinya kembali seperti biasa.

"Tidak usah. Kita pulang saja"

Mendengar itu, Karma segera mendorong trolly-nya menuju mesin kasir yang letaknya tak jauh dari pintu masuk. Rio hanya membuntuti si surai merah, sambil memperhatikan isi trolly Karma. Kebutuhan yang Karma beli hanya bumbu-bumbu tambahan saja, tidak ada bahan pokok yang ia beli dalam jumlah banyak.

.

.

.

"Kau tidak apa-apa kalau pulang sendiri?" tanya Karma sekali lagi, tetapi Rio tetap menganggukkan kepalanya.

"Tidak apa-apa, Karma-kun. Janga posesif begitu lah!" jawabnya kemudian tertawa.

"Bukan begitu. Aku hanya cemas saja" ucap si surai merah malu-malu. Sekali lagi Rio tertawa.

"Yasudah, aku akan menyebrang. Hati-hati ya?" Rio berpamitan seraya menunjuk jalan pulang di hadapannya.

Karma mengangguk pelan. "Kau juga"

Rio mengacungkan jempolnya mantap. Gadis pemilik marga Nakamura itu melangkah pergi meninggalkan Karma yang masih berada di sisi perempatan jalan, emmperhatikan dirinya yang perlahan menjauhi si surai merah. Pemuda iatu masih tersenyum menatap gadis perawakan tinggi langsing yang jago B. Inggris di kelasnya.

Setelah Rio menghilang dari pandangan mata, Karma menatap plastik besar dengan logo supermarket di tangannya— lebih tepatnya menatap isinya, wasabi dan mustard.

Entah kenapa aku ingin membunuh Isogai-kun dengan ini. Coba ahh...

Karma melangkah menyebrang jalan disampingnya, sambil berusaha menghilangkan seringai jahil yang tiba-tiba mengembang di wajahnya tatkala melihat wasabi dan mustard yang ia beli. Butuh waktu sekitar lima belas menit dari sana untuk sampai ke rumah berplat nama 'Akabane' itu.

.

.

.

To Be Continu

.

.

.

A/N : chapter 2 ini sedikit lebih panjang dibanding chapter 1, dan chapter selanjutnya sampai end panjangnya bakal kaya gini atau lebih. Gimana menurut kalian, ceritanya udah mulai nyambung sama judul kan? Bagus kan? Kerasa kan? *apanya. Silahkan kasih komentar kalian di kotak review, sekalian kasih tau saya kalau ada typo. Kalau ada masukkan dari kalian mungkin bakal saya terapkan(?) di chapter berikutnya.

Next chapter 3 : Conflict