Karma merebahkan tubuhnya di atas kasur tepat setelah makan malam. Kedua tangannya ia letakkan di belakang kepala, digunakan sebagai bantal keduanya. Iris tembaganya menatap langit-langit berwarna putih bersih itu. Karma berniat ingin memejamkan matanya, akan tetapi ia belum merasa kantuk sama sekali.

Rasa kantuk yang tak kunjung datang itu, disebabkan oleh pikirannya yang terganggu oleh sosok Nakamura Rio.

Seketika raut wajahnya menampilkan ekspresi khawatir. Tersirat secuil kegelisahan dengan hubungan atara gadis pirang itu dengan Isogai. Karma khawatir karena tiba-tiba ia teringat percakapan Rio soal belajar di perpustakaan. Apa yang akan terjadi apabila ia menerima tawaran belajar dari Rio? Apa yang akan ia lakukan jika bertemu dan belajar bersama Isogai?

Dan yang paling ia takuti adalah... bagaimana jika ia merasa cemburu melihat kedekatan Rio dan Isogai saat belajar bersama?

Karma segera menutup paksa kedua matanya, berharap ia bisa cepat-cepat terlelap.

.

.

.

Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei

In Dilemma © shichigatsudesu

Chapter 3 : Conflict!

.

.

.

Waktu terasa begitu cepat berlalu, padahal belum tentu semua manusia ingin hari cepat berakhir. Ada beberapa orang yang ingin waktu berjalan dengan lambat karena suatu alasan.

Misalnya Karma, yang kini tak ingin hari cepat berlalu dengan kegalauannya yang luar biasa. Sejak malam itu, ia sama sekali tidak bisa tidur karena harus berperang untuk menentukan suatu keputusan. Dan sampai saat ini pun, ia masih belum bisa memilih—

ikut atau tidak ya?

"Isogai-kun?" panggil seorang gadis berambut pirang.

Karma yang mendengar suara panggilan itu segera mendongakkan kepalanya, bersamaan dengan dirinya yang baru saja selesai menguap.

"Kau mau pergi kemana?"

"Aku ada rapat ketua kelas di ruang OSIS. Hanya sebentar kok, aku akan kembali lagi" jawab Isogai pada Rio. Tak lama gadis itu terlihat kecewa.

"Tenang saja, nanti aku akan menyusul. Tidak apa-apa kan pergi sendiri?"

Seketika iris mata Rio membulat. Sekilas ia teringat sesuatu.

"Kalau begitu, aku akan ajak Karma belajar denganku. Boleh?"

Isogai terkejut ketika Rio menyebut nama Karma. Apa gadis itu menceritakan sesuatu soal dirinya yang berkunjung ke perpustakaan? Selain itu, dari sekian banyak siswa kelas E gadis itu menyebut nama Karma tanpa ada jeda berpikir.

Mengapa harus Karma?

"Isogai-kun, boleh kan?"

Pertanyaan Rio barusan sukses mengembalikan Isogai dari lamunan. Si ikemen menatap surai pirang di hadapannya, kemudian tersenyum bak bunga bermekaran.

"I-Iya, bo—"

"Isogai-kun, cepatlah! Kita harus ke gedung utama sekarang" teriak Kataoka dari luar kelas yang sukses mengejutkan beberapa siswa kelas E yang masih berada di gedung bobrok itu, termasuk Karma yang melamun memperhatikan gadis pirang dan si surai hitam legam.

"Baik. Maafkan aku, Kataoka"

Isogai melambaikan tangan pada Rio, kemudian segera menyusul Kataoka dengan berlari kecil. Rio hanya tersenyum menatap kepergian pasangan ikemen-ikemegu itu.

Karma menguap setelah melihat adegan perpisahan Rio dengan Isogai. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih, membosankan. Karma menguap lagi, menarik perhatian Rio dari depan sana.

"Karma-kun, ayo kita pergi"

Karma melepaskan tangan kanannya yang sedari tadi menopang kepalanya. Menatap gadis di hadapannya, kemudian memberikan pandangan heran. "Hmmm?"

"Kau jadi ikut denganku atau tidak?"

Lagi-lagi Karma memilih.

Ikut atau tidak ya?

Rio berkacak pinggang seraya menunggu si surai merah menjawab pertanyaannya. Karma mendengus pelan. "Baiklah"

Rio tersenyum, kemudian menarik tangan Karma dan membawanya lari menuju gedung utama. Bagaimana nasib si surai merah? Yaah, anak itu harus kesusahan akibat si gadis pirang tiba-tiba memaksanya berlari sedangkan ia masih setia duduk di bangkunya. Dan yang terjadi adalah kakinya yang (terpaksa) menendang meja sekitar.

Karma hanya bisa meringis dalam hati. Sesekali memandangi Rio dan kakinya secara bergantian. Ia mulai khawatir dengan kakinya yang tengah berdenyut akibat terbentur kayu-kayu itu.

Meskipun begitu, rasa sakitnya tidak terlalu terasa. Perasaan hangat dari tangan Rio berhasil meredakan nyeri tersebut. Karma menatap si pirang, tersenyum simpul saat merasakan kemilau cahaya yang terpancar dari wajahnya. Kini ditatapnya begitu dekat, si surai merah bersyukur.

Selama perjalanan menuju gedung utama, Karma tidak merasakan sakit apapun dari kakinya.

.

.

.

Setibanya di gedung utama, Akabane Karma dan Nakamura Rio segera pergi menuju perpustakaan yang letaknya lumayan jauh dari gerbang. Karma tak kuasa menahan haus, sehingga ia dan Rio harus singgah ke vending machine terlebih dahulu.

Seperti biasa, desisan para siswa terdengar ketika salah satu atau salah dua anak kelas E menginjakkan kaki di gedung utama Kunugigaoka. Tak sedkit dari mereka yang mengeluarkan kata-kata nista nan menyakitkan begitu Karma dan Rio berjalan menuju perpustakaan. Meskipun begitu, mereka tidak peduli. Si surai merah dan surai pirang tetap berjalan santai, seolah desisan itu hanya suara jangkrik pada malam hari yang tidak diusik sama sekali.

Karma membuka pintu kaca perpustakaan dengan sekali dorong, sehingga membuat terkejut orang-orang sekitar. Begitu udara dingin menyentuh kulit, mereka berdua segera masuk kemudian mencari meja kosong untuk mereka gunakan belajar.

"Karma-kun, kau mau belajar apa dulu? Biar aku ambilkan bukunya" tawar Rio.

"Hmm, kau yakin?" Karma memastikan. Mungkin ia sedikit khawatir dengan desisan anak-anak pintar dan sombong itu.

Rio hanya mengangguk.

"Kalau begitu, terserah kau saja"

"Heh?" si gadis pirang mengangkat alisnya.

"Aku tidak ada masalah dengan nilaiku, jadi aku tidak perlu memfokuskan diri untuk mempelajari pelajaran kelemahanku" ucap murid absen satu di kelas kancrit itu, dengan angkuhnya.

Apa-apaan dengan kalimat sombong itu? Rio menggembungkan pipinya, merasa kesal dengan si surai merah. "Sombong sekali kau ini"

Karma hanya tertawa pelan melihat Rio yang memalingkan wajahnya ke samping, masih dengan pipinya yang menggembung.

"Kalau begitu, aku ingin belajar matematika"

"Baiklah, silahkan ambil buku matematika sesukamu" perintah Karma.

Rio mengubah ekspresi wajahnya. Semula ia ngambek, sekarang ia memasang wajah kalem. Tiba-tiba aura bak seorang pelayan keluar begitu saja dari sosok Nakamura Rio.

Si gadis pirang membungkukkan badannya, kemudian mengayunkan tangan kanannya, meletakkannya tepat di atas perutnya. "Baiklah, Tuan Akabane"

Rio tertawa setelah memerankan seorang pelayan kerajaan. Sedangkan Karma wajahnya sedikit memerah, tapi ia juga ikutan tertawa.

"Kau membuatku tersanjung, Nakamura-san"

Rio yang sudah meninggalkan Karma beberapa langkah langsung berputar menghadap lawan bicaranya. "Benarkah? Aku senang men—"

BRUKK!

Rio menabrak seseorang saat ia mundur satu langkah. Dengan panik, ia segera berlutut, membantu memapah orang yang ia tabrak.

"Maafkan—"

PLAK!

Seseorang yang diketahui bernama Tsuchiya Kaho itu menampar tangan Rio yang sengaja diulurkan untuk membantu orang itu berdiri. Wajahnya menampakkan ekspresi tidak senang. "Jangan sentuh aku, anak kelas E!"

"Maafkan aku" Rio berusaha meminta maaf.

"Dasar bodoh! Seharusnya kau gunakan matamu dengan baik untuk melihat orang-orang di sekitarmu"

Rio menundukkan kepala, merasa bersalah. Ia ingin minta maaf, tapi orang itu tak acuh. "Maaf—"

"Bukankah tempat ini digunakan untuk belajar? Mengapa kalian bisa-bisanya bercanda di tempat seperti ini? Bagaimana jika nilai kami semua menurun gara-gara kalian yang memecahkan konsentrasi kami?" potongnya. Anak gedung utama itu mulai menginterogasi si pirang.

"Ma—"

"Selain itu, kau telah mengotori bajuku dan membuatku kehilangan minuman yang baru saja aku beli. Aku bisa kena marah kalau sampai seragamku seperti ini. Kau mau tanggung jawab, hah?"

Rio tidak bisa melakukan apapun. Ia mendapatkan serangan bertubi-tubi sehingga berkutik pun ia tak sanggup. Lihat sendiri kan, bagaimana Rio berusaha meminta maaf tetap kalimatnya tidak kunjung tuntas karena gadis itu menyambar terus.

"Jangan diam saja, bodoh!" Kaho tiba-tiba mendorong Rio sampai-sampai si pirang terjatuh. "Aku ingin kau bertanggung jawab. Lakukan apapun untuk menebus kesalahanmu. Kau mengerti kan?"

"Bisakah kau diam, anak gedung utama?"

Karma, yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran, kini ikut turun membela Rio. Ia tidak tega dengan gadis pirang itu dihardik oleh si rambut hitam.

Karma bangkit dari kursinya, berjalan menghampiri Kaho yang menatap kesal si surai merah.

"M-Mau apa kau?" Kaho mendadak grogi. Ia mundur satu langkah agar tidak terlalu dekat dengan Karma.

"Ada beberapa yang ingin aku sampaikan, anak gedung utama yang terhormat. Aku tidak ingin diam sambil mendengarkan ocehan tak bergunamu itu"

Karma mengambil napas sejenak. Ia memberikan jeda yang cukup panjang, membuat gadis rambut hitam itu menatap Karma bingung.

"Pertama, aku ingin kau memaafkan Nakamura karena telah mendorongmu tanpa sengaja" ucapnya sambil mengacungkan jari telunjuknya, menekankan dua kata terakhir sambil menunjuk wajah Kaho.

Kaho menelan ludah. Karma masih menunjuk wajahnya, kemudian melanjutkan kalimatnya.

"Kedua, aku ingin kau minta maaf karena telah mendorong Nakamura"

"HAH?" gadis itu menampakkan ekspresi tidak sukanya. "Kau ingin aku minta maaf pada gadis ini?"

Kaho menunjuk Rio yang masih terduduk. Sorot matanya menunjukkan bahwa gadis rambut hitam itu benar-benar membenci Rio— karena ia kelas E. Karma terus menatap intens ke arah Kaho dengan tatapan tajam.

"Ini bukan apa-apa dibandingkan bajuku yang kotor. Ini juga belum bisa menggantikan minumanku yang tumpah"

"Belum bisa menggantikan, katamu?" Karma mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan rasa kesalnya. Kalau saja Kaho itu laki-laki, ia pasti sudah menghabisinya saat gadis itu mendorong Rio. "Lalu kau dengar pakai apa permintaan maafnya yang selalu kau potong itu?"

"Kau pikir maaf saja bisa menggantikan uang dan bajuku?" Kaho semakin tersulut emosi, begitu juga dengan Karma.

"Dan kau pikir Nakamura tidak sakit hati karena ingin meminta maaf padamu tapi susahnya minta ampun?! Seharusnya kau yang ganti rugi"

"HAH?" Kaho tidak memahami kalimat Karma. Apa-apaan laki-laki surai merah itu? Jelas-jelas secara de facto ia dirugikan. Tapi mengapa ia mengatakan sebaliknya?

"Kau gila, ya? Jelas-jelas aku yang rugi. Kau ingin aku ganti rugi apa?"

Karma diam mendengar perkataan Kaho barusan. Bukan berarti laki-laki itu kalah, ya? Karma hanya ingin menusuk gadis rambut hitam itu dengan tatapannya, berharap Kaho menyudahi pertengkaran ini.

"Karma-kun, sudahlah. Percuma dilawan juga, kita kalah telak" Rio yang sedari tadi diam berusaha melerai Kaho dan Karma. Ia menengadah ke atas, menatap dua kubu yang saling adu tatap, tetapi Rio tidak berusaha merubah posisinya. Ia tetap dalam posisi jatuhnya— duduk di lantai.

Karma mengerti maksud dari kalimat Rio. Kondisi perpustakaan saat ini memang sedikit gaduh. Siswa disana bukan lagi membaca buku, tetapi melihat tontonan gratis yang ditimbulkan oleh Akabane Karma dan Tsuchiya Kaho (tentu saja Nakamura Rio juga ikut ambil peran, walau hanya sedikit).

Karma kepalang emosi. Ia ingin masalah ini cepat selesai, tak peduli dengan cara apapun yang penting Rio selamat. Si surai merah ingin menutup mulut anak gedung utama sialan itu untuk berhenti menyalahkan Rio.

"Kalau tidak salah, namamu Akabane Karma kan, yang kemarin kena skors itu?" Kaho kembali bersuara setelah terdapat jeda beberapa detik. Namun kini ia menggunakan nada suara yang biasa saja, tidak lagi dengan nada oktaf yang dapat merusak gendang telinga Karma.

"Ya, lalu?"

"Setelah aku pikir-pikir, mengapa aku bisa berkelahi denganmu? Yang seharusnya berurusan denganku itu kan gadis rambut pirang ini" Kaho melirik Rio secepat kilat, hanya ingin menunjuk gadis itu tanpa menggunakan tangannya.

"Ka—"

"Kau tersinggung kalau aku memarahi dia, menyalahi dia?" lagi-lagi Kaho memotong. Anak ini benar-benar tidak punya sopan santun, pikir Karma. "Siapa kau? Pahlawan kelas kancrit yang akan melindungi semua teman seperjuangan yang sama bodohnya denganmu? Waahh hebat!"

Karma kembali mengepalkan tangannya yang baru saja dilemaskan. Semangat membunuhnya bangkit kembali. Ia ingin menyentak gadis itu, tetapi ia tak ingin kalimatnya dipotong lagi. Baru saja ia membuka mulut, suaranya belum keluar, tetap Kaho sudah menyambar duluan.

"Oh, atau jangan-jangan... kau itu pacarnya?" selanya. Kaho menyeringai lebih lebar dari sebelumnya, melihat Akabane Karma yang menampakkan ekspresi terkejut seperti itu. Matanya yang membulat itu lucu sekali, sampai membuat Kaho tertawa geli dalam hati. "Huuuuaahhh romantisnya"

Setitik keringat muncul dari pelipis sebelah kiri si surai merah. Rio membatu, sama seperti Karma. Perasaan bersalahnya mulai menyebar bersamaan dengan aliran darah dalam tubuhnya, seolah-olah bukan oksigen yang terikat oleh eritrositnya tetapi rasa bersalahnya. Tapi apa daya? Gadis pirang itu kehabisan ide untuk menyudahi pertengkaran ini.

Sedangkan Karma berusaha memutar otak untuk mencari siasat jitu yang dapat membuatnya kabur dari sini. Akan tetapi ia tak kunjung menemukannya. Keringat yang menetes semakin banyak. Tenaganya terkuras sedikit demi sedikit hanya untuk berpikir. Tetap saja, murid absen satu di kelas E itu kehabisan akal.

"Hmm? Mengapa kau diam saja, Akabane-san? Jadi benar ya, gadis itu pacarmu?" goda Kaho, masih dengan seringainya yang lebar. Jujur saja, saat ini Karma merasa muak dengan wajah itu. "Ya, kalau begitu, aku ingin kau bertanggung jawab karena—"

"Ya, aku pacarnya. Kenapa?"

Semua yang mendengar kalimat itu melongo tak percaya, terutama Kaho dan Rio.

Akabane Karma, apa kau sudah gila? Kau tidak bisa menemukan ide yang lebih bagus lagi apa?

"Aku pacar Nakamura. Sekarang kau mau apa, anak gedung utama? Kau ingin aku mengganti baju dan minumanmu?"

Kini Kaho yang membatu. Kaho sweatdrop, sama seperti Karma sebelumnya. Ia kehabisan kata-kata untuk menyerang anak kelas bobrok itu.

Karma melepas kemeja hitamnya, kemudian menyodorkannya pada Kaho. "Pakailah" suruhnya datar.

Kaho mengepalkan tangannya. Kesal, ia tak tahu harus bagaimana. "Aku tidak butuh" ucapnya seraya memalingkan wajahnya ke samping. Si surai hitam tengah bersikap tsundere rupanya. "Aku tidak ingin ketularan bodoh dari kelas E karena menggunakan barang yang sama"

Karma mendecak lidah. "Munafik! Kau ingin aku bertanggung jawab tetapi kau menolak kemejaku? Maumu apa sih?"

Kaho diam saja. Kepalanya tak menghadap Karma, masih sama seperti sebelumnya. Ia juga tidak menjawab pertanyaan si surai merah.

"Dengar ya, anak gedung utama! Aku tidak suka caramu menyalahkan Nakamura begitu. Dia memang salah, tapi bukan berarti kau bisa memarahinya seenak jidat. Kau pikir enak kena marah? Apalagi kau sama sekali tidak menggubris permintaan maaf dari Nakamura. Kau pikir enak diperlakukan seperti itu?"

Keadaan pertarungan sekarang menjadi terbalik. Kini Karma yang memimpin. Ia berhasil membuat Kaho ciut, tak berkutik sama sekali. Si surai merah berencana balas dendam. Ia mulai menyusun serentetan kalimat yang nantinya akan ia jejalkan pada si surai hitam.

"Aku membalikkan skor pertarungan ini agar kau bisa lebih menjaga ucapan dan tata krama berbicara. Gunakan lidah dan otakmu dengan baik jika kau ingin memarahi orang lain"

Kaho tak kuasa menahan rasa kesal. Ia mengepalkan tangannya lebih erat lagi. Bahunya bergetar samar, kesal bukan main. Ditatapnya Akabane Karma dengan rasa sebenci-bencinya.

"Jika kau mau, aku bisa menggunakan otakku untuk dapat memojokkanmu dan—"

"HENTIKAN, KARMA!"

Lagi-lagi semua orang disana dikejutkan oleh sebuah suara yang meledak seperti itu. Siswa SMP Kunugigaoka yang berada di dalam perpustakaan menoleh kearah pintu masuk yang terbuat dari kaca itu. Kaho, Karma dan Rio juga melakukan hal yang sama. Mereka bertiga terkejut ketika melihat seorang laki-laki surai hitam dibalut dengan seragam yang rapi tengah berdiri di dekat pintu masuk, menatap ketiga orang tersebut dengan tatapan tajam nan menusuk.

Karma dan Rio menghela napas bersamaan.

"I-ISOGAI-KUN?"

.

.

.

"Isogai-kun, kau mau kemana?" tanya Kataoka begitu melihat Isogai tidak berjalan menuju gerbang.

"Ahh, aku ingin pergi ke perpustakaan" jawab si ikemen.

Kataoka ber-oh-ria. "Kau selalu pergi ke sana ya?"

Pucuk rambut Isogai mengangguk. "Aku ingin menambah ilmuku, agar aku bisa masuk top 50 di mid semester nanti"

"Kau hebat, Isogai-kun" puji Kataoka. "Kau benar-benar berusaha keras untuk mencapai target Koro-sensei. Aku salut"

Isogai hanya tertawa mendengar pujian dari ikemegu. Ia merasa sedikit malu jika mendapat pujian seperti itu. Buktinya pipi si ikemen itu sedikit merona. Sedikiiiiitttt...

"Kalau begitu aku duluan ya, Kataoka. Aku tidak ingin membuat mereka menunggu"

Kataoka tersenyum, kemudian melambaikan tangannya. "Sampai jumpa besok, Isogai-kun"

Isogai dan Kataoka melangkah dengan arah yang berbeda, saling menjauh, seolah mereka adalah kutub magnet yang saling tolak menolak. Setelah terpisah dengan jarak yang begitu jauh, Isogai berhenti. Ia singgah terlebih dahulu di sebuah vending machine untuk membeli minuman. Jika barusan tidak ada rapat ketua kelas, pasti air minumnya masih utuh.

Beberapa langkah lagi ia tiba di perpustakaan, tempat persinggahannya akhir-akhir ini. Samar-samar ia mendengar suara seorang gadis yang... membentak? Apa yang terjadi di dalam sana? Isogai berpikir, kemudian memperhatikan keadaan perpustakaan dari balik pintu kaca.

Suasana perpustakaan tidak kondusif. Mengapa? Tak lama Isogai mengingat sosok Karma dan Rio, orang yang akan belajar dengannya. Janga-jangan Karma berbuat ulah, tapi mengapa? Isogai berusaha husnudzon. Dengan perasaan penuh tanda tanya, ia berusaha membuka pintu kaca perpustakaan yang besar itu.

"Ya, aku pacarnya. Kenapa?"

DEG!

Isogai menghentikan tangannya, gagal membukakan pintu ketika ia mendengar kalimat barusan. Itu suara Karma, ia hafal betul dengan suara itu. Apa yang terjadi dengannya, sampai berucap seperti itu?

Isogai memutuskan untuk tidak bergerak. Ia ingin menguping terlebih dahulu. Si ikemen itu juga tidak ingin membuat semua orang disana terkejut karena kehadirannya.

"Aku pacar Nakamura. Sekarang kau mau apa, anak gedung utama? Kau ingin aku mengganti baju dan minumanmu?"

DUUAAARRR!

Seolah tersambar petir, Isogai terkejut buka main. Rasanya begitu... sakit. Ya, dalam sekejap Isogai merasa terluka. Luka tersebut terletak di pojok hatinya. Hatinya teriris, kemudian merobek semakin lebar, hanya karena kalimat yang baru saja ia dengar!

Ia tidak habis pikir dengan keadaan di dalam. Apa yang terjadi sehingga Karma berani mengucapkan kalimat seperti itu? Isogai semakin penasaran.

Isogai kembali melanjutkan aksi mengupingnya, menyaksikan pertarungan di perpustakaan dari balik pintu kaca. Ia sengaja tidak masuk terlebih dahulu agar tidak meledak di dalam sana, agar ia tidak memarahi Karma karena telah mengucapkan kalimat terlarang—

—karena telah membuatnya merasa cemburu.

"Kau sangat tidak sopan, Isogai"

Sebuah suara mengejutkan Isogai. Dua helai rambutnya yang mencuat bergerak dengan cepat ketika ia menolehkan kepalanya. Seseorang tengah menatap kearahnya, dengan posisi tubuh yang bersandar di dinding dan tangan yang dilipat di dadanya. Iris emasnya membelalak kaget.

"Asano?"

Asano Gakushuu, orang yang tiba-tiba saja ada di samping pintu perpustakaan, memergoki Isogai yang tengah melakukan aksi menguping. Isogai jelas terkejut karena anak kelas A itu tiba-tiba ada di sana. Seingatnya Asano masih berada di ruang OSIS bersama anggota Five Firtuosos lainnya.

"Mengapa kau ada disini?" tanya Isogai.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, bodoh" Asano tidak bergerak begitu ia melontarkan kalimat itu. Tangannya masih ia lipat di atas dadanya. Begitu juga dengan punggungnya yang menempel pada dinding bercat abu-abu itu.

"Aku kesini untuk belajar. Aku melakukannya sejak kemarin" jawab Isogai. Ia memperhatikan si surai orange yang masih terpaku di sana. "Kau sendiri? Mengapa kau bisa ada disini? Setahuku, kau masih ada di ruang OSIS"

Asano menolehkan kepalanya ke arah Isogai— lebih tepatnya memperhatikan pintu kaca di hadapan Isogai. Putra tunggal keluarga Asano itu memperhatikan suara yang ditangkapnya samar-samar dari dalam perpustakaan. Tak lama matanya menatap tajam si ikemen.

"Sebelum kau menanyakan itu, bagaimana kalau kau urusi anak kelas E itu terlebih dahulu?"

Isogai mempertajam tatapannya, menuntut penjelasan lebih dari si surai orange itu.

"Kau tidak dengar barusan Akabane mengaku-ngaku pacar gadis pirang itu?"

Isogai mengerjap. Matanya tidak lagi setajam pisau.

"Seharusnya kau merasa marah kan, atau barangkali cemburu?"

JLEB!

Asano menusuk hati Isogai (yang sebelumnya sudah terluka) dengan pertanyaan itu. Isogai jelas terkejut. Ia mulai mengepalkan kedua tangannya karena kesal.

"Bagaimana kau—"

"Wajahmu mudah sekali ditebak, Isogai. Siapapun akan tahu kalau kau sedang cemburu" potong Asano cepat sebelum Isogai melemparkan pertanyaan untuknya.

Isogai menghembuskan napas. Apa yang dikatakan ketua OSIS itu benar juga.

"Cepat kau hentikan perkelahian itu sebelum aku melapor kepada ketua dewan. Oh, atau kau ingin aku merebut gadis pirang itu darimu?"

Isogai kesal bukan main. Ia menatap tajam ke arah Asano, mengepalkan kembali tangan yang sebelumnya sudah melemas. Sedangkan Asano membalas tatapan puas plus memasang seringai lebar karena berhasil memojokkan ketua kelas END itu sekaligus membongkar rahasianya juga.

Isogai kembali memegang kenop pintu, kemudian dibukakan benda itu secara perlahan.

"Kau membuatku semakin kesal, Asano" ucap Isogai sebelum ia masuk ke dalam perpustakaan. "Tapi aku harus berterima kasih padamu"

Isogai menghilang dari hadapan Asano. Masih dengan posisi semula, ketua OSIS itu menatap pintu kaca perpustakaan, tempat dimana Isogai telah menghilang. Meski sekarang sendiri, tetapi ia tidak segera pergi dari perpustakaan. Ia malah melakukan kegiatan yang sama seperti si ikemen— menguping, kegiatan yang baru saja ia bilang tidak sopan.

Sekarang kita beralih pada Isogai yang tengah mendatangi tempat kejadian perkara, tempat dimana Akabane Karma dan Tsuchiya Kaho tengah melakukan perang.

Setiap langkah Isogai terasa berat, menyebarkan jejak kaki yang terdapat secercah emosi dari murid absen satu di kelas E. Dadanya kempas-kempis tak karuan, tetapi si ikemen itu berusaha untuk tidak meledak-ledak.

"Jika kau mau, aku bisa menggunakan otakku untuk dapat memojokkanmu dan—"

"HENTIKAN, KARMA!"

Teriak Isogai barusan sukses membuat semua penghuni perpustakaan terkejut. Hentakkan yang begitu keras, membuat suasana hening dalam sekejap. Tiga orang pelaku perkelahian (sebenarnya hanya dua karena Rio lebih banyak diam) segera menolehkan kepalanya ke arah dimana si rambut mencuat berada.

"I-ISOGAI-KUN?"

"Sudah cukup, jangan bertengkar!" ucapnya sambil berusaha mengatur napas. Isogai terlihat kelelahan, padahal ia hanya jalan santai barusan, bukan lari marathon.

Rio yang sedari tadi duduk bersimpuh di lantai segera bangkit begitu si ikemen datang. Gadis bermarga Nakamura itu menepuk-nepuk roknya yang agak kotor yang sudah menyentuh lantai bermenit-menit lamanya.

"Isogai-kun" panggil Rio pelan. "Kau terlihat emosi. Apa kau marah?"

Ya, aku marah

"Jelas saja aku marah begitu melihat kalian malah bertengkar disini. Bukankah kita sudah janji akan belajar?" Isogai memarahi Rio dan Karma, namun dengan intonasi yang sangat halus.

"Salahkan gadis itu karena telah memarahi Nakamura" tuduh Karma pada Kaho.

"Hei, gadis itu yang mulai duluan!" Kaho tidak terima, suaranya kembali meninggi. "Dia dengan seenak jidat mundur tidak lihat jalan dan—"

"Sudah kubilang, CUKUP!" Isogai kembali menyentak, tetapi tidak separah sebelumnya. "Aku tidak butuh penjelasan apapun. Sekarang berdamailah, aku ingin cepat-cepat belajar"

Tak ada yang mengajak baikan duluan. Baik Kaho maupun Karma sama-sama bungkam. Begitu juga dengan Rio selaku 'tersangka yang sebenarnya' ikutan bisu.

Isogai memalingkan wajahnya pada Tsuchiya Kaho, gadis berambut hitam yang berdiri di hadapan Karma. Setelah memperhatikan gadis itu selama beberapa detik, secuil ingatan melesat di benak si ikemen.

"Kau, kalau tidak salah, namamu Tsuchiya Kaho bukan? Anak kelas C?" tanya Isogai datar.

Kaho menganggukkan kepalanya ragu. Bagaimana ia bisa tahu?

"Oh, ternyata benar"

Isogai melepaskan rompi seragamnya. Ia membuka kancing satu per satu, kemudian menyerahkan rompi abu itu kepada si surai hitam.

"Bukankah perpustakaan melarang siswa untuk membawa minuman dan makanan dari luar?" Isogai masih menyodorkan rompinya pada Kaho, tetap gadis itu berusaha cuek untuk tidak menerima barang apapun dari anak kelas kancrit itu. "Kalau kau tahu aturan itu sejak awal, seharusnya kau tidak memarahi Nakamura seperti itu"

Kaho mengernyitkan dahi, merasa tidak senang dengan Isogai Yuuma. Satu orang bodoh lainnya datang membela si gadis pirang seperti pahlawan kesiangan. Sebenarnya siapa sih gadis ini? Kaho bertanya dalam hati.

Si gadis surai hitam masih menatap tangan Isogai yang mengulur ke arahnya, menawarkan almamater abu yang sebelumnya dikenakan si ikemen. Kemudian matanya beralih pada wajah murid absen dua di kelas END itu.

"Aku tidak butuh" jawab Kaho tak acuh.

"Anggap ini ganti rugi dari Nakamura" Isogai bersikeras untuk memberikan pinjaman rompinya pada Kaho.

"Ini tidak cukup untuk—"

"—dan balasan darimu karena telah menyakiti Maehara"

DEG!

Kaho terkena serangan kejut. Apa dia bilang? Menyakiti Maehara?

"Hei, Ma-Maehara-kun tidak ada hubungannya dengan ini" protes Kaho.

"Sudahlah, pakai saja" Isogai sudah kehilangan rasa sabarnya, sehingga ia melempar lembut rompinya kepada Kaho. Beruntung gadis itu menangkapnya. "Sudah kan, tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan? Walaupun aku, Karma, atau Nakamura tidak bisa mengganti minumanmu, tapi bajumu yang kotor sudah tidak bermasalah"

Kaho menundukkan kepala, menatap rompi abu Isogai di genggamannya. Sejujurnya gadis itu merasa bingung. Di satu sisi, ia tidak menyukai kehadiran Isogai. Ia membencinya— sekali lagi karena ia kelas E. Tetapi di sisi lain, Kaho ingin mengucapkan terima kasih kepada si rambut pucuk itu karena telah merelakan rompi abunya untuk ia pakai, menggantikan rompi seragamnya yang kotor.

Namun, demi harga diri dan martabat seorang siswa gedung utama Kunugigaoka yang tinggi itu, Kaho lebih memilih diam. Ia tidak sudi mengucapkan terima kasih kepada Isogai, apalagi ia sempat membawa nama sahabatnya, Maehara Hiroto. Kaho semakin ingin mengubur rasa terima kasihnya kepada si ikemen.

Meskipun begitu, Isogai tidak mengharapkan rasa terima kasih dari Kaho. Ia tahu betul, pasti gadis itu mempertahankan harga dirinya sebagai anak gedung utama yang terhormat. Kalau Kaho melakukan itu, pasti ia akan jadi buah bibir orang-orang yang menyaksikan perkelahiannya.

"Aku harap kau bisa mengembalikan rompiku besok" ucap Isogai kemudian. Ia melangkahkan kaki menuju rak buku untuk mengambil beberapa buku yang akan dibacanya.

Isogai berjalan melewati Karma yang sedari tadi hanya mematung menyaksikan dirinya yang tengah berdebat dengan Kaho. Begitu Isogai berada tepat di hadapan Karma, si ikemen melirik tajam ke arah si surai merah. Karma terkejut begitu merasakan iris emas Isogai yang menusuknya. Ia juga merasakan aura aneh yang terpancar dari si ketua kelas, dan Karma merasa risih dengan tekanan yang ia dapat dari tatapan matanya.

Karma merasa kalau orang yang melintas di hadapannya bukanlah Isogai. Berbeda sekali dengan kepribadiannya yang mencerminkan seorang ikemen. Ada apa dengannya? Karma bertanya dalam hati.

"Karma, Nakamura, ayo kita lanjutkan belajarnya. Maaf karena telah membuat kalian menunggu"

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : Saya ngerasa karakter disini, terutama main character-nya di chapter ini OOC sangat. Bener gak sih? Trus saya juga ngerasa konflik disini agak menyimpang karena bawa-bawa karakter lain, ada Asano pake nyelip segala lagi(?). Yaa, walaupun begitu alurnya masih berkesinambungan kok, tenang aja~

Ngomong-ngomong, saya gak bisa rutin update fict ini seminggu atau berapa hari sekali jadi fict ini bergantung sama tugas sekolah. Kalau tugas sekolah mengharuskan saya pergi ke warnet untuk print atau apapun itu, baru saya bakal update fict ini. Maksudnya sih sekalian on, maklumlah di rumah gak punya fasilitas internet *nangis. Jadi sebagai gantinya, saya bakal post 2-3 chapter sekaligus biar kalian bacanya enak.

Cukup sekian basa-basinya, silahkan gunakan kotak review untuk berkeluh kesah mengenai chapter ini. Terima kasih *kabur.

Next Chapter 4 : Jealous!