Meskipun hari sudah gelap gulita, kota Kunugigaoka masih belum surut akan keramaian. Gemerlap lampu toko dan kendaraan masih terlihat, membentuk perpaduan warna yang indah dipandang mata. Jalanan kota yang terang benderang itu mampu membuat orang yang berlalu lalang membuka mata. Cahaya yang berkilauan itu mengiringi mereka di sepanjang jalan pulang.

Isogai Yuuma, salah satu dari umat manusia yang masih berada di pusat kota. Seragam SMP Kunugigaoka masih dikenakannya, hanya saja tanpa rompi abu yang melekat bersama kemeja putihnya. Wajahnya tertampak jejak-jejak keringat yang masih membekas disana. Tatapan matanya menandakan bahwa ia sudah sangat lelah dengan hari ini. Tenaganya sudah terkuras habis karena banyak sekali kegiatan yang harus ia kerjakan.

Sebenarnya si ikemen itu tidak lembur, namun pelanggan di kafe hari ini jumlahnya sampai mencekik leher. Dan mana mungkin juga ia bisa mengambil lembur sementara ibu dan kedua adiknya berada di rumah. Selain itu, Isogai harus sekolah esok hari. Pihak kafe pun tidak mengizinkan pekerja paruh waktu sepertinya untuk mengambil kerja lembur, sebesar apapun bayarannya. Statusnya masih pelajar, SMP pula.

Dengan langkah gontai Isogai berusaha berjalan tegap menuju halte bis. Sedikit demi sedikit ia mengumpulkan tenaga agar tubuhnya tidak ambruk di tepi jalan, atau tertidur di dalam bis saat perjalanan pulang. Ia juga berusaha menenteng plastik besar berisi makanan yang ia dapat dari manajernya. Lumayan untuk sarapan besok.

Kalau dipikir-pikir, baru pertama kali Isogai merasa lelah seperti ini. Sebelumnya ia tetap kelihatan segar meskipun ia mendapatkan tugas ekstra di tempat kerjanya. Ada hal lain yang yang membuatnya merasa begitu lelah.

Kejadian di perpustakaan siang itu membuatnya kehilangan banyak tenaga, konsentrasi, dan perasaan tenangnya. Alhasil ia menjadi sering melamun saat bekerja, terkadang bersikap ceroboh saat mengantar pesanan, dan fokusnya tidak tertuju pada pekerjaannya—

—melainkan pada sosok Akabane Karma dan Nakamura Rio.

.

.

.

Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei

In Dilemma © shichigatsudesu

Chapter 4 : Jealous!

.

.

.

Setelah perkelahian antara Akabane Karma dan Tsuchiya Kaho itu berakhir, suasana perpustakaan kembali kondusif. Meskipun atmosfer disana begitu canggung, akan tetapi desisan anak gedung utama terhadap kelas E sudah menghilang sepenuhnya. Tidak ada lagi yang mencibir kehadiran Karma dan Rio saat mereka berada di tempat yang di dominasi oleh buku itu.

Ini semua berkat serangan kejut dari Isogai Yuuma.

"Jadi, bagaimana cara mencari nilai y ini?" Rio menunjukkan huruf y yang tertulis di kertas putih miliknya.

"Mudah. Berhubung kau sudah mencari x, jadi kau bisa memasukkan nilai x ini ke persamaan yang ini" jelas Karma sambil menunjukkan jejak pensil Rio disana.

"Oh, metode substitusi!"

Karma menolehkan kepalanya ke arah Rio kemudian mengangguk. "Mudah bukan?"

"Tapi, terkadang aku bingung jika soalnya seperti ini" Rio meletakkan jari telunjuk dan jempolnya tepat di dagunya, memandangi soal persamaan linear dengan tatapan bingung. "Persamaan mana yang harus aku gunakan untuk mencari si "Persamaan mana yang harus aku gunakan untuk mencari si y ini?"

"Kalau salah satu nilai sudah kau ketahui, apapun persamaan yang kau gunakan tidak masalah" jawab Karma seraya menempelkan punggungnya pada sandaran kursinya. Ia meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya. "Supaya mudah, gunakan persamaan yang tidak memiliki angka yang besar"

"Hmm, kalau begitu—"

Rio menggantungkan kalimatnya di udara, begitu melirikkan pandang kepada siswa dengan dua helai surai yang mencuat di seberangnya. Gadis pirang itu memperhatikan Isogai yang membaca buku dalam diam. Tida ada satu huruf pun yang keluar dari mulutnya. Rio menatap lemas Isogai. Rasa bersalahnya kembali ia rasakan.

Apa Isogai-kun marah? Dari tadi dia asik sendiri.

"Isogai-kun..." gumam Rio lirih.

Karma memandang Rio setelah sadar bahwa kalimatnya tadi menggantung. Gadis itu menghentikan aktivitasnya, kemudian mendadak lesu. Awalnya Karma merasa bingung dengan sikap Rio yang tiba-tiba diam. Akan tetapi ketika ia melirik ke arah Isogai, si surai merah itu paham. Pasti gadis itu merasa bersalah.

Karma mengubah posisi santainya. Ia tidak lagi duduk bersandar melainkan tegap seperti sebelumnya. Tangan kirinya ia gunakan sebagai penopang dagu. Kemudian iris tembaganya menatap surai hitam yang tenggelam dalam pelajaran sejarah.

Entah Isogai benar-benar membaca buku atau melamun, tapi sepertinya tatapan anak itu begitu kosong. Pikir Karma.

"Isogai-kun?" Rio mencoba memanggil si ikemen.

Satu kali, dua kali, tidak ada jawaban.

"Isogai-kun?"

Iris emas Isogai bergerak. Kini murid absen dua di kelas E itu mengangkat wajahnya menatap Rio. "Ahh, maafkan aku, Nakamura. Ada apa?"

Rio kembali menunduk. Ia mencoba menetralisir rasa gugupnya. "Isogai-kun, apa kau marah, gara-gara masalah tadi?"

Isogai dan Karma sama-sama terkejut mendengar pertanyaan si surai pirang. Pandainya, wajah mereka sama sekali tidak menampakkan ekspresi terkejut. Tetap tenang seperti biasa.

"Hmm, aku?"

"Ya" Rio mengangguk pelan. "Maafkan aku, Isogai-kun. Aku salah. Seharusnya aku tidak mencari gara-gara. Kau mau memaafkan aku, kan?"

Isogai memperhatikan Rio yang terlihat lemas di hadapannya. Gadis itu benar-benar merasa bersalah. Matanya menyiratkan rasa menyesal yang teramat dalam atas kejadian yang berlangsung beberapa menit yang lalu itu.

Sebenarnya bukan Rio yang membuatnya kesal seperti itu. Gadis itu 'berbuat onar' secara tidak sengaja. Akan tetapi ia marah karena Karma dengan seenak jidat mengaku sebagai kekasih Nakamura Rio. Hal itu telah membuatnya merasa cemburu, asal tahu saja.

Isogai merasa tidak enak hati dengan Rio.

"Hei, Isogai-kun. Kau mau memaafkanku, kan?"

Isogai menatap Rio sekali lagi. Ia tidak tega dengan gadis itu.

"A—"

KRRRRIIIIINNNGGG

Sebuah suara menghentikan kalimat Isogai yang baru keluar satu huruf dari mulutnya. Isogai, Rio dan Karma sedikit terkejut karena bunyinya nyaring sekali— itu karena perpustakaan begitu sepi. Isogai segera merogok saku celananya yang bergetar. Ternyata suara itu berasal dari ponsel Isogai.

Itu bukan nada dering telepon atau pesan singkat, melainkan bunyi alarm.

"Ahh, sudah jam segini" Isogai mendadak bangkit kemudian merapikan buku-buku yang ia pinjam ke tempat semula.

"Isogai-kun?" Rio mendadak bingung.

"Aku harus pergi ke tempat kerja sekarang. Maaf aku cuma belajar sebentar" ucap si ikemen sembari menyelempangkan tasnya. "Sampai jumpa"

"Ah, Isogai-kun? Tung—" Rio mencoba menahan Isogai, akan tetapi langkah ketua kelas itu benar-benar cepat. Apa Isogai terburu-buru?

Rio menunduk lemas. Beberapa detik kemudian, ia kembali menjatuhkan dirinya ke atas kursi.

"Nakamura-san, sudahlah lupakan saja" Karma berusaha menenangkan Rio.

"Tapi, aku merasa tidak enak dengan Isogai-kun"

"Karena kejadian barusan?"

Rio mengangguk. "Aku merasa telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Isogai-kun" Gadis rambut pirang itu menutup buku paket matematika yang dipinjamnya. Kemudian ia menyandarkan punggungnya pada kursi cokelat milik perpustakaan. Rio mengambil napas sejenak.

"Isogai-kun telah mengajakku belajar bersama disini sampai mid semester nanti. Dan dia telah mengizinkanku untuk mengajakmu bergabung juga. Tapi sekarang, aku malah membuat Isogai-kun kecewa. Aku merasa bersalah"

Rio menundukkan kepalanya lebih dalam lagi. Karma yang memperhatikan gadis itu bercerita merasa tidak tega. Sebenarnya, Karma juga setengah hati merasa bersalah dengan Isogai karena ia merupakan penyebab pertengkaran hebat itu.

Refleks, Karma menggerakkan tangannya ke arah atas. Menyentuh puncak kepala Rio dan mengelus pelan rambut panjangnya.

Rio mendongakkan kepalanya pelan.

"Isogai-kun itu orang yang baik. Dia tidak pemarah maupun pendendam. Jadi aku yakin, pasti besok Isogai-kun sudah baik-baik saja"

Karma menghentikan kalimatnya, lalu menyunggingkan sebuah senyuman. Rio yang melihat senyuman itu menganga kecil, takjub dengan ekspresi yang terpampang di wajah Karma saat ini.

Dalam sekejap Rio merasakan suatu keanehan dalam hatinya. Saat ia menatap wajah Karma yang tersenyum itu, perasaan nyaman langsung mengalir dalam dirinya. Pertama kali ia rasakan hal seperti ini.

Tapi perasaan apa ini?

Setelah sekian lama saling tatap, perlahan Rio menyunggingkan senyum. Senyum yang mampu membuat Karma merasa terbang sampai ke langit ketujuh saking senangnya.

"Hmm, baiklah"

Karma menghentikan aktivitas 'mengelus' kepala Rio. Gadis itu sudah tidak masam lagi, jujur Karma merasa lega. Tetapi pikirannya melayang pada sosok si ikemen. Rasa penasaran tiba-tiba menghantui si surai merah—

—apa yang membuat Isogai begitu marah saat ini.

.

.

.

Suasana gaduh yang menggema di dapur tidak dapat mempengaruhi fokus seorang Isogai Yuuma.

Setibanya di kafe tempat kerjanya, ia segera mengganti seragam abunya dengan seragam hitam putih. Setelahnya ia segera bertugas menjadi seorang pelayan; menyambut pelanggan, melayani pelanggan, kemudian mengantarkan pesanan pelanggan.

Tetapi setelah 30 menit, Isogai mengganti tugasnya dengan bekerja di dapur. Ia mendapat bagian mencuci perabotan dapur serta gelas piring bekas pesanan. Saat ini saja ia sudah membersihkan 50 lebih alat-alat makan yang telah digunakan.

Namun, jumlah tersebut lebih sedikit dibanding hari-hari sebelumnya. Biasanya Isogai bisa membersihkan perabotan makan lebih banyak dari angka tersebut. Ada sesuatu yang memperlambat kinerjanya.

"Isogai-kun, jangan melamun. Fokus mencuci!" teriak manager kafe yang kebetulan sedang memantau.

Isogai mengerjapkan matanya. "B-Baik"

Isogai sedang tidak fokus kerja.

Selama ia bekerja— mulai dari mencuci, menyabuni, sampai mengelap peralatan makan, pemilik rambut hitam legam itu tengah berada di dalam alam bawah sadar. Ia tidak benar-benar memperhatikan piring maupun gelas yang ia bersihkan, karena pikirannya tengah menayangkan kembali kejadian di perpustakaan itu.

Isogai melamun sambil bekerja. Tatapannya kosong, dan indera pendengarannya hanya dapat mendengar suara air yang mengalir dari keran wastafel serta kalimat Karma yang menyebutkan bahwa Nakamura Rio adalah kekasihnya.

Jujur, Isogai cemburu. Seandainya ia berada di posisi Karma saat itu.

PRAANNGG!

"Astaga..." Isogai terkejut ketika ia tak sengaja melepaskan gelas yang ia cuci. Tangannya begitu licin karena dilumuri busa sabun, tapi syukurlah gelasnya baik-baik saja.

"Isogai-kun, ada apa?" seorang pelayan wanita yang usianya lebih tua datang menghampiri Isogai.

"Tidak apa-apa, onee-san" jawab si ikemen sambil menennagkan salah satu rekan kerjanya. "Maafkan aku, tadi aku sedikit melamun"

Wanita itu menghembuskan napas lega, kemudian kembali pada pekerjaannya.

Sepeninggal pelayan wanita itu, Isogai menghembuskan napasnya pelan. Ia merasa lega karena benda yang jatuh itu baik-baik saja. Diambilnya gelas dengan lumuran sabun itu, kemudian ia membilasnya sampai bersih.

Apa yang harus aku lakukan? Aku cemburu dengan Karma.

.

.

.

Ternyata perkataan Akabane Karma kemarin salah.

Keyakinan Rio terhadap Isogai menguap begitu saja ketika gadis itu melihat ketua kelasnya berwajah suram di bangkunya. Rencananya Rio ingin mengajak Isogai mengobrol, tetapi ia mengurungkan niatnya karena ia tak ingin si ikemen memarahinya lagi.

"Ada apa, Nakamura-san?"

Rio tersentak ketika seseorang berbicara tepat di telinga kanannya. Jelas saja anak itu terkejut, sehingga menabrak meja Kimura di samping kirinya. Beruntung pelari tercepat di kelas 3-E itu belum datang.

"Karma-kun?!" seru Rio.

Karma tertawa sejenak melihat ekspresi terkejut Rio yang menurutnya lucu. Selanjutnya ia berdehem, menetralisir suaranya yang agak serak.

"Kau masih mengkhawatirkan Isogai-kun?" tanya si surai merah.

"Y-Ya" Rio menunduk pelan, kemudian melirikkan matanya ke arah Isogai. "Apa Isogai-kun masih memikirkan kejadian kemarin?"

Karma menaikkan kedua bahunya, menandakan bahwa ia tidak tahu. Si surai merah memperhatikan Rio kemudian. Gadis itu masih memasang ekspresi rasa bersalahnya, meskipun tidak terlalu tampak seperti kemarin.

Selanjutnya Karma mengalihkan pandangannya pada ketua kelas END yang masih setia duduk di bangkunya. Ia memperhatikan penampilan Isogai secara intens. Beberapa detik kemudian ia menangkap sesuatu yang janggal dari si ikemen.

Karma mengalihkan matanya kembali ke arah si surai pirang. "Jangan khawatir. Isogai-kun tidak apa-apa"

"Hmm?" Rio menatap Karma bingung.

"Mungkin Isogai-kun murung karena tidak memakai rompi abunya"

"Hah?" Rio menganga tak percaya. Buru-buru ia memperhatikan pakaian yang dikenakan Isogai. Benar saja, ketua kelas yang biasanya mengenakan seragam lengkap, kini tidak memakai rompi.

Jujur saja, Isogai tanpa seragam lengkap bagaikan panda di gurun pasir. Aneh. Tapi apa hanya karena itu Isogai murung, meskipun saat ini masih pagi bahkan fajar belum sepenuhnya naik?

"Bagaimana kau tahu, Karma-kun?"

"Kau lupa? Kemarin Isogai-kun memberikan rompinya pada anak gedung utama itu"

Rio menaruh jari telunjuknya di dagu. Matanya ia gerakkan ke atas, seolah gadis itu menerawang kejadian yang dialaminya kemarin.

"Oh, ya!" Rio berhasil mengingatnya.

"Nah, saat itu Isogai-kun minta kembalikan rompinya hari ini" tambah Karma. "Mungkin anak gedung utama itu belum mengembalikan rompinya."

Benar juga, pikir Rio. Awalnya ia menyangka kalau dirinyalah yang membuat mood Isogai turun. Tetapi setelah ia mendengar penjelasan dari si surai merah, Rio merasa sedikit lega. Ia tak perlu mengkhawatirkan si ikemen lagi.

Rio hendak memasang senyum manisnya, tapi—

"Sudah kan? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi" ucap Karma. "Kalau kau merasa bersalah dan ingin minta maaf, aku bantu. Aku juga merasa bersalah"

—Karma menyentuh puncak kepalanya lagi. Rambut pirang yang panjang itu dibelainya, sama seperti di perpustakaan kemarin. Apalagi senyum manis Karma yang mekar di akhir kalimat, membuat jantung Rio semakin berdetak cepat.

Rio merona samar. Lagi-lagi ia terpesona dengan senyum Karma yang manisnya megalahkan gula. Hal ini merupakan sebuah keberuntungan karena tak sering anak itu menampakkan ekspresi wajah seperti itu.

Rio ikut tersenyum. "Baiklah"

Karma menjauhkan tangannya dari kepala Rio, kemudian melenggang pergi menuju bangkunya di belakang. Tak lama giliran gadis pirang itu yang melangkahkan kaki, meninggalkan jejak di pintu masuk menuju bangkunya di samping kanan Nagisa.

Di sisi lain, Isogai sesekali melirikkan pandang ke arah Karma dan Rio yang sedang bercakap-cakap di dekat pintu kelas. Jangan kira ia tidak mendnegar suara mereka. Si ikemen itu dengan seksama mendengarkan apa yang mereka bicarakan, tentu saja mengenai dirinya.

Dan betapa perihnya ia ketika melihat Karma yang tengah menenangkan si gadis pirang, dengan senyum tampan nan menawan tentunya. Rasanya seperti tubuhnya tengah terluka kemudian dibasuh oleh air garam. Sakit dan... perih sekali.

Isogai hanya bisa diam di bangkunya. Mengingat dirinya yang begitu lelah karena pekerjaan semalam yang menguras banyak tenaga. Ia tak ingin membuang energi yang ada hanya karena kegiatan yang tidak penting.

Merasa cemburu saja sudah membuatnya lelah, apalagi yang lain?

Kuharap aku tidak melihat adegan seperti itu lagi. Isogai berdoa dalam hati.

.

.

.

Tak terasa waktu mid semester akan segera tiba. Seluruh siswa SMP Kunugigaoka sudah mempersiapkan segudang fisik maupun mental untuk berperang melawan soal. Begitu juga dengan kelas 3-E.

Selama satu minggu menjelang ujian, Isogai beserta Rio dan Karma melakukan aktivitas mereka seperti biasa— belajar di perpustakaan sepulang sekolah. Meskipun disana masih tersisa bekas pertempuran Karma dengan Kaho, namun mereka bertiga tetap pergi ke perpustakaan untuk menambah ilmu.

Tak ada alasan bagi mereka untuk berhenti berkunjung ke perpustakaan selama masih ada kesempatan untuk belajar menjelang ujian. Apalagi sekarang desisan dari anak gedung utama kepada mereka sudah hilang. Seolah mereka bertiga adalah orang yang paling menakutkan di kelas E.

Dan sekarang tiba saatnya untuk pertarungan—

—ujian mid semester SMP Kunugigaoka dimulai!

.

.

.

Ujian mid semester SMP Kunugigaoka telah selesai. Selama dua hari, para siswa berusaha mati-matian untuk bertempur dan hanya bersenjatakan sebatang pensil. Meskipun begitu, senjata kedua anak kelas END telah diasah dengan begitu baik oleh guru tercinta mereka, Koro-sensei, sehingga mereka tak perlu takut melawan kurikulum Kunugigaoka yang mendiskriminasikan siswanya itu.

Namun sayang seribu sayang, yang berkuasa tetaplah di atas. Pihak guru berhasil menjungkirbalikkan kelas E dengan mengubah soal mid semester dua hari sebelum hari H tanpa sepengetahuan kelas kancrit itu.

Akibatnya, seluruh siswa kelas E terpaksa harus gugur di medan perang akibat satu soal yang tak terlihat berhasil menikam mereka dari belakang. Target memasuki top 50 di ujian tengah semester tidak tercapai. Misi telah gagal.

Lalu bagaimana keadaan Karma, Rio dan Isogai setelah kalah dari pertempuran?

.

.

.

TBC

.

.

.

OMAKE

.

.

.

"Baiklah. Hari sudah mulai sore. Latihan tambahan selesai" ucap Karasuma-sensei sebelum mengakhiri kegiatan belajar mengajar mereka.

"Terima kasih atas pembelajarannya" teriak seluruh siswa kelas 3-E di lapangan.

"Aku akan mengurangi waktu latihan pembunuhan kalian, karena sebentar lagi akan ada ujian tengah semester" tambah ketua pasukan elit itu. "Manfaatkan waktu tersebut untuk meningkatkan nilai akademik kalian"

"Baik" teriak kelas E lagi.

Isogai melangkahkan kakinya menuju sahabat surai kecokelatannya yang sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang.

"Maehara, tolong bantu aku menyimpan pisau dan pistol ini ke gudang" pinta Isogai.

Maehara menatap si ikemen kemudian mengacungkan jempolnya. "Baik, serahkan padaku"

Mereka pun mulai memunguti beberapa pisau dan pistol yang masih berserakan di lapangan. Setelah memasukkan benda-benda itu ke dalam kardus, sahabat sejoli itu segera pergi menuju gudang.

—di gudang—

Maehara menumpukkan kardus berisi pistol anti-sensei yang dibawanya teoat di atas kardus yang dibawa Isogai. Kemudian si cassanova menepukkan telapak tangannya karena terdapat debu yang menempel di permukaan epidermisnya.

"Selesai sudah" Maehara bergumam.

Isogai tersenyum, menatap sahabatnya yang terlihat sangat senang. "Terima kasih, Maehara"

Maehara hanya mengangguk. Tak lama seberkas ingatan melintas di kepalanya. "Oh ya, Isogai"

"Hmm?"

"Hari ini kau terlihat murung" komentar Maehara. "Aku memperhatikanmu sejak pagi. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal— maksudku, kau tidak memakai seragam lengkap hari ini"

"Ya, benar. Lalu?"

"Mengapa kau begitu? Dimana rompi abumu?"

"Ahh, itu—"

DRRRTTTTT

Isogai terkejut ketika merasakan getaran dari ponselnya yang berada di balik celana trainingnya. Buru-buru ia mengecek apa yang menyebabkan benda kotak itu bergetar.

"Eh? Asano?"

Maehara segera menoleh ke arah si ikemen begitu ia mendengar nama ketua OSIS SMP Kunugigaoka disebut. "Ada apa, Isogai?"

"Asano mengadakan rapat ketua kelas mendadak. Aku harus segera kesana"

Isogai meninggalkan Maehara dengan langkah tergesa-gesa. Ia merasa tidak enak dengan sahabatnya itu.

"Maaf, Maehara, aku harus pergi. Bisa kau urus sisanya?"

Maehara hanya mengangguk lesu. "Baiklah"

Isogai segera melesat begitu Maehara menyetujui permintaannya. Kini yang tersisa hanya si cassanova sendiri beserta seluruh isi gudang.

Setelah merapikan gudang, Maehara keluar dari bangunan bobrok itu untuk berganti udara dengan beberapa peluh yang menetes dari dahinya.

Tiba-tiba suara gesekan semak-semak terdengar begitu saja di telinga si surai kecokelatan. Maehara segera mencari dimana letak sumber suara itu. Gedung lama Kunugigaoka dikelilingi oleh pohon dan semak-semak, sehingga ia harus mencari tahu darimana asal suara itu.

Dalam sekejap iris mata Maehara melebar.

"Kaho?"

"M-Maehara-kun?"

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Maehara yang masih terkejut.

"Aku... ingin bertemu dengan Isogai-kun"

.

.

.

OMAKE END

.

.

.

A/N : fiuuhh akhirnya selesai juga, ada bonus omakenya pula *lapkeringet*. Bagaimana dengan chapter ini, apa terlalu cepat alurnya? Silahkan kritik dan saran atau apapun bisa ditulis di kotak review di bawah. Douzo~

Next Chapter 5 : Uncovered!