Ujian tengah semester SMP Kunugigaoka telah usai. Hubungan mereka semakin dekat. Perasaan mereka kepada gadis itu makin menjadi-jadi. Akan tetapi, perasaan cinta tersebut sangat persuasif terhadap emosi mereka.
Sekarang, bagaimana mereka mengendalikan perasaan mereka yang tercampur aduk seperti itu?
.
.
.
Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei
In Dilemma © shichigatsudesu
Chapter 5 : Uncovered!
.
.
.
"Aku mencintaimu, Nakamura"
.
.
.
Kelas 3-E, SMP Kunugigaoka telah menyelesaikan pertarungan mereka di gedung utama. Dan hasilnya... kekalahan.
Kini semua murid tengah merasa kecewa. Kepala ditundukkan dalam dengan ekspresi wajah masam. Begitu juga Koro-sensei, yang merasakan luka tengah bersarang di tubuh kuningnya. Ia menyesal karena telah meremehkan kurikulum di sekolah elit seantero Jepang itu. Akibatnya, semua muridnya gugur di medan perang.
"Sepertinya aku sudah meremehkan sistem pembelajaran di sekolah ini" ucap Koro-sensei, dengan nada rendah penuh penyesalan.
Tak ada satu pun yang berani bersuara saat itu. Nagisa dan Isogai hanya bisa menatap lembar ulangan mereka. Di ujung sana terdapat Terasaka yang tak acuh dengan situasi saat ini. Sisanya hanya dapat menundukkan kepala mereka tanpa melakukan kegiatan apapun.
Begitu juga dengan Rio. Mereka kecewa dengan hasil ujian yang didapatnya, ingin sekali ia meremas kertas ulangannya. Spidol merah yang membentuk angka puluhan itu membuat dirinya merasa muak.
Suara tap tap dari belakang kelas membuat Rio tertarik untuk menggerakkan kepalanya. Tiba-tiba, suara gesekan angin terdengar ketika seseorang melemparkan pisau anti-sensei ke makhluk bertubuh gurita di depan kelas. Alhasil makhluk itu menghindar.
"Benarkah? Kalau kau terus membelakangi kami seperti itu, kau tidak akan bisa melihatku yang akan membunuhmu"
Suara lantang itu, sangat familiar di telinga Rio. Langkah kaki barusan semakin jelas terdengar. Gadis pirang itu menoleh ke samping, mendapati murid absen satu yang tengah berjalan ke depan kelas.
Karma-kun?
"Karma-kun?!" Koro-sensei geram. "Kau tidak lihat aku sedang depresi—"
Karma meletakkan beberapa lembar kertas ulangannya di atas meja guru. Mata Koro-sensei yang kecil itu semakin bulat, begitu juga dengan seluruh siswa kelas 3-E.
98... 98... 99... 100...
Semua mata yang melihat angka tersebut takjub dibuatnya. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tetapi terdapat sedikit perasaan senang karena ternyata Karma menjadi satu-satunya anak kelas kancrit yang berhasil masuk top 50.
"Meskipun soalnya berubah, itu tidak akan mempengaruhiku"
Karma mengembangka seringainya. Merasa bangga karena hanya ia yang berhasil menyelesaikan misi yang diberikan guru tercintanya. Si surai merah kini menjulurkan lidahnya, berusaha mengejek Koro-sensei yang kulitnya sudah berubah warna menjadi merah.
"Wah, hebat!"
"Matematika dapat 100? Tidak bisa dipercaya"
Rio yang mendengar pujian tersebut perlahan memasang senyuman manisnya. Lagi-lagi Karma berhasil membuatnya merasa kagum, entah untuk yang keberapa kalinya
Namun sedetik kemudian, ia menurunkan senyumnya. Wajahnya kembali masam seperti semula. Dalam benaknya, ia mencoba membandingkan diri dengan si surai merah. Tapi nilainya jatuh terlalu jauh di bawah Karma, jadi apa yang harus dibandingkan?
Ketika seluruh siswa kelas E berkumpul mengelilingi Karma dan Koro-sensei, Rio melangkah pergi dari kelas. Langkahnya begitu halus namun besar agar ia bisa segera menghilang tanpa disadari oleh teman-temannya. Si gadis pirang tak ingin seseorang tahu bahwa dirinya menghilang dari kelas.
Tanpa disadarinya, sepasang mata tengah memperhatikan dirinya yang melenggang dari kelas.
Isogai secara tidak sengaja melirik ke arah Rio yang agak merenggang dari kelas. Iris emasnya memperhatikan setiap gerak geriknya, termasuk ekspresi wajahnya. Rio terlihat murung. Dan dari dadanya yang kempas kempis, Isogai beranggapan bahwa gadis pirang itu tengah menahan gejolak emosi dalam dirinya.
Sejujurnya Isogai ingin mengejar gadis itu, namun ia tak ingin teman-teman lain merasa curiga dan malah ikut membuntutinya. Kalau firasatnya yang mengatakan bahwa Rio sedang emosi itu benar, maka lebih baik gadis itu dibuarkan sendiri dulu.
Isogai tidak ingin jadi moodbreaker-nya Rio, sehingga ia harus bersabar sampai kerumunan ini membubarkan diri.
.
.
.
Langkah demi langkah Isogai gerakkan menyusuri hutan yang mengelilingi gedung lama Kunugigaoka. Sejak sepuluh menit lalu ia mencari Rio, tetapi sampai saat ini gadis itu belum ketemu juga. Apa Rio pergi jauh atau dirinya yang payah dalam mencari gadis itu, Isogai tak tahu. lalu si ikemen itu harus pergi kemana lagi?
Tak lama kemudian telinganya menangkap suara isakan tangis seseorang. Semakin Isogai melangkah, semakin jelas suara itu. Ketua kelas E itu yakin kalau suara isakan itu milik seorang gadis yang ia cari sejak tadi.
Perlahan Isogai mendekatkan diri ke arah gadis itu.
"Nakamura?" panggil Isogai.
Benar saja. Gadis itu, Nakamura Rio, sedang menangis sambil menatap pemandangan di depannya. Berkat panggilan tersebut, Rio segera menoleh.
"Isogai-kun? Mengapa kau ada disini?" tanya Rio tanpa memandang lawan bicaranya. Gadis itu terus menundukkan kepala, menyembunyikan air mata yang kini terlihat seperti sebuah anak sungai di wajahnya.
"Aku melihatmu keluar kelas saat kami semua berkumpul di meja guru" jawab Isogai. "Aku mencarimu"
"Untuk apa?" tanya si pirang tersedu-sedu. Bahunya bergetar. Suaranya yang parau menandakan bahwa gadis itu akan melanjutkan tangisnya.
Isogai menatap iba Rio. Ia tak kuasa melihat objek yang sedang menangis di depannya. Ia pun mencengkeram tangannya.
"Menemanimu"
"Hah?"
Isogai maju beberapa langkah. Kini posisinya tak jauh dari tempat Rio berpijak. Ia sengaja mengikiskan jarak, agar si ikemen dapat mendengar suara Rio yang hampir tidak terdengar.
"Mengapa kau menangis?"
Rio tidak segera menjawab. Air matanya yang mengalir semakin deras telah menutup mulutnya. Isogai juga terpaksa membisu, jadi ia memutuskan untuk menunggu jawaban Rio.
"Isogai-kun..."
Isogai semakin iba melihat Rio yang tangisnya malah menjadi-jadi. Sejujurnya ia merasa perih apabila melihat seorang gadis menangis di hadapannya, apalagi yang saat ini tengah terisak yaitu orang yang ia cinta, Nakamura Rio. Jika Isogai diam saja, tak melakukan apapun agar air bening itu berhenti, maka ia merasa bodoh sekali, bahkan melebihi Terasaka selaku orang paling bodoh di kelas kancrit itu.
Perlahan Isogai menggerakkan tangannya, kemudian menyentuh pipi mulus Rio. Dihapusnya jejak air mata yang membentuk sungai kecil di wajahnya, hanya dengan menggunakan ibu jarinya.
"Jangan menangis, Nakamura"
Rio mendongakkan kepalanya yang sedari tadi ditekukkan ke bawah. Iris birunya beradu pandang dengan iris emas Isogai. Disana tersirat perasaan khawatir si ikemen kepada si pirang. Sedikit perasaan bersalah melanda Rio karena telah membuat Isogai khawatir.
"Isogai-kun?" gumam Rio bingung.
"Kenapa kau menangis?" tanya Isogai lagi.
"Aku—" Rio menundukkan kepalanya untuk yang kedua kalinya. "Aku kecewa dengan hasil ujian ini"
"Kecewa?"
Rio mengangguk. "Aku kesal dengan pihak guru dari gedung utama yang dengan seenak jidat mengganti materi ujian tanpa sepengetahuan anak kelas E"
"..."
Akibatnya nilai kami jatuh, padahal aku dan yang lain sudah berusaha sebisa mungkin. Aku tak ingin kita semua didiskriminasi, aku ingin kita bangkit, aku tak ingin ditinggal Koro-sensei"
"..."
"Selain itu, hanya Karma-kun yang bisa lulus ke top 50. Aku merasa bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Karma-kun. Aku merasa sedikit cemburu dengan kemampuannya itu"
Isogai terkejut ketika kata cemburu keluar dari mulut Nakamura Rio. Jika dibandingkan dengannya, jelas ia merasa lebih cemburu. Dan alasan Rio barusan juga merupakan salah satu alasan Isogai merasa cemburu dengan si berandal cerdas.
"Aku juga selalu merasa seperti itu. Apalagi barusan aku lihat—"
"Dan juga aku—" Rio memotong kalimat Isogai. Kepalanya masih menunduk. "Aku pasti mengecewakanmu, Isogai-kun. Maafkan aku"
"Hah?" Isogai terkejut, dan rasa kagetnya makin menjadi-jadi ketika melihat gadis di hadapannya tengah membungkukkan badannya sekitar 45 derajat.
"Selama seminggu kemarin, kita pergi ke perpustakaan untuk belajar tambahan. Kau yang mengajakku, tapi aku malah membuat keributan"
"Tunggu, aku tidak—"
"Selain itu, nilaiku jelek, padahal aku selalu belajar. Dan karena masalah di perpustakaan itu, aku merasa kau menjadi semakin jauh dariku"
Isogai mengernyitkan dahi. Ya, dirinya juga merasa kalau kedekatan ia dan Rio agak merenggang, sejak kejadian itu. Tapi sungguh, bukan berarti ia merasa kecewa atau apalah yang gadis itu sebutkan.
"Maafkan aku!" Rio membungkuk lagi.
Dengan segera Isogai mencengkeram lengan atas Rio, kemudian berusaha mengembalikan ketegapan tubuhnya. Tidak masalah jika Rio minta maaf padanya (walaupun ia tidak menganggap gadis itu salah), tapi tidak usah membungkuk segala. Isogai jadi merasa canggung.
"Sudah, sudah, jangan meminta maaf seperti itu. Aku jadi merasa tidak enak"
"Justru aku merasa tidak enak jika aku tidak minta maaf"
"Yasudah, tapi tidak usah membungkukkan badan segala"
Rio menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku harus begini. Rasanya aku ingin menangis jika aku tidak melakukan ini"
Isogai mengacak rambutnya kasar. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Ternyata susah juga ya untuk menghibur seorang gadis yang sedang menangis.
Tapi kalau dipikir-pikir, saat ini Isogai sedang berada di momen yang langka. Sebelumnya ia tak pernah berduaan dengan Rio seperti ini. Dalam sekejap si ikemen merasa ingin sekali mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu. Suasana disana sudah terlanjur romantis, sayang kalau disia-siakan.
Tapi Isogai belum memperkiraka reaksi apa yang akan ditampilkan Rio. Ahh sial, ia galau!
Ungkapkan atau jangan?
"Baiklah"
"Hmm?" Rio bingung.
"Nakamura, aku memaafkanmu" ucap Isogai tegas. Ia melihat Rio yang perlahan mulai mengembangkan senyumnya. "Tapi sebagai gantinya..."
Isogai kembali mengikis jaraknya dengan gadis itu. Tangannya kembali mencengkeram lengan atas Rio. Ditariknya si pirang ke dalam pelukannya.
Sontak Rio terkejut. Ia tak menyangka murid absen dua itu akan memeluknya seperti ini. Jujur saja gadis itu merasa sesak, tetapi mengapa ia tidak memberontak? Rio tetap diam, membiarkan Isogai memeluknya.
Ada sedikit perasaan nyaman dalam diri Nakamura Rio.
"Sebagai gantinya, menangislah di dadaku" lanjut Isogai. "Jika ada orang yang melihat, aku akan menghalangi wajahmu. Jadi kalau kau masih kesal dan ingin menangis, silahkan lakukan disini"
Rio masih membelalak kaget. Saat ini ia bingung apa ia harus memberontak karena dipeluk dengan seenak jidat, atau mengucapkan terima kasih karena telah berusaha menghiburnya. Hatinya tengah merasa dilema.
Saat memeluk Rio, Isogai merasakan tubuh si pirang bergetar kecil. Mungkin gadis itu menuruti perkataannya. Dalam sekejap ia mengingat Karma yang mengelus puncak kepala Rio untuk menenangkannya. Dan sekarang, ia melakukan hal yang sama seperti Karma lakukan beberapa hari yang lalu.
Tekad Isogai untuk menyatakan cintanya semakin besar. Meskipun ia tidak bisa memprediksi respon yang akan didapatkannya, Isogai tetap akan melakukannya. Tapi bisakah ia?
"Nakamura" bisik Isogai.
Rio yang semula menangis segera mendongakkan kepalanya begitu suara halus Isogai menyentuh indera pendengarannya. Jejak air mata gadis itu kembali terlihat.
"Ya, Isogai-kun?"
Jeda sejenak. Isogai menghela napas panjang. Ia tengah memantapkan niat kokuhaku-nya. Kini jantung dan napas si ikemen sudah kembali netral. Ia pun menatap serius ke arah Rio.
"Aku mencintaimu, Nakamura"
"Hah?"
Rio membelalak kaget. Apa ia tidak salah dengar? Isogai Yuuma, mengucapkan hal seperti itu?
Saking kagetnya, Rio kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang Isogai. Gadis itu pun menangis sejadinya disana.
.
.
.
Karma merebahkan tubuhnya di atas rumput hijau yang membentang tak jauh dari kelas. Pohon besar di dekatnya merupakan pelindung yang akan menjaganya dari sinar matahari langsung. Kedua tangannya ia gunakan sebagai bantal. Dan iris tembaganya tengah menatap langit biru yang terhalang dedaunan.
Tiba-tiba ia teringat kejadian yang baru saja ia lihat beberapa menit lalu. Langit biru yang membentang itu seolah sebuah layar besar, kemudian tampak dua sosok teman sekelasnya yang sedang bermesraan disana.
Isogai Yuuma dan Nakamura Rio, mereka berpelukan? Mengapa bisa?
Karma hendak pergi menuju hutan untuk beristirahat setelah Koro-sensei membagikan hasil ujiannya yang memuaskan. Saat itu ia menyadari kalau Rio tidak ada di kelas. Hanya saja ia tidak terlalu memperdulikannya. Mungkin gadis itu sedang pergi ke toilet.
Akan tetapi, Karma merasa khawatir ketika menyadari Rio yang tak kunjung kembali. Berhubung ia juga merasa kantuk, akhirnya ia pergi dari kelas menuju hutan. Mencari tempat yang nyaman untuk terlelap, sekaligus mencari gadis itu.
Ketika ia menemukan pohon paling besar di hutan itu, ia mendengar suara seseorang— atau mungkin dua orang yang tengah bercakap-cakap. Tapi sepertinya itu bukan percakapan biasa karena selain saling hentak, salah satu dari mereka tengah terisak.
Hal ini membuat tertarik seorang Akabane Karma. Ia mencoba melangkahkan kakinya pelan, kemudian menyingkirkan dedaunan dari ranting pohon yang rebdah serta menghalangi pemandangan. Dan ketika si surai merah menangkis ranting tersebut, iris tembaganya langsung membulat ketika menyaksikan adegan peluk-pelukan sahabatnya.
Karma hanya bisa diam melihat Isogai dan Rio yang sedang melakukan adegan romantis itu. Hanya saja tidak berlangsung lama. Murid absen satu itu segera melangkah meninggalkan tempat yang memberikan rasa perih pada hatinya. Ia menyesal telah mencari gadis itu.
Karma menghembuskan napasnya pelan. Dadanya terasa makin perih jika ia mengingat kejadian itu. Kalau ini sebuah ajang kompetisi, ia kalah start oleh Isogai. Jadi berhubung ia juga menyukai Rio, ia harus segera menyusul si ikemen yang sudah menyatakan cinta lebih dulu.
Harus. Karma harus melakukannya. Ia tidak ingin Isogai memiliki Rio.
"Karma-kun!"
Seseorang menepuk jidatnya yang sedikit terlihat akibat angin yang mengacak poninya. Karma yang tengah melamun jelas terkejut. Apalagi yang menyebabkan lamunannya buyar itu Nakamura Rio, gadis yang sedang ia bayangkan.
"Nakamura-san, jangan buat aku terkejut, dong!"
Rio hanya tertawa kecil, sedangkan si surai merah memegangi dahinya.
"Habis dari tadi aku panggil diam saja" gerutu gadis itu. "Maafkan aku ya, Karma-kun"
"Hmm, sudahlah"
Karma menggerakkan tubuhnya menuju pohon besar yang sedari tadi melindunginya. Disandarkan punggungnya pada batang berwarna cokelat itu. Kemudian Karma menatap si pirang yang masih tertawa.
Dalam hatinya, Karma senang melihat gadis itu melepaskan tawanya, setelah beberapa waktu lalu ia melihat Rio sedang menangis dalam pelukan Isogai, entah karena apa. Tapi kalau dipikir-pikir, bagaimana bisa Rio terlihat biasa saja sedangkan beberapa waktu lalu ia menangis? Secepat itukah perasaan seorang gadis dapat berganti?
Atau jangan-jangan, Isogai yang membuat mood-nya berubah? Apa karena pelukannya, atau kokuhaku-nya? Jangan-jangan Rio merasa senang seperti ini karena ia dan Isogai... sepasang kekasih?
Karma menggelengkan kepalanya pelan. Apa sih yang sedang ia pikirkan?
"Karma-kun, kau tahu terkadang aku selalu ingat ketika kau berhasil melukai Koro-sensei saat pertama kau masuk sekolah lagi" ucap Rio. "Bagaimana kalau kita melakukan trik itu lagi?"
"Pertama masuk sekolah— oh, yang itu" akhirnya Karma mengingat trik yang ia gunakan untuk melukai salah satu tentakel gurita itu. "Apa kau yakin? Apa tidak membosankan?"
"Tentu saja, karena kita tidak akan menempelkan pisaunya di tangan"
"Lalu, dimana?"
Rio menyentuh puncak kepalanya dengan jari telunjuknya. "Disini"
Karma menaikkan sebelah alisnya. "Kepala— tidak, rambut?"
Rio menganggukkan kepalanya.
"Bagaimaa caranya?"
Rio membuka almamater kuningnya, mengambil sebuah pisau karet dan gunting yang selalu ia sembunyikan. Kemudian ia menggeser tubuhnya sehingga gadis itu duduk bersebelahan dengan si surai merah.
"Aku akan menggunting ini menjadi kecil-kecil. Kemudian—"
Rio mengambil satu helai daun yang berserakan di sekelilingnya. Karma hanya bisa memperhatikan demonstrasi si gadis pirang, tanpa berkomentar sedikit pun.
"—potongan pisau ini ditempel di daun ini. Oh, kau punya perekat tidak, Karma-kun?"
Karma menggeleng pelan, akan tetapi iris tembaganya menjelalat mencari sesuatu yang dapat ia gunakan sebagai perekat.
"Bagaimana kalau pakai ini?" usulnya sambil menyodorkan dua helai rumput. "Ini hanya simulasi. Coba saja dulu"
"Kalau begitu, tundukkan kepalamu"
"Hah?" kagetnya. "Mengapa harus aku?"
"Kau tidak mau?"
"Bukan begitu" Karma mencoba menjelaskan agar gadis itu tidak salah paham. "Kalau daun itu ada di kepalaku, Koro-sensei tidak akan membersihkannya. Tapi kalau perempuan kemungkinan Koro-sensei akan menyingkirkan daun ini"
Benar juga, pikir Rio. "Yasudah kalau begitu. Pasang di kepalaku"
Karma mengambil beberapa helai daun dengan sepotong pisau anti sensei, kemudian ia letakkan di puncak kepalanya. Diikatnya daun itu dengan beberapa surai pirang milik Rio.
'TEMBAK' DIA!
Karma berhenti sejenak sebelum mengambil helai daun yang kedua. Ia seperti mendengar seseorang berbicara, tetapi selain mereka berdua tidak ada yang berkata seperti itu disana.
Kini hatinya terasa gundah. Tiba-tiba tersirat niat ingin menyatakan cinta kepada Rio. Karma berpikir untuk memantapkan tekadnya. Tak peduli apapun reaksi dari si gadis pirang jika ada orang yang menembaknya. Tapi kalau seandainya Karma ditolak, ia siap atau tidak?
Katakan atau jangan?
"Nakamura-san"
Rio menolehkan kepalanya ke arah Karma. "Ada apa?"
"Apa kau... baik-baik saja?"
"Y-Ya, aku baik" Rio mengangguk ragu. "Tapi kenapa?"
Karma menggerakkan tangannya yang semula ia gunakan untuk mengambil helai daun kedua. Kemudian ia menyentuh kepala bagian belakang Rio, dielusnya rambut pirang yang panjangnya sepunggung, lalu menariknya ke dalam pelukannya.
"Karma-kun, apa yang—"
"Nakamura-san, tadi kau melakukan ini kan—" ucap Karma, jeda sejenak. "—dengan Isogai-kun?"
Rio membelalak kaget. "B-B-Bagaimana kau tahu, Karma-kun?"
"Aku melihatnya, dan aku ingin melakukannya juga"
"Karma-kun" lirih si pirang. Gadis itu syok, tak paham dengan situasi yang ia alami hari ini. "Sejak kapan..."
"Aku cemburu, Nakamura" ucapnya. Karma terlihat serius, buktinya ia menghilangkan embel-embel '-san' dalam nama Rio. "Aku cemburu... dengan Isogai-kun... karena aku menyukaimu"
"Hah?" Rio terkejut untuk yang kedua kalinya. "Apa kau bilang?"
Karma mendekatkan bibirnya pada telinga Rio. Si surai merah hendak membisikan sesuatu.
"Aku mencintaimu, Nakamura"
.
.
.
Bel pulang sekolah telah berbunyi.
Kelas 3-E, SMP Kunugigaoka telah selesai melakukan kegiatan belajar mengajar mereka. Hari ini tidak ada latihan tambahan, sehingga seluruh siswa bisa langsung pulang.
Koro-sensei pasti sudah langsung melesat ke negara tetangga ketika bel sudah dibunyikan, begitu juga dengan Terasaka beserta Muramatsu, Yoshida dan Hazama. Nagisa, Kayano dan Sugino sudah bersiap-siap untuk pulang. Serta siswa lainnya satu per satu mulai meninggalkan kelas.
Hanya Rio saja yang masih betah dengan bangku kayunya. Bukunya masih berserakan, dan gadis itu tidak berniat untuk membersihkannya. Setelah Koro-sensei menghilang, Rio langsung meletakkan kepalanya di atas meja. Iris matanya menatap kosong lantai kayu di bawahnya, tersirat sebuah kelelahan disana.
"Rio-chan? Rio-chan? Bangun! Kau mau pulang tidak?"
Seseorang berusaha membangunkan Rio. Gadis itu mengguncangkan sahabatnya agar segera bangkit dari tempat duduknya. Tak mungkin ia membiarkan si pirang menginap disini.
Perlahan tubuh Rio bergerak, menandakan bahwa ia merespon Okano Hinata, gadis yang barusan berusaha membangunkan Rio.
"Oh, Hinata-chan. Ada apa?" ucap Rio dengan suara yang agak serak.
Okano menaikkan alisnya. "Aku mengajakmu pulang lah, apa lagi?" jawabnya. Sebelum Rio angkat suara atau memberikan pertanyaan tambahan, Okano kembali membuka mulutnya. "Kau ini kenapa? Ada masalah?"
Rio meletakkan kepalanya di atas tangan kanannya yang berfungsi sebagai penopang. Iris birunya tidak ia hadapkan ke arah perempuan paling gesit di kelas E, tetapi ia arahkan ke jendela kelas yang memperlihatkan pemandangan hutan.
"Masalah, ya?"
"Eh?" Okano semakin bingung. "Rio-chan, apa yang—"
"Huuaaahhh aku mimpi apa semalam, mengapa hari ini seperti ini?" keluh Rio tiba-tiba. Hal ini membuat Okano mengerjapkan matanya— bingung.
"Entah aku bisa menyebut ini sial atau apa, yag jelas banyak sekali hal yang terjadi hari ini" sambungnya. Okano hanya bisa mendengarkan keluhan dari sahabatnya, jadi ia harus diam beberapa saat.
"Selain nilai ujianku turun, aku mendapat pernyataan cinta dari dua orang sekaligus"
UHUK!
Okano tersedak mendengar kalimat terakhir dari si pirang. "HAH? Pernyataan cinta? Dua orang?!"
Mendengar nada suara Okano yang sedikit naik, buru-buru Rio membekap mulutnya. "Jangan keras-keras, Hinata-chan!"
"Oh ya. Maaf Rio-chan"
Rio menjauhkan tangannya dari Okano. Kini gadis berambut hitam itu bisa berbicara dengan leluasa. Suaranya pun sudah tidak meninggi lagi.
"Jadi, siapa yang menembakmu?"
Rio menundukkan kepalanya. Semu merah mulai terlihat di wajah putihnya.
"Dua orang..." jeda sejenak. "... Isogai-kun dan Karma-kun"
Lagi-lagi Okano terkejut, hanya saja kali ini lebih terkontrol dibanding sebelumnya. "Mereka berdua yang menembakmu? Disaat yang sama?"
Rio hanya mengangguk pelan.
Okano membuang napasnya pelan. Sepertinya gadis itu tengah mencari solusi dari masalah ini. "Jadi, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tidak tahu" jawab Rio. "Yang jelas sekarang aku ingin sendiri dulu"
"Baiklah kalau begitu. Aku pulang duluan"
Okano bangkit dari kursinya, kemudian menyelempangkan tasnya seraya melangkah menjauh dari si gadis pirang.
"Aku janji akan menceritakan detailnya"
Okano menolehkan kepalanya, kemudian tersenyum pada Rio. "Baiklah"
Seperginya Okano dari kelas, Rio kembali meletakkan kepalanya di atas meja. Rio gagal paham dengan situasi saat ini. Dan ia tak tahu langkah apa yang harus diambilnya.
Isogai dan Karma sama-sama menyatakan cinta kepada dirinya, dalam waktu yang sama, posisi yang sama, dengan kalimat yang sama. Ada apa dengan hari ini? Ini bukan hari menyatakan cinta, tapi mereka...
Ahh, percuma ia berkeluh kesah disini, tidak ada gunanya. Lebih baik ia pergi dari sini, kemudian mencari tempat yang bisa menghilangkan stress-nya.
Dengan segera Rio merapikan buku-bukunya yang masih berserakan. Setelahnya ia segera pergi meninggalkan kelas bobrok itu.
.
.
.
Entah kenapa Rio merasakan kerongkongannya begitu kering.
Setelah tiba di kaki gunung, ia memasuki gedung utama Kunugigaoka untuk singgah ke vending machine. Air mineral dalam botol minumnya sudah habis, sehingga ia terpaksa mengeluarkan uang untuk membeli setidaknya satu kaleng minuman pelepas dahaga.
"Mesin minumanya dimana ya?" gumamnya.
Sepanjang perjalanan, ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan guna mencari dimana letak vending machine. Tapi meski sudah berjalan jauh dari gerbang, si surai pirang masih belum menemukan satu pun mesin berbentuk persegi panjang itu.
Maklumlah, ini bukan lingkungan kelasnya, sehingga ia tidak begitu hafal seluk beluk gedung utama Kunugigaoka. Mungkin lain kali ia harus sering-sering kesini, untuk hanya sejedar mengingat letak vending machine atau paling tidak letak toilet.
"Eh?"
Rio menghentikan langkahnya. Tiba-tiba saja terdapat satu kaleng minuman soda yang menggelinding ke arahnya. Minuman itu datang dari arah kanan, jadi jika Rio berbelok kesana kemungkinan besar ia akan langsung bertemu dengan vending machine.
Akhirnya...
Rio berjongkok untuk mengambil minuman tersebut. Itu milik seseorang, jadi ia berniat untuk mengembalikannya. Tetapi saat ia hendak mengambil kaleng itu, sebuah tangan lain hendak mengambil benda yang sama. Keduanya terkejut, lantas mereka pun mulai saling melemparkan pandang yang sebelumnya tak bisa dilakukan karena terhalang sebuah dinding bercat abu-abu.
Iris mata mereka sama-sama membulat.
"Asano-kun?"
"Loh, anak kelas E?"
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N : Waktu itu ada yang review katanya lebih suka pair AsaRio. Nah untuk chapter depan saya kasih FULL AsaRio. Selamat membaca~
Next Chapter 6 : Discussion!
