"Nakamura Rio, ya?"
Asano menopang dagunya dengan menggunakan kedua tangannya yang ia rapatkan. Rio meneguk salivanya. Iris birunya jelalatan memandangi ketua OSIS SMP Kunugigaoka, segelas coffee latte, dan macaroni schotel di hadapannya. Air mukanya menampakkan perasaan gugup yang menjalar di sekujur tubuh. Menakutkan.
"Waw, hebatnya ketua OSIS kita" Rio malah memuji. "Bahkan aku belum memperkenalkan diri tapi kau sudah bisa menyebut nama lengkapku"
"Karena kelas E muridnya lebih sedikit dan semuanya bermasalah, jadi wajar kalau aku mengetahui nama kalian tanpa kalian memperkenalkan diri sekalipun"
Rio menggeleng kecil. Ia takjub dengan sosok luar biasa seorang Asano Gakushuu. Sekali dalam seumur hidup ia baru bertemu dengan anak seusianya yang begitu sempurna di matanya.
Yaah, kalau saja putra tunggal Asano itu tidak memiliki sifat pemimpin yang diktator seperti itu.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan?" tanya Rio penasaran.
"Aku bersedia menjadi konsultan masalah cintamu"
"Eh?" Rio mengangkat sebelah alisnya.
"Tapi sebelum itu, alangkah baiknya kita bermain game terlebih dahulu"
Asano menyeringai lebar. Iris violetnya menatap Rio tajam. Dalam benaknya, gadis itu melihat sekumpulan asap hitam mengepul di sekitarnya.
Seram, pikir Rio. Pasti Asano merencanakan sesuatu.
"Hmm, bagaimana ya?"
"Kau memiliki waktu luang hari ini, jadi kita bisa sedikit lebih lama disini" ucap Asano seolah merayu gadis itu untuk 'kencan' dengannya. "Tenang saja, aku yang traktir. Pesanlah makanan sebanyak yang kau mau jika itu dapat membunuh rasa bosanmu"
Apa boleh buat. Meskipun Rio dalam keadaan sadar, ia harus menerima penawaran dari Asano. Berhubung Asano adalah anak dari penguasa sekolah, Rio harus menuruti apa kemauannya. Ia tak ingin esok hari terdapat kejadian konyol hanya karena ia menolak penawaran spesial ini.
Memang benar Rio ingin menghilangkan stressnya, tapi—
—MENGAPA HARUS DENGAN KETUA OSIS YANG GILA INI?!
.
.
.
Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei
In Dilemma © shichigatsudesu
Chapter 6 : Discussion!
.
.
.
Atmosfer di dalam restoran keluarga ini begitu canggung, terutama meja paling pojok dekat jendela restoran yang paling besar. Sudah 5 menit Rio dan Asano diam. Tak ada satu pun di antara mereka yang mengajukan sebuah topik. Asano masih setia dengan posisinya— dagu ditopang, seringai lebar dan tatapan menusuk. Sedangkan Rio mengalami gempa bumi lokal. Badannya gemetar hebat, baginya, sampai-sampai ia memproduksi keringat yang cukup banyak, bahkan tetes peluh itu terbilang keterlaluan banyaknya untuk seseorang yang hanya duduk saja.
Sumpah, Rio gugup parah.
"Jadi..." Rio mulai membuka suara. "Apa yang akan kau lakukan?"
Asano tersenyum. "Bermain game. Kau lupa?"
"Ahh itu, maksudku kita akan bermain apa?"
Dalam benaknya, Rio berusaha berpikir positif. Mungkin game yang dimaksud Asano itu playstation, glow hockey, arcade, atau permainan lain yang ada di game center. Tapi secara logika, Asano tidak mungkin mengajaknya pergi ke game center. Ia bukan gamer macam Kanzaki.
Sudah diduga. Pasti ia merencanakan sesuatu.
"Ini tidak sulit kok" jawabnya. "Kalau begitu kita mulai saja"
Asano merogok tasnya untuk mengambil sesuatu. Tak butuh waktu lama, kini Rio sudah melihat benda yang si surai oranye itu keluarkan.
Kertas? Pensil? Ya ampun, kau ingin bermain game atau mengerjakan soal, Asano? Rutuk Rio dalam hati.
Saat ini Rio hanya bisa diam, menunggu Asano yang tengah menggoreskan suatu kata pada kertas putihnya. Tangannya begitu lihai menggerakkan pensil mekanik yang ia gunakan untuk menulis. Tak ada jeda untuk hanya sekedar berpikir ataupun mengistirahatkan tangannya. Apa anak itu sudah merencanakan ini sejak lama?
"Ano... Asano-kun?"
"Selesai" Asano meletakkan pensilnya, kemudian menyodorkannya pada si pirang.
Rio menatap helai kertas dan pensil di hadapannya. "Apa yang harus kulakukan dengan ini?"
"Jawab pertanyaanku. Silahkan kau balik kertasnya"
Rio menurut. Ia membalik kertasnya sesuai intruksi dari Ketua OSIS. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya. Ia tidak mengerti dengan tulisan Asano di kertas itu.
Yang pertama ada 7 buah garis bawah yang dibagi menjadi dua, artinya itu dua kata. Kata yang pertama berjumlah 4 huruf, dan yang kedua berjumlah 3 huruf. Disana ada 14 garis bawah, berarti ada dua kalimat yang harus diisi.
Yang kedua ada angka 1 dan angka 2. Angka tersebut terdapat dalam satu baris tetapi terpisahkan dengan spasi yang begitu jauh.
Yang ketiga ada garis bawah lagi, tetapi hanya ada satu kata saja. Letaknya di bawah angka 1 dan 2 tadi, dan disana sudah terdapat huruf 'm' dan 'a' di akhir kata. Artinya Rio harus melengkapi garis bawah tersebut hanya dengan 3 huruf.
Menyusahkan. Game macam apa ini?
"Apa ini? Kau akan memberikan pertanyaan seperti apa?"
"Aku ingin kau menjawab pertanyaanku di kertas itu. Tulis tepat di atas garis yang aku buat" intruksinya. "Sekarang, aku akan mulai bertanya. Ikuti petunjukku"
Rio meneguk salivanya sebanyak mungkin. Rasa gugup dan khawatir mulai menyebar bersama aliran darah. Semoga pertanyaan yang diberikan anak kepala sekolah itu logis.
"Ada dua orang yang sama-sama dari kelas E menaruh perasaannya padamu, benar?"
Rio mengangguk kaku.
"Aku yakin pasti kau tahu siapa mereka. Nah silahkan tulis nama mereka di kertas itu"
Rio mulai memegang pensil mekanik yang diberikan Asano, tetapi ia belum menggoreskan satu huruf pun. Tangannya bergetar sampai beberapa tetes peluh keluar dari pori-pori kulitnya.
"Karena jumlah suku katanya sama, jadi jangan gunakan kanji. Tulis menggunakan hiragana atau katakana" tambah Asano.
Dengan sekuat tenaga, Rio memaksakan gerak tangannya untuk menuliskan nama si berandal cerdas dan si ikemen pada kertas putih di depannya.
Setelah selesai menulis, Rio berpikir. Benar juga. Jumlah huruf pada nama mereka sama. Apa ini kebetulan?
"Selanjutnya yang kedua" Asano melanjutkan intruksinya setelah mendapatkan jeda beberapa menit untuk menikmati sepiring macaroni schotel pesanannya.
"Ada dua angka di hadapanmu. Coba kau pikir, nomor apa itu?" tanyanya.
Rio berpikir sembari menatap dua angka tersebut lamat-lamat. Kalau ia kaitkan dengan peringkat mid semester kemarin, Karma memang mendapatkan peringkat 1 di kelas E. Tapi Isogai? Ia tidak masuk top 50 karena nilainya sama jatuhnya dengan si pirang.
Lalu, ini angka apa?
Akabane Karma-kun.
Isogai Yuuma-kun.
Akabane Karma-kun.
Isogai Yuuma-kun.
Tiba-tiba Rio teringat Koro-sensei yang ditembaki peluru BB seisi kelas sambil mengabsen. Gurita kuning itu selalu menyebut nama Karma terlebih dahulu, baru Isogai. Setiap hari, setiap kali Koro-sensei mengabsen murid-muridnya pasti nama mereka berdua disebut paling awal.
Itu artinya...
"Ini nomor absen?"
Asano menganggukkan kepala. "Jadi, kau sudah tahu itu nomor absen siapa?"
"Y-Ya. Aku tahu"
"Bagus. Sekarang yang ketiga"
Jeda sejenak. Asano menyesap latte-nya yang sedari tadi menganggur. Mulutnya terasa tidak nyaman setelah mengunyah beberapa potong macaroni schotel. Hal ini disebabkan oleh Rio yang terlalu lama berpikir.
Permainan kembali dilanjutkan.
"Kau sadar tidak kalau nama depan mereka itu mirip?"
"Hah?" Rio bingung. Ia tidak mengerti, mirip dari mana coba? "Jauh, ah"
"Kau yakin?" tanya Asano. "Coba kau tulis nama depan mereka. Mungkin setelah itu kau akan tahu dimana letak kemiripan nama mereka"
Rio kembali memegang pensil. Pertanyaan terakhir belum dijawabnya. Ia masih bingung mengapa Asano menuliskan '-ma' menggunakan huruf latin, bukan aksara Jepang.
"Mengapa kau tidak menuliskan ini menggunakan huruf biasa?" tanya Rio sambil menyentuh tulisan '-ma' di kertasnya.
"Karena aku ingin kau menulis nama mereka menggunakan huruf latin"
Oh, begitu rupanya. Pantas saja ia membuat 3 garis bawah sebelum huruf '-ma'.
Detik kemudian Rio menggoreskan huruf tepat di atas garis bawah yang telah dibuat Asano.
Untuk kata pertama, ia menuliskan huruf 'k', 'a', dan 'r' sehingga membentuk tulisan 'Karma'.
Selanjutnya, ia melengkapi kata yang kedua dengan huruf 'y' dan 'u' sebanyak dua kali. Kini kata yang kedua telah membentuk tulisan 'Yuuma'.
"Eh?" tiba-tiba Rio mengerjap. Sepertinya ia menyadari sesuatu.
"Apa kau sudah menemukannya?"
"Sepertinya begitu"
Rio terdiam sembari menatap soal yang baru saja ia kerjakan. Benar juga, kini ia menemukan dua kemiripan dalam nama Karma dan Isogai.
Pertama, jika ditulis menggunakan huruf latin, maka nama 'Karma' dan 'Yuuma' sama-sama berjumlah 5 huruf. Kedua, lihat akhiran nama mereka. Kar-ma. Yu-u-ma. Kedua nama tersebut memiliki akhiran yang sama.
Rio menghembuskan napasnya pelan. Pada akhirnya game ini berakhir, akan tetapi ia masih tidak tahu apa tujuan Asano memberikan permainan seperti ini.
"Asano-kun, apa maksud dari semua ini?" tanya Rio, sambil menatap Ketua OSIS Kunugigaoka yang tengah melahap potongan terakhir macaroni schotel-nya.
"Ahh, aku hanya ingin sedikit bersenang-senang saja dengan rahasia anak kelas E" jawabnya. Detik berikutnya ia menyeringai lebar. Sepasang tanduk kecil tiba-tiba muncul di surai oranyenya.
"Sekarang, ceritakan semua masalahmu tentang Akabane dan Isogai"
Sial, Asano hanya ingin membuatnya semakin bingung. Rio mengerang kecil, kemudian ia mendengus pelan.
"Apa boleh buat. Kau bahkan tahu siapa dua orang itu sebelum aku memberitahumu"
Lagi-lagi Asano menyeringai lebar, seolah ia telah memenangkan suatu kompetisi. Yaa, Asano memang menang, karena ia berhasil menjebak Rio sampai sejauh ini.
"Kalau begitu, aku akan memesan satu strawberry parfait. Kau ingin tambah, Nakamura?"
.
.
.
"Jadi begitu"
Asano hanya ber-oh-ria, setelah mendengar semua curhatan yang keluar dari bibir manis Nakamura Rio. Sesekali ia menyantap strawberry parfait yang ia pesan. Cerita gadis itu membosankan, sebenarnya, tapi ia terlanjur penasaran. Beruntung ia memesan menu makanan lagi.
Rio mengerucutkan bibirnya. Ia merasa telah dipermainkan oleh Asano.
"Itu saja keluhanku, Asano-kun"
"Apa kau yakin?" Asano menatap tajam Rio. "Kau bahkan belum mengatakan perasaanmu"
"Apa itu harus?"
"Jelas lah" serunya. "Kau tidak mungkin menerima mereka berdua sekaligus, kan?"
Benar juga sih...
"Sekarang, setelah mereka berdua menembakmu, bagaimana perasaanmu kepada mereka?"
Rio menggaruk kepalanya menggunakan jari telunjuknya (walau tidak gatal). Sekarang, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Asano? Gadis pirang itu juga masih tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.
"Aku... tidak tahu"
"Hmm?" Asano menaikkan alisnya. Secara tersirat ia menuntut penjelasan lebih dari si pirang.
"Ada saat-saat dimana aku merasa kagum dan nyaman dengan Karma-kun. Misalnya ketika aku mengobrol dengannya, kagum melihat nilai ulangannya yang bagus, merasa nyaman ketika kepalaku dia usap" tuturnya, sambil memainkan strawberry parfait yang baru ia lahap sesendok. "Atau contoh sederhananya, ketika dia tersenyum. Karma-kun begitu mempesona di mataku"
Asano memperhatikan Rio yang kembali berbicara panjang lebar dengan (agak) malas, seraya melahap dessert-nya yang sudah habis separuh. Putra tunggal Asano Gakuhou itu melihat wajah si gadis pirang yang tengah merona, terdapat semburat merah di pipinya ketika sedang membicarakan raja iblis di kelas E itu.
Rio kembali melanjutkan kalimatnya.
"Begitu juga dengan Isogai-kun. Aku juga merasakan nyaman yang selalu kurasakan ketika bersama Karma-kun" sambungnya. "Isogai-kun itu ramah, baik, dia selalu ada ketika teman-teman membutuhkan, ketua kelas yang bijaksana"
Asano sedikit tersindir ketika Rio menyebut Isogai itu bijaksana. Anak itu bisa lebih bijaksana dari ketua kelas kancrit itu kok!
"Senyuman Isogai-kun tak kalah manis dengan Karma-kun. Dia itu keren, apalagi setelah menampakkan sisi perhatiannya"
Asano terdiam. Ia gagal paham dengan cerita yang baru saja dituturkan Rio. Jadi intinya apa? Dia memilih Akabane Karma atau Isogai Yuuma?
"Intinya, kau merasa nyaman jika bersama mereka berdua?" Asano mencoba memastikan.
"Apa aku salah, jika memiliki perasaan seperti itu?" Rio kembali menghadap Asano. "Apa aku salah kalau aku merasa nyaman berada di dekat mereka? Apa aku salah kalau aku menyukai mereka berdua, menyayangi mereka berdua?" serunya sedikit emosi, tapi untung gadis itu bisa mengendalikan diri. "Apa aku salah kalau aku ingin mereka berdua?"
Asano menyandarkan punggungnya pada bantalan kursi di belakangnya. Lelah juga memasang tubuh tegap sambil mendengar cerita Rio yang panjangnya melebihi durasi film layar lebar. Seharusnya si surai oranye itu bisa sedikit lebih santai.
"Hmm, sebenarnya kau tidak salah, tapi—"
"Aku tidak mungkin memiliki mereka berdua. Yaa, aku tahu itu" potong Rio seenaknya.
Rio melahap strawberry parfait yang masih sepenuhnya utuh. Selagi lawan bicaranya menghabiskan makanannya, Asano memutarkan otaknya untuk mencari solusi dari masalah si pirang.
Berniat untuk menyesatkan Rio yang sedang dirundung galau, sekarang malah ia yang kelewat penasaran.
"Sekarang, apa yang akan kau lakukan?"
Rio menopang dagunya. Lagi-lagi pertanyaan itu yang keluar. "Bagaimana ya? Aku—"
Rio menghentikan kalimatnya. Si pirang itu membatu tiba-tiba. Dalam pikirannya, secuil ingatan melesat tak kalah cepat dengan Koro-sensei. Hal itu sekaligus menjawab keganjalan yang sedari tadi mengganggunya.
Asano yang memandang Rio mendadak bingung. "Ada apa, Nakamura?"
"Asano-kun, kau belum menceritakan sesuatu kepadaku" ucap si pirang. Tangan ia lipat di atas meja, matanya menyipit tajam, bibirnya mengerucut sebal, menagih sesuatu yang seharusnya Asano beri.
Tapi apa yang harus ia beri?
"Apa yang harus aku ceritakan?"
"Aku sudah tidak tahan lagi. Sedari tadi hal ini menggangguku. Mengapa kau tahu kalau Karma dan Isogai mempunyai perasaan padaku?" serang Rio. Asano terkejut, meskipun ia tetap mempertahankan ekspresi datarnya. "Apa mereka mengatakan sesuatu padamu?"
Setetes peluh meluncur dari pelipis Asano. Diusapnya cairan itu, seraya berusaha menenangkan dirinya yang barusan tengah terkejut.
"Mereka tidak mengatakan apa-apa, hanya saja aku bisa membaca perasaan Isogai waktu itu" jelasnya, kemudian menyesap coffee latte yang ia pesan.
"Waktu itu?"
"Ketika kalian bertiga belajar di perpustakaan. Aku menyaksikan pertengkaran kalian disana"
—sebenarnya aku hanya mengintip sih. Lanjut Asano dalam hati.
Rio membulatkan mulutnya. "Oh, begitu"
Asano melanjutkan ceritanya. "Setelah rapat selesai, aku mengikuti Isogai ke perpustakaan. Awalnya aku ingin memberika laporan tambahan, tapi saat aku melihat Isogai diam di depan pintu perpustakaan, aku panas-panasi saja dia!"
"Oh, begitu" Rio melahap kembali parfait-nya. "Pantas saja Isogai-kun sangat marah, jadi itu ulahmu?"
"Hah? Ulahku?" protes Asano tak terima.
"Ya. Dan aku jadi kena separuh getahnya"
Rio kembali memasang ekspresi cemberutnya. Gadis itu terus menginterupsi Asano, hingga semu merah tertampak di wajahnya tanpa sadar.
Kalau dipikir-pikir gadis itu lucu juga ya?
"Sembarangan! Aku tidak melakukan apa—"
"Bercanda"
"Hah?"
"Bercanda"
Asano mengerjapkan matanya tak percaya. "Bercanda? Maksudmu?"
"Ya, bercanda" ucap Rio. "Mana mungkin Isogai-kun marah hanya karena itu?"
"Tapi dia benar-benar merasa kesal"
Rio menggelengkan kepalanya. "Isogai-kun tidak seperti itu. Seperti kata Karma-kun, dia itu baik"
"..."
"Penyebab dia marah besar itu, karena pertengkaran di perpustakaan beberapa waktu lalu. Semua itu salahku, karena gara-gara aku, Karma-kun dan anak kelas C itu bertengkar"
"..."
"Isogai-kun yang mengajakku belajar di perpustakaan menjelang mid semester, dan aku mengajak Karma-kun, jadi dia merasa kecewa karena kita malah membuat keributan, bukan belajar"
"Oh, jadi semua itu ulahmu? Bodohnya~" gurau si surai oranye. Dengan geram, Rio menggenggam pensil mekanik milik Asano, kemudian meluncurkannya tepat ke arah Ketua OSIS sekaligus ketua kelas A itu.
Asano menangkap pensil tersebut dengan sigap, sehingga hidung yang menjadi target si gadis pirang dapat terlindungi.
"Apa itu caramu mengembalikan barang milik orang lain?"
Rio memalingkan wajahnya sebal. "Hmm, padahal aku ingin menusuk hidungmu"
Asano terkekeh dalam hati. Ia tidak ingin tertangkap basah oleh Rio karena diam-diam menahan tawa.
Eh? Asano merona lagi!
"Selain itu, aku mendengar waktu Akabane mengatakan kau itu pacarnya. Dari situ aku menyangka kalau Akabane juga menyukaimu"
Lagi-lagi Rio ber-oh-ria. "Begitu rupanya"
Rio menghabiskan strawberry parfait-nya. Asano hanya bertopang dagu sambil memandangi si pirang yang tengah menikmati hidangan yang telah disuguhkan sejak lama.
"Setelah kita mengobrol begini, bagaimana perasaanmu?" tanya Asano.
"Perasaanku?" ulangnya sambil membersihkan sisa cream yang mengotori wajahnya. "Bagaimana menjelaskannya ya?"
"Apa kau sudah mendapatkan pencerahan, atau kau sudah tahu apa yang akan aku lakukan nanti?"
"Sebenarnya aku masih belum memutuskan siapa yang akan kupilih" jawabnya. "Tapi aku sudah lebih tenang, dan aku tahu apa yang harus aku lakukan"
"Benarkah? Syukurlah"
Rio melirikkan matanya ke arah jam mewah yang terdapat di dinding restoran. Pukul 05.30. Sudah waktunya pulang.
"Asano-kun, sudah waktunya kita pulang" ucapnya sambil melipat secarik kertas yang ia gunakan saat bermain game tadi.
"Sepertinya kau sudah kembali ceria"
"Benarkah?" Rio menolehkan kepalanya pada Ketua OSIS itu. "Kurasa ini semua juga berkatmu. Terima kasih, Asano-kun"
BLUUSSSHHH
Asano terkejut mendengar ucapan terima kasih yang tulus dan bernada ceria dari seorang Nakamura Rio. Kini Asano menyadari bahwa warna merah tengah menjalar di kulit wajahnya. Kali ini warnanya lebih pekat, tidak semu seperti sebelumnya. Iris violet Asano masih membelalak kaget, namun buru-buru ia memasang wajah datarnya sebelum Rio melihat muka meronanya.
"Sa-sama-sama" jawabnya terbata-bata.
"Asano-kun, aku punya permintaan untukmu"
"Permintaan?" Asano bingung. "Apa yang kau inginkan?"
"Boleh aku pesan satu parfait lagi untuk dibawa pulang? Makan di restoran ini sangat enak"
"Tidak"
"Heh? Mengapa begitu?"
"Salahmu sendiri karena tadi kau tidak tambah padahal aku menawari"
Rio mendadak lesu. Padahal tadi itu kesempatan langkanya untuk menguras uang Asano. Eh, bukannya ia matre atau bagaimana ya, tapi sungguh ia ketagihan. Asano juga tidak keberatan jika gadis itu memesan banyak makanan.
"Ayo pulang, Nakamura"
Setelah meraih tasnya, Asano dan Nakamura melangkah menuju pintu restoran.
"Asano-kun, kau tidak dijemput?"
Mendengar itu, Asano diam. Ia baru sadar kalau dirinya belum menghubungi supirnya untuk menjemputnya pulang. Bagaimana nih, Asano sudah terlanjur berjalan beberapa meter, tanggung kalau harus minta jemput.
Masalahnya ia tak mungkin menunggu jemputan di pinggir jalan yang ramai begini. Selain itu, Asano tidak suka menunggu.
"A-Ahh, aku lupa" Asano memalingkan wajah tampannya. Ia pura-pura menatap jalan raya yang mulai padat akan kendaraan. "Se-Sepertinya aku akan naik kendaraan umum"
"Wah?" Rio terkejut. "Seorang Asano Gakushuu, Ketua OSIS Kunugigaoka yang terhormat, mau naik kendaraan umum?"
"Berisik" peringatnya kesal. Rio terkekeh, dan itu membuat si surai oranye semakin jengkel. "Tidak ada yang melarangku menggunakan kendaraan umum"
Rio menghentikan tawanya sejenak. "Aku tahu. Hanya saja untuk orang kaya sepertimu ini cukup mengejutkan"
Asano melirik tajam ke arah Rio. "Lalu kenapa kau masih tertawa?"
"Tidak apa-apa, lucu saja"
Lagi-lagi Asano memalingkan wajahnya. "Terkutuk kau, anak kelas E!"
Rio masih belum mau menghentikan tawanya. Kesempatan baginya untuk melihat sisi lain dari Asano Gakushuu, dan itu membuatnya senang. Apalagi saat menjadi teman curhat yang tak terduga, putra tunggal kepala sekolahnya itu terlihat berbeda di netranya.
Wajarlah kalau si pirang masih mengeluarkan kekehannya.
Di sisi lain, Asano berjalan sambil memperhatikan jalan besar di sampingnya. Sebenarnya ia ingin menghindar dari Rio, karena saat ini wajahnya tengah merona.
Oh, jadi ini yang membuat Akabane dan Isogai menyukai dia? Ucap Asano dalam hati.
"Asano-kun, aku belok kanan ya?" pamit Rio.
"A-Ahh, ya"
"Terima kasih untuk hari ini, Asano-kun"
"Tidak usah dipikirkan"
"Lain kali kita makan disana lagi ya?"
Asano mengerutkan alisnya. "Memangnya kenapa?"
"Kapan lagi aku dapat traktir dari Ketua OSIS super sibuk dan arogan sepertimu"
"Sialan..." Asano geram. Ingin rasanya ia menjitak kepala pirang itu sekali saja.
Rio memasang senyum manisnya. Tak ada sedikit pun rasa bersalah yang tertampak pada wajah cantik itu, setelah mengatakan Asano arogan tentunya. Tak lama ia melambaikan tangannya, kemudian berjalan menjauhi pangeran lipan di hadapannya.
"Sampai jumpa, Asano-kun"
Asano hanya menjawab salam Rio dengan anggukan kepala. Kini gadis itu sudah tak terlihat lagi punggungnya. Asano menundukkan kepala, kemudian merogok saku celana abunya. Dikeluarkannya sebuah benda hitam berbentuk persegi yang disebut smartphone, kemudian membuka aplikasi kontak. Ia berencana menghubungi seseorang.
"Sebaiknya aku meminta jemput sekarang"
.
.
.
Saat ini, Rio tengah termenung sambil menatap taburan bintang di langit malam. Pekerjaan rumahnya yang menumpuk itu telah selesai dikerjakan. Sekarang apa yang harus ia kerjakan?
Rio mengakhiri kegiatan bertopang dagunya. Tangannya meraih tas sekolah yang diletakkan tak jauh dari meja belajar. Kemudian ia mengeluarkan secarik kertas yang ia dapat dari Asano, menatap huruf demi huruf yang tercetak disana.
Jika nama 'Karma' dan 'Yuuma' dilihat terlalu lama, Rio menjadi semakin bingung. Ia merasa perasaan dalam dirinya milik dua individu yang saling bertolak belakang, yang satu ingin Akabane dan yang satu lagi ingin Isogai. Dan mereka saling berperang memperebutkan tubuh si gadis pirang.
"Karma... Yuuma..." gumam Rio.
Lagi-lagi ia menopangkan kembali dagunya. Kalau tadi ia hanya menatap langit, sekarang ia menatap kertas bekas game tadi sore. Sayangnya, ia tidak menemukan titik cerah disana. Hatinya benar-benar galau sekarang.
"Kalau aku harus memilih, siapa yang aku pilih ya?" tanyanya pada diri sendiri. "Mereka berdua memiliki kepribadian yang berbeda, tetapi sama-sama baik"
Ditatapnya kembali lamat-lamat kertas yang ia pegang. Masih belum ada keputusan yang ia buat, tetapi pikirannya malah melayang keluar rumah, mengingat kembali percakapan panjang dirinya dengan Asano Gakushuu.
Sebenarnya kau tidak salah.
Tiba-tiba si surai pirang mengingat kalimat Asano saat ia mengutarakan perasaannya.
"Oh ya, Asano-kun bilang aku tidak salah kalau punya perasaan seperti itu, jadi—"
Seolah sebuah bohlam dalam kepala Rio tengah menyala, kini gadis itu menemukan sebuah ide. Rasa galau dalam dirinya perlahan mulai menguap, meskipun masih ada suatu dilema dalam hatinya.
Kini Rio beranjak dari kursi belajarnya menuju kasur empuk yang terletak di sudut ruangan. Ia merebahkan diri disana, kemudian meraih guling berbalut sprei kuning di sebelahnya. Ditatapnya guling itu dengan intens. Detik berikutnya ia memeluknya, seolah benda panjang itu merupakan personifikasi dari Karma dan Isogai. Akibatnya ia kembali merasakan rasa hangat ketika tubuhnya didekap oleh dua sahabatnya itu.
"Karma-kun, Isogai-kun" gumamnya, masih dengan posisi memeluk guling. Jeda sejenak, ia pun menghembuskan napasnya pelan, kemudian menenggelamkan wajahnya pada guling itu.
"Maaf..."
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N : Memangnya kalau di restoran keluarga kayak gitu kita bisa pesan makanan buat dibawa pulang ya? Saya gak tau *lukirawarteg* XD
Tuh, berhubung Rio-nya lagi galau mau milih siapa jadi fanfic ini distop aja ya? XD *apa?* Kumohon ampuni aku *didemoreaders*
Chapter depan masih dalam proses produksi, gak janji bisa update kilat soalnya sekarang lagi sibuk sekolah. Ini juga baru mau UTS besok, baru mau! huhuhuhu sedih ;;;((((
Next Last Chapter : Dilemma!
