In Dilemma #7

—Dalam pesan singkat—

Karma : Isogai-kun, aku ada permintaan untukmu

Isogai : Permintaan apa?

Karma : Aku ingin bertarung

Isogai : Untuk apa?

Karma : Untuk menaklukan hati Nakamura

Isogai : Tapi, bagaimana kalau Nakamura tahu? Aku takut dia marah besar

Karma : Kita rahasiakan ini. Kalau sampai ketahuan, kita harus siap menanggung resikonya

Isogai : Tapi bagaimana kalau seandainya aku menolak?

Karma : Nakamura akan jadi milikku!

Isogai : Tidak akan kubiarkan! Aku terima tantanganmu, Karma

.

.

.

Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei

In Dilemma © shichigatsudesu

Last Chapter : Dilemma!

.

.

.

Saat ini Rio tengah merenung di kursinya yang berjarak satu bangku dari meja guru. Waktu masih pagi, dan di kelas bobrok itu hanya ada dirinya dan Okano Hinata yang baru saja tiba. Okano segera meletakkan tasnya di bangku depan Rio, kemudian menatap si pirang yang sedang memegang secarik kertas.

"Rio-chan?" panggil Okano. "Sedang apa kau?"

Terkejut dengan panggilan si surai hitam, Rio segera melipat asal kertas itu lalu ia letakkan di kolong meja.

"Hi-Hinata-chan? Bikin kaget saja" Rio memegangi dada sebelah kirinya, merasakan detakan jantungnya yang mendadak bergerak cepat.

"Hmm?" Okano hanya menatap sahabatnya setengah bingung. "Sedang apa kau?"

"Tidak, aku hanya melamun—"

BRAK!

Seseorang membukakan pintu kelas dengan agak kasar, membuat Rio dan Okano menoleh ke arah pelaku pembuka pintu tadi.

"Selamat pagi, semuanya"

Rio dan Okano menyapa balik Isogai Yuuma, orang yang membukakan pintu kelas E. Jelaslah mereka melakukan itu, berhubung saat ini hanya ada si pirang dan si gesit yang berada di dalam kelas.

"Selamat pagi, Isogai-kun"

Tiba-tiba mereka bertiga mendengar suara napas terengah-engah. Semakin lama suara itu semakin jelas.

Tak lama kepala merah milik Akabane Karma menyembul dari balik pintu kelas. Bertetes-tetes peluh berjatuhan dari kulit wajahnya.

"Sial, aku kalah cepat"

"Hmm?" Isogai menoleh ke belakang, menatap Karma yang kelelahan sehabis berlari.

Si ikemen itu mengerti apa maksud kalimat si surai merah barusan, hanya saja ia tetap memasang ekspresi wajah tenang seperti biasanya. Hatinya menduga, ini pasti ada hubungannya dengan ajakan bertarung yang ia ajukan semalam. Kalau begitu, Isogai sudah unggul satu poin dari Karma.

Sedangkan Rio dan Okano yang mendengar kalimat pertama Karma hari ini hanya bisa menganga. Mereka gagal paham dengan murid absen satu itu.

Sementara itu, suara langkah kaki dengan tempo yang cepat mengisi keheningan yang masih terdapat di gedung lama Kunugigaoka. Sesekali lantai kayu itu menimbulkan suara decit yang agak keras, sehingga dapat merasuki indera pendengaran Rio, Okano, Isogai, dan Karma.

"Karma-kun, kenapa kau tiba-tiba lari? Apa ada sesuatu?"

Suara terengah Nagisa mengejutkan penghuni kelas E yang sudah datang lebih dulu. Sedangkan Karma yang namanya disebut menggeleng pelan.

"Tidak ada apa-apa, Nagisa-kun" kemudian Karma menoleh ke arah Isogai. "Selanjutnya aku tidak akan kalah, Isogai-kun"

Isogai hanya tersenyum mendengar ancaman seperti itu. Ia tak ingin menunjukkan ekspresi jengkel dan semangat membunuhnya di depan Rio, Okano, dan Nagisa yang tidak tahu menahu soal pertarungan itu. Si ikemen pun melangkahkan kakinya menuju bangkunya yang terletak tepat di samping kanan gadis tergesit di kelas 3-E itu.

Bagaimana dengan Rio, Okano, dan Nagisa? Mereka bertiga hanya saling tatap, tidak mengerti dengan atmosfer yang tengah menyelimuti Karma dan Isogai. Mereka memilih untuk diam saja.

.

.

.

—Jam pelajaran 1 – Matematika—

"Karma-kun, kerjakan soal ini di papan tulis" perintah Koro-sensei setibanya ia di bangku Karma dengan Mach 20-nya.

Karma mengambil kapur yang disodorkan Koro-sensei, kemudian menggoreskan angka demi angka yang akan membentuk pecahan dengan angka yang sudah dirasionalkan.

"Sempurna, Karma-kun" puji gurita kuning itu setelah kembali ke mejanya di depan kelas. "Kau menyelesaikannya dengan cepat seperti biasa"

Karma hanya menyeringai selama perjalanannya menuju bangku kesayangannya. Dengan kecepatan 20 Mach-nya, Koro-sensei menulis soal kedua.

"Selanjutnya, kerjakan soal ini, Mimura—"

"Sensei" tiba-tiba Isogai mengangkat tangannya. "Biar aku yang mengerjakan soalnya"

Koro-sensei terkejut. Mimura yang berada di belakang si ikemen menghembuskan napas lega, sedangkan murid lainnya membelalakkan iris mata mereka. Sejak kapan Isogai tertarik dengan soal matematika?

"Hmm, baiklah, Isogai-kun"

Isogai-pun mengerjakan soal kedua yang baru saja dibuat beberapa detik lalu. Tak butuh waktu lama, si ikemen meletakkan kapur yang telah ia gunakan. Soal matematika telah ia selesaikan.

"Luar biasa, Isogai-kun. Kau juga bisa menjawab soal ini dengan cepat dan—"

Koro-sensei menggantungkan kalimatnya. Hal ini membuat Isogai menghentikan senyum dan langkahnya yang semula ia gerakkan menuju bangkunya. Tentakel kuning itu menyentuh kepala bulatnya, menimbulkan bunyi boing dengan intensitas yang rendah.

"Hmm, Isogai-kun" panggil Koro-sensei. Kemudian tentakelnya menyentuh jawaban Isogai yang tertulis disana. "Kau salah mengalikan ini. Seharusnya tiga kali tiga itu sembilan, bukan enam"

Seketika Karma meledakkan tawanya, tidak terlalu keras karena ia tidak ingin melewati batas. Murid kelas E lain sweatdrop memandangi Karma yang terkekeh dengan keteledoran ketua kelas mereka, termasuk Rio. Sebuah perempatan muncul di dahi Isogai.

"Ceroboh"

Isogai mendapati perempatan lain yang muncul memenuhi kepalanya. Ia kelewat kesal.

—Jam pelajaran 3 – memasak—

"Biar aku yang memotong lobak-lobak ini. Kalian kupas kentang dan bahan lainnya ya?" perintah Isogai. Sedangkan Okano, Mimura, dan Hayami yang satu kelompok dengan si ikemen mengangguk setuju.

"Tapi lobak ini banyak. Kau tidak mungkin bisa mengerjakannya sendiri, Isogai-kun" ucap Rio, yang kebetulan satu kelompok juga dengannya. "Biar aku bantu"

"Baiklah"

Di ujung kelas bobrok itu, Karma mendelik sebal karena tidak bisa satu kelompok dengan sang pujaan hati. Sambil memotong bawang bombay, Karma menyesali dirinya yang mendapat tempat duduk yang jauh dari Rio.

"Wah, hebat. Kau bisa memotong lobak dengan cepat, Isogai-kun" kagum Rio. Jarinya memungut satu lembar lobak yang telah di potong si ikemen. "Selain itu, potongan lobak ini sangat rapi"

"Kau memujiku berlebihan, Nakamura"

Karma mempertajam lirikkannya ke arah kelompok dua yang berada di depan sana, terutama Isogai. Entah kenapa ia merasa tidak senang dengan pujian yang terlontar dari gadis itu untuk saingannya. Kemudian tangan kanannya melampiaskan rasa cemburunya itu dengan mengiris bawang bombay sebanyak-banyaknya.

SSRRRRTTTT

"Akh!" teriak Karma tiba-tiba sembari membanting pelan pisau yang digenggamnya.

"Karma, kenapa?" tanya Chiba panik.

Karma tak menggubris pertanyaan Chiba. Ia memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulutnya, menghisap cairan merah yang mengalir lewat luka irisnya. Si surai merah mundur satu langkah, menjauhi meja agar darah segarnya tak menetes mengenai sayur-sayurannya.

"Bodohnya..." Sugaya bergumam. "Jangan melamun saat memasak, dan kita tidak membutuhkan bawang sebanyak itu. Seharusnya kau sedikit lebih santai, Karma"

Karma mendecak, masih dengan mulut yang mengemut jarinya. Ia pun melangkah keluar kelas untuk mengambil plester.

—Jam pelajaran 5 – olahraga—

Isogai dan Maehara mencoba berlatih satu sama lain untuk meningkatkan kemampuan pisau mereka. Sambil menunggu Karasuma-sensei yang sedang diserang oleh murid lain, mereka berdua terpaksa menjadi rival. Tidak selamanya mereka bisa berduet untuk membunuh Koro-sensei, sehingga latihan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpisau individu mereka.

BRAK!

"Kenapa, Isogai?" tanya Maehara panik, begitu melihat sahabatnya tiba-tiba terduduk di lapangan.

"Aku tidak melihat ada batu disini" Isogai memungut benda yang dimaksud, kemudian melemparkannya ke arah bak pasir di tepi lapangan.

"Isogai-kun"

Seseorang memanggil. Sang empunya nama segera menoleh, begitu pun si surai kecokelatan. Isogai tampak terkejut begitu melihat Karma yang menatapnya dengan wajah serius.

Isogai berusaha untuk tenang. "Ada apa, Karma?"

"Ayo kita berpasangan"

Isogai dan Maehara sama-sama terkejut, hanya saja si ikemen berhasil menutupi perasaannya itu. Detik berikutnya ia bangkit dan menganggukkan pelan kepalanya.

"Aku mengerti, Karma" jawabnya. Isogai melangkah mendekati Karma. "Ayo kita ke tengah lapangan"

Maehara hanya bisa menatap punggung Karma dan Isogai yang perlahan mulai menjauh. Di atas kepalanya terdapat tiga buah tanda tanya, menandakan bahwa anak itu benar-benar bingung.

"Maehara?"

Maehara menoleh, mendapati Okano yang tengah menatapnya bingung.

"Okano" serunya. "Ada apa?"

"Apa kau tahu apa yang terjadi dengan mereka?"

Maehara hening sesaat. Ia berusaha mencari jawaban dari pertanyaan si surai hitam.

"Tidak tahu" dalam sekejap, Maehara memasang seringai jahilnya. "Kita selidiki saja"

Bingo! Okano baru saja akan mengatakan kalimat itu.

"Ayo, aku penasaran"

.

.

.

"Sudah cukup, Touka-chan. Aku lelah"

Nakamura meluruskan kaki-kakinya, kemudian ia mengibaskan kaos olahraga yang ia kenakan. Peluh telah sepenuhnya membanjiri tubuh si pirang, ditambah dengan kerongkongannya yang begitu kering keronta. Barusan ia tidak meminum banyak air. Sial, Rio menyesal sekarang.

"Yaah, Rio-chan..." Yada Touka memelas. Gadis kuncir kuda itu ingin berlatih pisau dengannya, karena semua orang sudah memiliki pasangan untuk bertarung.

Tap... tap... tap...

"Rio-chan!" panggil seseorang dengan lantang dan terdengar panik. Otomatis Rio dan Yada menoleh ke arah sumber suara.

"Hinata-chan?" mereka berdua menyadari perasaan panik yang menjalar di sekujur tubuh Okano. "Ada apa?"

"Karma, Isogai, mereka—" Okano menghela napas. Kini dadanya masih tak stabil karena habis berlari. "Rio-chan, kau harus hentikan mereka"

Dengan segera, Rio segera bangkit dari posisinya semula, kemudian melangkah menuju tengah lapangan, lokasi dimana Karma dan Isogai berada disana.

"Aku tidak mengerti, tapi ayo kita bantu Rio, Hinata-chan" ucap Yada semangat, kemudian berlari mengekori Rio di belakang.

.

.

.

Suara gesekan udara dan pisau karet terdengar jelas di telinga Akabane Karma dan Isogai Yuuma. Tujuan mereka hanya satu : melukai lawan. Meskipun hanya menggunakan pisau yang sama sekali tidak memberikan efek pada mereka, akan tetapi membuat lawan lelah dan menyerah merupakan salah satu strategi mereka—

—untuk memperebutkan Nakamura Rio.

"Kenapa kau menyukai Nakamura?"

"Kenapa? Mengapa kau menanyakan itu padaku?"

"Karena aku ingin tahu alasanmu"

"Bukankah kau juga begitu, Karma? Mengapa kau tidak bertanya pada diri sendiri?"

"Ada banyak alasanku menyukai Nakamura. Aku senang berada di dekatnya. Aku sedih ada laki-laki lain di sebelahnya"

"Lalu kau ingin berkelahi denganku agar aku bisa menyingkir dari Nakamura?"

Hening sesaat. Karma belum menjawab pertanyaan Isogai. Menyerang, menangkis, mengayunkan pisau, hanya itu yang mereka lakukan sekarang.

"Apa aku akan menyerah begitu saja? Meskipun kau berusaha menyingkirkanku, aku takkan menyerah semudah itu"

"Tekadmu kuat sekali, Isogai-kun. Apa kau yakin bisa melampauiku?"

"Aku telah menghabiskan banyak waktu dengan Nakamura. Sudah pasti dia akan merasa nyaman denganku"

"Jangan bercanda! Apa kau pikir aku tak pernah bersamanya?"

"Memangnya pernah?"

"Tentu saja. Dia pernah menemaniku belanja"

"Apa!?"

Isogai tercekat, pergerakannya mulai memelan sehingga tubuhnya membuka celah yang begitu besar. Hal ini dimanfaatkan oleh Karma, dan... BUK!

Benar saja, Karma meninju perut Isogai sehingga si surai hitam harus gugur untuk sementara.

"Karma..." rintih si ikemen sambil memegangi perutnya.

"Isogai-kun, aku ingin memperjelas peraturannya"

Isogai berusaha bangkit dari posisi jatuhnya. Pukulan itu cukup keras, bersyukur ia selalu berolahraga— latihan membunuh di sekolah. Setidaknya ia bisa sedikit lebih tahan.

"Siapapun yang kalah— kelelahan atau menyerah, dia harus berhenti menyukai Nakamura"

Setitik peluh menetes dari pelipis Isogai. Otaknya ia paksa untuk menentukan jawaban yang akan ia gunakan.

Ya atau tidak?

"Baiklah" akhirnya Isogai menyetujui. "Kalau begitu, kita lanjutkan ini"

Isogai maju duluan. Karma tak ambil pusing dan langsung menyerang. Kini mereka kembali pada kegiatan awal. Saling melukai, dan ini lebih berbahaya dibanding sebelumnya. Mereka bukan hanya menggunakan pisau karet, tetapi mereka juga menggunakan tangan kosong mereka.

Jika mereka terdesak, mereka akan menggunakan pukulan atau tendangan agar mereka dapat mempertahankan serangan pisaunya. Saat ini saja, Karma dan Isogai sudah memiliki beberapa luka memar karena serangan tangan kosong yang mereka dapatkan. Seluruh siswa kelas 3-E yang menyadari bahwa mereka tengah bertengkar hanya bisa menatap ngeri mereka berdua.

Ini bukan lagi bertengkar biasa. Ini benar-benar perkelahian.

"Karma-kun, Isogai-kun, hentikan!" teriak Rio yang baru tiba di area pertandingan.

"Menyerahlah, Isogai-kun. Aku pandai berkelahi, dan aku tak ingin melukaimu lebih dari ini"

"Tidak! Aku tidak akan menyerah"

"Karma-kun! Isogai-kun!" lagi-lagi teriakan si pirang mereka abaikan.

"Kau yakin? Kalau begitu, aku akan mengeluarkan seluruh kemampuanku dan—"

"KARMA, YUUMA, HENTIKAN!"

Mendengar teriakan Rio yang lantang dan menyentak itu, Karma dan Isogai segera mengakhiri perkelahian mereka. Keduanya terkejut, apalagi melihat ekspresi Rio saat ini.

Wajah merah padam. Dada kempas kempis. Napas tak karuan. Tatapan tajam nan menusuk. Nakamura Rio, sedang marah besar.

"Karma, Yuuma, kalian sungguh kekanak-kanakkan" ucap Rio.

Karma dan Isogai masih belum meredakan rasa terkejut mereka. Pasalnya Rio menghilangkan embel-embel '-kun' dalam nama mereka. Selain itu, si pirang memanggil Isogai dengan nama depannya. Ini sungguh tidak biasa.

Apa itu salah satu ciri, kalau Nakamura Rio tengah marah besar?

"Nakamura..."

"Apa? Masih mau berkelahi?"

Isogai segera membantah. "Tidak. Itu tidak—"

Rio melangkah mendekati Karma dan Isogai. Iris mata mereka membelalak, apalagi setelah Rio mencengkeram pergelangan tangan mereka.

"Ikut aku!"

Dengan sejumlah tanda tanya di kepala mereka, Karma dan Isogai terpaksa melangkah membuntuti Rio yang entah akan membawa mereka kemana. Inginnya sih bertanya, tetapi suasana hati si pirang sekarang sedang tidak memungkinkan. Diam disaat seperti ini merupakan pilihan terbaik.

"Okano" panggil Maehara. Yang dipanggil menoleh, kemudian menatap si surai kecokelatan seolah bertanya 'apa?'.

"Ayo awasi mereka"

Okano mengangguk, kemudian mereka berlari diam-diam mengikuti mereka bertiga.

.

.

.

Rio membawa Karma dan Isogai ke tempat dimana waktu itu Rio menangis setelah menerima hasil ujian, dan Isogai menyatakan perasaannya pada si pirang.

Mengapa harus disini?

"Nakamura" Isogai mulai bersuara. "Apa ada yang ingin kau bicarakan... dengan kami?" entah kenapa ia merasa gugup.

Rio menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Si gadis pirang sudah siap menyampaikan perasaannya.

"Apa yang kalian lakukan? Mengapa kalian bisa berkelahi seperti itu?" tanya si pirang. Karma dan Isogai bungkam, belum mau membuka mulut mereka.

"Kenapa kalian diam saja? Ayo jawab"

Rio mulai mendesak. Hal ini membuat keduanya merasa tertekan.

"Begini, Nakamura. Kami—"

"Maaf" ucap Karma tiba-tiba. Sontak Rio dan Isogai terkejut mendengarnya.

"Karma-kun?"

"Ini semua salahku" Karma membungkuk kecil. "Aku yang memulai perkelahian"

"Karma?" Isogai mendekati Karma, kemudian ia menegakkan kembali tubuhnya. "Tunggu dulu. Ini salahku juga"

"Apa yang salah darimu, Isogai? Jelas-jelas aku yang mengajakmu duluan"

"Tapi aku menerima ajakanmu. Kalau aku tidak egois, aku bisa saja menolaknya"

"Cukup, cukup, aku tidak ingin maaf dari kalian" Rio melerai. Nada bicaranya tak lagi tinggi dan menyentak. Suaranya sudah kembali normal. "Aku hanya ingin tahu alasan kalian berkelahi, itu saja"

Karma dan Isogai megheningkan cipta. Otaknya sama-sama mereka paksa bekerja untuk mencari kalimat yang akan mereka gunakan sebagai alasan.

"Sebenarnya, kami berkelahi karena... kami ingin menarik perhatianmu, Nakamura" jelas Isogai. Rio tidak terlihat puas dengan alasan itu, sehingga Karma dan Isogai kembali menjelaskan alasan mereka melakukan itu.

"Mungkin kau sadar kalau tingkah kita begitu aneh, sejak tadi pagi" kini giliran Karma yang menjelaskan. "Kita ingin membuatmu memilih, siapa yang bisa membuatmu tertarik, siapa yang bisa membuatmu terpesona"

Rio menundukkan kepala. Tubuhnya bergetar kecil, entah karena apa.

"Dengan kata lain, kami berkelahi untuk memperebutkanmu. Kami ingin kau menjadi milik salah satu dari kami" Isogai menambahkan.

"Maka dari itu kita minta maaf" untuk yang kedua kalinya, Karma membungkuk kecil. "Maafkan—"

"Kenapa..." Rio berbicara. Suaranya bergetar, terdengar parau di telinga si surai merah dan si surai hitam. "Kenapa kalian melakukan itu? Kenapa..."

Karma kembali ke posisi semula, kemudian iris tembaganya menatap wajah Rio yang menunduk.

Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata si pirang, membuat mata Karma berakomodasi maksimum. Isogai sudah melakukannya lebih dulu. Kemudian Rio menengadahkan wajahnya, membuat keduanya semakin tercekat.

"Kenapa kalian melakukan itu? Apa itu menguntungkan?" Rio mulai terisak. "Tahukah kalian, apa yang aku rasakan setelah kalian jujur soal perasaan kalian?"

"..."

"Aku dilema. Banyak sekali yang aku rasakan tapi aku tak tahu mana yang harus aku pilih, mana pilihan yang tidak akan menyakiti perasaan kalian"

"Nakamura, aku—"

"Aku terkejut ketika kalian mengatakan kalau kalian mencintaiku" Rio memotong kalimat Isogai. "Disitu aku bingung apa yang harus aku lakukan. Dan saat itu, Asano-kun muncul dan membuatku semakin bingung lagi"

"Asano?" Karma dan Isogai bergumam bersamaan.

"Aku berkata pada Asano-kun kalau aku sayang Karma-kun, aku sayang Isogai-kun. Lalu aku tanya 'apa aku salah punya perasaan seperti itu?'. Kemudian Asano-kun jawab 'sebenarnya kau tidak salah'. Karena itulah..."

"..."

"Karena itulah, aku punya perasaan yang sama seperti kalian. Aku cinta Karma-kun dan Isogai-kun. Aku tidak bisa memilih salah satu dari kalian, tapi aku harus membuat keputusan"

"Nakamura, jangan memaksakan dirimu" peringat Karma. "Kau tidak perlu—"

"TAPI!" lagi-lagi Rio memotong. "Aku sadar kalau aku tidak mungkin memiliki kalian berdua. Aku juga tidak bisa memilih salah satu, karena perasaanku pada Karma-kun sama besarnya dengan perasaanku pada Isogai-kun. Maka dari itu..."

Jeda sesaat. Karma dan Isogai hanya bisa memandangi Rio yang makin terisak. Air mata yang meluncur semakin deras, bahkan meskipun wajahnya tertutup rambut pirangnya, mereka bisa menebak kalau wajah Rio telah sepenuhnya basah oleh air mata.

"Karma, Yuuma—"

Lagi-lagi keduanya terkejut, khususnya Isogai yang telah diubah panggilannya oleh Rio. Mereka merasa jantung mereka berdetak kencang, napas seakan sesak, harap-harap cemas menyelimuti tubuh mereka. Apa yang akan dikatakan gadis itu?

"—maaf"

Benar saja. Keduanya tercekat. Karma dan Isogai masih menatap Rio yang tak kunjung menegakkan kepalanya.

"Nakamura..." Isogai memanggil nama si pirang dengan lirih. "Bisakah kau jelaskan lebih detail?"

Setelah Isogai meminta, Rio mengangkat wajahnya. Benar saja. Kulit wajahnya sudah basah karena air mata. Perlahan si pirang mengembangkan seulas senyum.

Senyum yang menyakitkan. Pikir Karma dan Isogai.

"Aku tidak bisa membalas perasaan kalian berdua. Sekalipun aku juga mencintai kalian, aku hanya bisa memendamnya. Aku tidak bisa memiliki kalian sekaligus. Jika aku memilih salah satu, pasti yang satunya akan tersakiti. Aku tidak ingin seperti itu"

"Jadi, intinya kau..." Karma pura-pura polos, padahal ia tahu kalau keputusan gadis itu tidak baik untuknya.

Kemudian Rio mengusap kedua pipinya, menghilangkan jejak air mata yang membekas di wajah cantik si pirang. Ia pun tersenyum. Kini senyumannya lebih lebar dari sebelumnya.

"Tidak memilih salah satu di antara kalian merupakan pilihan yang terbaik saat ini" jawab Rio, kemudian memandangi Karma dan Isogai bergantian.

Isogai dan Karma balas menatap Rio, yang tersenyum kepada mereka. Senyuman yang ini, jauh lebih lebar, lebih tulus, dan terasa hangat dibanding sebelumnya. Tetapi di sisi lain, terselip sebuah kekhawatiran di dalam hati pihak laki-laki.

"Nakamura, apa kau yakin?" tanya Isogai. "Jika kau memendam perasaanmu, bukankah itu malah membuatmu tersakiti?"

Rio menggeleng pelan. "Meskipun aku tersakiti, selagi kalian baik-baik saja, aku juga akan baik-baik" jawabnya.

"Kalau begitu, lebih baik kau memilih salah satu dari kami" usul Karma sedikit emosi setelah mendengar jawaban masokis dari si pirang. "Tak masalah jika kau lebih memilih Isogai daripada aku"

"Karma-kun" Rio menanggapi dengan cepat. "Aku tak ingin menyakiti orang lain"

Karma bungkam. Tak ada lagi cara untuk beradu argumen dengan Rio. Keputusan gadis itu sudah bulat. Baik Karma maupun Isogai, tak ada yang bisa mengubah keinginan Rio.

"Karma. Yuuma" panggil Rio. Murid absen satu dan dua pun menoleh ke arah sumber suara. "Aku tidak bisa membalas perasaan kalian. Maafkan aku"

Rio membungkukkan badannya sedikit, sama seperti yang Karma lakukan sebelumnya. Si berandal cerdas dan si ikemen menghela napas, bingung apa yang harus mereka lakukan.

"Nakamura, tidak usah membungkuk segala" Isogai menegakkan tubuh si pirang. "Kalau menurutmu itu pilihan yang terbaik, apa boleh buat. Kami akan terima. Benar begitu, Karma?"

Karma mengangguk kecil. "Kau tidak usah merasa bersalah. Anggap saja ini sebagai resiko kami"

"Kalian..." Rio kembali meneteskan air mata, melihat Karma dan Isogai yang begitu baik kepadanya.

"Nakamura, jangan menangis lagi" cegah Karma. Rio segera menyeka air matanya. Ia tak ingin Karma dan Isogai mengkhawatirkannya lagi.

"Karma. Yuuma. Terima kasih" Rio memasang senyumannya. "Terima kasih, karena kalian mencintaiku. Maaf aku menyakiti perasaan kalian"

"Sudahlah, Nakamura" ucap Karma. "Lupakan apa yang terjadi hari ini, lupakan perasaanmu untuk kami"

Isogai mengangguk setuju. "Kami akan berusaha untuk berhenti mengejarmu, jadi jangan pikirkan kami lagi"

"Benarkah?"

"Ya" jawab Isogai, sedangkan Karma hanya mengangguk.

Rio tersenyum. "Terima kasih"

"Ya, Nakamura" kini Karma yang menjawab. "Kau sudah banyak mengucapkan terima kasih hari ini"

"Kalau begitu, aku ingin memberikan sesuatu untuk kalian"

"Sesuatu?" Isogai bingung. "Apa itu?"

Rio berjalan mendekati mereka. Pertama ia mendekati Karma.

CUP! Satu kecupan mendarat di pipi Karma.

CUP! Satu kecupan mendarat di pipi Isogai.

Rio kembali menundukkan kepala. Wajahnya memerah. Kemudian si pirang tersenyum.

"Terima kasih, Karma, Yuuma"

Rio mengambil langkah seribu, meninggalkan Karma dan Isogai yang wajahnya telah berganti warna menjadi merah. Keduanya mematung di tempat. Atmosfer begitu sunyi, hanya suara detak jantung masing-masing yang menyapa gendang telinga mereka.

Kisah cinta tiga orang jenius di kelas 3-E. Masing-masing memiliki suatu dilema. Mengungkapkan atau merelakan? Dan sepertinya mereka memilih untuk merelakan perasaan cinta mereka.

.

.

.

"Waaahhhh" gumam Okano dan Maehara bersamaan. Wajah mereka ikut merona setelah menyaksikan Karma dan Isogai yang mendapat hadiah kecupan dari Rio.

"Rio-chan ternyata berani juga" komentar Okano. Maehara melirikkan matanya pada gadis mungil di sampingnya.

"Kau mau seperti itu juga, Okano?"

PLAK!

"Jangan bodoh, Maehara!" Okano menampar kepala Maehara dengan kesal. Bisa-bisanya si surai kecokelatan itu mengeluarkan kalimat tanya seperti itu dengan polosnya.

Maehara memegangi kepalanya. "Sakit tahu, Okano"

Okano tak menggubris Maehara. Ia pun bangkit dari posisi jongkoknya. Si cassanova membuntuti dari belakang.

"Ayo pergi dari sini. Pertunjukkan mereka sudah selesai"

.

.

.

END

.

.

.

A/N : YEEEHHHEEE UTS-NYA SELESAII! *eh* maksudnya In Dilemma-nya yang selesai ffiiuuhhh... ;;;;))))

Saya berhasil buat longfic sampai END, tapi entah dapet hurt/comfortnya atau gak karena saya gak jago buat alur yang sad ending dan bikin nyeesss gitu. Yaah, paling gak saya berhasil nyebarin NTR di fic ini. Maapin aku ya Asano, kamu jadi korban :""(((

Makasih banyak yang udah jadi pembaca setia(?) dari awal chapter sampai sekarang, apalagi yang sempat review juga panjang lebar ngomong bla bla bla makasih banget! Ini longfict pertama saya yang akhirnya bisa tuntas dan saya seneng banget(?)! ARIGATOU GOZAIMASU *bungkuk bareng Karma, Rio, Yuuma* XD

Tapi meskipun udah END, rencananya saya punya Chapter Extra In Dilemma yang bakal di posting kapan-kapan(?), tapi pisah judul karena genre dan tokoh utama yang dibahas beda.

Sedikit bocoran aja ya, rencananya ada dua chapter extra yang bakal dibuat :

Chapter extra yang pertama saya pakai pair KaruIso. Ceritanya ini lanjutan dari chapter 2 yang Karma beli wasabi sama mustard di supermarket, yang ditemenin Rio itu loh~

Chapter extra yang kedua saya pakai pair MaeKaho. Chapter ini nyeritain Kaho yang mau balikin rompi Isogai eh malah ketemu Maehara, dan begitulah (cuplikannya udah ada di chapter 4).

SEKALI LAGI MAKASIH BANYAK BUAT YANG BACA DAN SUKA SAMA FIC INI. MAAF BUAT SEMUA KEKURANGAN YANG ADA. *dan maaf karena tiba-tiba capslock jebol XD*

Sampai jumpa di Chapter Extra In Dilemma. Ja nee~