"It's so hard to forget pain, but it's even harder to remember sweetness.
We have no scar to show for happiness. We learn so little from peace."
Last Hope
Main Cast : Xi Luhan & Oh Sehun
Genre : Romance, Family, Hurt
Rate : T-M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s). M-preg.
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
.
Hari itu pemakaman Tuan dan Nyonya Oh tampak mencekam dan dipenuhi dengan kesedihan para kerabat yang mengenal kedua orang yang dikenal sangat baik dan bijak itu.
Hujan yang turun pun menambah rasa duka yang mendalam untuk putra tunggal mereka yang hanya bisa menatap nanar saat melihat tubuh kedua orang tuanya dikubur didalam peti yang ditutupi tanah tersebut.
Sehun sudah tidak mengamuk, namun tak berarti dia ikhlas. Dia butuh seseorang untuk disalahkan atas kematian orang tuanya, dia butuh seseorang untuk dijadikan pelampiasan akibat kepergian kedua orang tuanya. Dia butuh seseorang merasakan hal yang sama dengan yang dia rasakan. Dan bodohnya, dia memilih Luhan sebagai sasaran semua kesedihan dan kehilangannya. Dia tidak lagi memandang Luhan sebagai kekasihnya, kemarahannya sangat mendalam dan kebenciannya mengingat kedua orang tua Luhan yang melakukannya menambah keyakinan Sehun untuk membuat Luhan merasakan berkali-kali lipat bagaimana di posisinya.
Sehun memilih Luhan. Dia memutuskan untuk mengambil kebahagiaan Luhan dan menggantinya dengan kesedihan dan air mata. Itu janjinya. Janji yang akan membuat mereka berdua tidak akan pernah bisa bersama lagi.
Tujuh Tahun Kemudian...
Pagi itu, kediaman mansion Sehun tampak sepi seperti biasanya, hanya ada teriakan kemarahan dari sang pemilik rumah yang semenjak kematian kedua orang tuanya menjadi pemilik tunggal atas semua aset perusahaan dan properti kedua orang tuanya.
Sehun tampak murka karena belum melihat Luhan yang seharusnya menyiapkan sarapannya. Dia mencap Luhan sebagai istri pembangkang dan menjijikan disaat bersamaan.
Ya, Sehun telah menikahi Luhan dua tahun yang lalu. Tapi sekali lagi itu bukan karena dasar cinta. Sehun mungkin masih mencintai Luhan, namun dia mengubur perasaan itu dalam-dalam dan menguncinya di sudut paling gelap dihatinya.
Sehun menikahi Luhan karena ingin mengikat pria yang ia cap ppembunuh kedua orangtuanya itu selamanya dengannya. Dia harus memastikan sendiri kalau Luhan menderita, dan dia juga membenarkan kalau penderitaan Luhan harus berasal darinya.
Luhan tidak diperlakukan layaknya seorang istri atau dalam hal ini hubungan mereka lebih buruk dari hubungan suami istri bahkan lebih buruk dari hubungan majikan dan pembantu, karena Sehun tidak pernah memperlakukan Luhan layaknya seorang istri, Sehun selalu menatap rendah Luhan dan yang paling buruk adalah Sehun menjadi sangat menyukai memukuli Luhan. Sehun juga dengan tegas mengatakan kalau Luhan harus tidur digudang tanpa alas apapun. Dan jika sewaktu-waktu dia ingin melampiaskan hasratnya, Luhan akan menjadi budak seks Sehun yang diperlakukan dengan kasar dan tak manusiawi.
"LUHAN! KEMARI KAU SIALAN"
Teriakan Sehun menggema ke seluruh ruangan, yang dipanggil namanya pun dengan susah payah menghampiri asal suara
"Ya Sehun aku disini" Luhan menahan rasa sakit diseluruh tubuhnya menjawab teriakan Sehun
Bagaimana tidak ia merasa kesakitan, karena semalam Sehun kembali mencari-cari kesalahan Luhan yang lupa meletakkan sepatunya, dia memukuli Luhan dengan ikat pinggangnya. Luhan sudah meminta maaf berkali-kali tapi Sehun mengabaikannya dan dengan seringai jahatnya terus memukuli Luhan.
Setelah puas memukuli Luhan, dia merasa Luhan yang tergeletak di lantai dengan memar dan keringat ditubuhnya terlihat sangat menggoda, maka tanpa rasa kasihan sedikitpun, Sehun membalikan tubuh Luhan dan memasuki Luhan tanpa pemanasan atau peringatan terlebih dulu.
Dia memperlakukan Luhan yang berstatus istrinya seperti pelacur murahan, karena saat hasratnya terpenuhi dia akan meludahi Luhan dan menjambak rambutnya kejam.
Luhan sendiri tak merasa keberatan dengan sikap Sehun yang selalu menyiksanya 7 tahun ini. Dia tahu benar Sehun melakukan itu karena kesepian dan rasa sedihnya yang tak pernah hilang dari dirinya, karena pernah suatu malam Luhan nekat masuk kedalam kamar Sehun dan mendapati Sehun sedang terisak pilu memanggil ibunya sambil memeluk erat foto ibunya. Dan mulai saat itu, Luhan memutuskan untuk menjadi tempat pelampiasan kemarahan Sehun agar kekasih yang kini menjadi suaminya tidak merasa tertekan dan sedih.
Luhan selalu melihat kebahagiaan Sehun saat memukulinya, maka dari itu Luhan akan bertanggung jawab atas semua rasa kehilangan Sehun akan kematian kedua orang tuanya.
"Darimana saja kau sialan. Aku memanggilmu! Apa kau tuli hah?" Bentak Sehun menghampiri Luhan dan sedikit menjambak rambut Luhan
"Maafkan aku Sehun, badanku tak bisa digerakan" ujarnya berkata jujur
"Kau pikir aku peduli, hah!" Geram Sehun menghampiri Luhan dan menjambaknya kasar "Aku hanya ingin kau selalu datang saat aku berteriak memanggilmu mengerti kan?" Geram Sehun yang kemudian mendorong keras Luhan ke lantai
Dugh!
"Arghh" Luhan sedikit mengerang saat kepalanya membentur meja karena Sehun mendorong keras tubuhnya yang masih lemas.
"Aku akan menyiapkan sarapan untukmu" Luhan mengelus pelan kepalanya yang terbentur dan dengan sisa tenaganya mengejar suaminya yang tampak belum memakan sarapannya.
"Minggir" desisnya karena Luhan menghalangi jalannya
"Tapi kau belum makan, nanti kau sakit Sehunna" Luhan sedikit memaksa Sehun membuat Sehun tambah kesal padanya.
"Aku sedang tidak ingin makan dari tangan pembunuh" ujarnya dingin dan kembali mendorong keras Luhan membuat Luhan terhempas kasar ke lantai
Sehun menyeringai puas melihat Luhan kesakitan, dia kemudian pergi meninggalkan Luhan yang tergeletak lemas dilantai.
"Sampai kapan Sehunnie" gumam Luhan meratapi nasibnya yang begitu malang, dia diperlakukan seperti seorang pembunuh oleh suaminya sendiri
"Maafkan aku, aku mohon jangan marah lagi padaku" racaunya yang kembali menangis terisak.
Luhan menangis bukan karena Sehun memukulinya, tetapi setiap kali Sehun mengatakan dirinya pembunuh ada sesuatu didalam diri Luhan yang memberontak tak tega, tentu saja dia tidak pernah tersinggung karena bukan dia yang melakukannya, tapi setiap kali Sehun berteriak dia pembunuh. Luhan melihat sorot kebencian dan luka yang teramat dalam dari wajah suaminya.
"Astaga Luhannie, apa tuan muda memukulimu lagi?"
Adalah Kyungsoo, yang berlari menghampiri Luhan yang tergeletak di lantai. Memang semenjak kematian kedua orang tuanya dan pembacaan hak waris, Sehun langsung menggunakan kekuatannya untuk membalas siapapun yang terlibat dengan kematian kedua orang tuanya. Dia memecat seluruh pembantu rumah tangganya yang dianggapnya bersekongkol dengan orang tua Luhan, tapi dia tetap memperthankan keluarga DO yang sudah yang sudah seperti keluarga untuknya, dan Kyungsoo adalah putra sulung mereka yang juga merupakan teman Sehun dan Kai.
"Aku tidak dipukuli Kyung" lirih Luhan saat Kyungsoo membantunya bersandar di tembok ruang makan
"Kenapa kau tak pergi saja Lu, tuan muda sudah sangat keterlaluan pada hidupmu" Kyungsoo terisak tak tega melihat memar di seluruh tubuh Luhan
"Aku tidak akan pernah pergi Kyung, Sehun membutuhkanku" katanya menghapus air mata Kyungsoo dan tersenyum lirih padanya
"Tapi tuan muda memperlakukanmu seperti binatang, aku tak tega melihatmu disiksa setiap hari Lu. Jika tuan dan nyonya Oh masih hidup mereka tidak akan membiarkan kau disakiti" isaknya begitu tak tega melihat keadaan Luhan
"Kalau eomma dan appa masih hidup. Aku dan Sehun pasti menjadi pasangan paling bahagia saat ini" lirihnya menatap kosong Kyungsoo yang masih terus memandangnya iba.
"Aku pergi sebentar" Luhan akhirnya berpamitan pada Kyungsoo yang menatap bingung kepergian Luhan. Luhan memakai jaketnya terburu-buru dan memakai masker serta kaca mata hitamnya untuk menutupi memar di wajahnya dan setelahnya dia memesan taksi terdekat untuk segera pergi.
"Kembali sebelum tuan muda pulang Lu, dia akan memukulimu lagi jika tak menemukanmu dirumah" Kyungsoo memberitahu Luhan yang bersiap menaiki taksi yang ia pesan
"Iya Kyung, aku akan pulang cepat" balas Luhan tersenyum dan menaiki taksi yang akan membawanya ke satu-satunya tempat yang ia jadikan sebagai tempat bercerita dan satu-satunya tempat yang ia jadikan sarana pengobat rindu kepada kedua orang tua Sehun. Yang kini menjadi mertuanya karena Sehun secara resmi telah menikahi Luhan.
..
..
..
Taksi yang membawa Luhan sampai pada tempat tujuan Luhan, dengan sedikit gontai karena belum makan semalaman dan nyeri di sekujur tubuhnya, Luhan tetap tersenyum sambil membawa buket bunga yang sangat besar kesukaan kedua orang tua Sehun. Langkahnya terus menelusuri pemakaman yang tampak terawat dan cantik ini, karena Sehun secara khusus meminta kepada penjaga taman pemakaman ini untuk selalu merawat dan memelihara makam kedua orang tuanya.
Luhan tersenyum membayangkan satu-satunya senyum hangat yang Sehun berikan adalah saat berkunjung ke makam orang tuanya. Sehun sendiri melarang Luhan untuk berkunjung ke makam orang tuanya, sekelebat ucapan Sehun pun terngiang di benak Luhan
"Sehun kau mau kemana?" Tanya Luhan seminggu setelah pemakaman orang tua Sehun berlangsung.
Sehun tak menjawab, namun Luhan tahu kalau Sehunnya membawa sebuket bunga lili yang artinya Sehun akan mengunjungi makam ibu dan ayahnya.
"Apa kau mau mengunjungi eomma dan appa, apa aku boleh I..."
PLAK!
Belum sempat Luhan menyelesaikan ucapannya. Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, Luhan terkesiap tak percaya dengan apa yang baru saja Sehun lakukan, ini adalah kali pertamanya Sehun berbuat kasar padanya.
"Jangan pernah memanggil mereka dengan sebutan eomma dan appa lagi pembunuh!" Geram Sehun mencekik Luhan dan menghimpitnya ke tembok, Luhan sedikit meronta karena Sehun mencekiknya terlalu erat, membuatnya kesulitan bernafas.
"Dan aku ingatkan padamu, jangan pernah datang mengunjungi makam kedua orang tuaku, jika aku melihatmu disana. Aku bersumpah akan membunuhmu didepan kedua orang tuaku" desisnya semakin mengeratkan cekikannya pada Luhan
"Se-sehun lepas" lirih Luhan yang seluruh tubuhnya terasa panas, hati dan pikirannya memanas tak mengerti kenapa Sehunnya menjadi seperti ini
BUGH!
Sehun menghantam wajah Luhan membuatnya tersungkur ke lantai "Aku bersumpah demi orang tuaku, mulai hari ini hanya penderitaan yang akan kau rasakan" geramnya mengepalkan tangan dan meninggalkan Luhan yang sekali lagi merasa kebahagiannya tengah direnggut secara paksa oleh Tuhan, hal itu tak urung membuatnya ingin selalu mengakhiri hidupnya sendiri.
Luhan tersenyum pahit mengingat pertama kalinya dan mungkin selamanya Sehun bukan hanya berbicara kasar melainkan terus memukulinya. Awalnya Luhan menyerah dengan sifat dan semua keadaan yang bisa membunuhnya kapan saja, dia berniat meninggalkan Sehun dengan beban dosa yang dipikulnya seumur hidup.
Namun dua tahun setelah kematian orang tua Sehun, Luhan diam-diam nekat datang mengunjungi makam orang tua angkatnya, dia menangis tersedu memohon untuk dimaafkan kepada kedua orang tua angkat namun seperti orang tua kandungnya sendiri, tak sekalipun Luhan membicarakan Sehun yang suka memukuli dan menyiksanya, karena hari itu Luhan berniat untuk berpamitan pada ibu dan ayah Sehun mengingat putra mereka yang sudah sangat membencinya,
Luhan masih betah berlama-lama di makam kedua orang tua Sehun, sampai dia melihat dari kejauhan mobil yang tampak familiar terparkir di area pemakaman. Luhan membelalak takut menyadari Sehunlah yang datang ke pemakaman, dengan tergesa dia bersembunyi di antara pemakaman lain, karena tak mungkin dia bisa pergi darisana yang berujung dengan bertemu Sehun ditengah jalan.
Luhan memperhatikan sosok Sehun yang terlihat tampan namun terlihat sangat menderita berjongkok didepan kedua makam orang tuanya, dia meletakkan masing-masing buket bunga di makam orang tuanya, lalu kemudian fokus berbicara pada ibunya.
"Eomma, sudah dua tahun kau pergi tapi tak pernah sekalipun aku tak merindukanmu" gumamnya mengelus nisan dengan nama ibunya tertera disana.
"Aku sangat merindukanmu eomma. Apa tidak bisa kita bertukar tempat. Aku benar-benar hancur tanpamu eomma"
Luhan hancur berkeping-keping mendengar kenyataan bahwa bukan hanya dirinyalah yang merasa sepi dan hancur, sosok yang dua tahun ini berubah menjadi monster untuknya ternyata juga merasakan hal yang sama dengan yang Luhan rasakan, merasakan sepi dan sangat hancur kesepian, Luhan tak kuasa membendung air matanya melihat Sehunnya begitu sangat menderita.
"Eommaaa~" Sehun berteriak memilukan memecah keheningan yang sangat mencekam di area pemakaman itu, dia kembali seperti sosok Sehun yang sebelumnya Luhan kenal. Sehun yang sangat mencintai ibunya dan Sehun manja dan Sehun yang rapuh, bukan Sehun arogan yang penuh dendam dan kebencian dihatinya.
Lalu malam berikutnya Luhan mendapati kabar kalau Sehun sakit, dengan keberanian yang ia kumpulkan, dia nekat masuk ke kamar Sehun, tempat yang jelas-jelas tak boleh ia masuki, tapi karena merasa khawatir, Luhan tak punya pilihan lain.
Sesampainya di depan Sehun yang sedang tertidur, hati Luhan merasa teriris, bukan karena wajahnya yang pucat serta keringat yang membanjiri tubuhnya, Sehun mengigau dan memanggil ibunya berkali-kali dalam tidurnya "Eomma, Sehunnie sakit. Kembalilah sebentar saja"
Seperti itulah igauan Sehun yang membuat Luhan kembali merasakan sangat hancur, dan mulai dari hari itu. Luhan berjanji tidak akan pernah meninggalkan Sehun, tidak-.. Sampai dia memastikan sendiri Sehunnya mendapatkan kebahagiaan yang bisa membuatnya kembali tersenyum.
"Eomonim, aboji. Luhan datang mengunjungi kalian. Maaf hanya bisa membawa satu buket bunga, dompetku ketinggalan" lirih Luhan tersenyum sedih.
Ya, Sehun memang tak pernah memberikan uang sepeser pun untuk Luhan, Luhan jika menginginkan sesuatu harus diam-diam bekerja dan pulang kerumah sebelum Sehun pulang. Karena jika Sehun tahu dia keluar dari rumah, Sehun tidak akan segan-segan mengurungnya semalam di kamar mandi, dan mengingat daya tahan tubuh Luhan sangat rentan, Luhan akan sakit dan jika Luhan sakit, Sehun akan semakin marah dan memukulinya tanpa ampun. Hal itulah yang membuat Luhan enggan memancing kemarahan Sehun lagi
"Maafkan aku tak mengunjungi kalian minggu lalu. Aku dan Sehun pergi kencan, jadi kami lupa kalau ayah dan ibu menunggu kami" gumamnya menghapus cepat air mata yang jatuh ke pipinya karena setiap ucapannya tentang Sehun didepan kedua orang tua Sehun adalah kebohongan.
Minggu lalu Luhan tak sempat mengunjungi makam kedua orang tuanya karena Sehun mabuk dan memukulinya hingga terjatuh dari tangga, hasilnya dia harus dirawat secara tak layak dirumah sakit karena Sehun tak mau repot-repot mengeluarkan biaya untuk hidup Luhan.
"Sehun dan aku.. kami-.. sangat merindukan kalian eomonim, aboji" Luhan tertunduk, bahunya bergetar, semua kenangan bahagia saat mereka berkumpul bersama menyeruak keluar dari benaknya. Luhan tak sanggup mengingatnya karena ketika mengingatnya dia harus kembali menerima kenyataan bahwa semua itu hanya masa lalu. Masa lalu yang sangat indah yang hanya bisa ia rasakan sekali seumur hidupnya.
Uhuk!
Luhan menutup mulutnya dan melihat telapak tangannya yang penuh dengan darah, kemudian dia kembali bergetar menerima satu lagi kenyataan.
Kenyataan bahwa dirinya sakit dan divonis mengidap radang selaput otak. Luhan mengetahui dirinya sakit minggu lalu saat ia dirawat secara tak layak dirumah sakit. Kyuhyun, temannya dan Sehun saat di bangku SMA yang memberitahunya.
Malam itu, Luhan yang terjatuh dari tangga kembali mengalami benturan keras di kepalanya, Sehun yang sama sekali tak mau repot-repot mengeluarkan uang untuk Luhan, meminta Kyuhyun yang ia tahu menangani Luhan untuk merawatnya Cuma-Cuma. Hal itu benar-benar membuat Kyuhyun geram dan tak percaya pada perubahan sikap Sehun. Sehun kemudian dengan tak bertanggung jawabnya meninggalkan Luhan begitu saja dirumah sakit
Malam harinya, saat Luhan tersadar dari pingsannya, dia merasa kepalanya sangat sakit, dia berteriak meminta tolong namun tak ada yang mendengar, Luhan meronta memegangi kepalanya yang sangat sakit dan tak lama t
Brak!
Dia terjatuh dari tempat tidurnya, Luhan melepas paksa infusnya dan kembali memegangi kepalanya, kemudian dia terbatuk dan tercengang melihat darah dari mulutnya begitu banyak, kepalanya sakit dan dia merasa sangat sesak "To-tolong aku" lirihnya meminta tolong entah pada siapa
"Luhan bagaimana keadaan…."
"LUHAN!" Kyuhyun berteriak panik melihat Luhan pingsan dengan darah yang keluar dari mulutnya, ia segera memanggil tim medis dan melakukan pertolongan darurat untuk Luhan tanpa meminta izin pada Sehun. Suami yang sama sekali tak bertanggung jawab atas keadaan Luhan.
Luhan sadar dari pingsannya dan mendapati dirinya di ruangan yang lebih baik yang membuatnya nyaman, kemudian dia melihat Kai dan Kyuhyun sedang berbincang sesuatu yang terdengar Luhan adalah masalah kondisi dirinya
"Kai…Kyu" gumamnya memanggil kedua temannya
"Kau sudah sadar Lu, apa yang kau rasakan?" Kyuhyun mengecek keadaan Luhan dengan segera memeriksanya
"Kepalaku masih sangat sakit" gumamnya memegangi kepalanya yang berdenyut
"Kau akan baik-baik saja hmmm" Kai menenangkan Luhan dengan memegangi kedua temannya
Luhan sendiri bersyukur karena Kai, sepupu Sehun tak menganggapnya pembunuh juga, karena semua keluarga besar Kim dan Oh memvonis Luhan adalah seorang pembunuh yang mengerikan, namun Luhan sendiri tak menyangka kalau ternyata Kai memiliki perasaan yang tak harusnya diberikan untuk Luhan, karena jika Sehun tahu, kedua sepupu ini bisa saling menyakiti karena dirinya. Hal itulah yang membuat Kai mengalah dan memilih menjaga Luhan dari jauh, menjadi penolongnya saat Luhan merasa benar-benar tak sanggup lagi pada Sehun nantinya.
"Kami curiga kau mengalami memar di sekitar pembuluh otakmu Lu, Kai bilang kau pernah mengalami gegar otak ringan. Kita harus melakukan MRI untuk mengetahui lebih lanjut tentang sakitmu Lu" Kyuhyun memberitahu Luhan
"Itu sudah lama sekali, gegar otak itu tak pernah menggangguku sebelumnya" lirih Luhan yang menolak untuk diperiksa lebih lanjut
"Kau terlalu banyak mengalami benturan di kepalamu. Kau harus diperiksa" Kai meyakinkan Luhan
Luhan yang merasa kepalanya sangat sakit tak mau menolak lagi permintaan Kai dan Kyuhyun dia kemudian mengangguk menyetujui keinginan kedua temannya
Dan tak lama setelah MRI Luhan dilakukan, Kyuhyun datang dengan membawa hasilnya ke ruangan Luhan
"Bagaimana Kyu?" Kai berdiri penasaran dengan hasil yang akan dibacakan Kyuhyun
"Kau mengalami radang selaput otak Lu. Terapi adalah satu-satunya cara agar radang itu tak berubah menjadi tumor ganas" Kyuhyun menyesal memberitahu tentang kondisi Luhan
"Gegar otak ringanmu tak pernah sembuh total, selama ini kau selalu merasakan sakit kepala kan, tapi kau menganggapnya itu hanya sakit kepala dan benturan terakhirmu karena jatuh dari tangga adalah puncak dari kapasitas tubuhmu menahan rasa sakitnya Lu" Kyuhyun kembali memberitahu Luhan
"Sehun sialan" geram Kai mengepalkan tangannya, karena dia tahu benar awal mula Luhan mengalami gegar otak ringan adalah saat Luhan menolongnya saat tabrakan mobil beberapa tahun yang lalu dan kini Sehun jugalah yang menyebabkan Luhan mengalami radang selaput otak seperti sekarang ini
"Sehun tidak salah Kai. Dia tidak tahu apa-apa" Luhan memaksa tangan Kai agar berhenti mengepal dan tersenyum ke arahnya agar tak terus menyalahkan Sehun
"Aku harus bagaimana Kyu, kalau bisa hilangkan rasa sakitnya" pinta Luhan beralih ke Kyuhyun
"Kau harus terapi Lu" katanya mengulang
Luhan menggeleng lemah dan tersenyum memelas "Aku tak punya uang, beri aku obat saja Kyu" pinta Luhan agar Kyuhyun mengerti
"Aku yang menanggung semua perawatanmu" Kai dengan cepat memberitahu Luhan
"Gomawo Kai, tapi kau tahu kan? Sehun tak akan mengizinkanku kemanapun"
"Sehun harus diberi tahu" elak Kyuhyun
"Dia tidak akan peduli, penderitaanku adalah kesenangan untuknya. Dia akan sangat senang mengetahui aku sakit" gumamnya tertawa pahit
"Tapi Lu" Kai memohon frustasi
"Aku mohon hentikan perdebatan kita, kepalaku sakit. Beri aku obat Kyu, aku mohon" pintanya berkaca-kaca karena tak kuat dengan rasa sakit kepalanya
Dan sejak hari itu, Kyuhyun memberikan Luhan obat-obatan yang bisa ia konsumsi setiap kali ia merasakan sakit. Hal pantang untuk Luhan adalah dia tidak boleh merasa stres dan banyak istirahat, namun tentu saja semua pantangan itu tak mungkin tak Luhan rasakan karena Sehun akan memberikan semua pantangan itu untuk Luhan
Luhan mengelap cepat darahnya ke baju dan mengambil obatnya kemudian meminumnya dengan cepat "Aku sakit kepala eomonim, aboji. Doakan aku agar cepat sembuh ya" katanya yang setelah meminum obat memberitahu kedua orang tua Sehun, menahan kepalanya yang kembali berdenyut.
Luhan kemudian melihat ke jam tangannya dan sedikit takut mengetahui hari sudah hampir sore, dia harus segera pulang sebelum Sehun kembali.
"Eomonin, aboji. Aku pulang dulu. Sehun sudah menungguku" Luhan memasukan obatnya kedalam tas dan segera berdiri untuk pergi
"Umm.. Aku janji suatu saat nanti, aku dan Sehun.. Kami berdua akan datang bersama mengunjungi kalian. Salahkan putra tampan kalian yang terlalu sibuk. Tapi aku janji akan selalu bersamanya karena kalian tahu kan? Aku sangat mencintai Sehun" gumam Luhan dengan suara tertawa tapi air mata tetap turun membasahi wajahnya
"Aku juga mencintai kalian, maafkan aku untuk semuanya" ujarnya menghapus airmatanya dan melenggang dengan sedikit gontai meninggalkan pemakaman kedua orang tua Sehun.
..
..
..
Luhan membelalak takut saat sampai dirumah dan mendapati mobil Sehun sudah berada di garasi, dia mengernyit bingung menebak kenapa Sehun pulang lebih awal, dan yang tambah membuatnya bingung adalah banyak orang-orang yang berdatangan seperti mendekorasi sesuatu dirumah Sehun
Dengan mengendap Luhan masuk lewat pintu belakang rumahnya dan langsung berlari menemui bibi Kim untuk bertanya
"Kyungie" panggil Luhan menghampiri Kyungsoo yang sedang sibuk mencuci sayur dan buah. "Syukurlah Lu kau sudah pulang. Tuan muda sudah sampai dirumah" Kyungsoo sedikit memeluk Luhan lega karena Luhan sudah sampai dirumah
"Iya, aku melihat mobilnya. Apa dia mencariku?" tanya Luhan takut-takut
"Belum sayang, Tuan muda belum mencarimu. Dia sedang sibuk mempersiapkan pesta untuk besok malam" Kyungsoo memberitahu Luhan
"Pesta?" Luhan menaikkan alisnya bingung tidak mengetahui apa-apa
"Apa tuan muda tak memberitahumu Lu?" Kyungsoo menatap iba pada Luhan yang benar-benar hanya dijadikan pelampiasan kemarahan putra dari majikannya itu
Luhan menggeleng lemah dan bersemangat ingin tahu "Beritahu aku Kyung" pinta Luhan sedikit berjingkat
"Umm… proyek kerja sama tuan muda dengan klien dari Jepang dan China sukses, dan untuk merayakannya tuan muda mengundang seluruh teman dekat dan staf karyawan kantornya untuk datang berpesta dan bersantai sejenak" Kyungsoo tersenyum membelai lembut wajah Luhan
"Benarkah? Apa menurutmu aku boleh ikut pesta itu?" tanya Luhan berharap
"Tentu saja. Kau istri tuan muda, tentu kau boleh" Kyungsoo yang tak ingin melihat raut sedih wajah Luhan menghiburnya
"Tapi aku tak punya pakaian bagus" lirihnya sedih menundukkan kepalanya
"Bicaralah pada tuan muda Lu, jika dia tidak memberikannya untukmu. Aku akan membelikannya untukmu" Kyungsoo kembali memeluk Luhan, menghiburnya
"Benarkah?" tanya Luhan yang sangat senang jika diberi hadiah
"Hmm tentu saja" Kyungsoo tertawa melihat Luhan yang begitu menggemaskan
"Baiklah, aku akan bicara dengan Sehun, siapa tahu dia sedang dalam mood yang bagus" ujar Luhan penuh semangat
"Bicaralah Lu, dia suamimu bagaimanapun, harusnya dia bertanggung jawab atas kebahagiaanmu" Kyungsoo kembali menatap iba pada Luhan
"Aku sangat bahagia bisa bersamanya setiap hari Kyung" balas Luhan pergi meninggalkan Kyungsoo menuju ruang kerja Sehun
"Semoga kau tak menyakitinya lagi" gumam Kyungsoo berharap agar Sehun tak memukuli Luhan lagi
..
..
..
Tok..Tok..
Luhan memberanikan diri mengetuk pintu ruang kerja Sehun untuk bertanya mengenai pesta yang akan diselenggarkan besok malam
"Masuk" Teriak Sehun dari dalam
Cklek!
Dengan takut Luhan membuka pintu dan masuk kedalam ruang kerja Sehun
"Aku sedang tidak ingin memukulimu. Keluar sekarang"
Belum sempat Luhan bicara, Sehun sudah mengusirnya keluar membuat Luhan semakin tak yakin bertanya, namun karena penasaran, Luhan akhirnya memberanikan diri membuka suara
"Sebelum keluar apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Luhan takut kalau Sehun membentaknya
"Apa? cepat katakan" balas Sehun tanpa menatap ke arah Luhan
"Apa aku boleh meminta uang untuk membeli baju?" Tanyanya menahan rasa takutnya, pertanyaan Luhan barusan sukses membuat Sehun menatap marah ke arahnya
"Baju? Kau pikir kau mau kemana hah?" Bentaknya membuat Luhan sedikit tersentak takut
"Aku tidak kemana-mana sungguh. Aku hanya ingin mempunyai baju yang layak untuk pestamu nanti, aku tidak ingin mempermalukanmu" Luhan menjelskan terburu-buru pada Sehun yang mulai menunjukkan muka kesalnya.
Sehun mengernyitkan alisnya dan tak lama tertawa meremehkan mendekati Luhan
"Ckckck...Lulu cantik, apa kau pikir aku akan mengijinkanmu merusak suasana pestaku hah? Dalam mimpi saja sialan" ujarnya menjambak kencang rambut Luhan. Luhan yang sudah biasa diperlakukan kasar pun hanya tersenyum pahit menahan erang kesakitannya
"Aku tidak akan merusak pestamu Sehun, aku janji" balas Luhan sedikit kesusahan karena jambakan Sehun dirambutnya semakin kencang
"Aku sedang tak ingin berteriak. Pergi sebelum aku mencekikmu" desis Sehun sangat menakutkan di telinga Luhan
"B-baik Sehun, aku akan pergi" Luhan yang tak mau membuat Sehun lebih marah lagi pun akhirnya mengalah menahan bulat-bulat keinginannya untuk menghadiri pesta Sehun yang sepertinya akan sangat meriah.
"Tunggu!" Sehun memanggil Luhan membuat Luhan berhenti didepan pintu
"Ya Sehun" Luhan bertanya pada Sehun yang memanggilnya
"Apa kau benar-benar ingin ikut pestaku?" tanya Sehun pada Luhan
"Ya aku ingin" balas Luhan tersenyum berharap Sehun mengijinkannya
"Jadi pelacurku malam ini kalau begitu" katanya santai menatap Luhan dengan tatapan sangat merendahkan
"Tapi Sehun, aku masih sa.."
"CEPAT!" bentak Sehun membuat Luhan terkesiap kaget dan dengan cepat menutup pintu ruang kerja Sehun
Ya, setiap kali Sehun memintanya menjadi pelacurnya, itu artinya Luhan harus melakukan semua yang sedang ia lakukan sekarang.
Luhan harus membuka seluruh bajunya dengan tatapan intimidasi Sehun yang memandangnya tajam, dan dengan bergetar Luhan membuka kaosnya kemudian seluruh bajunya, setelah ia telanjang bulat ia harus merangkak menuju Sehun yang sedang duduk di kursi ruang kerjanya
"Ck! Dasar pelacur" hina Sehun membuat Luhan menangis karena merasa sangat rendah dan kotor, padahal Luhan adalah istrinya, tapi Sehun tak pernah memperlakukan Luhan layaknya seorang istri bahkan tak pernah diperlakukan seperti manusia.
Sesampainya didepan Sehun, dia kemudian berjongkok didepan Sehun, melepas ikat pinggang Sehun dan mengeluarkan adik Sehun yang tampak sudah mengeras setelahnya dia memasukannya kedalam mulutnya sampai Sehun menjambaknya yang itu artinya dia harus naik ke pangkuan Sehun dan memasukkan junior Sehun kedalam lubangnya, kemudia dia harus meliuk-liukkan badannya naik turun seperti seorang pelacur, Sehun membantunya bergerak dengan memegangi pinggang Luhan tanpa menghentikan hinaannya pada Luhan dia terus mengatakan Luhan pelacur dan pembunuh di sela kegiatan panas mereka. membuat Luhan benar-benar seperti seorang rendahan dan pelacur sungguhan
"Ahh~" Sehun telah mencapai klimaksnya, menyusul Luhan yang sudah merasakan klimasknya.
"Turun!" Sehun meminta Luhan untuk turun dari pangkuannya dan membersihkan kotoran di bajunya karena ulah Luhan
"Kau tahu kan, aku sangat benci jika tubuhku terkena kotoran cairanmu. Kenapa kau tak pernah belajar hah!" geram Sehun menjambak rambut Luhan yang masih mengelap kotorannya yang mengenai lengan dan baju Sehun. Selalu seperti ini setelah Sehun puas menikmati tubuh Luhan, cacian, hinaan bahkan pukulan kadang Luhan terima. Tak seperti saat pertama kali mereka bercinta yang penuh kelembutan dan cinta didalamnya
"PERGI!" Sehun kembali membentak Luhan menyuruhnya untuk menyingkir tak mentyentuhnya
Luhan yang masih terisak pun menjauhi Sehun dan memakai seluruh pakaiannya dengan cepat
"Kenapa masih disini? Aku bilang pergi!" desis Sehun penuh kebencian
"Kau bilang aku boleh ikut pesta setelah melayanimu" Luhan mengingatkan Sehun
"Ah~ Pelacur meminta uangnya ya?.. oke.. Ini!" Sehun mendekati Luhan dan melempar beberapa lembar won ke wajah Luhan dengan hinanya
"Se-Sehun" lirih Luhan merasa sangat sedih dan frustasi
"Kenapa? Apa kurang? Dasar sialan! INI AMBILLAH!" katanya melempar uang lebih banyak ke wajah Luhan
"CUKUP SEHUN! AKU TAK BUTUH UANGMU" jerit Luhan frustasi, berlari meninggalkan Sehun yang tercengang karena Luhan menjerit kepadanya.
"SIALAN!" geram Sehun mengepalkan tangannya tak terima penuh kemarahan pada Luhan yang berani meninggalkannya sementara dirinya masih berbicara.
Luhan terus berlari menahan rasa sakit di kepala dan di bagian bawahnya yang masih sangat nyeri karena baru melayani Sehun kemarin malam tanpa henti dan malam ini harus kembali melayani Sehun yang benar-benar memperlakukannya seperti pelacur
"Sehun..Sehunn..Sehun" Luhan menggumamkan nama Sehun berulang, karena dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi yang bisa menenangkannya, dia berharap Sehunnya menjadi sandaran lagi untuknya. Tapi dia tahu itu semua hanya impiannya
Luhan terus berlari menuju keluar rumah, dia tidak peduli lagi jika Sehun marah dan ingin membunuhnya, jika Sehun membunuhnya Luhan akan sangat berterimakasih pada Sehun yang akhirnya mengakhiri penderitaannya
BRAK!
Luhan terjatuh karena menabrak seseorang dan seseorang itu memang sengaja menghentikan gerakan Luhan yang terus berlari dengan menabraknya
"Lu, kau kenapa?" Kai lah yang dengan sengaja menabrak Luhan agar Luhan berhenti berlari, kemudian dia memeluk erat Luhan yang masih terisak dipelukannya
"Kai…. Bunuh aku, aku tak tahan Kai" Luhan mencengkram erat lengan Kai melampiaskan rasa sakitnya
"SIAPA SAJA BUNUH AKU. AKU MOHON" jerit Luhan frustasi membuat Kai semakin erat memeluknya
"Lu, tenanglah.. aku mohon Lu" pinta Kai yang seperti merasakan betapa sakitnya Luhan yang sangat tersiksa berada di tempatnya sekarang
"Kaiiii" isak Luhan yang kini menggigit lengan Kai kencang, berharap semua rasa sakitnya hilang dan pergi selamanya
Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang melihat mereka berdua dari tempat yang berbeda.
Sehun yang melihat Luhan dipelukan Kai dari jendela ruang kerjanya merasa ada sesuatu dalam dirinya yang tak rela jika miliknya disentuh, namun kemarahan kembali menguasainya, dia menatap tak suka pada adegan yang sedang ia lihat dan berjanji akan akan memberi Luhan pelajaran setelah ini
Di lain tempat, Kyungsoo yang melihat Luhan dipelukan Kai tersenyum lirih dan senang bersamaan. Dia senang jika Luhan mempunyai tempat berlindung, walau itu bersama Kai, pria yang diam-diam ia sukai sejak mereka kecil karena mereka tumbuh bersama
tobecontinued..
