"Some people seem to be born to suffer."
Last Hope
Main Cast : Xi Luhan & Oh Sehun
Genre : Romance, Family, Hurt
Rate : T-M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s). M-preg.
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
.
"Apa kau sudah merasa lebih baik Lu?" Tanya Kai yang sedang memperhatikan Luhan memakan dengan lahap es krim yang mereka pesan sejak dua jam yang lalu.
Setidaknya Kai berhasil membujuk Luhan untuk berhenti menangis dan dengan iming-imingan es krim sepuasnya, Luhan dalam sekejap berhenti menangis walau jelas sekali kalau wajahnya sedang menahan sakit karena begitu pucat
"San-hmm-gat baik Kai. Go-hmm-mawo." Luhan membalas ucapan Kai dengan wajah penuh eskrim disekitar mulutnya
"Makanlah dulu, aku akan membersihkan wajahmu nanti." Gumam Kai mengusak rambut Luhan, dia sedikit lega kalau karena Luhan sudah merasa lebih baik.
Luhan mengangguk bersemangat dan mulai melahap habis semua es krimnya, yang membuat Kai terenyuh adalah Luhan tetap mengeluarkan air matanya bahkan disela dirinya yang sedang menghabiskan es krimnya. Kai tahu benar kalau Luhan sedang berusaha mati-matian menahan air matanya namun gagal karena memang dirinya sedang merasakan sakit diseluruh tubuh dan hatinya.
"Ini enak" gumam Luhan menghapus air matanya "Lihat Kai, aku sangat bahagia sampai menangis." Luhan mencari alasan agar Kai tak menanyainya membuat Kai juga ikut tersenyum lirih memaki dirinya yang tak bisa melakukan apapun.
..
"Kau yakin ingin kembali kesana?" Kai bertanya pada Luhan yang meminta diantar pulang setelah merasa lebih baik dengan es krimnya.
"Kemanapun aku berlari, aku akan selalu berakhir disana Kai." Katanya tersenyum memberitahu Kai.
"Aku bisa membawamu pergi Lu." Kai berkata cepat membuat Luhan tersenyum menatapnya.
"Terimakasih sudah sangat baik dan sangat menyayangiku Kai, Tapi aku tidak mau pergi. Tidak-.. Sampai Sehun mendapatkan kebahagiannya." Ujarnya penuh harapan kalau kebahagiaan Sehun adalah bersamanya.
"Aku masuk dulu." Luhan sudah membuka pintu mobil Kai dan ingin segera keluar sampai tangan hangat Kai kembali menariknya dan memeluknya erat.
"Kenapa Lu? Kenapa tak bisa?" Kai bertanya menuntut pada Luhan, memeluknya erat.
"Aku benar-benar bisa membahagiakanmu. Tinggalkan dia dan ikut aku Lu." Kai menangkup wajah Luhan dan menciumi wajah Luhan.
Luhan hanya diam tak menjawab tawaran Kai. Dia tahu benar kalau sepupu suaminya ini menyimpan perasaan untuknya. Luhan ingin langsung mengatakan "iya atau bawa aku pergi" tapi dia tahu jauh dilubuk hatinya dia tidak akan pernah bisa meninggalkan Sehun. Bukan hanya karena Luhan sangat mencintai suaminya tapi Luhan tak akan bisa hidup dengan rasa bersalah dan kebencian Sehun yang selama ini ia rasakan.
"Aku tak bisa" lirihnya membalas ucapan Kai
"Tapi kenapa Lu?" Tanya Kai mengkhawatirkan Luhan
"Aku sudah memutuskan untuk hidup dengan rasa bersalah yang aku pikul di benakku. Dan aku akan melanjutkan hidupku dengan rasa bersalah itu agar bisa menatap wajah Sehun"
"Ini semua bukan kesalahanmu" Kai mendecih tak habis pikir
"Kesalahanku membuat orang tuaku bertemu dengan orang tua Sehun. Sehingga mereka harus pergi dengan mengenaskan" lirihnya mengingatkan Kai
"Tapi mereke bukan orang tu.."
"CUKUP KAI!"
Suara Luhan meninggi setiap kali topik orang tuanya dibahas, ada perasaan yang terlalu sesak mengingat kedua orang itu bukanlah orang tuanya, tapi dia yang harus menanggung semua kebencian dan kemarahan Sehun. Maka dari itu Luhan memutuskan untuk tetap mengakui kedua orang itu sebagai orang tuanya, karena dengan begitu dia sedikit punya alasan untuk menerima kemarahan dan kebencian Sehun.
"Aku pergi. Sehun mungkin mencariku." Luhan menghapus air matanya cepat dan bergegas meninggalkan mobil Kai.
"Aku mencintaimu Lu."
Langkah Luhan terhenti tatkala mendengar pernyataan Kai. Sudah beberapa tahun ini ia tidak pernah mendengar ucapan cinta yang begitu tulus yang ditujukan kepadanya.
Luhan menoleh ke belakang dan tersenyum menatap pria yang sangat baik padanya ini, namun keduanya tahu kalau hubungan mereka tidak akan lebih dari hubungan seorang teman.
"Gomawo Kai." Balas Luhan yang tak tahu harus berkata apa lagi. Dia kemudian berlari kedalam rumahnya meninggalkan Kai yang begitu hancur karena berkali-kali pernyataan cintanya ditolak Luhan.
Malam harinya Sehun yang masih berada di ruang kerjanya terlihat gusar dan sangat marah mengetahui Luhan pergi bersama Kai dan baru pulang beberapa menit yang lalu. Ada bagian dirinya yang marah melihat Luhan yang tampak nyaman bersama Kai sementara bagian dirinya yang lain marah karena melihat Luhan banyak tersenyum bersama Kai.
Setelah memastikan Kai kembali kerumahnya setelah mengantar pulang Luhan, Sehun keluar dari kamar kerjanya dengan tangan mengepal luar biasa marah dengan Luhan yang sepertinya sangat mendengarkan Kai. Dia tidak terima akan hal itu, karena satu-satunya orang yang harus Luhan turuti dan dengarkan adalah dirinya.
BRAK!
Sehun menendang pintu gudang tempat Luhan tidur dengan hanya menggunakan matras kecil pemberian Kyungsoo, membuat si pemilik tubuh mungil yang baru saja memejamkan matanya terkesiap kaget dan ketakutan karena tahu benar siapa yang masuk kedalam kamarnya itu.
"Bangun kau sialan"
BUGH!
Sehun berteriak menendang keras perut Luhan, membuat Luhan duduk dengan cepat sambil memegangi perutnya yang ditendang
"Se-sehun ada apa? Jangan pukuli aku, aku mohon" pinta Luhan terdengar putus asa.
"ADA APA KATAMU? BERANI SEKALI KAU SELINGKUH DIDEPAN MATAKU SIALAN!" geram Sehun penuh kemarahan dan
BUGH!
Tamparan keras di wajah Luhan tak terelakan, membuat bibir si mungil itu kembali mengeluarkan darah di sudutnya.
"A-hix-ku tak selingkuh Sehunna." Luhan terisak menahan nyeri yang teramat di wajahnya yang berdenyut setelah ditampar Sehun
"Berani sekali kau bilang tak selingkuh sementara kau dengan pasrahnya dipeluk Kai. Jalang!" geram Sehun mencengkram erat piyama tidur Luhan yang sudah berantakan
"Sehun aku takut. Maafkan aku, jangan pukul aku lagi." Luhan meminta dengan memelas dan menyesal membiarkan Kai mengantarnya pulang, karena dia yakin setelah ini Kai dan Sehun akan bertengkar karena dirinya
"Kau terlihat takut padaku, tapi terlihat nyaman dengan Kai, ingat siapa suamimu lulu sayang. Aku bisa membunuh Kai jika kau berani macam-macam denganku." Sehun meraba wajah Luhan penuh dengan penekanan di setiap kalimatnya
Luhan membelalak takut mendengarnya, dia kemudian berlutut di kaki Sehun menyesali perbuatannya "Ini sepenuhnya salahku Sehunna, jangan sakiti sepupumu. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, jangan saling menyakiti dengan Kai, aku mohon." Luhan benar-benar terisak dengan ketakutan berlutut memeluk kaki Sehun dia meminta Sehun untuk tak serius dengan ucapannya.
Sehun menyeringai dan memaksa Luhan berdiri menatapnya "Kau tak mau aku membunuh Kai kan?" tanyanya meraba kasar bibir Luhan yang berdarah
Luhan ingin menjawab, tapi karena Sehun menekan sudut bibirnya yang berdarah, hanya ringisan dan erangan yang keluar dari mulutnya sebagai jawaban
"JAWAB AKU!" teriak Sehun kembali terpancing emosinya
"Ya Sehun, jangan sakiti sepupumu. Aku mohon." Lirih Luhan yang memaksakan diri untuk berbicara dan hasilnya adalah luka dibibirnya semakin merobek.
"Kalau begitu jangan pernah membantahku. Mengerti kan?" tanya Sehun yang kini beralih ke leher Luhan sedikit mencekiknya
"Y-ya Sehun, aku akan menurut padamu." balas Luhan tercekat karena cekikan Sehun mengencang di lehernya
"Bagus!" gumamnya yang kini menyentuh sensual tubuh Luhan, Luhan merinding menerima sentuhan Sehun yang terasa berbeda, namun kemudian dia mengernyit takut menyadari setelah ini Sehun pasti akan melampiaskan hasratnya pada dirinya secara brutal dan kasar
"Se- Sehun.. Hentikan." Pinta Luhan karena saat ini tangan Sehun sudah bergerak liar menyentuh setiap jengkal bagian privatnya secara kasar namun menggoda.
"Berani sekali kau menyuruhku berhenti. Dasar brengsek."
BRAK!
Sehun mendorong kasar tubuh Luhan ke kasurnya yang sudah tak layak pakai, karena sudah rusak dan hanya terlihat seperti selimut tipis yang sudah harus dibuang.
"Aku sedang ingin bercinta dan kau menyuruhku berhenti? Dasar idiot."
BUGH!
Sehun menendang kasar perut Luhan, membuat Luhan dengan otomatis memegangi perutnya dan meringis kesakitan. Hal itu semakin membuat Sehun geram, karena dia ingin setiap kali dia memukuli Luhan. Luhan tidak boleh melindungi dirinya dari kemurkaan Sehun apapun alasanya.
"Kau benar-benar memancing emosiku." Geram Sehun merobek kasar piyama Luhan beserta celananya, membuat Luhan dalam sekejap tak memakai sehelaipun pakaian. Dia menyeringai melihat lebam di tubuh Luhan yang terlihat sangat cantik menghiasi setiap inci tubuhnya
"Eungh." Luhan menggeliat tak nyaman antara menahan dingin dan rasa sakit ditubuhnya, hal itu semakin membuat Sehun tak bisa menahan hasratnya. Dia kemudian melepas zipper celananya dan menindih Luhan dengan kasar, sedetik kemudian
"Arghhh.." Luhan memekik kesakitan saat benda tumpul yang terasa sangat besar masuk kedalam lubang sempitnya
"Berteriaklah sayang.. Aku suka mendengarkan jeritan kesakitanmu." Desis Sehun menyeringai dan dengan kasar menggenjot kasar lubang Luhan yang masih terasa sakit karena ulahnya yang belum 24 jam berlalu, namun sudah kembali memaksa Luhan untuk melayaniny
"Sehunn.. Sakithhmppp." Luhan mengerang kesakitan namun tak memungkiri rasa nikmat yang mulai ia rasakan ditubuhnya.
"Kau bilang sakit, tapi tubuhmu merespon. Dasar jalang." Sehun semakin jadi menghina Luhan dan semakin kasar menyatukan tubuhnya dengan tubuh Luhan yang kini sepenuhnya sudah merespon
"Aghhh~ Sehunnnmmphh" desah Luhan saat tubunhnya benar-benar tak kuasa mengimbangi Sehun yang begitu mendominasi percintaan mereka setiap kali mereka berhubungan.
"Ya jalang, apa aku memuaskanmu hmm?" Sehun bertanya sekaligus menghina Luhan yang sudah benar-benar terbuai dan terbawa gairah dirinya
"Agh!." Luhan membelalak saat Sehun menghentak kuat tepat mengenai prostatnya, membuatnya hanya bisa mengepalkan erat tangannya menahan gairah yang begitu memanas di gudang kecil tempatnya tidur selama lima tahun ini.
"Sehunnn…aahhh~" Luhan mengerang dan memejamkan kuat matanya saat klimaks menjemputnya dan sedetik kemudian menyadari kesalahannya yang kembali mengotori kaos dan perut Sehun.
Sehun menyeringai dan kembali menatap kejam Luhan "Kau memang tak pernah belajar dari kesalahanmu ya.?" Sehun sedikit menjambak Luhan yang masih terengah tanpa menghentikan genjotannya yang semakin keras.
Sehun mengeluarkan juniornya sebatas kepala dan tak lama
"hmpppphhh"
Dia menghentakan keras juniornya masuk kedalam lubang Luhan dan mencapai klimaksnya sedetik kemudian. Sehun mengeluarkan seluruh cairannya di lubang Luhan, membuat Luhan kembali memejamkan matanya karena rasa hangat yang dirasakan tubuhnya.
"Aku senang sekali kau selalu bisa memuaskanku . Tapi sampai kapanpun kau hanya jalang untukku." Sehun mengeluarkan juniornya dari lubang Luhan secara kasar, memakai cepat celananya dan meninggalkan Luhan yang hanya bisa terisak merasa sangat terhina dan kedinginan karena satu-satunya piyama tidur yang ia miliki dirobek Sehun. "Sa-hix-kit" lirih Luhan menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya berharap rasa dingin dan rasa sakitnya segera menghilang
..
..
..
Keesokan paginya, rumah keluarga Oh tampak ramai karena malam nanti pesta akan diselenggarakan di rumah Sehun. Semua tampak berjalan seperti biasanya, kecuali dua hal. Pertama tak ada suara teriakan Sehun pagi ini, kedua, Luhan belum keluar dari gudang yang mana hal itu adalah hal yang paling tidak mungkin Luhan lakukan, karena bisa memancing amarah Sehun.
Kyungsoo pun menyadari keganjalan itu dan segera menghampiri gudang tempat dimana Luhan tidur selama ini.
Tok! Tok!
"Lu, apa kau sudah bangun?" tanya Kyungsoo mengetuk pintu gudang namun tak ada jawaban
"Luhan? apa aku boleh masuk?" tanya Kyungsoo lagi
Merasa tak ada jawaban, Kyungsoo akhirnya membuka pintu dan membelalak kaget mendapati Luhan terbaring di lantai tanpa sehelai pakaian pun dan sedang terisak menangis karena sepertinya sangat kedinginan.
"ASTAGA LU! ADA APA DENGANMU?" Pekik Kyungsoo berlari menghampiri Luhan dan memeluknya erat
"Ada apa denganmu? Kenapa kau tak pakai piyama mu?" tanya Kyungsoo yang kemudian menyadari alasan kenapa Luhan tidak memakai baju adalah karena piyamanya dirobek, dan dia tahu benar satu-satunya orang yang bisa melakukan hal sekeji ini pada Luhan adalah suaminya sendiri.
"Ssttt lulu sayang, berhenti menangis. Aku disini." Kyungsoo menahan isakannya dan memakaikan jaket yang sedang ia gunakan pada Luhan
"Aku sakit Kyung.." isak Luhan memeluk erat Kyungsoo seakan takut kalau Kyungsoo pergi meninggalkannya
"Iya Lu, kau sakit. Maaf aku tak bisa mengurangi sakitmu Luhannie sayang"
Kyungsoo tak kuat, dia meneteskan air matanya melihat betapa Luhan sangat menderita fisik dan batin. Dia tak kuat karena tak bisa melindungi Luhan yang begitu hancur beberapa tahun ini dan ia tak kuat karena pendirian Luhan yang dengan keras kepalanya ingin bertahan pada suami pembunuh macam Sehun.
"Sakit Kyungie.. Aku sakit"
Luhan terus mengulangi kalimat "Sakit" seakan berharap rasa sakit itu pindah ke Kyungsoo dan berhenti menyakitinya.
"Lu, maafkan aku. Maaf Lu-" Kyungsoo mengeratkan pelukannya pada Luhan dan mengelus sayang bahu Luhan menenangkan sahabat yang sudah seperti kakak sekaligus adik untuknya ini.
"Apa sangat sakit? Apa ingin pergi ke dokter?" Kyungsoo menangkup wajah Luhan dan begitu miris melihat memar di sekitar bibir Luhan. Dalam hatinya dia mengumpat dan ingin sekali membunuh Sehun dengan kedua tangannya sendiri
Luhan menggeleng lemah menolak untuk pergi ke dokter
"Lalu kau ingin apa agar sakitmu hilang?" tanya Kyungsoo mengelus lembut pipi Luhan
"Aku ingin kau menemaniku seharian ini" balas Luhan yang kembali memeluk Kyungsoo
"Oh baiklah! Aku akan menemanimu seharian ini." kyungsoo memeluk erat Luhan meyakinkan Luhan agar sedikit lebih tenang
"Kyungiee.." panggil Luhan saat tangisannya mereda
"Ada apa Lu? Kau mau apa?" tanya Kyungsoo mengelus sayang rambut Luhan
"Aku lapar" gumam Luhan mencari posisi nyaman dipelukan Kyungsoo
"Rusaku lapar?" tanya Kyungsoo menghapus air mata Luhan. "Apa ingin nasi goreng? Strawberry cake? Bubble tea dan yang lainnya?" tanya Kyungsoo setengah menggoda Luhan
"Umhh.. Aku mau semuanya." Balas Luhan bersemangat
"Baiklah, aku akan membawakan semuanya untukmu. Tunggu disini ya" pinta Kyungsoo mencium kening Luhan
"Jangan lama-lama" gumam Luhan ketakutan ditinggal sendirian. "Hanya sebentar Lu"
Luhan mengangguk mengerti, dan tak lama Kyungsoo berdiri menghapus cepat airmatanya yang jatuh dan melenggang pergi untuk membelikan Luhan makanan yang enak dan layak dimakan.
Sementara Luhan hanya bisa tersenyum lirih mengetahui dirinya kembali membuat Kyungsoo merasa sangat bersalah karena tak bisa menolong dirinya. Luhan ingin sekali menahan tangisannya jika didepan Kyungsoo. Tapi dia merasa akan menjadi gila jika tak bisa terbuka pada Kyungsoo yang sudah begitu baik padanya.
Dia kemudian memutuskan untuk memakai celana piyamanya yang sudah robek dan sedikit membersihkan dirinya sebelum
BRAK!
Pintu gudangnya dibuka secara kasar dan menampilkan Sehun yang terlihat tampan dengan pakaian kerjanya lengkap dengan jas hitamnya yang menambah kesan sempurna dari dirinya sendiri, namun setampan apapun Sehun, Luhan tak bisa melihatnya karena hanya ketakutan yang ia rasakan saat bertatapan dengan Sehun.
"Se-sehun. Jangan pukuli aku lagi." Luhan memohon sambil berjongkok di sudut ruangan, bergetar ketakutan.
"Cih! Merusak moodku saja. Aku sedang tak ingin memukulimu." Katanya berjalan mendekati Luhan yang sedang berjongkok ketakutan.
"Jangan pukul aku... Jangan pukul aku" gumam Luhan mengulang pelan seakan berdoa agar seseorang datang menolongnya atau paling tidak Sehun tidak memukulinya.
BRAK!
Sehun melemparkan sesuatu ke wajah Luhan. Luhan mengernyit bingung saat sebuah bagpaper Sehun lemparkan ke wajahnya.
"Pakailah. Ini untuk nanti malam. Kau boleh ikut pesta"
Luhan mendongak cepat menatap Sehun, seolah mencari kebenaran akan ucapan Sehun yang mengijinkannya ikut pesta.
"Benarkah?" Tanya Luhan berbinar saat ia yakin kalau Sehun serius berbicara.
"Ya benar. Sampai jumpa nanti malam. Dan nikmati pestamu" seringai Sehun meninggalkan Luhan yang sedang melihat baju yang diberikan Sehun.
"Gomawo Sehunnie." Gumam Luhan tersenyum dan sama sekali tak tahu apa yang akan terjadi padanya di pesta Sehun malam ini
..
..
..
Malam harinya, tamu-tamu berdatangan ke rumah Sehun dengan pakaian yang mewah dan pasangan yang tampan serta cantik, wajah-wajah mereka pun terlihat sangat menawan dan kentara sekali bahagia karena kerja keras mereka yang membuahkan hasil memuaskan.
Kebahagiaan pun dirasakan oleh Luhan karena untuk pertama kalinya Sehun mengijinkannya tampil didepan publik dan mungkin akan diperkenalkan secara resmi sebagai pasangan Sehun yang sah. Luhan pun kini sedang bersiap-siap memastikan penampilannya tak akan membuat kecewa Sehun, dia sudah memakai bb cream untuk menutupi bekas memar dan wajahnya yang sudah terlihat lebih baik dari kemarin. "Aku tak sabar untuk keluar" gumam Luhan yang merasa sangat senang dengan pakaian yang diberikan Sehun
"Lu, aku membawakanmu sesuatu." Kyungsoo tiba-tiba memasuki gudang tempat Luhan tidur dan membawakan bingkisan untuk Luhan
"Kau membawa apa Kyung? Hadiah untukku?" tanya Luhan berbinar mengambil bingkisan dari tangan Kyungsoo kemudian membukanya cepat "Whoaa, lucu sekali piyama rusanya. Gomawo Kyungie aku sangat suka." Luhan memeluk sekilas Kyungsoo namun kemudian mengernyit bingung saat Kyungsoo menatapnya membelalak.
"Ada apa Kyung?" tanya Luhan tak mengerti "Apa penampilanku aneh?" tanyanya lagi dan langsung bercermin kemudian mendecak sebal karena penampilannya baik-baik saja.
"Darimana kau dapatkan pakaian itu?" tanya Kyungsoo memegang bahu Luhan dan mengecek seluruh pakaiannya
"Sehunnie yang memberikannya padaku. Dia megizinkanku ikut pesta Kyung." Balasnya terdengar sangat bahagia
"Lepaskan bajunya. Pakai yang lain." Kyungsoo melepas kancing Luhan satu persatu namun Luhan menahan tangan Kyungsoo yang terus bersikap aneh
"Kau kenapa sih? Baju ini bagus. Aku tak mau lepas, suamiku yang memberikannya padaku." Kesal Luhan sedikit menghempaskan tangan Kyungsoo
"Lepaskan pakaianmu Lu. Kau tak boleh hadir ke pesta itu, aku akan menemanimu disini." Kyungsoo kembali mendekati Luhan dan mencoba melepas kancing pakaian Luhan
"KYUNGIE!" pekik Luhan yang sangat marah dan tak mengerti dengan Kyungsoo
"Lu lepas. Aku mohon" pinta Kyungsoo putus asa
"Jangan paksa aku. Aku mau ikut pe…"
"LEPAS LU!" teriak Kyungsoo tak sabaran dan kembali mendekati Luhan
Kyungsoo sedikit terperangah bersalah saat melihat Luhan menatapnya takut, seharusnya dia tidak berteriak pada Luhan karena Luhan sangat takut dengan suara teriakan yang membentaknya.
"Maaf Lu, tapi kau harus lepas pakaian itu." Lirihnya meminta maaf pada Luhan
"Kau jahat Kyung! Aku ingin pesta." Geram Luhan yang sengaja menabrak bahu Kyungsoo dan berlari keluar dari gudang untuk ikut pesta yang sudah dimulai karena sudah terdengar suara tepukan disana.
Kyungsoo merasa kepalanya berputar, dan tak lama menyadari kesalahannya karena membiarkan Luhan pergi "Oh tidak" gumam Kyungsoo yang bergegas pergi keluar untuk mengejar Luhan
"Luhan!" teriak Kyungsoo memanggil Luhan di tengah kerumunan tamu-tamu Sehun
"Lu, kau dimana?" gumamnya panik dan berkeringat karena tak menemukan Luhan
"Luhan! kau di.."
BRAK!
Kyungsoo terjatuh karena menabrak seseorang.
"Kyungsie? Kau kenapa berlari?" tanya seseorang yang ternyata Kai yang juga hadir di pesta itu.
Kyungsoo mendongak cepat dan bersyukur melihat Kai yang ia temui "Kaiya kau harus menolongku. Kita harus mencari Luhan" katanya cepat memegang tangan Kai dengan bergetar
"Luhan kenapa?" tanya Kai yang mulai ikut cemas
"Luhan..dia-.."
Kyungsoo tak bisa menyelesaikan ucapannya karena tak berani membayangkan betapa malunya Luhan jika ia terlambat menemukannya.
"Hey Kyung tenanglah.." Kai membawa Kyungsoo ke pelukannya dan menenangkan Kyungsoo yang merasa sangat hangat dan nyaman berada di pelukan pria yang diam-diam ia sukai ini.
"Ceritakan padaku. Ada apa dengan Luhan?" Kai menangkup wajah Kyungsoo agar menceritakan kenapa dirinya mencari Luhan dengan sangat takut.
"Luhan..dia-. Sehun memberikannya pakaian pe.."
PRANG!
"DASAR PELAYAN KURANG AJAR! BERANI SEKALI KAU MENGOTORI PAKAIANKU"
Kai dan Kyungsoo berlari mendekati suara teriakan dan membelalak kaget melihat Luhan ditampar dan disiram air oleh wanita yang baru saja memakinya.
Kyungsoo melemas pada pandangan yang sedang dilihatnya saat ini, perasaan bersalah kembali menghinggapi dirinya yang tak bisa mencegah Luhan untuk tetap di gudang bersamanya, dirinya yang tak tega merusak wajah bahagia Luhan dengan memberitahunya bahwa pakaian yang ia kenakan sekarang, pakaian yang Sehun berikan padanya adalah pakaian pelayan yang harus melayani para tamu malam ini.
"Maafkan aku nyonya. Aku akan mengganti baju anda." Luhan bergumam ketakutan meminta maaf dan melirik Sehun meminta bantuannya. Tapi hatinya tersenyum pahit saat mendapati Sehun hanya menyeringai ke arahnya.
Harusnya dia mendengarkan Kyungsoo beberapa menit yang lalu, harusnya dia tidak perlu ikut berpesta yang malah berakhir dipermalukan seperti ini. Dia benar-benar tak menyangka kalau Sehun tega memberikannya pakaian pelayan. Matanya sudah memanas, mencari-cari keberadaan Kyungsoo. Berharap Kyungsoo memeluknya lagi seperti pagi ini, namun yang ia harus hadapi saat ini adalah kemarahan seorang wanita yang pakaian tak sengaja terkena sedikit minuman yang Luhan bawa karena tersenggol tamu lain.
"Mengganti bajuku? Bajuku bahkan lebih mahal dari nyawamu. Kalau kau mau menggantinya kau harus mati" geram si wanita yang semakin menjadi, dia melepas heelsnya dan hendak memukulkan ke wajah Luhan, sampai ada seseorang yang menghalaunya dan membawa Luhan ke pelukannya
"Jika kau berani menyentuhnya, aku pastikan kau akan menderita seumur hidupmu."
"Di-direktur Kim." Wanita itu tampak terkejut mendapati Kai memeluk Luhan dan sedang mengancam dirinya saat ini.
"PERGI!" bentak Kai membuat Luhan sedikit tersentak di pelukannya, Kai mengelus sayang punggung Luhan menenangkan pria mungil yang kini memeluknya erat.
"Kita pergi hmmm" Kai bertanya pada Luhan, kemudian Luhan mengangguk lemah dan dengan cepat Kai membawa Luhan pergi dari pesta sialan itu.
..
..
..
"Hey.. Kau sudah menghabiskan banyak eskrim kenapa masih menangis?" tanya Kai yang kini sedang menggendong Luhan di belakang punggungnya.
Sementara Luhan masih menangis sambil memakan rakus eskrimnya "Aku sakit" gumamnya memberitahu Kai
"Pergi denganku kalau begitu" pinta Kai terdengar serius
"Tidak. Aku tidak bisa" lirih Luhan ketakutan
"Aku yakin suatu saat nanti kau akan menyambut genggaman tanganku" ujar Kai penuh keyakinan "Dan jika hari itu datang, aku bersumpah tak akan melepaskanmu"
Luhan merasa hangat dengan kalimat yang diucapkan Kai, namun dia kembali ke kenyataan kalau dirinya hanya untuk Sehun…Sehun…dan Sehun.
"Kenapa kau sangat baik padaku Kai?" tanya Luhan
"Jawabannya karena aku mencintaimu" balas Kai yakin
"Cintailah orang lain Kai, aku bukan untukmu." Luhan memeluk erat Kai dan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Kai yang sedang menggendongnya piggy back
"Aku akan mencintai orang lain setelah kau mendapatkan cintamu" gumam Kai memberitahu Luhan
"Kalau begitu apa kau akan bersamaku saat aku membutuhkanmu?" tanya Luhan berharap
"Tentu saja" balas Kai tanpa ragu.
Luhan meletakkan dagunya di bahu Kai dan tesenyum bahagia "Gomawo Kai" ujarnya yang sudah merasa lebih baik.
"Bahagialah Lu, aku mohon" pinta Kai terdengar putus asa. Luhan pun hanya tersenyum mendengarnya karena untuknya kebahagiaan hanya seutas mimpi konyol yang tak mungkin ia dapatkan "Ya aku akan bahagia. Kau, Sehun dan Kyungsoo adalah kebahagiaanku" gumam Luhan tersenyum
Dan setelahnya hanya keheningan yang menyelimuti keduanya. Kai tak mau mengganggu Luhan dengan pertanyaannya lagi, dia hanya ingin membuat pria yang ia cintai ini merasa nyaman untuk saat ini.
..
..
..
"Apa kau yakin tak ingin menginap di tempatku malam ini?" tanya Kai mengelus sayang wajah Luhan
"Umm tidak perlu Kai. Rumahku sudah sepi, sepertinya mereka telah selesai berpesta" balas Luhan sedikit membuang nafasnya
"Masuklah. Aku akan berada disini sampai kau benar-benar masuk" Kai mengusak rambut Luhan, dia tahu meminta Luhan untuk tinggal adalah sesuatu yang sangat susah bahkan mustahil terjadi
"Baiklah.. Dah Kai" Luhan melambai ke arah Kai, namun lagi-lagi Kai menahannya
Grep!
Kai kembali membawa Luhan ke pelukannya "K-kai nanti Sehun lihat" Luhan ketakutan karena Sehun akan melakukan hal buruk pada Kai jika melihatnya dengan Kai begitu dekat
"Hanya sebentar Lu, sekarang masuklah" kekeh Kai mencubit gemas pipi Luhan
"Dah Lu" sapanya menatap Luhan yang memasuki rumahnya
"Dah Kai" balas Luhan dan dengan tergesa memasuki rumahnya.
Cklek!
Luhan menghela nafas lega mengetahui rumahnya sudah sepi walau masih sangat berantakan karena sepertinya belum dibersihkan. Dia benar-benar tak membuat suara menuju ke gudang tempatnya tidur. Dirinya terus melangkah ke arah gudang melewati ruang kerja Sehun yang terbuka namun lankahnya terhenti saat telinganya mendengar sesuatu yang terdengar seperti desahan.
"Sehunna…aah~"
Luhan membeku mendengar seorang wanita mendesahkan nama Sehun, dia perlahan menoleh dan seluruh tubuhnya melemas melihat suaminya sedang bercumbu dengan wanita yang ia ketahu bernama Park Sunhyee, sekertaris Sehun dikantornya dan wanita yang sama yang baru beberapa jam lalu memaki Luhan.
"Ah deeper Sehunna~"
Erangan nista itu semakin menggema ke penjuru ruangan, pemandangan itu terlihat semakin jelas tatkala Sehun menggerakan tubuhnya bercinta dengan wanita tersebut
Brak!
Luhan tak sengaja menjatuhkan dokumen Sehun, membuat kedua insan yang sedang bercinta itu menoleh padanya. Alih-alih menghentikan kegiatan panas mereka, Sehun menyeringai sambil memejamkan matanya seolah memberitahu Luhan kalau dia lebih menikmati tubuh wanita itu daripada dirinya
Hati Luhan memanas, ingin rasanya ia menampar Sehun yang sangat tega padanya. Dia rela dipukuli tapi dia sangat tak rela melihat dirinya yang sangat ia cintai jelas-jelas bercinta dengan wanita lain dihadapannya. Air matanya terus berjatuhan di pipinya tak tahan melihat betapa kejamnya Sehun terhadap dirinya, seketika dirinya merasa sesak dan memutuskan untuk berlari yang jauh entah kemana.
Luhan kembali berlari keluar rumah dan dilihatnya Kai yang hendak memasuki mobilnya bersiap pergi. Luhan dengan cepat berlari menghampiri Kai dan
Grep
Dia memeluk erat Kai dari belakang. Kai yang merasa terkejut membelalakan matanya "Kai..tolong aku" jerit Luhan semakin memeluk erat Kai yang merasa hatinya hancur kembali mendengar tangisan Luhan
"Lu, sayang. Ada apa?" tanya Kai khawatir melihat Luhan sangat terpukul. Dia biasa melihat Luhan menangis, tapi kali ini tangisannya penuh kepedihan dan terasa sangat menyakitkan untuk dilihat bahkan didengar.
"Sehun bercinta dengan wanita lain..Kai aku tak kuat" isak Luhan terduduk memeluk erat kaki Kai, dia tak punya kekuatan lagi untuk berdiri bahkan untuk bicara
Kai memejamkan matanya mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Luhan. Dia secara otomatis mengepalkan tangannya tak menyangka kalau Sehun bisa menjadi binatang seperti itu. "Aku rela dia membunuhku, tapi aku tak sanggup melihatnya bersama orang lain Kai. Aku tak kuat" Luhan semakin menjadi memeluk erat kaki Kai
Kai berjongkok didepan Luhan dan memaksa Luhan menatapnya, kemudian ia memegang tengkuk Luhan dan
Chu~
Tanpa seizin Luhan, Kai mencium bibir Luhan, berusaha menenangkan Luhan yang terus menggumamkan kalimat yang begitu memilukan.
Kai merasakan betapa lembut bibir Luhan, dia melumatnya lembut mengabaikan pukulan Luhan untuk didadanya meminta dilepaskan, dia tak peduli. Dia hanya ingin Luhan berhenti menangis, sampai akhirnya Luhan berhenti memukul di dadanya namun tetap tak membalas ciuman Kai.
..
..
..
"LUHAN!"
Keesokan paginya di kediaman rumah Sehun, kembali terdengar teriakan Sehun yang begitu marah karena Luhan belum menunjukkan wajahnya pagi ini.
Ya, seusai melihat adegan panas Sehun dengan wanita yang memaki Luhan, Luhan berlari ke arah Kai yang bersedia membawanya pergi kapan saja. Dan untuk kemarin malam Luhan untuk pertama kalinya bersedia pergi dari rumahnya dan ikut Kai ke apartemennya
"Luhan tidak ada di gudang tuan muda" pelayan rumah Sehun memberitahu Sehun yang tampak gusar dengan berita Luhan tak ada dirumah.
"CARI DIA!" teriaknya seakan bisa membunuh semua orang dirumah itu.
Beberapa menit mencari, Sehun mendapat laporan kalau Luhan tak ditemukan, tangannya mengepal kuat begitu marah. Dia memukul pelayannya karena merasa tak becus hanya untuk mengawasi Luhan "Sialan. Awas jika aku menemukanmu jalang" geram Sehun mengepalkan tangannya
Saat sedang sangat emosi, Sehun melihat Kyungsoo yang sedang membersihkan dapur. Dia kemudian menghampiri Kyungsoo yang sangat ia tahu dekat dengan Luhan
"Dimana Luhan?" suara dinginnya menginterupsi kegiatan Kyungsoo, namun Kyungsoo mengabaikannya
"Aku tanya dimana Luhan?" geram Sehun karena diabaikan Kyungsoo yang masih belum menjawabnya
"Sialan! Aku tanya dimana LUHAN?" teriaknya mencengkram kerah Kyungsoo yang masih tak bergeming didepannya
"Bagaimana kalau aku bilang Luhan sudah mati? KAU PUAS?" Kyungsoo berteriak balik membuat Sehun hampir memukul wajah Kyungsoo yang sangat berani padanya
"Kenapa berhenti? Pukul aku Sehunna, Pukul!" tantang Kyungsoo membuat Sehun mengepalkan erat tangannya.
"KENAPA KAU TAK MEMUKULKU? APA KARENA AKU TEMANMU? LALU APA KAU SADAR SELAMA INI KAU MEMUKULI ISTRIMU?" teriak Kyungsoo membuat Sehun semakin tersulut emosinya
"Kau!" geram Sehun dan mendorong keras Kyungsoo hingga Kyungsoo terjatuh ke lantai "Sialan! Percuma kau menyembunyikan Luhan, aku akan semakin membuatnya menderita" geram Sehun membuat Kyungsoo membelalak tak percaya dengan ucapan temannya yang dulu sangat mencintai Luhan
Brak!
Terdengar pintu rumah yang didobrak kencang oleh Sehun, dia sepertinya sangat marah dan tahu kemana Luhan pergi.
..
..
..
Ting Tong!
Ting Tong!
Ting Tong!
Terdengar suara bel apartemen Kai yang ditekan kasar oleh Sehun yang tampak sangat marah dan sudah tak sabar
"KAI BUKA PINTU!" teriak Sehun "BUKA PINTU ATAU AKU.."
Cklek!
"Atau apa?" tantang Kai yang tampangnya juga tak terlihat baik,
"Minggir kau!"
Sehun menerobos masuk kedalam apartemen Kai
"LUHAN!" teriaknya sangat emosi
"Kau pikir kau dimana brengsek. Jangan berteriak di tempatku" geram Kai mencengkram erat kerah Sehun
"Dimana Luhan?" desis Sehun
"Dia akan tinggal denganku mulai saat ini" balas Kai tak kalah mendesis
"Cih! Kau pikir aku akan tinggal diam?" teriak Sehun yang juga mencengkram erat kerah Kai
"MINGGIR!" katanya mendorong keras Kai membuat Kai sedikit terhuyung
Sehun kemudian masuk tak sopan kekamar Kai dan mendapati Luhan terbaring lemas dengan kompresan didahinya. Awalnya dia mengernyit tak menyangka kalau Luhan ternyata bisa sakit juga, tapi kemudian menyadari istrinya berada dikamar pria lain, membuatnya memiliki alasan untuk memberi pelajaran pada istrinya.
Sret!
"BANGUN KAU!" teriak Sehun menarik paksa tangan Luhan yang tampak terkejut karena dibangunkan secara kasar.
"Se-Sehun?" ujar Luhan ketakutan melihat kehadiran Sehun
"Kita pergi!" Sehun menarik kasar tangan Luhan yang masih terhuyung, namun saat membalikan badannya
BUGH!
Kai memukul telak wajah Sehun membuat Sehun tersungkur dilantai
"KAI Hentikan!" pekik Luhan tak menyangak sepagi ini Sehun dan Kai sudah bertengkar karena dirinya
"Kurang ajar" geram Sehun yang hendak memukul Kai namun Luhan berdiri didepannya
"Ayo kita pulang Sehunna, ayo kita pulang. Jangan memukul Kai aku mohon" Luhan memeluk erat Sehun berharap Sehun mendegarkannya
"Kau bahkan membelanya didepanku" geram Sehun tak terima
BUGH!
Dia mengabaikan Luhan dan kini sedang memukuli Kai yang juga berusaha memukulnya, setelah puas memukuli Kai yang sudah tersungkur, Sehun kembali berjalan ke arah Luhan dan menarik kasar tangannya "Kau harus diberi pelajaran" gumamnya menakutkan membuat Luhan menatapnya takut.
..
..
..
BRAK!
Sehun mendorong kasar tubuh Luhan ke lantai. Tidak-.. dia tidak membawa Luhan kerumahnya, karena sudah tak sabar memukuli Luhan. Sehun menyewa hotel terdekat dan membawa paksa Luhan kesana.
"Sehunna ampun, jangan pukuli aku." Luhan merangkak memeluk kaki Sehun yang sudah siap memukulinya
"Brengsek sialan! Berani sekali kau tidur ditempat Kai" geram Sehun dan
BUGH!
Dia menendang perut Luhan keras membuat Luhan terpental "Argh" erang Luhan dan langsung memegangi perutnya yang ditendang Sehun
"Manusia sialan tidak tahu diri! Kau ingat tentang perkataanku yang akan membunuh Kai jika kau berani padaku kan?" teriaknya mengingatkan Luhan yang langsung mengangguk cepat sambil menahan rasa sakitnya
"Bagus kalau kau ingat! Kalau begitu lulu sayang harus diberi pelajaran" geram Sehun melepas ikat pinggangnya. Luhan membelalak saat Sehun melepas ikat pinggangnya, karena itu artinya dia harus kembali merasakan perih di kulitnya lagi
CTAR!
"Argh" pekik Luhan saat Sehun memukul punggung Luhan menggunakan ujung besi dari ikat pinggangnya
"Kau benar-benar pembangkang sialan!" teria Sehun semakin menjadi
CTAR!
Dan hampir setengah jam Sehun terus memukuli tubuh dan wajah Luhan menggunakan ujung besi ikat pinggangnya
"Ampun Sehunna, sakit. Ampun" isak Luhan yang sudah terkapar tak berdaya
"Apa sakit?" tanya Sehun dengan kejamnya
"Sakit Sehunna. Aku sakit" isak Luhan menangis dan dalam sekejap merasakan anyir karena bibirnya berdarah.
"Baiklah, karena aku baik, aku akan menendangmu saja"
Luhan membelalak mendengar ucapan Sehun, dia langsung memegangi perutnya dan berusaha merangkak ke arah Sehun
"Pukuli aku dengan ikat pinggang saja. Jangan tendang perutku Sehunna. Jangan" pinta Luhan ketakutan namun ternyata emosi Sehun semakin menjadi
"Berani sekali kau mengaturku"
BUGH!
Sehun tanpa belas kasih menendangi Luhan yang masih terus memegangi perutnya
BUGH!
"argh.. hentikan Sehunna, aku mohon hentikan" pinta Luhan yang mulai merasa sesak dan sakit bersamaan
Sehun tak mempedulikan rontaan Luhan dan terus menendangi Luhan dengan kejinya,
Drrtt drrtt
Drrtt drrtt
Ponsel Sehun bergetar membuatnya mendengus kesal karena merasa diganggu, dengan kesal Sehun mengangkatnya dan menjawab mengerti di ponselnya dan tak lama menutup ponselnya
"Hah~ kau beruntung sekali lulu sayang. Aku ada rapat penting, kita teruskan dirumah saja hmm.. Tunggu aku pulang ya" ujar Sehun dengan kejamnya menjambak rambut Luhan yang wajahnya sudah memar dan penuh darah.
"Cuci mukamu sebelum keluar dari hotel ini. aku tidak ingin dikatakan sebagai monster gila oleh pegawai hotel dan ini… Ambil untuk naik taksi, awas kalau aku tak menemukanmu dirumah" ancam Sehun melemparkan beberapa lembar won ke wajah Luhan yang sedang terisak dalam diam
"Aku pergi dulu ya, dah" katanya mencium paksa Luhan dan melangkah pergi meninggalkan Luhan yang kini menangis tersedu.
"Sakit" isak Luhan memegangi perutnya namun beberapa detik kemudian dia bergumam
"Kau akan baik-baik saja. Kau akan baik-baik saja."
Gumam Luhan bukan untuk menyemangati dirinya, Luhan mengelus sayang perutnya sambil terus berbicara menatap ke perutnya.
Ya, alasan Luhan memegangi perutnya saat Sehun memukulinya adalah karena ada nyawa lain yang hidup dan sedang tumbuh didalam dirinya. Sehun tidak tahu kalau dia sedang memukuli Luhan yang sedang hamil. Sehun tidak tahu kalau dia sedang menendang dan mungkin menyakiti anaknya yang sedang tumbuh secara perlahan didalam perut Luhan.
tobecontinued..
heyyy... klarifikasi yya! jangan bilang Sehun kaya psikopat.. karena dia bukan psikopat. dia cuma belom di tampar aja makanya belum sadar...:)
.
warning aja yang ga kuat bacanya, jangan sumpah serapahin si cadel ya... kesian :".. tapi dia emang kebangetan sih :|
.
well, happy reading and review :*
