"Everything i've loved...Became everything i lost."


Last Hope

Main Cast : Xi Luhan & Oh Sehun

Genre : Romance, Family, Hurt

Rate : T-M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s). M-preg.

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

.

.


Flashback…

Sebulan yang lalu, Luhan sengaja bekerja paruh waktu di kafe tempat Kyungsoo bekerja karena dia ingin membeli hadiah untuk ulang tahu pernikahan dirinya dan Sehun yang sudah berjalan selama lima tahun. Walau selama lima tahun itupula Luhan tak pernah merasakan kebahagiaan sebagai pasangan suami istri tak membuatnya melupakan betapa bersyukurnya ia masih bisa mendampingi Sehun hingga hari ini. Hal itupula yang membuatnya tambah bersemangat untuk membelikan sesuatu untuk hari jadi pernikahan mereka yang kelima.

"Lu, aku harus pergi kerumahku sebentar, ibuku sakit. Kau jangan pulang terlalu malam mengerti kan?" Kyungsoo memastikan Luhan untuk pulang tepat waktu agar Sehun tak mempunyai alasan untuk memukulnya.

"Ibumu sakit apa?" Tanya Luhan mengkhawtirkan ibu Kyungsoo yang sama baiknya seperti Kyungsoo padanya, tapi karena ibu Kyungsoo sakit-sakitan membuatnya harus pensiun bekerja di rumah Sehun dan posisinya digantikan Kyungsoo

"Hanya demam biasa lulu sayang. Kau jangan terlambat pulang mengerti kan? Ingat kalau kau sedang sakit." Kyungsoo mengingatkan Luhan yang sedari tadi mengeluh mual dan pusing.

"Iya eomma." Balas Luhan membuat Kyungsoo mau tak mau tertawa.

"Aku pergi ya, jangan membuatku khawatir." Katanya kembali mengingatkan Luhan yang hanya dibalas cengiran lebar oleh pemilik mata rusa itu.

Tak lama setelah kepergian Kyungsoo, Luhan kembali merasakan mualnya lagi, hal itu membuatnya harus bolak-balik ke toilet dan memuntahkan semua isi perutnya yang jelas-jelas belum terisi makanan sejak pagi.

"Luhan, kau terlihat pucat. Apa kau sakit ?" Tanya Suho yang merupakan manager sekaligus kakak kelas Luhan dan Kyungsoo sewaktu SMA dulu di kafe tempat Luhan bekerja paruh waktu ini

"Entahlah hyung, aku hanya mual setiap kali mencium bau jeruk dan melihat pasta yang sudah diaduk."

Jawaban Luhan sontak membuat Suho mengernyit menaikkan alisnya. "Sudah berapa lama kau merasa mual?" tanyanya membuat Luhan menatap ke arah Suho

"Umm.. sudah seminggu ini." Balas Luhan mengingat-ingta

"Whoaa.. kalau begitu apa aku harus memelukmu dan mengucapkan selamat padamu?" Tanya Suho yang kini menghampiri Luhan dengan bersemangat

"Selamat untuk apa?" kali ini Luhan yang bertanya bingung.

"Aku berani bertaruh kalau kau sedang hamil Lu." Katanya berbinar memberitahu Luhan

"Apaa?"

Bukan-.. Bukan Luhan yang menjawab, melainkan pria tinggi berkulit tan yang sepertinya baru sampai di kafe tempat Luhan bekerja

"Kai?" gumam Luhan yang masih mencerna ucapan Suho, namun sedetik kemudian dia memegangiperutnya dan merasakan hangat yang luar biasa jika benar ada anaknya dan Sehun sedang tumbuh didalam sana.

"Kenapa kau bisa bilang dia hamil?" Tanya Kai tak terima

"Karena Luhan merasa mual dan memuntahkan makanannya. Lay sedang hamil, jadi aku tahu siklusnya. Mereka pria-pria istimewa aku tebak." Katanya masih berbinar memberitahu Kai yang tampak memucat.

"Kau gila." Gumam Kai mencibir Suho

"Kita kerumah sakit Lu. Aku harus memastikan kau tak sedang mengandung anak dari monster." Geram Kai mencengkram erat pergelangan tangan Luhan, membuat Luhan hanya bisa diam dan mengikuti kemana Kai membawanya.

..

..

..

"Bagaimana hasilnya? Dia tidak hamil kan?" Kai bertanya pada Kyuhyun yang sudah meminta tolong pada dokter kandungan untuk memeriksa Luhan.

"Sayangnya Luhan hamil." Katanya memberitahu Luhan dan Kai. Kyuhyun sendiri juga merasa kehamilan Luhan adalah sebuah kesalahan mengingat betapa Sehun membenci Luhan.

"Kau hamil dan sudah masuk minggu keempat Lu." Kyuhyun memberitahu Luhan dan menatapnya mencari tahu ekpresi seperti apa yang akan diberikan Luhan.

"Jadi ada anakku yang sedang tumbuh didalam sini?" Tanya Luhan mengelus sayang perutnya seolah mengajak calon anaknya berbicara

"Ya. Kau sedang mengandung Lu." Gumam Kyuhyun yang tak menyangka kalau Luhan akan menyukai kabar yang sama sekali tak baik.

"Astaga aku bahagia sekali." Luhan menghapus cepat air matanya kemudian terus-menerus mengelus sayang perutnya.

"Kau harus menggugurkannya Lu."

Kai mengucapkan kalimat yang membuat Luhan menghentikan gerakan di perutnya dan menatap tak percaya pada Kai yang mengatakan kalimat jahat seperti itu.

"K-kau bicara apa?" Tanya Luhan bangun dari tempat duduknya dan menjauhi Kai yang kini menatap tajam ke arah Kai

"Kau pikir Sehun akan menyukai kehamilanmu? Tidak Lu, dia akan semakin menggila menyakitimu dan bayimu. Dia itu iblis, dia hanya menyukai rintihan kesakitanmu bukan kebahagiaanmu." Geram Kai memberitahu Luhan

Luhan merasa tertohok dengan ucapan Kai, dia belum memikirkan bagaimana reaksi Sehun, dia pikir dengan kehamilannya Sehun akan sediklit lebih baik padanya. Namun saat mendengar penuturan Kai, Luhan membenarkan semua yang dikatakan Kai. Sehun mungkin saja akan menyiksanya lebih kejam dari sebelumnya jika tahu dia hamil. Tapi Luhan ingin egois kali ini, dia ingin merasakan bahagia dengan bayinya, kenapa semua terasa sulit.

"Aku tidak akan memberitahu Sehun, aku akan menyembunyikan kehamilanku." Katanya bergetar menahan rasa sakit didadanya, karena seharusnya kehamilan adalah berita yang membahagiakan untuk sepasang suami istri, tapi berita kehamilannya seperti bencana untuk hidupnya.

"Kau harus menggugurkannya." Desis Kai yang merasa tak tega dengan apa yang terjadi pada Luhan jika ia mempertahankan bayinya.

"Tidak!" balas Luhan tak kalah mendesis

"Lu, kehamilanmu berbahaya un.."

"CUKUP KAI! AKU MERASA DENGAN BAYI INI AKU MEMILIKI ALASAN UNTUK BERTAHAN HIDUP. APA AKU TAK BOLEH HIDUP BAHAGIA?" jerit Luhan terduduk di pojok ruang kerja Kyuhyun

"Hey… hey.. baiklah. Baiklah kau boleh mengandung anakmu. Kau tak perlu menggugurkannya. Aku janji akan membantumu menjaga bayimu. Maafkan aku Lu, maaf sayang." Gumam Kai membawa Luhan ke pelukannya dan memeluk erat pria yang sangat ia cintai ini.

"Jangan menyurhku membunuh anakku sendiri Kai.:" isak Luhan mencengkram erat punggung belakang Kai yang sedang memeluknya.

"Iya sayang, tidak lagi. Aku janji." Balas Kai menciumi pucuk kepala Luhan yang bergetar hebat.

Dan mulai saat itu, Luhan benar-benar menyembunyikan kehamilannya dari Sehun dengan sangat baik tanpa menimbulkan kecurigaan sedikitpun pada suaminya. Kyungsoo, Kai dan Kyuhyun adalah orang-orang yang mengetahui kehamilan Luhan dan membantu Luhan sewaktu-waktu Luhan merasakan mual atau sakit kepala berlebih.

Sampai malam mengerikan itu tiba, malam dimana Sehun mabuk dan mendorong Luhan dari tangga yang menyebabkan ia harus dirawat dirumah sakit, malam dimana Luhan dinyatakan mengidap radang selaput otak dan malam dimana semuanya menjadi terasa lebih sulit sejak hari itu karena Luhan akan terus-menerus merasakan kepalanya berdenyut hebat disertai muntah dan kadang darah yang keluar dari hidungnya jika tubuhnya mengalami deman.

"Lu, kau baik-baik saja kan?" terdengar suara isakan yang bertanya padanya saat Luhan baru sadar dari pingsannya "Kyungie" lirihnya memegangi kepalanya karena baru menjalani MRI setengah jam yang lalu.

"Bagaimana hasilnya? Apa aku baik-baik saja?" Tanya Luhan cemas karena masih merasakan kepalanya berdenyut dan mual secara terus-menerus.

"Kecurigaan Kyuhyun benar Lu, kau mengalami radang selaput otak. Luhan kenapa nasibmu begitu buruk." Kyungsoo terisak memeluk Luhan erat, tak kuat mendengar keadaan Luhan yang selalu kesakitan.

"Bayiku bagaimana? Dia sehat kan?" Luhan mengabaikan kesehatan dirinya dan bertanya mengenai kondisi bayinya.

"Bayimu sehat Lu, kondisimu tak mempengaruhi si bayi. Kecuali guncangan-guncangan yang kau rasakan secara berlebihan. Bisa terjadi sesuatu yang buruk jika bayimu terus menerus merasakan guncangan." Kyuhyun yang sama pucatnya memberitahu Luhan yang terlihat sangat pucat.

"Aku akan berusaha membuat Sehun berhenti menendang perutku. Aku janji." Gumamnya bergetar mengelus bayinya yang ternyata juga merasakan sakit sama sepertinya.

"Maafkan eomma nak." Gumam Luhan tercekat menangisi keadaannya yang begitu mengenaskan.

"Bajingan itu sudah keterlaluan." Kini Kai yang terlihat sangat marah dan tak habis pikir dengan kelakuan Sehun yang begitu kejam dan menakutkan.

"Kai.." Luhan memanggilnya, meminta Kai untuk menyambut genggaman tangannya "Ada apa Lu?" Tanya Kai menggenggam tangan Luhan didepan Kyungsoo yang hanya bisa menatapnya kosong.

"Jika sesuatu yang buruk terjadi padaku. Berjanjilah untuk menjaga anakku. Kau dan Kyungsoo-.. Kalian harus menjadi orang tua untuk anakku. Mau kan?" pinta Luhan yang merasa sewaktu-waktu bisa mati kapan saja.

"Bicara apa kau? Kenapa aku harus merawat anak monster itu?" hardik Kai membuat Luhan tersentak takut.

"Dia anakku juga Kai, dia bukan anak monster." Katanya terisak memberitahu Kai yang kembali menyesal membentak Luhan yang begitu rapuh.

"Kyung, kau mau kan menjaga anakku?" pinta Luhan memegang tangan Kyungsoo. Kyungsoo yang masih terisak hanya bisa mengangguk lemah menuruti keinginan Luhan. "Gomawo Kyungie." Katanya tersenyum pada Kyungsoo

"Kai kau mau kan?" kini dia kembali bertanya pada Kai, berharap Kai mau menjaga anaknya

"Baiklah. Aku mau." Katanya dengan nada dingin, membuat Luhan tersenyum dan mengambil tangan Kai kemudian menyatukan dengan tangan Kyungsoo "Kalian terlihat cocok bersama. Terimakasih banyak sudah menyanyangiku dan bayiku." Ujarnya menatatap Kai dan Kyungsoo bersamaan.

"Aku juga berterimakasih padamu Kyu, kau juga harus menjaga anakku. Kau mau kan?" tanyanya pada Kyuhyun yang hanya menatap Luhan penuh rasa iba sedari tadi.

"Selama dia tidak memiliki sifat ayahnya. Aku akan menjaganya untukmu." Balas Kyuhyun mengusak sayang rambut Luhan.

"Gomawo Kyu, Gomawo Kai, Gomawo Kyungie." Lirih Luhan yang tak lama tertidur karena memang masih merasa sangat lelah dan kesakitan di bagian kepalanya.

Sementara ketiga temannya yang lain hanya menatap sesak pada sosok mungil mereka yang begitu kuat. Sesering apapun mereka meminta Luhan untuk meninggalkan Sehun, Luhan hanya akan tetap bertahan disamping Sehun tak mau meninggalkan suaminya karena rasa cinta dan rasa bersalah yang sama besar. Ketiganya pun berjanji untuk membantu Luhan tanpa harus berdebat dengannya terlebih dulu.

End of flashback…

..

..

..

Luhan sudah berada dirumahnya setelah insiden pemukulan dirinya di hotel oleh Sehun. Dia mengikuti seluruh instruksi Sehun untuk mencuci mukanya terlebih dulu sebelum pergi agar tak menimbulkan kecurigaan yang menarik perhatian pegawai hotel disana, dengan susah payah Luhan keluar dari hotel dan memeriksakan keadaan kandungannya ke klinik yang terletak tak jauh dari hotel dan sangat bersyukur mengetahui bayinya sehat dan baik-bai saja. Setelahnya dia pulang menggunakan taksi sambil mengelus sayang perutnya, meminta maaf pada calon anaknya karena tak dapat melindungi dirinya dari kemarahan Sehun. "Kau harus kuat nak, appa dan eomma menyayangimu." Gumam Luhan secara terus menerus memberitahu anaknya kalau dia akan baik-baik saja.

Tak lama kemudian Luhan sampai di rumahnya dan mengernyit takut melihat mobil Sehun terparkir di garasi mobil. Dengan perlahan dia memasuki rumahnya dan harus berhadapan dengan Sehun yang terlihat kesal dengan beberapa dokumen di tangannya.

Luhan memutuskan untuk tak mengganggu Sehun dan tetap berjalan ke gudang untuk beristirahat sampai langkah kakinya terdengar oleh Sehun yang melihat kedatangan Luhan

"Kenapa baru pulang?" tanyanya tak suka melihat Luhan yang berjalan tak bersuara. Luhan berhenti dan menghadap Sehun tapi tak berani menatapnya "Aku mampir ke toko obat sebentar tadi." Balasnya bergetar takut Sehun memukulnya lagi.

"Lihat aku saat bicara." Desisnya memaksa Luhan menatapnya.

Luhan menoleh takut-takut dan seketika pandangannya terkunci dengan pandangan Sehun "Buka masker wajahmu." Titah Sehun dan Luhan langsung membuka masker yang ia gunakan untuk menyembunyikan wajahnya yang memar. Sehun sedikit tercengang melihat apa yang dia lakukan pada wajah Luhan, dia menatap Luhan menelusuri setiap wajah Luhan yang tak luput dari luka dan memar.

Untuk beberapa detik, Luhan melihat sorot mata Sehun sama seperti saat mereka masih berusia sepuluh tahun, sorot mata menyesal karena mengatakan Luhan misikin dan sorot mata melindungi Luhan saat mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Luhan menghangat melihat tatapan Sehun sampai tatapannya kembali berubah penuh kebencian pada Luhan.

"Bersihkan lukamu dan beristirahatlah." Ujar Sehun yang kembali fokus pada dokumennya

"Ya Sehun, terimakasih." Balas Luhan terburu-buru pergi meninggalkan Sehun sebelum Sehun berubah pikiran. Sehun kembali menatap sosok Luhan dan sedikit mendesis mengetahui Luhan sangat takut padanya.

Luhan masuk kedalam kamarnya sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang karena takut dipukuli Sehun lagi, namun sedetik kemudian dia tersenyum lega mengingat untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun Sehun berbicara tanpa menghina atau membentaknya lagi. Dia bersumpah dia tidak akan melupakan hari yang membahagiakan untuk hatinya ini "Appa menyayangi kita nak." Gumam Luhan memberitahu calon anaknya sambil tersenyum senang.

Dan sikap tak wajar Sehun terulang di hari berikutnya, sudah seminggu ini Sehun bersikap lebih baik dengan tak membentak atau memukuli Luhan walau Luhan membuat kesalahan seperti hari ini misalnya Luhan tak sengaja bangun kesiangan karena merasa sangat lelah. Saat melihat waktu menunjukkan pukul Sembilan dia membelalak takut dan segera beranjak keluar kamarnya untuk menemui Sehun yang sudah pasti akan marah. Namun tebakannya meleset karena Sehun sama sekali tak membentaknya, walaupun cara bicara Sehun masih dingin dan penuk kemarahan namun dia sama sekali tak melakukan sesuatu yang menyakiti Luhan, hal itupun membuat Luhan mengernyit bingung namun sedikit lega karena Sehun benar-benar tak membentak atau memukulnya.

Sehun memang menunjukkan muka gusarnya karena sepertinya dia sedang mengalami masalah di perusahaannya, tapi yang membuat Luhan takjub adalah Sehun sama sekali tak melampiaskan kemarahannya padanya, hal itu mau tak mau membuat Luhan sedikit berharap kalau Sehun sudah mulai memaafkannya.

"Aku rasa Sehun sudah mulai berubah Kyung, dia tidak memukuliku lagi." Luhan bercerita dengan wajah berbinar pada Kyungsoo yang sedang menyuapinya sarapan

"Aku juga melihat perubahannya, dia bahkan tak membentakmu lagi." Balas Kyungsoo yang cukup takjub dengan perubahan Sehun yang bisa dibilang mendadak ini.

"Benarkan? Ah.. Aku senang sekali." Gumam Luhan tersenyum sangat manis membuat Kyungsoo tertawa senang melihat Luhannya sangat bahagia.

"Luhan.." sebuah suara dingin menginterupsi percakapan Luhan dan Kyungsoo

Luhan yang walaupun tahu Sehun tak lagi memukulnya, tetap saja selalu merasa was-was setiap kali suara dingin itu memanggilnya "Ya Sehun.. Ada apa?" Tanya Luhan menghampiri Sehun tapi tak berani menatapnya.

"Jangan membuatku kesal." Sehun memperingatkan Luhan dan Luhan langsung menatap wajah Sehun tak mau membuat suaminya marah.

"Ambil ini, beli semua yang kau butuhkan. Belilah pakaian yang layak dan beberapa obat untuk wajahmu."

Sehun menyerahkan beberapa lembar won pada Luhan, sekali lagi. Luhan tampak takjub dengan kenyataan bahwa Sehun tak lagi melempar uang padanya. Dia memberikannya dengan lembut dan meminta Luhan untuk membeli keperluannya.

"Cepat ambil." Desak Sehun dan Luhan dengan segera mengambil uangnya "Terimakasih Sehun." Katanya sedikit menundukkan kepalanya.

"Belilah pakaian yang baru. Aku perhatikan semua pakaianmu kekecilan, sepertinya kau agak gemuk." Racau Sehun meninggalkan Luhan dan Kyungsoo yang berdebar takut kalau Sehun mengetahui perubahan tubuh Luhan yang sedang mengandung.

"Kyungie, aku rasa aku harus memberitahu Sehun." Luhan kembali berlonjak senang mengetahui Sehun memperhatikannya.

"Tidak.. Tidak boleh. Jangan sekarang. Kita belum tahu kenapa dia berubah sikap seperti itu." Kyungsoo dengan tegas melarang Luhan untuk memberitahu Sehun.

"Umm Baiklah.. nanti saja. Kalau begitu temani aku belanja yaaaa." Pinta Luhan sangat senang karena untuk pertama kalinya dia menerima uang tanpa dilempar ke wajahnya.

"Maaf lulu sayang. Aku harus bekerja. Bagaimana kalau besok?" tawar Kyungsooo yang dibalas gelengan cepat oleh Luhan

"Ani, Sehun bisa marah kalau aku belum membelanjakan uangnya. Aku akan membeli keperluanku dan baju untuk bayiku." Gumamnya senang memberitahu Kyungsoo

"Lu, usia kandunganmu bahkan belum masuk bulan ketiga. Lagipula aku dan Kai.. kami akan membelikan perlengkapan untuk bayimu. Tak perlu dibeli sekarang." Kyungsoo menasihati Luhan yang kembali menggeleng cepat

"Aku akan tetap membelinya. Dah Kyungie." Luhan melenggang pergi dan meninggalkan Kyungsoo yang hanya bisa maklum dengan kebahagiaan Luhan seminggu ini.

..

..

..

Luhan sudah selesai membeli perlengkapan untuk dirinya, dia sengaja memilih baju yang murah namun layakpakai untuk dirinya agar bisa membeli sepatu dan baju bayi untuk anaknya. Dia sudah membeli beberapa pasang sepatu berwarna biru dan merah dan beberapa potong pakaian dengan warna yang sama. Namun seakan belum puas, Luhan berpindah dari satu toko ke toko yang lainnya sampai

"Luhan?" panggil sebuah suara dan saat Luhan menoleh dia mendapati Chanyeol, pria yang dia ketahui adalah penasihat di kantor Sehun sekaligus Manager perencanaan kepercayaan Sehun menyapanya.

"Ah-.. Chanyeol-ssi" sapa Luhan sedikit membungkukan badannya.

"Tak perlu bersikap formal padaku. Kebetulan sekali aku bertemu denganmu disini." Ujar Chanyeol yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.

"Ada apa? Memangnya kau ingin bicara padaku?" Tanya Luhan mengernyit bingung

"Ya, tapi Sehun melarangnya. Kami benar-benar membutuhkan pernyataan langsung darimu Lu." Katanya memberitahu Luhan yang sedikit panik sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya.

"Ada apa?" Tanya Luhan sedikit khawatir.

"Apa kita bisa bicara sebentar?" Tanya Chanyeol penuh harap

"Tentu."

..

..

..

Selang beberapa menit kemudian, Chanyeol membawa Luhan ke kafe yang berada tak jauh dari tempat Luhan memilih baju bayi, keduanya kini sedang memesan minuman sampai akhirnya Luhan kembali bertanya pada Chanyeol.

"Sekarang bisa kau beritahu aku ada apa dengan Sehun?" Tanya Luhan tak sabaran.

"Umm.. sebenarnya Sehun melarangku untuk menemuimu. Tapi beruntung sekali kita bertemu disini." Katanya tersenyum pada Luhan.

"Ada apa dengan Sehun?" Tanya Luhan tak mengerti

"Kerjasama perusahaan kami dengan klien dari Jepang dan Cina terancam gagal. Jika benar gagal, Sehun akan kehilangan usaha yang sudah dibangun ayahnya dari nol. Dia sedang mencari segala cara untuk membereskan masalahnya tanpa melibatkanmu. Tapi aku rasa hanya kau yang bisa membantu kami." Katanya memberitahu Luhan

"Aku? Kenapa aku?" Luhan bertanya dengan bingung.

"Karena kau istrinya." Balas Chanyeol

"Lalu kenapa?" Tanya Luhan semakin tak mengerti

"Tersebar rumor kalau Sehun memperlakukanmu layaknya hewan, dia sering memukulimu dan sering menyiksamu sebagai pelampiasan kematian kedua orang tuanya. Ditambah fotonya yang sedang bercumbu dengan sekertaris kami di rumah kalian tersebar luas. Hal itu membuat klien dan pemegang saham yang sudah lama bekerja dengan tuan dan nyonya Oh kecewa pada Sehun yang dianggap mereka tak manusiawi dan tak punya hati, berbanding sangat terbalik dengan tuan dan nyonya Oh yang sangat baik dan dermawan."

"Sehun sedang diawasi dirumahnya sendiri. Mereka ingin tahu bagaimana kau diperlakukan olehnya." Katanya menambahkan memberitahu Luhan

Luhan hanya diam mencerna setiap ucapan Chanyeol yang menurutnya sangat mengejutkan ini. kemudian dia tersenyum lirih mengetahui hal yang membuat Sehun berubah bersikap baik padanya adalah karena dia sedang diawasi oleh pemegang saham dan klien di kantornya.

"Kau pasti bingung karena tak seharusnya urusan rumah tanggamu dipublikasikan seperti ini. Tapi mereka kecewa dengan rumor yang beredar dan jika benar Sehun melakukan semua yang dituduhkan padanya, dia akan kehilangan semua yang telah dibangun kedua orang tuanya."

"Andwae!.." gumam Luhan menggeleng cepat dan tak bisa membiarkan suaminya kembali merasa kehilangan lagi. Sehun sudah kehilangan orang tuanya karena dirinya, dan kini Sehun juga terancam kehilangan satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya karena dirinya juga, dia tidak akan membiarkan itu terjadi.

"A-apa yang harus aku lakukan?" Tanya Luhan sangat cemas

"Datanglah ke rapat pemegang saham esok hari. Mereka akan memutuskan untuk melanjutkan kerjasama atau membatalkannya begitu saja. Sehun tidak akan hadir di rapat itu, karena dia tidak pernah tahu kalau rapat itu diselenggarakan. Kau mau datang kan? Hanya kau satu-satunya suara yang bisa dipercaya Lu" Chanyeol menatap memohon pada Luhan.

"Tentu" balas Luhan yang bertekad membantu Sehun yang terlihat tertekan belakangan ini.

..

..

..

Dan yang seperti dijanjikan, Luhan datang ke rapat pemegang saham dengan Chanyeol berjalan disampingnya. Tadi pagi setelah Sehun pergikekantornya, Luhan langsung bersiap untuk menghadiri rapat pemegang saham yang akan memberitahukan keputusan mereka terkait kerjasamanya dengan kantor Sehun. Yang membuat Luhan bingung adalah rapat tersebut digelar tanpa sepengetahuan Sehun dan diadakan di kantor yang ia ketahui adalah kantor Kai.

"Rapatnya sudah dimulai setengah jam yang lalu. Dan sepertinya akan segera selesai." Chanyeol berjalan tergesa memberitahu Luhan.

"Maaf aku terlambat. Aku baru bisa berangkat setelah Sehun berangkat." Katanya menyesal

"Tak apa Lu, yang penting kau datang." Katanya memberitahu Luhan.

"Aku rasa sudah diputuskan kalau kerjasama kita dengan perusahaan tuan Oh dibatalkan. Bukan hanya karena rumor yang sewaktu-waktu bisa ikut merugikan kita. Tapi juga karena sifat putra Tuan dan Nyonya Oh sangat bertolak belakang." Terdengar salah satu pemegang saham membacakan hasil rapat, Luhan yang mendengarnya sedikit berdebar takut jika dirinya terlambat.

Cklek!

Chanyeol membukakan pintu rapat untuk Luhan, dan semua mata menoleh ke arahnya. Kai sedikit tercengang melihat pria mungilnya berdiri disana sambil bergetar menahan isakannya.

"Siapa kau? Apa kau tak lihat kami sedang rapat?" Tanya salah satu pemegang saham pada Luhan yang masih tampak bingung.

"Lu." Chanyeol sedikit berbisik pada Luhan, membuat Luhan tersadar.

"umhh.. anyeonghaseyo, saya Oh Luhan, istri dari Oh Sehun, saya kemari untuk menampik rumor yang mengatakan kalau suami saya memperlakukan saya seperti binatang." Luhan berbicara dengan satu kali nafas, membuat para pemegang saham menatapnya dan Kai memperhatikan Luhan dengan cemas.

"Jadi kau tak membenarkan rumor tersebut?"

Setengah jam sudah berlalu. Luhan sudah menjelaskan bahwa semua rumor yang beredar adalah kebohongan, meskipun disini dialah yang berbohong, tapi Luhan tak mungkin mengatakan sesuatu yang bisa membuat Sehun berada dalam kesulitan nantinya. Luhan berkali-kali melirik ke arah Kai, seolah meminta Kai untuk tidak mengatakan apapun yang bisa memberatkan Sehun. Dan Kai seperti biasa, dia tidak bisa menolak apa yang Luhan minta darinya.

"Ya benar, suamiku sangat baik dan mencintaiku. Bagaimana bisa dia memukuliku?" ujarnya mati-matian membela Sehun

"Lalu bagaimana dengan rumor yang beredar kalau Tuan Oh bercinta dengan sekertarisnya dirumah kalian?"

Pertanyaan kali ini membuat mata Luhan memanas karena harus mengingat betapa teganya Sehun bercumbu dengan wanita dirumah mereka malam itu. Namun Luhan kembali menguatkan dirinya dan tersenyum menjawab pertanyaan menyesakkan itu "Itu bukan suamiku." Balas Luhan bergetar menatap tajam seluruh anggota direksi yang hanya terdiam merasa tak enak pada Luhan yang harus membagi kehidupan pribadinya bersama Sehun.

Kai hanya tertawa pahit dalam hati, dia tahu kalau Luhan sangat mencintai Sehun, tapi dia tidak tahu kalau cinta Luhan untuk Sehun benar-benar membuatnya rela mengatakan semua kebohongan ini.

Tak lama ruang rapat itu terasa sepi sampai ada yang bersuara "Kalau begitu kerjasama dilanjutkan. Kita tidak punya alasan lagi untuk mengakhiri kerjasama dengan pria berbakat seperti Sehun." Ujar petinggi direksi dari Jepang membuat Luhan menghela lega nafasnya.

"Terimakasih anda sudah hadir tepat waktu Tuan Oh." Katanya menatap Luhan dan tak lama meninggalkan ruang rapat diikuti seluruh anggota direksi lainnya.

Tinggalah Luhan berdua dengan Kai yang tak mengeluarkan suaranya sama sekali sejak kedatangannya. Luhan tahu kalau Kai sedang marah dan tak habis pikir padanya.

"Apa kau marah padaku?" tanyanya berjalan mendekati Kai yang menyibukkan diri dengan dokumen di mejanya.

"Untuk apa?" balas Kai tak menatap Luhan

"Karena aku datang kemari" balas Luhan sedikit bergetar takut jika Kai benar-benar marah padanya.

"Dia suamimu kan? Wajar kau menutupi kelakuan bejatnya." Kekeh Kai menyindir tajam Luhan yang tak menjawab apa-apa lagi. Kai sebenarnya tahu kalau ucapannya sudah berlebihan, dia kemudian menatap ke arah Luhan yang tak lagi mengeluarkan suara setelah jawabannya.

"Astaga Lu, kenapa menangis seperti itu?" Kai terkejut mendapati Luhan menangis terisak sangat sedih dan terlihat sangat ketakutan

"Jangan marah Kai. Kalau kau marah juga padaku, aku tak punya siapa-siapa lagi" isak Luhan yang kini sudah berada di pelukan Kai

"Maaf Lu, maafkan aku. Aku tidak marah." Kai menghapus airmata Luhan dan tersenyum padanya. "Ayo aku antar pulang." Kai mencium kening Luhan sekilas dan menggenggam tangan Luhan menuju parkiran mobil.

"Kai" panggil Luhan membuat Kai menoleh padanya "Ada apa hmm?"

"Kau benar-benar tak marah padaku kan?" Tanya Luhan penuh harap.

"Tidak" balas Kai meyakinkan

"Kalau begitu apa bisa kau mentraktirku es krim? Bayiku menginginkannya." Luhan beralasan agar Kai membelikannya es krim

"Bayimu atau dirimu?" sindir Kai setengah tertawa

"Kami berdua" Luhan menjawab Kai dan tertawa senang karena tentu saja Kai akan mentraktirnya es krim.

..

..

..

"Bagaimana bisa mereka langsung memutuskan untuk kembali bekerja sama denganku sementara sebelumnya mereka yakin untuk mengakhiri kerjasama denganku?" Sehun bertanya bingung pada Chanyeol yang hanya tersenyum tak jelas padanya.

"Apa yang kau lakukan untuk meyakinkan mereka?" Tanya Sehun menatap curiga pada Chanyeol

"Kau yakin ingin tahu?" katanya menggoda Sehun

"Sudahlah tak penting. Yang penting usaha yang dibangun ayahku tak jadi hancur. Aku berhutang padamu" katanya tersenyum dan melewati Chanyeol untuk prig ke ruangannya

"Luhan yang melakukannya. Jadi, kau tak berhutang padaku. Kau berhutang pada Luhan, dia yang berbicara pada anggota direksi pagi ini."

Pernyataan Chanyeol sukses membuat Sehun menghentikan langkahnya. Dia jarang sekali mendengar nama Luhan disebut, namun saat Chanyeol mengatakan Luhan lah yang membantunya ada perasaan aneh menelusup ke hatinya, dia merasa sangat merindukan sesuatu yang dia sendiri juga tak mengerti.

"Ba-bagaimana bisa? Bukankah aku bilang jangan menemuinya?" Sehun sedikit meradang pada Chanyeol yang berani melibatkan Luhan.

"Kami bertemu di toko perlengkapan bayi, aku mengajaknya bicara dan dia bersedia mengklarifikasi. Kau sangat beruntung memilikinya." Puji Chanyeol akan kebaikan Luhan

Mengabaikan tempat dimana Luhan dan Chanyeol bertemu, Sehun langsung berlari cepat untuk menemui Luhan dan bertanya langsung padanya. Entahlah bagaimana caranya bertanya nanti, tapi yang jelas ia harus segera menemui Luhan.

Sehun menjalankan mobilnya dengan cepat, dia sedikit menggerutu karena jalan yang biasa ia lewati mengalami kemacetan lalu lintas akibat kecelakaan. Dia sudah mendengus kesal dan ingin memaki siapa saja yang membuat kemacetan ini terjadi, sampai saat dia menoleh ke arah kiri jalan, hatinya merasa hangat melihat seseorang yang ingin ia temui sedang dengan lahapnya memakan es krim di sebuah toko es krim sambil tersenyum setiap kali mulutnya membuka untuk melahap sendok es krim yang lainnya. Sekelibat ingatan tentang betapa sosok mungil itu sangat menyukai es krim menyeruak masuk ke benak Sehun dan tanpa disengaja untuk pertama kalinya selama tujuh tahun Sehun tersenyum sangat bahagia.

Dia memutuskan untuk memarkirkan mobilnya sembarangan dan berbicara dengan pria mungilnya sampai saat dia baru mengedipkan matanya, dia melihat pemandangan yang kembali membuatnya memanas.

Ya, saat ini Sehun sedang melihat Kai mengelap sudut bibir Luhan yang berantakan karena memakan es krim, dan bukannya menolak Luhan malah tersenyum dan tak lama tertawa sangat senang. Tawa yang sudah tak pernah Sehun lihat lagi beberapa tahun ini.

Sehun mencengkram erat kemudi mobilnya, menahan mati-matian untuk tidak kesana dan memukuli Luhan yang berani sekali bermesraan dengan Kai. Mengabaikan rasa marahnya, Sehun kemudian menyeringai dengan kemarahan dan kebencian yang kembali menguasai dirinya "Akan kuberi kau pelajaran, Jalang!" desisnya dan tak lama memutar arah mobilnya menyeruak kemacetan lalu lintas dan pergi dengan kemarahan yang membuncah didirinya.

..

..

..

Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi, namun belum ada tanda-tanda kepulangan Sehun. Hal itu membuat Luhan tak henti-hentinya mengkhawatirkan Sehun, sampai akhirnya terdengar suara mobil tiba di parkiran rumah membuat Luhan mendesah lega karena Sehun akhirnya kembali kerumah. Dengan segera dia berlari kedepan pintu untuk menyambut Sehun

Cklek!

"Selamat datang Sehun." Sapa Luhan namun dia hanya mendapatkan tatapan tajam dari Sehun, Luhan sedikit bergedik ngeri karena tatapan ini adalah tatapan yang sama saat Sehun sedang sangat marah.

"Kau kemana saja hari ini?" tanyanya pada Luhan yang sedang berjongkok melepas ikatan tali sepatunya.

"Aku hanya dirumah."

"BOHONG!" hardik Sehun membuat Luhan tersentak di bawah sana.

"Bangun kau sialan" katanya menjambak kasar rambut Luhan

"Se-sehun" mata Luhan berkaca-kaca karena takut Sehun akan kembali memukulinya lagi

BRAK!

Sehun mendorong kasar tubuh Luhan ke sofa dan kemudian mulai melepas ikat pinggangnya untuk member pelajaran pada Luhan.

"Se-Sehun jangan. Sakit. Aku minta maaf" isak Luhan yang sudah meringkuk melindungi perutnya agar Sehun tak mengincar bagian perutnya.

"Kau berharap apa dariku? Ucapan terimakasih karena telah berlagak menjadi sok pahlawan yang menyelamatkan perusahaan ayahku? Mimpi saja kau, Jalang!" geram Sehun yang sudah mendekati Luhan dan

ctar!

Luhan merasakan panas diwajahnya saat besi dari ikat pinggang Sehun kembali ia rasakan "Sehun ampun. Aku mohon jangan pukuli aku lagi." Isak Luhan berlari dan berlutut memegang kaki Sehun berharap Sehun tak memukulinya lagi.

"Berani-beraninya kau bermesraan dengan Kai di tempat umum. Dasar Jalang tak tahu malu. Apa selama ini kau bercinta dengannya juga hah?" teriak Sehun menjambak rambut Luhan membuat Luhan mendongak menatap ke arahnya

"Tidak Sehun, aku tidak selingkuh. Aku hanya bercinta denganmu. Percaya padaku, aku mohon" isak Luhan meringis kesakitan.

"PEMBOHONG!" teriak Sehun penuh amarah dan

BUGH!

Sehun menghempaskan kasar tubuh Luhan ke lantai, membuat kepala Luhan lagi-lagi membentur keras lantai.

Pandangan Luhan sudah mulai kabur saat kepalanya berdenyut hebat. Samar-samar dia melihat Sehun mendekat ke arahnya masih dengan wajah ingin memukulinya. Luhan bergerak kea rah berlawanan, agar Sehun tak menendang perutnya.

"Kau mungkin hanya bercinta denganku. Tapi aku tak yakin kalau kau tak selingkuh dariku. Apa kau mencintai Kai?" bisik Sehun menakutkan di telinga Luhan. Luhan menggeleng cepat dan berusaha meyakinkan Sehun "Tidak Sehun, aku hanya mencintaimu. Hanya kau." Balas Luhan tanpa ragu

"Ck! Lulu pintar sekali berbohong." Gumamnya mengambil pukulan kasti di sudut ruangan kerjanya. Luhan membelalak melihat apa yang Sehun bawa, dia menggeliat berusaha melarikan diri, sampai Sehun kembali menjambaknya dan membawanya ke tempat semula.

"Kau harus diberi pelajaran sayang" desisnya bersiap memukulkan pukulan kasti itu ke perut Luhan. Luhan memejamkan erat matanya, pasrah dengan selanjutnya yang akan terjadi, dia masih melindungi perutnya yang seperti diincar oleh Sehun.

"ASTAGA SEHUN! APA YANG KAU LAKUKAN?"

Suara teriakan Kyungsoo yang menyeruak ke ruangan dan berdiri didepan Luhan menghentikan perbuatan gila Sehun kepada Luhan

"Minggir!" desisnya pada Kyungsoo

"APA YANG KAU PIKIR KAU LAKUKAN?" Teriak Kyungsoo menantang Sehun, dirasakannya kakinya dipegang Luhan yang seperti mengingatkannya untuk tidak melawan Sehun

"Bukan urusanmu Kyung, menyingkirlah." Suara mengerikan Sehun mengingatkan Kyungsoo untuk tak ikut campur.

"Benar bukan urusanku! Bunuh Luhan sekarang!. BUNUH DIA AGAR KAU PUAS! BERHENTI MENYIKSANYA CUKUP BUNUH DIA SEKARANG! JUGA" Kyungsoo berteriak dengan bergetar, tak tahan melihat wajah Luhan yang kembali memar dan tangannya yang terus memegangi kepalanya yang menandakan kalau Luhan sedang kesakitan.

"KAU MENGINGINKAN KEMATIANNYA KAN SEHUNNA? KAU MENGINGINKAN DIA MATI UNTUK MEMBALAS KEMATIAN ORANG TUAMU KAN? BUNUH DIA DAN BERHENTI MENYIKSANYA AKU MOHON."

Kyungsoo terduduk dan menangis memeluk Luhan yang kesakitan dengan erat, sementara Sehun entah kenapa dia merasa ada perasaan aneh yang kembali menyeruak di dalam dirinya, dia menatap Luhan yang sudah tak berdaya di pelukan Kyungsoo dan

TRANG~

Dia membuang asal pemukul kasti itu, dan pergi dari rumahnya entah menuju kemana. Luhan secara samar melihat kepergian Sehun, dan tak lama dia pingsan karena semua menjadi gelap secara tiba-tiba.

..

..

..

tiga bulan kemudian..

Semenjak insiden Sehun yang pergi meninggalkan rumah setelah selesai memukuli Luhan, Luhan tak pernah melihat Sehun lagi, Chanyeol bilang Sehun melakukan perjalanan ke Jepang dan akan kembali tiga bulan kemudian. Hari ini adalah tepat tiga bulan semenjak kepergian Sehun. Dan selama kepergian Sehun pula, Luhan merasa senang sekaligus sedih bersamaan. Senang karena usia kehamilannya sudah masuk bulan keempat tanpa harus mendapat pukulan dan makian dari Sehun dan sedih karena sampai sekarang Sehun tak tahu kalau sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah, Luhan takut jika dia tetap nekat memberitahu Sehun tentang kehamilannya, Sehun akan menyakiti bayi mereka. Namun jauh didalam lubuk hatinya. Luhan sedih karena sangat merindukan Sehun, walau Sehun sering memukulinya dan membentaknya dia tak pernah tak bertemu Sehun sampai selama ini. membuatnya kadang resah, dan hanya bisa menatap rindu pada foto Sehun yang ia simpan didompetnya.

Saat ini Luhan sedang berada di klinik kehamilan, ini pertama kalinya dia melakukan usg pada kehamilannya dan begitu senang mengetahui kalau calon bayinya tumbuh sehat didalam sana. Luhan tak hentinya tersenyum memandangi hasil usg nya didalam bis. Sampai akhirnya dia turun dari bis dan berjalan menuju ke rumahnya.

Luhan terus berjalan kerumahnya sampai dia menyadari mobil yang sangat familiar terparkir digarasi mobilnya, dia membelalak entah senang atau takut dan dengan cepat berjalan menuju kerumahnya. Luhan meletakkan hasil usg nya didalam dompetnya dan perlahan membuka pintu masuk.

Langkahnya terhenti saat mendapati pria yang ia rindukan sedang berdiri didepannya, menatapnya mengintimidasi seolah mengabsen seluruh jengkal tubuh Luhan, Luhan tak berani menatapnya dan hanya tertunduk sampai dia merasa tengkuknya ditarik dan dia sudah dibawa kedalam ciuman panas suaminya.

"hmphh Sehun.." Luhan sedikit meronta saat kebutuhan oksigennya sudah tak mencukupi, Sehun kemudian berbaik hati melepaskan sejenak ciuman mereka dan tak lama menggendong Luhan membawanya ke kamar tamu terdekat.

Dia menindih tubuh Luhan kemudian kembali menatap Luhan dan melumat bibirnya kasar dan dalam sekejap kembali berhasil membuat Luhan terbuai dalam ciuman mereka yang semakin panas dan menggairahkan.

Luhan tak menolak sensasi dan gairah dari suaminya, karena dia sendiri sangat merindukan sentuhan Sehun yang pergi selama tiga bulan ini tanpa memberitahunya. Dia membuka mulutnya memberikan akses untuk lidah Sehun agar bisa mengeksplor keseluruhan dirinya. Sehun menyeringai karena Luhan tak menolaknya, dan tanpa kata-kata, Sehun melepaskan celana yang Luhan dan dirinya gunakan dan dalam sekali hentakan, Sehun memasuki tubuh Luhan

"Ahhh~" erang Luhan memejamkan matanya menikmati sensasi bercinta dengan Sehun yang sudah lama tak ia rasakan.

Sehun sedniri tanpa pemanasan langsung menggerakan pinggulnya, seolah tak bisa lagi menahan gairahnya yang tertahan karena tak bertemu pria yang ia benci dan mungkin pria yang ia cintai tiga bulan ini.

Dan seterusnya, kamar tamu itu menjadi saksi betapa kedua insan yang tak bisa bersatu seutuhnya karena kesalahpahaman menyalurkan hasrat dan gairah cinta mereka dan cara mereka masing-masing.

..

..

..

Tok! Tok!

Luhan mengetuk pintu kamar Sehun dengan perlahan, dia sedikit meringis mengetahui kalau dirinya tak boleh lagi masuk kedalam kamar Sehun semenjak kematian orang tua Sehun.

Cklek!

"Ada apa?" Tanya Sehun yang sepertinya baru selesai mandi, karena aroma citrus kentara sekali tercium dari tubuhnya.

"Makan malam sudah siap. Apa kau mau makan?" Tanya Luhan takut-takut

"Aku akan turun." Balas Sehun kembali menutup pintu kamarnya.

Luhan tersenyum karena paling tidak Sehun tak membentaknya, karena biasanya Sehun akan menjawab semua pertanyaan Luhan dengan makian dan teriakan.

Dan selang beberapa menit kemudian, Sehun turun dari kamarnya dengan memakai kaos hitam yang sangat pas di tubuhnya dipadu dengan celana pendek selutut yang membuatnya terlihat sangat tampan bahkan dengan rambutnya yang turun sekalipun.

Luhan merona mengagumi betapa tampannya suaminya yang kini sudah duduk di meja makan. "Kau tak makan?" suara Sehun menginterupsi lamunan Luhan

"Nanti setelah kau" balas Luhan takut-takut.

"Duduklah, makan bersamaku." Titahnya membuat Luhan berharap jika ini mimpi dia tak terbangun

"Cepat." Sehun mengulang ucapannya membuat Luhan langsung buru-buru menarik kursi meja makannya.

"Kau benar-benar terlihat gemuk. Apa kau bahagia dengan kepergianku?" Tanya Sehun terdengar menyindir Luhan.

Luhan menggeleng cepat "Ani, aku merindukanmu." Katanya jujur memberitahu Sehun

"Terserah" balas Sehun dengan nada dinginnya.

Saat sedang menyantap makan malam mereka bersama, sebuah headline news mengejutkan datang dari televise, disana dikatakan kalau penjara di daerah Hongdo mengalami kebakaran hebat diduga akibat ulah salah satu narapidana, hal itu membuat beberapa narapidana berhasil melarikan diri. Dan saat disebutkan nama-nama narapidana yang berhasil melarikan diri. Wajah Sehun dan Luhan menegang saat nama Kim Soh Ye dan suaminya Kim Yong Woo disebutkan

"Brengsek" geram Sehun memukul meja dan menatap tajam ke arah Luhan, sedetik kemudian Sehun pergi entah kemana dengan mobilnya.

Sementara itu…..

"Kita harus bergerak cepat. Pertama kita bunuh Sehun dan kemudian kita akan memanfaatkan Luhan untuk membebaskan kita dari tuduhan, setelah itu kita juga harus menyingkirkan Luhan" rencana licik itu sedang dibicarakan di sebuah gudang kumuh tak jauh dari tempat Sehun dan Luhan tinggal. Tentu saja yang berbicara hal keji itu adalah Kim Soh Ye, wanita yang bersama suaminya menculik Luhan sewaktu bayi.

"Kau tenanglah, kita akan mencari tahu apa kegiatan mereka terlebih dulu, kita tak boleh terlalu mencolok" sang suami Kim Yoong woo mengingatkan istrinya.

"Aku sangat tak sabar membalas dendam pada mereka" geram Soh ye yang sangat ingin membalaskan dendamnya pada Sehun dan Luhan.

..

..

..

Seminggu setelah kabar yang menyebutkan bahwa kedua orang tua Luhan berhasil melarikan diri dari penjara, membuat Sehun melakukan segala cara untuk menemukan kedua orang yang telah membunuh orang tuanya itu. Dia bahkan menyewa delapan detektif ternama untuk melacak dimana pasangan suami istri yang telah membunuh orang tuanya itu.

Melihat kegusaran Sehun, Luhan juga tak bisa tinggal diam, dia takut kalau sewaktu-waktu kedua orang itu datang dan berbuat sesuatu yang mengerikan pada Sehun. Oleh karena itu, Luhan berusaha membantu pencarian kedua orang tuanya dengan memberikan keterangan pada polisi mengenai kemungkinan tempat yang dikunjungi oleh keduanya. Hal itu membuatnya kerap kali pulang malam karena memberi keterangan pada polisi tak segampang kelihatannya.

Seperti malam ini misalnya, Luhan baru saja selesai memberikan keterangan pada polisi mengenai kemungkinan tempat yang dikunjungi kedua orang tuanya, hal ini membuatnya harus rela pulang malam dan berdesakan di kereta. Merasa dirinya belum makan apapun sejak pagi, Luhan memutuskan untuk membeli cereal di supermarket agar bayinya tak kelaparan.

Selama memakan cerealnya, Luhan melihat pasangan suami istri didepannya yang begitu bahagia. Sang suami dengan sayang mengelus perut istrinya yang sepertinya sedang mengandung sementara sang istri hanya tertawa karena suaminya terus menggodanya dan calon bayinya.

Luhan melirik sekilas ke perutnya yang tampak membuncit dan mengelus sayang calon bayinya "Eomma janji suatu saat nanti appa juga akan melakukan hal yang sama untuk kita nak, kau tak boleh iri." Gumam Luhan yang menyalahkan calon bayinya untuk tidak iri, padal jelas sekali kalau dirinyalah yang sangat iri melihat betapa bahagianya pasangan suami istri itu.

Luhan pun tiba-tiba kehilangan selera makannya dan memutuskan untuk pulang kerumah karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Sesampainya didepan rumah, dia cukup kaget melihat mobil Sehun sudah terparkir menunjukkan kalau suaminya sudah pulang bekerja, padahal seminggu ini Sehun hampir tak pernah pulang kerumah karena sibuk mencari keberadaan orang tuanya,

Cklek!

Dengan was-was Luhan masuk kedalam rumahnya, dia mengernyit melihat rumahnya yang tampak gelap dan sepi, dia kemudian tersenyum menebak kalau Sehun sudah beristirahat dikamarnya, Luhan pun memutuskan untuk ikut beristirahat sampai sebuah suara menginterupsi langkahnya

"Darimana saja kau?" Sehun ternyata belum tidur, dan dilihat dari tempatnya berdiri tak jauh dari pintu, sepertinya dia sedang menunggu Luhan pulang kerumah.

"Sehun? Kau belum tidur? Apa kau lapar? Aku akan membuatkan makanan untukmu." Luhan sedikit berjalan menghampiri Sehun yang hanya menatap tajam ke arahnya

"Aku tanya darimana saja kau?" Sehun menggertakan giginya bertanya pada Luhan.

"Ah, aku baru pulang dari memberi keterangan pada po.."

"Apa kau menemui mereka?" Sehun memotong ucapan Luhan membuat Luhan menatapnya bingung

"Mereka siapa?" tanyanya tak mengerti.

"Sialan! Kau masih bertanya? Tentu saja orang tua pembunuhmu. Apa kau menemui mereka?" Sehun berteriak menghimpit Luhan ke dinding. Luhan kembali bergetar takut karena sepertinya Sehun akan kembali memukulinya

"Jawab aku." Desis Sehun menakutkan

"Tidak.. Tentu saja tidak.. Aku juga sudah memberitahu polisi kemana kemungkinan mereka pergi Sehunna, aku tak bertemu mereka. Sungguh." Luhan berkaca-kaca memberitahu Sehun, berharap Sehun mempercayainya.

Sehun sudah ingin memukul wajah Luhan lagi, tapi saat melihat tubuh Luhan bergetar dia kemudian melepaskan cengkramannya dari tangan Luhan "Jika kau sampai membantu mereka melarikan diri. Aku bersumpah akan membunuh kalian dengan kedua tanganku sendiri. Kau mengerti?" tanya Sehun tapi tak mendapat jawaban dari Luhan yang masih sangat ketakutan.

"KAU MENGERTI KAN?"

Sehun berteriak membuat Luhan tersentak dan mengangguk cepat sebagai jawaban "A-aku mengerti Sehunna. Aku mengerti." Jawab Luhan yang sudah sangat terisak dan sangat takut.

Sehun sedikit mendorong tubuh Luhan dan pergi kekamarnya dengan membanting keras pintunya membuat Luhan bisa bernafas lega "Syukurlah.. Syukurlah kau aman nak." Gumam Luhan terduduk dan mengelus sayang perutnya yang mulai terasa tegang "Iya nak, eomma tidak akan stress. Kau tak boleh panik didalam sana nak." Luhan mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Setelah merasa perutnya tak tegang lagi, Luhan menatap ke arah kamar Sehun dan menghapus air matanya berharap kalau dirinya segera menemukan kedua orang tuanya agar tak berbuat sesuatu yang mengerikan pada Sehun.

..

..

..

Keesokan harinya, setelah memastikan Sehun pergi terlebih dulu. Luhan kembali keluar rumah untuk mencari tahu bagaimana perkembangan tentang keberadaan orang tuanya. Dia sedikit kecewa karena saat sampai di kantor polisi, mereka mengatakan kalau hasilnya masih sama saja keberadaan orang tuanya dan narapidana yang lain belum diketahui.

Untuk mengobati rasa kecewanya, Luhan memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan ke tempat dimana dia dan Sehun sering kunjungi sewaktu dulu. Sebuah kafe yang menjual pancake dengan menyediakan menu bubble tea didalamnya. Luhan berniat untuk membuat senang dirinya hari ini, saat pesanannya datang Luhan langsung melahap habis pancake bluberry dan bubble tea coklat kesukaan Sehun, Luhan melahap makanannya dengan air mata yang menetes cepat di matanya. Karena saat ini dia sangat merindukan Sehun, Sehun yang dulu Sehun yang sangat hangat dan sangat mencintainya.

Flashback

Slurpppp…

Terdengar suara sedotan bubble tea yang menandakan kalau bubble tea itu sudah habis karena diminum rakus oleh pria tampan berdagu runcing yang sudah mulai bosan menunggu kekasih rusanya yang tak kunjung datang.

"Kau menghabiskannya?" tanya Sebuah suara menuduh membuat pria tampan itu sedikit tersedak dan menyengir lebar mendapati kekasihnya berdiri didepannya.

"Mian Lu, aku haus." Cengir Sehun membuat Luhan mendengus kesal

"Aku tidak mau tahu. Aku mau buble tea." Katanya mendelik sebal pada Sehun yang menghabiskan minuman pesanannya.

"Tapi Lu, ini aku beli di kedai dekat sekolah. Aku tidak mungkin kembali lagi hanya untuk bubble tea kan. Besok saja ya? Aku belikan dua." Katanya membujuk Luhan yang masih cemberut.

"Terserah." Luhan mendengus sebal dan berjalan mendului Sehun yang langsung memeluknya erat. "Kau tak boleh marah. Baiklah aku akan kembali ke sekolah dan membelikannya untukmu ya?" bujuk Sehun kemudian Luhan tersenyum karena Sehun benar-benar merasa bersalah.

"Kau yakin mau kembali ke sekolah?" tanya Luhan bertanya serius

"Sangat yakin." Balas Sehun menjawab Luhan "Sebentar. Aku ingin bertanya. Kenapa kau terlambat datang? Bukankah les musikmu sudah berakhir setengah jam yang lalu?" kini Sehun yang menatap curiga ke arah Luhan.

Luhan menyengir lebar saat Sehun menyadari keterlambatannya "Karena ini." Luhan mengeluarkan sesuatu yang ada di tasnya

"Ini apa?" tanya Sehun bingung

"Pancake blueberry. Aku mengantri ini hampir setengah jam, aku ingin kau memakan pancake sementara aku minum bubble tea, tapi kau menghabiskannya" kesalnya menunjuk cup bubbe teanya yang kosong

"Maaf lulu sayang. " Sehun mencubit gemas pipi Luhan sambil menyesal karena menghabiskan minuman favorit kekasihnya.

"Umm sebenarnya kafe pancake ini juga menjual bubble tea" Luhan menunjuk kedai pancake yang tak jauh dari taman tempat Sehun menunggu dan memberitahu kekasihnya

"Kenapa tak bilang daritadi." Sehun menyentil kening Luhan membuat Luhan terkekeh karena Sehun langsung menariknya kearah kafe tersebut

"Sehunnie." Luhan menarik tangan Sehun menahannya sebentar

Sehun menaikkan alisnya bingung karena Luhan menahannya "Kenapa lagi?" tanyanya merengkuh pinggang Luhan

Luhan sedikit berjinjit dan berbisik di telinga Sehun "Harganya mahal" katanya memberitahu Sehun dan tak lama

HAHAHAHAHA

Sehun tertawa terbahak karena kekasihnya begitu lucu dan sangat menggemaskan. "Aku akan membelikan kafe itu untukmu kalau kau minta." Katanya kembali menarik Luhan masuk kedalam kafe yang memang sangat ramai pengunjung itu.

Dan setelahnya memang benar Sehun memesankan hampir semua rasa bubble tea untuk Luhan sementara dirinya terus-terusan memesan pancake blueberry yang membuatnya sangat ketagihan.

End Of Flashback

Luhan menghapus cepat air matanya mengingat betapa Sehun sangat mencintainya saat dulu, kemudian dia berusaha kembali ke kenyataan dan menguatkan dirinya sendiri kalau Sehun masih mencintainya, namun caranya mencintai Luhan sekarang sedikit berbeda.

Luhan kembali memakan makanannya dan melihat ke luar jendela, matanya tersenyum melihat orang-orang yang sibuk berlalu lalang sambil tertawa, dia terus mengedarkan pandangannya sampai matanya terkunci pada satu sosok.

Sosok tampan yang sedang tersenyum sangat bahagia, senyum yang tak pernah Luhan lihat lagi selama tujuh tahun ini. dan yang membuat hati Luhan menghangat adalah sosok yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya itu tersenyum karena sedang memberikan sesuatu yang Luhan tebak sepatu olahraga kepada anak kecil yang terlihat tak mampu.

Karena penasaran, Luhan berusaha mendekati ke arah Sehun, dia memang tak bisa mendengar apa yang Sehun dan anak kecil itu bicarakan. Tapi yang jelas Luhan bertekad berterimakasih pada anak itu setelah Sehun pergi nanti, karena telah membuat suaminya tersenyum.

Satu lagi kenyataan yang membuat hati Luhan menghangat adalah suaminya-,.. Sehun menyukai dan menyayangi anak kecil. Luhan tersenyum melihat perutnya seolah memberitahu calon bayinya kalau dia akan dicintai oleh ayahnya.

Terlihat Sehun berpamitan dan berjongkok didepan anak kecil itu sambil memberi beberapa lembar uang kepada anak tersebut yang langsung berlari meninggalkan Sehun. Sehun hanya tersenyum dan sepertinya memutuskan untuk menyebrang jalan karena mobilnya diparkir di sebrang jalan.

Luhan bersembunyi dibelakang toko kue yang berada tak jauh dari Sehun berdiri, dia diam-diam masih mengagumi ketampanan suaminya saat tersenyum. Namun tiba-tiba senyum di wajah Luhan menjadi raut panik saat menyadari ada mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Sehun yang sedang sibuk dengan ponselnya, dan Luhan membelalak menyadari siapa yang berada didalam mobil tersebut "Tidak!" gumam Luhan berlari cepat ke arah Sehun

Sementara Sehun yang masih sibuk dengan ponselnya melirik sekilas ke lampu lalu lintas yang sudah menunjukkan lampu merah, Sehun pun akhirnya menyebrang masih sibuk dengan ponselnya, sampai sebuah teriakan mengalihkan perhatiannya "SEHUN AWAS!" Sehun merasa tubuhnya terdorong dan

TIIINNNNNNNNNN~

BRAAAAAKKKKK!

Sehun merasa pusing karena tubuhnya terdorong sementara terdengar suara debuman keras di belakangnya.

"ASTAGA! ADA SESEORANG YANG DITABRAK!" terdengar sebuah teriakan yang membuat degup jantung Sehun tak beraturan

"SESEORANG CEPAT TOLONG PRIA INI! DIA TERLUKA PARAH" terdengar teriakan lain yang membuat kepala Sehun berputar karena sangat takut

Takut, karena dia tahu benar suara siapa yang memanggilnya beberapa detik yang lalu. Takut kalau dia harus mendapati kenyataan kalau orang itulah yang kembali menolongnya seperti saat mereka berusia sepuluh tahun dulu.

Semua ini seperti dejavu untuk Sehun, kemudian dengan perlahan dia membalikan badannya dan berjalan gontai menghampiri orang-orang yang sudah mengerumuni pria yang baru saja menjadi korban tabrak lari itu.

Sehun menyeruak diantara kerumunan, matanya menganalisa mencoba menampik kalau ia mengenali pria yang sedang terbaring dengan darah di seluruh tubuhnya ini, namun semakin Sehun menampik sosok yang ia kenal semakin terlihat jelas.

Jantung Sehun masih berdegup kencang, kepalanya berputar sangat memualkan. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk mendekati sosok yang tak sadarkan diri itu.

Brak!

Sehun terjatuh dan membawa pria mungilnya ke pelukannya, dia membelalak sangat takut melihat darah yang sangat banyak di kepala seseorang yang sangat ia benci ini, namun rasa bencinya seakan menghilang saat melihat wajah pria yang tak lain istrinya ini begitu pucat dan terlihat kesakitan

"Luhan.."

Itu adalah pertama kalinya Sehun memanggil nama Luhan dengan penuh kelembutan selama tujuh tahun ini

"h-hey bangun… Kau tak boleh mati begitu saja. Kau hanya boleh mati ditanganku." Desis Sehun mengancam namun air matanya tak berhenti menjatuhi pipinya.

"Seseorang-… SESEORANG PANGGIL AMBULANCE~" teriak Sehun memeluk Luhan erat dengan sisa tenaga yang ia miliki.

..

..

..

Sehun sudah membawa Luhan ke rumah sakit dan saat ini dia sudah menunggu berjam-jam diluar ruang operasi yang sedang mengurus Luhan didalam. Sehun tidak sendirian, Kai dan Kyungsoo sudah datang saat ia memutuskan kalau kedua orang itu mungkin akan membuat Luhan merasa lebih baik merasakan kehadiran mereka. Namun Sehun merasa terganggu dengan tangisan Kyungsoo yang sangat mengkhawatirkan Sehun dipelukan Kai, membuatnya juga ikut membayangkan bagaimana jika Luhan tak bertahan?. Luhan tak bisa diselamatkan?. Lalu dia akan bagaimana?

Semua pikiran itu Sehun buang jauh-jauh saat akhirnya ruang operasi terbuka dan Kyuhyun muncul dari dalamnya.

Sehun hanya mendekati Kyuhyun tanpa bertanya berharap Kyuhyun mengatakan kalau Luhan baik-baik saja, namun seakan marah pada Sehun, Kyuhyun mengabaikan Sehun dan berjalan ke arah Kai dan Kyungsoo

"Lu-luhan bagaimana?" isak Kyungsoo yang takut mendengar kenyataan Luhan tak bertahan.

"Dia kritis. Tapi dia akan bertahan." Kyuhyun bergetar memberitahu kedua temannya

Sehun hanya mematung mendengar penuturan Kyuhyun, ini adalah kali keduanya dia membuat Luhan kritis karena menyelamatkannya.

Sehun sedikit mengernyit saat tiba-tiba Kyuhyun mendekati dirinya. "Kau tak perlu repot-repot lagi memukuli Luhan saat akhirnya dia memberitahumu kalau dia hamil. Luhan sudah kehilangan bayinya. Dia keguguran."

"Oh tidak… LUHAAANNNNN"

Kyungsoo meraung saat Kyuhyun mengatakan kalau Luhan sudah kehilangan bayinya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana wajah mungil itu harus kembali merasakan kesakitan karena kehilangan bayinya.

Kai sama syok dengan Kyungsoo, namun dia hanya bisa terdiam sambil menikmati denyutan hatinya yang terasa robek mendengar kenyataan Luhan kehilangan bayinya ditambah raungan Kyungsoo yang terdengar sangat memilukan.

Sementara Sehun.. dia tak bicara sama sekali, kenyataan yang baru ia dengar terasa menampar keras wajahnya, dia sama sekali tak mengerti apa yang Kyuhyun bicarakan. Dan untuk meredakan rasa sakit yang tiba-tiba datang menghinggapinya. dia memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit, melewati ketiga temannya yang terlihat sangat syok dan tak berani membayangkan wajah Luhan saat dia bangun nanti.

Sehun berjalan gontai dan membiarkan orang-orang menabraknya di perjalanan ke tempat parkir, sampai akhirnya dia berhasil masuk kedalam mobilnya dengan keadaan berantakan, Sehun menyalakan mobilnya dan mencengkram erat kemudi mobilnya, kata-kata Kyuhyun masih sangat terdengar jelas di benaknya, dia kemudian meletakkan kepalanya di kemudi mobil sambil bergumam "Apa maksudnya Luhan keguguran? Apa dia hamil? Lalu jika dia keguguran apa itu artinya aku baru saja kehilangan calon anakku." Lirihnya memegangi dadanya yang terus berdenyut sakit.

Sehun kemudian menatap kedepan dan bersiap menginjak gas mobilnya "Ini tidak mungkin" ujarnya menghapus cepat air matanya yang jatuh

Itu adalah kali pertama setelah tujuh tahun berlalu seorang Oh Sehun menitikkan air mata. Karena dia bersumpah pada dirinya sendiri terakhir dia meneteskan air matanyaadalah saat pemakaman kedua orang tuanya. Entah kenapa ada sesuatu di diri Sehun yang terus menghantamnya keras, membuatnya berperang menahan sakit yang ia rasakan. Kenyataan Luhan yang sedang kritis karena menyelamatkannya cukup membuatnya merasa bersalah, namun kenyataan lain saat Kyuhyun memberitahu Luhan kehilangan bayinya adalah kenyataan yang kembali membuat dirinya mati. Saat ini Sehun sedang merasakan kekosongan yang teramat. Kekosongan yang sama saat ia kehilangan kedua orang tuanya dan itu terasa begitu menyesakkan untuknya saat ini.


tobecontinuedd...


.

sebelum cuap-cuap gue mau kasih WARNING KE KALIAN.. BIG WARNING!

.

Jadi yang tanya Last Hope sampai berapa chap.. jawabannya ini ga akan lebih dari sepuluh chap.. bisa kurang dari sepuluh chap juga..bisa 7-8 lah

.

dan awalnya gue bilang kan ini Happy ending.. Ini happy ending emang.. tapi untuk tokoh didalam cerita ini, kalau buat kalian yang baca, ending ini bakalan kaya cerita Sad Love story gitu deh.. maksudnya kaya True love gitu.. elah kasarnya ini sad ending..tapi ga sad-sad banget si menurut gue..

.

jadi, Last hope udah gue tulis sampai endingnya.. nah ternyata kurang bagus kalo dibuat happy gitu guyss.. sorry :(

jadi buat last hope demi kepentingan cerita kayanya harus di buat beda sama ff-ff triplet yang lain, dan gue janji cuma ini yang rada sedikit melenceng.. yang lain happy ending,.. buat saat ini sih TDF sama MIT

.

sooooo... kalo yang gamau kebanyakan tisue karena banjir baca nih cerita *bacareviewdarikalian* boleh udahan bacanya...

tapi kalo yang ngerasa "udah terlanjur basah" ya silahkan dilanjutkan... karena jujur gw yg nulis aja kadang ngerembeng heheheh :""

.

tapi klo menurut gue ini si masuk kategory sweet sad love story gitu deh :p.. *itubocoran

.

pilihan ada di tangan kalian.. mau dilanjut atau tidak terserah ya #akusihlanjut #kompor :p

yauda yaa selamat membacaa...

cepet kan updatenya? #tripletgituwkwkwk..lovemuumuahhh :*