""I'm not sure this is a world I belong in anymore. I'm not sure that I want to wake up.""


Last Hope

Main Cast : Xi Luhan & Oh Sehun

Genre : Romance, Family, Hurt

Rate : T-M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s). M-preg.

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

.

.


Seminggu sudah Luhan menjalani masa kritisnya dan seminggu pula dirinya belum sadarkan diri dari masa kritisnya. Luhan didiagnosa mengalami masalah gangguan pada syaraf otaknya. Kai dan Kyungsoo selalu menemani Luhan sejak malam dimana Luhan dinyatakan mengalami keguguran. Sementara Sehun, dia hanya bisa menjenguk Luhan secara diam-diam. Egonya masih mengalahkan hati nuraninya yang sebenarnya mengkhawatirkan keadaan Luhan. Dia hanya datang dan menemui Luhan saat Kai dan Kyungsoo tak berada di ruangan.

Seperti malam ini misalnya, di tengah hujan deras yang mengguyur kota Seoul, Sehun seperti biasa rutin mengunjungi rumah sakit, namun dia sedikit mendesah kesal karena Kai sama sekali tak pernah absen untuk datang ke rumah sakit, Kai juga selalu menginap dan tidur disamping kiri Luhan sementara Kyungsoo tidur di samping kanan Luhan. Awalnya Sehun berharap karena hujan yang deras ini, Kai tidak akan datang berkunjung, namun dia salah, Kai tetap datang kerumah sakit walau harus basah kuyup, karena memang Sehun melihat Kyungsoo membantu Kai melepaskan jasnya yang basah.

"Apa belum ada perkembangan dari Luhan?"

Sehun mencuri dengar ucapan Kai yang sedang bertanya pada Kyungsoo.

"Belum. Dia masih tidur dengan cantiknya." Lirih Kyungsoo memandang Luhan dan kemudian duduk disamping Luhan mengelus sayang pria imutnya ini.

"Kai..Bagaimana reaksi Luhan jika dia tahu dia kehilangan bayinya?" tanya Kyungsoo yang kembali menitikkan air matanya tak tahan membayangkan bagaimana reaksi kepedihan yang akan Luhan rasakan nanti.

Pertanyaan Kyungsoo pun, membuat seseorang yang sedang mencuri dengar di dekat pintu masuk mengernyit dan merasakan denyutan yang terasa menyakitkan di dadanya. Dia juga tidak bisa membayangkan akan seperti apa reaksi Luhan nantinya jika dia mengetahui kalau calon bayinya –tidak- calon bayi mereka tak berhasil diselamatkan.

"Kita akan selalu bersamanya Kyung, yang penting sekarang Luhan harus bangun terlebih dulu. Dia sudah terlalu lama tertidur." Ujar Kai memegang bahu Kyungsoo yang terus bergetar.

Hatcih~

Tak lama setelah itu, Kyungsoo bersin dan gemetar bukan karena dia sedang menangis, tapi karena tubuhnya yang terasa sangat kedinginan.

"Kyungie, kau sakit?" Kai menoleh dan bertanya pada Kyungsoo, namun Kyungsoo menggeleng lemah "Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit lelah karena luluku belum sadar juga." Gumam Kyungsoo merebahkan kepalanya disisi ranjang Luhan.

Kai mengernyit tak mempercayai ucapan Kyungsoo yang tampaknya sedang tak enak badan, dia pun memegang paksa dahi Kyungsoo dan membelalak saat merasakan suhu tubuh Kyungsoo yang sangat panas "Astaga Kyung, badanmu panas sekali." Katanya memberitahu Kyungsoo "Kau harus diperiksa." Kai sedikit memaksa Kyungsoo yang masih merebahkan dirinya disisi ranjang Luhan.

"Tidak. Aku baik-baik saja. Bagaimana kalau Luhan bangun dan tak ada kita? Dia akan merasa kita tak mempedulikannya Kai." Protes Kyungsoo yang meronta dengan pegangan Kai di bahunya.

"Kau tetap harus diperiksa Kyung, aku tak mau kau kelelahan karena menjaga Luhan seminggu ini. Kau bahkan tak pulang kerumah." Ujar Kai yang terus memaksa Kyungsoo.

"Kai cukup! Aku baik-baik saja." Kyungsoo sedikit merasa bersalah karena membentak Kai.

Namun tentu saja Kai tidak bisa mengalah, dia pun dengan terpaksa membawa Kyungsoo dalam gendongannya untuk dibawa keruangan Kyuhyun agar dia bisa memeriksa Kyungsoo

"Kai.. Astaga turunkan aku. Kita tak boleh meninggalkan Luhan sendirian." Kyungsoo meronta di pelukan Kai , namun Kai mengabaikannya, Kai tampak semakin khawatir karena wajah Kyungsoo begitu pucat.

Sepeninggal Kai yang membawa Kyungsoo untuk diperiksa, barulah Sehun memberanikan diri untuk masuk kedalam ruangan Luhan. Dia masuk dengan perlahan dan tanpa suara, sampai akhirnya dia benar-benar berdiri disamping Luhan.

Matanya terus menelusuri wajah yang tampak cantik saat tertidur itu, membayangakan bagaimana cantiknya bibir itu ketika tersenyum, entah kenapa matanya terus menelusuri setiap jengkal tubuh Luhan, sampai tatapannya berhenti di perut Luhan yang tampak datar karena tak lagi mengandung calon bayi mereka.

Sehun tersenyum pahit, mengingat beberapa kali ia mengatakan Luhan menjadi gemuk dan terlalu berisi, dia tidak menyangka sama sekali jika saat itu, istri yang ia benci ini sedang mengandung anaknya, darah dagingnya. Tanpa dia sadari pun air mata jatuh cepat dari matanya dan membasahi pipi serta hidungnya.

"Maaf."

Untuk pertama kalinya pula setelah tujuh tahun ini, kalimat yang Sehun sendiri bersumpah untuk tak pernah mengucapkannya lagi, akhirnya dia katakan didepan seseorang yang menjadi korban kemarahannya selama tujuh tahun ini.

Rasa menyesal yang kali ini Sehun rasakan adalah karena menolong dirinyalah Luhan kehilangan bayinya. Dia bahkan berfikir keras selama seminggu ini kenapa Luhan menolongnya? Kenapa Luhan tak membiarkannya mati agar dia tak perlu merasa tertekan dan menderita lagi? dan kenapa Luhan tak memilih menyelamatkan bayinya. Semua pertanyaan di benak Sehun selalu membuatnya sakit kepala, memikirkan kenapa Luhan sangat bodoh menyelamatkan orang yang jelas-jelas membencinya.

"Bangunlah. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan." Pintanya memberanikan diri menggenggam tangan Luhan yang terasa sangat dingin.

Sementara itu, terdengar langkah Kai yang tergesa-gesa kembali ke ruangan Luhan karena ingin mengambil jasnya yang tertinggal di ruangan Luhan, dia harus melunasi administrasi pembayaran karena benar Kyungsoo mengalami dehidrasi serta kelelahan dan harus dirawat untuk diinfus.

Kai sedikit mengernyit mendapati seseorang berada di ruangan Luhan, dia sedikit membelalak mendapati Sehun berada disana dan ingin segera mengusirnya keluar sampai tak sengaja dia mendengar apa yang diucapkan Sehun pada Luhan yang masih belum sadarkan diri.

"Kau adalah manusia bodoh yang memilih menyelamatkan orang sepertiku, kenapa kau ada disana ? kenapa kau nekat berlari ke arahku? Kenapa kau mengorbankan bayi tak berdosa itu hmhh?" ujar Sehun sedikit bergetar sambil menggenggam erat tangan Luhan.

"Apa kau ingin membalasku? Apa kau ingin berteriak pembunuh didepan wajahku saat kau bangun nanti? Kenapa-..Kenapa jadi seperti ini..hah!." Sehun mengerang kesal dan terlihat sangat frustasi menjambak kencang rambutnya sendiri.

Kai hanya bisa mendengarkan semua ucapan Sehun tak berniat lagi mengusir Sehun yang mau bagaimanapun merupakan suami sah dari Luhan. Dia tak menyangka kalau Sehun juga sangat merasa kehilangan bayi yang dikandung Luhan, Kai tersenyum lirih karena merasa tak tega pada sepupunya yang harus kembali merasakan kehilangan seseorang yang membuatnya terlihat sangat syok dan begitu pucat.

"Bangunlah..Aku tidak tahu harus bersikap padamu seperti apa nantinya, tapi yang jelas kau harus bangun. Jangan buat aku marah..Luhan." Sehun merasa seluruh tubuhnya bergetar saat nama Luhan meluncur bebas keluar dari mulutnya. Tidak seperti biasa ia memanggil nama Luhan penuh kemarahan, kali ini dia merasa sangat rindu memanggil nama yang terasa sangat pas diucapkan dan begitu sayang jika tak digumamkan.

Sehun membelalak saat merasakan tangan Luhan bergerak di genggamannya, dia kemudian tersenyum lega dan buru-buru melepaskan genggamannya pada tangan Luhan. Sehun sedikit berlari keluar ruangan Luhan, membuat Kai yang sedari tadi memperhatikannya mengernyit bingung, sepeninggal Sehun pun, Kai memasuki kamar Luhan untuk memastikan keadaan Luhan. "Luhan?" Gumam Kai yang sedikit terkejut melihat Luhan sedang mengerjapkan matanya seolah mencari tahu dia sedang berada dimana.

"Kai..." lirih Luhan saat melihat Kai berdiri tak jauh didekatnya. Luhan merasakan tangannya yang masih terasa hangat, dia bisa membuka matanya karena berharap kehangatan yang dia rasakan tak cepat menghilang, namun dia sedikit kecewa karena ternyata genggaman hangat yang ia rasakan hanyalah imajinasinya semata.

"Syukurlah Lu, syukurlah.. kau sudah bangun. Aku-... Dokterrrr... siapapun cepat kemari." Kai menghampiri Luhan dan berteriak memanggil tim medis agat cepat datang memeriksa kondisi Luhan.

Kai masih terus menggenggam tangan Luhan sambil menekan tombol yang ada di atas tempat tidur Luhan, tak lama Kyuhyun dan beberapa asistennya serta perawat pun berdatangan dan meminta Kai untuk keluar ruangan sebentar.

..

..

..

"Bagaimana Kyu?" tanya Kyungsoo terlihat sangat cemas dan memaksa ikut untuk melihat Luhan, saat Kai memberitahunya Luhan sudah sadarkan diri.

"Luhan stabil, hanya saja dia masih harus istirahat total." Katanya tersenyum memberitahu Luhan yang tampak ingin bertanya sesuatu pada Kyuhyun namun terlihat ragu karena takut mendengar jawabannya.

"Apa kau merasa sakit?" Kyuhyun bertanya pada Luhan yang hanya memandangnya kosong.

"Ba-bayiku bagaimana?" tanya Luhan yang memiliki perasaan buruk mengenai kondisi bayinya.

"Istirahatlah terlebih dulu. Aku akan memberitahumu besok pagi." Kai menaikkan selimut Luhan, namun Luhan mencengkram erat lengan Kyuhyun menuntut jawaban.

"Apa aku kehilangan bayiku?" tanya Luhan tanpa ekspresi.

"Lu… Kau harus beristira….."

"BERITAHU AKU" jerit Luhan membuat ketiga orang yang berada di ruangan itu membelalak panik karena Luhan terlihat sangat emosi.

"Luhan.. Jangan berteriak aku mohon. Kau baru saja sadarkan diri." Kyungsoo mendekati Luhan dan memeluknya erat.

"Kyung, beritahu aku bagaimana bayiku, aku mohon." Pinta Luhan putus asa.

"Kau kehilangan bayimu Lu, maaf."

Kai yang tak tahan lagi melihat Luhan sangat frustasi, akhirnya memberitahu Luhan yang melepas cengkramannya di bahu Kyungsoo.

"Hey, anakmu sudah bersama Tuhan sekarang. Kau tak perlu khawatir lagi Lu, Tuhan punya rencana untukmu." Kyungsoo menatap takut Luhan yang kembali tak berkespresi dan hanya diam tak memberikan reaksi.

"Benar, Tuhan mempunyai rencana lain untukku. Rencana untuk membuatku lebih menderita." Gumam Luhan membalikkan badannya ke arah dinding, menolak untuk bertatapan dengan ketiga temannya.

"Lu.." Kyungsoo memegang pundak Luhan namun Luhan menolaknya dan minta dilepaskan.

"Pergilah, kepalaku sangat sakit. Aku ingin istriahat." Gumam Luhan dengan suara yang datar tak berekpresi.

"Luhan, biarkan aku menemanimu." Pinta Kyungsoo yang tak rela meninggalkan Luhan sendirian.

"Kau juga sedang sakit Kyung, istirahatlah. Besok pagi kau boleh menemuiku." Balas Luhan yang masih tak mau menatap Kai, Kyuhyun dan Kyungsoo.

"Tapi Lu…"

Suara Kyungsoo tertahan saat Kai dan Kyuhyun memberikan instruksi kalau mereka harus pergi, dan dengan setengah hati, Kyungsoo mengangguk dan meninggalkan ruangan bersama Kyuhyun sementara Kai masih berada di ruangan Luhan.

"Aku akan membiarkanmu sendiri, tapi aku harus memastikan kau baik-baik saja. Apa benar kau baik-baik saja?" tanya Kai bersender di bahu Luhan yang tampak menegang

"Ya Kai.. Aku baik-baik saja." Balas Luhan masih tak bersekspresi.

"Baiklah, aku menunggu diluar. Jika butuh sesuatu kau harus memanggilku, oke."

"Hmmm…." gumam Luhan mengerti

Dan setelahnya, Kai juga meninggalkan Luhan sendirian di ruangannya. Setelah memastikan Kai dan yang lainnya pergi, Luhan berusaha menutup matanya untuk beristirahat, namun dia gagal. Karena sejak Kai memberitahu dia kehilangan bayinya beberapa menit lalu, setiap helaan nafas yang Luhan hembuskan terasa begitu menyakitkan. Dia kembali membuka matanya dan dengan tangan bergetar membelai perutnya yang tak lagi membuncit.

"Anakku sayang, maafkan eomma tak bisa menjagamu nak. Eomma ingin sekali kita bertukar posisi, harusnya kau yang hidup, jika kau hidup kau bisa menjaga appamu nak. Eomma lelah." Luhan terisak pelan sambil mengelus perutnya yang sudah kembali rata.

"Eomma yakin kau sudah bahagia dengan kakek dan nenek mu disana, eomma iri nak."

"Aku ingin sekali melihat anakku Ya Tuhan. Aku ingin membesarkannya, ingin melihat wajahnya yang cantik atau tampan. Kenapa-…kenapa Kau mengambil satu-satunya hal yang bisa membuatku bertahan. Kembalikan anakku. Arghhhhhh." Luhan tak tahan lagi, dia tak bisa menahan lebih lama rasa sesak yang begitu menghimpitnya, dia memukul keras dadanya berkali-kali, dia meronta, meraung dan berteriak sendirian di kamarnya yang begitu gelap dan terasa sangat sepi ini.

"ANAKKU…KEMBALIKAN ANAKKU..ARGHHHH." Luhan terus memukuli dirinya sendiri, berharap semua kesulitan dihidupnya tak lagi mengusik dan mengganggunya selamanya.

Kai merasa dirinya teriris mendengar jeritan Luhan yang begitu kesakitan, dia ingin sekali berlari kesana dan memeluk Luhannya yang begitu malang. Namun dia tahu, satu-satunya hal yang dibutuhkan Luhan saat ini adalah waktu untuk melampiaskan semua rasa sakitnya sendiri.

..

..

..

Dan hari-hari berikutnya berhasil Luhan lewati dengan penyesalan di setiap hembusan nafasnya, Luhan tak menolak untuk melakukan terapi, Luhan tak menolak untuk makan dan minum obat. Luhan juga tak menolak mereka semua melakukan apapun pada tubuhnya, karena Luhan beranggapan dia sudah mati, dia sudah mati secara batin semenjak dia mengetahui kalau dia kehilangan bayinya.

"Kau pulanglah kerumah Kyung, aku bosan melihatmu."

Saat ini Luhan baru saja selesai makan dan sedang meminta Kyungsoo untuk beristirahat dirumahnya karena dia sama sekali tak pernah beranjak pergi sedikitpun untuk menemani Luhan.

"Aku akan pulang setelah ini, aku akan mengambil baju ganti untukmu." Kyungsoo mengusak rambut Luhan dan memberitahu Luhan yang kini lebih serius dan tak lagi ceria seperti dulu.

"Gomawo." Katanya kembali berbaring berlawanan arah dengan Kyungsoo

Ini sudah lima hari Luhan sadarkan diri, namun Kyuhyun masih belum mengijinkan Luhan pulang karena menganngap Luhan masih memiliki trauma dan juga karena benturan keras di kepalanya membuat Luhan harus diperiksa secara rutin dan spesifik.

"Kyung.." Luhan berbalik arah menatap Kyungsoo yang tampaknya sedih dengan perubahan sikap Luhan

"Ada apa hmmm." Tanyanya membenarkan poni Luhan.

"Kapan aku boleh pulang?" tanyanya penuh harap

"Nanti setelah Kyuhyun bilang kau lebih baik." Katanya menjawab Luhan dan mengelus sayang pipi Luhan

"Kapan?" tanyanya lagi.

"Sebentar lagi Lu." Ujar Kyungsoo berusaha menghibur Luhan.

"Kenapa tak biarkan aku mati saja. Itu akan lebih baik untukku." ujarnya kembali berbalik arah ke arah berlawananan dengan Kyungsoo.

"Lu…" Kyungsoo mendesah frustasi karena Luhan sama sekali tak memiliki semangat hidup lagi.

"Bawakan aku selimut favoritku jika kau pulang. Selimut ini bau, aku tak bisa tidur." Katanya berusaha memejamkan mata dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya.

"Baiklah. Aku akan segera kembali Lu." Kyungsoo tak mau membuat Luhan kembali emosi karena dia memaksanya, dan dengan berat hati dia meninggalkan Luhan sendirian di ruangannya.

..

..

..

Kyungsoo kembali kerumah Sehun untuk mengambil selimut pesanan Luhan, dia kembali terenyuh saat menyadari bahwa di lemari Luhan sudah ada beberapa baju bayi yang ia persiapkan untuk anaknya. Kyungsoo mengeluarkan sepasang piyama berwarna biru bergambar rusa yang Luhan siapkan, tangannya bergetar saat membuka piyama biru itu, dia bisa membayangkan bagaimana bahagianya wajah Luhan saat membelikan piyama lucu untuk anaknya tersebut. "Luhan…" gumamnya memeluk erat piyama yang Luhan siapkan untuk anaknya.

Kyungsoo kembali melipat piyama kecil itu dan meletakkan kedalam laci saat mendengar suara pintu rumah terbuka, dia sebenarnya tak mau bertatapan dengan Sehun, dia tidak mau melihat wajah menjijikan Sehun saat ini, dia segera mengambil selimut Luhan dan berniat segera pergi dari rumah majikannya itu.

Cklek!

Kyungsoo berhadapan dengan Sehun yang tampaknya baru pulang dari kantor dan sedang meminum air dari kulkas.

"Kau datang? Apa Luhan sudah pulang?" tanyanya terdengar dingin namun penuh harap.

"Bukan urusanmu." Balas Kyungsoo tak sudi membalas Sehun.

Sehun menggeram kesal karena Kyungsoo sudah sangat berani padanya, dia kemudian mencengkram erat lengan Kyungsoo agar Kyungsoo memberitahunya. "Mau bagaimanapun dia istriku. Aku berhak tahu." Hardik Sehun membuat Kyungsoo memandang jijik padanya.

"Lepaskan aku sialan!" geram Kyungsoo menghempaskan cengkraman Sehun pada lengannya.

"Apa benar kau peduli padanya? Jika benar, DATANG DAN TEMUI DIA DI RUMAH SAKIT.'" Teriak Kyungsoo membuat Sehun mentap tak percaya padanya.

"Kau!" geram Sehun tak percaya Kyungsoo bisa seberani ini padanya.

"Seluruh dari Luhan sudah hancur, radang selaput otaknya memburuk, dan dia terus berharap segera mati agar menyusul anak dan kedua orang tuamu." Kyungsoo yang sedikit lebih tenang memberitahu keadaan Luhan pada Sehun.

Sehun tampak membeku dengan pernyataan lain yang ia terima tentang Luhan "Apa maksudmu radang selaput otaknya memburuk?" tanya Sehun menaikkan kedua alisnya.

"Kau bisa bahagia Sehunna, karena mungkin sebentar lagi Luhan akan benar-benar mati. Terimakasih untukmu." Desis Kyungsoo menabrak kasar pundak Sehun dan segera pergi meninggalkan Sehun yang terlihat syok dengan semua berita yang ia terima tentang Luhan.

Dia pikir Luhan baik-baik saja, dia pikir Luhan akan segera pulang kerumah dengan keadaan yang sehat. Namun kenyataan yang baru saja diberitahukan padanya, membuat Sehun merasa harus tahu tentang keadaan pria yang berstatus istrinya tersebut. Dan dengan tergesa, Sehun mengambil kunci mobilnya dan segera pergi kerumah sakit untuk bertanya pada Kyuhyun.

..

..

..

BRAK!

Terdengar suara pintu ruangan Kyuhyun didobrak dengan kasar dan menampilkan Sehun yang cukup terengah dengan wajah penuh tanyanya. Kyuhyun yang sedang sibuk dengan laporannya pun hanya sedikit terkejut dan menatap kesal pada Sehun kemudian dia mengabaikan Sehun dan kembali fokus pada laporannya.

"Jelaskan padaku kondisi Luhan." Geram Sehun karena Kyuhyun tampak tak suka dengan kedatangannya.

Kyuhyun mendelik sekilas pada Sehun yang membuat keributan dan memcoba tak menghiraukannya membuat Sehun semakin geram karenanya. "Cih, Apa pedulimu." Cibirnya membuat Sehun benar-benar kehilangan kesabarannya

"Kau! AKU BILANG JELASKAN PADAKU!" Teriak Sehun mencengkram erat kemeja Kyuhyun yang juga menatap tajam ke arah Sehun.

"Lepaskan." Desis Kyuhyun menatap tak suka pada Sehun.

"Jelaskan padaku." Sehun juga tak mau kalah membuat Kyuhyun juga kehilangan kesabarannya.

"Aku bilang lepaskan!" Teriak Kyuhyun melepas paksa cengkraman Sehun secara paksa. "Apa yang kau mau?" Tanyanya kembali duduk ke mejanya dan mulai meladeni Sehun yang tampak menggila.

"Luhan.." katanya dengan mata menyala.

Kyuhyun kemudian membuka dokumen Luhan dan mulai membacakan kondisi Luhan.

"Luhan didagnosa mengidap radang selaput otak, dan peradangannya semakin parah karena pola makan dan gaya hidupnya yang jauh dari kata sehat, ditambah lagi benturan yang selalu ia terima dikepalanya dengan keras. Hal itu membuatnya benar-benar terinfeksi radangbselaput otak. Untuk saat ini kondisinya masih stabil. Tapi dengan berlalunya hari, jika tidak diobati Luhan akan mengalami kasus dimana dia mulai merasakan sakit kepala yang teramat, muntah-muntah hebat penglihatan berkurang dan..."

"Apa dia akan mati?" Sehun memotong ucapan Kyuhyun dan membuat Kyuhyun menatapnya tak percaya.

"Ya... jika itu yang kau mau, dalam hitungan bulan Luhan akan mati." Katanya mendesis tajam ke arah Sehun.

"Tidak.. dia tidak boleh mati begitu saja." Gumam Sehun bergetar ketakutan menatap Kyuhyun yang tampak bingung dengan reaksi Sehun.

"Bagaimana cara menyembuhkannya?" Tanyanya pada Kyuhyun.

"Bawa dia terapi secara rutin dan aku akan memberikannya vaksin, dengan begitu aku rasa kondisinya akan lebih baik. Tapi mengingat kondisinya yang baru saja kehilangan bayinya, aku ragu dia akan sembuh."

"Tidak. Dia harus sembuh, hanya aku yang berhak menentukan hidup dan matinya." Ujar Sehun menyalak dan begitu terdengar sangat jahat.

"SEHUN!" Kyuhyun membentak Sehun yang sudah sangat keterlaluan.

Namun Sehun mengabaikan teriakan Kyuhyun dan berlari menuju ke ruangan Luhan berada.

..

..

..

"Lu, kau belum minum obatmu siang ini. "

Di perjalanan masuk kedalam kamar Luhan, Sehun mendengar suara Kyungsoo yang sedang meminta Luhan untuk meminum obatnya. karena penasaran Sehun sedikit menoleh untuk melihat dan cukup kesal melihat Luhan yang memang terlihat tak ingin sembuh.

"Setelah minum obat lalu apa?" Katanya bertanya pada Kai dan Kyungsoo yang memandangnya frustasi.

"Tak apa kau tak mau minum obat, tapi katakan padaku jika kau merasa sakit hmm."Kai mengusak rambut Luhan dan menggenggam tangan Luhan erat.

"Ya" balasnya yang kembali berbaring ke arah berlawanan dimana Kai dan Kyungsoo berdiri.

Sehun yang tak suka melihat adegan dimana Kai menyentuh "miliknya" pun melangkah masuk membuat Kyungsoo dan Kai menoleh dan mencoba mengusir Sehun yang terus berjalan mendekati Luhan.

"Luhan..."

Dia pun memanggil Luhan yang nampaknya sudah tertidur, namun si pemilik nama langsung membuka matanya cepat dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Suara yang sudah seminggu ini tak ia dengar dan jauh didalam hati Luhan yang paling dalam, dia bersyukur kalau pria yang berstatus sebagai suaminya ini tampak baik-baik saja.

"Mau apa kau kesini? Pergi!" Kyungsoo tanpa berbasa basi oangsung menghadang Sehun yang ingin mendekati Luhan.

Sehun tentu saja tak bergeming dengan teriakan Kyungsoo.. matanya terus menatap Luhan yang kini sedang melihat ke arahnya.

"Pergi atau aku akan memanggil security. Kai usir dia." Pekik Kyungsoo yang benar-benar terlihat sangat marah pada Sehun.

"Kyungiee..." Luhan memnaggil Kyungsoo yang terlihat sangat emosi.

"Ada apa Lu? Kau kenapa?" Tanyanya beralih menghampiri Luhan.

"Biarkan Sehun disini." Katanya memegang tangan Kyungsoo yang terasa menegang.

"Tapi Lu..." Kyungsoo mendesah frustasi.

"Kita keluar sebentar Kyung, biarkan mereka bicara." Kai yang mendengar ucapan sepupunya malam itu, memutuskan bahwa Sehun memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Luhan.

"Dia akan menyakiti Luhan lagi." Katanya memberitahu Kai

"Jika dia melakukannya lagi, aku bersumpah akan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri." Geram Kai menatap tajam ke arah Sehun, seolah memberi peringatan pada Sehun untuk tak berbuat sesuatu yang menyakiti Luhan.

"Kami ada diluar jika kau membutuhkan kami Lu.." Kai memberitahu Luhan dan mendekap Kyungsoo yang masih tak rela meninggalkan Luhan berdua dengan Sehun.

Sepeninggal Kai dan Kyungsoo, Sehun dan Luhan hanya diam tak bicara, keduanya saling menatap menyampaikan perasaan masing-masing ya g msreka rasakan, sampai akhirnya Luhan membuka suaranya.

"Aku senang kau datang. Kau baik-baik saja kan?" Katanya bertanya pada Sehun ya g kemudian kembali menatapnya tajam.

"Cih... bagaimana bisa kau mengkhawatirkanku sementara dirimu sendiri terbaring disana." Katanya mencibir Luhan yang hanya bisa tersenyum maklum dengan nada kasar Sehun saat berbicara.

"Aku senang kau baik." Gumam Luhan seolah Sehun menjawab pertanyaan Sehun.

Sehun menatap kesal pada Luhan yang terus mengabaikanbsemua pertanyaan maupun pernyataannya.

"Kenapa kau tak memberitahuku?" Sehun sedikit mengatupkan rahangnya menuntut jawaban dari Luhan.

Luhan menaikkan kedua alisnya tak mengerti "Memberitahu apa?"

"Kau!" Sehun menghela kasar nafasnya, hendak memaki Luhan namun dia menahannya.

"Kenapa kau tak mengatakan kalau kau hamil." Ujarnya memaksa Luhan untuk menjawabnya.

"Oh.." Luhan tersenyum pahit karena ternyata Sehun sudah mengetahui kehamilannya dan kini Sehun juga mengetahui kalau mereka baru saja kehilangan bayi mereka.

"Luhan!" Suara Sehun sedikit membentak kesal karena Luhan tak berbicara apa-apa sama sekali.

"Untuk apa?" gumam Luhan bertanya membuat Sehun menatap ke arahnya.

"Untuk apa aku memberitahumu Sehun? Apa jika kau tahu aku hamil kau akan memperlakukanku dengan lebih baik? Kau mungkin bisa menyakitiku sepuasmu, tapi aku bersumpah tak akan membiarkanmu menyentuh bayiku." Katanya bergetar menatap Sehun yang tercengang dengan penuturan Luhan.

"Aku ingin memberitahumu-..ingin sekali memberitahumu, tapi aku takut kau akan memaksaku untuk menggugurkan anakku. Aku lebih memilih kau membunuhku secara langsung daripada kau memaksaku menggugurkan anakku."

"Kenapa kau berfikir seperti itu? Kenapa kau berfikir aku akan memintamu untuk menggugurkan anakmu? Darah dagingku?" Sehun menyela ucapan Luhan yang sudah mulai berkaca-kaca.

Luhan tersenyum pahit dan menatap Sehun dengan sedih "Karena kau membenciku." Ujarnya memberitahu Sehun yang entah kenapa merasa ada sesuatu yang menusuk bagian didalam hatinya karena ucapan Luhan.

"Aku memang membencimu, tapi aku masih mempunyai hati untuk tidak memintamu menggugurkan darah dagingku. KARENA MAU BAGAIMANAPUN JUGA DIA ANAKKU." Sehun berteriak dilkalimat terakhir seakan menunjukkan kalu dia juga merasa kehilangan atas keguguran Luhan

Luhan hanya bisa menatap Sehun dengan pandangan bingung dan tak tahu harus bagaimana, hatinya menghangat mengetahui Sehun ternyata menginginkan darah dagingnya, namun kemudian seribu tusukan jarum seakan menancap di hati Luhan saat menyadari kalau dia telah kehilangan malaikat kecilnya untuk selama-selamanya.

"Maaf..Maafkan aku sudah menjadi ibu yang buruk untuknya. Aku membiarkannya pergi untuk selamanya, Aku-..Aku minta maaf Sehunna, aku sudah kehilangan malaikatku."

Luhan tak mampu lagi berbicara, menyampaikan semua yang ia rasakan, dia menutup kedua wajahnya dengan telapak tangannya dan terisak sangat memilukan untuk didengar dan dilihat saat ini.

"Aku merindukan bayiku Sehunna, Aku merindukannyaa." Jerit Luhan merasa semua ini terlalu menyesakkan untuk dibicarakan.

Sehun ingin sekali berjalan ke arah Luhan memeluk sosok yang kembali menyalahkan dirinya atas kehilangan yang telah ia alami, Sehun ingin mengatakan kalau semua akan baik-baik saja, namun pergerakan tubuhnya seakan terkunci tak bisa bergerak, hati dan otaknya kembali berlawanan. Dia kembali merasakan perasaan yang sudah ia kubur dalam-dalam jauh di sudut paling dalam di hatinya, perasaan ingin melindungi, perasaan ingin menghapus air mata pria cantiknya, namun pikirannya terus menguasainya, pikiran yang terus mengingatkan kalau pria didepannya lah yang bertanggung jawab atas hidupnya yang sekarang, hidup yang harus ia jalani tanpa kedua orang tuanya yang sangat ia cintai,

Karena itu, Sehun memutuskan hanya tetap berdiri di tempatnya sekarang sambil terus memperhatikan Luhan yang termakan rasa bersalahnya, Luhan terus menangis, berteriak mengatakan merindukan bayinya dengan frustasi dan sangat memilukan, dan Sehun-.. Sehunnya hanya bisa berdiam mengepalkan tangannya melihat apa yang telah ia lakukan pada pria didepannya yang sedang merasakan duka yang teramat dalam.

..

..

..

Tiga hari kemudian, Luhan sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah jauh lebih baik. Walau begitu, Kai dan Kyungsoo tahu kalau hanya kondisi fisik Luhan yang lebih baik, mereka tahu jauh didalam hati Luhan, pria kecil mereka hancur dan tak memiliki semangat untuk menjalani hidupnya lagi.

"Kau sudah siap Lu?" Kai bertanya menggenggam tangan Luhan yang terasa dingin, Luhan tersenyum lemah dan mengangguk menandakan dia sudah siap untuk pulang.

Baru saja berjalan beberapa langkah menuju pintu keluar ruangan, langkah mereka semua terhenti saat seseorang yang tampak terengah menghadang mereka.

"Mau apalagi kau?" Kyungsoo menarik Luhan ke belakangnya agar tak bertatapan langsung dengan Sehun yang sepertinya ingin membawa Luhan pulang dengannya.

"Berani sekali kalian tak memberitahuku kalau dia keluar hari ini." desis Sehun yang sangat terkejut saat orang suruhannya memberitahu bahwa Luhan sudah diperbolehkan pulang hari ini. Tanpa berfikir dua kali Sehun langsung meninggalkan rapat pentingnya dan berlari kerumah sakit karena tahu benar kalau Kai dan Kyungsoo akan membawanya pergi darinya.

"Untuk apa memberitahumu?" kini Kai yang berbicara menantang Sehun.

Sehun yang sedang tak ingin membuat keributan mengabaikan Kai dan Kyungsoo yang sangat membencinya dan menatap ke arah Luhan yang tampak kebingungan. "Ayo kita pulang." Katanya mengulurkan tangannya pada Luhan yang berdiri diantara Kai dan Kyungsoo yang menghimpitnya.

"Aku memang akan pulang Sehunna." Balas Luhan memberitahu.

"Tidak Lu, kau tidak akan pulang kerumah neraka itu lagi. Aku sudah membelikanmu apartemen. Kyungsoo akan tinggal bersamamu untuk menjagamu." Kai beralih menatap Luhan berharap Luhan tak menolak tawarannya.

Luhan menimbang-nimbang ucapan Kai, dia sangat senang mengetahui tak perlu lagi kembali kerumah yang hanya bisa memberikannya rasa sakit, namun jauh didalam hatinya yang paling dalam, dia tahu kalau dirinya dan rumah Sehun sudah terikat. Dia tidak akan pernah merasakan rumah seperti yang dia rasakan dirumah Sehun.

Luhan tersenyum menatap Kai dan Kyungsoo bergantian, kemudia dia menggeleng lemah "Rumahku di rumah Sehun. Aku tidak akan pergi darisana kecuali Sehun mengusirku. Itu janjiku pada kedua orang tua Sehun." Katanya memberitahu Kai dan Kyungsoo yang kembali mendesah frusatasi karena Luhan masih saja bersikeras tinggal dirumah yang selalu memberikannya rasa sakit dan tangisan. Sementara Sehun kembali hanya diam mendengar penuturan Luhan yang sepertinya memang sudah membuat janji dengan kedua orang tuanya.

"Ayo kita pulang." Luhan menyeruak diantara Kai dan Kyungsoo kemudian berjalan gontai melewati ketiga orang yang menatapnya dengan pikiran masing-masing mengenai keputusan Luhan.

Sehun sendiri langsung mengejar Luhan yang berjalan didepannya dan berniat memastikan kalau Luhan benar-benar pulang kerumahnya. Rumah mereka.

Cklek!

Sehun membukakan pintu rumahnya dan Luhan mengikutinya dari belakang, tak banyak bicara, Luhan pun segera menuju gudang yang sudah menjadi kamarnya selama tujuh tahun ini, meninggalkan Sehun yang kembali hanya bisa melihat Luhan tanpa berbicara apapun.

Luhan sedikit takut untuk masuk kekamarnya, karena disana, di gudang yang merupakan kamarnya sudah menjadi saksi dimana Luhan dan bayinya menghabiskan waktu bersama, waktu dimana Luhan merasa sangat mual, waktu dimana bayinya menendang dan waktu dimana Luhan bercerita banyak hal tentang hari yang ia jalani dan bagaimana Sehun bersikap lebih baik padanya. Luhan awalnya enggan masuk kedalam gudang itu, namun dia tak punya pilihan lain karena satu-satunya tempat yang boleh ia tempati adalah gudang tua tersebut.

Luhan kemudian perlahan membuka pintu gudangnya dan seketika bayang-bayangnya sewaktu mengandung terus berhamburan di benaknya, menyeruak keluar seolah meminta Luhan untuk tidak melupakannya.

Hatinya kemudian memelas melihat satu lemari kecil yang ia tahu benar isinya adalah pakaian, sepatu dan beberapa kaus kaki hangat yang sengaja ia siapkan untuk calon bayinya nanti. Luhan perlahan mendekati lemari itu dan berjongkok membuka lemari yang berisi pakaian calon bayinya dulu.

Matanya memanas saat dia mengambil sepasang kaus lengkap dengan jasnya yang berwarna biru bergambar rusa ditangannya, Luhan membayangkan bagaimana tampannya putranya nanti jika dia memakai jas itu, kemudian dia mengambil dress biru selutut seperti Snow white dan membayangkan jika putrinya yang memakai dress tersebut.

Saat ini Luhan sedang menahan rasa sakit luar biasa yang ia rasakan setiap dia menghembuskan nafasnya, dia kemudian memeluk erat baju-baju yang ia siapkan. "Maaf nak. Maafkan eomma nak. Eomma ingin sekali melihat kalian tumbuh dan memakai pakaian yang aku siapkan, maaf nak. Maafkan eomma. Eomma sangat menyayangi kalian."

Luhan menggigit keras bibir bawahnya, menahan teriakan yang sepertinya tak kuasa ia tahan lagi. Dia kemudian tertidur lemas masih memeluk erat jas dan dress yang sengaja ia pilihkan untuk calon bayinya nanti "Ya Tuhan. Aku mohon kembalikan anakku. Kembalikan anakku arghhhhhhh." Luhan kembali menggigit keras bibirnya hingga berdarah dan tak lama tertidur karena terlalu lelah dan berharap kalau semua yang ia alami segera berakhir.

Sehun yang memang sengaja mengambil air minum didapur, mendengar semua teriakan Luhan, dirinya hanya bisa memejamkan matanya mendengar setiap rintihan Luhan yang terdengar sangat putus asa tanpa tahu harus melakukan apa.

..

..

..

Luhan terbangun tengah malam, karena merasa kepalanya sakit dan dia sangat haus, namun dia mengernyit bingung karena dia tahu benar dia bangun bukan di gudang tempat biasa ia tidur. Dia bangun di kamar yang ia ketahui kamar tamu. Kamar yang selalu membuatnya dipukuli Sehun karena tak sengaja tertidur disana.

Tak mau membuat Sehun kembali marah, Luhan perlahan bangun dari tidurnya dan kembali mengernyit saat melihat dirinya memakai piyama yang ia tebak milik Sehun, karena aroma Sehun sangat tercium dari piyama tersebut. Luhan semakin bingung dan memutuskan untuk mencari Sehun dan bertanya pada Sehun.

Namun sesampainya di ruang kerja Sehun, Luhan tampak ragu bertanya karena sepertinya Sehun sedang terburu-buru ingin pergi, dia pun berbalik arah dan berniat menuju gudang sampai suara khas Sehun menginterupsinya.

"Kau mau kemana?" tanya Sehun pada Luhan yang sudah mendekati gudang.

Luhan berbalik arah dengan takut dan memandang Sehun yang sedang menatapnya tajam "Kembali kekamarku." Balasnya memberitahu Sehun.

"Kamarmu disana sekarang. Tak perlu tidur di gudang. Lagipula aku sudah membuang barangmu yang di gudang, barang itu nampak tak berguna lagi."

Luhan tampak membelalak dengan ucapan Sehun dan bergegas melihat ke gudang yang memang benar sudah kosong tak tersisa apapun. Luhan merasa sangat sakit hati dan perlakuan Sehun yang selalu sesukanya terhadap barang-barangnya.

Dia menghapus cepat air matanya dan keluar gudang dengan perasaan sangat terhina dan sangat tak berguna "Tega sekali kau." Katanya berteriak menangis menyalahkan Sehun.

"Kenapa kau membuang barang-barangku. Kenapa kau membuang kenangan tentang anakku." Katanya menjerit mendekati Sehun dan untuk pertama kalinya berani memukuli tubuh Sehun yang tentu tak terasa sakit sama sekali.

"Untuk apa kau melihat barang-barang itu lagi? Kau hanya akan teringat pada anak yang tak pernah lahir itu." Geram Sehun mencengkram erat pergelangan tangan Luhan

'DIA ANAKKU SEHUNNA" Luhan kembali menjerit mencengkran kemeja Sehun erat.

"DIA SUDAH MATI, KAU TAK MEMBUAT KEADAAN LEBIH BAIK." Sehun juga berteriak berusaha memberitahu Luhan agar dia tak mengharapkan anaknya hidup kembali, karena itu sama sekali tak mungkin terjadi.

Luhan tercengang dengan ucapan Sehun, dia tahu Sehun membencinya, tapi ucapan Sehun tentang anak mereka yang baru saja pergi selamanya, membuat Luhan semakin yakin kalau Sehun sama sekali tak menginginkan kehadiran seorang anak untuknya.

Luhan tertawa pahit dan jatuh memeluk kaki Sehun "Ya benar, anakku sudah mati." Katanya terisak mencengkram dadanya sendiri.

"Kalau begitu, bukankah lebih baik untuk kita berdua jika aku juga mati? Aku mohon bunuh aku Sehunna, aku tak tahan." Katanya mendongak menatap Sehun dengan terisak. "Bunuh aku Sehunna, buat aku bertemu dengan ayah dan ibumu juga anak kita. Aku ingin bahagia." Katanya sedikit menjerit memeluk kaki Sehun erat.

Sehun tak tahu sebegitu besar keinginan Luhan untuk mengakhiri hidupnya, dia tak tahu kalau semua yang Luhan inginkan hanya sesuatu yang bisa membuatnya mempunyai alasan untuk bertahan hidup, dan Sehun jelas bukanlah hal yang bisa membuat Luhan bertahan karena dia merupakan alasan terkuat kenapa Luhan ingin mengakhiri hidupnya.

Sehun bergetar, namun bukan karena marah dia sedikit merasa takut jika pada akhirnya pria yang memohon untuk mati dibawahnya ini benar-benar pergi selamanya dari hidupnya, harusnya Sehun berjongkok memeluk Luhan dan menenangkan istrinya, harusnya dia mengucapkan kata-kata menghibur bukan kata-kata yang semakin membuat Luhan frustasi. Namun semua keharusan yang harusnya dilakukan Sehun kembali tertahan oleh Sehun, dia masih menolak jika pada akhirnya dia kembali memiliki perasaan pada Luhan.

Sehun berjongkok didepan Luhan dan memegang dahunya sedikit kasar "Aku akan membunuhmu saat waktunya tepat nanti. Sekarang kau tak boleh memohon untuk dibunuh, karena semakin kau meminta, aku akan semakin mengabaikannya. Kau mengerti?" gertak Sehun membuat Luhan kembali menatap Sehun dengan tatapan takut.

"Mungkin aku akan mengabulkan keinginanmu untuk mati lebih cepat saat aku pulang nanti, sekarang aku harus mengurus kedua bajingan yang kembali telah tertangkap."

Pertanyaan Sehun membuat Luhan bertanya-tanya, namun seolah bisa membaca isi pikiran Luhan, Sehun tersenyum meremehkan dan kembali memegang dagu Luhan "Orang tuamu sudah ditangkap, mereka akan segera diberi hukuman lebih berat. Tapi aku ingin berbicara dengan mereka. Ada banyak hal yang harus aku tanyakan pada mereka, termasuk apa kau terlibat dengan pelarian mereka atau tidak." Katanya menggeram marah memberitahu Luhan

Sehun memang selalu sangat emosi jika nama kedua orang tua Luhan disebutkan, dia merasa ingin membunuh kedua orang itu dengan tangannya sendiri setiap mereka bertatapan. Namun kali ini, Sehun ingin memastikan sendiri bahwa hukuman yang diterima orang tua Luhan berkali-kali lipat lebih berat bahkan tak ada kemungkinan untuk dibebaskan.

"Aku tak membantu mereka Sehunna." Katanya memberitahu Sehun yang tak percaya pada semua ucapannya.

"Semoga ucapanmu benar. Karena jika benar kau terlibat, aku bersumpah kau akan menyesalinya." Gumamnya sedikit mencengkram dagu Luhan kasar membuat Luhan sedikit meringis kesakitan.

"Aku pergi. Jangan berbuat macam-macam selama aku pergi." katanya mengingatkan Luhan dan melenggang pergi meninggalkan Luhan yang masih terduduk dilantai.

"Kapan Sehunna?"

"Kapan kau akan mencintaiku lagi?" lirih Luhan tertidur di lantai dan mendekap dirinya erat, dia merasa sepi..sangat kesepian.. namun dia tahu tak ada lagi yang bisa menghiburnya karena sekali lagi Luhan merasa tak memiliki harapan bahwa Sehun akan kembali mencintainya dan menjadi Sehunnya yang seperti dulu. "Aku mencintaimu." Gumamnya memperhatikan Sehun yang terus menjauh dan tak pernah kembali untuknya lagi.


tobecontinued..


kok gue ngerasa Sehun makin brengsek aja ya :(

.

tenang aja...Sehun masih bego aja itu belum pinter..nanti kalo udah pinteran dikit baru deh nyadar.. chap depan si kayanya.. *barukayanya :p

.

happy reading, review and crying :"))