"You can hate me. You can go out there and do anything you want to me,

But you will love me later because I told you the truth."


Last Hope

Main Cast : Xi Luhan & Oh Sehun

Genre : Romance, Family, Hurt

Rate : T-M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s). M-preg.

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

.

.


Sehun membuka kaca mata hitamnya saat ia sampai di kantor polisi, tempat dimana pembunuh kedua orang tuanya kembali ditahan. Sehun memasuki kantor polisi tersebut dengan kemarahan dan seringaian yang tergambar jelas di wajahnya.

"Aku ingin bertemu dengan mereka."

Sehun memberi perintah kepada detektif sekaligus pengacaranya untuk mempertemukan dia dengan pembunuh kedua orang tuanya.

Kim Junmyeon, atau yang biasa Sehun panggil dengan sebutan Suho, mengangguk mengerti dengan kemauan klien sekaligus teman dekatnya sewaktu di bangku kuliah ini.

Dan tak lama, Sehun pun memasuki ruangan tempat dimana dia akan berbicara langsung dengan kedua orang tua Luhan dan memastikan hukuman yang diterima mereka kali ini benar-benar berat.

"Aku sudah duga bocah sombong ini yang memaksa bertemu." Terdengar suara seorang wanita yang dibawa oleh petugas polisi untuk bertemu dengan Sehun, dan tak lama petugas itu meninggalkan Sehun dan ibu Luhan berdua didalam ruangan.

"Aku senang melihat kau dengan pakaian itu lagi." Ujar Sehun dengan nada penuh kebencian di suaranya.

"Cih, sayang sekali si bocah idiot itu menyelamatkanmu, karena kalau dia tidak datang dengan tiba-tiba, aku pasti sudah berhasil membunuhmu." Geram nyonya Kim menatap benci pada Sehun yang terus menyeringai ke arahnya.

"Apa kau sedang dikhianati putramu sendiri hmmh?" Sehun mengejek nyonya Kim membuat ia mengernyit bingung menatap Sehun.

"Dia sudah mengkhianatiku sejak orang tua sialanmu membelinya dari kami dan mengangkatnya menjadi anak!" gertak nyonya Kim membuat Sehun yang kini mengernyit.

"Jika tahu dengan mengangkatnya sebagai anak membuat kedua orang tuaku terbunuh, aku juga tidak akan membiarkan anakmu diadopsi orang tuaku." Kini Sehun yang berteriak membuat nyonya Kim terkekeh mendengarnya.

"Cih, aku juga bersyukur si sialan itu bukan anakku. Dia sama sekali tak berguna." Desis nyonya Kim membuat Sehun kembali terpancing emosinya

BRAK!

"Bagaimana bisa orang sepertimu bisa menjadi seorang ibu. Kau bahkan tak pernah memanggil namanya. APA KAU SUDAH GILA?" Sehun setengah berdiri dan menggebrak meja menatap marah pada wanita paruh baya yang tampak sangat membencinya ini. Tapi ada hal yang mengganjal untuk Sehun, entah kenapa dia merasa sangat tak suka Luhan dipanggil sialan oleh wanita pembunuh didepannya ini, dia merasa ada sesuatu yang selalu ia lewatkan sedari dulu.

"Kau tetap bocah sombong yang tak peduli dengan sekitarmu hah?"

"APA SI SIALAN ITU BELUM MEMBERITAHUMU KALAU DIA BUKAN ANAK KAMI? APA SI SIALAN ITU JUGA TAK MENGATAKAN PADAMU KALAU AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUHNYA SETELAH KAMI MEMBUNUHMU?"

Suasana di ruang pertemuan itu seketika hening, keduanya masih menetralkan nafas karena emosi masing-masing. Namun berbeda dengan wanita yang selama ini ia anggap sebagai orang tua Luhan, Sehun merasa sesuatu menghantam keras hatinya membuat dirinya seketika melemas dengan ucapan tak terduga yang keluar dari mulut wanita tua ini.

"A-apa maksudmu?" Sehun kembali terduduk di kursinya karena tiba-tiba kakinya melemas.

"Sepertinya aku terlalu banyak bicara." Nyonya Kim tak berniat melanjutkan pembicarannya.

"Katakan padaku." Desis Sehun namun sebelum berhasil membuat wanita tua ini bicara, dua penjaga sudah datang masuk kedalam ruanganya dan mengatakan waktu berkunjung telah habis.

"Cepat bawa aku pergi darisini." Ujar nyonya Kim menyeringai ke arah Sehun yang tampak frustasi.

"Tidak-.. Dia tak boleh pergi. jangan bawa dia." Sehun meronta masih menuntut jawaban dari wanita tua ini yang membuatnya sangat frustasi.

"Sehun tenangkan dirimu." Suho menahan lengan Sehun, membuat Sehun menatapnya tajam

"Lepaskan aku hyung! Dia menyembunyikan sesuatu." Teriak Sehun namun tak ada yang mendengarnya.

"SEHUN!"

Teriakan Suho membuat Sehun kembali terduduk di kursinya "Aku rasa aku melewatkan sesuatu." Gumamnya yang langsung pergi meninggalkan Suho di ruang tunggu sel tahanan.

..

..

..

Malam harinya Sehun kembali kerumahnya dengan rasa frustasi dan terlihat sangat berantakan. Bagaimana Sehun tak terlihat kacau, hari ini dia menemukan kenyataan yang sangat sulit untuk diterimanya, dia pergi kerumah sakit hari ini dan bertanya tentang apa yang terjadi 24 tahun yang lalu di Seoul Hospital. Dan kenyataannya yang diterimanya ialah, bahwa Luhan-.. pria yang selama ini ia tuduh sebagai anak pembunuh dan komplotan kejahatan Tuan dan Nyonya Kim ternyata sama sekali tak memiliki hubungan darah dengan tuan dan Nyonya Kim, Luhan hanya korban penculikan dan sialnya, harusnya Sehunlah yang berada di posisinya, bukan Luhan.

Cklek!

Sehun membuka pintunya dan masuk kedalam rumahnya dengan gontai.

"Sehun kau sudah pulang? Duduklah, aku sudah membuatkan makan malam untukmu."

Terlihat Luhan yang memakai perban di lengannya dan plester di sekitar pelipisnya menyapa Sehun seperti biasa dengan senyum tulusnya. Sehun sendiri hanya tersenyum pahit mengingat dialah orang yang harusnya bertanggung jawab atas luka dan memar Luhan

Pada bulan April tahun 1990, ada dua bayi yang lahir di rumah sakit kami. Satu bermarga Oh dan satu tak memiliki marga, karena setelah melahirkan, ibunya melarikan diri dari rumah sakit.

Sehun terenyuh mengingat ucapan pihak rumah sakit mengenai status Luhan yang memang sudah dibuang dan tak diinginkan sejak bayi.

Sehun memperhatikan sosok Luhan yang tampak kesakitan karena lengannya cidera akibat ulahnya dan tetap sibuk menyiapkan makan malam untuknya.

Namun pada malam berikutnya, salah satu bayi hilang dan tak berada di box bayi. Menurut laporan polisi, bayi itu diculik dan diperkirakan si penculik salah mengambil bayi. Karena seharusnya bayi Oh yang dibawa pergi. ID bayi Oh dan bayi tak bermarga itu terjatuh, membuat si penculik kebingungan dan mengambil asal salah satu bayi, tetapi kami bersyukur karena bukan bayi Oh yang diculik, karena jika mereka berhasil mengambil bayi Oh, sudah dipastikan mereka akan menyakiti bayi Oh karena meminta tebusan uang yang sangat banyak.

Sehun kembali tersenyum pahit dan sedikit mendesah tak percaya menemukan kenyataan bahwa Luhan sudah melindungi dirinya bahkan saat mereka masih bayi, Sehun juga mengira-ngira pasti kedua bajingan itu sudah menyiksa Luhan sejak bayi.

Sehun perlahan bangun dari kursi meja makannya dan berjalan menghampiri Luhan yang tampak kesulitan menyiapkan makan malam untuknya.

Tidak- Bayi tak bermarga itu tak pernah kembali, kami menebak mungkin si penculik sudah menjualnya dan kemungkinan paling buruk adalah mereka menyiksa bayi tak berdosa itu.

"Mereka menyiksanya." Sehun bergumam mengepalkan tangannya erat dan terus mendekati Luhan secara perlahan.

Sret!

Sehun menggenggam erat lengan Luhan yang diperban membuat tubuh Luhan refleks menegang karena takut Sehun akan kembali memukulnya.

"Aku tak lapar." Katanya dengan suara dingin menatap tajam Luhan.

"Maaf aku membuatmu menunggu lama. Tapi sebentar lagi akan selesai, tunggulah sebentar." Kata Luhan dengan nada ketakutan yang sembunyikan mati-matian.

"Aku tak lapar." Desis Sehun mengulang kalimatnya membuat Luhan kini bergetar ketakutan, Sehun sedikit merasa ada bagian dihatinya yang terasa diiris melihat Luhan bergetar takut saat menatapnya.

"Baiklah kau tak lapar. Aku permisi kembali kekamar." Katanya melewati Sehun dan sedikit berlari menuju kekamarnya.

"Kenapa kau tak mengatakannya?" Sehun sedikit berteriak membuat Luhan berhenti di tempatnya, dia kemudian perlahan menoleh ke arah Sehun dengan takut.

"Mengatakan apa?" katanya memberanikan diri bertanya.

"KENAPA KAU TAK PERNAH MENGATAKAN KALAU KAU BUKAN ANAK PEMBUNUH ITU."

Teriakan Sehun membuat Luhan sedikit terkejut namun tetap menolak untuk memberikan respon

"JAWAB AKU!" Sehun mulai kehilangan kesabarannya dan mendekati Luhan yang hanya menunduk tak menjawab.

"LUHAN!" Sehun kembali berteriak membuat tubuh Luhan kembali bergetar.

"Kau membutuhkan seseorang untuk disalahkan Sehun, kau membutuhkan seseorang untuk melampiaskan rasa sedihmu Sehun, dan aku-.. Aku sudah memutuskan untuk menjadi semua yang kau butuhkan." Katanya memberanikan diri menatap Sehun dengan mata yang sudah berkaca dan menahan perih dihatinya.

"Apa maksudmu?" Sehun bertanya tak mengerti

"Jika kau tahu aku bukan anak mereka, kau akan mengusirku kan? Kau akan memintaku pergi karena kau tak bisa melihat wajahku."

"Kalau kau tahu aku bukan anak mereka, aku tidak akan pernah bisa melihat wajahmu lagi. Dan aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi, aku bertahan selama ini hanya karena ingin bersamamu, melihat wajahmu yang dulu pernah mencintaiku sudah lebih dari cukup untukku. Aku membiarkan kau melakukan apapun yang ingin kau lakukan padaku. Aku bahkan bersedia mati ditanganmu asal kau tak mengusirku. Aku membutuhkanmu Sehunna." Katanya sedikit berteriak membuat Sehun hanya terdiam mendengarkan.

"Aku ingin sekali membencimu, tapi bagaimana bisa aku membencimu sementara hatiku menolak untuk membencimu."

"Bagaimana bisa aku membencimu sementara diriku hidup dengan rasa bersalah yang kau tujukan padaku."

"Bagaimana Bisa aku membencimu sementara aku sangat mencintaimu Sehunna!"

Luhan mengakhiri ucapannya dan segera berlari menuju ke kamarnya, dia tak bisa lagi berbicara dengan Sehun, dia takut setelah ini Sehun akan mengusirnya dan membuatnya kembali tak memilik siapa-siapa, membuatnya harus kembali hidup sebatang kara tak memiliki siapapun untuk diakui menjadi keluarga.

"Ja-jangan usir aku, Aku mohon." Lirihnya yang terduduk di balik pintu kamarnya, rasa takut ini bahkan melebihi rasa sakit yang ia rasakan selama bertahun-tahun ini ditubuhnya.

..

..

..

Beberapa hari kemudian, suasana dirumah kediaman Oh tampak sepi tak seperti biasa, tak ada teriakan Sehun yang memaki Luhan, tidak ada jeritan kesakitan Luhan karena Sehun yang memukulinya setiap pagi, bahkan beberapa maid dirumah Sehun menebak kalau Tuan besar mereka dan Luhan sudah mulai memperbaiki hubungan mereka.

Namun perkiraan hanyalah perkiraan, karena tak seperti bayangan para pengurus rumah Sehun yang mengatakan tak ada suara marah Sehun dan tangisan Luhan adalah karena kedua majikan mereka mulai memperbaiki hubungan mereka itu adalah salah. Keheningan yang beberapa hari ini terjadi di kediaman Oh karena Sehun sendiri memutuskan untuk tidak pulang kerumah sudah hampir seminggu ini. Setelah percakapan terakhirnya dengan Luhan malam itu, Sehun seolah menghindari Luhan dan memilih untuk pergi dari rumahnya sendiri dan menginap di hotel tak jauh dari kantornya.

Hal itu pun disadari oleh Luhan yang kemudian merasa tak enak hati karena perkiraannya tak meleset sedikit pun mengenai sikap Sehun jika mengetahui dia bukan anak dari kedua orang yang dia anggap sebagai orang tuanya. Luhan tahu Sehun menghindarinya, tapi dia tidak tahu Sehun akan sampai meninggalkan rumahnya karena keberadaannya di rumah milik Sehun.

Cklek!

Luhan baru saja keluar dari kamarnya, dia kemudian menoleh ke arah kamar Sehun dan tersenyum pahit mengetahui kamar Sehun yang masih sama seperti seminggu lalu, sepi tak berpenghuni, menandakan kalau Sehun belum juga pulang ke rumahnya sendiri.

"Luhan? Kau mau kemana?"

Terdengar Kyungsoo bertanya pada Luhan yang sepertinya sudah rapih dengan pakaiannya "Aku ingin mengurus sesuatu." Katanya menghampiri Kyungsoo

Kyungsoo menaikkan kedua alisnya cemas, tapi karena dia tahu Luhan masih dalam keadaan berduka karena kehilangan bayinya, bukankah bagus untuknya pergi keluar dan tak terus tinggal dirumah, begitulah sekiranya yang Kyungsoo pikirkan.

"Baiklah, tapi kau harus makan dulu." Kyungsoo sedikit mendorong Luhan ke meja makan untuk menghabiskan sarapan yang telah ia buat untuk Luhan.

"Gomawo Kyung." Ujar Luhan tersenyum senang, dia kemudian memakan lahap sarapan yang dibuatkan Kyungsoo, takut jika ini adalah terakhir kalinya dia bisa merasakan masakan buatan Kyungsoo.

Kyungsoo sendiri entah mengapa mempunyai perasaan yang mengganggunya mengenai Luhan, tapi kemudian dia membuang jauh-jauh pikiran tentang dirinya yang sangat mencemaskan Luhan, karena untuk sekarang dia sangat lega Luhan tampak sudah bisa menerima keadaan walah dia tahu benar jauh didasar hati Luhan yang paling dalam dia hancur dan hanya menyimpan kesedihannya untuk dirinya sendiri.

..

..

..

Tok! Tok!

"Masuk."

Terdengar suara pintu ruangan kantor diketuk dan menampilkan sekertaris Sehun yang langsung mendapat tatapan tajam dari Sehun "Ada apa? Aku sudah bilang tak ingin diganggu." Geram Sehun tanpa melihat ke arah sekertarisnya.

"Maaf direktur, tapi ada seseorang diluar yang sedang menunggu anda." Sekertaris Choi memberitahu Sehun.

"Katakan aku sedang sibuk." Perintahnya masih tak melihat sekertarisnya.

"Tapi pria ini sudah menunggu sejak pagi hari direktur." Katanya kembali memberitahu Sehun, kali ini Sehun melihat ke arah sekertarisnya dengan tatapan bertanya "Siapa?" tanyanya lagi.

"Namanya Luhan, dia bilang ada sesuatu yang penting ingin dibicarakan dengan anda."

Sehun sedikit membelalak terkejut mendapati Luhanlah yang menunggunya dikantornya "Suruh dia masuk." Katanya memberi perintah dan si sekertaris mengangguk mengerti.

Tak lama saat sekertarisnya pergi, ruangan Sehun pun kembali diketuk

"Masuk." Ujarnya dan pintu itu terbuka menampilkan sosok Luhan, sosok yang tanpa ia sadari mulai ia rindukan karena sudah seminggu lamanya Sehun tak melihat wajah yang dulunya selalu tersenyum itu. Namun Sehun mengernyit menyadari wajah Luhan yang luar biasa pucat, awalnya Sehun menebak Luhan hanya ketakutan, tapi karena melihat wajahnya yang terlalu pucat, dia yakin kalau Luhan sedang sakit dan tak dalam kondisi yang baik.

"Ada urusan apa kau kesini?" katanya yang kembali dingin menyapa Luhan.

"Bukan urusan yang penting Sehun, maaf mengganggu waktumu." Kata Luhan takut-takut

"Kalau begitu cepat pergi." ujarnya dingin membuat Luhan harus kembali menahan rasa sakit dihatinya.

"Kenapa kau tak pulang?"

Tanpa berlama lagi, Luhan bertanya menatap Sehun dengan berkaca-kaca.

Sehun pun sedikit terkejut dengan pertanyaan Luhan, dia kemudian menatap Luhan yang sudah bergetar ketakutan dengan wajah pucatnya. "Bukan urusanmu." Desisnya membuat Luhan hanya bisa tersenyum pahit.

"Pulanglah Sehun, aku mohon. Kau tak boleh meninggalkan rumahmu hanya karena ingin menghindariku."

Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Luhan berjalan mendekati Sehun yang masih menatap tajam ke arahnya.

"Aku bilang bukan urusanmu." Desisnya yang semakin merasa dan menyadari kalau Luhan adalah sosok rapuh yang sangat keras kepala.

Luhan berhenti ditempatnya dan membalas tatapan Sehun dengan memohon "Pulanglah Sehun, jika ada yang harus pergi dari rumahmu, aku orangnya." Ujar Luhan yang kemudian menghapus cepat air matanya.

"Ck! Kau pikir karena kau bukan anak mereka aku memaafkanmu? Tidak Luhan.. Tidak-.. Aku dan seluruh hatiku sudah sangat membencimu, jadi jangan khawatirkan diriku. Khawatirkan saja dirimu sendiri karena jika aku ingin menendangmu keluar dari rumahku, aku akan melakukannya." Ujar Sehun sangat kejam.

"Ya aku tahu, terimakasih Sehun.. Terimakasih karena masih membenciku." Balas Luhan begitu terluka dan tak lama berlari ke luar ruangan Sehun.

Sehun sendiri tertegun dengan kekejaman mulutnya dia tak menyangka bisa mengatakan hal sejahat itu pada sosok yang sama sekali tak bersalah dan tak terlibat dengan kematian kedua orang tuanya. Namun Sehun seperti sudah termakan rasa bencinya pada Luhan. Rasa benci yang sudah ia hidupkan untuk Luhan sejak kematian kedua orang tuanya. Rasa benci yang kini tak beralasan yang tetap menguasai hatinya dan melupakan fakta bahwa satu-satunya korban disini adalah Luhan.

..

..

..

Luhan terus berjalan tanpa arah entah kemana, dia hanya mengikuti kakinya berjalan kemanapun kakinya inginkan. Dirinya kembali tersenyum lirih tak bisa menyalahkan siapapun. Karena Sehun sama sekali tak merubah pandangan tentang dirinya setelah mengetahui kalau Luhan bukanlah anak dari orang tuanya, Luhan merasa suaminya bahkan lebih membenci dirinya saat ini.

Dirinya terus berjalan dengan gontai membiarkan orang-orang yang sedang berlalu lalang menabrak bahunya dan tak jarang banyak yang memaki Luhan, membuat pria cantik itu hanya bisa tersenyum pasrah karena menyadari dirinya memang terlahir untuk dimaki dan dicaci seumur hidupnya.

Luhan terus berjalan tak tentu arah sampai akhirnya kakinya membawanya ke sebuah taman, taman yang dipenuhi kebahagiaan dan tawa dari anak-anak yang sedang bermain dengan orang tuanya. Luhan pun memtuskan untuk duduk di sebuah bangku kosong yang disediakan di taman tersebut, matanya menerawang melihat betapa lucu dan menggemaskan anak-anak yang berlarian di sekitarnya, Luhan masih terus memandangi anak-anak tersebut bermain sampai dia merasakan ada sesuatu yang menyentuh kakinya dan tersenyum mendapati bola bergambar kartun berada tepat dikakinya.

"Ahjussi, kembalikan bola jiyoung." Terdengar suara anak kecil yang memakai pakaian bola lengkap bertolak pinggang menghadap Luhan dengan lucu.

Luhan tersenyum dan memungut bola yang berada di bawah kakinya, kemudian dia berjalan dan berjongkok dihadapan bocah kecil itu.

"Ini bolamu adik kecil." Katanya mengusak kepala anak kecil yang masih cemberut padanya. "Anak tampan tak boleh marah, ahjussi kan sudah mengembalikan bolamu." Luhan kembali tersenyum gemas memandang betapa lucunya anak kecil yang berada didepannya ini.

"Kenapa ahjussi tak marah?" Protesnya menuntut Luhan

"Eh? Marah untuk apa?" Kini Luhan yang bertanya dengan bingung.

"Karena aku sudah belteliak pada ahjussi dan menuduh ahjussi mengambil bolaku." Katanya kembali memgerucut.

"Nah kalau begitu maafkan aku hmm. Aku memang tak bisa marah." Katanya tersenyum pahit mengasihani dirinya sendiri.

"Mianhae ahjussi. Aku pikil kau orang jahat." Kata anak tersebut menundukkan kepalanya.

"Hey, aku tak marah padamu adik kecil, baiklah begini saja, siapa namamu?" Tanya Luhan membuat si anak tersebut menatap ke arahnya.

"Han Jiyoung ahjussi." Balasnya menjawab Luhan

"Nah Jiyoung yang tampan, sekarang kita teman. Kau mau kan berteman denganku?" Tanya Luhan membuat si kecil menatapnya bingung kemudian mengangguk antusias.

"Tentuuu. Ahjussi baik dan cantik. Jiyoung suka." Katanya memuji Luhan

Luhan kembali terkekeh mendengar celotehan bocah lima tahun yang mengatakan dirinya cantik.

"Eomma...appa.. jiyoung punya teman baluuuuu." Katanya berteriak dan berlari menghampiri kedua orang tuanya yang sedang berbincang. Kedua orang tua Jiyoung pun melihat ke arah Luhan dan sedikit membungkukan badan menyapa Luhan, begitupun Luhan yang juga sedikit membungkuk untuk membalas sapaan orang tua Jiyoung.

Tak lama setelah berkenalan, Jiyoung beserta orang tuanya pun terlihat meninggalkan taman, Luhan hanya terus membalas lambaian Jiyoung yang terlihat begitu lucu.

Sepeninggal Jiyoung dan orang tuanya, Luhan kembali duduk dikursinya, ada perasaan sangat bahagia dan terhibur melihat Jiyoung yang begitu lucu dan sangat suka tertawa.

Luhan kemudian mengadah ke langit matanya memandang langit-langit yang begitu biru dan terlihat sangat indah, dia kemudian menebak-nebak apa yang sedang anaknya lakukan diatas sana, dia ingin sekali meminta pada Tuhan agar membuat dirinya dan calon anaknya yang telah tiada bertukar tempat. "Maafkan aku nak, harusnya kau sudah tumbuh dengan baik disini dan bersiap melihat indahnya dunia. Maafkan aku yang tak bisa melindungimu anakku." Gumamnya masih menatap langit-langit dan kemudian memejamkan matanya sambil memegangi perutnya yang kini datar.

"Bahagialah disana nak, halmoni dan haaboji akan menjagamu dengan lebih baik daripada aku." Katanya masih bergumam menahan seluruh rasa sakit dan kehilangan dihatinya.

"Aku ingin sekali melihatmu lahir ke dunia ini anakku, aku ingin sekali kau menemaniku." Lirihnya dan kemudian membiarkan air matanya membasahi pipinya. Karena ini adalah air matanya yang pertama kali ia biarkan menetes setelah ia diberitahu bahwa dia kehilangan bayinya dua minggu yang lalu.

..

..

..

Malam harinya, kediaman Oh Sehun tampak tak jauh berbeda dari siang hari. Rumah yang hanya dihuni oleh Sehun dan Luhan serta beberapa pengurus rumah tangga itu pun terlihat sangat sepi dan terasa dingin, jarang sekali rumah itu dipenuhi kehangatan bahkan hampir takpernah terdengar suara tawa bahagia dari rumah itu sejak tujuh tahun yang lalu.

Blam!

Terdengar suara mobil yang dibuka dan menampilkan sang pengemudi yang tak lain adalah pemilik rumah kediaman Oh ini.

Ya, setelah perbincangannya yang pelik dengan Luhan siang tadi, Sehun akhirnya memutuskan untuk kembali kerumahnya setelah hampir seminggu menginap di hotel. Sehun sudah merasa cukup untuk menenangkan dirinya setelah mengetahui kenyataan tentang Luhan yang sudah sangat terlambat itu.

Sehun memang sudah membenci Luhan dengan sepenuh hatinya, tetapi dia merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya saat tak melihat Luhan hampir seminggu ini. Dia merasa ada lubang kecil yang terus membuatnya sesak dan kesulitan bernafas setiap kali dirinya tak sengaja mengingat Luhan. Tentu saja dia tak memberitahu Luhan tentang hal ini, karena Sehun masih Sehun yang sama. Sehun yang masih menolak untuk membuka hatinya dan tak membiarkan siapapun mengacaukan hati dan pikirannya. Tidak siapapun termasuk Luhan.

Namun dia juga tak memungkiri bahwa dirinya merindukan Luhan dan memutuskan pulang untuk mengawasi dan melihat Luhan dengan kedua matanya sendiri.

Dia terkekeh mengingat tadi siang Luhan memohon padanya untuk tak mengusirnya, tentu saja Sehun tak akan pernah membiarkan Luhan pergi, dia tak akan membiarkan Luhan jauh dari dirinya karena satu hal. Luhan hanya miliknya dan hanya dia yang boleh menentukan bagaimana Luhan menjalani hidupnya.

Cklek!

Sehun membuka pintunya, namun kemudian dia mengernyit mendapati pengurus rumah tangganya berlari dengan panik ke arahnya.

"Tuan Muda. Maafkan saya yang tak bisa diandalkan." Pengurus Lee membungkuk berkali-kali ke arah Sehun yang merasa ada sesuatu yang telah terjadi.

"Ada apa?" tanyanya tajam dengan aura dingin menyelimutinya.

"Tuan muda.. Luhan…"

Entah kenapa jantungnya terasa sangat berdebar dan takut kalau dirinya mendengar sesuatu yang terjadi pada Luhan

"Kenapa Luhan." desisnya menatap tajam pengurus rumah tangganya.

"Luhan,, dia.."

"LUHAN!"

Sehun sedikit tersentak mendengar teriakan Kyungsoo yang ia tebak berasal dari kamar Luhan, dan tak selang berapa lama kemudian dia merasa bahunya disenggol secara kasar oleh seseorang yang berlari masuk kedalam rumahnya, mengabaikan dirinya sebagai pemilik rumah.

"Kai." Gumamnya yang semakin bingung mendapati keadaan rumahnya yang tampak mencekam.

"Kyungie.. apa maksudmu Luhan pergi?" Kai sedikit berteriak dan mengguncang bahu Kyungsoo yang tampak terpukul dan pucat.

"Dia pergi Kai, Luhan pergi. Dia tidak membawa barang-barangnya, dia hanya meninggalkan secarik kertas ini. Kita harus mencarinya Kai, aku mohon." Isak Kyungsoo mencengkram erat jas Kai dan tak lama terjatuh di pelukan Kai karena tak mampu menahan berat tubuhnya sendiri.

"Tidak mungkin.."

Sehun membeku ditempatnya saat mendengar penuturan Kyungsoo yang mengatakan Luhan pergi, dia tak bisa bergerak dari tempatnya sekarang, ada sesuatu didalam dirinya yang terasa sangat mengganggu. Kenyataan kalau dia pulang untuk mengawasi Luhan dengan kedua matanya sendiri sepertinya hanya harapan, karena Luhan sudah membuat keputusannya untuk berjalan menjauh dari rumah yang sudah menjadi saksi betapa kuatnya Luhan bertahan selama ini.

..

..

..

Seminggu kemudian...

"HEY CANTIK! BERIKAN MINUMANKU... KENAPA KAU LAMBAT SEKALI."

Terdengar suara pria yang sudah mabuk berat memanggil pria cantik yang baru saja beristirahat dan baru duduk di pojokan sebuah klub malam.

"Iya tuan." Pria cantik yang memakai nametag Luhan itu pun, segera berlari menghampiri pria yang mabuk berat itu sampai sebuah tangan menahannya.

"Baekiee.." pekik Luhan karena teman kerja satu klubnya, Byun Baekhyun tampak kesal pada tamu yang mabuk berat itu.

"Biar aku yang mengurus pria mabuk itu hyung, kau duduklah." Katanya memberi perintah seolah dia adalah bos Luhan.

"Tapi..."

Ucapan Luhan terhenti saat Baekhyun melotot ke arahnya. "Baiklah cantik, terimakasih." Kekeh Luhan membuat Baekhyun mendelik ke arahnya.

"Ishh... kau yang paling cantik disini." Gerutunya meninggalkan Luhan yang hanya bisa menatapa Baekhyun penuh rasa terimakasih.

Ya, malam itu saat Luhan pada akhirnya memutuskan untuk meninggalkan rumah Sehun dirinya bertemu dengan Baekhyun yang baru pulang bekerja. Baekhyun menarik Luhan yang dengan sengaja menyebrang saat ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, dan sialnya si pemilik mobil adalah kekasih Baekhyun yang sedang terburu-buru karena terlambat menjemputnya, dan bukannya memarahi Luhan, Baekhyun memarahi kekasihnya yang merupakan direktur muda dari perusahaan yang Luhan ketahui bergerak dibidang hiburan. Pria yang sangat suka tertawa itu bernama Park Chanyeol, pria yang mengklaim dirinya adalah separuh jiwa Baekhyun dan tak ada yang bisa memisahkan mereka, begitulah yang Chanyeol katakan.

Baekhyun dan Chanyeol kemudian memaksa Luhan untuk ikut dengan mereka karena merasa Luhan sangat menyedihkan dan tak punya semangat untuk hidup, dan karena merasa tak enak hati pada kedua pasangan yang selalu membuatnya iri ini, Luhan yang merasa tak enak hati pun akhirnya mengiyakan kemauan pasangan yang tak pernah akur ini.

Dan sejak hari itu, Baekhyun yang langsung menyukai Luhan bahkan sebelum mengenal siapa Luhan, meminta Luhan untuk tinggal bersamanya di apartemen kecil yang ia sewa dari hasil jerih payahnya sendiri. Baekhyun memang mempunyai kekasih yang kaya raya, namun dia tak pernah memanfaatkan sedikitpun kekayaan kekasihnya itu, Baekhyun hidup seorang diri seperti Luhan, namun nasib Baekhyun jauh lebih baik karena Baekhyun masih memiliki kedua orang tua yang tinggal didesa.

Chanyeol pun dengan berat hati mengijinkan Baekhyun bekerja seperti itu, namun karena Baekhyun lebih keras kepala darinya, dia tak mempunyai pilihan lain selain menjaga kekasihnya dari jarak jauh, tanpa membuat Baekhyun merasa terlalu dikekang namun tetap menjamin kalau kekasihnya akan baik-baik saja selama dia melakukan pekerjaannya, terutama di klub malam.

Baekhyun juga mengajak Luhan bekerja sepertinya, dan tentu saja Luhan tak menolaknya karena bagaimanapun dia harus menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri mulai saat ia membuat keputusan untuk membuat Sehun merasa lebih baik tanpa kehadiran dirinya, Luhan juga tak banyak memberitahu tentang Sehun pada Baekhyun dan Chanyeol. Kedua temannya hanya tahu kalau Luhan dan Sehun sedang bertengkar kecil dan Sehun akan segera datang menjemputnya, memikirkannya saja membuat Luhan tersenyum lirih, karena tentu saja Sehun tak akan pernah datang menjemputnya.

PRANG!

Lamunan Luhan seketika buyar saat menyadari kalau Baekhyun dalam masalah, karena tampaknya si tamu marah mengetahui bukan Luhan yang melayaninya.

"AKU MAU PRIA ITU!" teriaknya menunjuk ke arah Luhan yang tampak ketakutan.

Luhan pun segera berlari menghampiri Baekhyun, sebelum tangannya kembali dicengkram oleh seseorang. Saat ini Luhan menoleh dan luar biasa lega mendapati Chanyeol sudah berada disini, dan jika Chanyeol sudah berada disini, itu artinya Baekhyun akan aman.

"Duduklah hyung, pria tua itu biar aku yang urus." Desisnya tak berkedip memandang kekasihnya yang sedang dibentak.

Luhan mengangguk dan membiarkan Chanyeol mengambil alih keributan yang terjadi

"AKU MAU DIA, BUKAN KAU! KAU MEMBOSANKAN." Katanya masih berteriak membuat Baekhyun mendesis kesal.

"Yak! Pria botak… siapa yang kau bilang membosankan?" teriak Baekhyun tak mau kalah.

"KAU PRIA MESUM TAK TAHU DIRI. MATI SAJA KAU!" katanya semakin marah dan berteriak menyumpahi pria tua tersebut/

"Kurang ajar!"

Tangan pria itu hampir saja mengenai wajah mulus Baekhyun kalau Chanyeol terlambat satu detik saja, Baekhyun yang sudah memejamkan matanya pun perlahan membuka matanya dan mengintip kemudian menyeringai saat kekasihnya sudah berdiri didepan "Kau lihat pria botak? Kekasihku sudah disini..bweee!" Baekhyun menjulurkan lidahnya membuat si pria tua membelalak takut.

"Yak! lepaskan aku! Pria kurang ajar itu harus diberi pelajaran." Teriaknya kesakitan karena Chanyeol mencengkram erat tangannya.

"Ck… Kau yang harus diberi pelajaran..botak." desis Chanyeol yang tak lama melempar si pria tua ke meja, membuat gelas dan botol anggur pecah berkeping-keping.

"Kalau kau berani menyentuh kekasihku atau pria itu lagi. Aku pastikan kepala seksimu ini akan mengeluarkan isi otak udangmu dari kepalamu, mengerti." Katanya mencengkram kemeja si pria yang sudah teler tersebut kemudian menghempaskan kasar si pria tua ke meja membuatnya kembali tak sadarkan diri.

"Kita pergi, Kau membuatku hampir mati." Katanya menatap galak pada Baekhyun yang hanya menyengir lebar menatap kekasihnya.

..

..

..

GLUP!

"Ahhh... ini menenangkan sekali."

Saat ini, Chanyeol membawa Luhan dan Baekhyun ke kedai pinggir jalan, Chanyeol yang kesal pada Baekhyun karena selalu bertindak sesukanya sengaja minum-minum didepan Baekhyun, membuat kekasihnya itu

"Yeolie hentikan..." pekik Baekhyun yang berusaha mengambil botol soju dan gelasnya dari tangan Chanyeol namun tentu saja diabaikan Chanyeol yang sedang berpura-pura mabuk.

"Hey Luhan hyung." Chanyeol beralih pada Luhan

"Hmm...ada apa?" Balas Luhan yang sedang menahan tawanya, karena menurutnya Baekhyun sangat lucu jika aedang diabaikan Chanyeol.

"Apa kau selalu membuat suamimu mengkhwatirkanmu?" Tanya Chanyeol yang masih meneguk sojunya.

Luhan mengggeleng dengan cepat "Tidak, tentu saja tidak. Aku tidak mau membuatnya marah karena cemas padaku. Umm... dia sedikit menakutkan jika sedang marah." Ujar Luhan menerawang, entah mengapa dia benar-benar tak biasa hidup jauh dari Sehun. Tak ada satu haripun dilewatinya tanpa merindukan suaminya yang bahkan belum tentu menginginkannya kembali, Luhan hanya membiasakan diri untuk tidak diam-diam kembali kerumahnya dan memeperjatikan Sehun dari jauh, karena dia tahu benar Sehun sangat baik tanoa kehadirannya.

"Maaf membuatmu cemas."

Gumam Baekhyun menyesal, membuat Luhan dan Chanyeol menatap ke arahnya.

Haaah~

Terdengar Chanyeol menghela nafasnya menandakan kalau ia kembali kalah dan akan segera membuat nyaman kekasihnya.

"Bagaimana bisa kau menantang orang mabuk seperti itu sayang. Bagaimana kalau aku tak disana, bagaimana kalau dia melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk padamu." Katanya mengelus sayang pioi Baekhyun yang sedang terdiam menyesal.

"Maafkan aku.. aku tidak suka melihat cara dia memandang Luhan hyung yang seperti santapan untuknya." Katanya menjelaskan

"Yasudah tak apa. Aku tahu kau menyukai Luhan lebih dari kau menyukaiku. Kau hanya perlu mengingat kalau kau milikku. Oke?" Katanya mengusak rambut Baekhyun membuat Baekhyun menatapnya semangat.

"Umhh.. tentu saja aku milikmu." Balas Baekhyun bersemangat.

"Aigooo babyku memang yang terbaik." Gumam Chanyeol mencium kening Baekhyun mengabaikan Luhan yang sedang tersenyum menatap keduanya yang terlihat seperti dirinya dan Sehun dulu kala.

"Baiklah... aku rasa aku sudah cukup mengganggu kalian. Aku pulang dulu Baek, kalian bersenang-senanglah." Ujar Luhan bangun dari kursinya dan bersiap pergi meninggalkan pasangan yang bisa membuat siapa saja menangis karena iri melihat Chanyeol yang begitu menyayangi Baekhyun.

"Hyung, kita bisa pulang bersama." Protes Baekhyun

"Ani, aku bisa sendiri." Katanya melangkah keluar meninggalkan keduanya yang masih menatap cemas ke arahnya.

Luhan berjalan perlahan menuju ke apartemen Baekhyun yang harus ia tempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit, dirinya sengaja memilih berjalan dan tak naik bis karena sengaja ingin merasakan dinginnya malam berharap rasa rindunya pada Sehun sedikit berkurang. "Sehunnie." Lirihnya menghapus air mata yang entah sudah berapa kali ia teteskan seminggu ini karena terlalu merindukan Sehun.

Sementara di tempat lain, tepatnya di ruang kerja kediaman Oh, tampak Sehun yang terlihat berantakan, lingkar hitam di matanya menunjukkan kalau dirinya kurang tidur dan terlihat sangat berantakan dengan wajah yang kentara sekali marah karena belum ada satupun orang suruhannya yang berhasil menemukan Luhan.

Cklek!

Terlihat dua orang pengawal Sehun yang ia sewa untuk mencari Luhan memasuki ruangannya. Sehun menatap keduanya dengan tatapan tajam khas miliknya yang menandakan kalau dirinya sudah kehilangan kesabarannya.

"Sebaiknya kalian membawa kabar baik untukku, kesabaranku menipis." Desis Sehun membuat kedua orang suruhannya tampak sedikit bergetar.

"Kami menemukannya."

"Eh?" Sehun menaikkan kedua alisnya dan merubah posisi duduknya berharap dirinya tak salah dengar.

"Kami menemukan istri anda Tuan, dia berada di selatan Gyeonam, dia bekerja sebagai karyawan di bar yang terkenal ramai disana." Ujar pria yang merupakan orang suruhan Sehun sambil memberikan beberapa lembar foto pada Sehun.

"BAR?" Sehun sedikit berjengit tak suka mendengar kabar bahwa Luhan pergi darinya hanya untuk menjadi jalang sesungguhnya, dirinya membelalak marah melihat foto-foto Luhan yang sedang mengantar minuman dengan tangan pria-pria bajingan yang ingin menyentuh miliknya.

"Kurang ajar!" geram Sehun meremas foto tersebut sampai tak lagi berbentuk.

"Kami bisa membawanya pulang untuk anda tuan." Kata si pengawal memberitahu Sehun

"Tidak perlu, kerja kalian bagus. Selebihnya biar aku yang mengurus, aku sendiri yang akan membawanya pulang kesini." Desis Sehun masih meremas erat foto yang menunjukkan Luhan hidup tak lebih baik jika tak bersama dirinya.

..

..

..

Keesokan malamnya, Luhan mendapat giliran jaga sampai pagi, dirinya menggantikan posisi Baekhyun yang mengambil libur hari ini, sebenarnya dia merasa sedikit takut berada di klub tersebut tanpa Baekhyun di sektarnya, karena jujur saja Luhan merasa semua pelanggan disini menatap lapar kepadanya seolah dia adalah umpan yang bisa dimakan kapan saja.

"Luhan, tuan Hwang memanggilmu."

Luhan yang sedang mengelap meja mengernyit bingung dengan apa yang diberitahu temannya, dia bertanya-tanya untuk apa pemilik klub ini ingin bertemu dengannya, padahal saat Luhan pertama kali bekerja dia mengatakan tak perlu melihat Luhan secara langsung, dia hanya ingin klub nya ramai dengan pria-pria yang hobi mabuk dan berjudi.

"Ya, aku akan kesana." Karena takut membuat Baekhyun dalam kesulitan Luhan pun mengiyakan dan segera menuju keruangan bos pemilik klub malam ini.

Tok! Tok

Luhan mengetuk pintu dan segera masuk saat dirinya diijinkan masuk.

Cklek!

"Permisi tuan, saya Luhan pegawai baru anda." Luhan sedikit membungkuk untuk menyapa bosnya yang sedang menghitung uang

Mendengar sapaan Luhan, Tuan Hwang menoleh dan mulutnya membuka lebar seperti anjing kelaparan saat melihat Luhan, dia kemudian meletakkan uangnya dan berjalan menghampiri Luhan

"Aku dengar kau cantik, tapi aku tak tahu kalau kau sangat cantik Luhan." katanya menyeringai membuat Luhan bergedik ketakutan.

"Saya pria tuan." Katanya berusaha memberitahu bosnya.

"Ya, aku tahu sayang kau pria, pria yang membuat diriku kurang dari lima menit menjadi penyuka pria." Katanya membelai wajah Luhan namun Luhan menampis tangan kurang ajar bosnya.

"Ck. Si Byun itu pintar sekali membawa mangsa baru." Seringainya berjalan mendekati pintu dan

Klik

Tuan Hwang baru saja mengunci pintu ruangannya membuat Luhan benar-benar ketakutan saat ini.

"Jika tak ada yang dibicarakan, saya permisi keluar."

Luhan beranjak pergi namun tentu saja dihalangi oleh bosnya yang memegang kedua bahunya kencang "Tak perlu buru-buru cantik. Kau akan kuberi uang banyak jika menemaniku malam ini." desisnya kembali membelai wajah Luhan membuat Luhan merasa sangat jijik.

"Kau tahu tuan? Anda pria tua yang menyedihkan, tak tahu malu dan menjijikan." Ujar Luhan menahan rasa takutnya dan menatap tuan Hwang dengan mata berkilat.

"BERANI SEKALI KAU BERBICARA SEPERTI ITU! DASAR JALANG!"

BUGH!

Tuan Hwang baru saja memukul wajah Luhan dengan keras membuat Luhan tersungkur telak di lantai dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.

"Kau tidak akan kemana-mana. Aku akan memberikan pelajaran untukmu." Desisnya menjambak Luhan yang merangkak berusaha pergi meninggalkan ruang kerja bosnya.

"Arh.." ringis Luhan saat rambutnya dijambak kasar oleh tuan Hwang.

"Demi Tuhan, kau akan menyesal jika menyentuhku. AKU MEMPUNYAI SUAMI YANG TAK SUKA JIKA MILIKNYA DISENTUH." Teriak Luhan frustasi tak tahu harus melakukan apa lagi untuk menghentikan bosnya yang semakin mendekatinya.

"Ck. Suami kau bilang? Siapa suamimu? Apa seorang direktur juga? Apa kau pkir kau seberuntung Baekhyun hah? Aku mungkin sudah menikmati Baekhyun jika si brengsk Chanyeol tak menggunakan kekuasaannya." Desisnya berjongkok didepan Luhan yang masih kesulitan berdiri.

"Oh Sehun. Suamiku Oh Sehun." Ujar Luhan dengan cepat berharap bosnya takut dan segera melepaskannya.

"Apa Oh Sehun direktur properti terbesar di Korea yang kau maksud?" katanya mengernyit mengangkat kedua alisnya bertanya pada Luhan.

"Ya benar, dia suamiku." Balas Luhan masih berusaha untuk duduk namun

"Arhhh.." Luhan sedikit berteriak terkejut karena tiba-tiba dia kembali merasakan jambakan dirambutnya dengan keras.

"Dasar jalang tak tahu malu. Kau pikir aku percaya omong kosongmu?" teriaknya yang semakin menjadi pada Luhan.

"Sudahlah pasrah saja. Tidak akan ada yang mengganggu kita cantik." Katanya berusaha mencium Luhan, namun Luhan menolaknya dan menendangnya kencang membuat Tuan Hwang sangat geram pada tingkah Luhan.

"Berani sekali kau." Desisnya menghampiri Luhan dengan marah dan

Sret!

Dia merobek paksa pakaian kerja Luhan hingga bagian lengannya sobek tak berbentuk.

"Apa yang kau lakukan. Aku mohon henti.."

Ctar!

Luhan merasa wajahnya memanas saat ikat pinggang tuan Hwang dipukulkan dengan keras di wajahnya. "Aku-..Aku mohon hentikan." Lirihnya yang terus dipukuli dengan ikat pinggang tuan Hwang.

Luhan sudah melemas dan tak mempunyai tenaga untuk melawan, dirinya kini benar-benar tersungkur dan hanya bisa merasakan sakit dan ketakutan luar biasa karena kini tuan Hwang sudah melepas kemejanya dan berjalan menghampiri Luhan.

Sret!

Tuan Hwang kembali merobek kasar pakaian Luhan

"Kau milikku cantik." Gumamnya menindih Luhan dan siap untuk mencium Luhan sampai

BRAK!

"APA YANG KAU LAKUKAN? LEPASKAN DIA!"

Tuan Hwang sangat terkejut mendapati seseorang yang diikuti oleh beberapa bodyguard mendobrak pintu kerjanya, terlihat orang yang mendobrak pintunya sangat marah dan siap membunuhnya kapan saja.

Luhan sangat bersyukur menyadari ada seseorang yang masuk kedalam ruang kerja tuan Hwang pun sedikit menoleh dan menatap terkejut pria yang berdiri didepan pintu dengan wajah yang sangat marah namun terus menatapnya dengan tatapan yang belum pernah Luhan liat sebelumnya.

"Sehun." Gumamnya berlari dengan gontai ke arah pria yang sangat ia rindukan yang baru saja menyelamatkannya.

"Sehun syukurlah." Katanya kesulitan berlari karena merasa seluruh tubuhnya memar dan sangat sakit.

Sehun hanya bisa diam melihat Luhan yang berjalan ke arahnya, matanya menatap Luhan namun hatinya masih sangat marah mendapati pria brengsek yang kini berdiri ketakutan di pojok ruangannya berani menyentuh Luhan, miliknya.

Grep!

"Sehun, syukurlah…syukurlah.." Luhan memeluk erat Sehun tak mempedulikan kalau mungkin Sehun juga akan memukulnya nanti, tapi dia lebih memilih dipukuli suaminya daripada harus merasa dirinya menjijikan karena disentuh pria bajingan itu.

"Sehunn.." Luhan meraung memeluk Sehun erat, namun karena dia tak bisa menopang berat tubuhnya sendiri, Luhan terjatuh dan hanya bisa memeluk erat kaki Sehun yang masih diam tak memberikan respon apapun. Luhan tak peduli apa yang akan Sehun lakukan padanya nanti, yang jelas dia sangat lega mengetahui Sehun datang untuk menolongnya.

"Habisi dia-.. tidak.. Bunuh dia."

Sehun berjongkok membawa Luhan kedalam gendongannya dan bergegas pergi meninggalkan klub malam itu setelah memberi perintah pada seluruh bodyguardnya yang langsung bergerak untuk menghabisi tuan Hwang.

"Sehun..terimakasih." gumam Luhan yang masih bergetar ketakutan dan hanya bisa bersembunyi dipelukan Sehun yang terasa hangat untuknya.

..

..

..

"Arggh.." Luhan meringis saat Sehun membersihkan lukanya dengan antispetik.

Sehun kembali membawa Luhan pulang kerumah mereka dan dia sendiri yang mengganti pakaian Luhan yang sudah dirobek paksa dan mengobati memar di wajah serta tubuh Luhan dengan tangannya sendiri.

Sehun menatap tanpa ekspresi dan tetap mengobati luka Luhan terkadang sedikit menekannya, membuat Luhan hanya bisa meringis tertahan karena setiap kali dia mengeluarkan suara Sehun akan menatapnya menakutkan.

"Selesai. Istirahatlah." Katanya bangun dari tempat tidur Luhan, menutup kotak alat kesehatannya.

"Sehun."

Luhan yang merasa tak enak hati pun memberanikan diri untuk memanggil Sehun membuat Sehun menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Luhan.

Merasa tak ada jawaban Luhan memberanikan diri kembali bersuara

"Te-terimakasih sudah datang tepat waktu, terimakasih sudah menolongku dan terima.."

"DIAM!"

Luhan berjengit terkejut saat tiba-tiba Sehun berteriak dan mengepalkan tangannya erat "Maaf." Gumam Luhan yang sangat ketakutan.

"Jika kau berani lari dari rumah ini lagi, aku akan memastikan kau akan menyesalinya." Ancamnya tanpa menoleh ke arah Luhan dan membanting kasar pintu kamar Luhan membuat Luhan kembali berjengit takut.

Sepeninggal Sehun, Luhan hanya bisa tersenyum lirih, harusnya dia tak banyak berharap lebih dengan kedatangan Sehun, tapi hatinya selalu membayangkan hal-hal yang membuatnya terlalu percaya diri mengira Sehun sudah memaafkannya.

Dengan hati memelas, Luhan perlahan membaringkan tubuhnya dan memutuskan untuk tidur, memejamkan matanya karena telah melewati hari yang begitu panjang. Disisi lain, dia bahagia bisa kembali melihat Sehun, namun disisi lain dia tahu bahwa jika dia kembali kerumah ini lagi, itu sama saja mengusir Sehun secara tak langsung, karena Sehun tidak akan pernah sudi tinggal satu rumah dengannya lagi.

"Maaf Sehun, Maaf.." gumamnya dengan mata terpejam dan air mata yang berjatuhan menertawakan kebodohan hatinya yang berharap kedatangan Sehun ke klub tempatnya bekerja akan membuat hubungan keduanya lebih baik.

Sementara diluar pintu kamar Luhan, Sehun berdiri masih mengepalkan tangannya erat. Dirinya sendiri juga masih tak mengerti apa yang membuatnya sangat marah pada Luhan. Dia marah membayangkan bagaimana jika dirinya terlambat datang dan pria bajingan itu menyentuh Luhan, atau dia marah karena Luhan yang berani pergi. Tapi dari semua hal yang membingungkan dirinya sendiri, Sehun lebih marah karena melihat tubuh Luhan penuh memar dan dia sendiri yang harus membersihkan luka Luhan dengan tangannya sendiri, membayangkan bagaimana wajah kesakitan Luhan saat itu membuatnya selalu emosi dan tak bisa menahan dirinya.


tobecontinued..


selamat menikmati dua-tiga chapter lagi menjelang ending :)

.

oh iya, gw lagi bener-bener sibuk banget ni.. bisa nulis cuma kalo lagi ada waktu luang... nah waktu luangnya itu cuma dapet beberapa jam karena abis itu kecapean terus tidur makanya telat updet deh :(

tapi pasti diupdate kok, ga boleh marah2 nanti tripletnya baper wkkww... pokonya pasti bakalan diupdate *udahituaja

gw cuma minta sabarnya kalian kesayangan :*

.

next publish tdf..klo lancar minggu diupdate..klo ternyata belum bisa pokonya ditunggu aja, okee... baru stengah ditulisnya, niatnya mau dipanjangin wordnya buat nebus telat updatenya..

.

okedehh...selamat baca dan review yaaa... :*