.
.
HaeHyuk Fanfiction
.
.
Hate U? Love U?
.
.
" Tidak suka, jangan baca silahkan langsung klik tanda silang di pojok kanan atas terima kasih. Tidak terima bash namun komentar yang membangun sangat dibutuhkan. Terima kasih. Selamat membaca ^^ "
.
.
Pagi itu Hyukjae membuka mata diiringi dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Wajahnya mengernyit merasakan sakit saat ia bergerak perlahan, namun yang paling dirasakannya adalah bagian selatan tubuhnya yang begitu ngilu. Hyukjae masih berusaha mengumpulkan kesadarannya sebelum mengingat apa yang terjadi padanya semalam.
Usahanya untuk kembali melarikan diri sampai akhirnya Donghae mengetahuinya, kemarahan Donghae padanya dan berakhir dengan dirinya yang kembali 'dihajar' lelaki itu. Merasa kesadarannya sudah kembali sepenuhnya, dengan perlahan Hyukjae mendudukkan tubuhnya. Bersandar pada kepala ranjang tak perduli dengan selimut yang tadi menutupi tubuh telanjangnya kini melorot sampai di pinggang.
Hyukjae mengedarkan pandangannya. Donghae tak ada di sana, ia tahu itu dan hal itu sedikitnya membuat hatinya lebih tenang. Kali ini tatapan Hyukjae mengarah pada beberapa pakainnya yang tersebar di lantai. Bahkan atasan piyamanya sudah tak terbentuk karena Donghae merobeknya dengan paksa. Hyukjae kembali memejamkan matanya, merasakan semua kepedihan yang terjadi padanya. Kenapa hidupnya jadi seperti ini? Hidupnya yang semula begitu sederhana penuh dengan kebahagiaan.
Hyukjae yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal saat ia masih balita, membuatnya terpaksa tinggal di panti asuhan sejak saat itu. Tapi Hyukjae begitu bahagia. Dia mendapatkan keluarga baru di sana. Keluarga yang begitu menyayangi dan disayanginya. Ada ibu kepala panti yang sudah dianggap sebagai ibu kandungnya, serta anak-anak yang senasib dengannya yang menjadi saudaranya. Hyukjae tumbuh dengan sangat baik, dilimpahi kasih sayang yang membuatnya tak merasa jika ia sebatang kara di dunia ini.
Tinggal di panti asuhan tak membuatnya menjadi sosok yang terpuruk. Hyukjae berhasil menempuh pendidikannya dengan bea siswa yang ia dapatkan, sampai sekarang ia masuk ke sebuah perguruan tinggi ternama di Seoul. Di sela kegiatan kuliah, Hyukjae bekerja paruh waktu di sebuah kafe dekat kampusnya, dan selebihnya waktunya ia gunakan untuk membantu ibunya di panti mengurus saudara-saudaranya. Hyukjae begitu bahagia. Sosok yang bersemangat dengan rona begitu ceria di wajahnya.
Sampai saat itu datang. Saat di mana ia pertama kali melihat Donghae, dan saat itu pula kehidupannya berubah.
Suara ketukan pintu yang cukup keras menginterupsi lamunannya. Hyukjae tak beranjak sedikitpun, tapi matanya menatap waspada pada pintu di samping ruangan. Pintu bercat putih itu perlahan terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya yang tersenyum lembut padanya. Hyukjae melihat wanita itu masuk dengan nampan berisi penuh makanan yang ia ketahui itu adalah sarapannya.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" Wanita itu berucap lembut, meletakkan nampan yang dibawanya, kemudian perlahan duduk di ranjang tepat di samping Hyukjae. Wajah sedikit keriput miliknya menatap Hyukjae sayu, tangannya terulur menggenggam pelan jemari Hyukjae.
"Bibi mohon jangan melakukan itu lagi Hyuk, Tuan Donghae bisa saja melakukan hal yang lebih dari ini padamu sayang."
Air mata Hyukjae menetes perlahan. Di depan wanita ini Hyukjae bisa menunjukkan dirinya sebenarnya. Dirinya yang sebenarnya rapuh dan ketakutan. Di depan sosok wanita yang tak lagi muda yang biasa dipanggilnya Bibi di rumah ini.
Bibi Kim, kepala pelayang di mansion megah Donghae. Seorang yang setia mengabdi pada tuannya hampir di seluruh hidupnya.
"Aku ingin pergi Bi, Aku merindukan keluargaku. Aku tak mau tinggal di neraka ini lebih lama lagi. Tolong aku Bi, ku mohon tolong aku." Hyukjae terisak, menumpahkan isi hatinya pada sosok keibuan penuh kasih sayang di depannya.
Bibi Kim menatap miris tubuh Hyukjae yang bergetar, dengan lembut direngkuhnya tubuh itu membuat Hyukjae semakin meluapkan perasaannya. Beberapa menit berlalu, sampai perlahan tangisan Hyukjae sedikit mereda membuat Bibi Kim perlahan melepaskan pelukannya. Disekanya pelan air mata yang membasahi wajah Hyukjae. Sungguh ia ingin menolong pemuda rapuh ini. Tapi apa yang bisa ia lakukan. Ia terlalu mengenal Donghae. Donghae bisa melakukan apa saja yang tak pernah terbayangkan oleh siapapun.
Dengan perlahan Bibi Kim beranjak, menghampiri nampan di belakangnya. Bukan untuk mengambil makanan, tetapi sebuah Handycam yang baru Hyukjae sadari juga ada di sana.
"Lihat ini Hyuk, dan setelah ini Bibi mohon supaya kau tidak lagi berusaha mengulangi perbuatanmu." Bibi kim berucap sendu. "Tuan Donghae bisa saja melakukan lebih dari ini."
Hyukjae menerimanya dan dengan segera melihat apa yang ada dalam rekaman di benda yang dipegangnya. Tubuhnya menegang, matanya kembali memanas melihat apa yang ditampilkan pada layar kecil itu. Bibirnya bergetar, sungguh bagaimana bisa hal keji itu dilakukannya. Hyukjae tahu, sangat tahu jika itu sengaja Donghae lakukan untuk mengancamnya.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, menampilkan sosok Donghae yang sudah rapi dengan stelan kantor mahal miliknya. Tatapannya datar, menatap lurus pada Hyukjae yang juga menatapnya dengan mata basah.
"Kau sudah kuperingatkan bukan. Jangan pernah mencoba lari dariku. Aku bisa saja melakukan hal yang lebih dari itu pada 'keluargamu'."
Hyukjae menggertakkan giginya menahan amarah, dipandangnya Donghae dengan tatapan kebencian yang begitu kentara. Tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.
"Kau benar-benar manusia tak punya hati Lee Donghae." Hyukjae mendesis tajam, namun sepertinya Donghae tak terlalu menganggap hal itu. Pandangan Dongahe beralih pada Bibi Kim.
"Urusi dia Bi, dan pastikan dia tak akan lagi mencoba mengulangi perbuatannya." Setelah mengatakan itu Donghae melangkah pergi, meninggalkan sosok Hyukjae yang kini menangis tersedu-sedu.
"Sudahlah Hyuk, untuk saat ini turuti Tuan Donghae. Jangan membuatnya melakukan sesuatu yang lebih dari ini. Bibi peduli padamu sayang, sungguh. Bersabarlah lebih lama Hyuk. Bersabarlah." Hyukjae tak begitu mendengarnya, ia masih terlarut dalam isakannya.
"Makanlah agar kau tidak sakit. Panggil bibi atau maid lain kalau kau membutuhkan sesuatu."
Setelah kalimat terakhirnya, Bibi Kim melangkah keluar kamar. Memberikan kesempatan pada Hyukjae untuk sekedar menenangkan diri.
.
:::[ HaeHyuk ]:::
.
Donghae melangkah dengan angkuh menuju ruangannya, menghiraukan beberapa karyawan yang menunduk hormat padanya.
"Untuk hari ini, aku tak mau siapapun menggangguku."
Donghae berucap datar ketika melewati meja sekretaris pribadinya. Tak perlu repot-repot berhenti hanya untuk sekedar membalas sapaan hormat sang sekretaris. Luna sedikit berjengit kaget saat mendengar bantingan pintu ruang direktur di depannya. Ah, sepertinya mood CEO muda itu begitu buruk hari ini.
Dengan kasar Donghae membanting tubuh di kursi kerjanya. Nafasnya terengah menahan gejolak di hatinya. Mood nya benar-benar memburuk. Kajadian kemarin sampai pagi ini membuat hatinya serasa meledak.
Hyukjae kembali mencoba kabur darinya. Pemuda manis itu dengan nekat turun dari balkon lantai dua untuk kabur. Memang mustahil Hyukjae bisa lolos mengingat penjagaan yang begitu ketat di mansion Donghae. Tapi sikap pemberontak Hyukjae lah yang membuat Donghae begitu tersulut emosi.
Pandangan Dongahe beralih, tangannya bergerak membuka salah satu laci mejanya. Perlahan diambilnya sebuah phigora foto yang terdapat di sana. Ditatapnya lekat foto yang tercetak di sana. Giginya bergeletuk menahan perasaannya. Matanya masih menatap tajam, dengan begitu banyak emosi meluap disana.
:::
Hyukjae berdiri di sana. Melihat bayangan tubuh polosnya yang terpantul dari kaca besar di depannya. Dibiarkan air shower mengucur membasahi seluruh bagian tubuhnya, membersihkan sisa-sisa perbuatan Donghae padanya walau ia tahu itu tak berarti apapun.
Ditatapnya lekat tubuhnya, tubuh yang ia rasa begitu kotor. Tanda yang ditinggalkan Donghae hampir merata di seluruh tubuhnya. Leher, dada, perut, bahkan paha dalamnya tak luput dari jangkauan Donghae. Air matanya kembali menetes, mengalir menyatu dengan derasnya air shower yang masih mengguyur tubuhnya.
Sumpah demi apapun, Hyukjae merasa begitu jijik pada tubuhnya. Pada dirinya yang dengan tak berdaya selalu menuruti Donghae untuk memuaskannya. Rasanya Hyukjae benar-benar ingin mati. Tapi apa yang bisa dilakukannya. Hyukjae tak berdaya. Donghae selalu menggunakan keluarganya di panti asuhan untuk mengancam dirinya.
Tiga bulan ia berada di sini. Selama itu pula seolah keberadaan Hyukjae hanyalah sebagai pemuas nafsu bagi Donghae. Menolak? Tentu Hyukjae melakukannya, Menghindar sekuat tenaga, mencoba kabur dan lolos darinya. Tapi apa daya Hyukjae dibandingkan dengan Donghae? Hyukjae pasti masih berusaha melawan jika hanya dirinya yang dijadikan korban. Tapi ini, keluarganya dilibatkan. Bagaimana mungkin Hyukjae tak peduli, pada ibunya, saudara-saudaranya nya, adik-adiknya, rumah tempat tinggalnya.
Tubuh kecilnya kembali bergetar, perlahan tubuhnya roboh. Terduduk lemah di lantai kamar mandinya yang dingin. Hyukjae melipat kakinya, memeluknya sendiri dengan erat, menenggelamkan wajah di sana, dan kembali menangis sejadi-jadinya.
:::
"Untuk apa kau ke sini?" Donghae berucap datar pada wanita yang berdiri tepat di depannya.
"Untuk apa? Tentu saja aku merindukanmu Donghae-ah. Sudah lama kau tak mengunjungiku?" Satu kerlingan diberikan wanita itu untuk Donghae, membuat Donghae memutar matanya malas kemudian melangkah menuju sofa besar di ruangannya.
"Luna tak memberitahumu jika aku tak mau diganggu siapapun." Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Si wanita hanya mengendikkan bahu tak acuh kemudian melangkah mengambil tempat duduk tepat di samping Donghae. Disilangkan kaki jenjangnya yang hanya ditutupi rok sebatas paha.
"Sekretarismu itu benar-benar cerewet, aku harus adu mulut dulu dengannya sebelum benar-benar masuk ke sini."
"Katakan tujuanmu datang ke sini setelah itu segera pergi. Aku masih banyak pekerjaan." Donghae berucap dingin.
"Sudah ku katakan aku merindukanmu. Lama sekali kau tak menghubungiku tentu aku khawatir padamu Donghae." Tangan si wanita menggenggam lengan Donghae lembut yang hanya dibalas dengan tatapan datar Donghae padanya.
"Sudah ku bilang sejak awal jangan berharap apapun dariku Yuri-ah. Aku tak terikat dengan siapapun. Termasuk denganmu." Wanita yang tadi di panggil Yuri hanya mendesah pasrah.
Yuri tahu Donghae menutup hatinya untuk siapapun, entahlah tapi lelaki ini begitu sulit disentuh. Bahkan untuk ukuran seorang wanita yang tak bisa ditolak seperti dirinya. Yuri bersikap seolah juga tak ingin menjalin hubungan serius dengan Donghae, membiarkan Donghae menganggap jika hubungan mereka hanya sekedar saling memanfaatkan satu sama lain tanpa ada suatu ikatan apapun. Karena wanita ini tahu, Donghae akan meninggalkannya begitu saja jika lelaki itu tahu jika ia memiliki perasaan lebih pada Donghae. Dan Yuri tak akan pernah rela jika Donghae pergi darinya.
"Aku mengerti. Sangat."
Yuri bangkit, tanpa sungkan wanita cantik berambut panjang itu mendudukkan diri di pangkuan Donghae. Donghae tak memberikan respon yang berarti saat lengan wanita itu melingkar di lehernya, ekspresinya datar bahkan saat bibir wanita itu memagut dalam bibirnya dengan begitu sensual.
.
:::[ HaeHyuk ]:::
.
Malam sudah cukup larut saat Donghae sampai di kediamannya. Langkah tegap Donghae berhenti tepat setelah ia memasuki rumah besarnya. Beberapa meter di depannya, Hyukjae berdiri menatap lurus padanya.
"Bisa kita bicara, Donghae-ssi."
:::
Donghae duduk dengan begitu angkuh di sofa rung kerjanya. Tatapannya tajam, mengintimidasi Hyukjae yang tampak berdiri tenang di depannya.
"Katakan!" Suara tegas Donghae membuat perhatian Hyukjae sepenuhnya terfokus. Hyukjae menghela nafas dalam, sebelum dengan berani pandangannya mengunci onix Donghae yang berkilat tajam.
"Jangan pernah lagi ganggu keluargaku. Aku turuti semua maumu, asal jangan pernah lagi kau mengusik mereka." Ucap Hyukjae begitu tegas, tak ada sedikitpun keraguan di sana. Donghae memicing, sebelum satu seringai terpatri di bibir tipisnya.
"Jadi, Kau menyerah sekarang? Lee Hyukjae?" Ucapan itu terdengar begitu panas di telinga Hyukjae. Dengan ragu kepalanya mengangguk pelan.
"Aku berjanji tak akan lagi memberontak padamu, akan ku lakukan semua maumu, tapi sebagai konsekuensinya aku minta kau tak pernah lagi mengusik keluargaku."
Donghae tersenyum kecil, meraih gelas wine di depannya kemudian menyesapnya perlahan.
"Apa bukti yang bisa kau berikan untuk meyakinkanku jika kau tak akan mengingkari janjimu?" Hyukjae memandang Donghae, bingung dengan maksud perkataan lelaki rupawan di depannya.
"M-maksudmu?"
"Buktikan jika kau tak akan mengingkari janjimu."
"A-apa yang kau minta sebagai bukti? Aku akan melakukannya." Seringai Donghae kembali muncul, kali ini semakin lebar. Tubuhnya yang tadi bersandar kini condong ke depan. Begitu tertarik dengan ucapan pemuda manis di hadapannya.
"Aku minta kau menyerahkan dirimu sendiri sepenuhnya padaku." Donghae berucap santai seolah itu hal yang amat sangat biasa.
"A-apa?"
Mata Hyukjae terbelalak, disertai dengan jemarinya yang mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Pandangan Donghae tak pernah lepas darinya. Begitu fokus dan tajam seperti binatang buas yang mengintai mangsanya.
"Lepaskan pakaianmu!" Titah Donghae tajam.
Hyukjae semakin mengeratkan cengkeraman di telapak tangannya, rahangnya mengeras berusaha menahan emosi di benaknya. Beberapa menit dalam keheningan, sampai lengan Hyukjae bergerak ke bagian depan kemejanya. Dengan perlahan juga ragu tangannya yang bergetar membuka kancing kemejanya satu per satu.
Onix beningnya memanas, dia benar-benar seperti pelacur sekarang. Hyukjae mengutuk dalam hati, mengutuk Donghae juga mengutuk dirinya yang ia rasa begitu menjijikkan saat ini.
Donghae tak pernah mengalihkan tatapannya, pandangannya fokus pada sosok yang mencoba membuka pakaian di depannya. Tanpa sadar ia menggeram tertahan, merasakan bagian selatannya yang mulai bereaksi hanya dengan melihat pemandangan itu.
Kemeja Hyukjae terlepas sepenuhnya, menampilkan tubuh bagian atasnya yang masih terdapat sisa tanda yang ditinggalkan Donghae di tubuhnya. Tanpa sadar lengannya bergerak memeluk tubuhnya sendiri. Kepalanya menunduk dalam, sungguh ia merasa dirinya benar-benar tak punya harga diri.
"Aku bilang lepas pakaianmu!" Donghae berucap dengan napas yang mulai tak beraturan. Namun ia masih tetap mempertahankan ekspresi angkuh nan dingin miliknya.
Tubuh Hyukjae kembali menegang dan lagi perintah Donghae dia lakukan. Melepas pakaian bawahnya seluruhnya sampai ia benar-benar berdiri telanjang di depan Donghae. Dengan menggertakkan giginya, Hyukjae berusaha mengangkat kepalanya menatap Donghae.
Donghae menegakkan tubuhnya, kembali bersandar di sofa besar tempatnya duduk kemudian merentangkan tangan lebar-lebar. Seringainya semakin lebar, dengan tatapan nyalang menatap Hyukjae.
"Kemari! Kau tahu apa yang harus kau lakukan!"
Sejenak Hyukjae memejamkan matanya erat sebelum melangkah pelan menghampiri Donghae. Dengan ragu, ia duduk di pangkuan Donghae yang menatapnya seduktif. Hyukjae bisa merasakan kejantanan Donghae mengeras di bawahnya.
"Serahkan dirimu padaku Lee Hyukjae. Sepenuhnya!" Donghae berbisik tepat di telinga Hyukjae, menjilatnya sekilas dan kembali menjauhkan kepalanya. Menunggu apa kiranya yang akan dilakukan Hyukjae untuknya.
Hyukjae menggerakkan lengannya, melingkari leher kokoh Donghae kemudian dengan seadanya menyentuhkan bibirnya dengan bibir Donghae, berusaha memagut sebisanya. Donghae menggeram tertahan merasakan ciuman Hyukjae yang begitu berantakan. Bahkan itu tak bisa disebut dengan ciuman. Tapi sumpah demi apapun, gairah Donghae memuncak. Rasa lembut dan hangat di bibirnya membuatnya hampir lepas kendali. Tapi sekuat tenaga Donghae menahannya, ia ingin lihat sejauh mana Hyukjae mengekspresikan kata 'menyerahkan diri' padanya.
Entah berapa lama kegiatan itu berlangsung, sampai Hyukjae melepaskan bibir Donghae. Nafasnya terengah dengan mata terpejam erat, tak sadar jika sejak tadi onix tajam Donghae menatapnya begitu lekat. Hyukjae masih tak membuka matanya ketika Dongahe melepas lengan kirinya dari leher pemuda itu, kemudian menuntunnya ke bawah.
Tubuh Hyukjae berjengit merasakan benda yang terasa keras dalam sentuhannya. Matanya refleks terbuka, bertatapan langsung dengan sorot mata Donghae yang mulai menggelap.
"Hhh... Lakukan!"
Hyukjae tahu benar apa maksud kalimat itu. Mata Hyukjae memerah, bibirnya ia gigit kuat saat melakukan apa yang diperintahkan Donghae. Saat benda itu sudah benar-benar terbebas dari tempatnya, Hyukjae memposisikan tubuhnya. Setelah merasa itu posisi yang tepat, perlahan Hyukjae menurunkan tubuh bergetarnya.
Wajahnya menyiratkan kesakitan yang kentara saat benda besar dan keras itu menyeruak membuka paksa bagian bawah tubuhnya. Berbeda keadaannya, Donghae tak sedikitpun memejamkan matanya. Menatap lekat wajah Hyukjae yang kini berpeluh, merekam baik-baik ekspresi Hyukjae dengan emosi yang ditahannya. Giginya mengerat, dengan desisan lirih yang mengalun tertahan saat merasakan miliknya mulai memasuki Hyukjae. Kenikmatan itu melingkupinya, begitu hangat dan rapat dirasakannya membuat Donghae benar-benar harus menahan diri.
Direngkuhnya erat pinggang ramping Hyukjae, dan dalam sekali gerak ia sentakkan tubuh Hyukjae ke bawah, membuahkan pekikan keras dari Hyukjae. Tubuh Hyukjae bergetar hebat menahan sakit yang teramat sangat di tubuhnya.
"Move!" Satu kata tegas dari Donghae, lagi-lagi seakan perintah mutlak untuknya.
Bertumpu pada bahu tegap di depannya, sekuat tenaga Hyukjae berusaha bergerak, mengangkat tubuhnya kemudian kembali turun, berulang-ulang mencoba memuaskan Donghae.
Donghae masih tak mengalihkan tatapannya pada wajah Hyukjae. Hanya sesekali geraman ia keluarkan saat merasakan Hyukjae mencengkeramnya begitu erat. Ekspresi Hyukjae masih menyiratkan kesakitan yang begitu kentara. Satu gerakan Donghae dan sepenuhnya tubuh Hyukjae tenggelam dalam rengkuhannya. Menenggelamkan kepala di bahu Hyukjae, Donghae menghentak miliknya ke atas berlawanan dengan arah tubuh Hyukjae.
"Akhh..."
Teriakan itu otomatis mengalun saat Donghae berhasil tepat mengenai titik Hyukjae yang terdalam, membuat Donghae semakin tak terkendali bergerak. Masih menjaga kesadarannya, Hyukjae menggigit bibirnya keras, berusaha tak mendesah atas apa yang Donghae lakukan. Kelopak mata Hyukjae terpejam erat, air mata mengalir di sudut matanya.
Astaga, apa dosanya di masa lalu begitu besarnya sampai ia harus mengalami kejadian ini dalam hidupnya. Tubuhnya sakit, hatinya sakit, harga dirinya tak tersisa sedikitpun sekarang. Kalau boleh meminta, bolehkan untuk Hyukjae menghilang dari temapat ini, bolehkan Hyukjae menghilang dari dunia ini sekarang juga.
"Ahh..." Tubuhnya yang kali ini digerakkan Donghae, dengan hentakan Donghae yang begitu keras tak ayal membuatnya tak bisa mengontrol diri. Titik terdalamnya dihantam begitu kerasnya membuatnya merasakan sakit yang teramat sangat, walau rasa lain itu turut ikut di dalamnya.
Gigitan di bibirnya mengeras dengan air mata yang semakin deras mengalir saat Hyukjae merasakan milik Donghae semakin membesar di dalamnya. Beberapa gerakan lagi dan detik berikutnya Donghae menggeram. Meledak di dalam Hyukjae sepenuhnya.
Tubuh Hyukjae terasa begitu lemas, dibiarkannya kepalanya lunglai merebah di bahu Donghae yang masih tertutupi kemejanya. Tubuh kecilnya bergetar dengan air matanya yang mengalir dalam diam, merasakan kehangatan yang begitu pekat mengalir di dalamnya. Sampai kegelapan itu menyapa, benar-benar merenggut kesadarannya.
:::
Donghae masih dalam posisinya, merengkuh tubuh Hyukjae yang masih menyatu dengannya. Kepala pemuda itu sepenuhnya bersandaran di bahunya, menunjukkan jika sosok itu benar-benar terlelap sekarang. Tatapannya menerawang jauh tak tertembus, sampai lengan kanannya perlahan terangkat. Mengelus lembut surai belakang Hyukjae yang sedikit basah.
Donghae menutup matanya, meresapi kernyitan di hatinya. Kepalanya menunduk, dikecupnya bahu terbuka Hyukjae sebelum menenggelamkan wajahnya di sana.
'Maaf. Maafkan aku.'
.
:::[ TBC ]:::
.
Spesial untuk kalian yang sudah memberikan apresiasi di chap pertama ^^
Masih mau yang lebih panjang, bisa dipertimbangkan jika respon chap ini lebih baik dari kemarin.. #Modus. Kkkkkk.
