"Some Memories Never Fade..."
Last Hope
Main Cast : Xi Luhan & Oh Sehun
Genre : Romance, Family, Hurt
Rate : T-M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s). M-preg.
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya, Luhan bangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya ditambah sakit kepala yang tiba-tiba kembali ia rasakan. Dia sudah mencoba untuk bangun dan menyiapkan Sehun sarapan, tapi karena tubuhnya sangat lemas dan tak bisa digerakkan, dia memutuskan untuk tetap berbaring, dirinya juga sudah menyiapkan tubuhnya jikalau Sehun masuk kedalam kamarnya dan mulai memukulinya karena dia tak bangun dan menyiapkan sarapan untuk Sehun, karena seberapa besar Luhan ingin bangun dia akan kembali terkulai lemas di tempat tidurnya.
Sehun sendiri mengernyit mendapati suasana rumahnya yang tak mengalami perbedaan setelah kembalinya Luhan ke rumah mereka, awalnya dia mengira Luhan kembali nekat pergi meninggalkan rumahnya, namun dia menahan diri dan memutuskan untuk bertanya pada pengurus rumah tangganya yang lain.
"Kemana Luhan?" tanya Sehun tanpa ekspresi.
"Tuan Luhan bilang sedang tak enak badan, apa saya harus membangunkannya?"
"Apa kau yakin dia ada dikamarnya?" Sehun kembali bertanya tentang keberadaan Luhan bukan keadaan Luhan.
"Ya tuan. Saya yakin, saya baru mengantar makanan kekamar Tuan Luhan." katanya memberitahu Sehun yang mulai tenang.
"Tak perlu membangunkannya, biarkan dia beristirahat." Ujar Sehun memberi perintah.
"Baik tuan, saya permisi dulu."
Dan tak lama Sehun menikmati sarapannya dalam diam sampai matanya melihat Kyungsoo yang tampak memasuki rumahnya setelah seminggu meminta cuti dengan alasan tak enak badan, Sehun pun dengan bergegas menghampiri anak dari pelayan favorit ayah dan ibunya dulu.
"Kyungsoo." Katanya memanggil Kyungsoo yang tampak terlihat pucat dan berantakan, Sehun menebak ini pasti karena dia tak pernah berhenti mencari Luhan.
"Ada apa?" tanyanya pada Sehun dengan nada yang terdengar sekali menahan marah.
"Ck. Jangan berfikir karena kau anak dari dua orang kepercayaan orang tuamu kau bisa seenaknya disini." Geramnya menatap tajam Kyungsoo
"Benar. Kau hanya tuan muda arogan yang tak tahu bagaimana menjaga seseorang yang berada dihidupmu. Aku akan mengundurkan diri secepatnya." Katanya beranjak meninggalkan Sehun
"Luhan sedang tertidur dikamarnya, jaga dia selama aku tak ada."
Ucapan Sehun berhasil menarik perhatian Kyungsoo yang langsung menoleh ke arahnya mencari kebenaran dari ucapan Sehun "a-apa maksudmu?" tanyanya yang kini menahan diri untuk tidak berlari kekamar Luhan saat ini.
"Dia kembali, aku membawa milikku kembali." Balas Sehun yang menurut Kyungsoo juga terdengar lega dan sangat senang dengan kepulangan Luhan.
"Astaga Luhan." Gumam Kyungsoo yang kini tak mempedulikan Sehun dan langsung berlari menuju kekamar Luhan meninggalkan Sehun yang secara refleks tersenyum membayangkan wajah Luhan yang akan sangat bahagia bertemu dengan Kyungsoo.
BRAK!
Kyungsoo membuka kasar pintu kamar Luhan dan merasa jantungnya akan berhenti berdetak karena mendapati Luhan yang sudah tak ia lihat selama seminggu ini, dia menyeka cepat air matanya menyadari kalau dirinya sangat merindukan Luhan, Luhan yang akan selalu tertawa walau hanya rasa sakit dan hal buruk yang ia rasakan.
"Lu." Gumamnya sedikit mengusap lembut wajah Luhan yang terlihat pucat.
"Luhannie." Katanya yang tak terasa meneteskan air mata lega karena Luhan sudah kembali
Luhan yang merasa seseorang mengusap wajahnya pun kini membuka matanya dan mendapati wajah Kyungsoo yang sedang memperhatikan dirinya.
"Kenapa kau menangis? Seperti troll." Kekeh Luhan menggoda Kyungsoo dan bersandar di tepi ranjangnya.
"Luhan.." katanya dengan tergesa memeluk Luhan dengan erat, membuatLuhan merasa dirinya sangat jahat karena membiarkan dan meninggalkan Kyungsoo begitu saja.
"Maaf Kyung..Maafkan aku." Gumam Luhan membalas erat pelukan Kyungsoo
"Jangan tinggal-hix-kan aku lagi Lu." Katanya terisak masih memeluk Luhan erat.
"Tidak lagi Kyung, maafkan aku." Balas Luhan mengelus sayang punggung Kyungsoo dan bersyukur kalau masih ada yang begitu peduli padanya.
..
..
..
"Wajahmu pucat Lu, apa kau sakit?" Tanya Kai yang tak lama setelah menerima kabar dari Kyungsoo bahwa Luhan sudah pulang langsung menemui Luhan dirumahnya.
"Ani, aku sehat. Lihat aku makan sangat banyak kan? Aku benar-benar merindukan masakan Kyungsoo" katanya mengunyah makan siang yang dibuatkan Kyungsoo dengan lahapnya.
"Kai benar Lu, kau sangat pucat. Apa kau baik-baik saja?" Kata Kyungsoo membenarkan ucapkan Kai.
"Kepalaku sakit, tapi aku rasa ini efek benturan semalam."
Kai dan Kyungsoo sontak membelalak dengan penuturan Luhan "Bukan Sehun yang melakukannya." Katanya menjawab pertanyaan dalam hati Kai dan Kyungsoo.
"Lalu siapa?" Tanya Kai menuntut.
"Aku bekerja di klub malam dan mempunyai bos yang sangat menjijikan, dia mencoba menyentuhku, tapi Sehun datang tepat waktu. Aku diselamatkan suamiku." Gumam Luhan yang menyembunyikan mati-matian rasa sakit dikepalanya dan mebuat Sehun terdengar lebih baik didepan dua orang yang sangat tak menyukai sifat suaminya.
"Lalu kenapa kau bertahan disana?" Kai tampak menegang menyalahkan Luhan.
"Umm..itu karena aku bertemu dengan duplikat kalian berdua." Katanya setengah tertawa memberitahu Kai dan Kyungsoo yang tampak tegang.
"Begini, aku bisa bertahan disana karena aku bertemu dengan orang baik. Mereka sepasang kekasih, Namanya Baekhyun dan Chanyeol. Baekhyun memiliki Chanyeol yang selalu menjaganya dan hampir tak pernah membiarkan Baekhyn sendirian. Aku sangat iri pada mereka, ditambah mereka sangat baik padaku."
"Lalu apa yang membuat kau berfikir kami sama dengan mereka?" Tanya Kyungsoo tak mengerti.
Luhan tersenyum dan menggenggam masing-masing tangan Kai dan Kyungsoo kemudian menyatukan tangan keduanya. "Aku berharap kalian berdua sama seperti mereka. Saling melengkapi dan saling menyayangi. Setelah Sehun, hanya kalian berdua yang aku sayangi dan kebahagiaan kalian adalah kebahagiaanku juga." Gumam Luhan menatap wajah Kai dan Kyungsoo bergantian.
"Mencobalah untukku." Katanya berpesan kemudian kembali kekamarnya, dia ingin memberikan waktu untuk Kai dan Kyungsoo berdua lebih lama, dia sangat mengetahui kalau Kyungsoo diam-diam mencintai Kai, tapi Kyungsoo tak berani melakukan apapun karena tahu satu-satunya yang menjaga dirinya hanya Kai. Kyungsoo sangat tak ingin menyakiti Luhan hingga tanpa sadar dia menyakiti dirinya sendiri. "Kalian harus bersama." Gumam Luhan tersenyum penuh harap.
"Dia benar-benar sedang demam, bicaranya sangat tak karuan." Gumam Kyungsoo yang menjadi canggung setelah Luhan meninggalkannya berdua denga Kai.
"Kyungsoo.."
Kai tiba-tiba memanggil Kyungsoo yang masih merasa ucapan Luhan terlalu berlebihan
"Umhh.. ada apa Kai."
"Luhan bilang padaku tentang bagaimana kau melihatku. Benarkah?" Kai bertanya membuat seluruh tubuh Kyungso berdebar tak enak hati
"Kai aku melihatmu sebagai pria yang baik, aku tahu hanya kau yang bisa membuat Luhan merasa nyaman dan bahagia, jadi jangan dengarkan apapun yang Luhan katakan padamu tentang pera-.."
"Apa kau menyukaiku?" tanyanya menatap lembut pada Kyungsoo
"Kai.." lirih Kyungsoo yang merasa sangat bingung saat ini.
Kai tersenyum menatap Kyungsoo yang tampak bingung dan ketakutan. Dia menatapnya menuntut jawaban membawa Kyungsoo tertunduk dan mengangguk lemah "Maafkan aku Kai, aku memang menyukaimu, tapi Demi Tuhan, kau bisa mengabaikan perasaanku, jangan merasa tak enak hati padaku." Gumam Kyungsoo menahan isakannya.
Kyungsoo tahu setelah ini sikap Kai akan berbeda untuknya, dia tahu dia salah mengungkapkan perasaanya tapi dia merasa lega karena perasaannya selama ini akhirnya bisa dia ungkapkan juga pada Kai.
Kyungsoo sedikit tertegun merasakan tangan Kai menangkup kedua pipinya "Beri aku waktu, kau mau menungguku?" tanyanya menatap Kyungsoo dengan raut wajah memohon.
"Aku-.. Tapi kau menyukai Luhan."
"Aku memang menyukainya, tapi aku tahu hati Luhan jelas hanya untuk Sehun, aku tidak mau mengabaikan ada hati yang begitu tulus menungguku selama bertahun-tahun. Beri aku waktu Kyung, kau mau kan?" katanya kembali bertanya.
Kali ini Kyungsoo tak bisa menahan air matanya, dia kemudian memeluk Kai erat dan terisak dipelukan Kai merasa sangat lega perasaannya hampir berbalas. "Aku akan menunggumu Kai, aku akan terus menunggumu sampai kau siap dan yakin padaku." Balasnya terdengar sangat bahagia membuat Kai tersenyum dan mengingat ucapan Luhan bahwa orang yang menunggu dirinya tak pernah berada jauh dari Kai, Kai sendiri cukup terkejut menemukan fakta bahwa Kyungsoo sudah menyukai dirinya untuk waktu yang lama. Dan entah kenapa saat Luhan memberitahukan hal itu pada Kai, Kai merasa hatinya menghangat karena diam-diam dirinya juga mengagumi sosok Kyungsoo yang selalu terlihat kuat dimatanya.
"Gomawo." Ujar Kai dan kemudian mengecup sayang kening Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum dan terus menggumamkan terimakasih pada Luhan yang mungkin akan membantunya mendapatkan pria yang sudah ia cintai sejak pertama kali mereka bertemu ini.
..
..
..
Malam harinya. Sehun yang baru pulang bekerja memasuki rumahnya, dia tampak mengernyit bingung karena rumahnya kembali sepi, dia berfikir dengan memberitahu Kyungsoo bahwa Luhan sudah kembali akan membuat rumahnya kembali seperti biasa namun ternyata dia salah.
"Tuan muda, anda sudah pulang?" salah satu pengurus rumah Sehun menyapanya
"Mana Luhan?" tanyanya tanpa berbasa basi
"Tuan Luhan masih tertidur di kamarnya, dia tampak tak enak badan seharian ini tuan." Katanya memberitahu Sehun yang menunjukkan wajah tak sukanya.
Sehun berjalan mendului pelayan rumahnya menaiki tangga berniat untuk bertanya pada Luhan kenapa dia tak keluar dari kamarnya sejak dirinya membawa pulang kemarin.
Sehun tampak ragu saat dirinya berdiri didepan kamar Luhan, tangannya sudah memegang knop pintu, namun dia ragu ingin membukanya atau tidak, tapi setelah berperang dengan pikirannya, Sehun kemudian membuka pintu perlahan.
Gelap…
Itu yang Sehun gumamkan pertama kali memasuki kamar Luhan, dia kemudian terus berjalan mendekati Luhan yang sepertinya memang tertidur, namun dahinya mengernyit melihat Luhan menggeliat tak wajar di ranjangnya, dia kemudian sedikit berlari menghampiri Luhan.
"Kau kenapa?" Sehun bertanya pada Luhan yang menyembunyikan wajahnya dibalik selimutnya. Luhan tak menjawab hanya menggeliat semakin tak beraturan membuat Sehun kehabisan kesabaran melihat Luhan yang tak menjawab pertanyaannya.
"HEY!"
Sehun menyalakan lampu kamar Luhan dan membuka paksa selimut yang menutupi wajahnya, namun kemudian dia membelalak melihat wajah Luhan yang sangat pucat dan berkeringat, "Sehun" Luhan memanggilnya dan mata mereka bertatapan sesaat sebelum Luhan tak sadarkan diri, karena sepertinya Luhan sudah lama bergelut dengan rasa sakitnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Sial" geram Sehun yang langsung mengambil ponselnya menghubungi Kyuhyun.
..
..
..
"Bagaimana dia?" Tanya Sehun yang memperhatikan Luhan yang masih tak sadarkan diri
"Apa yang aku katakan tentang terapi? Radang selaput otaknya memburuk dan sudah mulai terdapat tonjolan kecil di bagian otaknya, itu yang menyebabkan dia kesakitan luar biasa seperti malam ini. Dan Sehun, apa kau tak bisa menghubungiku lebih cepat? Apa kau sangat mengiginkan Luhan mati? Dia bisa saja kritis karena tak bisa menahan rasa sakitnya."
Kyuhyun menjelaskan dalam satu kali helaan nafas, dan menatap Sehun dengan sedikit emosi "Tak bisakah kau berhenti membencinya dan memperlakukannya secara layak? Kau akan menyesal jika bersikap seperti ini terus padanya." Ujarnya menatap Luhan yang masih tertidur akibat suntikan penghilang rasa sakit yang diberikan Kyuhyun.
"Suruh dia minum obatnya jika sudah sadar. Aku pergi." Kyuhyun kemudian meninggalkan Sehun yang hanya terdiam sambil menatap ke arah masih belum sadarkan diri.
Dan selang beberapa jam kemudian, akhirnya Luhan sadar dan perlahah membuka matanya, hal pertama yang ia lakukan adalah memegang kepalanya yang masih terasa sakit namun tak menyakitkan seperti beberapa saat yang lalu. Terakhir yang dia ingat adalah Sehun yang yang berada dikamarnya namund kemudian dia tersenyum lirih mengharapkan saat dia terbangun ada Sehun disampingnya.
Luhan kemudian membenarkan posisinya matanya masih mengerjap sampai dia menyadari kalau dia tak berada dikamarnya. Luhan kemudian bersandar di tepi ranjang dan sangat mengenali aroma khas yang ada pada selimut yang sedang ia gunakan ini, kemudian matanya membelalak menyadari kalau dirinya tengah berada dikamar Sehun-.. kamar yang dulunya pernah menjadi tempat yang paling nyaman untuk Luhan.
Cklek!
"Kau sudah bangun?"
Suara dingin itu menginterupsi, Luhan menoleh dan mendapati Sehun sedang membawa segelas air dan makanan di tangannya, Luhan pun dengan terburu-buru ingin menuruni ranjang Sehun karena takut membuat Sehun marah.
"Tetap berbaring disana."
Dan kalimat itu sukses membuat Luhan bingung harus tetap berbaring atau pindah kekamarnya, karena dia tahu benar Sehun tak pernah mengijinkannya lagi untuk memasuki kamarnya sejak kematian kedua orang tuanya.
"Tapi Sehun.."
Luhan berusaha menjawab, namun Sehun sudah duduk disampingnya sambil menyerahkan makanan beserta segelas air untuknya.
"Makanlah dan minum obatmu yang ada dimeja. Setelah selesai kau boleh kembali tertidur" ujarnya memberitahu Luhan dan kemudian berjalan menjauhi Luhan. Luhan pun merasa tak enak hati karena menebak pasti Sehun akan tidur dikamar lain mengingat dirinya tidur dikamar milik Sehun.
"Sehun, kau mau kemana? Aku bisa pindah ke kamarku. Kau tak perlu tidur di ruangan lain." Luhan berkata cepat membuat Sehun kembali menoleh ke arahnya.
"Kenapa aku harus tidur dikamar lain?" Tanya Sehun menaikkan kedua alisnya
"Karena aku disini." Lirih Luhan menjawab tak berani menatap Sehun.
"Kau pikir aku merelakan kamarku untumu?" katanya dengan nada yang kembali menjadi Sehun yang dingin.
"Mulai malam ini kau akan kembali tidur dikamar ini begitu juga denganku. Aku tidak akan membiarkan dirimu mati kesakitan karena tidur sendirian tanpa berniat meminta tolong sama sekali." Katanya setengah menyindir Luhan namun bergetar menahan rasa khawatirnya karena tindakan bodoh Luhan yang tak meminta tolong saat kesakitan.
"Aku hanya menyelesaikan beberapa dokumenku di ruang kerja. Setelah selesai aku akan kembali kesini dan aku sarankan agar kau menghabiskan makananmu dan minum obatmu." Katanya berlalu meninggalkan Luhan yang berharap tak bangun jika semua ini hanya mimpi.
"Sehun.." gumamnya tersenyum dan mulai melahap makanan yang dibawakan Sehun untuknya. Sehun pun belum sepenuhnya pergi, dia masih berada didepan pintu kamarnya dan memastikan Luhan benar-benar menghabiskan makanan yang ia bawakan untukny. Dan tanpa dirinya sadari pun, Sehun tersenyum lega melihat wajah Luhan tak terlalu lagi pucat seperti beberapa jam yang lalu.
Luhan sudah selesai menghabiskan makanannya dan meminum obat yang ada di mejanya. Namun dia tak bisa kembali tidur karena masih belum yakin jika Sehun kembali mengijinkannya tidur dikamar yang sama dengan Sehun.
Dan untuk alasan yang tak jelas. Luhan merasakan jantungnya berdegup kencang, degupan yang sama saat Sehun pertama kali memintanya untuk tidur bersama dikamar ini, dan untuk menghilangkan rasa gugupnya, Luhan mulai menelusuri kamar Sehun yang sangat besar dan luas ini. Masih jelas teringat di ingatannya setiap sudut ruangan memiliki kenangan tersendiri untuk keduanya.
Luhan berjalan ke meja yang biasa ia dan Sehun gunakan untuk belajar dan mengerjakan tugas rumah, Luhan akan marah jika Sehun terus menggodanya dan Sehun akan meminta maaf dengan memijat bahu Luhan. Luhan duduk sebentar dan bersandar di meja itu mengingat betapa dia dan Sehun tak terpisahkan.
Kemudian kakinya melangkah ke tempat dimana Sehun menghabiskan waktu untuk bersembunyi agar tak disuruh berbelanja ibunya, tempat yang sekaligus merupakan tempat favorit Sehun untuk bermain game. Dulu ruangan ini berwarna biru-merah. Kombinasi warna kesukaan Sehun dan Luhan, namun sekarang ruangan ini hanya ruangan yang tampak mencekam dengan warna hitam mendominasi hampir seluruh ruangan.
Kakinya kemudian melangkah ke dekat lemari pakaian Sehun, Luhan membukanya dan menyesap dalam-dalam aroma Sehun dari pakaiannya. Sehun memiliki aroma khas yang tak pernah ia ganti hingga sekarang, saat sedang menyesapi beberapa kemeja Sehun, mata Luhan menangkap beberapa tumpukan yang ia tebak seperti bingkai foto. Kemudian dirinya tersenyum pahit menyadari itu adalah fotonya dan Sehun yang dulu terpajang rapih dikamar Sehun.
Luhan hendak mengambilnya namun suara Sehun yang baru masuk menginterupsinya.
"Jangan berani-berani kau ambil foto itu, aku belum sempat membakarnya."
Ucapan itu berhasil membuat goresan baru dihati Luhan. Hati yang beberapa menit yang lalu sudah lebih baik harus kembali merasakan perasaan kecewa dan memelas.
"Y-ya Sehun." Katanya bergetar dan belum berani menatap Sehun.
"Cepat tidur." Perintahnya yang sudah berbaring di ranjang miliknya, Luhan berbalik arah dan hanya diam di tempatnya. "Kenapa tidak tidur?" Sehun bertanya
"Apa benar aku boleh tidur disini denganmu?" Tanya Luhan kembali memastikan.
"Apa aku harus mengulang jawabanku?" tanyanya menatap Luhan tajam
Luhan menggeleng lemah dan terburu-buru menghampiri Sehun yang sudah berbaring. Dia kemudian perlahan berbaring disamping Sehun, mengutuk jantungnya yang merasakan sensasi aneh saat punggungnya bersentuhan dengan punggung Sehun.
"Besok kau memulai terapimu. Aku sendiri yang akan mengantarmu." Ujar Sehun dengan posisi membelakangi Luhan
"Terapi?' Tanya Luhan yang juga membelakangi Sehun tak berani merubah posisinya.
"Kyuhyun bilang sudah ada tonjolan kecil di otakmu, kau harus segera di terapi agar tak semakin membesar." Katanya memberitahu Luhan yang tampak terkejut dengan ucapan Sehun tentang keadaan dirinya.
"Apa sudah menjadi tumor sekarang?" katanya bertanya dengan lirih pada Sehun
"Ya jika tak segera ditangani." Balas Sehun yang mati-matian menulikan telinganya mendengar Luhan yang tampak ketakutan.
"Itu artinya aku akan segera mati. Syukurlah." Ujarnya yang kemudian merasa sangat takut tak bisa melihat Sehun lagi.
Sehun membalikkan badannya dan menarik Luhan ke pelukannya dengan cepat, sesaat dia merasakan tubuh Luhan menegang karena takut mungkin dia akan menyakiti atau membentaknya "Aku hanya bilang besok kau harus terapi, aku tidak berbicara tentang kau yang akan segera mati. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi tentu saja." Gumamnya dengan suara dingin khasnya namun kentara sekali kalau saat ini Sehun juga tak bisa menyembunyikan rasa takut dan khawatirnya.
"Sehun.."
"Tidurlah, aku tidak mau mendengar ocehan tak pentingmu lagi." Katanya mendekap Luhan semakin erat.
Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir, Luhan merasakan bahwa Sehunnya yang dulu telah kembali, dan dia berdoa dalam hati memohon untuk tak dibangunkan jika ini hanya mimpi.
..
..
..
"Bagaimana? Aku sudah baik-baik saja kan?"
Hari ini Luhan menjalani terapi pertamanya ke rumah sakit, terapi yang tak pernah ia lakukan sebelumnya karena takut memakan biaya yang besar. Namun Luhan akhirnya menjalani terapi tersebut karena Sehun sendiri yang memintanya untuk melakukan terapi. Tak mau membuat suaminya kembali marah padanya, Luhan pun akhirnya menemui dokter spesialis syaraf di rumah sakit.
"Kau jauh dari baik-baik saja Lu. Hasil CT-Scan menunjukkan ada kelainan pada neuron syaraf otakmu Lu." Ujar dokter Kim Bora, dokter spesialis syaraf dan penyakit dalam yang dikenalkan Kyuhyun pada Luhan.
"A-apa maksud anda dokter Kim? Hari ini saja aku tak merasakan sakit." Kilah Luhan yang tersenyum memelas mengetahui kondisinya tak cukup baik.
"Kita harus bicara dengan Tuan Oh. Kau harus segera dioperasi." Balas dokter Kim memberitahu Luhan.
"Sehun sudah kembali kekantornya, dia hanya tahu aku harus terapi bukan operasi. Sebenarnya aku kenapa?" Tanya Luhan emosi tak mengerti.
"Diagnosamu sudah salah dari awal. Itu bukan hanya radang selaput otak. Kau lihat benjolan ini.. Awalnya ini hanya benjolan kecil, namun ternyata benjolan itu terus membesar dan menyebar. Ini positif tumor otak Lu, aku belum yakin, tapi dilihat dari ukuran benjolannya ini stadium tiga"
Penjelasan yang awalnya tak Luhan mengerti menjadi sangat jelas untuknya, Luhan tahu kalau dirinya tak baik-baik saja dan menyadari darimana rasa sakitnya selalu datang.
Luhan tersenyum lirih menatap dokter Kim "Lalu apa yang harus aku lakukan?" Katanya bertanya tampak tak ppeduli dengan kondisinya.
"Kau harus segera dioperasi Luhan. Bahaya jika benjolan ini terus membesar dan pada akhirnya mengganggu sirkulasi suplai oksigen ke otak dan kau akan merasakan sakit kepala berlebihan seperti yang sekarang kau rasakan saat ini."
Dokter Kim memberitahu Luhan yang hanya diam tak menjawab. Kemudian kedua alisnya mengernyit mendapati Luhan berdiri dari tempat duduknya. "Apa jika operasi aku akan sembuh total?" tanya Luhan pada dokter Kim
"Kita hanya mencegah kemungkinan terburuk Luhan, untuk selanjutnya itu tergantung bagaimana kondisimu nantinya." Ujar dokter Kim memberitahu Luhan
Luhan hanya tertawa pahit kemudian memutuskan untuk meninggalkan ruangan dokter Kim "Saya permisi dulu, terimakasih untuk hari ini." Lirihnya berpamitan dengan dokter Kim dan meninggalkan ruangan dokter Kim.
Luhan terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit, ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikirannya. Dissatu sisi dia senang karena kondisinya yang melemah, itu artinya dia tak perlu bersusah payah menahan pahitnya hidup lagi, dia bisa beristirahat dengan tenang dan mungkin bertemu dengan calon bayinya serta kedua orang tua Sehun.
Namun disisi lain dia tahu benar hatinya berdenyut sakit memikirkan tak bisa bertemu dengan Sehun lagi, dia tiba-tiba merasa sangat sesak dan bergetar ketakutan mendapati kenyataan kalau dia membiarkan penyakit ini menggerogotinya dia akan kehilangan Sehun selamanya.
"Aku harus bagaimana?" Gumamnya terus berjalan keluar rumah sakit.
Sementara itu Sehun yang sedang menunggu di ruang vip rumah sakit tersebut terusik oleh kedatangan sekertaris kepercayaannya yang ia minta untuk mengawasi dan memberitahunya tentang keadaan Luhan dan terapinya.
"Tuan muda." Kata sekertaris Kim menghampiri Sehun
"Bagaimana? Dimana dia?" Tanya Sehun yang sedang fokus membaca koran.
"Tuan Luhan sudah meninggalkan rumah sakit."
"Ah, apa terapinya berjalan lancar?" Sehun bertanya masih membaca korannya.
Diam, tak ada jawaban. Hal itu pun membuat Sehun penasaran dan melipat korannya "Jelaskan padaku ada apa?" Tuntutnya pada sekertaris Kim
"Ini tuan lihatlah kondisi kesehatan Luhan."
Sekertaris Kim menyerahkan amplop berwarna coklat pada Sehun. Sehun kemudian membukanya dengan cepat dan mulai membacanya. Dia memang tidak mengerti isi tulisan yang ada di amplop coklat tersebut, tapi dia yakin ini bukan sesuatu yang baik.
"Apa maksudnya?" Katanya masih bertanya.
"Tumor tuan muda... Luhan mengidap tumor, dan itu dipastikan tumor otak. Bukan tumor ganas, namun tetap berbahaya jika tak dilaksanakan operasi secepatnya."
Pikiran Sehun kosong detik ini juga, dia merasa jantungnya berdegup sangat cepat, dan sekelibat rasa takut menghinngapinya, dia tidak bisa memastikan apa yang dia rasakan, hanya saja dia tahu benar kalau dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Luhan.
"Di-DIMANA DIA?" Sehun berteriak ingin segera bertemu dengan Luhan.
"Belum lama Luhan pergi ke luar rumah sakit tuan. Tapi saya tak tahu dia ke..."
Belum selesai sekertarisnya berbicara, Sehun melesat keluar dengan cepat berniat untuk menemui Luhan dan berbicara pada istrinya tersebut.
"Dimana kau?" Gumam Sehun terengah, matanya mengedar mencari Luhan dan tersenyum lega mendapati Luhan duduk di halte bis dengan termenung. Dan Sehun tahu benar apa yang sedang dipikirkan Luhan saat ini
Ketika sedang berjalan menghampiri Luhan, Sehun membelalak melihat bis yang datang karena Luhan naik kedalam bis tersebut, hal itu membuatnya harus berlari sekuat tenaga mengejar bis dan beruntung dia belum terlambat.
Selesai membayar bis, mata Sehun terus mengawasi Luhan yang hanya diam dengan tatapan kosong, dia kemudian memutuskan untuk duduk di belakang kursi Luhan dan memantau istrinya dari dekat tanpa harus menggangunya terlebih dulu.
Beberapa menit kemudian, Luhan berdiri dari tempat duduknya bersiap untuk turun, Sehun kemudian mengernyit bingung menebak kemana sebenarnya tujuan Luhan, dan tanpa berfikir panjang Sehun terus mengikuti Luhan yang terlihat pucat dan masih belum sepenuhnya bisa ditinggal sendiri.
Sehun terus mengikuti kemana Luhan berjalan, sampai akhirnya Luhan memasuki tempat yang ia tebak panti asuhan, namun sepertinya itu bukan panti asuhan yang layak karena terlihat sangat kumuh dan tak layak huni.
"Luhannnnnn~"
Terlihat seorang gadis kecil berlari menghampiri Luhan dan meminta Luhan menggendongnya, dan secara ajaib pula kedatangan gadis kecil itu membuat wajah pucat Luhan kembali berwarna, menandakan kalau Luhan sedang merasa bahagia dan dalam sekejap wajah murungnya dihiasi dengan senyuman yang sudah lama tak Sehun lihat.
Sementara Sehun terus mengawasi Luhan dan berniat mencari tahu tempat macam apa ini sebenarnya dan siapa anak kecil yang sedang berceloteh didepan Luhan.
"Hyerinaaa..apa kabar cantik?"
Terdengar Luhan menyapa gadis kecil itu dan berjongkok didepannya mengusak rambut gadis kecil yang ia panggil Hyerin tersebut.
"Aku baik Luhan, bagaimana kabar Luhan dan adik bayi?" tanya si gadis kecil membuat Sehun berani bersumpah dan mengutuk dirinya mendapati kenyataan kalau dia adalah satu-satunya yang tak tahu tentang kehamilan Luhan saat itu.
Raut wajah Luhan pun mengeras saat calon anaknya kembali ditanyakan, Sehun melihat dan menyadarinya kalau Luhan sedang mati-matian untuk tak megeluarkan suara yang bergetar yang bisa membuat gadis kecil itu merasa khawatir.
"Adik bayimu sedang beristirahat dengan kakek neneknya hyerinaa.. Doakan agar dia selalu sehat dan bahagia hmm."
"Ya… tentu saja Luhan, aku akan selalu mendoakan adik bayi agar Luhan senang." Katanya mencium pipi Luhan dengan sayang.
"Gomawo Hyerina…"
Dan suara itu pun gagal untuk menutupi betapa kehilangannya Luhan atas bayinya dan betapa sakitnya perasaan yang selalu ia coba untuk tutupi itu. Sehun tanpa sadar hanya memandang istrinya dengan tatapan kosong, berharap kalau rasa kehilangan Luhan akan bayi mereka bisa segera Luhan lupakan "Dasar bodoh." Gumamnya merasa Luhan terlalu berusaha dengan keras.
"Ayo kita masuk, suster kepala ada didalam." Hyerin menggandeng tangan Luhan menuju kedalam, Sehun pun terus mengikuti Luhan, tak mempedulikan kalau Luhan melihatnya atau memergokinya saat ini. karena sebenarnya itu yang Sehun harapkan.
"Baiklah cantik… Aigoo Hyerin sudah sangat pintar." Luhan kembali tersenyum dan mengusak gemas rambut Hyerin yang sedang menggandengnya.
"Suster kepala." Luhan menyapa suster kepala yang merupakan pimpinan dari panti asuhan tersebut yang sedang terlihat menggendong bayi dan berbicara dengan perempuan.
Dan sapaan Luhan barusan membuat Sehun semakin yakin kalau tempat yang sedang ia datangi ini adalah panti asuhan.
"Luhan." sapa suster kepala Song yang sedang menggendong bayi.
"Ada apa? Bayi siapa itu?" tanya Luhan yang masih menggandeng erat Hyejin.
"Aku memergoki nyonya ini ingin meninggalkan bayinya di tempat sampah panti asuhan kita Luhan, aku sudah memberitahunya kalau kemungkinan panti asuhan ini akan tutup, jadi dia tak bisa meninggalkan bayinya begitu saja disini."
"Luhan sakit.." Hyejin sedikit meringis dan mengeluh karena genggaman Luhan tiba-tiba mengeras dan dia merasa sakit. Luhan yang sedang menahan marahnya pun menyadarinya dan langsung berjongkok agar sejajar dengan Hyejin "Mianhae Hyejina..Oia kau mau kan Bermain dengan yang lain? Aku ingin bicara dengan suster kepala." Katanya meminta izin pada Hyejin
"Ya Luhan tentu saja. Aku akan menunggumu selesai.:" katanya mengecup sayang pipi Luhan dan berlari melewati Sehun yang bersembunyi tak jauh dari tempat Luhan berada, mengawasi istrinya tanpa berniat untuk melewatkan satu hal apapun tentang Luhan hari ini.
Sepeninggal Hyejin, Luhan kembali berdiri dan mengambil bayi dari gendongan suster kepala Song dan menyerahkan kembali bayi tersebut kepada wanita seusianya yang sudah bersiap pergi.
"Apa-apaan ini?" tanya si wanita tersebut tak suka pada Luhan.
Luhan pun menatap si wanita dengan tajam dan penuh amarah. "Bawa bayi tak berdosamu dan cepat pergi darisini." Desisnya dengan penuh luka didalam suaranya.
"Mwo?" kata si wanita tak percaya.
"Suster.. Ayo kita masuk." Luhan menggandeng suster kepala memasuki ruangannya sampai suara wanita tersebut menginterupsi
"Aku-…Aku kesini untuk meninggalkan bayiku bukan untuk membawanya kembali kerumah."
"APA KAU SUDAH GILA? KENAPA KAU TEGA MEMBUANG ANAKMU?"
Habis sudah kesabaran dari kemarahan yang sedari ia tahan saat pertama kali mendengar wanita didepannya ingin membuang anaknya ke panti asuhan. Suster kepala pun terlihat sedikit berjengit melihat Luhan yang berteriak Sehun menebak ini adalah kali pertama untuk wanita tua yang Luhan panggil suster kepala tersebut melihat Luhan yang begitu emosi.
Sehun pun tersenyum lirih menyadari kalau ini juga pertama kalinya ia melihat Luhan yang sangat marah dan terlihat sangat emosi.
"BUKAN URUSANMU…"
Si wanita membalas teriakan Luhan sama emosinya, membuat Luhan melangkah maju mendekati wanita tersebut.
"Kau ingat anak kecil yang belum lama berdiri disini tadi? Dia sama seperti anakmu yang akan kau buang ini, dia anak yang tak diinginkan. Dia tumbuh dengan baik disini, tapi percayalah padaku hanya tubuhnya yang tumbuh sehat, tapi tidak dengan perasaan dan pikirannya. Dia masih berusia tujuh tahun tapi dia sudah bisa mengambil kesimpulan kalau dia dibuang orang tuanya. Apa kau pikir dia membenci orang tua kandungnya? Tidak-… Gadis kecil itu tidak pernah membenci orang tuanya, gadis kecil itu selalu berdoa untuk kebahagiaan orang tuanya dengan tersedu pilu setiap malam. Berharap kalau orang yang membuangnya kembali untuk memungutnya."
"Lalu apa kau akan tega melihat anakmu tumbuh besar dengan batin yang hancur berkeping-keping seperti gadis kecilku?" Luhan melanjutkan ucapannya dengan suara bergetar dan memegang bahu si wanita tersebut yang tampak syok dengan cerita Luhan barusan.
Brak!
Si wanita terduduk dan memeluk erat anaknya sambil terisak pilu, sedari awal memang dia tak terlihat ingin membuang anaknya, dia dalam keadaan bingung dan tak tahu harus bagaimana "Anakku.. Maafkan eomma nak?" katanya menciumi bayinya yang sedang tertidur.
"Pulanglah dan besarkan anakmu. Tak semua orang beruntung sepertimu." Ujar Luhan berjongkok dan terdengar sangat bergetar disetiap ucapannya.
"Aku harus bagaimana? Suamiku tak menginginkan anaknya, dia tak menginginkan bayi kami."
Dan pernyataan wanita tersebut kembali membuat wajah Luhan mengeras dan merasa kehidupan yang dijalani wanita ini sama dengan miliknya, bedanya tak pernah terbesit sedikitpun di benak Luhan untuk meninggalkan bayinya kalau ia diberi kesempatan untuk bisa bersama bayinya saat itu.
"Kau tahu nyonya, aku baru saja kehilangan bayiku." Lirih Luhan tertunduk memberitahu wanita tersebut.
"Dan sama sepertimu, suamiku mungkin tidak akan menerima bayi kami karena bayi itu anakku, dan suamiku-... dia sangat membenciku dengan hidupnya, tapi kemudian aku menyadari kalau aku salah menilai suamiku. Dia mungkin membenciku, tapi dia tak pernah membenci bayi kami.. Suamiku menginginkan anak kami. Aku melihatnya menangis saat aku tak memberitahunya tentang kehamilanku. Dan dia tampak memucat saat dokter mengatakan kami kehilangan darah daging kami." Ujar Luhan menatap kosong entah kemana
"Tapi…." Katanya menoleh menatap wanita tersebut dengan tatapan penuh kekecewaan didalamnya
"Seandainya suamiku tak menginginkan bayi kami, tak pernah terbesit sedikitpun dibenakku untuk meninggalkan bayi kami. Kau tahu kenapa?" tanya Luhan membuat si wanita menggeleng lemah.
"Rasanya sangat menyakitkan ketika kau kehilangan darah dagingmu. Kau tidak akan pernah bisa menjalani hidupmu dengan baik, hanya rasa bersalah yang menggerogotimu dan kau tahu yang lebih menyakitkan lagi?" tanya Luhan bergetar dan terlihat sangat sedih.
Wanita tersebut menatap Luhan dengan prihatin dan kembali menggeleng lemah.
"Tawa anakmu hanya impianmu mulai dari hari kau kehilangan darah dagingmu nyonya. Dan aku bersumpah itu membunuhmu perlahan. Karena itu yang aku rasakan."
"Rasanya sungguh menyakitkan sampai setiap kau menghembuskan nafasmu, hanya rasa sakit dan tertekan yang kau rasakan." lirihnya terduduk dan terlihat sangat kesakitan menahan rasa rindunya pada calon bayinya yang sudah tiada.
"Luhan…." gumam Sehun yang begitu terkejut mendengar semua penuturan Luhan.
Sehun tiba-tiba bisa merasa yakin bisa merasakan kehilangan yang Luhan rasakan. Mau bagaimanapun dia juga kehilangan darah dagingnya sendiri, dia juga merasa sangat kehilangan seperti Luhan, dia mungkin bisa merelakan bayinya pergi, tapi kemudian dia juga menyadari kalau dirinya tak akan pernah bisa kehilangan Luhan.
Dia begitu menyesal mendengar semua penuturan Luhan. Dia pikir selama ini Luhan sudah baik-baik saja, namun ia salah. Luhan-..istrinya benar-benar kesakitan karena kehilangan bayi mereka. Dan Sehun bertaruh, rasa sakit yang Luhan rasakan saat kehilangan bayinya melebihi penyakit yang menggerogoti tubunya saat ini.
"Aku mohon besarkan anakmu walau suamimu membencinya. Aku mohon." Pinta Luhan membuat si wanita kemudian tersenyum melihat Luhan.
"Terimakasih tuan.. Terimakasih sudah datang tepat waktu, Aku-…Aku berjanji akan menjaga anakku mulai sekarang, aku tak mau kehilangan bayiku.. Tidak akan pernah. Terimakasih Tuan.. Aku permisi."
Dan si wanita itu pun pergi berlari mendekap erat bayinya dipelukannya, Luhan tersenyum sangat iri pada si wanita yang diberi kesempatan bersama bayinya sementara ia tidak.
"Luhan.. Apa kau baik-baik saja?" suster kepala bertanya pada Luhan yang masih terduduk lemas dilantai.
Luhan pun tersenyum dan menghapus cepat air matanya, dia kemudian bangun dan sedikit terhuyung karena kepalanya kembali berdenyut. "Aku sakit suster kepala. Tapi tidak usah khawatir, aku sudah sembuh melihatmu." Katanya menggoda si wanita tua yang terlihat mengkhawatirkan Luhan.
"Apa benar kau baik-baik saja Lu.." katanya meraba wajah Luhan.
"Ya suster aku baik-baik saja." Kata Luhan menyembunyikan suara bergetarnya.
"Oia.. Apa maksudmu panti asuhan ini akan segera tutup. Apa mereka akan tetap menggusur tempat ini?" tanya Luhan menyadari ucapan suster kepala sebelumnya.
Suster kepala hanya bisa tersenyum lirih dan mengangguk membenarkan ucapan Luhan "Ya Luhan.. Kami harus mencari tempat baru, tempat ini akan digusur dan jika aku mau mempertahankan tempat ini, aku harus membayar sangat mahal, dan kau tahu keuangan kami sangat tak bagus." Katanya tertawa pahit memberitahu Luhan.
"Suster kepala, aku sudah janji akan membantumu. Aku akan meminta bantuan teman-temanku, kalau perlu aku akan bekerja sampai mati agar bisa membantumu." Luhan memeluk suster kepala sekilas dan meyakinkan wanita paruh baya tersebut.
"Terimakasih sudah sangat baik Luhan, tapi kami tak punya pilihan lain selain berkemas dan bergegas pergi. aku janji akan tetap membawa Hyerin dan yang lainnya." Kata suster kepala memberitahu Luhan.
"Aniya.. Kau tak boleh meninggalkan aku suster kepala. Aku akan kembali dan membawa uang untukmu, aku janji." Ujar Luhan yang sudah sangat ketakutan kalau keluarganya di panti asuhan meninggalkannya sendiri.
"Terimakasih nak. Terimakasih." Kata suster kepala membawa Luhan untuk masuk dan bertemu dengan anak asuh yang lain.
Sehun mendengarkan semua ucapan Luhan dari awal termasuk tentang panti asuhan ini yang akan digusur dan diratakan dengan tanah. Entah kenapa melihat mereka semua sangat baik pada Luhan, membuatnya berfikir harus melakukan sesuatu.
Sehun kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi sekertarisnya.
"Cari tahu tentang panti asuhan terpencil di selatan Myeongdo. Dan pastikan kalau tak seorang pun bisa mengusik tempat itu. Lakukan apapun yang harus dilakukan."
Katanya memberi perintah pada sekertarisnya dan menutup ponselnya, memutuskan untuk menunggu Luhan yang masih berbincang di ruang suster kepala.
..
..
..
Dan setelah menunggu cukup lama, Luhan akhirnya keluar dari ruangan suster kepala menggendong gadis kecil yang tadi bersamanya, terlihat Luhan berpamitan dan mencium si gadis kecil kemudian berlalu pergi meninggalkan panti asuhan dengan Sehun yang tetap mengikutinya dari belakang.
Luhan terus berjalan menyusuri pinggiran Seoul, sepertinya dia hendak ke suatu tempat karena dirinya mampir di toko bunga dan membeli tiga buket bunga dan menggenggamnya di tangannya, Sehun menebak-nebak kemana selanjutnya Luhan akan pergi karena Luhan kembali menaiki bis dan dia terus mengikutinya.
Sehun sedikit membelalak mengenali tempat yang Luhan kunjungi saat ini.
Ya saat menuruni bis dan kembali menyusuri jalan, Sehun tahu benar kalau istrinya ini sedang menuju ke pemakaman kedua orang tuanya.
Terlihat sesekali Luhan menoleh ke belakang, mungkin dia merasa diikuti namun dia tersenyum mengabaikannya karena sebentar lagi akan bertemu dengan kedua orang tua Sehun.
"Eomma…Appa~"
Sapa Luhan berjongkok dan meletakkan masing-masing satu buket bunga di makam orang tua Sehun, Sehun hanya diam dan terus mendengarkan.
"Maafkan aku baru bisa mengunjungi kalian setelah sekian lama. Terlalu banyak hal yang terjadi padaku." Gumamnya melihat kekanan dan ke kiri bergantian mengelus nisan yang bertuliskan masing-masing nama kedua orang tua Sehun
"Kalian tahu dokter bilang apa tentang penyakitku? Itu tumor..Mereka mengatakan aku harus operasi, dan mereka bilang operasi belum menjamin kesembuhanku. Jadi apa yang harus kulakukan?" tanya Luhan lirih membuat Sehun mengepalkan tangannya otomatis mendengarkan ketakutan Luhan.
"Ah…Maaf aku mengeluh pada kalian. Aku ingin memberitahu sesuatu pada eomma dan appa." Suara Luhan berubah dibuat menjadi senormal mungkin.
"Aku dan Sehun-… kami berdua sudah tidur sekamar lagi." Katanya tersenyum dan terdengar sangat bahagia.
"Eomma dan Appa harus mendoakan agar hubungan kami berdua membaik. Aku sangat merindukan Sehunku." Lirihnya dengan air mata yang sengaja ia biarkan menetes.
Sehun merasa sesuatu kembali mengganggu hatinya, selintas semua perlakuannya pada Luhan berdatangan dan menyeruak keluar membuat dirinya merasakan sakit tepat dihatinya.
"Ah… Maaf aku kembali cengeng." Katanya menghapus airmatanya cepat.
"Eomma appa.. Mulai besok, aku akan mengunjungi kalian bertiga setiap minggu. Aku janji." Katanya berpamitan mengecup masing-masing nisan kedua orang tua Sehun
"Bertiga?"
Sehun membatin saat Luhan mengatakan akan mengunjungi kalian bertiga setiap minggu. Setelah itu dilihatnya Luhan berdiri sambil memegang buket bunga yang tersisa satu dan berjalan menyusuri taman pemakaman tak jauh dari makam kedua orang tuanya, kemudian tak lama ia kembali berjongkok meletakkan bunga di salah satu makan yang Sehun tebak itu buatan Luhan sendiri.
"Anakku.."
Sehun kembali merasa dirinya melemas mendengar Luhan menyapa makam yang sedang ia ajak bicara saat ini. ternyata ini adalah makam anak mereka yang Luhan buat sendiri karena terlihat berantakan namun tersusun dengan cantiknya.
"Maafkan aku yang hanya bisa membuat tempat istirahat yang sangat jelek untukmu nak. Eomma hanya ingin membuatmu merasa nyaman dan membuatku memiliki tempat untuk berbicara denganmu." Lirihnya menciumi nisan dengan tulisan My little angel yang ia tulis dengan kedua tangannya sendiri.
"Apa kau sedang bermain disana nak?" tanya Luhan mendongak ke atas langit.
"Eomma sangat ingin melihatmu anakku." Katanya kembali tersenyum dan mencium nisan anaknya.
"Eomma ada kabar yang entah baik atau buruk untukmu nak. Dokter bilang eomma mengidap tumor yang artinya eomma bisa menyusulmu dan bermain denganmu kapan saja. Apa kau senang?" tanya Luhan mengelus sayang nisan calon anaknya itu.
"Tapi eomma takut nak… eomma takut tak bisa melihat appamu lagi… Eomma sangat mencintai ayahmu nak. Aku sangat takut tak bisa bertemu ayah….."
Luhan membelalak saat merasakan lengannya ditarik cukup kencang dan kini dirinya sedang merasakan seseorang yang sangat ia kenali sedang menciumnya dengan lembut.
Sehun sudah tak tahan mendengar Luhan yang terus mengatakan bisa pergi kapan saja dan menyusul anak mereka. Dia tak bisa mendengar lebih banyak lagi dan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang bisa membuat Luhan diam dengan memaksanya berdiri dan mencium bibir mungilnya yang terlihat memucat karena cuaca dingin.
Luhan sendiri dengan otomatis menutup matanya dan tersenyum karena menyadarinya suaminya berada disini, dimakam kedua orang tuanya dan anak mereka dan sedang menciumnya lembut, seolah membuktikan kepada kedua orang tua Sehun serta anak mereka kalau hubungan mereka baik-baik saja, membuatnya bersyukur lega dan ikut membalas lumatan lembut suaminya.
Sehun pun semakin memperdalam ciumannya dan tanpa Luhan ketahui, Sehun sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu yang harusnya ia lakukan saat mereka kehilangan bayi mereka, sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan pada Luhan dengan membenci dan memukulinya, sesuatu yang akhirnya membuat Luhan harus menanggung akibat dari kekejamannya sendiri.
Ya… Sehun sudah memutuskan untuk kembali membuka hatinya untuk Luhan yang memiliki kesabaran yang tak terhingga untuknya, dia hanya dibutakan oleh kesalahpahaman. kemarahan dan kebencian tak beralasan untuk Luhan. Dan mulai hari ini, Sehun berjanji untuk kembali mendapatkan cinta Luhan, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk memulai semuanya dari awal lagi bersama Luhan, Karena Sehun sangat menyadari bahwa jauh dilubuk hatinya yang paling dalam dia tak pernah berhenti mencintai Luhan.
Dan Sehun melakukannya di depan ayah, ibu serta anak mereka yang merupakan tiga orang yang sangat berarti untuknya dan Luhan.
tobecontinued..
.
see you in next chapter...
.
