.

.

HaeHyuk Fanfiction

.

.

Hate U? Love U?

.

Typo adalah suatu hal yang wajar dalam menulis sebuah fanfiction jadi harap dimaklumi #Bhaks

.

" Tidak suka, jangan baca silahkan langsung klik tanda silang di pojok kanan atas. Tidak terima BASH, namun KOMENTAR YANG MEMBANGUN SANGAT DIBUTUHKAN. Terima kasih. Selamat membaca ^^ "

.

.

"Maaf Tuan, tapi bisakah anda bermurah hati pada kami? Kalau panti digusur, anak-anak mau tinggal di mana? Kasihan mereka tuan. Mereka bahkan tak punya orang tua." Donghae memandang datar seorang wanita paruh baya yang duduk di depannya yang kini terlihat begitu memohon.

"Aku tak peduli. Tempat ini milikku, jadi aku berhak melakukan apapun bukan?" Donghae berucap santai.

"Saya tahu tuan, tapi kenapa begitu tiba-tiba? Sebelumnya bahkan anda menjaga panti ini begitu baiknya. Tidakkah tuan begitu mengasihi mereka?" Donghae menoleh ke arah yang ditunjuk si wanita, menatap anak-anak penghuni panti yang bergerombol di depan pintu.

"Ku bilang aku tak peduli."

"Tuan Donghae, jangan lakukan ini, Saya mohon tuan. Kasihanilah me_"

"Umma!"

Dua orang yang duduk saling berhadapan itu menoleh bersamaan. Hyukjae berdiri di depan pintu. Menatap bingung pada Donghae, kemudian beralih pada wanita di depan Donghae. Hyukjae melangkah mendekati ibu asuhnya.

"Ada apa ini Umma? kenapa Umma seperti ini? Dan... Siapa mereka?" Hyukjae bertanya sambil mengedarkan pandangannya. Menatap beberapa lelaki berpakaian hitam di sana dan kembali terhenti pada sosok Donghae di depannya.

"Tidak apa-apa Hyukkie. Kau masuklah ke dalam. Kau pasti lelah kan?" Perintah lembut namun tegas itu membuat Hyukjae mengkerut bingung.

"Tapi Umma, Aku_"

"Masuk Hyuk!" Tatapan tak terbantahkan yang ditunjukkan Hyori –wanita yang tadi dipanggil Umma- mau tak mau membuat Hyukjae tak melawan. Walau ragu, perlahan Hyukjae bangkit hendak meninggalkan ruangan itu.

"Aku mau dia!" Hyukjae dan Hyori serentak menoleh pada Donghae yang kini menatap Hyukjae dengan intens. Matanya menelisik tajam, mengunci tatapannya pada Hyukjae seolah menelanjangi pemuda iu. Membuat Hyukjae yang ditatap sedemikian rupa sedikit risih.

"M-maksud anda tuan?" Hyori berucap gugup.

"Aku mau dia. Dia ikut bersamaku maka aku tak akan pernah mengusik tempat ini!" Ekspresi Donghae begitu datar saat mengatakannya, berbeda dengan Hyukjae dan Hyori yang terbelalak.

"Tidak tuan Donghae, Tidak." Hyori berdiri di depan Hyukjae, seolah melindungi sosok itu dari bahaya yang teramat sangat.

"Anda boleh meminta apapun, memerintahkan apapun, tapi jangan ambil siapapun dari tempat ini!" Hyukjae mengernyit bingung, sungguh ia tak mengerti dengan apa yang dibicarakan ibu dan orang di depannya ini. Kenapa ibunya besikap begitu? Dan, kenapa orang di depannya ini menginginkannya? Untuk apa?

"Kalau begitu bisa dipastikan lusa tempat ini sudah rata dengan tanah!" Mata Hyukjae membelalak, apa maksud orang ini? Jadi panti akan digusur? Tidak. Jika digusur, bagaimana nasib ibunya, nasib saudara dan adik-adiknya di sini? Tidak, Hyukjae tak akan membiarkan hal itu terjadi. Oh... Bahkan kau tak mengkhawatirkan nasibmu sendiri Hyukjae?

"A-Apa maksudmu tuan?"Kali ini Hyukjae yang bicara pada Donghae. "Meratakan tempat ini? Maksud anda penggusuran? Anda tidak bisa melakukannya begitu saja!" Donghae mendecih mendengar pernyataan Hyukjae. Kembali ia bersandar di sofa kecil yang didudukinya.

"Kenapa tidak bisa? Tempat ini milikku, aku berhak melakukan apa saja bukan?" Sekali lagi Hyukjae terbelalak, tak mengira jika ucapannya ternyata dimentahkan begitu saja. Seketika suaranya tercekat. Jadi lelaki di depannya ini pemilik tempat ini.

"Tapi tetap saja anda tak bisa melakukannya, banyak yang akan dikorbankan jika anda melakukan penggusuran." Hyukjae masih mencoba bicara.

"Apa peduliku?" Donghae berucap tak acuh. Dilipatnya kedua tangan di depan dada, menatap Hyukjae dengan sorot mengintimidasi. "Kecuali jika kau ikut denganku."

Hyukjae mematung, dilihatnya Hyori menatapnya sambil menggeleng. Mengisyaratkan pada Hyukjae untuk menolak perkataan Donghae. Pandangannya beralih pada Donghae yang masih menatapnya intens. Kenapa dengan lelaki ini? Untuk apa ia meminta Hyukjae? Apa dia harus ikut dengan lelaki bernama Dongahe ini? Apa yang akan terjadi dengannya nanti jika ia mengikuti permintaan Donghae? Tapi jika ia tidak mengikutinya, bagaimana dengan nasib keluarganya di sini. Fikirannya kalut memikirkan hal itu.

"Lee Donghae tak pernah memberikan penawaran untuk kedua kali!" Perkataan Donghae menyadarkan Hyukjae dari dunianya.

"A-apa jika saya ikut dengan anda, anda tidak akan menghancurkan tempat ini?" Hyukjae bertanya ragu.

"Kau bisa pegang janjiku." Donghae berucap di tengah seringai kecilnya.

Hyukjae kembali memandang Hyori yang menatapnya tak percaya. Diberikannya satu senyum menenangkan pada wanita yang masih tampak begitu cantik itu, seolah mengatakan 'semua akan baik-baik saja'.

.

:::[ HaeHyuk ]:::

.

Pandangan Hyukjae menerawang. Menatap jauh sang raja siang yang mulai tenggelam di peraduannya melalui jendela besar di kamarnya, membuat suasana semakin gelap. Fikirannya kembali mengingat bagaimana ia bisa berada di tempat ini, untuk menyelamatkan keluarganya ia rela melakukan apapun. Tapi tak pernah terlintas dalam bayangannya jika nasibnya akan menjadi seperti ini. Terpenjara di dalam istana besar milik Donghae, tapi ia merasa tak lebih dari seorang pemuas nafsu belaka.

Matanya terpejam erat, meresapi perih di hatinya kala mengingat pertama kali Donghae berlaku bejat padanya. Pertama kali dan berlanjut seterusnya sampai saat ini. Perlawanan Hyukjae bahkan tak berarti sama sekali, dan lagi-lagi hanya akan berakhir dengan perbuatan kasar Donghae padanya.

Tapi akhir-akhir ini, tepatnya setelah Hyukjae memutuskan untuk 'menyerah' pada direktur muda itu, perlakuan Donghae berubah. Sikapnya masih saja datar dan dingin, tapi Donghae tak lagi menggunakan kekerasan. Bahkan saat menyentuh tubuhnya. Kesimpulan didapatkannya, jika Donghae tak akan berbuat kasar selama ia tidak memberontak, setidaknya sekarang itu yang Hyukjae lakukan. Berharap dengan begitu hati dingin lelaki itu luluh dan mungkin saja mau melepaskannya.

Cklek.

Suara pintu terbuka, mengembalikan kesadaran Hyukjae yang sejak tadi terlarut dengan fikirannya. Bibi Kim berada depan pintu, tersenyum lembut seperti biasa.

"Tuan Donghae sudah menunggu untuk makan malam. Segeralah turun."

Hyukjae mengangguk singkat kemudian beranjak mengikuti langkah kepala pelayan tersebut.

:::

Hyukjae dan Donghae menikmati makan malam dalam diam. Hanya terdengar denting alat makan yang saling beradu sebagai sumber suara. Mereka duduk berhadapan, dipisahkan oleh meja makan yang cukup panjang sehingga memberikan jarak yang cukup jauh.

Sesekali Hyukjae melirik pada Donghae di depannya. Lelaki itu makan dengan tenang, begitu elegan dengan gaya khas kalangan atas. Sejenak Hyukjae terpaku, menatap wajah Donghae yang ia akui sangat tampan. Wajah itu begitu datar tanpa ekspresi. Dalam hati Hyukjae bergumam, apakah lelaki itu memang tak punya ekspresi lain selain wajah datar dan dingin yang selalu ia tunjukkan. Bahkan hampir empat bulan Hyukjae di rumah ini tak pernah sekalipun ia lihat Donghae tertawa. Jangankan tertawa, tersenyum simpul saja Hyukjae tak pernah melihatnya.

Sekalinya ekspresi itu berubah, sebuah seringaian yang muncul. Setiap hari Donghae menyentuhnya. Setiap hari tanpa kecuali bahkan di saat ia pulang begitu larut karena pekerjaan, terkadang Hyukjae berfikir apakah lelaki itu tak bosan padanya. Donghae tipe lelaki yang begitu bergairah, itu yang Hyukjae tahu.

Donghae tak pernah hanya sekali menyentuhnya, tak kenal waktu bahkan di pagi hari saat mereka bangun setelah melakukan kegiatan serupa. Hyukjae bertanya-tanya, apakah Donghae selalu seperti itu? Jika iya, sebelum Hyukjae di sini apakah Donghae juga punya pemuas nya sendiri? Ah, Hyukjae meringis kembali mengingat dirinya yang hanya pemuas nafsu di sini.

Suara sendok yang diletakkan cukup keras mengembalikan kesadaran Hyukjae. Kepalanya mendongak dan bisa dilihat Donghae yang sudah selesai dengan makanannya. Ah, Hyukjae terlalu larut dalam lamunannya sampai ia tak sadar jika makanannya masih penuh. Hyukjae makan sedikit tergesa, ia tahu Donghae menatapnya sejak tadi membuatnya entah kenapa sedikit salah tingkah. Melihat tingkah Hyukjae, tanpa sadar Donghae tersenyum tipis, sangat tipis bahkan tak akan ada seorangpun yang menyadarinya.

Suara dering ponsel di meja makan mengalihkan tatapan Donghae, begitupun dengan Hyukjae yang juga berhenti dari kegiatannya. Tanpa beranjak dari tempat duduknya, Donghae mengangkat benda pipih di depannya.

"Ne." Hyukjae memperhatikan Donghae, bahkan saat menerima telfon ekspresinya tak berubah.

"..."

" Iya aku tahu."

"..."

"Bukankah kau sudah bersama seseorang, untuk apa kau masih menghubungiku eoh?"

"..." Donghae sedikit terkekeh mendengar jawaban di seberang telfon, membuat Hyukjae yang masih menatapnya sedikit tertegun. Itu ekspresi lain yang Donghae tunjukkan untuk pertama kali. Sadar dengan tatapan Hyukjae, Donghae kembali merubah ekspresinya.

"Baiklah."

"..."

"Ne..."

Satu kata itu Donghae ucapkan sebelum menutup sambungan telfonnya. Donghae melihat sekitarnya, memerintahkan seorang maid di sampingnya untuk memanggil sang kepala pelayan.

"Bibi Kim, siapkan kamar Taemin. Dia tiba besok dan aku tak mau jika ada kesalahan." Bibi Kim tersenyum kemudian mengangguk semangat.

"Tentu tuan. Ah, saya begitu merindukannya." Bibi Kim tampak bahagia, tak melihat pada Hyukjae yang menatap bingung padanya.

'Taemin? Nugu?' Hyukjae bertanya dalam hati.

.

:::[ HaeHyuk ]:::

.

Hyukjae baru keluar dari kamar mandi saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan. Hanya dengan bathrobe putih menutupi tubuhnya, Hyukjae melangkah ke lemari besar di sisi ruangan. Ah, bahkan ia sudah mempunyai satu lemari penuh pakaiannya sendiri tanpa membawa satu potong pun dari tempat lamanya.

Jemari lentiknya masih memilah piyama yang akan dikenakannya saat merasakan sepasang lengan tiba-tiba merengkuh pinggangnya erat, membuat gerakannya seketika berhenti. Tanpa menolehkan kepalanya Hyukjae tahu jika Donghae lah yang kini menempel padanya. Hyukjae memejamkan mata, meringis pelan saat nafas hangat Donghae terasa menggelitik di tengkuknya. Bibir tipis Donghae mendekat ke telinganya, berbisik lirih dengan begitu sensual.

"Aku menginginkanmu."

Hyukjae hanya diam, tahu benar apa maksud perkataan Donghae. Kenapa lelaki itu harus selalu berkata demikian jika setiap hari ia selalu datang untuk tujuan yang sama. Hyukjae masih diam ketika lengan yang melingkar di perutnya perlahan melonggarkan ikatan bathrobe nya tanpa melepaskannya.

Donghae menggerakkan lengannya, mengelus pelan bahu Hyukjae sembari bibirnya mulai mengecupi leher belakang Hyukjae. Menarik sedikit demi sedikit bagian atas bathrobe Hyukjae membuat hamparan pualam itu terbuka. Kecupan Donghae beralih, kali ini merambah bahu Hyukjae yang terbuka. Memberikan kecupan seringan bulu, membuat tubuh Hyukjae meremang.

Donghae menggeram tertahan, bahkan hanya dengan seperti ini miliknya di bawah sana bereaksi keras. Donghae menutup pintu lemari di depan mereka yang masih terbuka sejak tadi, membuat refleksi keduanya terbentuk dari cermin besar yang memang terdapat di pintu lemari.

Diangkat wajahnya dari bahu Hyukjae, menatap lurus pada pantulan dirinya dan sosok di depannya. Donghae melihat Hyukjae masih memejamkan mata, bibirnya sediki terbuka dengan nafas yang sedikit berantakan. Donghae menyeringai kecil, Hyukjae bisa bicara jika ia menolak tapi tubuhnya tak mungkin berbohong. Donghae tahu jika perkiraannya benar, Hyukjae begitu sensitif dengan sentuhan lembutnya.

Donghae semakin merapat pada Hyukjae, menempelkan punggung sempit Hyukjae di dada bidangnya yang berlapis jubah tidur sutra berwarna hitam. Nafas hangat Donghae yang berhembus di telinga kanannya membuat Hyukjae meremang.

"Buka matamu Hyuk. Buka matamu dan lihat apa yang ada." Bisikan Donghae begitu lirih dan seduktif.

Hyukjae membuka matanya perlahan, dan apa yang dilihat didepannya mau tak mau membuat wajahnya memerah. Entah karena merasa malu atau bagaimana, Donghae yang melihatnya kembali menyeringai kecil.

Didepannya Hyukjae bisa melihat dengan jelas pantulan diri mereka. Bathrobenya yang kini terikat longgar, menampakkan dada dan bahunya karena tadi Donghae menurunkannya. Di belakangnya tampak Donghae yang juga menatap ke arah cermin, meletakkan dagunya di bahu kanan Hyukjae. Lengan kekarnya kembali melingkar di pinggang ramping Hyukjae.

Sepertinya Donghae juga baru selesai mandi, terlihat dari rambutnya yang setengah basah dan sedikit berantakan. Hyukjae sesaat tertegun, penampilan Donghae yang demikian membuatnya terlihat... sexy. Seolah sadar dengan apa yang baru saja melintas di fikirannya, Hyukjae menggeleng pelan.

"Kau selalu tampak menggoda." Hyukjae kembali memejamkan mata saat donghae menjilat daun telinganya.

"Kau selalu berhasil menggodaku dalam keadaan apapun." Donghae semakin merapatkan tubuh mereka, membuat Hyukjae bisa merasakan milik Donghae yang keras beradu dengan tubuh belakangnya.

"Kau merasakannya hmm? Dia begitu bergairah." Hyukjae mendengar Donghae menggeram saat lelaki itu menggesekkan miliknya berulang kali di tubuh Hyukjae. Tak menghentikan gerakannya, perlahan jemari Donghae bergerak. Menyusuri bagian depan tubuh Hyukjae dengan sentuhan ringan sambil lalu kemudian menghentikannya tepat bagian dada. Mengelus bagian itu lembut yang membuat Hyukjae sedikit menggeliat resah dalam pelukannya.

"Ngghh..." Hyukjae melenguh tanpa sadar saat Donghae mulai memainkan dadanya. Menyentuh dua tonjolan kecil di dadanya sambil sesekali menekan dan menariknya. Ditambah bibir Donghae yang kembali mencumbu bahu, leher dan telinganya.

"Yah, begitu. Mendesahlah sayang. Aku tahu kau menikmatinya." Donghae masih dengan kegiatannya mengecup dan sesekali menjilat semua bagian tubuh yang kini menjadi candunya. Ya. Hyukjae seolah seperti narkoba yang setiap hari menjadi candunya lagi dan lagi.

"Ngghh.. Akhh!" Hyukjae menjerit tertahan saat Donghae berhasil membubuhkan satu tanda mencolok di perpotongan leher dan bahunya.

"Aku sudah tak tahan." Sedetik kemudian Donghae membawa tubuh Hyukjae di gendongannya. Meletakkan tubuh itu perlahan di ranjang kemudian menindihnya. Tidak sepenuhnya karena Donghae masih menggunakan siku dan lututnya sebagai tumpuan.

Wajah keduanya sejajar dengan jarak tak lebih dari satu jengkal dengan pandangan saling terkunci satu sama lain. Hyukjae menatap lekat manik di depannya, sama seperti sebelumnya tatapan itu begitu tegas dan berkilat tajam. Tapi semakin menyelaminya lebih dalam, entah kenapa dada Hyukjae bergetar, begitu banyak rasa yang tersembunyi di sana. Tampak begitu penuh kehangatan dan.. kerinduan. Hyukjae tertarik semakin dalam dalam pusara kelam di depannya. Tanpa sadar, perlahan matanya menutup saat wajah Donghae semakin mendekat dengannya.

Hyukjae merasakan bibir tipis Donghae mengecupnya lembut, sangat lembut berbanding terbalik dengan perlakuan Donghae sebelum-sebelumnya. Pertama kali Hyukjae merasakan Donghae begitu lembut padanya. Pemuda itu seolah begitu hati-hati menyentuhnya. Tak bisa Hyukjae pungkiri, dia terbuai dengan perlakuan Donghae.

Perlahan bibir Donghae bergerak, memagut bibir atas dan bawah Hyukjae bergantian dengan lembut kemudian mendesakkan lidahnya masuk perlahan. Terasa manis dan menggoda, tanpa halangan menjelajah setiap inci kehangatan mulut Hyukjae. Donghae menemukannya, dengan pelan membimbing lidah Hyukjae bergelut dengan lidahnya sendiri. Bibir Donghae melumat seluruh bibir Hyukjae, seakan ingin mencecap semua rasa di sana. Jemari Donghae turut bergerak, menyusuri leher jenjang Hyukjae bergerak naik turun perlahan.

Donghae memutus tautannya saat merasakan Hyukjae mulai kepayahan. Dilihatnya wajah Hyukjae memerah dengan tatapan sayu serta nafas yang terengah-engah. Donghae tersenyum simpul, membuat Hyukjae kembali tertegun dibuatnya.

Donghae kembali mengecup lembut bibir Hyukjae, bergerak ke pipi, menelusuri rahang, berakhir dengan jilatan nakal di daun telinga Hyukjae.

"Aku menginginkanmu Hyukjae, sangat menginginkanmu."

Tangan Donghae turun, melepas ikatan bathrobe Hyukjae yang sudah longgar. Direntangkannya kain tebal itu tanpa melepasnya, membuat tubuh bagian depan Hyukjae terbuka sepenuhnya.

Dengan gerakan lembut dan hati-hati, Donghae mengusap bagian dada Hyukjae. Hyukjae melenguh pelan kemudian memejamkan mata saat Donghae menunduk dan mengecup puncak dadanya. Hanya kecupan singkat dan hembusan nafas Donghae yang terasa hangat di sana membuat Hyukjae menggeliat resah. Donghae kembali tersenyum melihat respon tubuh Hyukjae padanya. Wajah Hyukjae memerah, bibirnya sedikit terbuka dengan nafas terengah, serta kedua tangannya yang mengepal di samping tubuh meremas sprei di bawahnya.

Bibir Donghae kembali bergerak, dengan lembut bibirnya meraup nipple Hyukjae, menggodanya di dalam mulutnya, membuat benda mungil itu mengeras. Sensasinya membuat tubuh Hyukjae melemas, tanpa sadar jemari lentiknya bergerak meremas rambut Donghae di dadanya. Hasrat Donghae semakin meningkat. Setelah puas dijauhkan wajahnya dari dada Hyukjae. Nafas keduanya beradu bersahut-sahutan mulai terbakar gairah.

Ketika Donghae sedikit bergerak, kejantanan Donghae yang mengeras di balik celana piyamanya menggesek perut Hyukjae. Tatapan Dongahe nyalang, menatap tubuh Hyukjae yang telanjang hanya dengan bathrobe yang kini terbuka sepenuhnya sehingga tampak seperti alas tubuh Hyukjae.

Donghae kembali membungkuk, mengecup perut rata Hyukjae, membuat Hyukjae merasakan sensasi panas nafas Donghae bergerak menuju bagain bawahnya. Donghae menggerakkan jemarinya, pelan merambah dari lutut Hyukjae naik ke pahanya, kemudian berhenti di pangkal pahanya. Hyukjae terkesiap, berjingkat oleh sensasi aneh namun menyenangkan pertama kali untuknya.

Benar-benar yang pertama, karena sebelum-sebelumnya Donghae tak pernah melakukan sentuhan-sentuhan memabukkan seperti ini. Biasanya Donghae langsung memasukinya tanpa persiapan, menikmati tubuhnya dengan kasar dan liar, dan yang Hyukjae rasakan hanyalah kesakitan. Tapi kali ini berbeda, sangat berbeda. Entah apa yang merasuki Donghae sehingga pengusaha muda itu mampu membuat Hyukjae benar-benar terbuai tanpa sadar.

Donghae menyeringai, jemarinya menyentuh batang Hyukjae yang kini juga tegang dan basah. Memainkannya dengan lembut, meremasnya pelan, sesekali memijat batang yang tak begitu besar di tangannya.

"Ngghh... Ahh.." Hyukjae menggeliat dalam desahannya, diangkatnya sedikit tubuhnya untuk melihat apa yang dilakukan Dongahe pada tubuhnya, hanya sekilas karena kemudian tubuhnya kembali terhempas di ranjang saat Donghae mengocok miliknya pelan tapi intens.

"Benar begitu Hyuk. Mendesahlah... Mendesahlah untukku..."

"Ahh... Jang_jangan.. angghh... Jangan di situhh... Nghhh."

Hyukjae semakin belingsatan kala Donghae mempercepat ritme kocokannya, Hyukjae sedikit mengernyit saat merasakan sesuatu yang tak begitu besar namun keras memasuki man hole nya.

Donghae memasukkan telunjuk kirinya ke lubang Hyukjae, menggerakkan perlahan sedikit melebarkan lubang sempit itu. Seterusnya sampai ia menambahkan jari kedua dan ketiganya. Sementara tangan kanannya masih setia memberikan kenikmatan di pusat terpanas tubuh Hyukjae.

Hyukjae menggeliat, meremas seprai di bawahnya erat menyalurkan kenikmatan yang dirasakannya. Perut Hyukjae mengencang saat merasakan sesuatu bergejolak dalam tubuhnya, miliknya berkedut dalam genggaman Donghae, tubuhnya melengkung menahan nikmat dan sedetik kemudian kabut putih pekat menyapa pandangannya. Napasnya terengah, kepalanya sedikit pening namun sensasinya luar biasa.

Melihat Hyukjae yang sudah mendapatkan klimaksnya, Donghae melepaskan 'cumbuan' tangannya di tubuh Hyukjae. Ia setengah berdiri dengan lututnya, memandang Hyukjae yang masih menikmati euforianya penuh nafsu. Donghae melepaskan jubah tidurnya, disusul dengan atasan piamanya yang berwarna serupa.

Hyukjae yang mulai kembali menguasai diri membuka mata sayu. Menatap pergerakan Donghae di depannya. Matanya sedikit membelalak dengan wajah semakin memerah kala Donghae membuka bawahan piamanya membuatnya benar-benar tak tertutup apapun.

Hyukjae tertegun, tubuh Donghae terpampang jelas di hadapannya. Dada telanjangnya begitu bidang, dengan perutnya yang terbentuk sempurna. Kulit bersih dengan aksen kecoklatan yang kini tampak mengkilat membungkus otot-otot tubuhnya yang kekar dan keras. Jangan lupakan kejantanan lelaki itu yang sudah sepenuhnya menegang dan keras seolah siap memasukinya.

Hyukjae mengalihkan pandangannya saat kesadaran sedikit menyapanya. Demi apapun, Hyukjae mengakui jika lelaki di depannya ini secara fisik begitu mempesona. Sudah tak terhitung berapa banyaknya Donghae bergumul telanjang dengannya, namun baru kali ini Hyukjae benar-benar melihat keseluruhan tubuh Donghae dengan jelas.

Dengan penuh gairah, Donghae kembali menindih tubuh Hyukjae. Mengecup pipi kiri Hyukjae yang tepat berada di depannya karena pemuda manis itu mengalihkan pandangannya ke arah kanan. Tangan Donghae bergerak, membuka paha Hyukjae lebar-lebar membuat akses baginya agar mudah memasuki Hyukjae. Dengan tangan kanannya, Donghae memposisikan miliknya tepat di lubang Hyukjae. Sedikit menggeseknya kemudian mencari titik yang pas.

Merasa persiapannya selesai, Donghae bertumpu pada sikunya dan mendorong pinggulnya perlahan. Menekan tubuh bawah Hyukjae mencoba masuk lebih dalam.

"Arghh..." Donghae menggeram, merasakan miliknya seakan dicengkeram erat oleh lubang Hyukjae walau baru ujung kesejatiannya yang masuk. Sumpah demi apapun, ingin rasanya Donghae segera menghujamkan miliknya di dalam Hyukjae, agar ia benar-benar merenggut kenikmatan itu. Tapi tidak, saat ini Donghe benar-benar ingin menikmatinya. Bukan hanya baginya, tapi juga untuk Hyukjae. Maka dengan penuh kesabaran Donghae menekan miliknya semakin dalam. Cukup sulit walaupun ia sudah melakukan 'pemanasan' sebelumnya.

"Akhh.." Hyukjae menggeliat, sakit itu masih dirasakannya walaupun Donghae sudah memasukinya berkali-kali.

"Sshhh... Rileks Hyuk..Ah shit.. Kau masih saja menjepitku." Sebelah tangan Donghae mengelus lembut pinggang ramping Hyukjae, berusaha membuat tubuh Hyukjae sedikit rileks sehingga ia bisa masuk perlahan. Donghae bahkan merasa heran, bagaimana bisa lubang Hyukjae masih begitu ketat bahkan saat ia membobolnya setiap hari.

Merasakan cengkeraman di batangnya sedikit mengendur, Donghae kembali bergerak. Pinggangnya mendorong lagi, kali ini melesakkan miliknya dalam-dalam walau dengan sedikit dorongan keras.

"Ahhhh/ Arghh.." Hyukjae mendesah dan Donghae menggeram saat kejantanan Donghae tenggelam sepenuhnya dan tepat mengenai titik terdalam tubuh Hyukjae. Menimbulkan sensasi yang begitu nikmat bagi keduanya. Donghae kembali mengecupi leher Hyukjae, mengalihkan sediki perhatian agar ia bertahan untuk tak langsung bergerak.

Merasa Hyukjae mulai tenang, dengan pelan Donghae menggerakkan tubuhnya. Hyukjae sedikit merasa sakit saat dinding lubangnya bergesekan dengan milik Donghae yang besar dan keras. Tetapi kemudian gerakan Donghae semakin teratur membuat Hyukjae bisa menikmati setiap gerakan Donghae di tubuhnya, menyentuh setiap syaraf kenikmatan di dalamnya membuat Hyukjae merasakan kenikmatan itu menjalari seluruh tubuhnya.

"Ahh... Ahh ashhh..." Hyukjae kembali melenguh nikmat di ambang kesadarannya. Dia mengerang kemudian dengan refleks melingkarkan lengannya pada tubuh Donghae di atasnya.

Tubuh keduanya bermandikan keringat, bergumul di atas ranjang besar dengan sprei putih yang kini sudah acak-acakan. Bahkan bathrobe yang tadi Hyukjae kenakan entah sejak kapan sudah berada di lantai.

Awalnya Donghae bergerak lembut dan hati-hati, tapi saat desahan Hyukjae semakin tak terkendali, gekolak itu memancing birahinya. Donghae tahu jika tubuh Hyukjae kini menerimanya. Donghae bergerak penuh gairah, menghentak, menusuk, menekan titik terdalam Hyukjae, membawa mereka menghampiri puncak kenikmatan masing-masing.

Ketika puncak itu hampir tiba, Donghae mempercepat ritmenya. Menusuk Hyukjae secepat dan sedalam yang ia bisa, membuat Hyukjae kembali mengerang keras pertanda orgasmenya semakin dekat. Punggungnya melengkung, kepalanya menengadah, dan detik berikutnya cairan putih itu mengucur dari batang Hyukjae. Lebih banyak dari klimaks pertamanya.

Di saat yang sama, Donghae merasakan tubuh Hyukjae mencengkeram kejantanannya dengan kuat di dalam, membuatnya tak bisa menahan diri, hingga kemudian ia turut meledak. Menumpahkan benihnya mengalir dalam di tubuh Hyukjae.

Kenikmatan itu terasa luar biasa, sehingga membuat tubuh keduanya melemas. Donghae menjatuhkan tubuhnya menindih Hyukjae walau tak sepenuhnya karena ia masih bertumpu pada lututnya, kepalanya terkulai di samping kepala Hyukjae. Nafas keduanya masih terengah-engah mengiri luapan kenikmatan yang masih begitu terasa.

Saat nafasnya mulai teratur, Donghae mengangkat kembali tubuhnya. Membuat jarak wajahnya dan Hyukjae begitu dekat. Merasakan hembusan nafas hangat di wajahnya, Hyukjae membuka mata dan saat itu pula pandangannya terkunci pada mata Donghae yang menghujam langsung ke arahnya. Keduanya hanya diam membiarkan kesunyian melingkupi mereka beberapa saat.

Hyukjae menutup matanya saat Donghae kembali menunduk. Satu sentuhan lmbut penuh kehangatan Hyukjae dapat di keningnya. Donghae mengecupnya cukup lama kemudian melepasnya.

"Istirahatlah. Kau pasti lelah." Setelah kalimat datar yang -lagi lagi- diucapkan Donghae selesai, saat itu juga Donghae beranjak dari tubuh Hyukjae. Menuruni ranjang kemudian dengan elegan kembali memakai pakaiannya. Pandangan Donghae tak pernah lepas dari Hyukjae yang masih berbaring lemas di atas ranjang. Tanpa mengatakan apapun lagi, Donghae melangkah meninggalkan kamar yang Hyukjae tempati.

:::

Beberapa menit berlalu, tapi Hyukjae masih tetap pada posisinya. Berbaring terlentang tanpa penutup apapun di tubuhnya. Tangan kanannya terangkat, menyentuh dada kirinya yang berdetak tak beraturan. Apa ini? Kenapa Hyukjae merasakan debaran aneh di dadanya mengingat bagaimana Donghae menyentuhnya begitu lembut. Tidak, Hyukjae membenci Donghae. Tak mungkin ia terbuai dengan sikap Donghae padanya.

Tapi, entah kenapa hatinya berdenyut saat pemikiran yang lebih nyata seolah menamparnya, mengembalikannya kepada kesadaran yang sesungguhnya. Hyukjae tersenyum sinis, menertawai dirinya sendiri. Sadarlah Lee Hyukjae, di sini kau tak lebih hanya sebagai pemuas nafsu belaka. Terbukti setelah mendapatkan kepuasannya, Donghae pergi begitu saja seperti biasa.

Hyukjae menarik nafas dalam, walau sedikit meringis menahan perih di bagian bawah tubuhnya Hyukjae mengambil selimut dengan kakinya. Terlalu malas dan lelah hanya untuk menegakkan tubuhnya. Membawa selimut tebal itu menutupi tubuh telanjangnya sampai leher. Hyukjae lagi-lagi menghela nafas. Kemudian perlahan matanya tertutup, tubuhnya begitu lelah, dan entah kenapa dadanyapun terasa sesak membuatnya seakan sulit bernapas. Beberapa saat kemudian kesadarannya mulai menghilang dijemput sang dewi mimpi, bersamaan dengan satu tetes kristal bening yang mengalir di sudut matanya.

:::

Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari saat dengan sangat pelan pintu kamar Hyukjae terbuka. Hyukjae masih terlelap, dengan selimut tebal menutup hampir seluruh tubuhnya. Sosok mempesona itu melangkah dengan amat pelan, berusaha tak mengusik tidur Hyukjae dan berhenti di sisi ranjang. Tatapan matanya begitu sendu, menyiratkan suatu perasaan yang tak terbaca.

Dengan amat perlahan, dia menyusup masuk ke dalam selimut Hyukjae. Berusaha tak membuat gerakan berlebihan agar Hyukjae tak terbangun. Diselipkannya lengan kirinya di bawah leher Hyukjae, kemudian ia berbaring. Ditariknya tubuh Hyukjae perlahan dalam rengkuhannya. Hyukjae menggeliat pelan, membuat lelaki di sampingnya menghentikan gerakan.

Bukannya menjauh, tapi Hyukjae justru merapat. Tanpa sadar menenggelamkan wajahnya di dada bidang sosok yang kini memeluknya, mencari kehangatan yang nyaman untuknya. Hyukjae kembali tenang dalam tidurnya. Lengan kekar itu semakin menarik tubuh Hyukjae yang tak tertutup apapun mendekat ke tubuhnya. Lengan kanannya yang bebas kini merengkuh pinggang ramping Hyukjae dengan amat posessive.

Ditatapnya wajah damai Hyukjae yang tertidur, begitu manis membuatnya tersenyum lembut. Senyum lembut yang tak pernah ditunjukkannya pada siapapun kecuali 'dia'. Dan kini senyum itu kembali muncul setelah sekian lama walau tak dilihat siapapun. Masih dengan senyumnya, lelaki itu mengecup lembut puncak kepala Hyukjae.

"Selamat malam."

Dan malam itu, dua anak manusia tertidur dengan damai. Membagi kehangatan satu sama lain.

.

:::[ HaeHyuk ]:::

.

Hyukjae membuka matanya saat sinar matahari yang begitu menyengat mengenai wajahnya. Diliriknya jam di meja nakas samping tempatnya tidur. Jam sembilan, pantas saja matahari sudah begitu terik. Hyukjae masih dalam proses mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. Ah, dia tidur nyenyak sekali semalam sampai ia kesiangan seperti ini. Biasanya Hyukjae tak pernah terlambat bangun walau selelah apapun. Tapi entahlah, tidurnya malam ini begitu nyaman, begitu hangat.

Hyukjae mengedarkan pandangannya. Kosong, tak ada siapapun. Tentu saja. Hyukjae tidur sendirian di ruangan itu, dan maid tak akan ada yang masuk ke kamarnya kalau dia belum bangun. Tak mau terlalu berfikir, dengan sedikit malas Hyukjae bangkit dari ranjang. Melenggang menuju kamar mandi tanpa perlu repot-repot menutupi tubuh polosnya. Biarkan saja, toh tak ada yang melihatnya. Hyukjae hanya ingin mandi, titik.

Sekitar dua puluh menit Hyukjae selesai dengan kegiatannya. Ia keluar menggunakan bathrobe seperti yang kemarin digunakannya. Kamarnya sudah kembali bersih dan rapi, Hyukjae berdecak kagum. Maid di rumah ini benar-benar cekatan. Hanya dalam waktu tak lebih dari setengah jam kamarnya yang tadi seperti kapal pecah kini kembali rapi.

Langkah Hyukjae berhenti saat melihat Donghae yang berdiri di sisi jendela menghadap ke luar. Lelaki itu sudah rapi, dengan kemeja biru panjang yang lengannya ia gulung sampai siku dipadukan dengan jeans panjang putih membalut kakinya. Tampak casual namun tetap mempesona.

Hyukjae menkerutkan kening bingung, tak biasanya Donghae berpenampilan seperti itu. Lagipula ini bukan hari minggu, biasanya Donghae selalu rapi dengan stelan khas direktur miliknya.

Menyadari Hyukjae sudah keluar dari kamar mandi, Donghae membalik tubuhnya menghadap Hyukjae. Seperti biasanya, ekspresinya dingin dan datar.

"Cepatlah bersiap, kita akan pergi ke suatu tempat setelah sarapan." Setelah mengatakan hal itu, Donghae melangkah hendak keluar kamar namun suara Hyukjae menginterupsinya. Donghae berhenti tanpa menoleh.

"M-mau ke ma-mana?" Hyukjae bertanya ragu, tapi ia penasaran. Donghae tak mengijinkannya keluar rumah dan kini pemuda itu ingin mengajaknya ke suatu tempat? Tentu saja ia merasa heran.

"Nanti kau akan tahu sendiri." Dan setelahnya Donghae benar-benar keluar dari ruangan Hyukjae.

:::

Hyukjae mengedarkan pandangannya ke berbagai arah, melihat orang yang begitu banyak berjalan lalu lalang di sekitarnya. Kemudian pandangannya beralih, melihat ke arah tangan kirinya yang digenggam erat oleh Donghae. Hyukjae menghela nafas. Donghae tak melepaskan sedikitpun genggamannya di tangan Hyukjae, seolah jika ia lengah sedikit saja Hyukjae akan kabur. Hey, memang Hyukjae mau ke mana? Lihatlah di sekelilingnya, bahkan Donghae membawa beberapa Bodyguard bersamanya. Mau bagaimanapun Hyukjae tak akan bisa kabur kan.

Mereka berada di bandara sekarang. Entahlah siapa yang Donghae tunggu, tapi lelaki itu sedari tadi tak berhenti mengedarkan pandangannya. Sampai sebuah suara yang cukup nyaring terdengar.

"Hae Hyung!" Donghae dan Hyukjae serempak mengalihkan tatapannya. Hyukjae bisa melihat seseorang berdiri beberapa meter di depannya, melambai dengan semangat ke arah Donghae.

"Dasar anak nakal." Hyukjae mengernyit mendengar Donghae bergumam tak terlalu keras. Kemudian seseorang tadi menghampiri mereka. Sedikit berlari penuh semangat kemudian menubruk tubuh Donghae kencang, membuat Donghae mundur beberapa langkah tapi tetap tak melepaskan pegangan tangannya pada Hyukjae.

"Aku merindukanmu Hyung. Sangat merindukanmu."

"Kalau kau merindukanku, kenapa kau baru kembali sekarang huh!" Walaupun nadanya masih datar, tapi Hyukjae melihat Donghae membalas pelukan seseorang di depannya ini. Mengusak rambutnya gemas membuahkan tatapan kesal dari seseorang tadi yang kini melepaskan pelukannya.

"Hehehe..." Seseorang yang tadi Donghae peluk terkekeh kecil sambil merapikan rambutnya yang tampak begitu lembut. Hyukjae mengamatinya sejak tadi walau posisinya sedikit di belakang Donghae.

Dia laki-laki, tapi terlihat sangat manis terkesan cantik. Tubuhnya ramping dengan kulit putih yang serupa dengan Hyukjae. Rambutnya yang sedikit panjang terlihat begitu lembut membuatnya semakin terlihat mempesona. Dan senyumnya, tampak begitu manis. Hyukjae memberikan kesimpulan, orang ini pasti ramah.

"Ada yang ingin ku kenalkan padamu." Donghae berucap kemudian perlahan menarik lengan Hyukjae pelan, membawa tubuh Hyukjae berdiri di sampingnya. Menatap langsung pada pemuda di depan Donghae.

Hyukjae bisa melihat tatapan pemuda di depannya berubah. Senyum lebar yang tadi ada di wajahnya memudar, digantikan ekspresi terkejut yang begitu kentara. Hyukjae mengernyit heran melihat ekspresi pemuda itu. Lalu pemuda itu mengalihkan tatapannya, menoleh pada Donghae seolah bertanya sesuatu, dan anggukan tegas dari Donghae seakan menjadi jawaban untuknya.

Lelaki itu mendekat ragu, berdiri tepat di hadapan Hyukjae dan memandangnya dengan ekspresi yang begitu sulit di artikan. Hyukjae sendiri hanya diam, bingung harus bereaksi bagaimana dengan sikap seseorang yang baru saja ditemuinya ini. Lengan pemuda itu terangkat perlahan, begitu bergetar ke arah wajah Hyukjae. Dengan sangat pelan, menyentuh lembut pipi Hyukjae, membuat Hyukjae semakin heran. Pemuda itu tersenyum lembut sekali, namun Hyukjae bisa melihat jika matanya berkaca-kaca.

"Ehem!"

Deheman keras dari Donghae mengalihkan perhatian si manis dari Hyukjae. Keduanya menoleh pada Donghae yang menunjukkan ekspresi seperti biasa.

"Hyukjae kenalkan, ini Taemin." Donghae mengenalkan pemuda di depan Hyukjae yang ternyata bernama Taemin.

"Dan Taemin kenalkan. Ini LEE HYUKJAE." Donghae menekankan nama Hyukjae, seolah menyadarkan Taemin dari sesuatu. Sedikit tersentak, dengan gugup Taemin melepaskan tangannya yang masih ada di wajah Hyukjae. Kepala Taemin menunduk sebentar sambil menggeleng kecil. Setelahnya kepalanya kembali terangkat. Berusaha tersenyum seperti biasa pada Hyukjae. Taemin mengulurkan lengan kanannya pada Hyukjae berniat menyapa.

"Lee Taemin. Adik Donghae Hyung." Taemin berucap ceria sambil tersenyum memperkenalkan diri. Hyukjae sedikit terkejut. Adik? Dia adik Donghae? Kenapa auranya berbeda sekali? Hyukjae berucap dalam hati. Dengan pelan lengan Hyukjae terangkat membalas jabatan tangan Taemin.

"Hyukjae. Lee Hyukjae." Hyukjae memperkenalkan dirinya pada Taemin, membuahkan senyum manis Taemin yang semakin lebar. Tanpa sadar membuat Hyukjae ikut tersenyum.

"Senang bertemu denganmu... Hyukkie Hyung." Sapaan akrab itu mengalun begitu mudahnya dari bibir Temin yang masih menyunggingkan senyum.

.

.

:::[ TBC ]:::

.

.

Cuap-Cuap ahh...

Ini sudah lumayan panjang kan? 4k+ sepertinya cukup panjang untuk satu chapter. Kkkkk... Seperti janji saya di chap kemarin, saya akan buat lebih panjang jika respon di chap 2 lebih baik. Dan karena kalian teman-teman sudah sudi meluangkan waktu mampir di kotak review, saya sangat menghargainya dan inilah bentuk apresiasi saya untuk kalian. Chap ini spesial untuk kalian reviewer, saya tidak bisa balas review yang masuk tapi saya baca semuanya. Terima kasih. #PelukCium

Apakah saya terlihat seperti seseorang yang haus akan review? Kkkk... Tentu saja iya. Karena review dari kalianlah suntikan semangat bagi saya untuk menulis dan menulis lagi ^ ^

Jadi, masihkah mau dilanjut? Mau yang lebih panjang lagi? Atau dibuat lebih pendek? Semua keputusan tergantung kalian reader deul. Oh, iya. Kalau ada yang tanya, Kok Donghae kejam banget sih? Kasihan banget Hyukjae-nya. Tolong jangan lupa jika genre yang saya ambil ini Hurt/comfort, jadi ada siksa siksa dikit tak apa kan? Lagipula saya memang suka jika Hyukjae di diksa Dongek terutama di ranjang. #Plok.

Buat si 'Eneng'. Nih neng udah Launching. #Bhak... Semoga kagak mengecewakan yak. Ini juga udah mentok. Wkkkkk.

SEE YOU NEXT CHAP...