"I will fight for what i love."
Last Hope
Main Cast : Xi Luhan & Oh Sehun
Genre : Romance, Family, Hurt
Rate : T-M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s). M-preg.
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
.
sebelumnya...
"Bertiga?"
Sehun membatin saat Luhan mengatakan akan mengunjungi kalian bertiga setiap minggu. Setelah itu dilihatnya Luhan berdiri sambil memegang buket bunga yang tersisa satu dan berjalan menyusuri taman pemakaman tak jauh dari makam kedua orang tuanya, kemudian tak lama ia kembali berjongkok meletakkan bunga di salah satu makan yang Sehun tebak itu buatan Luhan sendiri.
"Anakku.."
Sehun kembali merasa dirinya melemas mendengar Luhan menyapa makam yang sedang ia ajak bicara saat ini. ternyata ini adalah makam anak mereka yang Luhan buat sendiri karena terlihat berantakan namun tersusun dengan cantiknya.
"Maafkan aku yang hanya bisa membuat tempat istirahat yang sangat jelek untukmu nak. Eomma hanya ingin membuatmu merasa nyaman dan membuatku memiliki tempat untuk berbicara denganmu." Lirihnya menciumi nisan dengan tulisan My little angel yang ia tulis dengan kedua tangannya sendiri.
"Apa kau sedang bermain disana nak?" tanya Luhan mendongak ke atas langit.
"Eomma sangat ingin melihatmu anakku." Katanya kembali tersenyum dan mencium nisan anaknya.
"Eomma ada kabar yang entah baik atau buruk untukmu nak. Dokter bilang eomma mengidap tumor yang artinya eomma bisa menyusulmu dan bermain denganmu kapan saja. Apa kau senang?" tanya Luhan mengelus sayang nisan calon anaknya itu.
"Tapi eomma takut nak… eomma takut tak bisa melihat appamu lagi… Eomma sangat mencintai ayahmu nak. Aku sangat takut tak bisa bertemu ayah….."
Luhan membelalak saat merasakan lengannya ditarik cukup kencang dan kini dirinya sedang merasakan seseorang yang sangat ia kenali sedang menciumnya dengan lembut.
Sehun sudah tak tahan mendengar Luhan yang terus mengatakan bisa pergi kapan saja dan menyusul anak mereka. Dia tak bisa mendengar lebih banyak lagi dan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang bisa membuat Luhan diam dengan memaksanya berdiri dan mencium bibir mungilnya yang terlihat memucat karena cuaca dingin.
Luhan sendiri dengan otomatis menutup matanya dan tersenyum karena menyadarinya suaminya berada disini, dimakam kedua orang tuanya dan anak mereka dan sedang menciumnya lembut, seolah membuktikan kepada kedua orang tua Sehun serta anak mereka kalau hubungan mereka baik-baik saja, membuatnya bersyukur lega dan ikut membalas lumatan lembut suaminya.
Sehun pun semakin memperdalam ciumannya dan tanpa Luhan ketahui, Sehun sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu yang harusnya ia lakukan saat mereka kehilangan bayi mereka, sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan pada Luhan dengan membenci dan memukulinya, sesuatu yang akhirnya membuat Luhan harus menanggung akibat dari kekejamannya sendiri.
Ya… Sehun sudah memutuskan untuk kembali membuka hatinya untuk Luhan yang memiliki kesabaran yang tak terhingga untuknya, dia hanya dibutakan oleh kesalahpahaman. kemarahan dan kebencian tak beralasan untuk Luhan. Dan mulai hari ini, Sehun berjanji untuk kembali mendapatkan cinta Luhan, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk memulai semuanya dari awal lagi bersama Luhan, Karena Sehun sangat menyadari bahwa jauh dilubuk hatinya yang paling dalam dia tak pernah berhenti mencintai Luhan.
Dan Sehun melakukannya di depan ayah, ibu serta anak mereka yang merupakan tiga orang yang sangat berarti untuknya dan Luhan.
.
.
.
.
L
A
S
T
.
H
O
P
E
.
.
.
"Se…Sehun…"
Luhan tergagap masih tak percaya mendapati Sehun didepannya setelah dia melepaskan ciuman lembut yang sudah lama tak Luhan rasakan lagi.
"Kita pulang."
Dan tanpa berbasa-basi Sehun menggenggam erat tangan Luhan, menolak memberikan penjelasan pada Luhan tentang segudang pertanyaan yang berada di benaknya, saat ini Sehun hanya ingin membawa Luhan pulang dan tak mau mendengarkan celotehan Luhan yang terus membicarakan tentang bagaimana dia akan segera menyusul kedua orang tuanya dan anak mereka. Sehun menggeram kesal dan tentu tak akan membiarkan Luhan pergi. Dia akan melakukan apapun untuk menyembuhkan Luhan, apapun yang bisa membuat pria cantiknya kembali sehat, dia bahkan rela Luhan tak bisa memaafkannya asal Luhan hidup dengan sehat dan bahagia.
"Tapi Sehun.."
Luhan sedikit menoleh ke makam anak mereka saat Sehun terus menggenggam erat tangan nya dan membawanya menjauh dari pemakaman kedua orang tua Sehun serta anak mereka.
Dan sepanjang perjalanan pulang tak ada satupun dari mereka yang bersuara, keduanya memilih diam dan hanya menikmati pemandangan dari dalam bis.
Sebenarnya banyak yang ingin Luhan tanyakan, misalnya seperti kenapa Sehun ada disana, kenapa Sehun tak marah ia mendatangi makam kedua orang tuanya, dan kenapa Sehun terlihat sangat tegang dan terlihat mengkhawatirkan sesuatu. Tapi semua itu hanya pertanyaan yang berada di benak Luhan, karena dia tak berani mengeluarkan sedikit suara pun untuk bertanya pada Sehun.
Namun satu hal yang membuatnya bingung sekaligus senang adalah kenyataan Sehun yang tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari tangan Luhan. Sepanjang perjalanan keluar dari pemakaman, saat mereka menunggu bisa hingga saat ini saat keduanya duduk di bis, Sehun terus menggenggamnya dan menatap lurus tak berkata apa-apa. Hal ini membuat Luhan hanya bisa menahan debarannya karena merasa sudah sangat lama tak merasa hangatnya genggaman Sehun di tangannya.
Luhan sedikit berjengit saat tiba-tiba Sehun berdiri dan menggenggam tangannya menuruni bis, Luhan kemudian melirik keluar jendela dan merasa ini bukan halte yang tepat menuju kerumah, dia kemudian berusaha memberitahu Sehun, namun seperti biasa Sehun mengabaikannya.
"Sehun.. Kita masih beberapa halte lagi, ini bukan halte yang tepat." Ujarnya memberitahu Sehun yang hanya memandangnya tajam membuat Luhan kembali menunduk karena merasa takut Sehun akan marah lagi.
"Kita akan naik mobilku, aku tahu kau sedang kedinginan." Katanya membawa Luhan ke dekapannya dan memeluk istrinya dengan erat.
Luhan yang memang seari tadi kedinginan tiba-tiba merasa hangat saat Sehun mendekapnya, dia tak banyak bicara dan bergerak, dia hanya membiarkan Sehun melakukan apapun yang menurut Sehun benar. Karena sepertinya Luhan benar-benar harus berterimakasih pada Tuhan yang telah mengembalikan Sehunnya yang dulu sedikit demi sedikit.
Dan tak terasa pun, keduanya sampai dirumah. Sehun masih menggenggam tangan Luhan memasuki rumah mereka membuat para pelayan dan pengurus rumah tangga keduanya mengernyit bingung dengan perubahan sikap Tuan besar mereka pada Luhan. Semua kebingungan itu juga dirasakan oleh Kyungsoo yang diam-diam memperhatikan Luhan dan Sehun memasuki rumah mereka, dia kemudian tanpa sadar tersenyum melihat Luhan yang hanya bisa menunduk malu karena semua pengurus rumahnya menatapnya dengan tatapan menggoda namun ikut berbahagia.
Cklek!
Sehun membuka pintu kamarnya dan membawa Luhan duduk di ranjang mereka. "Aku harus kembali kekantor ada yang harus aku urus. Kau istirahatlah, kita bicara nanti." Sehun memberitahu Luhan yang mendongak lucu menatapnya dan mengangguk disetiap ucapan yang Sehun katakan.
"Kau mengerti?" Tanya Sehun dan Luhan mengangguk menandakan ia mengerti.
"Jawab aku." Perintah Sehun merasa ingin mendengar suara Luhan yang hanya diam sedari tadi.
"Ya Sehun, aku mengerti." Balasnya cepat membuat Sehun menahan senyumnya dan segera pergi meninggalkan Luhan dikamarnya sendiri. "Sehun." Panggil Luhan sebelum Sehun keluar dari pintu kamar mereka.
Sehun berhenti sejenak dan menoleh ke arah Luhan "Ada apa?"
"Umhh.. Apa boleh aku membuka jendela kamarmu? Disini terlalu gelap." Tanya Luhan menunduk tak berani menatap Sehun.
"Lihat aku." Perintah Sehun dan Luhan perlahan mengangkat wajahnya menatap Sehun dengan ragu.
"Kamar siapa ini?" Tanya Sehun dengan suara dinginnya.
"Kamarmu Sehun.. Baiklah, aku tidak akan minta yang macam.."
"Kamar siapa ini?" Sehun memotong celotehan Luhan membuat Luhan sedikit bingung.
"Kamarmu Sehun." Balas Luhan dengan jawaban yang sama.
"Luhan… aku Tanya ini kamar siapa?" Sehun kembali bertanya dan kali ini sedikit kesal karena Luhan yang terus menjawabnya tak mengerti.
Luhan kemudian diam dan berfikir apa yang salah dari ucapannya, sedetik kemudian dia menyadari ucapan Sehun semalam kalau ini adalah kamarnya juga, Luhan menyadari sesuatu dan kembali menatap Sehun.
"Apa-…Apa ini kamarku juga?" Tanya Luhan sangat ragu dan ketakutan.
"Ya.. Ini kamarmu juga, jadi lakukan semua yang kau suka. Jangan meminta izin lagi." Balas Sehun dan bergegas meninggalkan Luhan yang merona karena ucapan Sehun yang terdengar begitu lembut ditelinganya.
"Ya Tuhan…Jantungku terasa ingin berhenti." Gumamnya memegangi dadanya yang terus berdebar tak karuan.
Cklek!
Pintu kamar Luhan kembali terbuka kali ini Kyungsoo yang memberanikan diri memasuki kamar Sehun "Lu, apa kau baik-baik saja?" Kyungsoo perlahan memasuki kamar Sehun dan memergoki Luhan yang sedang senyum-senyum sendiri.
"KYUNGIE!" pekik Luhan menghambur memeluk Kyungsoo erat.
"Astaga…Kau kenapa Lu?" kekeh Kyungsoo tak menyangka Luhan akan seheboh ini.
"Kau tahu Kyung… Tadi Sehun menciumku, dia menciumku didepan makam kedua orang tuanya Kyung..Dia men-cium—ku."
Luhan berteriak dan mengatakan kabar gembira ini berulang-ulang pada Kyungsoo yang tampak bingung "Eh? Bagaimana bisa?" tanyanya menatap Luhan yang masih berbinar menceritakan tentang Sehun yang tiba-tiba menciumnya.
"Entahlah...yang jelas dia datang dan menggenggamku di sepanjang perjalanan pulang ke rumah."
Kyungsoo tak bisa menyembunyikan wajah bersyukurnya melihat Luhan yang begitu bahagia, dia ikut tersenyum sampai menyadari kalau Luhan pergi keluar rumah untuk memeriksakan dirinya ke dokter.
"Lu, apa kata dokter tentang kesehatanmu?"
Dan pertanyaan Kyungsoo pun membuat Luhan mendadak terdiam dan tiba-tiba terduduk lemas disamping Kyungsoo, bersandar di bahu teman dekatnya ini "Kau baik-baik saja kan?" tanya Kyungsoo yang kini membaringkan kepala Luhan di pahanya dan mengusap lembut surai Luhan yang tampak pucat.
"Kyungie…" panggil Luhan mendongak ke arah Kyungsoo yang tersenyum padanya.
"Ada apa Lu, ceritakan padaku bagaimana kondisimu." Pinta Kyungsoo masih bermain di rambut Luhan yang terasa sangat halus.
"Tumor… Dokter bilang aku mengidap tumor dan itu sudah stadium tiga." Lirihnya bergetar dan berkaca memandang takut pada Kyungsoo yang juga menatapnya pucat.
Usapan lembut Kyungsoo pada Luhan pun terhenti karena saat ini Kyungsoo sedang mencerna apa yang dikatakan Luhan dan berharap kalau dirinya salah dengar dan Luhan segera tertawa karena sedang menakutinya. Namun kemudian hanya hening yang ia rasakan karena Luhan juga tak berbicara lagi dan hanya memandangnya ketakutan dengan mata berkaca-kaca.
Luhan mendesah pelan dan segera bangun untuk duduk dan berhadapan dengan Kyungsoo yang masih menolak untuk berbicara. "Kyungie kenapa kau diam saja? Bicara sesuatu padaku." Luhan berusaha menggoda Kyungsoo dengan menyenggol bahu Kyungsoo yang entah kenapa terasa sangat tegang.
"Aku akan baik-baik saja Kyung… Aku tidak mau merasa sakit lagi… Jikalaupun Tuhan memanggilku dengan cepat, aku harap itu tanpa rasa sakit."
Luhan tak bisa menahan air matanya lagi, tiba-tiba dia bisa mengingat semua ucapan dokternya pagi tadi dengan baik, perlahan dia berjalan menuju jendela kamar Sehun dan membukanya agar cahaya masuk menerangi kamar yang begitu gelap dan sangat dingin ini.
Luhan berdiri termenung melihat pemandangan taman belakang rumah Sehun yang begitu indah dan kemudian dia hanya bisa tersenyum pahit menerima kenyataan kalau kemungkinan dirinya untuk sembuh sangat kecih bahkan hampir tidak ada sekalipun dia menjalani operasi.
"Tuhan baik sekali padaku Kyung..disaat Sehun sudah sedikit baik padaku, kami akan segera dipisahkan kembali karena sakitku. Aku takut-…Takut merasakan sakit dan takut tak bisa melihatmu, Kai dan Sehun lagi Kyung…Aku-.."
Grep!
Luhan merasa tubuhnya dipaksa berbalik dan Kyungsoo saat ini sedang memeluknya erat sambil terisak tak menentu dengan bahu yang bergetar hebat "Kau akan sembuh Lu. Kau tidak akan meninggalkan aku dan Kai. Aku-…Aku tak mengijinkannya Luhan… Kau harus terus sehat." Ujarnya mencengkram erat bahu Luhan membuat Luhan meringis sakit namun terenyuh bahagia mengetahui masih ada yang mengiginkan dirinya untuk hidup.
Luhan pun semakin takut dan semakin tak rela meninggalkan Kyungsoo yang begitu baik dan sangat menyayanginya, dia kemudian memutuskan untuk membagi rasa takutnya dengan Kyungsoo, mengeluarkan seluruh rasa sesaknya keluar sehingga dia bisa merasa sedikit lega dan bisa bernafas dengan baik.
..
..
..
Cklek!
Malam harinya Sehun kembali kerumahnya dan langsung berniat untuk melihat Luhan di kamar mereka, dia sudah menaiki tangga sampai seseorang memanggilnya.
"Sehun…"
Sehun pun menoleh dan sedikit terkejut melihat Kyungsoo yang biasanya bernada kasar padanya, kini terasa seperti memohon dengan mata yang bengkak dan suara yang sangat serak.
Sehun kemudian mengernyitkan alisnya "Ada apa?" tanya Sehun kembali menuruni tangga dan berdiri tak jauh dari tempat Kyungsoo berada.
"Apa benar Luhan mengidap tumor?"
Sehun merasa ada sesuatu yang menghimpitnya saat dia harus kembali ke kenyataan bahwa pria yang sedang berada dikamarnya sedang tidak dalam kondisi yang sehat.
"Ya." Balasnya singkat menelan rasa pahit dan menyesalnya bersamaan.
"Sehun-..Apa aku boleh memohon satu hal padamu-..hanya satu Sehun."
Kyungsoo mengangkat jari telunjuknya seolah ingin memberitahu Sehun bahwa dia tak akan pernah meminta apapun lagi darinya.
"Katakan."
BRAK!
Sehun sedikit membelalak melihat Kyungsoo yang tiba-tiba berlutut dan mendekap erat kakinya dengan sangat kencang.
"Aku mohon sembuhkan Luhan….Lakukan apapun untuk menyembuhkannya, jika kau sangat membencinya aku bisa membawanya pergi, tapi aku mohon Sehun-…Aku mohon sembuhkan Luhan. Aku tak bisa kehilangannya."
Isakan Kyungsoo pun tak terelakan lagi, rasa ketakutannya sudah menyelimuti dirinya sepanjang hari ini saat Luhan memberitahunya bahwa dia sakit, saat Luhan memberitahunya kalau kemungkinan dia sembuh sangat kecil. Kyungsoo hancur mendengarnya, dia benar-benar tak tega melihat Luhan yang begitu ketakutan sekaligus kesakitan.
"Aku mohon Sehun….." pintanya dengan suara serak namun tak mendapat jawaban dari Sehun yang masih terdiam,
Sehun kemudian melepaskan pegangan Kyungsoo di kakinya dan kembali berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, mengabaikan suara tangisan Kyungsoo yang semakin menjadi
"Aku akan melakukan apapun untuk membuatnya sembuh, jadi kau tak perlu khawatir."
Ucapan Sehun membuat tangisan Kyungsoo sedikit mereda dan tercetak senyum bersyukur di wajah Kyungsoo.
"Dan kau tak perlu repot-repot membawanya pergi. Luhan milikku. Tak akan ada yang bisa membawanya pergi dariku." Katanya mengingatkan dan kembali berjalan menaiki tangga meninggalkan Kyungsoo yang bersumpah mendengar suara Sehun sangat bergetar.
Cklek!
Sehun perlahan membuka pintu kamarnya dia kemudian mendekat ke arah ranjangnya tempat dimana pria yang berstatus sebagai istrinya sedang tertidur lelap, seseorang yang hampir tak pernah ia perlakukan seperti manusia selama bertahun-tahun, seseorang yang hanya menerima kemarahan dan kebencian darinya namun membalasnya dengan kebaikan dan rasa cinta yang berbanding terbalik darinya. Langkah itu semakin ragu mendekat ke sosok yang seperti malaikat, yang sangat cantik dan terlalu baik untuk seorang yang tak pernah berbahagia hampir seumur hidupnya.
Sehun pun akhirnya duduk di tepi ranjang Luhan dan sedikit membuka selimut Luhan yang menutupi setengah wajah cantiknya. Dia kemudian memperhatikan Luhan dalam-dalam, dan ada sedikit senyum di wajahnya saat menyadari Luhan sama sekali tak berubah bahkan dari caranya tidur dengan mulut sedikit terbuka yang menandakan kalau ia sudah tidur dengan nyenyak.
Sehun tanpa sadar pun sudah mengusap dan menelusuri wajah Luhan, dia merasa takjub pada kulit Luhan yang tak pernah terasa berbeda di tangannya, sampai saat dia sedikit terkejut mendapati kedua mata yang sangat indah itu membuka, memperlihatkan kalau dia juga sama terkejutnya dengan Sehun.
"Maaf membangunkanmu." Ujar Sehun tanpa menarik tangannya dari wajah Luhan.
Luhan menggeleng lemah dan sedikit tersenyum "Mimpiku indah sekali." Gumamnya yang masih setengah sadar dan mengira Sehun disampingnya hanya mimpi, membuat Sehun tersenyum miris mendengarnya.
Luhan mulai memegang erat tangan Sehun yang terasa hangat yang berada di wajahnya dan perlahan kembali memejamkan matanya berharap ia bisa melanjutkan mimpi indahnya.
Namun belum beberapa menit dia menutup matanya, Luhan membelalak saat merasakan ada sentuhan hangat yang menempel di bibirnya, dia kemudian menyadari kalau racauannya tadi bukanlah mimpi, melainkan benar-benar Sehun yang sedang menatapnya lembut dan tersenyum tampan ke arahnya.
Luhan tak bisa melakukan apapun selain merasakan lumatan Sehun yang semakin dalam dan menuntut, dia hanya berusaha mengimbanginya sampai akhirnya Sehun melepaskan ciumannya dan kembali menatap Luhan yang tampak merona dan kebingungan.
"Apa sekarang kau sudah bangun?" ujarnya bertanya pada Luhan yang masih mengedipkan matanya berulang.
"Luhan…" Sehun menegurnya karena tak kunjung menjawab pertanyannya "Apa sekarang kau sudah bangun?" katanya kembali bertanya pada Luhan.
"Ya Sehun…Aku sudah bangun."
Luhan akhirnya menjawab pertanyaan Sehun dan benar-benar merasa wajahnya memanas mendapati Sehun dengan jarak sedekat ini dengannya menatapnya dengan tatapan tajam namun sangat membuat hatinya berdegup kencang tak karuan.
"Baguslah…Aku menginginkanmu."
Dan ucapan Sehun barusan membuat Luhan sedikit ketakutan, karena setiap Sehun menginginkannya, Sehun akan melakukannya dengan cepat namun sangat kasar.
Tubuh Luhan sedikit berjengit saat Sehun menindihnya dan tangannya menelusup ke piyama tidurnya, mengelus perutnya yang rata dengan sensual dan kemudian naik bermain di dua tonjolan kecil yang entah kenapa tak sabar ingin segera disentuh oleh Sehun.
"Mmhhhhhh." Luhan mengigit kencang bibir bawahnya saat Sehun mulai memilin dan sedikit menarik kedua nipple nya bergantian dengan Sehun yang menatapnya tak berkedip seolah ingin melihat sendiri bagaimana reaksi Luhan yang berada di bawah kendalinya.
"Apa aku memintamu untuk menahan desahanmu?" Sehun berbisik dan sedikit menjilat leher Luhan membuat Luhan semakin menggelinjang tak menentu.
"Luhan…Kau harus menjawab saat aku bertanya." Perintah Sehun yang juga sudah terbawa gejolak hasrat yang begitu besar.
"K-kau tak pernah suka aku mendesah saat kau menyentuhku Sehun..ah~"
Sehun kemudian sedikit menghentikan kegiatannya dan menatap dalam ke mata Luhan. "Kalau begitu mulai malam ini aku ingin mendengarnya." Ujarnya tegas sambil membuka kancing piyama Luhan satu persatu.
"Kau mengerti kan?" katanya tetap memandang dalam ke mata Luhan namun tak menghentikan kegiatan tangannya yang terus melepaskan pakaian Luhan hingga kini Luhan tak memakai sehelai pakaian pun karena Sehun sudah membuang seluruh pakaiannya dengan tak sabar ke lantai.
"Ya Sehun..Aku mengerti." Balas Luhan sedikit menggigit bibirnya karena walaupun mereka sudah sering bercinta, ini adalah kali pertama Sehun begitu lembut dan menanyakan banyak hal padanya. Sehun yang biasanya hanya akan melakukannya dengan cepat dan langsung kepada intinya, namun kali ini Luhan mempunyai firasat kalau Sehun akan melakukannya dengan lembut malam ini.
"Bagus.." ujarnya yang kemudian mengecup bibir Luhan dan mulai melumatnya lembut hingga kemudian intensitas ciuman mereka berubah semakin dalam, Sehun memegag tengkuk Luhan sementara Luhan mulai memberanikan diri melingkarkan tangannya di leher Sehun dan membalas semua lumatan Sehun yang begitu membakarnya.
"Hmhhh…." Luhan kembali mengeluakan desahan kecilnya tatkala ciuman Sehun turun ke lehernya, Sehun sedang menjilatinya dan sesekali menghisapnya keras membuat Luhan melenguh dan hanya bisa mencengkram selimutnya kencang.
Sehun sendiri tersenyum puas saat Luhan menerima perlakuannya sepenuhnya tanpa penolakan, namun kemudian senyumannya menjadi umpatan memaki dirinya sendiri saat melihat hampir seluruh tubuh Luhan yang penuh dengan bekas luka dan memar dan itu semua diakibatkan oleh bajingan seperti dirinya sendiri.
Merasa kesal melihat semua bekas luka itu, Sehun kemudian mengecupnya dan menghisapnya kencang, berharap semua bekas luka dan memar yang ada di tubuh Luhan karena ulahnya dapat menghilang dan terganti dengan tanda kepemilikan darinya.
"Ahhh..~"
Luhan terdengar mendesah namun seperti meringis karena Sehun terus menerus menghisap kencang semua bagian tubuhnya memar, namun kemudian dia menyadari kalau Sehunnya sedang berusaha menghilangkan semua memar yang ada di tubuhnya dan Luhan memilih untuk tidak mengeluarkan suara yang menunjukkan dirinya kesakitan agar tak membuat Sehun kecewa.
"Kenapa kau tak lari dari iblis sepertiku? Aku sudah menyiksamu dengan keji."
Luhan sedikit membelalak saat Sehun dengan tiba-tiba bertanya kepadanya dan terlihat geram pada dirinya sendiri. Luhan tahu kalau Sehun sedang merasa bersalah, dan tanpa rasa benci sedikit pun Luhan mengusap sayang wajah Sehun yang terlihat tegang dan memandangnya dengan menyesal.
"Kau bukan iblis Sehunna, kau suamiku dan aku mencintaimu."
Dan kalimat yang baru saja diucapkan Luhan membuat Sehun sedikit tersentak dan merasa kalau pria yang berada dibawahnya ini bukan manusia melainkan malaikat yang teramat baik yang selalu memaafkan dirinya.
"Luhan…" gumam Sehun yang tak kuasa menahan diri dan kembali mempersatukan bibir mereka, ke ciuman hangat yang sangat menuntut dan sangat mereka rindukan.
Tanpa berlama-lama pun Sehun ikut melucuti seluruh pakaiannya dan
"aghhhh-..~"
dalam sekali hentak Sehun menyatukan tubuhnya dan tubuh Luhan, Luhan memang selalu merasakan sakit setiap kali Sehun memasukinya, namun kali ini rasa sakit itu begitu berbeda, Sehun tak lagi melakukannya dengan kasar namun perlahan namun sangat memabukkan membuat Luhan menyalurkan hasratnya dengan mencengkram keras pundak Sehun yang sedang bergerak maju dan mundur di atasnya.
Semua perasaan itu seolah menyatu untuk keduanya, perasaan merindu, menyesal dan perasaan cinta yang dalam yang dirasakan keduanya terasa menyeruak ke luar membuat percintaan mereka malam ini begitu hangat.
Luhan tak bisa menyembunyikan rasa nikmat yang begitu berbeda yang diberikan Sehun untuknya, ini adalah kali pertama Sehun melakukannya dengan lembut sejak awal pernikahan mereka, Luhan benar-benar bisa merasakan Sehun melakukannya dengan perasaan dan hal itu membuatnya harus berkali-kali menahan debaran jantungnya yang semakin menggila karena setiap hentakan yang Sehun berikan begitu memabukkan dan membuatnya melayang.
Sehun sendiri tak sedikitpun berkedip dan terus memandangi wajah Luhan yang begitu membuatnya ingin terus memasuki Luhan sampai ke bagian terdalam dirinya, karena setiap dia menghentakan tubuh mereka Luhan akan memberikan ekspresi yang bisa membuat siapa saja tergila-gila padanya jika melihatnya, sampai akhirnya Sehun merasakan cengkraman di bahunya mengeras menandakan Luhan akan segera menjemput klimaksnya
Sehun kemudian mempercepat gerakannya agar bisa bersamaan dengan Luhan menjemput klimaksnya sampai akhirnya dalam hentakan terakhir yang begitu tepat mengenai titik ternikmat Luhan keduanya memejamkan erat matanya dan
"Ahhhhh..~"
Keduanya saling menyalurkan rasa nikmat bersama, dan beberapa menit setelah gelombang panas mereka tersalurkan, Sehun kembali menatap Luhan dan mengusap dahi Luhan yang sedikit berkeringat kemudian dia mengecup dahi Luhan dan kembali menatapnya dalam, takut jika Luhan akan menghilang jika tak ia pandangi.
"Tidurlah, kau pasti lelah."
Sehun akhirnya berpindah ke samping Luhan dan segera membawa tubuh Luhan ke dekapannya dan menyelimuti tubuh keduanya.
Tak ada kata-kata lagi setelah percintaan mereka yang singkat namun sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing. Dan untuk Luhan, dia sangat bersyukur karena percintaan malam ini Sehun melakukannya dengan lembut tanpa makian dan hinaan dan yang paling membuat Luhan bahagia adalah karena saat ini Sehun sedang mendekapnya erat. Walau tanpa mereka tak banyak berkata-kata, tapi Luhan sangat bahagia karena Sehun tak meninggalkannya seperti yang selalu ia lakukan setiap kali mereka selesai bercinta.
Malam ini adalah malam yang sangat indah untuk Luhan, dan dia tak henti-hentinya berdoa pada Tuhan agar Sehunnya selalu seperti ini, mendekapnya dan memberikan dirinya rasa hangat yang begitu nyaman dan menenangkan.
..
..
..
Keesokan paginya Luhan merasa wajahnya diterpa sinar matahari yang begitu menghangatkan dan memaksanya untuk membuka mata. Dia kemudian terdiam dan sedikit kecewa karena tak menemukan Sehun yang mendekapnya erat, dia kemudian memutuskan untuk bangun dari tidurnya dan sedikit merona mengingat percintannya dengan Sehun semalam yang meninggalkan begitu banyak tanda di tubuhnya.
"Kami benar-benar melakukannya seperti suami-istri." Gumam Luhan yang bergegas pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya walau tubuh bagian bawahnya masih terasa sakit karena kegiatannya dengan Sehun semalam.
Selesai membersihkan diri, Luhan mengenakan pakaian casualnya seperti biasa, namun kali ini dia memutuskan untuk memakai training karena tak mau menyiksa bagian bawahnya yang masih terasa sakit. Dan setelah selesai berpakaian Luhan keluar kamarnya berniat mencari Kyungsoo untuk minta dibuatkan sarapan.
Sesampainya dilantai bawah, Luhan sedikit mengernyit karena banyak orang-orang yang berlalu lalang dan memasang dekorasi di taman belakangnya, karena merasa bingung dia memutuskan untuk mencari Kyungsoo dan bertanya padanya.
"Kyungiee.." sapa Luhan bergelayutan di lengan Kyungsoo yang sepertinya sedang memasak sesuatu yang menurut Luhan menjijikan.
"Kau sudah bangun Lu? Aku baru mau kekamarmu. Kau harus sarapan dulu" Katanya mencubit gemas pipi Luhan yang sedang menatap jijik pada masakan yang sedang ia buat.
"Buatkan aku sandwich." Pintanya merajuk pada Kyungsoo
"Tidak-… Mulai hari ini kau akan memakan makanan sehat yang aku dapatkan dari majalah kesehatan." Balas Kyungsoo tegas membuat Luhan mengernyit tak suka
"Makanan sehat? Apa maksudnya?"
"Seperti sayuran yang sedang aku tumis ini."
"Tidak mau-.." Luhan langsung menggeleng cepat dan menatap horor pada Kyungsoo yang memandangnya galak.
"Kau harus makan dan minum obatmu." Kyungsoo sedikit menarik lengan Luhan menuju meja makan.
"Obat?" Luhan mengulangi pertanyaan Kyungsoo dengan bingung
"Hmm..Sehun memberikanku obat yang harus kau minum, dia juga membelikanmu vitamin untuk daya tahan tubuh. Dia berpesan padaku agar kau meminum semuanya tanpa sisa." Balas Kyungsoo panjang lebar
"Sehun yang menyuruhmu?" tanya Luhan yang kini wajahnya merona karena mendengar Sehun yang meminta Kyungsoo untuk merawatnya sendiri.
"Ya…dan kenapa wajahmu memerah? Astaga Luhan..kau seperti pengantin yang baru kemarin menikah?" kekeh Kyungsoo yang benar-benar gemas melihat Luhan.
"Aniya.. Aku tidak memerah." Kilahnya dan secara ajaib memakan dengan lahap sarapan yang ditatapnya jijik dari awal dia bangun.
"Aigo.. bahkan warna wajahmu sudah menyamai warna tomat ini."sindir Kyungsoo yang mendapat tatapan galak dari Luhan.
"Semalam kalian habis bercinta kan? Bagaimana rasanya? Apa dia melakukannya dengan lembut semalam?"
Uhuk!
Luhan tersedak makanannya saat Kyungsoo tak henti-hentinya menggodanya.
"Astaga..Minum ini Lu… maaf aku tak bermaksud membuatmu tersedak." Kyungsoo terlihat panik dan membantu Luhan minum sambil menepuk pelan punggung belakang Luhan.
"Berhenti menggodaku. Kau menyebalkan." Protes Luhan yang menarik Kyungsoo kembali ke kursinya.
"Iya..iya.. maafkan aku. Ummmm.. tapi apa kau senang?" tanya Kyungsoo memastikan
Luhan kali ini menatapnya dan mengangguk sambil tersenyum sangat bahagia, Kyungsoo benar-benar lega karena Sehun sepertinya memang sudah kembali menjadi Sehun yang sedikit memperhatikan Luhan/
"Syukurlah…Kalau begitu kau harus makan yang banyak, setelah itu minum obatmu. Oke"
Dan Luhan pun kembali mengangguk membuat Kyungsoo kembali gemas dan mengacak-acak rambut Luhan.
"Oia Kyung…siapa orang-orang itu? Kenapa mereka terlihat mendekorasi taman belakang?" tanya Luhan disela-sela sarapannya yang hampir selesai.
"Entahlah Lu, Sehun yang menelpon mereka pagi-pagi buta sebelum dia berangkat bekerja. Sepertinya Sehun akan mengadakan pesta nanti malam." Balas Kyungsoo memberitahu Luhan.
"Pesta?"
Luhan masih mengalami trauma jika membicarakan pesta, karena belum lama pesta diadakan dirumahnya berakhir dengan sangat memalukan untuknya dan sangat menyakitkan karena melihat Sehun bercinta dengan sekertarisnya.
"Hmm pesta.. Kau suka kan?"
Luhan hanya kembali mengunyah makanannya dan menatap Kyungsoo sekilas "Aku hanya ingin tidur dikamar malam ini Kyung." Katanya memberitahu Kyungsoo dengan tak bersemangat.
Kyungsoo yang tahu benar kalau Luhan sedang mengingat kejadian pesta yang lalu pun tersenyum lirih dan berusaha menghibur Luhan "Kau benar, kau istirahat saja dikamar. Lagipula pesta itu hanya akan membuat Luhanku lelah." Katanya mengusak lembut rambut Luhan.
Luhan tak memberi tanggapan apapun lagi setelahnya. Dan selesai makan serta minum obat yang disiapkan Kyungsoo, Luhan sudah memutuskan untuk tidak keluar kamar dan hanya akan berada dikamarnya sepanjang hari ini. dia berharap tak lagi melihat wanita yang pernah memakinya dan bercinta dengan Sehun seperti pesta sebelumnya yang Sehun selenggarakan dirumah mereka.
..
..
..
Malam harinya Luhan masih tak bergeming dan tak terus berada dikamarnya sepanjang hari, dia hanya bisa menikmati pemadangan dekorasi pesta yang begitu cantik dari jendela kamar Sehun, dia juga bisa melihat para tamu undangan Sehun sudah mulai berdatangan dan terlihat sangat menikmati dekorasi indah yang Sehun pesan kepada para petugas dekorasi pagi tadi.
Luhan sudah cukup senang bisa mengamati pesta dari kamar Sehun tanpa harus merusaknya seperti pesta beberapa waktu lalu. Dia juga sangat penasaran akan setampan apa suaminya nanti di pesta yang ia adakan dirumahnya.
"Appamu pasti akan sangat tampan nak." Gumam Luhan yang sedang menggenggam hasil usg bayinya beberapa waktu lalu sebelum dia mengalami keguguran. "Kita akan segera melihat appamu. Kau pasti akan bangga karena dia sangat tampan." Puji Luhan mencium hasil foto usg nya dengan senang dan tak sabar.
Cklek!
Terdengar pintu kamar terbuka, namun tak dihiraukan Luhan yang menebak pasti Kyungsoo yang datang. Dari sore hari Kyungsoo sudah membujuknya turun dan ikut bersiap, namun Luhan menolak dengan keras karena tahu benar dia hanya akan menghancurkan pesta suaminya.
"Kenapa kau belum bersiap?"
Luhan sedikit terkesiap menyadari kalau bukan Kyungsoo yang datang melainkan Sehun yang sedang berjalan ke arahnya dengan sangat tampan menggunakan kemeja putih dengan blazer hitam yang ia gulung sampai setengah lengan.
"Sehun.." gumam Luhan yang refleks menyembunyikan hasil foto usg nya kebelakang tangannya.
"Ini pakaianmu, cepat bersiap." Ujar Sehun memberikan sebuah bungkusan untuk Luhan dan mengambil foto usg yang disembunyikan Luhan dibelakang tangannya.
"Aku hanya ingin berada disini Sehun, aku tidak mau merusak acaramu." Ujar Luhan tercekat takut membuat Sehun marah.
"Ini pestamu, jadi tidak mungkin kau tak hadir. Cepat ganti pakaianmu. Aku akan menunggumu disini." Kali ini nada Sehun sedikit memerintah walaupun masih terdengar lembut untuk Luhan.
"Luhan…" Sehun kembali memperingatkan Luhan yang masih diam tak beranjak untuk berganti pakaian.
Luhan yang menyadari tak bisa melawan Sehun pun mengangguk dengan cepat dan segera berganti pakaian dengan pakaian yang diberikan Sehun.
Sehun tersenyum lirih mengetahui Luhan masih sangat takut padanya, kemudian dia memutuskan untuk menunggu Luhan sampai dia menyadari ada sesuatu yang disembunyikan Luhan yang baru saja ia ambil dari tangan istrinya tersebut.
Sehun kembali tersentak karena hatinya kembali berdenyut sakit saat menyadari Luhan benar-benar belum bisa merelakan kepergian calon anak mereka. Dan rasa bersalah pun kembali menggerogotinya menyadari kalau dirinyalah penyebab Luhan kehilangan calon bayi mereka.
"Sehun, aku sudah siap."
Luhan menginterupsi Sehun yang masih memandang hasil usg Luhan dengan bergetar, merasa tak ada jawaban Luhan berjalan mendekati Sehun dan kembali memanggilnya
"Sehun.."
Sehun pun tersadar Luhan memanggilnya, dia kemudian meletakkan hasil usg Luhan ke laci dengan cepat dan segera menoleh menjawab Luhan. Namun mulutnya terasa terkunci rapat tak bisa bersuara saat melihat Luhan yang begitu berbeda hanya dengan pakaian yang ia berikan.
"Ada apa Sehun? Apa aku terlihat memalukan?" tanya Luhan melihat penampilannya dari atas ke bawah takut ada sesuatu yang ia lewatkan.
Sehun masih terdiam memandang takjub ke arah istrinya yang begitu terlihat mempesona, dia kemudian berjalan mendekati Luhan yang terlihat panik takut ada yang salah dengan penampilannya.
"Kau sempurna." Bisik Sehun yang kemudian menggenggam Luhan turun ke bawah untuk menghadiri pesta yang entah Sehun buat untuk merayakan apa.
Luhan hanya bisa mengerjap tak percaya mendengar pujian yang Sehun lontarkan untuknya pertama kali dan merasa sangat gugup karena untuk pertama kalinya pula Sehun akan membawanya ke depan publik.
"Perhatian semuanya..."
Dan tanpa berbasa basi pun Sehun langsung menarik perhatian dari beberapa tamu undangan yang menatap penasaran pada Luhan yang digenggam erat oleh Sehun.
Dan seketika perhatian para tamu undangan pun tertuju pada Sehun yang akan mengutarakan maksud dirinya mengadakan pesta malam ini.
"Terimakasih untuk kedatangan kalian semua malam ini ke pesta sederhana yang aku buat. Kalian pasti bertanya-tanya untuk apa aku mengadakan pesta ini." Katanya melihat raut wajah para tamunya yang tampak penasaran.
"Sebagian dari kalian mungkin sudah mengetahui kalau aku telah menikah, tapi aku yakin juga ada beberapa diantara kalian yang belum pernah melihat dan mengenal siapa istriku selama ini."
Sehun mengeratkan genggamannya pada tangan Luhan. "Tujuanku mengadakan pesta malam ini adalah untuk memperkenalkan secara langsung pada kalian bahwa pria yang berada disampingku ini adalah istriku, Oh Luhan."
Pernyataan Sehun barusan sukses membuat para tamu membelalak terkejut namun tak menyembunyikan ucapan selamat untuk kebahagiaan partner dan bos mereka.
"Jadi aku meminta pada kalian untuk menghormatinya, menghargainya dan memperlakukan istriku seperti kalian memperlakukanku."
"Sehun.." gumam Luhan yang merasa sangat ingin pingsan saat ini karena takut semua tamu undangan mencaci suaminya.
"Istriku adalah pria yang dengan bodohnya terus mencintaiku hingga sekarang dan tak pernah sekalipun membenciku setelah apa yang aku lakukan padanya, dia memiliki kesabaran luar biasa yang mustahil dimiliki oleh seorang manusia, dia juga memiliki hati yang begitu tulus untuk memaafkan setiap orang yang menyakitinya. Aku ingin memperkenalkan langsung pada kalian bahwa pria yang berada disampingku adalah pria yang sama yang selalu mencintaiku dengan tulus sejak kami kecil, dan cintanya juga yang menyadarkan diriku kalau aku juga tak pernah berhenti mencintainya" terdengar Sehun menghela nafas pelan dan tersenyum kemudian sedikit memandang Luhan sambil berkata.
"Aku sangat mencintai istriku."
"Sehun…"
Luhan melemas mendengar semua ucapan Sehun yang terlalu terburu-buru, dia pasti jatuh kalau Sehun tak merengkuh erat pinggangnya dan menatapnya lembut "Aku menjagamu Lu."
Hati Luhan berdesir menghangat, dia tak bisa lagi menahan rasa bahagianya, dia sedikit melompat dan sedikit berjinjit untuk mendekap Sehun dengan sangat erat "Terimakasih Sehun-…Terimakasih sudah kembali mencintaiku. Aku mencintaimu-..Selalu mencintaimu." Gumam Luhan terisak sangat bahagia dipelukan suaminya.
Sehun mengeratkan pelukannya pada Luhan, kemudian menangkup wajah Luhan yang kentara sekali sangat bahagia namun masih terlihat sangat cantik "Aku yang berterimakasih karena kau terus ada untuk iblis sepertiku." Katanya menghapus sayang air mata Luhan.
Luhan menggeleng cepat dan sedikit kesal pada Sehun yang terus mengatakan dirinya iblis "Kau bukan iblis, kau suamiku." Isakannya sudah menjadi sesunggukan karena benar-benar tak bisa menyembunyikan kebahagiannya.
"Benar.. Aku suamimu dan kau istriku-…dan aku mencintaimu, Luhan."
Ujar Sehun tersenyum dan kemudian mencium lembut bibir Luhan didepan semua rekan kerja dan tamu undangannya. Sehun merengkuh pinggang Luhan agar mendekat padanya dan Luhan hanya bisa memegang pundak Sehun yang kini sedang menciumnya sangat dan teramat lembut.
"Aku mencintaimu."
Sehun terus menggumamkan kalimat cinta yang bisa membuat Luhan kehabisan nafas seketika karena sangat bahagi. "Aku sangat mencintaimu." Balas Luhan dan mendekap Sehun dengan sangat eratnya.
Dan seluruh tamu undangan bertepuk meriah memberikan selamat dan sedikit terharu melihat dan meyaksikan sendiri betapa kuatnya cinta seseorang yang bisa kembali merobohkan dinding kebencian pria yang dengan tulusnya ia cintai. Ada rasa haru sekaligus iri dari tamu undangan yang hadir, namun mereka semua bersyukur dan turut berbahagia untuk kebahagiaan bos mereka dengan istrinya yang begitu tampak mencintai Sehun.
Tak berbeda dengan tamu undangan lain, Kyungsoo yang kebetulan sedang berada didapur untuk menyiapkan minum pun terlalu bahagia, hingga ia tak bisa menopang dirinya sendiri dan terduduk di lantai dapur, terisak sangat bahagia
"Syukurlah…syukurlah Luhan.. kesabaranmu berbalas manis sayangku." Isak Kyungsoo yang menjadi saksi mata selama tujuh tahun bagaimana pengorbanan Luhan untuk tetap mencintai dan berada disamping Sehun yang sangat membencinya.
"Aku mencarimu kemana-mana dan ternyata kau disini."
Kyungsoo yang sedang terisak pun menoleh dan mendapati Kai dengan tampannya memasuki dapur rumah Sehun.
"Kai…" tanpa aba-aba apapun Kyungsoo langsung berlari dan mendekap erat Kai yang langsung menyambut tubuh mungilnya.
"Luhan-….Sehun sudah kembali pada Luhan." katanya terbata memberitahu Kai
"Ya Kyung..Aku juga sangat bahagia sepupuku sudah kembali." Katanya yang juga memeluk erat Kyungsoo dan sedikit mengelus sayang punggung Kyungsoo agar kembali tenang.
"Luhan pasti sangat bahagia saat ini." ujar Kyungsoo yang sudah sedikit mereda dan tersenyum senang.
"Ya..dan kau juga harus bahagia, Luhan akan menangis melihatmu begitu jelek saat menangis." Kekeh Kai menghapus air mata Kyungsoo.
"Rapikan dirimu, aku menunggumu diluar." Ujar Kai meninggalkan Kyungsoo dan dengan sengaja menjatuhkan kotak kecil berwarna merah.
"Umhh Kai… ada sesuatu yang jatuh dari sakumu." Kyungsoo memungut kotak kecil itu dan memberitahu Kai yang langsung menghentikan langkahnya.
"Ah benarkah? Coba kau buka apa isinya, aku tak ingat punya benda itu." Pinta Kai dan Kyungsoo mengangguk.
"Ini cincin Kai…" katanya memberitahu Kai
Kai tersenyum kemudian berjalan mendekati Kyungsoo "Cincin?" katanya berpura-pura tak tahu
"Hmm.. cincin dan ini sangat indah" puji Kyungsoo yang seperti terhipnotis oleh keindahan cincin milik Kai
"Ah-…Cincin itu milikmu."
Kyungsoo mendongak ingin menegur Kai jika sedang mengerjainya, namun Kyungsoo tak menemukan sedikitpun tanda kalau Kai sedang bercanda dengannya.
"Milikku?" tanya Kyungsoo tak mengerti.
"Ya..Cincin ini aku pesan seminggu yang lalu untukmu." Katanya mengambil cincin itu dan memakaikannya ke jari manis Kyungsoo
"Do Kyungsoo…Maukah kau menikah denganku?"
Tanya Kai membuat Kyungsoo bersumpah seperti dicekik karena langsung kehabisan nafasnya dengan jantung yang berdebar tak semestinya.
"K-kai…" Kyungsoo menatap Kai yang tampak tulus dan tersenyum padanya.
"Aku sedang melamarmu…Jadi apakah kau Do Kyungsoo bersedia menikah dengan pria yang terus mengabaikanmu selama bertahun-tahun lamanya. Masih adakah kesempatan untukku untuk memilikimu seutuhnya?"
Grep!
Kyungsoo langsung menghambur ke pelukan Kai dan mendekap pria yang sangat dicintainya ini dengan erat. "Aku bersedia Kai. Tidak-….Aku bukan bersedia..Aku sangat bersedia Kai." Katanya kembali terisak karena merasa sangat bahagia Kai akhirnya melihat ke arahnya dan memutuskan untuk hidup bersama dengannya.
Kai tersenyum lega karena belum kehilangan Kyungsoo sepenuhnya, dia kemudian menangkup wajah Kyungsoo dan mencium lembut bibir Kyungsoo yang terasa asin karena air matanya yang terus ia biarkan turun. "Gomawo Kyung…Aku mencintaimu." Ujar Kai menghapus air mata Kyungsoo dan kembali mendekap pria yang akan segera menjadi pendamping hidupnya ini.
Dan malam itu adalah malam yang sangat membahagiakan kedua pasangan yang tampaknya menyadari siapa yang sangat mencintai mereka. Malam membahagiakan untuk Kyungsoo terutama Luhan yang pada akhirnya mendapatkan balasan atas kesabaran mereka menunggu dan cinta mereka yang begitu besar untuk Sehun dan Kai.
..
..
..
Cklek!
Terlihat Luhan yang kini sudah memakai piyama tidur berdiri ragu untuk menghampiri Sehun yang sudah bersiap di ranjang mereka.
"Luhan, cepat berbaring dan istirahat." Sehun menyadari kalau istrinya sedang menatap takut padanya.
"Sehun-…Maaf merusak pestamu." Lirih Luhan menunduk menyesal.
Ya, setelah pengumuman yang Sehun berikan, tak lama kemudian Luhan kembali merasakan sakit di kepalanya dan kemudian tubuhnya sangat terasa lelah, dia tidak memberitahu Sehun takut kalau Sehun membubarkan pesta yang baru saja dimulai, namun Sehun menyadarinya dan langsung memutuskan bahwa Luhan memang harus beristirahat karena kelelahan dan tanpa ragu pun pesta yang baru dimulai tiga jam itu ia akhiri.
Sehun menghela nafasnya dan berjalan menghampiri Luhan "Apa aku terlihat marah?" tanya Sehun yang kini berdiri didepan Luhan.
"Luhan lihat aku jika aku bertanya." Perintah Sehun dan Luhan memandang suaminya yang terlihat mengkhawatirkannya.
Luhan menggeleng lemah dan menatap Sehun dengan menyesal "Tidak." Gumamnya memberitahu Sehun.
"Kalau begitu hentikan tatapan menyesal itu. Aku bisa membuat pesta yang jauh lebih meriah saat kau sehat nanti." Katanya mengecup bibir Luhan dan menggendong istrinya untuk segera berbaring dan beristirahat.
Luhan hanya bisa merona karena sudah lama sekali Sehun tak menggendongnya seperti ini.
"Nah, sekarang minum obatmu dulu." Sehun memberikan obat kepada Luhan dan membantunya meminum obat, setelah selesai Sehun membawa Luhan ke dekapannya dan menyelimuti tubuh mereka.
"Apa sangat sakit?" tanya Sehun saat Luhan sudah hampir tertidur.
"eh?" Luhan mendongak ke arah Sehun dan menatap suaminya yang entah kenapa begitu pucat saat bertanya pada Luhan.
"Apa kau sangat merasa kesakitan?" tanya Sehun menatap Luhan
"Ah…penyakitku ya? Tidak Sehun…. Aku tidak setiap saat merasa sakit." Katanya kembali bersandar di pelukan Sehun.
"Luhan….Aku sudah menentukan jadwal operasimu." Ujar Sehun memberitahu Luhan yang langsung duduk mencari kebenaran ucapan Sehun
"Apa maksudmu? Aku tidak mau Sehun-…kau tahu apa kata dokter? Aku bisa saja mengalami koma selama operasi berlangsung. Lagipula aku tidak bisa sembuh sepenuhnya jika operasi. Biarkan aku terapi dan minum obat seumur hidupku. Tapi aku mohon jangan memintaku untuk operasi." Ujar Luhan yang entah kenapa menjadi emosi saat topik operasi Sehun ucapkan.
Sehun menggeleng lemah dan berusaha memberitahu Luhan "Kau akan tetapi terapi selama tiga bulan Lu, lalu pada bulan keempat kau harus di ope…"
"SEHUN CUKUP!"
Luhan entah kenapa begitu marah pada penyakitnya yang harus membuatnya menjalani operasi dan bisa membuatnya mati kapan saja. Dia kemudian berdiri dari tempat tidur Sehun dengan ketakutan luar biasa dan emosi yang entah kenapa menjadi sangat tak beraturan.
"Tak bisakah-…Tak bisakah kau membiarkan aku bahagia sekali saja? Bagaimana jika nanti aku menjalani operasi dan kemudian operasiku gagal dan aku mengalami koma? Aku tidak akan bisa bangun dan melihatmu lagi Sehun. Aku masih ingin terus bersamamu walau aku kesakitan, jadi berhenti membuatku menghilang dari hidupmu." Ujar Luhan yang kini sudah terisak dan menangis hebat.
Sehun hanya memandang istrinya dengan menyesal dan tetap pada keputusannya "Kau akan tetap menjalani operasi Luhan, ini semua demi kebaikanmu."
"Kau jahat!" teriak Luhan berlari dari kamar Sehun dan mengunci kamar yang sebelumnya ia tempati disamping kamar Sehun.
Sehun sudah bisa menebak akan seperti ini reaksi Luhan, Karena Bora-..dokter yang menangani Luhan sudah memberitahunya bahwa Luhan menolak dengan tegas untuk melakukan operasi dengan alasan takut tak bisa melihat wajahnya lagi.
"Aku sangat jahat Luhan-..Tapi aku tak bisa membiarkanmu kesakitan dan pergi dariku kapan saja jika kau tak bisa menahan sakitnya." Lirih Sehun yang sudah berada didepan kamar Luhan dan membiarkan Luhan menangis didalam sana tanpa mengganggunya. Karena Sehun sudah bertekad untuk tetap membuat Luhan menjalani operasi pertamanya.
..
..
..
Keesokan paginya Luhan bangun dengan perasaan yang campur aduk didalam dirinya, dia merasa senang karena Sehun semalam Sehun kembali menjadi Sehunnya yang dulu, namun kemudian dia begitu marah dan emosi mengingat Sehun yang sepertinya akan terus mendesaknya melakukan operasi yang bisa membuatnya koma bahkan mati saat itu juga.
Luhan kemudian menebak Sehun sudah berangkat kekantornya, kemudian dia bersiap untuk kembali mengunjungi makam kedua orang tua Sehun dan makan calon anak mereka. Dia benar-benar butuh tempat bicara dan hanya tempat itu yang bisa membuatnya tenang.
Setelah bersiap-siap dengan cepat, Luhan berlari menuruni tangga dan segera bergegas keluar sebelum Kyungsoo menemukannya, karena dia menebak Kyungsoo sudah menjadi kaki tangan Sehun semenjak Sehun berubah sangat memperhatikan dirinya.
Dia pun tersenyum senang saat berhasil keluar rumah dan segera berlari ke halte bus terdekat dari rumahnya.
"Ahjussi, aku pesan tiga buket bunga." Pinta Luhan pada penjual bunga tempat dimana ia biasa membeli bunga untuk ke pemakaman.
Ahjusii yang sudah menjadi langganan Luhan pun mengangguk mengerti dan segera menyiapkan bunga pesanan Luhan.
"Ini nak bungamu." Katanya menyerahkan tiga buket bunga pada Luhan yang masih sibuk mencari uang didalam tas kecilnya.
"Iya sebentar ahjusii." Ujar Luhan masih mencari uangnya didalam tas
"Ambil kembaliannya ahjussi. Terimakasih untuk bunganya yang cantik."
Suara yang sangat familiar di telinga Luhan menginterupsi, membuat Luhan sedikit membelalak melihat suaminya sudah berada disampingnya dan kini memegang tiga buket bunga yang ia pesan.
"Sehun.." gumam Luhan kebingungan
"Wae? Ini juga jadwalku untuk mengunjungi makam orang tuaku dan makam anak kita." Katanya yang kemudian menggenggam Luhan berjalan ke halte bus terdekat, Luhan yang sebenarnya masih kesal pada Sehun mau tak mau tersenyum bahagia karena ini adalah kali pertama mereka mengunjungi makan kedua orang tuanya bersama-sama dan Sehun juga sudah mengetahui kalau Luhan membuat makam khusus untuk calon anak mereka yang telah tiada.
Sehun terus menggenggam Luhan dengan tiga buket bunga yang ia bawa sendiri, dia kemudian menuntun Luhan menaiki bis dan duduk di bangku belakang yang kosong "Kenapa memandangku terus? Apa kau sangat marah padaku?" tanya Sehun karena Luhan terus menatapnya.
Luhan menggeleng dan hanya menatapnya bingung "Aku tidak marah. Tapi bagaimana bisa kau tahu tempatku biasa membeli bunga untuk ke pemakaman?" tanyanya pada Sehun
"Bodoh. Aku sudah mengikutimu sejak awal kau berlari seperti maling dari rumah kita. Kau bahkan belum sarapan dan meminum obatmu." Katanya menyindir Luhan yang merasa malu karena ketahuan berlari seperti orang gila pagi tadi.
"Maaf." Gumamnya menyesal
"Maaf untu apa? Ah-.. Maaf karena berani membuatku tidur sendirian semalam? Kau belum dimaafkan untuk itu. Kau akan dimaafkan setelah kau memanggil namaku dengan suara seksimu nanti malam." Ujar Sehun yang sedang menggoda Luhan.
"Sehun-.." Luhan memukul kencang lengan Sehun yang terus menggenggamnya tak melepasnya sedikitpun dari awal mereka bertemu pagi ini.
"Aku akan memastikan kau minum obat setelah ini, lagipula hari ini kita akan ke rumah sakit untuk membahas jadwal operasi dan terapimu." Katanya memberitahu Luhan yang hanya terdiam dan tak berniat menjawab pernyataan Sehun. Karena jujur saja dia masih sangat keberatan untuk menjalani operasi yang Sehun inginkan.
"Kenapa diam? Kau tak mau?" Sehun bertanya namun tak mendapat jawaban dari Luhan yang mulai keras kepala dan tak mendengarkannya. Sehun menghela nafasnya berharap kalau dia bisa merubah keputusan Luhan untuk melakukan operasi.
Dan setelah beberapa menit pun mereka sampai di area pemakaman orang tua Sehun. Sehun terus menggenggam Luhan sampai akhirnya mereka berhenti tepat dimakam kedua orang tua Sehun.
Luhan mengambil buket bunga yang ada dipegangan Sehun dan langsung membagikannya ke makam ayah dan ibu Sehun. "eomma…appa…Aku datang bersama Sehun." Gumam Luhan yang melirik ke arah Sehun yang masih berdiri tak menyapa kedua orang tuanya.
"Sehun.." Luhan memanggilnya untuk segera menyapa kedua orang tuanya.
Sehun terenyuh dan mulai berjongkok untuk ikut menyapa kedua orang tuanya
"Eomma..Appa.. Kalian pasti sangat marah dan kecewa padaku karena ini adalah kali pertama aku dan Luhan datang bersama mengunjungi kalian kan? Maafkan aku.." lirih Sehun tertunduk sambil mengusap nisan kedua orang tuanya bergantian.
"Kalian tahu? Luhan sudah mengalami banyak hal buruk karena kejahatanku, dia berkali-kali mengalami memar dan harus dirawat dirumah sakit, dia harus merasakan betapa kejamnya mulutku yang terus mengatakan hal-hal jahat padanya. Tapi bodohnya dia tak pernah pergi dariku. Pasti kalian lebih menyayanginya saat ini."
Luhan hanya diam mendengar semua penuturan Sehun yang sedang berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Dan kalau kalian tahu, tak jauh dari makam kalian ada makam calon cucu kalian yang meninggal karena Luhan menyelamatkanku." Lirih Sehun tercekat memandang makam yang dibuat Luhan untuk calon anak mereka.
"Maafkan aku menjadi monster mengerikan yang selalu mengecewakan kalian berdua maafkan aku." Sehun kembali memaki dirinya, Luhan yang tak tahan pun merangkul lengan Sehun meminta suaminya untuk berhenti bicara.
"Tapi sekarang Tuhan membalas semua kejahatanku. Dia membuat Luhan sakit, dan sakitnya sudah menggerogoti tubuhnya karena aku tak memperhatikannya. Disaat aku menyadari kalau hanya Luhan yang aku miliki, aku akan segera kehilangannya kalau dia tak mau menjalani pengobatan dan operasi. Luhan bilang dia takut operasinya gagal dan tak bisa melihatku lagi. Harusnya itu menjadi ketakutanku. Aku takut tak bisa bersamanya lagi kalau aku tak melakukan apapun untuknya. Aku takut Luhan pergi dariku dengan tiba-tiba. Aku takut kehilangan istriku eomma." Sehun tertunduk dan menggenggam erat jemari Luhan.
"Tolong katakan padanya untuk mau menjalani operasi yang disarankan, aku hanya ingin melihatnya lebih baik tanpa harus kesakitan lagi. Aku mohon." Pinta Sehun yang kini menatap Luhan, seolah dia meminta kepada orang tuanya namun nyatanya Sehun sedang membujuk Luhan untuk mau menjalani operasi.
"Aku mohon." Lirihnya tertunduk karena Luhan kembali diam dan tak memberikan respon apapun.
Luhan kalah, dia sangat tak tega melihat suaminya yang begitu ketakutan dan sangat mengkhwatirkannya, dia kemudian menangkup wajah Sehun dan menghapus air mata Sehun yang membasahi pipinya.
"Aku mau Sehun….Aku akan menjalani operasi yang kau minta. Aku mau sayang." Ujar Luhan menahan semua rasa takut yang menghinggapi dirinya, takut kalau tak bisa melihat wajah tampan suaminya yang selalu ia rindukan.
Sehun kemudian menggenggam erat tangan Luhan yang sedang mengusap wajahnya, dia tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya karena Luhan menyetujui untuk menjalani operasi.
"Terimakasih Luhan…. Teimakasih." Ujarnya memeluk erat Luhan
Keduanya membiarkan semilir angin menerpa mereka yang sedang berbagi perasaan bahagia, senang namun penuh kekhawatiran yang mendalam di masing-masing insan yang sedang memikirkan ketakuan mereka masing-masing.
tobecontinued...
i lost of my words ")
.
so, happy reading and review...
