this little happiness is ours...
Last Hope
Main Cast : Xi Luhan & Oh Sehun
Genre : Romance, Family, Hurt
Rate : T-M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s). M-preg.
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
.
sebelumnya...
Dan setelah beberapa menit pun mereka sampai di area pemakaman orang tua Sehun. Sehun terus menggenggam Luhan sampai akhirnya mereka berhenti tepat dimakam kedua orang tua Sehun.
Luhan mengambil buket bunga yang ada dipegangan Sehun dan langsung membagikannya ke makam ayah dan ibu Sehun. "eomma…appa…Aku datang bersama Sehun." Gumam Luhan yang melirik ke arah Sehun yang masih berdiri tak menyapa kedua orang tuanya.
"Sehun.." Luhan memanggilnya untuk segera menyapa kedua orang tuanya.
Sehun terenyuh dan mulai berjongkok untuk ikut menyapa kedua orang tuanya
"Eomma..Appa.. Kalian pasti sangat marah dan kecewa padaku karena ini adalah kali pertama aku dan Luhan datang bersama mengunjungi kalian kan? Maafkan aku.." lirih Sehun tertunduk sambil mengusap nisan kedua orang tuanya bergantian.
"Kalian tahu? Luhan sudah mengalami banyak hal buruk karena kejahatanku, dia berkali-kali mengalami memar dan harus dirawat dirumah sakit, dia harus merasakan betapa kejamnya mulutku yang terus mengatakan hal-hal jahat padanya. Tapi bodohnya dia tak pernah pergi dariku. Pasti kalian lebih menyayanginya saat ini."
Luhan hanya diam mendengar semua penuturan Sehun yang sedang berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Dan kalau kalian tahu, tak jauh dari makam kalian ada makam calon cucu kalian yang meninggal karena Luhan menyelamatkanku." Lirih Sehun tercekat memandang makam yang dibuat Luhan untuk calon anak mereka.
"Maafkan aku menjadi monster mengerikan yang selalu mengecewakan kalian berdua maafkan aku." Sehun kembali memaki dirinya, Luhan yang tak tahan pun merangkul lengan Sehun meminta suaminya untuk berhenti bicara.
"Tapi sekarang Tuhan membalas semua kejahatanku. Dia membuat Luhan sakit, dan sakitnya sudah menggerogoti tubuhnya karena aku tak memperhatikannya. Disaat aku menyadari kalau hanya Luhan yang aku miliki, aku akan segera kehilangannya kalau dia tak mau menjalani pengobatan dan operasi. Luhan bilang dia takut operasinya gagal dan tak bisa melihatku lagi. Harusnya itu menjadi ketakutanku. Aku takut tak bisa bersamanya lagi kalau aku tak melakukan apapun untuknya. Aku takut Luhan pergi dariku dengan tiba-tiba. Aku takut kehilangan istriku eomma." Sehun tertunduk dan menggenggam erat jemari Luhan.
"Tolong katakan padanya untuk mau menjalani operasi yang disarankan, aku hanya ingin melihatnya lebih baik tanpa harus kesakitan lagi. Aku mohon." Pinta Sehun yang kini menatap Luhan, seolah dia meminta kepada orang tuanya namun nyatanya Sehun sedang membujuk Luhan untuk mau menjalani operasi.
"Aku mohon." Lirihnya tertunduk karena Luhan kembali diam dan tak memberikan respon apapun.
Luhan kalah, dia sangat tak tega melihat suaminya yang begitu ketakutan dan sangat mengkhwatirkannya, dia kemudian menangkup wajah Sehun dan menghapus air mata Sehun yang membasahi pipinya.
"Aku mau Sehun….Aku akan menjalani operasi yang kau minta. Aku mau sayang." Ujar Luhan menahan semua rasa takut yang menghinggapi dirinya, takut kalau tak bisa melihat wajah tampan suaminya yang selalu ia rindukan.
Sehun kemudian menggenggam erat tangan Luhan yang sedang mengusap wajahnya, dia tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya karena Luhan menyetujui untuk menjalani operasi.
"Terimakasih Luhan…. Teimakasih." Ujarnya memeluk erat Luhan
Keduanya membiarkan semilir angin menerpa mereka yang sedang berbagi perasaan bahagia, senang namun penuh kekhawatiran yang mendalam di masing-masing insan yang sedang memikirkan ketakuan mereka masing-masing.
.
.
.
.
.
L
A
S
T
.
H
O
P
E
.
.
.
.
.
.
.
Dua minggu setelah pernyataan Luhan yang berjanji akan melaksanakan operasi yang telah dijadwalkan Sehun membuatnya harus bersedia dan rela mengunjungi rumah sakit dan melakukan serangkaian terapi dan check up yang disediakan untuknya. Luhan memang sudah jarang merasakan sakit namun ada saat dimana dia akan tiba-tiba kehilangan kesadaran serta penglihatannya kabur begitu saja. Seperti tiga hari sebelumnya saat Luhan menemani Kyungsoo berbelanja di supermarket, dia berniat untuk kembali ke mobil mereka terlebih dulu karena merasa kepalanya sakit, namun saat sampai di luar toko Luhan merasa sinar matahari terlalu terik membuat matanya sakit dan sesaat semuanya menjadi buram. Karena terlalu panik, Luhan memutuskan untuk menyebrang secepatnya ke mobil yang Kyungsoo bawa, dia tidak mau terlihat aneh di keramaian, dan
Ckiiitt~
Luhan nyaris tertabrak kalau saja si pengemudi tak mengerem tepat waktu, Luhan mematung karena benar-benar tak bisa melihat dengan jelas ditambah dengan teriakan marah si pengemudi yang memaki Luhan dan mengatakan Luhan buta membuat semua orang melihatnya. Kyungsoo yang tak lama keluar toko pun memekik dan membuang belanjaan yang ada di tangannya secara asal, dia kemudia memeluk Luhan yang tampak bergetar hebat dan pucat.
Kyungsoo yang meminta maaf pada si pengemudi dan menjelaskan kalau Luhan sedang sakit, kemudian Kyungsoo memaksa Luhan untuk ke rumah sakit namun Luhan menolaknya, dia bilang dia sedang tidak ingin menjalani terapi dengan serangkaian alat yang selalu membuatnya muntah-muntah setelah selesai. Dan karena tak punya pilihan lain, Kyungsoo membawa Luhan pulang kerumah dan memutuskan untuk memberitahu Sehun.
Kyungsoo sedikit tercengang saat melihat reaksi Sehun yang sangat jauh dari perkiraannya, pria itu sampai sepuluh menit setelah Kyungsoo mengantarkan Luhan ke kamar mereka, wajahnya tak kalah pucat dan dia sedikit terengah, Kyungsoo menebak kalau Sehun berlari memasuki rumahnya, Kyungsoo bahkan tak sempat menjelaskan apapun pada Sehun karena Sehun langsung berlari kekamarnya untuk melihat Luhan.
Dan sejak hari itu, Sehun tak pernah membiarkan Luhan lolos dari pengawasannya, secara diam-diam dia menyewa penjaga untuk istrinya dan setiap satu jam dia akan tahu apa saja yang istrinya lakukan diluar rumah. Hal itu sedikit membantunya karena mulai dari saat Sehun menginginkan Luhan operasi, dirinya selalu mengkhawatirkan Luhan dan sangat takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.
Cklek!
Luhan baru selesai membersihkan badannya sampai dia merasa pintu kamarnya terbuka dan menoleh mendapati Sehun sedang berjalan ke arahnya "Sehun?" tanyanya merasa senang karena beberapa hari ini Sehun selalu pulang lebih awal.
"Hay Lu." Sehun terus mendekati Luhan dan mencium bibir yang hampir sebulan ini selalu dikecupnya secara rutin dan membuatnya semakin menggila karena Luhan terus-terusan membuatnya selalu ingin mengecupnya.
"Bagaimana harimu?" tanya Sehun yang kemudian mendapat tatapan menyindir dari Luhan.
"Umm…sangat baik. Orang sewaanmu sangat baik menjagaku, dia bahkan melarang anak kecil memberikan gulalinya padaku. Daebak." Ujarnya mengadu kesal pada Sehun membuat Sehun terkekeh.
"Itu demi kebaikanmu sepertinya."
" ..ya…terus saja membela penjagamu itu Sehun." Katanya sedikit kesal sambil membantu Sehun melepaskan dasi dan kemejanya.
"Nanti jika kau sudah sehat. Aku akan membiarkanmu melakukan apapun yang kau mau. Aku hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu Lu." Katanya menangkup wajah Luhan dan menjelaskannya perlahan.
Luhan kemudian tersenyum dan sedikit berjinjit mengecup bibir Sehun sekilas "Gomawo Sehunnie." Katanya merona dan tak berani menatap Sehun.
"Oh tidak…Jangan wajah itu." Gumam Sehun frustasi melihat istrinya yang begitu menggemaskan.
"Eh? Wajah apa?" tanya Luhan tak mengerti.
"Wajah yang tak bisa membuatku menahan hasratku pada istri cantikku Luhan."
Dan sambil menjawab Luhan, Sehun kini sudah menggendong tubuh Luhan menuju keranjang mereka, membuat Luhan tersipu malu karena tahu benar apa yang akan terjadi setelah ini.
"Kau tidak membersihkan badanmu terlebih dulu?" tanya Luhan saat Sehun meletakannya di ranjang dan sedikit menindih tubuhnya menatapnya dalam.
"Nanti saja…. Aku menginginkanmu saat ini juga." Balas Sehun dan kemudian mengecup lembut bibir Luhan, kecupan lembut yang kemudian menuntut berubah menjadi semakin panas dan membuat keduanya sama-sama merasakan kenikmatan untuk percintaan mereka yang kian memanas setiap malamnya.
..
..
..
Keesokan paginya, Sehun bangun terlebih dulu dan tak berniat membangunkan Luhan yang masih terlelap sangat cantik dalam tidurnya, dia kemudian mencibir dirinya melihat tubuh polos Luhan yang tampak lengket karena ulahnya.
Bagaimana tidak dia mencibir dirinya sendiri karena hampir setiap malam setelah dirinya kembali membuka hati untuk Luhan, tak pernah sekalipun Sehun melewatkan untuk menjamah dan menyatukan dirinya dengan Luhan. Terkadang Luhan mengeluh sakit kepala dan tak enak badan namun karena tak ingin mengecewakan Sehun, biasanya dia akan tetap melayani Sehun namun hanya satu kali percintaan dan setelahnya Sehun akan membiarkan dirinya beristirahat.
Sehun kemudian tersenyum dan mencium kening Luhan lalu menaikkan selimutnya, dia yang sudah menggunakan pakaian lengkap perlahan berdiri meninggalkan kamarnya untuk sarapan dan segera pergi kekantornya karena belakangan ini Sehun memang sangat disibukkan dengan proyek barunya.
"Apa Luhan masih tidur?"
Kyungsoo bertanya saat Sehun duduk di kursinya dan sedang memakan sarapannya
"Hmmm…Bangunkan dia jam 9, pastikan dia memakan sarapannya dan minum obatnya." Katanya memberitahu Kyungsoo yang kini sedang menuangkan secangkir teh untuk Sehun.
"Tenang saja. Aku memperhatikannya lebih baik darimu." Katanya memberitahu Sehun.
"Terimakasih." Balas Sehun tulus dan benar-benar bersyukur karena Kyungsoo sangat membantunya menjaga Luhan.
"Sehun.."
"Ada apa?" tanya Sehun menjawab Kyungsoo yang tampak ragu.
"Apa aku boleh mengajak Luhan makan siang diluar hari ini?"
"Tidak…" Sehun langsung menjawab tegas
"Aku bersama Kai, jadi kau tak perlu khawatir." Katanya menambahkan membuat Sehun semakin tak menyukai topik pembicaraan ini karena nama Kai disebut.
"Aku bilang tidak…"
"Sehun…Apa kau tak mengijinkan aku makan siang diluar dengan Kai dan Kyungsoo?"
Suara serak Luhan yang menandakan kalau ia baru saja bangun tidur menginterupsinya, Sehun kemudian mengumpat kecil karena Luhan mendengar percakapannya dengan Kyungsoo, dia kemudian menghampiri Luhan dan merengkuh pinggang ramping istrinya.
"Kenapa kau sudah bangun?" tanya Sehun mengecup kening Luhan sekilas dan membawanya duduk di kursi untuk sarapan bersama dengannya.
"Aku merasa lapar." Katanya mengelus perutnya berulang didepan Sehun.
"Baiklah makan yang banyak. Ini"
Sehun kemudian mengambilkan nasi goreng porsi banyak untuk Luhan, Luhan yang memang merasa sangat lapar memakannya dengan lahap sampai dia mengingat kalau Sehun melarangnya untuk pergi dengan Kai dan Kyungsoo nanti siang.
"Aku ingin makan siang diluar dengan Kai dan Kyungsoo. Bolehkan?" katanya memandang Sehun dengan harap.
Sehun yang tak mau tergoda dengan tatapan kelewat polos milik Luhan sengaja mengabaikan Luhan dan terus melahap sarapannya sendiri.
"Sehun..Bolehkan?"
Luhan kini bertanya sambil menyenggol lengan Sehun berulang kali "Tidak Lu…Kau bisa sakit." Katanya memberitahu Luhan.
"Hanya makan siang. Aku mohon."
Luhan sudah mulai merajuk mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk merayu membuat Sehun menghela nafasnya kasar karena dia memastikan kalau dirinya kalah.
"Baiklah….Tapi kau dalam pengawasan Shindong dan kau tak boleh mengeluh jika tiba-tiba Shindong menarik kau untuk pulang itu artinya aku yang menyuruhnya."
Luhan kemudian tersenyum senang mengerling Kyungsoo "Gomawo Sehunnie." Katanya mengecup pipi Sehun sekilas dan memulai sarapan paginya dengan senang.
Sehun mau tak mau menahan senyum simpulnya dan mengusak pelan rambut Luhan yang sedang memakan makanannya dengan lahap. "Aku pergi dulu. Sampai bertemu nanti malam." Katanya berdiri berpamitan pada Luhan.
Luhan menggeleng cepat dan mendongak menatap Sehun "Apa lagi sekarang?" tanya Sehun menebak kalau Luhan pasti punya permintaan aneh lagi.
"Apa aku boleh mengantar makan siang kekantormu hari ini?" tanyanya dengan mata merajuk andalannya.
Sehun mengangkat kedua alisnya tak mengerti "Bukankah kau akan makan siang bersama Kyungsoo?"
Luhan kembali mengangguk cepat "Setelahnya. Bolehkah?"
Sehun kemudian sedikit menundukkan kepalanya dan mengecup telak bibir Luhan "Berhenti meminta izin padaku. Lakukan apapun yang kau mau." Balasnya mengecup lama kening Luhan.
"Aku pergi… Kyungsoo jaga Luhan untukku." katanya berpesan pada Kyungsoo yang sedang menatap keduanya bahagia.
"Baik Sehun.." balasnya dan kemudian duduk disamping Luhan.
"Lihat wajahmu Lu…Kau benar-benar merah." Kyungsoo menusuk-nusuk pelan pipi Luhan membuat Luhan hanya bisa menundukkan wajahnya karena malu dengan godaan Kyungsoo.
"Ish sudahlah…Aku mau tidur lagi." Protesnya masih menghindari kontak mata dengan Kyungsoo yang terus tertawa menggodanya.
..
..
..
"Lihatlah siapa yang datang… Permaisuri dengan tuan putrinya hmmmm."
Kai menggoda Kyungsoo dan Luhan yang baru saja memasuki kafe tempat mereka membuat janji.
"Kai!" seru Luhan bersemangat dan memeluk Kai sekilas.
"Astaga…sudah hampir sebulan aku tak melihatmu." Protes Luhan membuat Kai terkekeh sementara Kyungsoo hanya tersenyum melihat keduanya.
"Aku sibuk Lu…pekerjaanku perlahan membunuhku. Bayangkan saja bulan depan aku harus kembali lagi ke Jepang." Gerutunya memberitahu Luhan.
Kai memang sedang sibuk dengan urusan pekerjaannya, semalam dia baru saja kembali dari proyek kerjasamanya dengan klien di Jepang selama hampir sebulan penuh, dan hari ini dia hanya akan menetap di Seoul selama sebulan karena bulan depan dia harus kembali lagi untuk ke Jepang.
"Kau harus sudah mempunyai pasangan sebelum kembali ke Jepang Kai." Ujar Luhan menggoda Kai yang hanya tertawa melihatnya.
"Eh? Shindong Hyung? Kenapa kau disini?" Kai menyadari pria yang sedari tadi mengikuti Luhan dan Kyungsoo adalah Shindong hyung.
"Selamat siang tuan muda." Sapa Shindong memmbungkukan badannya menyapa Kai
"Kau mengenalnya Kai?" tanya Luhan bingung.
"Tentu saja! Shindong hyung adalah penjaga pribadiku dan Sehun. Ayah kami berdua selalu meminta Shindong Hyung untuk mengawasi kami agar tak berkelahi." Kekeh Kai mengingat masa-masa dulu dirinya dan Sehun waktu kecil begitu dekat.
"Sedang apa disini hyung?" Kai kembali bertanya pada Shindong.
"Saya sedang menjadi pengawal pribadi istri dari Tuan Sehun, tuan muda." Katanya memberitahu Kai yang tampak sedikit terkejut menatap Luhan.
"Bukan aku yang minta, Sehun yang memaksa." Balas Luhan saat tatapan Kai berubah menjadi menggodanya.
"Kau telihat sangat bahagia Lu." Balas Kai mengusak sayang rambut Luhan.
"Hmmm… Aku sangat bahagia karena Kyungsoo, kau dan Sehun." Ujarnya mantap memberitahu Kai tentang perubahan Sehun.
"Apa dia benar-benar berubah lebih baik?" tanya Kai masih menghkhawatirkan Luhan."
"Sangat Kai…Iya kan Kyung?" Luhan meminta bantuan Kyungsoo untuk meyakinkan Kai.
"Kau tak perlu khawatir tentang sikap Sehun lagi Kai. Sehun sangat berubah, dia bahkan rutin menemani Luhan untuk check up dan persiapan operasinya."
"Kapan jadwal operasimu?"
"Dua bulan lagi…" balas Luhan dengan tak berminat.
"Kau pasti sembuh Lu." Katanya menggenggam Luhan untuk menguatkan pria yang pernah ia cintai ini.
"Gomawo Kai." Balas Luhan tersenyum.
"Tuan muda saya pamit menunggu diluar." Shindong membungkuk untuk memberitahu Luhan.
"Oke hyung…setelah ini antar aku ke kantor Sehun ya?" pinta Luhan bersemangat.
"Baik tuan muda." Balas Shindong dan tak lama keluar dari kafe tempat Luhan berada.
"Oia…Kau bilang ingin membicarakan sesuatu denganku. Apa itu?" tanya Luhan bersemangat.
Kai sedikit salah tingkah karena Luhan begitu berisik dan bersemangat. "Kau ini!" katanya terkekeh menegur Luhan.
"Umhhh…Kyungsoo apa bisa kau memesan cupcake di toko sebrang?" tanya Kai tak enak hati pada Kyungsoo.
"Tentu saja." Balas Kyungsoo yang tahu benar kalau Kai hanya ingin bicara berdua dengan Luhan.
"Aku pergi sebentar Lu."
Belum sempat Luhan protes Kyungsoo sudah bangun dari kursinya dan berlari keluar kafe dengan terburu-buru.
"Lihat Kai…Kenapa kau menyuruhnya pergi? Dia pasti salah paham." Protes Luhan menyalahkan Kai.
"Ini semua gara-gara kau! Kenapa kau bilang aku ingin bicara sesuatu denganmu." Balas Kai tak kalah memprotes Luhan.
"Ini…Apa ini bagus?" tanya Kai yang tiba-tiba mengeluarkan kotak kecil yang berisi cincin yang sangat indah.
"Whoaa Kai…kau beli ini dimana? Sangat cantik." Balas Luhan berbinar melihat cincin yang dibawa Kai.
"Apa ini untukku?" tanya Luhan berharap dan mencoba cincin yang dibawa Kai ke jari manisnya "Lihat Kai…cocok." Cengir Luhan memperlihatkan jari manisnya.
"Ishh rusa ini…cepat lepas! Ini untuk Kyungsoo."
Kai segera memegang jari Luhan dan melepas paksa cincin yang sudah bertengger manis di jari Luhan tersebut.
"Dasar pelit!" cibir Luhan.
"Eh…?! Untuk Kyungsoo?" tanya Luhan yang baru menyadari ucapan Kai beberapa menit yang lalu.
"Ya ini untuk Kyung…" Kai tiba-tiba berhenti bicara, menyadari kalau dirinya sudah terlalu banyak bicara.
"Kai…." Luhan menaik turunkan alisnya menggoda dan meminta Kai untuk menjelaskan padanya.
Kai kemudia mendesah perlahan dan sedikit menurunkan volume suaranya.
"Aku berencana untuk melamar dan menikahi Kyungsoo sebelum aku berangkat ke Jepang Lu." Bisiknya membuat Luhan membelalak sangat bahagia.
"ASTAGA KAI…AKHIRNYAAAA" pekik Luhan yang langsung menghambur ke pelukan Kai.
"Akhirnya kau akan membahagiakan Kyungieku…gomawo Kai." Luhan kini terisak bahagia di pelukan Kai yang hanya bisa tersenyum mengetahui kalau pria yang pernah ia cintai ini merestui rencananya.
"Apa kau bahagia?" tanya Kai berbisik di telinga Luhan.
"Sangat Kai…terimakasih."
"Aku yang harusnya berterimakasih padamu Lu, jika bukan karena kau…aku tak akan pernah mengetahui kalau Kyungsoo begitu tulus mencintaiku." Lirihnya mengelus punggung Luhan yang berada di pelukannya.
Luhan menggeleng di pelukan Kai "Kau harus membahagiakan Kyungieku Kai." Lirih Luhan masih terisak bahagia.
"Aku akan membahagiakannya Lu. Aku janji." Balas Kai mengeratkan pelukannya pada Luhan, Luhan hanya membalas pelukan Kai dan masih menyalurkan rasa bahagianya karena keputusan Kai yang ingin melamar dan menikahi Kyungsoo.
Berbeda dengan Luhan dan Kai yang sedang membagi rasa bahagia mereka karena keputusan Kai, dua pasang mata yang melihat adegan pelukan yang begitu hangat yang dilakukan Kai dan Luhan menanggapinya secara berbeda. Mereka hanya melihat Kai dan Luhan berpelukan tanpa tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Kyungsoo yang sedang dalam perjalanan kembali dari kafe sebrang berhenti di langkahnya dan hanya tersenyum miris melihat pria yang sangat ia cintai sedang memeluk Luhan dengan sayang, pegangannya pada cupcake yang ia beli terlepas, entah kenapa hatinya sangat sakit mendapati kenyataan Kai yang belum sama sekali bisa melupakan Luhan bahkan saat status mereka saat ini adalah sepasang kekasih.
Sementara tatapan tajam diarahkan oleh seseorang yang sedang berada didalam mobil. Ya..awalnya Sehun berniat untuk ikut makan siang bersama Luhan, Kyungsoo dan Kai, namun karena pemandangan yang begitu membuat hati dan matanya sakit, Sehun hanya bisa mengepalkan erat tangannya karena Luhan dan Kai yang sedang berbagi rasa hangat didepan umum.
"Direktur, apa anda ingin turun?' tanya supir pribadi Sehun.
Sehun hanya diam tak menjawab, sampai kemudian dia menyeringai menahan amarahnya sambil mengepalkan erat kedua tangannya. "Jalan…Kita pergi!" ujarnya kembali memakai kaca mata hitam miliknya dan segera pergi dengan rasa kesal dan tak terima melihat istrinya berada di pelukan sepupunya.
..
..
..
Setelah selesai makan siang dengan Kai dan Kyungsoo, Luhan segera berpamitan pada keduanya dan segera menuju kekantor Sehun untuk menceritakan tentang rencana Kai yang akan menikahi Kyungsoo kurang dari sebulan lagi. Dia juga sengaja ingin membiarkan keduanya memiliki waktu berdua lebih lama dan memutuskan untuk tidak mengganggu Kai dan Kyungsoo dengan Sehun sebagai alasannya.
Luhan hanya bisa tersenyum senang membayangkan akan seperti apa reaksi Kyungsoo saat Kai melamarnya sabtu malam nanti, Luhan tersenyum sambil menahan rasa sakit di kepalanya yang mulai terasa nyeri, untuk mengalihkannya pun dia menggenggam erat makanan yang ia bawa untuk Sehun sambil memperhatikan jalan dan sangat bersemangat untuk bertemu dengan suaminya.
"Tuan muda kau terlihat pucat. Apa kau baik-baik saja?" tanya Shindong yang melihat Luhan dari kaca spion
Luhan sedikit menoleh kemudian menatap Shindong dengan wajah cemberutnya "Luhan..Kau harusnya memanggilku Luhan." Protesnya membuat Shindong sedikit terkekeh.
"Ah ya benar…Luhan.. Apa kau baik-baik saja?" tanya Shindong mengoreksi ucapannya.
"Aku sedikit pusing."
"Apa anda ingin istirahat dan pulang kerumah?" tanya Shindong sedikit menoleh melihat Luhan.
"Tidak perlu hyung… Setelah bertemu Sehun kita pulang."
"Apa benar taka pa?" tanya Shindong lagi.
"Benar hyung. Kau fokus menyetir saja." Balas Luhan memberitahu Shindong.
"Baiklah tua-… Luhan."
Dan setelahnya Shindong sedikit menaikkan kecepatan mobilnya agar cepat sampai di kantor Sehun dan dapat segera membawa istri bosnya untuk pulang istirahat.
..
..
..
Tak lama kemudian Luhan sampai di kantor Sehun, dia bergegas menaiki lift khusus anggota direksi karena semua karyawan yang mengenalnya mulai bersikap berlebihan saat melihatnya, Luhan akan disapa dari pintu masuk sampai ke lantai 25, tempat kantor Sehun berada. Dan karena pengumuman Sehun beberapa waktu lalu, semua orang bersikap terlalu baik pada Luhan membuatnya terkadang risih dan bingung bagaimana untuk menanggapi karyawan suaminya ini.
Ting!
Lift yang ia naiki sampai di lantai tempat Sehun berada, dengan cepat pun Luhan melangkahkan kakinya menuju ruangan suaminya agar tak banyak orang yang bertanya padanya dan mendekatinya hanya untuk meminta hal-hal seperti promosi jabatan dan memberitahukannya pada Sehun.
Cklek!
"Sehunnie..aku datang."
Sehun yang sedang menandatangani beberapa dokumen penting sedikit menoleh dan bertanya-tanya kenapa Luhan terengah, namun mengingat kejadian dia dan Kai siang ini, moodnya untuk bertanya pada istrinya hilang dan memilih untuk menanggapi Luhan.
Sedangkan Luhan masih mengatur nafasnya, dia kemudian memaklumi Sehun yang masih sibuk dengan perkerjaannya disbanding bertanya apa yang terjadi pada dirinya. Setelah cukup tenang, Luhan kemudian mendekati Sehun sambil membawa makanan favorit suaminya itu.
"Sehun…Makanlah dulu, aku membawakan makanan kesukaanmu." Ujar Luhan yang mulai membuka bingkisan makan siang Sehun, dia sedikit mengernyit bingung karena Sehun tak menjawabnya.
"Sehun…Aku punya kabar bagus untuk-.."
"Dengan siapa kau makan siang?"
Sehun tiba-tiba bertanya memotong ucapan Luhan yang tampak bingung
"Dengan Kyungie dan Kai.. aku kan sudah memberitahumu." Ujar Luhan yang merasa Sehun sedang menatapnya tak suka.
"Ck…Aku melihatmu hanya berdua dengan Kai di restaurant." Sehun kemudian sedikit menaikkan suaranya, membuat Luhan sedikit takut.
"Tidak hanya dengan Kai..Aku juga bersama Kyung.."
"Aku bahkan melihat kau dan Kai berpelukan." Desisnya yang kini membuat Luhan yakin kalau Sehun sedang marah dan tak menyukai melihatnya dan Kai terlalu dekat.
"Sehun…Kai memelukku karena dia mempunyai kabar yang sangat meng…"
BRAK!
Sehun dengat tiba-tiba memukul kencang mejanya membuat Luhan sedikit mundur ke belakang karena terkejut "Se-sehun." Lirih Luhan yang tahu benar kalau suaminya sedang marah padanya.
"Sial…" gumam Sehun memijat kepalanya kasar, dia kemudian menatap Luhan dengan tatapan tajam.
"Pulanglah…Aku tidak lapar." Desisnya memberitahu Luhan.
"Sehun…Ayo kita makan bersama." Pinta Luhan terdengar ketakutan.
"Pulang sekarang." Katanya dengan nada suara tak ingin dibantah.
Hal itu membuat Luhan mati-matian menahan air matanya agar tak jatuh, dia tak mau hanya karena Sehun membentaknya dia menangis dan terlihat cengeng didepan Sehun, karena jika hal itu terjadi, Sehun akan semakin membencinya dan tak suka padanya.
"Baik Sehun…Aku pergi."
Dan setelahnya Luhan berlari meninggalkan ruangan Sehun dengan menunduk karena sangat malu mengira bisa makan siang bersama dengan Sehun di kantornya dan pulang bersama dengan suaminya.
"Ah Luhan…Kau sudah sele-.."
Shindong yang memang menunggu Luhan didepan ruangan Sehun, bertanya pada Luhan namun sedikit mengernyit bingung saat mendengar suara Sehun yang terdengar marah dan Luhan yang tiba-tiba berlari ke ruangannya. Dia langsung mengejar Luhan namun sepertinya Luhan berlari sangat cepat sehingga dirinya kehilangan Luhan dan tak tahu harus mencari Luhan kemana.
Cklek!
"Direktur.."
Sehun menoleh dan mengernyit mendapati Shindong berada dihadapannya, dia mengira Luhan sudah pergi dua puluh menit yang lalu.
"Kenapa kau disini?" tanyanya tak menatap Shindong.
"Aku kehilangan Luhan." Katanya memberitahu Sehun
Sehun menoleh dan menatap marah pada Shindong "Bagaimana bisa?" katanya sedikit membentak Shindong.
"Dia berlari sangat cepat saat meninggalkan ruangan anda direktur." Balas Shindong dengan nada menyalahkan Sehun.
Sehun berdiri dari kursinya dan segera mencengkram erat kerah Shindong "Aku memintamu untuk mengawasi Luhan bukan kehilangan Luhan." Desisnya sangat marah dan terdengar khawatir.
"Anda yang membuatnya pergi bukan saya." Kilah Shindong yang juga menatap tajam ke arah Sehun.
BUGH!
Habis sudah kesabaran dia memang marah karena melihat Luhan berpelukan dengan Kai,namun bukan berarti dia menginginkan Luhan berkeliaran sendirian di luar dengan kondisi kesehatannya yang sedang tidak baik. dan untuk melampiaskan kekesalannya dia kemudian menyalahkan Shindong dan memukul telak pria yang dikenalnya sejak kecil tersebut.
"Kenapa anda memukulku? Merasa bersalah, huh?" katanya mengejek Sehun membuat Sehun semakin memanas.
"Apa kau tahu kalau istrimu sedang menahan sakit sepanjang perjalanan menuju kantormu? Dia tetap bersikeras untuk menemuimu dan berharap bisa makan siang bersama denganmu!"
Shindong berdiri dan masih menyalahkan Sehun karena tak pernah benar-benar memperlakukan Luhan dengan baik.
Sehun sedikit terdiam dan mulai mendengarkan Shindong dengan sedikit lemas
"Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran anda tuan muda. Tapi jika terjadi sesuatu pada Luhan, aku adalah orang pertama yang akan masuk ke ruangan ini dan menghajar telak wajah anda." Katanya menatap Sehun yang wajahnya mulai mengeras.
"Dan jika benar anda marah karena melihat tuan muda Kai dan Luhan berpelukan, itu berarti anda salah paham." Katanya memberitahu Sehun.
"Apa maksudmu?' tanya Sehun sedikit cepat dan menantang
"Bukankah wajar saat seorang teman memberikan pelukan sebagai ucapan selamat karena temannya akan menikah?" balas Shindong bertanya menatap Sehun tanpa takut.
Sehun menaikkan kedua alisnya seolah mencari jawaban dari ucapan Shindong
"Luhan memeluk tuan muda Kai karena dia sedang memberikan selamat pada tuan muda Kai yang memutuskan untuk menikah dalam waktu dekat…..Ya, tuan muda Kai memutuskan untuk menikahi Kyungsoo"
"Apa?' Sehun sedikit tak mempercayai pendengarannya, dia langsung menyumpahi dirinya sendiri karena kembali membentak Luhan dan membuatnya takut padanya.
"Saya berani bertaruh kalau anda akan kehilangan Luhan jika anda terus bersikap kasar padanya tuan muda."
"Sial!" geram Sehun yang kemudian dengan cepat meraih kunci mobilnya dan berlari mendului Shindong untuk segera membawa Luhan pulang kerumah mereka.
Sehun sebenarnya masih sangat kesal dan marah. Tapi dia bingung kesal pada Shindong atau dirinya sendiri, dia ingin sekali menghajar mulut kurang ajar Shindong yang sedari tadi menghinanya, namun dia sadar kalau semua yang dikatakan Shindong tentang sikapnya pada Luhan adalah benar ditambah dengan bayangan dia bisa kapan saja kehilangan Luhan semakin membuatnya menyesal terus bersikap kasar pada Luhan meninggalkan Shindong yang tersenyum menang karena berhasil membuat Sehun mencari Luhan dan segera membawa istrinya pulang kerumahnya.
..
..
..
Sehun terus mencari Luhan ke beberapa tempat yang mungkin dan bisa Luhan datangi, namun dia harus berkali-kali mendesah kesal karena Luhan tak berada di tempat yang harusnya ia datangi, Luhan tidak mengangkat ponselnya dia bahkan tak berada di panti asuhan tempat dirinya biasa menghibur diri
"Kau dimana?" gumam Sehun memukul stir mobilnya dengan frustasi
Drrtt…drrtt…
Sehun sedikit mengernyit namun kemudian membelalak saat nama Luhan terpampang di layar ponselnya.
"Lu, kau dimana?"
Sehun segera mengangkat ponselnya dan bertanya pada Luhan.
"Apa benar ini suami Luhan?"
Sehun mengernyit saat menyadari bukan Luhan yang sedang berbicara padanya.
"Siapa ini? Dimana Luhan?" tanya Sehun setengah berteriak.
"Ah berarti benar anda suami Luhan. saya pemilik kafe kecil yang berada di…"
Sehun langsung menjalankan mobilnya saat si pemilik kafe yang ia ketahui paman yang menjual bubble tea didekat sekolah mereka dulu yang menelponnya, dan tanpa berlama-lama Sehun menjalankan mobilnya dengan cepat untuk menjemput istrinya.
Tring~
Suara lonceng pintu berbunyi saat seseorang membuka agak terburu pintu sebuah kafe kecil yang terlihat sangat cantik walau berada di lorong jalan yang sepi.
Mata Sehun terus mengedar untuk mendapatkan keberadaan istrinya yang sampai sekarang belum terlihat di matanya.
"Apa anda Sehun?"
Seorang pria paruh baya yang Sehun tebak seumuran dengan mendiang ayahnya menyapa Sehun dengan lembut. "Ya…Dimana Luhan?" tanyanya tanpa berbasa-basi.
"Dia ada di ruang tengah….tertidur."
Sehun bersyukur lega namun tak lama kedua alisnya mengangkat "Tidur?" katanya membenarkan pendengarannya.
"Ya…Istri anda tertidur setelah memesan bubble tea ke sepuluhnya. Dia bilang dia terlalu kembung dan tak bisa berjalan. Dia memintaku untuk menghubungi nomor anda dan terus bergumam maafkan aku Sehunnie..jangan marah-…seperti itu kira-kira ucapannya."
Si pemilik kafe menjelaskan pada Sehun seraya mencontohkan suara Luhan sambil membawa Sehun ke tempat Luhan berada.
Sehun sedikit terenyuh melihat Luhan yang tertidur di atas meja dengan kedua tangan sebagai tumpuannya dan sepuluh cup bubble tea mengelilinginya
"Apa dia memesan makanan?' tanya Sehun dengan suara yang dipelankan.
Si pemilik kafe menggeleng "Hanya minuman." Katanya memberitahu.
Sehun kemudian mengelus lembut wajah Luhan yang tampak terlelap "Kalau begitu saya akan meninggalkan anda dengan istri anda. Saya permisi." Si pemilik kafe pun meninggalkan ruang tengah dan membiarkan Sehun berdua dengan istrinya.
Sehun tak langsung membangunkan Luhan dan mengajaknya pulang, dia menarik kursi disamping Luhan dan membenarkan poni Luhan yang menutupi wajahnya, dia kemudian menatap Luhan sambil mengelus pelan dahi Luhan yang berkerut. "Maafkan aku sayang….Maaf." lirihnya menyesal masih menatap Luhan dan membuat gerakan lembut di kening Luhan.
Merasa ada sesuatu yang mengusap lembut dahinya pun, membuat Luhan mau tak mau membuka matanya perlahan, awalnya dia hanya membuka matanya saat mendapati Sehun yang juga membaringkan kepalanya di meja dan sedang menatapnya lembut, namun saat Sehun tersenyum padanya Luhan mulai mengedipkan matanya berulang.
"Sehun?" tanyanya masih membaringkan kepalanya dimeja dan menoleh ke samping.
"Apa aku membangunkanmu?" tanya Sehun yang terdengar lembut dan seperti tak marah lagi pada Luhan.
"Apa kau sudah tak marah lagi?" tanya Luhan memberanikan diri.
Sehun menggeleng dan menatapnya sangat menyesal "Maafkan aku Lu…Aku terlalu sibuk cemburu sampai harus menyakitimu terus..maaf." lirih Sehun kembali mengusap dahi Luhan.
"Cemburu?"
"Hmm…Aku cemburu melihat rusaku dipeluk oleh si hitam itu. Aku tidak suka."
"Jadi kau marah karena kau cemburu?" tanya Luhan yang entah kenapa terdengar senang.
"Iya..dan kenapa kau tersenyum?" gemas Sehun mencubit pipi Luhan.
"Kyungsoo bilang jika seorang sepasang kekasih atau suami istri mempunyai rasa cemburu pada pasangan masing-masing, itu artinya dia mencintai pasangannya." Balas Luhan penuh semangat membuat Sehun mau tak mau tersenyum.
"Kyungsoo benar…Aku mencintaimu. Maaf terus menyakitimu, aku menye.."
BRAK!
Sehun sedikit membelalak saat Luhan dengan tiba-tiba menghambur ke arahnya dan memeluknya erat membuat keduanya terjatuh dari kursi mereka masing-masing
"Aku juga mencintaimu.."
Dan dari semua ucapan Sehun, hanya pernyatann cinta Sehun yang diingat baik oleh Luhan, seolah itu adalah kalimat berharga yang tak akan sering dia dengar oleh karena itu Luhan benar-benar tiddak ingin menyia-nyiakan pernyataan Sehun yang begitu menyenangkan untuknya.
Sehun juga menyadari hal itu, dia tahu Luhan selalu mempunyai rasa cinta yang begitu besar untuknya, hampir tak pernah marah apalagi benci pada dirinya, hal itu semakin membuat Sehun merasa bersalah pada sosok malaikatnya yang begitu baik padanya, dia hanya membiarkan Luhan terus menggumamkan balasan pernyataan cintanya dengan terus mengusap lembut punggung Luhan yang kini berada di pangkuannya.
"Gomawo Lu." Lirihnya memeluk erat tubuh istrinya yang begitu hangat dan terasa pas dalam pelukannya.
Setelah beberapa menit dalam posisi terduduk dilantai dengan Luhan berada di pangkuan Sehun, akhirnya Sehun melepas pelukannya dan menatap wajah istrinya "Mau sampai kapan kita duduk disini tuan putri?" kekehnya menggoda Luhan yang merona.
"Aku suka saat duduk di pangkuanmu, wajahmu terlihat sangat tampan dan sangat jelas untukku." katanya mengusap wajah Sehun secara berulang.
"Kau bisa melakukannya kapanpun kau mau."
Luhan kemudian terlihat sangat bahagia mendengar ucapan Sehun "Benarkah?"
"Iya sayang…sekarang kita pulang karena kau belum makan dan minum obatmu." Ujarnya yang sedikit susah untuk berdiri merasakan keram di kakinya karena Luhan duduk terlalu lama di pahanya dan kini harus berdiri dengan membawa Luhan di gendongannya.
"Sehun turunkan aku…"
"Kau minta diturunkan tapi malah mengeratkan pelukanmu di leherku.. such a princess." Kekeh Sehun yang mulai membenarkan posisi gendongannya untuk Luhan dan berjalan keluar kafe untuk membawa istrinya pulang.
Luhan hanya diam tersenyum senang sambil menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Sehun.
"Sehun…"
"Ada apa?" tanya Sehun masih berjalan ke pintu keluar
"Aku belum bayar bubble tea ku. Aku tidak bawa uang." Katanya malu-malu bergumam di telinga Luhan.
"Dompetmu dimana?" tanya Sehun yang merasa istrinya sangat ceroboh.
"Ada di mobil Shindong hyung."
"Berapa kali aku bilang kalau kau harus selalu membawa dompet dan ponselmu, kau akan dalam kesulitan jika tidak membawa keduanya sayang, beruntung kau membawa ponselmu." Balas Sehun panjang lebar membuat Luhan melihat ke arahnya.
"Aku juga tidak membawa ponselku. Semuanya tertinggal di mobil Shindong hyung," Katanya memberitahu Sehun yang tampak bingung sekarang.
"Bagaimana bisa? Paman itu menghubungiku dari ponse…"
"Ah…sekarang aku tahu siapa yang melakukannya." Gumam Sehun yang matanya kini tertuju ke arah Shindong yang sedang membungkuk menyapanya, terlihat jika penjaga istrinya ini sedang membayar minuman yang Luhan minum.
Merasa bingung dengan ucapan Sehun, Luhan ikut menoleh dan tersenyum senang melihat Shindong "Hyung!" ujarnya berjingkak di gendongan Sehun.
"Hay Luhan.." sapa Shindong membungkuk sopan pada Luhan.
"Apa kau yang melakukannya?" suara Sehun menginterupsi menuduh Shindong.
"Ya direktur. Maafkan kelancanganku." Katanya membungkuk meminta maaf.
"Sehunnie ada apa?" tanya Luhan tak mengerti namun Sehun mengabaikannya.
"Jadi dari awal kau sudah tahu Luhan berada disini?" katanya kembali bertanya.
"Saya tidak pernah kehilangan Luhan drektur. Luhan bilang dia haus dan meminta untuk dibawa kesini, lalu dia membuat janji dengan saya untuk tidak pergi kemana-mana sebelum saya datang karena saya mengatakan padanya bahwa anda juga akan datang kesini, setelah memastikan Luhan mendengarkan, saya langsung menuju kantor anda dan…"
"Dan memulai aktingmu yang luar biasa." Sindir Sehun membuat Shindong kembali membungkukan badan meminta maaf.
"Maafkan saya direktur. Mari kita pulang, mobil anda sudah dibawa penjaga yang lain. Saya sendiri yang akan membawa anda dan istri anda sampai dirumah." Katanya memberitahu Sehun yang menatapnya tak percaya.
"Ckkckck..berani sekali kau! Kita bicara nanti, sekarang istriku harus beristirahat." Katanya memberitahu Shindong dengan nada suara yang kembali menyindir.
"Baik direktur" balas Shindong kembali membungkuk.
Dan setelahnya Sehun berjalan mendului Shindong menuju ke mobil yang biasa Luhan gunakan. "Sehunnie aku tidak suka kau bicara kasar pada Shindong hyung." Luhan memarahi Sehun tapi tak berani menatap mata suaminya.
"Dia harus dimarahi." Balas Sehun yang merasa dipermainkan oleh penjaganya sendiri
"Kalau Shindong hyung tidak mengejarku tadi siang, aku sudah hampir diganggu oleh pria-pria tua yang menyeramkan Sehun." Protes Luhan membuat Sehun sedikit membelalak
"Kau tidak apa kan? Tidak ada yang mengganggumu kan?" tanya Sehun memastikan keadaan Luhan.
Luhan menggeleng dan mengerling Shindong yang sedang berjalan mengikuti mereka dibelakang "Berkat Shindong hyung." Katanya mempromosikan Shindong.
"Kau harus memaafkannya." Luhan kembali merajuk di gendongan Sehun.
"Akan aku pikirkan nanti." Balas Sehun memasuki mobilnya setelah Shindong membukakan pintu untuknya dan Luhan.
Luhan sedikit marah karena Sehun terus mendelik ke arah Shindong, menyadari hal itu pun membuat Sehun menarik paksa Luhan agar bersender di pelukannya "Istirahatlah." Katanya memaksa Luhan "Aku tidak lelah." Katanya memberitahu Sehun agak dingin.
"Luhan.." Sehun mulai memperingatkan Luhan dengan nada khasnya.
"Baiklah..Baiklah…Aku tidur." Katanya berpura-pura memejamkan matanya agar Sehun tak memarahinya membuat Sehun hanya terkekeh melihatnya.
Saat sedang memandangi Luhan, tak sengaja mata Sehun bertatapan dengan Shindong yang sedang tersenyu memperhatikan keduanya dari kaca spion miliknya, merasa dilihat oleh direkturnya, Shindong kembali fokus menyetir dan berpura-pura tak melihat.
"Hyung.." panggil Sehun tiba-tiba
"Eh..?" Shindong sedikit tak biasa dengan panggilan hyung dari Sehun pun hanya bisa memastikan tak yakin, membuat Luhan juga membuka kedua matanya mendengarkan suaminya.
"Shindong hyung.." katanya kembali memanggil Shindong.
"Ya direktur." Balas Shindong menoleh sekilas.
"Gomawo…" katanya membuat Shindong kembali menoleh sekilas.
"Untuk apa direktur?" tanya Shindong tak mengerti.
"Terimakasih karena tak pernah membiarkan istriku sendirian selama aku tak bisa menjaganya." Katanya terdengar sangat tulus oleh Shindong dan Luhan
"Tidak perlu berterimakasih tuan muda, itu tugasku." Gumam Shindong membalas dengan senyum.
Sementara Luhan juga tersenyum senang dan mulai melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sehun dan bersandar nyaman dipelukan suaminya "Apa kau benar-benar akan tidur sekarang?" tanya Sehun menggoda istrinya.
"Aku sudah tidur sedari tadi." Gumam Luhan dan mulai benar-benar tertidur karena sedari tadi memang dirinya merasa sakit kepalanya semakin terasa.
"Aku mencintaimu."
Dan kalimat yang Luhan dengar sebelum benar-benar tertidur adalah pernyataan cinta Sehun yang selalu berhasil membuatnya sangat senang dan terasa hangat dihatinya.
..
..
..
Keesokan malamnya Luhan terlihat sangat sibuk karena mempersiapkan pakaian yang cocok yang harus dipakai Kyungsoo malam ini untuk acara makan malm spesial yang direncanakan Kai untuknya, dan setelah hampir seharian sibuk mencari pakaian yang cocok, Luhan pun kembali berlari menuju kamar Kyungsoo
"Urgh..." Luhan sedikit meringis saat dirinya menabrak kencang seseorang yang baru saja masuk kekamarnya.
"Lu astaga... berhenti berlari seperti itu, bahaya sayang." Protes Sehun yang ikut mengusap hidung Luhan yang tampak memerah.
"Aku ingin Kyungie terlihat...Astagaa Sehunnie... kau tampan sekali." Pekik Luhan saat melihat suaminya yang begitu tampan dengan balutan kemeja dan jas yang khusus ia pilihkan untuk Sehun sore ini.
"Kenapa berteriak seperti itu." Kekeh Sehun mencium gemas bibir mungil istrinya.
"Kau juga sangat cantik sayang. Cepat bersiap kita sudah terlambat." Tambahnya mengingatkan Luhan yang masih memandang Sehun dengan takjub.
"Omo! Kyungie..."
Dan Luhan pun kembali berlari menuruni tangga untuk segera masuk kekamar Kyungsoo, membuat Sehun kembali terkekeh karena dibanding Kyungsoo, Luhanlah yang terlihat paling bersemangat untuk acara lamaran Kai malam ini.
BRAK!
"Kyungie...!"
"Astaga Lu, itu apa lagi?" Kyungsoo menatap horor melihat tangan Luhan yang kembali membawa beberapa pakaian untuknya.
"Lepas baju itu... yang ini lebih cocok." Kata Luhan menghampiri Kyungsoo dan mulai melucuti pakaian Kyungsoo yang sudah terlihat rapi.
"Tapi itu kan kemeja yang pertama Lu." kekeh Kyungsoo mengingatkan Luhan yang masih sibuk mendandaninya.
"Nah ini terlihat lebih bagus. Ayo kita pergi Sehun sudah menunggu." Katanya memberitahu Kyungsoo yang memandangnya bingung.
"Sehun juga ikut?" Katanya bertanya pada Luhan.
"Umhh tentu saja! Ini kan hari per.."
"Sudahlah Kyung kita berangkat saja, aku sudah lapar." Protes Luhan yang hampir kelepasan memberitahu Kyungsoo kalau malam ini Kai akan melamarnya.
"Lu, kita hanya makan malam tapi kenapa harus seformal ini?"
"Ini akan jadi makan malam spesial untukmu kyungie sayang." Balas Luhan merangkul lengan Kyungsoo yang semakin bingung dengan ucapan Luhan.
"Kalian sudah siap?" Tanya Sehun yang sudah menunggu di depan mobil mereka.
"Bahkan kau berpakaian sangat rapi Sehunna, sebenarnya kita akan makan malam atau menghadiri pernikahan." Kekeh Kyungsoo yang hanya dibalas senyuman penuh arti oleh Sehun dan Luhan.
"Aku bertaruh kau akan menyukainya." Balas Sehun yang kemudian membukakan pintu mobil untuk Kyungsoo dan Luhan.
Sehun pun ikut masuk kedalam mobil dan segera menjalankan mobilnya ke tempat Kai berada.
"Lu, ini kan rumahku. Kenapa kita disini?" Kyungsoo bertanya bingung saat mobil Sehun parkir didepan rumahnya.
"Kita akan makan malam disini." Balas Luhan yang segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Kyungsoo.
"Disini? Luhan...sebenarnya ada a.."
"Kenapa kalian lama sekali? Semua sudah menunggu didalam."
Suara pria tampan yang juga menggunakan pakaian formal menginterupsi membuat Luhan dan Kyungsoo menoleh.
"Kai?" Kyungsoo membelalak mendapati Kai ada didepannya.
"Hay Kyungie... kau terlihat cantik." Pujinya berjalan menghampiri Luhan dan Kyungsoo
"Kau harus berterima kasih pada istriku kalau begitu." Ujar Sehun yang juga keluar dari mobilnya.
"Kau datang?" Nada suara Kai terdengar menyindir
"Aku disini karena istriku, bukan karena kau." Balas Sehun tak peduli dan membawa Luhan masuk kedalam rumah Kyungsoo yang terlihat ramai, meninggalkan Kai dan Kyungsoo berdua di luar.
"Cih... tidak berubah sama sekali." Desis Kai melihat Sehun berjalan memasuki rumah Kyungsoo dengan merangkul posesif pinggang Luhan.
"Kai sebenarnya ada apa? Kenapa kau ada disini dan siapa yang menunggu kita?"
Kai yang sedang menggerutu tentang sikap Sehun, melihat ke arah Kyungsoo dan menggenggam erat tangan Kyungsoo.
"Kau akan tahu. Ayo kita masuk." Katanya berjalan menggenggam Kyungsoo membuat Kyungsoo berdebar tak karuan karena Kai menggenggamnya erat.
Cklek!
Kai membuka pintu rumah Kyungsoo dan
"Ini dia calon pengantin kita..."
Luhan berteriak membuat semua orang yang Kyungsoo ketahui adalah keluarga Kai dan kedua orangtuanya tertawa melihat tingkah Luhan.
Genggaman Kyungsoo ditangan Kai menguat karena tak mengerti apa dengan apa yang Luhan bicarakan.
Kai yang mengerti pun hanya Kyungsoo dan menangkup wajah calon pengantinnya.
"Kyungie... aku, orang tuaku, orang tuamu, Luhan dan bahkan si idiot Sehun-... kami semua berada disini karena aku ingin melamarmu sayang. Aku ingin menjadikan dirimu milikku seutuhnya. Jadi, maukah kau menemaniku dan menjadi pendampingku? Maukah kau menikah denganku Do Kyungsoo?"
Suara Kai yang begitu gugup namun terdengar sangat yakin itu pun memenuhi rumah Kyungsoo yang walaupun kecil tapi terasa hangat. Keduanya saling memandang sampai Kyungsoo tersenyum memandangi satu per satu wajah kedua orang tuanya dan kedua orang tua Kai, wajah, Luhan yang sudah terisak haru dipelukan Sehun sampai akhirnya dia kembali menatap Kai yang begitu tulus dengan ucapannya.
Dia kemudian menghapus cepat air mata bahagianya dan mengangguk perlahan menjawab lamaran Kai yang begitu mengejutkan dirinya.
..
..
..
"Aku bersedia..."
Dan setelah Kyungsoo menjawab pertanyaan pendeta dan berjanji untuk sehidup semati dengan Kai, maka pendeta menyatakan bahwa Kai dan Kyungsoo telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Pernikahan yang diadakan seminggu setelah Kai melamar Kyungsoo itu pun berjalan dengan sangat khidmat dan penuh rasa bahagia dari kedua pasangan.
Pesta yang diadakan di rumah Kai itu pun terlihat sederhana namun terkesan mewah karena Kyungsoo sendiri yang mengatur dan mendekorasi pesta pernikahannya, dengan bantuan Luhan keduanya pun menjadikan pesta pernikahan Kyungsoo seperti apa yang diinginkan oleh Kyungsoo, dan hasilnya para tamu undangan pun terlihat menikmati pesta pernikahan Kai dan Kyungsoo.
Sementara Luhan hanya bisa memandang kedua pengantin yang masih sibuk menyapa tamu undangan yang hadir. Dia berada agak jauh dari kerumunan karena takut tiba-tiba dirinya pingsan dan mengganggu acara bahagia Kai dan Kyungsoo.
"Appa...aku ingin menikah seperti ini saat aku besar nanti."
Suara gadis kecil yang sedang berjalan dengan ayahnya terdengar oleh Luhan saat mereka melewati melewati Luhan, membuat Luhan tersenyum mendengarnya.
Luhan hanya tersenyum miris menyadari kalau dirinya tidak memiliki kesempatan untuk merasakan pernikahan yang indah dengan Sehun, karena saat Sehun menikahi dirinya hanya beberapa orang yang menghadiri acara pernikahan yang penuh kebencian saat itu.
"Aku mencarimu kemana-mana Lu."
Luhan tersenyum saat merasakan Sehun memeluknya dari belakang dan kedua tangan Sehun melingkar dipinggangnya.
"Aku sedikit pusing Sehunna." Katanya mengambil tangan Sehun yang melingkar dinpinggangnya dan mengecupnya dalam.
"Apa kau ingin pulang?" Tanya Sehun melihat wajah Luhan yang memang tampak memucat.
Luhan menggeleng lemah "Aku ingin tetap berada disini sampai acaranya selesai. Karena si hitam itu akan langsung membawa Kyungieku ke Jepang." Balas Luhan dengan menggebu.
Sehun terkekeh mendengarnya dia kemudian kembali memeluk Luhan dan mengecupi tengkuk istrinya "aku mengawasimu." Katanya membuat Luhan mengangguk mengerti.
Dan setelahnya keduanya hanya diam menikmati semilir angin yang menerpa lembut wajah mereka. Mereka juga tersenyum menyadari kalai Kai dan Kyungsoo terlihat sangat bahagia.
"Maafkan aku sayang."
Ucapan Sehun membuat Luhan mengernyit bingung "untuk apa?"
"Maaf karena tak bisa memberikan pesta pernikahan yang indah seperti ini" gumam Sehun yang terdengar sangat menyesal.
Luhan membalikan tubuhnya menghadap Sehun. "Kenapa kau bicara seperti itu? Aku bahagia dengan pernikahan kita. Kau tahu kan aku benci keramaian, jadi aku bersyukur karena kau hanya mengundang beberapa orang Sehunna." Protesnya memberitahu Sehun yang terus memamdangnya menyesal.
"Kau tahu aku tidak mengundang siapapun Lu, aku hanya menyuruh pembantu rumah kita untuk menghadiri pernika..."
Ucapan Sehun terhenti saat Luhan tiba-tiba menciumnya lembut, Sehun tahu kalau Luhan hanya beruasaha untuk membuatnya nyaman, dia kemudian memilih diam dan menikmati lumatan lembut istrinya.
"Aku bahagia Sehun...sungguh" ujar Luhan melepaskan lumatannya dan memberitahu suaminya.
Sehun hanya tersenyum lirih mendengarnya "Apa benar kau bahagia dengan monster sepertiku?" Sehun kemudian meragukan ucapan Luhan.
"Ish...kau ini! Kalau kau monster aku ini apa? Istri monster? Oh tidak...aku tidak mau... mereka sangat jelek!" Protes Luhan membuat Sehun tertawa mendengarnya.
"Araseo...araseo...kau tuan putri yang cantik." Ujar Sehun membawa Luhan kembali ke pelukannya.
"Kalau begitu kau pangeran tampanku." Katanya memberitahu Sehun.
Sehun hanya diam menanggapi celotehan yang teramat baik dari istrinya, dia hanya mengeratkan pelukannya pada Luhan sebagai jawaban dan keduanya kini kembali menikmati pesta pernikahan Kai dan Kyungsoo yang berlangsung dengan sangat indah.
..
..
..
Kai langsung membawa Kyungsoo ke Jepang seminggu yang lalu saat upacara pernikahan mereka digelar, hal ini membuat Luhan menjadi sangat manja karena tak biasa memakan masakan selain masakan Kyungsoo.
Dia sempat kesal pada Kai yang terburu-buru membawa Kyungsoo pergi, padahal 2 minggu lagi adalah jadwal operasi yang menyebalkan untuk Luhan
Keduanya berjanji akan pulang saat Luhan menjalankan operasinya, hal itu membuat Luhan sedikit lebih tenang dan mengijinkan Kyungsoo untuk pergi.
Namun entah mengapa sudah tiga hari ini Luhan merasa sangat mual dan pusing, dia juga sering muntah tengah malam tapi memutuskan untuk tidak memberitahu Sehun. Luhan menebak ini akibat kemoterapi yang ia jalani dan obat-obatan yang ia konsumsi selama tiga bulan ini. Hal ini membuatnya sangat kesal karena harus makan dengan terpaksa, karena kalau tidak Sehun akan mengancam membawanya ke rumah sakit untuk dirawat.
Cklek!
"Apa Luhan sudah makan?"
Sehun yang juga tampak kelelahan dan berantakan bertanya pada pengurusnya yang menyambut kedatangannya.
"Sudah tuan, tapi hanya sedikit, sekarang istri anda sudah tertidur."
Sehun kembali menghela nafasnya sambil melonggarkan dasinya "baiklah...yang penting dia makan. Aku harus segera membawa Kyungsoo pulang." Gumam Sehun menaiki tangganya dengan lemas memikirkan Luhan yang terus menerus menolak makan.
Cklek!
Sehun membuka pintu kamarnya dan mengernyit mendapati Luhan tak berada dikasur mereka.
huwek!...
Sehun berjalan cepat menuju kekamar mandi dan membelalak terkejut melihat wajah Luhan yang sangat pucat dan penuh keringat.
huwek!...
"Sayang kau kenapa?"
Luhan mencuci cepat mulutnya dan menoleh ke arah Sehun.
"Sehunniee...aku mual sekali." Katanya mengadu pada Sehun dengan air mata diwajahnya.
"Apa sudah merasa lebih baik? Ayo kita berbaring." Sehun membantu Luhan memijat tengkuk lehernya.
"Sudah lebih baik." Gumam Luhan terdengar sangat pelan
"Kita berbaring hmmm…" pinta Sehun dan Luhan mengangguk pelan.
Sehun kemudian merengkuh pinggang Luhan dan berjalan menuju tempat tidur mereka, namu baru beberapa langkah Luhan merasa seluruh kamarnya berputar dan tak lama semua menjadi gelap untuknya.
"Luhan!"
suara teriakan Sehun adalah suara terakhir yang Luhan dengar sebelum dirinya benar-benar tak sadarkan diri.
..
..
..
Luhan baru saja kembali membuka matanya setelah hampir dua jam tak sadarkan diri, saat membuka matanya pertama kali yang Luhan lihat adalah Sehun yang duduk di kursi tak jauh dari tempatnya berbaring dengan wajah yang tampak cemas seperti ada sesuatu yang mengganggunya.
"Sehun…" paraunya memanggil Sehun.
Sehun menoleh kemudian tersenyum melihat Luhan "Hey sayang." Ujarnya berpindah ke tepi ranjang Luhan dan mengelus dahi Luhan yang masih berkeringat.
"Apa sudah merasa lebih baik?" tanya Sehun memastikan keadaan istrinya.
"Umh…sudah tidak mual lagi." Balas Luhan tersenyum dan menyadari kalau ada sesuatu yang mengganggu Sehun.
"Apa aku semakin parah?'
"Eh?' Sehun kembali menatap Luhan dan menyadari kalau Luhan sedang mempelajari ekpresi wajahnya yang terlihat berantakan.
"Tidak sayang, kau baik-baik saja." Balasnya mengecup bibir Luhan sekilas
"Lalu kenapa mual sekali? Aku sudah merasakannya hampir seminggu." Katanya mengeluh membuat Sehun mau tak mau tertawa dan membantu Luhan bersandar di pelukannya.
"Lu…." Sehun kemudian memanggil Luhan sambil mengusap sayang lengan Luhan.
"umh…kenapa?" tanya Luhan menjawab.
"Apa yang kau rasakan saat pertama kali kau tahu sedang mengandung anak kita?"
"Eh? Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Luhan tak mengerti
"Hanya ingin tahu." Balas Sehun mengecup pucuk kepala Luhan.
"Aku selalu merasa mual, tidak nafsu makan dan aku sering muntah seperti ta.."
Luhan menyadari sesuatu, dia menghentikan ucapannya dan menoleh ke arah Sehun "Sehun jangan bilang aku sedang…"
Sehun kembali mengecup bibir Luhan dan membawa Luhan kembali bersandar padanya dan mengelus lembut perut Luhan secara berulang, dia tahu Luhan tak berani melanjutkan ucapannya karena takut terlalu banyak berharap pada kalimat selanjutnya.
"Aku tidak tahu bagaimana memberitahumu…..Tapi tadi Kyuhyun kesini untuk memeriksamu dan tebakanmu benar…. Didalam sini sedang tumbuh calon anak kita sayang…Kau hamil."
tobecontinued...
Hayyyy...:)))))
.
sebelumnya triplet mau minta maaf atas keterlambatan update yang dikarenakan charger laptop digigit tikus dan data semua ff ada di laptop tercinta... nah baru sempet beli chargeran pagi tadi dan karena ngerasa ga enak makanya ditambahin ceritanya biar jadi panjang..baru deh bisa update...maafin ya :"))
.
gimana? Luhan mau punya baby lagi yey...tapi kedepannya gmana biar gw yang urus..gw yang memutuskan Luhan boleh punya baby lagi apa ngga.. tapi kalau baby nya sehun si boleh *eh :p
.
pokonya ditunggu kelanjutan next chapternya..karena next chapter akan jadi ending dari ff last hope :)..*huftt...berat juga ngasi taunya..
.
oke pokonya selamat membaca dan maafin triplet buat keterlambatan updatenya...seeyaaaaa :*
.
note : jadwal update last hope akan diumumkan setelah tdf update...terimakasih.
.
happy reading and review :)
