"You could hold me and I could hold you.

And it would be so peaceful. Completely peaceful.

Like the feeling of sleep. but awake in it together."


Last Hope

Main Cast : Xi Luhan & Oh Sehun

Genre : Romance, Family, Hurt

Rate : T-M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s). M-preg.

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

.

.

Sebelumnya…

Luhan baru saja kembali membuka matanya setelah hampir dua jam tak sadarkan diri, saat membuka matanya pertama kali yang Luhan lihat adalah Sehun yang duduk di kursi tak jauh dari tempatnya berbaring dengan wajah yang tampak cemas seperti ada sesuatu yang mengganggunya.

"Sehun…" paraunya memanggil Sehun.

Sehun menoleh kemudian tersenyum melihat Luhan "Hey sayang." Ujarnya berpindah ke tepi ranjang Luhan dan mengelus dahi Luhan yang masih berkeringat.

"Apa sudah merasa lebih baik?" tanya Sehun memastikan keadaan istrinya.

"Umh…sudah tidak mual lagi." Balas Luhan tersenyum dan menyadari kalau ada sesuatu yang mengganggu Sehun.

"Apa aku semakin parah?'

"Eh?' Sehun kembali menatap Luhan dan menyadari kalau Luhan sedang mempelajari ekpresi wajahnya yang terlihat berantakan.

"Tidak sayang, kau baik-baik saja." Balasnya mengecup bibir Luhan sekilas

"Lalu kenapa mual sekali? Aku sudah merasakannya hampir seminggu." Katanya mengeluh membuat Sehun mau tak mau tertawa dan membantu Luhan bersandar di pelukannya.

"Lu…." Sehun kemudian memanggil Luhan sambil mengusap sayang lengan Luhan.

"umh…kenapa?" tanya Luhan menjawab.

"Apa yang kau rasakan saat pertama kali kau tahu sedang mengandung anak kita?"

"Eh? Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Luhan tak mengerti

"Hanya ingin tahu." Balas Sehun mengecup pucuk kepala Luhan.

"Aku selalu merasa mual, tidak nafsu makan dan aku sering muntah seperti ta.."

Luhan menyadari sesuatu, dia menghentikan ucapannya dan menoleh ke arah Sehun "Sehun jangan bilang aku sedang…"

Sehun kembali mengecup bibir Luhan dan membawa Luhan kembali bersandar padanya dan mengelus lembut perut Luhan secara berulang, dia tahu Luhan tak berani melanjutkan ucapannya karena takut terlalu banyak berharap pada kalimat selanjutnya.

"Aku tidak tahu bagaimana memberitahumu…..Tapi tadi Kyuhyun kesini untuk memeriksamu dan tebakanmu benar…. Didalam sini sedang tumbuh calon anak kita sayang…Kau hamil."

.

.

.

.

Warning : Last Chapter ini akan sangat panjang….enjoyed!

.

.

.

.

.

L

A

S

T

.

H

O

P

E

.

.

.

.

Luhan tersenyum mendengar ucapan suaminya yang terdengar sangat ingin menghiburnya. Hal ini semakin membuat Luhan tersenyum getir menebak kalau dirinya memang semakin parah dan hanya ada sedikit harapan untuknya.

"Kenapa diam saja? Kau tak suka?" suara Sehun menginterupsi rasa sedih Luhan yang teramat karena kondisinya.

Luhan menggeleng lemah dan mengeratkan tangan Sehun di perutnya. "Aku senang kau menghiburku seperti itu sayang, tapi kau tak perlu melakukan itu. Aku dan penyakit ini sudah sangat bersahabat." Katanya bersender nyaman di pelukan suaminya.

Kali ini Sehun yang tersenyum pahit, dia tahu Luhan akan berfikir kalau dia sedang menghibur dirinya dari penyakitnya. Andai saja benar dia hanya menghibur Luhan, mungkin Sehun akan sangat bahagia, tapi apa yang diberitahukan Kyuhyun setengah jam yang lalu adalah benar, istrinya sedang hamil dan sudah memasuki minggu kedelapan.

Sehun kemudian meletakkan kepalanya di bahu Luhan, menghirup dalam-dalam aroma khas istrinya sambil membuat gerakan penuh arti di perut Luhan "Aku tidak sedang menghiburmu Lu, kau memang sedang mengandung calon anakku, buah hati kita." Balas Sehun dengan suara meyakinkannya.

Sehun kemudian merasakan tubuh Luhan menegang, dia berbalik cepat menatap Sehun, seolah mencari kebenaran dari ucapan suaminya yang terasa nyata untuk didengarnya "Sehun…A-apa yang kau katakan? Apa aku benar-benar hamil?" tanyanya berkaca-kaca berharap Sehun tak tertawa setelah ini karena berhasil mengelabuinya.

Luhan kemudian menghangat melihat senyum Sehun yang terlihat bahagia namun penuh kecemasan didalamnya, dia kemudian semakin bahagia saat Sehun menganggukan pelan kepalanya membenarkan pertanyaan Luhan. "Kau hamil sayang."

Grep….!

"Sehunnie astaga….. Ya Tuhan, aku-…aku hamil Sehunnie." Pekiknya menangis bahagia di pelukan suaminya yang juga memeluknya erat.

Setelahnya Sehun hanya membiarkan Luhan menangis bahagia di pelukannya, tubuh istrinya yang begitu rapuh dan lemah kini harus kembali bertahan dan kuat karena ada janin yang sedang tumbuh didalamnya.

"Apa kau bahagia?" tanya Sehun yang entah kenapa menurut Luhan terdengar lirih

"Sangat Sehun…Bagaimana denganmu? Kau bahagia juga kan?"

Luhan sedikit mengernyit di pelukan Sehun saat tak mendapat jawaban dari suaminya "Sehun…" katanya lagi memanggil Sehun yang hanya diam

Sehun kemudian tersenyum dan kembali memeluk Luhan erat

"Aku bahagia sayang…sangat bahagia…." Jawaban Sehun pun membuat istrinya tersenyum lega karena Sehun merespon pertanyaannya.

"Tapi maafkan aku Lu…Kita tidak bisa memiliki bayi kita lagi kali ini."

DEG!

Ucapan Sehun kemudian terdengar sangat mengerikan untuk Luhan, dia melepas cepat pelukan Sehun dan menatap suaminya yang terlihat memucat

"Apa maksudmu Sehun? Kenapa kita tidak bisa memiliki bayi kita? Kenapa?" tanya Luhan merasa mual karena Sehun terlihat tak punya pilihan lain untuk mengatakan hal mengerikan itu.

"Kyuhyun mengatakan kita tidak boleh memiliki bayi ini sekarang Lu." Katanya terdengar putus asa

"Jangan dengarkan dia." Balas Luhan terdengar sangat marah

"Kau harus menjalani kemoterapi…Kau juga tidak dalam keadaan siap mengandung Lu, dan jangan lupakan kalau kau harus menjalani operasimu. Aku tidak bisa kehilangan dirimu." Suara Sehun kali ini sedikit tinggi namun sepenuhnya bergetar frustasi memberitahu Luhan yang tampak sangat kecewa padanya.

Luhan hanya diam dan menutup kencang telinganya, dia tidak mau mendengar apapun alasan yang Sehun berikan, dia berjalan menjauh dari Sehun, kakinya sangat lemas dan kepalanya sangat sakit. Dia merasa seperti dibawa melayang oleh Sehun dan detik itu juga dia merasa Sehun menghempaskan tubuhnya kuat jatuh ke dasar jurang, rasanya sangat sakit dan sangat mengecewakan.

"Luhan…." Sehun terlihat panik melihat Luhan yang berjalan menjauh darinya

"Aku akan mempertahankan bayi ini…apapun untuk bayi ini." lirihnya terdengar oleh Sehun.

"Lu…Kau mau kemana-"

"LEPASKAN AKU SEHUN! AKU MAU PERGI…AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU MENGAMBIL BAYIKU KALI INI."

"Kau masih belum stabil sayang, berbaringlah."

"LEPASKAN AKU…" teriaknya menjerit histeris dari Sehun yang menggenggam erat lengannya.

"Sayang aku mohon jangan seperti ini…" pinta Sehun berusaha menenangkan Luhan…

"LEPASKAN AKU SEHUN..!"

"LUHAN…!"

Dan suara bentakan Sehun berhasil membuat Luhan sedikit tenang, dia tak lagi meronta namun kali ini terduduk lemas memeluk erat kaki Sehun, memohon pada suaminya.

"Aku mohon jangan sakiti bayiku Sehun…Jangan lakukan sesuatu yang mengerikan pada bayiku Sehun..Aku-..aku tidak bisa kehilangan anakku lagi. Tidak lagi Sehunna…..aghhhhh!" katanya menjerit berlutut memohon pada Sehun.

"SESEORANG TOLONG KAMI…" Luhan merasa sangat frustasi karena Sehun tak memberikan jawaban untuknya, dia takut jika dia terlengah dia akan kehilangan bayinya untuk yang kedua kalinya.

Sehun memejamkan matanya, dia tak kuat mendengar semua kesakitan yang diteriakan Luhan saat memohon padanya, dia tidak bisa menjawab Luhan bukan karena dia tidak mau, seluruh tubuhnya terasa kaku tak bisa merespon permintaan Luhan yang bisa membuatnya kehilangan dirinya selamanya.

Dia kemudian membuka matanya dan menghapus cepat air matanya yang terus membasahi pipinya, setelahnya dia berjongkok menyamakan posisinya dengan Luhan.

"Hey…kenapa berteriak seperti itu hmmm." Ujar Sehun menghapus air mata ketakutan Luhan. Luhan masih terlalu marah dan kecewa untuk menatap Sehun, dia tidak mau mendengar permintaan Sehun yang terdengar konyol untuknya.

"Luhan…" suara lirih Sehun berhasil menarik perhatian Luhan, dia perlahan mendongak menatap suaminya dan hatinya kembali berdenyut sakit saat melihat wajah Sehun yang tampak sangat menderita dan tak kalah sedih seperti dirinya.

"Sehunn.." secara refleks pun Luhan duduk di pangkuan suaminya dan menghapus air mata Sehun yang terus berjatuhan di pipinya

"Aku hampir menjerit seperti orang gila saat Kyuhyun memberitahuku kau hamil sayang, tapi kemudian aku hampir membunuhnya karena di saat yang sama dia mengatakan kalau kau tak boleh mengandung anak kita. Lebih baik aku mati daripada harus memberitahumu. Karena aku sangat yakin kau tidak akan menyetujuinya, lalu dia memberitahuku jika kau tetap mempertahankan bayi kita, aku bisa kehilangan dirimu dan bayiku untuk yang kedua kalinya Lu…Aku tidak bisa kehilangan dirimu Lu, tidak-..karena semua hal buruk yang telah aku perbuat padamu." lirihnya tertunduk dan terdengar sangat putus asa.

Luhan memeluk suaminya erat dan merasa menyesal mengira kalau ini semua adalah ide Sehun, mengira kalau Sehun tak menginginkan bayi mereka, dia menenangkan Sehun tetapi tetap pada pendiriannya untuk memiliki bayi mereka.

"Aku kuat Sehun….Aku lebih kuat jika ada kau dan bayi kita, aku mempunyai alasan untuk bertahan hidup karena kalian. Jadi bolehkah aku mengandung anakmu? Bolehkah aku memilikinya dan membesarkannya dengan kedua tanganku sendiri?" pinta Luhan terdengar seperti omong kosong di telinganya sendiri, dia mungkin bisa bertahan sampai bayi mungilnya lahir ke dunia, tapi untuk membesarkannya dengan kedua tangannya sendiri terdengar seperti mimpi untuknya.

Sehun melepas lembut pelukan Luhan dan menatap istrinya dengan sendu, dia mengusap air mata Luhan dan menciumi seluruh wajah Luhan untuk membuatnya sedikit lebih tenang, Sehun sampai di bibir Luhan, melumatnya lembut bermaksud menghentikan isakan yang terus menerus keluar dari bibir mungil istrinya, dia kemudian melepaskan lumatannya dan membenarkan poni Luhan, menatap yakin jauh kedalam mata Luhan dan tersenyum.

"Kau boleh memiliki bayi kita Lu….Kita akan berjuang bersama."

"SEHUN..!"

Dan ucapan Sehun pun adalah sesuatu yang sangat Luhan syukuri, dia bersyukur suaminya tak lagi memintanya untuk melakukan sesuatu yang mengerikan pada bayi mereka. Dia bersyukur karena menyadari kenyataan kalau rasa cinta Sehun untuknya dan bayi mereka sama besar dengan apa yang ia rasakan untuk Sehun dan calon bayi mereka.

..

..

..

"Kami memutuskan untuk mempertahankan bayi kami."

Setelah memastikan istrinya kembali beristirahat dan tertidur dikamar mereka. Sehun yang tanpa sepengetahun Luhan, diam-diam datang menemui Kyuhyun di rumah sakit dan memberitahu keputusan yang telah ia buat bersama Luhan.

"Kau tahu kau tak bisa melakukan itu." Kyuhyun terperangah mendengar keputusan kedua temannya yang terdengar begitu keras kepala dan tak mengerti resiko yang akan mereka dapatkan.

"Sehun...kalian bisa memiliki anak lagi saat Luhan sembuh nanti, untuk sekarang relakanlah bayi kalian."

Sehun hanya diam dan memandang Kyuhyun dengan tatapan frustasinya, dia kemudian menggeleng dan mengulangi keputusannya pada Kyuhyun.

"Aku tidak bisa-...Aku tidak bisa melihat istriku kembali merasa kehilangan jika aku memintanya menggugurkan bayi kami. Bayi itu penyemangatnya, dia bahkan berjanji akan bertahan karena bayi kami yang sedang tumbuh bersamanya. Aku mohon Kyu-..Aku mohon bantu kami. Aku tidak bisa memintanya melakukan hal mengerikan pada bayi kami."

Sehun tertunduk di meja Kyuhyun, merasa semuanya begitu memualkan yang membuat seluruh tubuhnya berdenyit sakit. Seluruh tubuhnya terutama hati dan pikirannya yang begitu kalut dan bingung tidak tahu harus berbuat apa.

Kyuhyun memandang iba sosok yang berada didepannya saat ini, dulu Sehun bahkan tak pernah mempedulikan Luhan. Semua tentang Luhan adalah hal yang paling ia benci, namun Sehun yang sekarang sedang terisak didepannya ini adalah sosok suami sekaligus calon ayahnya yang sedang sangat mengkhawatirkan istrinya dan calon bayi mereka.

Kyuhyun kemudian tersenyum lirih dan memegang pundak Sehun untuk memberi temannya ini kekuatan agar merasa tak terbebani dengan keputusan yang ia buat "Bawa Luhan check up secepatnya, kita harus memastikan kalau dirinya dan calon bayi kalian sehat kan?"

Ucapan Kyuhyun yang kali ini berperan sebagai dokter terasa begitu menguatkan Sehun, Sehun mendongak dan menatap Kyuhyun dengan rasa lega yang luar biasa karena Kyuhyun bersedia membantu kehamilan Luhan dengan kondisinya yang lemah seperti saat ini.

"Terimakasih Kyu...terimakasih..." ujarnya memeluk Kyuhyun sekilas dan tersenyum haru karena masih ada kesempatan untuknya dan Luhan memiliki malaikat kecil ditenga-tengah keluarga mereka.

..

..

..

Sementara itu Luhan yang memang tidak benar-benar tertidur kembali membuka matanya dan melihat kepergian Sehun dari jendela kamarnya, dia tahu benar kemana suaminya pergi karena saat mengira Luhan telah tertidur, dia mendengar Sehun menghubungi Kyuhyun dan meminta untuk segera bertemu dengan dokter yang juga merupakan teman dekat mereka sewaktu di bangku sekolah dulu.

Luhan merasa khawatir Sehun akan terbujuk ucapan Kyuhyun yang pasti melarangnya untuk mempertahankan bayinya, dia ingin sekali berteriak menghentikan Sehun agar tak pergi menemui Kyuhyun, namun jauh dilubuk hartinya dia menyadari kalau dirinya juga membutuhkan dokter untuk menjaga kondisi bayinya yang sedang tumbuh di tubuh rapuh miliknya.

Dan untuk menghilangkan pikiran buruk dan rasa khawatirnya, Luhan yang masih merasa sangat mual memaksakan diri untuk pergi kedapur dan membuat secangkir teh hangat agar perutnya berhenti mengeluarkan rasa tak enak yang bisa membuatnya muntah atau merasa sakikt di kepala.

Luhan sedang mengaduk tehnya asal dengan pikiran yang entah sedang berada dimana sampai sebuah suara yang terdengar panik memanggilnya.

"LUHAN...!"

Luhan terkesiap dan sedikit menoleh, berharap kalau dia tidak salah dengar, dia hafal benar suara yang memanggilnya dari arah pintu masuk itu. Suara yang selalu menghibur Luhan bahkan terlampau memanjakannya disaat dia sedang merasa sangat sendirian.

"Kyungie.." gumamnya meletakkan teh miliknya dan sedikit berlari ke pintu depan untuk melihat apakah benar yang memanggilnya adalah Kyungoo

"Luhan kau dimana?"

Suara itu semakin terdengar oleh Luhan, Luhan pun semakin berlari yakin kalau itu adalah suara Kyungsoo.

"Kyungie...!" pekiknya menghambur memeluk Kyungsoo yang tampak terkejut namun sangat lega melihat Luhan baik-baik saja.

"Hey...Kau baik-baik saja kan? Aku dengar dari bibi Kim kau pingsan lagi." Kyungsoo menangkup wajah Luhan dan memastikan majikan sekaligus teman dekatnya ini baik-baik saja.

Luhan mengangkat kedua alisnya dan mulai merajuk membuat Kai sebal melihatnya "Iya...aku pingsan lagi, aku pingsan karena tak makan masakanmu Kyung." Ujar Luhan membuat Kyungsoo terkekeh mendengarnya.

"Mulai besok kau akan makan masakanku lagi lulu sayang. Aku akan memasak makanan sehat yang enak untukmu." Katanya membawa Luhan untuk duduk di sofa tak jauh dari mereka berdiri.

"Kenapa kau pulang bulan madu lebih cepat Kyung?" tanya Luhan dibuat polos

"Ck..masih bertanya. Istriku seperti orang gila saat mendengar kau pingsan dia menangis meminta pulang karena tak ada satupun dari kau dan Sehun yang mengangkat ponsel kalian. Mengganggu saja." Gerutu Kai membuat Kyungsoo mendeliknya teramat tajam.

"Aku memang sakit Kyung." Katanya mengadu pada Kyungsoo yang kini memeluknya erat.

"Iya aku tahu Lu. Jangan dengarkan Kai. Dia memang menyebalkan."

"Kyungsoo..?"

Kali ini suara yang lebih berat menginterupsi membuat ketiga orang yang sedang bersantai di sofa menoleh ke arah kedatangannya.

"Sehun!"

Luhan pun dengan otomatis menghambur ke arah suaminya dan memeluk Sehun dengan erat, takut kalau suaminya kembali membawa kabar mengerikan tentang kondisi dirinya dan bayi mereka.

"Kenapa kau bangun hmmm." Sehun mencium bibir Luhan agak lama dan melepasnya menatap dalam ke istrinya yang tampak menunggu kabar darinya.

"Bagaimana?" tanyanya berbisik penuh harap pada Sehun.

"Jangan banyak berfikir sayang." Balasnya merangkul pinggang kecil Luhan dan duduk bersama dengan pengantin baru yang terlihat bahagia.

"Hey kebetulan sekali kalian datang. Aku membeli banyak minuman, ayo kita minum." Sehun meletakkan beberapa botol soju dan minuman kaleng ke meja.

"Arh..."

Luhan meringis saat tangannya ditepis kencang oleh Sehun "Kecuali kau...kau tidak boleh minum sayang." Gemasnya mencubit kencang hidung Luhan dan membawa istrinya duduk di sofa membuat Luhan menggerutu kesal pada Sehun.

"Baguslah kau pulang Kyung. Istriku sangat manja tidak ada dirimu, dia terus merengek dan sangat keras kepala karena hanya akan makan masakanmu." Kekeh Sehun yang menurut Kyungsoo juga terlihat kacau dan berantakan tak jauh berbeda dengan Luhan yang terlihat semakin memucat.

"Apa kalian baik-baik saja?" tanyanya tanpa berbasa basi pada Sehun dan Luhan.

"Kalian terlihat berantakan." Kai membenarkan pertanyaan Kyungsoo dan ikut memberi pernyataan pada Sehun dan Luhan.

"Bagaimana mungkin kami terlihat berantakan? Kami sedang sangat bahagia saat ini. Iya kan sayang?" tanya Luhan percaya diri pada Sehun yang hanya tersenyum lirih membalasnya.

"Kabar apa?" tanya Kyungsoo yang lebih fokus ke reaksi Sehun daripada Luhan.

"Aku hamil Kyung...Aku-..."

PRANG!

Belum sempat Luhan menyelesaikan botol soju yang berada di tangan Kyungsoo terlepas begitu saja, Luhan meringis mendapati reaksi Kyungsoo dan Kai sama persis dengan yang Sehun berikan. Terlihat jika keduanya sangat tegang dan memucat. Kekecewaan Luhan semakin menjadi tatkala Kyungsoo mengeluarkan suaranya.

"Tidak mungkin-..." katanya menatap Luhan dan Sehun bergantian.

"Apanya yang tidak mungkin?" tanya Luhan tak suka menatap Kyungsoo yang melihat ke arahnya dengan tatapan menakutkan

"Bagaimana bisa Lu? Minggu depan kau operasi. Sudah berapa lama usia bayimu?" kini Kai yang terdengar tak percaya dan ada nada menyalahkan Sehun yang tak pernah berhasil mengontrol dirinya jika berada di dekat Luhan sehingga membuat pria mungilnya harus kembali mengandung dengan kondisi lemah seperti sekarang.

"Lalu kenapa jika aku operasi? Aku akan bertahan!"

Suara Luhan meninggi dia kemudian menoleh ke arah Sehun untuk meminta bantuan, namun dirasa suaminya masih tak bersahabat dengannya membuatnya kesal dan berdiri untuk memberitahukan satu hal yang tak akan pernah Luhan sesali nantinya "Dengar! Aku tidak akan kehilangan bayiku lagi. Jadi jangan berfikir untuk melakukan hal mengerikan pada bayi tak berdosa ini." ujarnya bergetar dan dengan terburu-buru meninggalkan ruangan yang tampak tegang karena kemarahan Luhan yang terdengar sangat ketakutan.

"Sehun…" Kyungsoo langsung memanggil Sehun untuk mendengar lebih jelas tentang Luhan.

Sehun hanya diam sambil menatap Luhan yang kembali terlihat sedih masuk kedalam kamarnya "Sehun!" panggilan Kyungsoo kali ini berhasil membuat Sehun menoleh.

"Ini salahku sampai dia harus mengandung buah hati kami disaat seperti ini. Ini salahku."

Sehun bergumam menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya. Walaupun dia mendapat dukungan dari Kyuhyun dia tahu benar Luhan akan kesakitan menahan penyakitnya dan semua hal yang bisa membuatnya tambah kesakitan dengan kehamilannya yang memasuki minggu kedelapan.

Sementara Kyungsoo langsung menghambur memeluk suaminya, dia tidak tahu harus bersedih atau bahagia, karena satu hal yang ia yakini Luhan akan mempertaruhkan segalanya bahkan nyawanya sekalipun untuk calon bayinya, "Luhan…" gumamnya terisak pelan di pelukan Kai yang juga terlihat pucat dan khawatir.

..

..

..

Keesokan paginya Sehun membawa Luhan untuk bertemu dengan Kyuhyun dan dokter spesialis terbaik yang akan menangani kasus istrinya.

"Sehun…"

Sehun yang sedang menggenggam Luhan menuju ruangan Kyuhyun pun sedikit menoleh dan tersenyum mengetahui kalau Luhan sedang tegang saat ini.

"Kita tidak akan melakukan hal mengerikan padamu dan bayi kita sayang. Tidak perlu takut." Bisiknya menguatkan Luhan dan merangkul pinggang Luhan agar berjalan berdekatan dengannya. Luhan sedikit tenang saat Sehun membisikan hal menenangkan untuknya, dan setelahnya Luhan bersedia melakukan apapun asal tidak melukai apalagi sampai membuat calon bayinya tersakiti.

Cklek!

"Ah…Kalian sudah datang." Kyuhyun berdiri menyambut Sehun dan Luhan mempersilahkan keduanya duduk untuk bicara

"Luhan, kau bisa ikut dengan suster Kim, dia akan membawamu untuk melakukan beberapa tes terakhir sebelum jadwal operasimu." Katanya memperkenalkan suster yang sudah bersiap disampingnya untuk membawa Luhan menjalani beberapa tes.

"Bayiku.." gumamnya menggenggam erat tangan Sehun dan menatap cemas suaminya.

"Ah tentu saja…kami juga akan memeriksa kondisi kandunganmu Luhan, tenang saja."

Luhan kemudian menatap Kyuhyun dan tersenyum lega mendengar mereka juga akan memeriksa calon bayinya.

Sehun menggenggam erat tangan Luhan dan mengecupnya sekilas "Jangan khawatir sayang, aku menunggu disini." Gumamnya menguatkan Luhan

Dan setelahnya Luhan pun mengikuti kemana dia harus menjalani serangkaian tes sebelum dirinya melakukan operasi minggu depan.

"Luhan terlihat kelelahan."

Sehun menghela pelan nafasnya dan tertawa pahit melihat Kyuhyun "Semalam dia bertengkar hebat dengan Kyungsoo yang memintanya untuk menggugurkan bayinya, hidungnya tiba-tiba mengeluarkan darah dan tak lama dia jatuh pingsan."

"Kenapa kau tak langsung membawanya?" Tanya Kyuhyun yang menebak kalau kondisi Luhan saat ini jauh dari kata baik-baik saja.

"Dia bilang tidak mau menemuimu saat terlihat pucat, dia takut kau memintaku untuk menggugurkan bayi kami Kyu." Balas Sehun terdengar putus asa.

"Sangat terlihat kalau dia menghindariku." Gumam Kyuhyun memberitahu Sehun.

"Lusa dia sudah harus dirawat, kami harus memantau keadannya sebelum operasinya dilakukan. Hasil tesnya hari ini akan menentukan 70% kemungkinan berhasil atau tidaknya dia melewati masa kritisnya nanti. Aku akan menemui dokter Shin, dia yang akan melakukan operasi pada istrimu. Tunggu lah diruang perawatan,. Luhan akan berada disana." Kyuhyun memegang pundak Sehun sekilas dan kemudian keluar dari ruangannya untuk menemui dokter Shin, dokter spesialis syaraf dan penyakit dalam yang akan mengoperasi Luhan.

Sepeninggal Kyuhyun pun, Sehun memutuskan untuk melihat Luhan yang sedang menjalani testnya, dia terus berjalan dan berhenti di ruang tes sampai dahinya mengernyit tak mendapati istrinya melakukan tes di tempat biasa dia menjalani tes.

"Permisi, istriku, Oh Luhan, dia seharusnya berada disini menjalani tes, kemana dia pergi?" Tanya Sehun sedikit menaikkan nada suaranya.

"Ah..tuan Oh sudah selesai menjalani tes nya, dia kelelahan dan sedang beristirahat di ruang perawatan lantai tiga."

Sehun pun langsung berlari menaiki lift saat mengetahui kondisi Luhan yang kembali merasa lelah.

"Sayang..hey sayang."

Sehun berlari menghampiri Luhan yang tampak kelelahan dan kini sedang dipasangkan infus di tubuhnya.

"Maaf aku kelelahan lagi." Gumam Luhan memegang lembut pipi Sehun yang terasa dingin.

"Apa ada yang sakit? Katakan padaku Lu."

Luhan menggeleng lemah dan memegan tangan Sehun yang sedang mengusap wajahnya "Aku hanya lelah sayang."

Dan tak lama Luhan tertidur akibat efek obat yang diberikan kepadanya, kentara sekali terlihat kalau istrinya sedang menahan sakit karena seluruh wajahnya memucat dan berkeringat.

"Apa anda tuan Oh Sehun?"

Sebuah suara bertanya membuat Sehun yang sedang mencemaskan Luhan menoleh sekilas dan kembali menggenggam tangan istrinya "Aku suaminya." Balas Sehun yang tak mempedulikan siapapun yang berada di ruangan ini kecuali istrinya.

"Saya Shin Han Dong, dokter yang akan memimpin operasi istri anda, apa bisa kita bicara sebentar? Ini mengenai hasil tes akhir dan kondisi istri anda."

Sehun memejamkan matanya erat, sebenarnya ia enggan untuk mendengarkan semua yang akan dikatakan dokter Shin, tapi dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti seluruh saran yang diberikan dokter untuk kesembuhan Luhan.

Sehun mengecup lama dahi Luhan dengan sayang, dia kemudian berbalik arah menghadap dokter Shin "Baiklah, kita bicara."

..

..

..

Sehun sedang melangkah kembali menuju kamar Luhan, seluruh hatinya hancur mengingat apa yang dikatakan dokter Shin tentang kondisi Luhan.

"Apa kau melihat benjolan yang ada di jaringan Glia istri anda? Awalnya dia tidak mengganggu sistem saraf dan pergerakan Luhan, namun ini berubah menjadi berbahaya karena terus membesar dan efek radiasi dari kemoterapi yang ia jalani. Jaringan ini mengikat sel saraf dan saraf tulang belakang, itulah mengapa dia selalu terlihat kelelahan dan mengalami muntah serta sakit kepala yang hebat".

Sehun berjalan sangat terhuyung karena kakinya melangkah sendiri tanpa arah mengetahui kemungkinan operasi Luhan berhasil hanya 40%

Tapi bagaimana dengan operasinya? Semua akan baik-baik saja kan? Istriku akan sembuh total? Benarkan?

"Tergantung pada kondisinya saat operasi pengangkatan tumor dilakukan, jika dia stabil mungkin kami bisa mengangkat benjolan ini dari otaknya, tapi kemungkinan Luhan dalam kondisi stabil hanya 30% mengingat janin yang dikandungnya juga mempengaruhi kondisi istri anda."

Sehun terdiam di pintu masuk ruang perawatan Luhan, dia hanya ingin menenangkan dirinya sebelum bertemu dengan istrinya. Berkali-kali dia menarik nafas namun berkali-kali pula dia gagal karena setiap ia mencoba mengembuskan nafasnya ada sesuatu yang mencengkram hatinya dengan erat membuat dia merasa sangat sakit dan ketakutan.

Apa yang terjadi jika kondisi istirku memburuk selama operasi berlangsung?

Dia akan mengalami koma. Dan kemungkinan paling buruk kita akan kehilangan Istri anda jika kondisinya drop saat operasinya berjalan.

Brak!

"Luhan…" lirihnya yang kini terjatuh ke lantai dengan tangan yang masih memegang knop pintu kamar Luhan.

"Lu….." ringisnya menggigit erat bibirnya agar tak mengeluarkan suara yang bisa membuat Luhan mendengarnya.

Sehun merasa dirinya sedang menjalani hukuman dari Tuhan karena seluruh perbuatan buruk yang ia lakukan pada Luhan di waktu lalu. Beberapa tahun yang lalu yang Sehun inginkan hanya melihat Luhan kesakitan dan menderita, kemudian setelah dia menyadari semua kesalahannya, Tuhan mengabulkan permintaan kejinya karena saat ini istrinya sedang mengalami kesakitan luar biasa yang harus ia rasakan sendiri tanpa bisa berbagi dengannya. Sehun rela jika Tuhan menghukumnya dengan cara apapun tapi tidak melalui Luhan, dia tidak bisa melihat kondisi Luhan yang terus memburuk dan selalu merasa kesakitan setiap waktu.

"Maafkan aku Lu…" isaknya kuat masih menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan suara.

..

..

..

Cklek!

Beberapa menit setelah bertarung dengan rasa kalutnya, Sehun akhirnya memutuskan untuk menenangkan diri agar selalu bisa bersama Luhan, menenangkan dan menguatkan istrinya, meski dirinya sudah hancur dengan semua kemungkinan tentang kesembuhan Luhan.

"Sehun…kenapa kau lama sekali?"

Sehun tersenyum saat melihat Luhan yang sedang disuapi Kyungsoo cemberut memprotes dirinya.

"Banyak yang harus diurus sayang. Bagaimana dirimu apa merasa lebih baik?" Sehun berjalan mendekatinya dan mengecup sekilas bibir Luhan.

"Masakan Kyungie selalu membuatku lebih baik." Gumamnya dengan mulut yang penuh dengan makanan.

"Apapun aku lakukan agar dimaafkan." Kekeh Kyungsoo mengingat pertengkaran hebatnya tentan kondisi Luhan semalam.

"Kita tidak akan membahasnya lagi." Luhan mengingatkan Kyungsoo dan masih memeluk suaminya erat, tak mau melepaskan Sehun.

"Setelah aku makan, kita pulang kan?" Tanya Luhan sedikit berbisik pada Sehun.

Sehun melepas pelukannya dan menatap dalam ke arah Luhan, dia kemudian tersenyum dan mencium kening istrinya "Mulai malam ini kita akan menginap disini sayang."

"Kenapa mulai hari ini? Bukankah lusa aku baru menginap disini?" Tanya Luhan memprotes Sehun.

"Itu karena kami harus memastikan kondisimu stabil dan tak kelelahan lagi Lu.."

Sehun bersyukur melihat Kyuhyun memasuki ruangan Luhan tepat waktu, membuatnya tak perlu mengatakan hal-hal yang membuat Luhan marah atau takut.

"Tapi…"

"Kami sudah memeriksa calon bayimu, dia sangat sehat..jadi tidak ada alasan untukmu menolak kan?"

Luhan mendelik sebal pada Kyuhyun kemudian dengan cepat membawa tangan Sehun ke perutnya "Bayi kita sehat." Gumamnya mendongak melihat Sehun yang hanya bisa tersenyum pahit berharap dia dan keluarga kecilnya dapat segera berkumpul bersama.

"Baiklah…aku akan tinggal disini, lagipula kamar ini nyaman." Gumam Luhan membuat seluruh yang berada di ruangannya tersenyum lega karena dirinya tak merengek meminta pulang.

..

..

..

Setelah melewati seminggu yang menegangkan, hari dimana Luhan akan menjalani operasi pun tiba, Luhan sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi didalam ruang operasi nanti, entah dirinya akan kembali melihat Sehun atau hari ini adalah hari terakhirnya melihat Sehun yang terlihat sama pucatnya dengan dirinya. Luhan kemudian mengarahkan tangannya mengusap pipi Sehun yang sedari tadi terlihat cemas sebelum reaksi obat bius membuatnya benar-benar tak sadarkan diri.

"Aku akan baik-baik saja." Lirihnya memberitahu suaminya yang keadaanya lebih buruk dari keadaannya sendiri.

Sehun tak membalas apapun, dia hanya terus menggenggam Luhan dan berusaha terlihat kuat didepan istrinya yang selama dalam masa perawatan tak pernah benar-benar dalam kondisi stabil "Aku dan bayi kita bergantung padamu sayang. Bertahanlah."

Luhan pun mengangguk mengiyakan permintaan Sehun sebelum akhirnya dia benar-benar tertidur karena efek obat bius yang disuntikan padanya.

"Berdoalah."

Tak lama Kyuhyun dan beberapa dokter yang akan ikut melakukan operasi pada Luhan memasuki ruang perawatan Luhan dan membawa Luhan masuk ke ruang operasi meninggalkan Sehun, Kyungsoo dan Kai yang hanya bisa berdoa agar Luhan bisa bertahan dan kembali bersama mereka.

"Kyu…" Sehun memegang pergelangan tangan Kyuhyun yang sedang mendorong Luhan menuju ruang operasi, Kyuhyun menoleh dan melihat kea rah Sehun yang luar biasa pucat dengan tangan yang bergetar.

"Aku mohon selamatkan Luhan." Lirihnya tercekat menggenggam erat tangan Kyuhyun.

"Aku akan berusaha membuatnya stabil selama operasinya berjalan, dia terikat janji padaku. Aku berjanji akan membuat bayinya lahir dengan selamat asal dia bertahan pada operasinya kali ini. Tenang dan berdoalah untuknya."

Sehun kemudian melepas Luhan dengan tak rela memasuki ruang operasi, bagaimana bisa tenang jika semalam Luhan kembali merasakan sakit di kepalanya dan terus menjerit kesakitan, Sehun bahkan ingin sekali membawa Luhan pergi dari rumah sakit dan menenangkan istrinya dengan caranya sendiri, namun dia tahu itu sama sekali tidak membantu Luhan, justru sebaliknya Luhan akan semakin kelelahan dan kesakitan.

Tanpa sadar pun Sehun melewati Kai yang sedang memeluk erat Kyungsoo yang terus bergetar, kakinya terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Sehun tidak tahu harus melakukan apa saat ini sementara istrinya berjuang hidup mati didalam sana. Bukan hanya istrinya, calon bayi mereka juga sedang berjuang didalam sana. Hal itu membuatnya semakin tak berguna karena sama sekali tak bisa melakukan apapun untuk istri dan calon bayi mereka.

Sehun terus berjalan sampai akhirnya dia berhenti di sebuah gereja kecil yang terdapat di rumah sakit, dia kemudian memasuki gereja tersebut dengan sedikit terhuyung menebak dan mengira-ngira apakah istrinya bertahan didalam sana.

Brak!

Sehun terjatuh, berlutut dan terisak, dirinya kemudian memejamkan matanya mengucap doa agar Tuhan memberikan kelancaran untuk operasi yang sedang Luhan jalani.

"Tuhan….Maafkan aku yang tak pernah bersyukur atas apa yang engkau berikan."

Bagaimana kondisinya?

Kesadaran pasien menurun.

"Aku mengabaikan seseorang yang dengan bodohnya begitu tulus mencintaiku tanpa cela sedikitpun, aku menyakitinya dengan keji, merendahkannya dan membuatnya merasa terhina."

Dokter, kita tidak bisa meneruskannya kesadaran pasien menurun karena kondisi janin melemah.

Kita teruskan..! jika berhenti seperti ini kita bisa kehilangan pasien.

"Sekarang dia harus menanggung akibat dari kejahatan yang aku buat. Dia sedang berjuang didalam sana bersama calon malaikat kecil kami Tuhan, bantulah pria mungilku melewati masa kritisnya"

Semua tanda-tanda vital melemah, tekanan darah turun, denyut jantung melemah. Pasien kehilangan kesadarannya.

"Aku mohon selamatkan Luhan dan bayiku Tuhan."

Luhan….!

"Aku mohon…Aku mohon bertahanlah sayang"

Tiiit…

..

..

..

..

..

..

L

A

S

T

.

H

O

P

E

.

.

.

.

.

Cklek….!

Sehun baru saja memasuki rumahnya setelah mengurusi urusan bisnisnya yang sangat menyita waktu dan tenaganya, namun hari ini dia memutuskan untuk pulang lebih awal karena merasa sangat lelah, ada sesuatu yang membuat pikirannya terus terganggu dan saat membuka pintu

Grep..!

"APPA…!"

Panggilan putra tunggalnya Oh Haowen membuatnya rasa lelahnya hilang seketika.

"Lihat jagoan ayah yang sangat tampan." Sehun menciumi bergantian pipi Haowen dengan gemas.

"Appa kenapa sudah pulang?" Tanya Haowen saat Sehun membawanya ke sofa dan menciumi seluruh wajah putra tunggalnya.

"Appa rindu pada jagoan appa nak." Katanya mencium telak bibir Haowen yang kini sudah mulai membengkak karena ulah Sehun.

"Jadi tidak merindukanku?"

Dan suara yang menjadi alasan utama Sehun pulang lebih cepat kerumah pun menginterupsi, terlihat istrinya yang begitu sempurna berdiri mengenakan apron favoritnya sambil berkacak pinggang memarahi Sehun.

"Tentu saja aku merindukanmu sayang."

Sehun pun langsung membiarkan Haowen kembali bermain dan segera berlari menuju istrinya yang terlihat cantik walau terlihat lelah dan pucat.

"Apa kau sudah minum obatmu?" Tanya Sehun mengelap keringat diwajah Luhan.

"Kau harusnya menciumku bukan menanyakan obat mengerikan itu."

"Ah begitu….baiklah sayangku."

Dan tanpa ragu pun, Sehun memegang tengkuk Luhan dan melumat lembut bibir istrinya mengabaikan Haowen yang menatap mereka dengan bingung.

"Jadi apa kau sudah minum obatmu?" Sehun kembali bertanya sambil mengusap bibir Luhan yang tampak basah karena ciumannnya barusan.

"Sudah sayang."

"Apa kau kembali merasakan sakit?" Tanya Sehun yang kentara sekali terlihat cemas.

"Hmm…sedikit." Gumam Luhan memberitahu Sehun.

"Kau harus banyak beristirahat sayang."

"Aku tahu, jangan terlalu mencemaskan aku."

Sehun hanya terdiam memandangi Luhan yang walaupun berhasil melewati masa kritisnya lima tahun yang lalu harus kembali merasakan tumor yang telah berubah menjadi kanker otak yang menghinggapi tubuh rapuhnya.

Selesai menjalani operasi lima tahun yang lalu, dokter memprediksi bahwa Luhan hanya akan bertahan paling lama enam bulan. Namun entah karena keajaiban Tuhan atau karena tekad Luhan untuk bertahan hidup sangat tinggi, dia bisa bertahan hingga sekarang bahkan tanpa kesulitan melahirkan malaikat kecil mereka secara normal.

Namun keduanya harus kembali menerima kenyataan pahit tatkala Luhan didiagnosa mengidap kanker otak stadium tiga enam bulan yang lalu. Semenjak operasi Luhan memang masih sering merasakan sakit kepala yang teramat, namun tepat enam bulan yang lalu, Luhan harus sampai dirawat di rumah sakit karena sakit kepalanya tak kunjung reda, dan saat itu juga tumor yang masih berpotensi tumbuh di otak Luhan kini berubah menjadi kanker otak yang ganas dan dengan cepat mempengaruhi kondisi tubuh Luhan yang kian memburuk.

"Sehun…jangan lupa untuk menghadiri ulang tahun Ziyu malam nanti, kita tidak boleh terlambat."

Luhan yang sedang dipapah Sehun memberitahu suaminya yang tampak bingung "Kenapa memberitahuku? Undangan itu atas nama Haowen, iya kan nak?"

"Haowen tidak mau datang kesana, Ziyu menyebalkan."

Sehun dan Luhan terkekeh mendengar keluhan putra mereka yang kesal Karena kalah bermain game dengan putra Kai dan Kyungsoo, Kim Ziyu.

"Apa kau kesal karena dia lebih hebat bermain futsal darimu nak?"

"Tidak...! Pokonya Haowen tidak akan datang."

"Dan Ziyu sudah bilang tidak akan meniup lilin kalau jagoan eomma tidak datang. Apa kau tega melihat Ziyu ditertawakan teman-teman kalian?" Luhan memberitahu putranya yang mau bagaimanapun selalu bilang kesal pada putra Kyungsoo, dia akan selalu berakhir mengalah dan selalu menjaga Ziyu.

"Baiklah Haowen datang. Tapi sebental saja. Eomma harus istilahat."

Dan putra mungilnya pun berlari lucu menuju kamarnya meninggalkan kedua orang tuanya yang memandangnya bersyukur karena diberikan putra yang begitu lucu dan pintar.

"Haowen bahkan tahu kalau aku sakit." Gumamnya memeluk Sehun dan bersandar nyaman dipelukan Sehun yang hanya tersenyum lirih mendengarnya.

"Kami menjagamu sayang." Balas Sehun bergumam membenarkan pelukan Luhan disandarannya. Bagaimana putra mereka tidak mengkhawatirkan ibunya, Haowen kecil pernah melihat Luhan yang sangat kesakitan beberapa minggu yang lalu. Dia menangis hebat saat ibunya tiba-tiba tak sadarkan diri dan harus dirawat dirumah sakit, hal itu membuatnya selalu memperhatikan Luhan dan tak suka kalau ibunya terlalu banyak melakukan sesuatu yang bisa membuatnya kelelahan.

"Aku ingin sekali melihat putra kita tumbuh besar Sehunna."

"Tentu kau akan melihatnya tumbuh besar sayangku."

..

..

..

"Luhan...bangun sayang, kita harus bersiap pergi ke pesta ulang tahun Ziyu."

Sehun sedang membangunkan Luhan yang tampak tertidur dengan nyenyak, awalnya dia ragu untuk membangunkan istrinya atau tidak, tapi karena Luhan memintanya untuk membangunkannya dan karena Haowen yang keras kepala tidak mau datang jika Luhan tidak ikut, maka Sehun dengan berat hati sedang membangunkan istrinya yang terlihat kelelahan.

"Sayang...mana Haowen?"

"Kenapa kau berkeringat? Apa sakitnya sedang terasa?" Sehun pun membantu Luhan bersandar di ranjang mereka dan menghapus keringat yang membanjiri wajah istrinya.

"Dingin..."

Sehun mengernyit mendengar jawaban Luhan, bagaimana bisa istrinya kedinginan sementara seluruh tubuhnya berkeringat dan cuaca diluar begitu panas, Sehun bahkan sama sekali tak menyalakan ac dikamarnya karena ingin Luhan tidur dengan nyenyak.

"Sayang apa kau sedang kesakitan? Kita ke rumah sakit sekarang." Sehun sudah menggendong Luhan, namun Luhan menggeleng dan meronta dari dekapan Sehun.

"Aku ingin ke pesta Ziyu... aku merindukannya." Luhan pun turun dari gendongan suaminya dan berjalan terhuyung menuju lemari pakaian nya

"Aku harus pakai apa? Bagaimana ini bajuku tidak ada yang bagus." Luhan memilah milih pakaiannya dengan asal, membuat Sehun tersenyum lirih karena sangat menyadari kalau istrinya sedang tak fokus dan sedang merasa kesakitan.

Dia pun berjalan mendekati Luhan dan mendudukan istrinya di kursi rias, sementara dirinya mencari pakaian yang cocok untuk dikenakan Luhan, merasa menemukan yang cocok untuk Luhan, Sehun kembali menghampiri istrinya dan membuka pakaian yang Luhan kenakan, dia dengan sabar memakaikan baju untuk istrinya yang terlihat sangat lemas bahkan hanya untuk mengangkat tangan.

"Sehun..." ujarnya merona saat Sehun melepas seluruh pakaiannya dan memakaikan pakaian yang cocok untuk istrinya.

"Jangan memanggilku Lu, aku bukan tipe penyabar." Gumam Sehun menolak menatap wajah Luhan yang diyakininya sedang luar biasa sangat cantik jika merona, yang bisa membuat dia kehilangan pertahanan dirinya dan dengan tidak tahu diri kembali memasuki istrinya.

"Selesai."

Setelah memakaikan syal di leher Luhan, Sehun kembali menatapnya dan mencium bibir istrinya sekilas.

"Sehun...ini kan musim panas." Protes Luhan hendak melepaskan syalnya.

"Pakai atau kau tak boleh pergi." Katanya mengancam Luhan membuat Luhan mencibir kesal.

"Aku tidak mau kedinginan." Gumam Sehun mengusak lembut kepala Luhan.

"Aku tahu sayang. Gomawo." Ujarnya berjinjit dan mengalungkan lengannya di leher suaminya, setelahnya dia mencoba untuk menguasai bibir Sehun dengan melumatnya cepat, Sehun tersenyum merasakan usaha istrinya, dia kemudian merengkuh pinggang ramping istrinya dan dalam sekejap menguasai ciuman Luhan dan membawa keduanya merasakan sensasi yang selalu menyenangkan.

Sehun mungkin akan kehilangan kontrol atas dirinya kalau saja.

"EOMMA... APPA..! AYO KITA BELANGKAT..KITA TELAMBAT."

Putra tampan mereka tidak tiba-tiba datang dan memasang tampang sangat kesal.

"Astaga nak..." Luhan sedikit mendorong Sehun karena terkejut mendapati Haowen dikamar mereka.

"Anak ini...kau bilang tidak mau datang." Sehun kembali menyindir Haowen, membuat putranya menghentak hentakan kencang kakinya tanda dia sudah tidak sabar.

"Araseo...araseo... kita berangkat tampan." Kekeh Sehun merangkul pinggang Luhan berjalan mendekati putranya dan kemudian menggendong Haowen ke pelukannya

"Anak manja..." gumam Sehun mencium bibir Haowen yang masih mengerucut.

"Eomma...!"

Luhan pun hanya tertawa bahagia melihat tingkah suami dan putranya yang selalu bisa membuatnya merasa sangat bahagia dan hidup.

DEG!

Luhan sedikit mencengkram tangan Sehun karena merasa sakit dikepalanya datang secara berlebihan membuatnya bisa kapan saja kehilangan kesadarannya.

Jangan sekarang...aku mohon jangan sekarang." Gumamnya menguatkan diri sendiri.

"Sayang kau baik-baik saja?" Sehun bertanya membuat Luhan mengangguk cepat dan meminta Sehun untuk terus berjalan.

"Ayo pergi...kita terlambat."

Dan dengan ragu pun, Sehun akhirnya membawa Luhan dan Haowen ke pesta ulang tahun Ziyu dan berniat untuk segera membawa pulang istrinya untuk beristirahat.

..

..

..

Ting...Tong...!

Tak lama Sehun sampai dirumah Kai dan segera menekan bel rumah Kai dan Kyungsoo.

Cklek...!

"HAOWEN...!"

Terlihat seorang pria kecil tak jauh berbeda dari Haowen memekik dan memeluk seseorang yang tampaknya sangat ia tunggu.

"Ish lepaskan... nanti dilihat banyak orang. Dan lagi kau harus memanggilku hyung. tidak sopan!" Gerutu Haowen membuat kedua orang tuanya menggeleng-gelengkan kepala mereka dengan heran. Bagaimana mereka tidak heran, sepanjang perjalanan menuju ke rumah Ziyu, putra mereka berbicara banyak hal tentang pria cantik yang hanya berbeda setahun darinya itu. Namun saat bertemu dengan Ziyu, Haowen berubah menjadi sangat dingin dan tak bersahabat.

"Dia benar-benar memiliki sifatmu sayang." Bisik Luhan membuat Sehun terkekeh.

"Aku rasa juga begitu." Gumam Sehun terkekeh membenarkan ucapan Luhan.

"Aku mau masuk." Katanya dengan sengaja menyenggol bahu Ziyu dan melenggang masuk meninggalkan Ziyu yang tampak sebal dengan pria yang sudah ia katakan akan menjadi suaminya di masa depan.

"Dasar menyebalkan." Gerutunya membuat Luhan berjongkok menenangkan Ziyu yang sudah seperti anaknya sendiri.

"Selamat ulang tahun anak eomma." Luhan tiba-tiba memcium pipi Ziyu membuat Ziyu tersenyum senang.

"Lulu eomma." Katanya memeluk Luhan erat.

"Ayo kita masuk. Jangan hiraukan sikap hyung mu. Dia sangat bersemangat untuk ke pesta ulang tahunmu sayang." Katanya mengusak rambut Ziyu memberitahu.

"Alaseo eomma. Ayo kita masuk."

Ziyu pun kemudian berdiri di tengah-tengah Sehun dan Luhan lalu menggandeng senang kedua orang tua Haowen menuju ke dalam rumahnya.

"Hey lulu sayang."

Kyungsoo yang sedang menciumi pipi Haowen pun berlari menghampiri Luhan dan memeluk sahabatnya ini.

"Kenapa kau terlihat pucat lu?" Gumam Kyungsoo memeriksa seluruh wajah Luhan yang berwarna putih pucat dan berkeringat.

"Aku baik Kyung...ayo kita tiup lilin. Lihat anakku, dia berdiri disamping Kai berharap akan disuapi Ziyu nantinya." Kekeh Luhan berusaha mengalihkan perhatian Kyungsoo, namun sepertinya tak berhasil.

"Kyungie... setelah acara putramu aku aka beristirahat." Tambahnya menenangkan Kyungsoo yang memandangnya khawatir.

"Baiklah...kita selesaikan cepat acara ini." Kyungsoo pun mengambil alih Luhan dan mengerling Sehun yang juga tampak kelelahan.

Dan tak lama Kyungsoo membawa Luhan ke ruang utama, Ziyu dengan bantuan Kai pun terlihat bersemangat menyanyikan lagu ulang tahun dan tak lama

Fuhhh...!

Ziyu pun meniup lilinnya dan terdengar tepuk riuh dari para tamu undangan. MC pun meminta Ziyu untuk memberikan dua potongan kue pertama pada orang yang spesial untuknya, terlihat Kai dan Haowen yang yakin kalau kue pertama Ziyu untuk mereka, namun dugaan mereka salah besar, karena kini kaki mungil Ziyu tengah berjalan lucu mendekati Kyungsoo dan Luhan.

"Eomma dan Lulu eomma. Kue peltama Ziyu untuk kalian...aaaa."

Ziyu bukan hanya memberikan kue pertamanya untuk Kyungsoo dan Luhan, dia bahkan menyuapi keduanya dengan sayang, hal itu membuat para tamu bertepuk haru karena tahu benar kalau Ziyu memang sangat menyayangi ibunya dan ibu Haowen.

"Gomawo cantik. Eomma sangat bahagia." Kyungsoo mencium bibir putranya yang terlihat mengerucut karena dikatakan cantik.

"Ziyu harus tumbuh dengan sehat dan bantu eomma menjaga Haowen hyung ya?" Kini Luhan yang memeluk prianl kecil yang lebih mirip dengannya dibanding dengan orang tuanya sendiri.

"Ne eomma..."

Dan setelahnya pun,Ziyu memberikan kue untuk Kai, Sehun dan Haowen yang tampak cemburu karena kue pertama bukan untuk mereka.

"Anakmu sangat lucu Kyung..."

"Putramu yang selalu membuatnya terlihat lucu Lu."

Dan keduanya pun menatap sayang pada buah hati mereka masing-masing yang terlihat sangat lucu bahkan ketika yang satu sedang merajuk dan satu sedang membujuk.

"Kyungsoo...!"

Kyungsoo menoleh dan begitu berbinar mendapati Xiumin, teman dekatnya datang ke acara ulang tahunnya.

"Baozi...!' Balasnya memekik namum tak meninggalkan Luhan.

"Kyungieee...temui temanmu. Aku baik-baik saja." Bisik Luhan membuat Kyungsoo menatapnya ragu.

"Cepat Kyung.." katanya memaksa membuat Kyungsoo mendesah pelan.

"Aku akan segera kembali." Katanya memberitahu Luhan yang mengangguk mengerti.

Deg...!

Tak lama setelah Kyungsoo meninggalkannya, rasa sakit itu kembali Luhan rasakan, namun kali ini lebih kuat dari yang sebelumnya,membuat Luhan sedikit terhuyung mencari pegangan.

"Sayang..?"

Dan ketika suara yang paling ia sukai memanggilnya, semua hanya terdengar samar untuknya, Luhan mencoba mencari suara Sehun, namun semuanya berputar dan terlalu samar untuk dia lihat.

DEG..!

Dan ketika rasa sakit menyakitkan itu kembali ia rasakan, Luhan menyerah... dia tak bisa lagi menahan rasa sakit yang lebih banyak dan lebih menyakitkan dari ini.

Semua tiba-tiba berputar dan seluruh pandangannya menjadi buram.

"Luhan...!"

Dan suara suaminya yang memanggil namanya dengan cemas adalah hal yang terakhir Luhan dengar sebelum akhirnya benar-benar jatuh tak sadarkan diri.

...

..

..

tiit...tiit...

tiit...tiit...

Hanya terdengar suara alat deteksi jantung di ruangan intensive di salah satu rumah sakit di Seoul. Terlihat satu pria cantik yang tampak lemah dengan seluruh alat penunjang kehidupan yang dipasangkan hampir di seluruh tubuhnya.

Pria cantik itu tidak sendirian, sejak tiga jam yang lalu saat dia dibaringkan di ruang ICU, suaminya selalu menemaninya dan menggenggam erat tangan istrinya yang terasa dingin.

Mungkin jika kita melihat secara langsung, Luhan memang yang paling menderita disini, namun jika kita lihat lebih mendalam lagi, Luhan tidak menanggung semua rasa kesakitannya sendiri, Sehun mungkin bisa dibilang yang paling merasakan sakit teramat karena tiga jam yang lalu, dokter yang menangani Luhan mengatakan kalau istrinya sudah tidak memiliki harapan untuk bertahan lebih lama. Dan selama tiga jam itu pula, Sehun menahan rasa gundahnya dan lebih memilih untuk bersama Luhan dan menjadi orang pertama yang dilihatnya saat istrinya bangun nanti.

Sehun sedang membaringkan wajahnya di antara lengan Luhan, sampai dia merasakan pergerakan di genggamannya bergerak.

Sehun langsung mendongak dan bersyukur melihat Luhan yang sedang membiasakan dirinya dengan cahaya di ruangan tempatnya dirawat.

"Sehun..." paraunya memanggil suaminya.

"Hey sayang..." gumam Sehun mengusap lembut dahi Luhan yang berkeringat.

"Apa aku pingsan lagi?" Katanya bertanya pada Sehun dengan sangat lemah.

"Hmmm... tapi kau akan baik-baik saja disini sayang." Katanya tersenyum menahan perih memberitahu Luhan yang terlihat sangat lemah.

Luhan tersenyum menggeleng lemah dan dengan sisa tenaganya ia mengusap wajah Sehun yang juga terasa dingin karena cemas.

"Aku lelah sayang." Gumamnya memberitahu Sehun dengan air mata yang sudah menetes di wajahnya, dia terus menelusuri wajah suaminya, takut kalau hari ini adalah hari terakhirnya melihat pria yang paling ia cintai ini.

"Kalau begitu tidurlah. Aku akan menemanimu." Katanya memegang tangan Luhan yang sedang menelusuri wajahnya.

Luhan kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya lemah.

"Aku sudah tidak ada harapan sayang, dan aku lelah merasakan semua rasa sakit ini."

"Kau tidak boleh bicara seperti itu Lu, aku-..aku akan mencari cara untuk menyembuhkanmu." Sehun terlihat tegang dengan ucapan Luhan yang menyatakan dirinya menyerah terhadap penyakitnya.

"Sakit Sehunnie…aku tidak bisa lagi," gumam Luhan yang benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang dirasakannya.

"Kalau begitu bertahanlah untukku, tidak-…untuk Haowen, anak kita membutuhkanmu Lu, dia bahkan menangis tak henti saat melihatmu pingsan tadi." Ujar Sehun mencari semua kemungkinan yang bisa membuat Luhan mengerti.

"Dia akan baik-baik saja tanpaku, dia memiliki ayah yang hebat dan akan menyayanginya dengan hidupnya."

"CUKUP LU..! jangan bicara seolah kau akan meninggalkan aku. Aku tidak bisa." Sehun menaikkan suaranya dan bergetar hebat karena ketakutan Luhan akan benar-benar meninggalkannya.

"Maaf sayang." Lirih Luhan yang kembali merasakan sakit yang mulai tak tertahankan di seluruh tubuhnya.

"Tapi aku benar-benar lelah…..relakan aku Sehun, aku mohon." Pintanya mencengkram lengan Sehun yang terasa begitu tegang.

Sehun sudah terlihat marah, dia menghapus cepat air matanya dan menatap tajam istrinya yang terlihat semakin melemah.

"Bagiamana bisa-…bagaimana bisa aku membesarkan Haowen sendirian? Bagaimana bisa aku melihatnya tumbuh sementara saat dia tersenyum, dia akan mengingatkanku padamu. Bagaimana bisa?...bagaimana bisa aku menatap putra kita saat yang aku lihat adalah matamu. Aku tidak bisa Lu…Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku takut sayang." Katanya histeris membuat Luhan semakin merasa bersalah dan tak rela untuk meninggalkan suami dan anaknya.

Luhan menatap suaminya dengan samar karena semua mulai kembali terlihat gelap untuknya, dia kemudian kembali mengusap wajah Sehun dan tersenyum kepadanya "Maafkan aku Sehun.. Aku mohon." Lirihnya kembali membuat Sehun merasa frustasi dan tak rela.

"Jangan tinggalkan aku sayang….aku mohon." Lirih Sehun memohon pada Luhan.

Luhan tak membalas apapun karena sedang mati-matian menahan rasa sakitnya "Pindahkan aku keruang perawatan biasa Sehun, aku ingin melihat putraku….untuk yang terakhir kalinya."

"ARGHHH…..!"

Sehun kemudian berjalan menjauh menjaga jarak dengan Luhan kemudian menjerit pilu memukulkan tangannya ke dinding untuk menyalurkan rasa ketakutannya yang luar biasa, Luhan menatap suaminya lirih dan ikut terisak menyadari kalau waktunya untuk bersama dengan suaminya sampai mereka tua hanya harapan yang tak mungkin terwujud.

"ARGHHHHH….!"

Sehun kembali menjerit dan terisak tak kuasa menanggung semua rasa pedihnya sendiri.

..

..

..

"Eomma…..!"

Haowen yang hampir tiga hari tak bisa menemui Luhan, sangat bahagia saat Kyungsoo membawanya ke rumah sakit. Luhan pun yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa, terbangun mendengar suara putranya yang sangat ia rindukan.

"Haowennie.." katanya berusaha memeluk Haowen namun gagal karena dirinya sangat lemas. Dengan bantuan Kai, Haowen pun dibawa naik ke ranjang Luhan dan langsung memeluk ibunya.

"Eomma….Haowen rindu." Lirihnya memeluk erat sang ibu yang terlihat sangat tak berdaya.

Luhan hanya memejamkan matanya erat dan kembali terisak menyadari tak bisa memeluk putranya lagi dan tak bisa melihat putranya tumbuh besar.

"Ha-..Haowen." lirih Luhan memanggil putranya.

"Ummh…kenapa eomma menangis?" tanya Haowen menyadari kalau ibunya sedang terisak dan terlihat sangat sedih.

"Haowen sayang apa kau mau berjanji pada eomma?" tanya Luhan menciumi seluruh wajah putranya.

"Ne..apapun eomma." Katanya menghapus air mata yang terus berjatuhan di wajah ibunya.

"Haowen mau kan menjaga appa untuk eomma? Pastikan ayahmu tidak terlambat makan, tidak kelelahan dan jangan membuat ayahmu merasa kesepian. Haowen mau kan?" katanya menatap Sehun yang berdiri tak jauh dari mereka dan bertanya pada Haowen yang tampak bingung.

"Memangnya eomma mau kemana?" tanya Haowen tak mengerti.

"Eomma akan pergi jauh dan beristirahat sayang."

"Haowen ingin ikut eomma." Katanya mulai menangis menyadari Luhan akan segera pergi.

Luhan menggeleng lemah dan kembali tersenyum "Kau harus menjaga appa untuk eoma nak. Eomma akan selalu menjaga dan mengawasi Haowen di tempat eomma yang baru nanti nak" katanya meyakinkan Haowen yang masih menangis.

"Kau mau kan sayang?" Luhan kembali bertanya pada Haowen.

Haowen yang tak tega melihat ibunya memohon pun, hanya mengangguk pelan dan tersenyum menatap ibunya "Haowen akan menjaga appa untukmu eomma."

"Anak pintar….Haowen pintar…Anakku.."

Luhan pun tiba-tiba mendekap erat Haowen dan menangis sejadinya menyadari kalau dia benar-benar kehabisan waktu untuk bersama putranya.

"Kyungie…aku mohon jaga anakku." Pinta Luhan memekik pada Kyungsoo yang tampak hancur mendengarkan semua pesan Luhan untuk putranya.

Kai pun kembali menggendong Haowen dan membawa Haowen untuk keluar ruangan karena menyadari Luhan sudah mulai lemah dan kehilangan kesadarannya.

"Sehun…" katanya memanggil Sehun yang semenjak memutuskan untuk membawa Luhan ke ruang perawatan biasa hanya banyak diam dan tak bicara, Luhan tahu benar jika suaminya sedang marah padanya dan dia tahu benar apa ada yang dipikiran Sehun saat ini.

"Ya sayang aku disini." Balas Sehun yang menggenggam tangan Luhan dan mengusap lembut tangan istrinya.

"Aku rasa aku kehabisan waktu." Lirihnya berusaha tertawa namun gagal karena air mata yang kembali keluar menduluinya.

"Kau kuat sayang." Gumam Sehun yang juga sama sekali tak bisa menahan rasa pedihnya.

Luhan hanya terdiam menggenggam erat tangan suaminya.

"Aku punya permintaan yang harus kau tepati sayang." Lirih Luhan yang merasa kesadarannya mulai tak wajar.

"Katakan hmmm." Balas Sehun mengusap dahi Luhan yang terus berkeringat.

"Kau harus menemani Haowen sampai dia menikah nanti. Kau tidak boleh meninggalkannya dan kau tak boleh membuatnya merasakan apa yang aku rasakan saat aku kecil dulu. Aku ingin kau menyayanginya sampai ada yang menggantikan posisi kita untuknya. Janji?" tanya Luhan mengangkat jari kelingkingnya untuk mengikat janji dengan suaminya.

Sehun yang sedang mengusap dahi Luhan pun terdiam, dia menyadari kalau Luhan sangat mengerti dirinya hingga dia mengikat janji padanya untuk tetap hidup dan menemani putra mereka.

"Sehun…" lirih Luhan yang sudah mulai membuka dan menutup matanya tak beraturan.

Saat Luhan sedang mengikat janji pada Sehun, Kai kembali masuk ke ruangan Luhan dan merangkul pinggang Kyungsoo yang sedang terisak tak tega melihat kondisi Luhan. Kai berbisik sudah menitipkan Haowen dan Ziyu pada orang tuanya sehingga mereka bisa fokus mengurus Luhan.

"Sehun…Aku mohon.." Luhan masih mengangkat kelingkingnya dan menunggu jawaban suaminya

Sehun menghapus air matanya dan menyambut kelingking istrinya "Aku janji." Gumamnya yang juga mengangkat kelingkingnya membuat Luhan tersenyum "Kau terikat janji denganku. Kau harus menepatinya sayang." Lirih Luhan tersenyum lega.

"Aku akan menuruti permintaanmu." Kata-kata memberatkan itu Sehun keluarkan agar Luhan merasa bahagia.

"Gomawo sayang….K-kau harus hidup dengan sehat dan bahagia. Aku mengawasimu." Katanya yang kini menghapus air mata suaminya.

Tangan Luhan tiba-tiba terkulai lemas, dia semakin tahu kalau ini adalah waktunya untuk pergi, dan sebelum benar-benar sesuatu terjadi padanya dia menatap Kai dan Kyungsoo penuh harap.

"Kyungie…Kai…Aku titip suamiku dan putra kecilku. Jaga mereka untukku." Katanya merasa sangat lelah, dia tersenyum merasakan tangan Sehun kembali menggenggamnya erat memberikan rasa hangat yang berbeda untuknya.

Kyungsoo terisak tak menjawab, namun Kai mengangguk menatap Luhan "Kami akan menjaga mereka Lu."

Jawaban Kai pun membuat Luhan kembali lega, dia kembali beralih menatap wajah suaminya yang mulai terlihat samar.

"Sehunnie…"

"Hmm..kenapa sayang?" tanya Sehun yang juga mencengkram dadanya sendiri agar kuat melihat istrinya yang tampak sedang melawan malaikat maut menjemputnya.

"Terimakasih karena telah membawaku ke rumahmu hari itu…Terimakasih karena sangat baik menerimaku yang tak memiliki apapun…Terimakasih telah mencintaiku… Ter-terimakasih telah membuatku memiliki Haowen dan keluarga kecil kita yang begitu indah ini. Terimakasih untuk semuanya sayang." Lirih Luhan menangis membayangkan semua kebahagiaan singkat ini akan berakhir untuknya.

Sehun menggeleng cepat dan mencium dahi Luhan dengan sayang "Aku yang berterimakasih karena Tuhan mengirimkan malaikat sepertimu sayang. Aku akan menjaga semua yang membuatmu bahagia." Sehun pun terisak mendengar semua ucapan Luhan yang begitu tulus namun terasa menyakitkan untuknya.

"Sehun…" katanya kembali memanggil Sehun.

"Hmm…" Sehun tak kuat lagi menjawab, dia hanya bisa bergumam membalas istrinya yang seluruh tubuhnya mulai terasa dingin.

"Aku lelah…Bolehkah aku beristirahat sekarang."

"Tidak-…" Kyungsoo yang bereaksi dia tahu arti dari ucapan Luhan, semua terasa sangat tak adil untuk Luhan, dia pun memeluk erat suaminya tak tahan mendengar apapun yang akan Luhan ucapkan lagi.

"Ten-..Tentu sayang,,,beristirahatlah…aku-…aku menemanimu disini." Sehun terisak hebat mengucapkan kalimat yang menyatakan dia rela membiarkan Luhan yang kelelahan untuk beristirahat…selamanya.

"Gomawo Sehunnie, Aku mencintaimu." Lirih Luhan tersenyum mulai memejamkan matanya

"Aku juga mencintaimu sayang…Istirahatlah…Aku menjagamu…." Sehun mengecup sayang dahi Luhan dengan isakan hebat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya karena rasa sakitnya yang luar biasa seperti ini.

Luhan tersenyum mendengar ucapan cinta dari Sehun yang selalu berhasil membuatnya merasa sangat hangat, dia kemudian menikmati ciuman terakhir yang diberikan Sehun di dahinya dan tak lama.

Tiit…..

Sehun memejamkan matanya menangis hebat menyadari tangan istrinya yang sudah tak membalas genggamannya dan suara monitor detak jantungnya yang menandakan kalau kali ini istrinya telah benar-benar pergi meninggalkannya.

"LUHAN…!" Kyungsoo menghambur mendekati Luhan dan menjerit hebat mengetahui pria yang ia anggap seperti adiknya sendiri telah meregang nyawa dan meninggalkan dirinya untuk selamanya.

Sehun pun kemudian melepas ciumannya di dahi Luhan, dan menatap sayang istrinya yang terlihat begitu damai dan cantik untuk terakhir kalinya.

"Selamat jalan sayangku." Lirihnya mengecup singkat bibir yang kini terasa dingin itu.

Sehun kemudian berjalan menjauh dari ruangan Luhan, dia kembali berjalan tak tentu arah, menabrak apapun yang berpapasan dengannya. Pikirannya kosong, hatinya sakit, dan ketakutan menguasai dirinya.

BRAK….!

Dia pun terjatuh dan

"AGHHHHHHHHH…!"

Sehun menjerit mengeluarkan rasa kehilangan yang begitu teramat karena kepergian istrinya.

..

..

..

Hari ini adalah hari yang sangat memberatkan untuk Sehun, dia harus menghadiri upacara pemakaman seseorang yang sangat ia cintai dan ia kasihi, hari ini persis dengan hari yang sama saat orang tuanya dimakamkan. Hari dimana Sehun merasa sangat kosong dan sangat ketakutan harus kembali ia rasakan dengan rasa yang jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya.

Dia terus memandang tubuh istrinya yang sedang dimasukkan kedalam tanah, dan memandang tak berkedip berharap ini hanya mimpi. Namun hujan yang turun menyadarkannya kalau semua ini adalah kenyataan pedih yang harus ia terima.

Berbeda dengan ayahnya, putra tunggal Sehun dan Luhan….Haowen, dia terlihat begitu tenang dan merelakan ibunya. Dia belum tahu apa yang sedang terjadi tapi yang dia tahu adalah kalimat ibunya yang mengatakan akan terus menjaganya dimanapun dia berada.

Ziyu yang sedang berada di gendongan Kai merasa tak tega melihat Haowen berdiri sendiri, dia meminta ayahnya untuk menurunkannya dan berjalan menghampiri Haowen.

"Haowen…" lirihnya tanpa ragu memeluk pria kecil yang benar-benar ia sayangi ini.

Haowen hanya tersenyum pahit dan kembali menatap peti ibunya yang kini seutuhnya telah menyatu dengan tanah. Dia kemudian menggenggam tangan Ziyu seolah meminta kekuatan agar bertahan untuk menghampiri makam ibunya, dengan langkah kecil pun Haowen berjongkok di makam ibunya sambil meletakkan setangkai bunga untuk ibunya. Haowen kecil kemudian menghapus cepat air matanya

"Aku akan menjaga appa untukmu eomma, istirahatlah dengan tenang."

.

.

.

.

.

.

L

A

S

T

.

H

O

P

E

.

.

.

"Aku akan menjaga appa untukmu eomma, istirahatlah dengan tenang."

Dua puluh tahun kemudian…

Kalimat yang sama seperti dua puluh tahun yang lalu diucapkan kembali oleh Oh Haowen, malaikat kecil Sehun dan Luhan kini sudah menjelma menjadi pria tampan seperti ayahnya dan berhati baik seperti Luhan, ibunya.

"Eomma.. Ini Haowen.. Kau apa kabar disana? Ah... Kau pasti sedang bersama halmoni dan haraboji kan? Kalian curang bersama disana dan meninggalkan aku dengan pria super dingin seperti appa"

Sementara Sehun hanya tersenyum mendengar celotehan Haowen yang terdengar sangat cerewet. Dia tersenyum bangga karena bertahan sampai saat ini dan membesarkan Haowen dengan kedua tangannya sendiri tanpa bantuan dari siapapun termasuk dari Kai dan Kyungsoo. Dia memastikan sendiri kalau putranya tumbuh dengan kasih sayang yang cukup walau tanpa Luhan menemani Haowen dalam masa pertumbuhannya.

"Eomma... Kau tahu kan? Appa sangat mencintaimu. Dia selalu tidur dengan memeluk fotomu dan selalu berbicara denganmu jika dia lelah. Dia memang manusia tanpa ekspresi, tapi dia mencintaimu eomma. Dia juga mencintaiku. Dan dia harus tahu kalau kita berdua juga mencintainya"

Sehun terkekeh mendengar penuturan anaknya yang begitu cerewet jika sedang berkunjung ke makam ibunya. Haowen yang sehari-hari adalah jiplakan orisinil dari dirinya. Tak banyak bicara dan hanya melakukan sesuatu yang menurutnya benar, tapi Haowen yang sedang berkunjung ke makam Luhan adalah Haowen yang menunjukkan kalau ia memang putra Sehun dan Luhan.

"Hey cepat katakan tujuanmu kesini." Sehun menginterupsi putranya yang tak berhenti bicara.

"Araseo haraboji." Sindir Haowen yang kembali menatap makam bertuliskan Oh Luhan disana.

"Eomma. Usiaku 25 tahun ini, dan aku ingin memberitahukan kabar baik untukmu. Minggu depan aku akan menikah dengan putra cantik Kai appa dan Kyungie eomma…. Iya aku tahu kau sangat bahagia Karena akhirnya Ziyu si cerewet itu akan menjadi menantumu" Katanya tersenyum lirih menatap nisan ibunya

Wush~

Semilir angin begitu terasa menerpa lembut wajah Haowen dan Sehun. Mereka seakan bisa merasakan kehadiran Luhan disini bersama mereka.

"Meskipun begitu aku sangat berharap kau datang ke acara pernikahanku eomma. Aku sangat ingin melihatmu." Ujar Haowen bergetar tertunduk masih mengelus sayang nisan ibunya.

Sehun menatap punggung putranya yang bergetar, ia kembali merasakan penyesalan yang teramat karena tak menjaga istrinya dengan baik. Dia merasa sangat gagal menjadi ayah dan suami untuk Haowen dan Luhan. Karena dirinyalah putra dan istrinya tidak bisa hidup bersama dan bahkan keduanya hampir tak saling mengenal.

"Tapi tak apa eomma, kau tak perlu sedih. Appa bilang kau selalu melihatku disana, jadi aku percaya kau akan menghadiri upacara pernikahanku. Aku mencintaimu eomma." Haowen menghapus cepat air matanya dan tersenyum mencium nisan ibunya.

"Nah, waktu kencanku sudah habis denganmu eomma. Sekarang giliran pria tua ini." Kekeh Haowen berjalan ke arah Sehun dan memeluk tubuh ayahnya yang selalu terasa kurus dipelukannya.

"Aku menyayangimu aboji." Bisik Haowen pada Sehun.

"Appa juga menyayangimu nak." Balas Sehun memeluk putranya.

"Aku menunggu di mobil, appa bicaralah dengan eomma hmm" katanya membuat Sehun mau tak mau tersenyum.

"Aku akan sedikit lama bicara dengan ibumu." Kekeh Sehun memberitahu putranya.

"Aku akan menunggumu kakek tua." Goda Haowen membuat Sehun mendelik sebal pada putranya.

"Eomma. Aku pamit pulang, besok aku akan mengunjungimu lagi bersama Ziyu. Dia sangat cerewet."

Tak lama Haowen melenggang pergi ke parkiran mobil, memutuskan untuk memberikan waktu lebih pada ayahnya untuk menyampaikan rasa rindunya pada ibunya, karena Haowen tahu benar betapa ayahnya sangat merindukan ibunya, tak pernah satu malam pun dilalui Sehun tanpa memeluk atau berbicara pada foto Luhan, bercerita tentang apa saja yang ia alami hari ini termasuk menceritakan pertumbuhan Haowen, dan betapa bangganya dia pada putra tunggalnya itu.

Haowen menghapus cepat air mata yang sedari ia tahan, ia tahu kalau ayahnya lebih memilih untuk segera menyusul ibunya daripada harus hidup merasakan bagaimana sosok yang sangat ia cintai perlahan benar-benar menghilang dari ingatannya. "Appa.. Berjanjilah kau akan terus bersamaku. Aku tak punya siapa-siapa lagi." Gumam Haowen yang mempercepat langkahnya dan takut membayangkan jika ayahnya juga ikut meninggalkannya.

Sementara itu pria paruh baya yang melihat punggung putranya semakin menjauh hanya tersenyum lirih mengetahui kalau putranya sangat mengkhawatirkannya. Dia kemudian menatap pada nisan istrinya dan tersenyum bahagia.

Sehun kemudian berjongkok dan meletakkan bunga lily di makam Luhan "Hay sayang" Gumam Sehun mencium nisan yang bertuliskan nama Luhan agak lama. Berusaha melepas rindunya karena sudah tak mengunjungi makam istrinya beberapa hari ini.

"Bagaimana kabarmu sayang? Kau lihat kan? Haowen sudah dewasa sekarang." Katanya tersenyum memberitahu Luhan.

"Dia akan segera menikah dan saat itu janjiku padamu terpenuhi" Sehun kembali mengelus sayang makam Luhan.

Dia kemudian terdiam cukup lama dan tak lama

Tes!

Air mata kerinduan itu kembali terjatuh di pipinya. Luhan memang sudah dua puluh tahun meninggalkannya, tapi kenangan saat dia meminta keinginan terakhirnya masih terngiang jelas dibenak Sehun, membuatnya harus selalu kuat menjalani hidupnya tanpa Luhan.

"Lu, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu."

Sehun memejamkan matanya karena hembusan angin begitu menyejukkan hatinya yang sudah dua puluh tahun ini terasa kosong dan sangat hampa.

"Berbahagialah disana sayang, biarkan aku menderita disini, aku pantas menerimanya. Tapi aku mohon satu hal padamu Lu.."

Sehun tertunduk dan tak pernah tak menangis pilu saat mengingat betapa kejamnya dia pada Luhan saat dulu, saat betapa Luhan kesakitan berjuang melawan penyakitnya, dan saat pada akhirnya Luhan menyerah karena tak sanggup lagi menahan rasa sakitnya.

"Berjanjilah tak akan pudar dari ingatanku. Aku takut melupakan wajah cantikmu sayang, aku takut tak bisa mengingat senyum manismu lagi Lu. Aku takut kita tak akan pernah bertemu lagi." Katanya mencengkram dadanya dan batu nisan Luhan bersamaan.

Ya, selama 20 tahun hidupnya, Sehun hidup dengan rasa penyesalannya, setiap nafas yang ia hembuskan begitu menyesakkan dan sangat menyakitkan, berkali-kali ia berniat ingin menyusul Luhan agar bisa kembali bersamanya, namun berkali-kali juga niatnya ia kubur dalam-dalam karena janjinya pada Luhan untuk menjaga putra mereka yang semakin hari terlihat semakin seperti Luhan.

Sehun kemudian tersenyum lirih kembali menatap nisan Luhan "Aku akan bertahan semampuku sayang, aku benar-benar akan bertahan untukmu. Aku mencintaimu." Katanya mengecup nisan yang bertuliskan nama Luhan dengan air mata yang terus membasahi pipinya.

..

..

..

Hari pernikahan Haowen pun tiba, hari dimana putranya akan memiliki keluarga lengkap dengan Ziyu sebagai istrinya dan Kai dan Kyungsoo sebagai orang tua barunya.

Acara pernikahan diadakan di halaman belakang rumah Sehun Karena permintaan khusus dari Sehun yang ingin Luhan merasakan kebahagiaan yang putranya rasakan. Sehun pun dengan setia menunggui putranya yang tampak tegang namun terlihat sangat tampan dengan balutan tuxedo putihnya.

"Jagoanku sudah akan memiliki keluarga sendiri hmm, appa merasa ditinggalkan." Sehun tersenyum mendekati putranya yang terlihat tegang.

"Appa kenapa aku sangat gugup, padahal hanya mengucapkan janji, dan kemudian aku dan Ziyu akan resmi." Gerutu Haowen menatap ayahnya.

PLUK!

Sehun menyentil kencang kening putranya dan tertawa mendengar ucapan bodoh anaknya "Wajar jika kau gugup, itu bukan sekedar kalimat, itu merupakan janji seumur hidup yang harus kau jaga." Ujarnya menasihati putranya yang benar-benar tampak gugup.

"Baiklah.. Lebih baik kita bersiap. Acaranya sebentar lagi dimulai." Sehun bergegas keluar dari ruangan Haowen berniat segera menyaksikan upacara pernikahan putranya.

"Appa..."

Haowen memanggilnya membuat Sehun menoleh ke arah putranya "Ada apa jagoan?" Ujarnya bertanya pada Haowen.

"Setelah upacara pernikahanku selesai, kita akan tetap tinggal bersama kan?" Tanyanya memastikan kalau ayahnya akan selalu bersama dengannya.

Sehun terenyuh mendengar pertanyaan putranya yang seperti menebak tujuan hidup Sehun adalah memastikan kebahagiannya sampai putranya menemukan pasangan hidupnya, dan setelah itu Sehun berhak menentukan bagaimana selanjutnya dia menjalani hidupnya.

"Kita akan selalu bersama anakku." Ujarnya tersenyum lirih menguatkan putranya.

"Sudah siap tuan muda." Shindong memberikan aba-aba agar Haowen segera bersiap menuju altar, karena acara pernikahannya akan segera dimulai.

"Appa..." Haowen terlihat sangat pucat dan gugup.

"Cepat pergi….Aku mengawasimu nak." Sehun pun melenggang keluar ruangan untuk menyaksikan upacara sakral yang akan diucapkan oleh Haowen dan Ziyu.

Dan setelah beberapa menit menunggu kalimat

Aku bersedia

Diucapkan keduanya membuat tepukan selamat terdengar untuk pasangan muda yang akan membina rumah tangga baru ini.

Sehun kemudian memeluk putra dan menantunya memberikan ucapan selamat, dan setelahnya dia berjalan menuju kamarnya beralasan merasa lelah dan ingin istirahat sampai acara resepsi nanti.

Sehun berjalan gontai ke arah kamarnya.

BRAK!

Dia menutup pelan pintu kamarnya dan mengambil foto Luhan kemudian berbaring sambil mendekap foto istrinya.

"Hey cantik." Sapanya mengecup wajah Luhan kemudian mendekap erat foto Luhan.

"Aku sudah menepati janjiku padamu Lu…." Katanya tersenyum lega karena hari bahagia Haowen telah tiba.

"Sekarang bolehkan aku menyusulmu." Gumam Sehun dan tak lama merasakan penglihatannya memudar.

"Aku juga sudah lelah dan sangat merindukanmu sayang. Putra kita sudah berbahagia jadi kita bisa beristirahat dengan tenang." Lirihnya tersenyum memberitahu Luhan.

"Kita akan segera bertemu Lu…Aku mencintaimu."

Dan tak lama pegangan Sehun pada foto Luhan pun terlepas membuat frame dengan wajah Luhan didalamnya terjatuh.

Ya….Sehun dinyatakan mengidap kanker hati setahun yang lalu oleh dokter yang menanganinya. Sehun terkena kanker hati karena mengkonsumsi obat tidur dengan jumlah tak wajar hampir dua puluh tahun lamanya, dan setelah didagnosa menderita kanker hati, Sehun menolak segala pengobatan yang dianjurkan oleh dokter dengan alasan ingin segera bertemu dengan istrinya.

Dan hari ini adalah hari dimana dia bisa melepaskan seluruh rasa sakitnya, hari dimana dia telah menepati janjinya pada istrinya, hari dimana dia melihat putranya berbahagia dan hari dimana dia bisa segera menyusul dan segera bertemu dengan Luhan.

..

..

..

Aku mencintaimu Luhan, aku akan selalu mencintaimu… sekarang, di masa depan dan masa yang akan datang. Aku akan selalu mencintaimu…hanya kau Lu…

Luhan tertawa mendengar penuturan Sehun saat mereka baru merayakan ulang tahun Luhan yang ke 17 "Tapi kita hanya mempunyai satu kesempatan hidup."

"Tidak…aku tidak mau mempercayainya.. Aku tidak mau menerimanya juga… Aku ingin hidup ratusan tahun denganmu….selamanya..

Kenapa?

Karena aku tidak bisa kehilanganmu Lu…

Luhan pun tersenyum mendengar ucapan Sehunnya yang dengan jelas menyatakan akan selalu bersamanya.

Karena saat ini…keduanya mungkin memang sudah kembali bersama dan berbahagia.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

E

N

D

.

.

.

.

.

.

.

Am I said this story is happy ending…?

I'm not sure…but…yeah ….S**t this the ending…

They get their happiness ever after right…we hope so

.

.

Alhamdulillah tamat juga ff angst pertama gue…semoga berhasil ngoyak-ngoyak perasaan kalian ya kesayangan :*….

.

Tadinya mau buat dua chap….tapi yaudala…udah terlanjur asyik nulisnya :"…jangan bosen ya… jangan marahin gue juga buat akhir yang menurut gw emang harusnya begini :"""

.

Well….sekali lagi terimakasih untuk semua yang udah ikutin cerita ini dari awal…cerita yang bener-bener "bukan" triplet banget…. Terimakasih buat supportnya, kesabaran kalian nunggu, review nya favorit dan follownya yang maaf banget ga disebutin satu-satu. Terimakasih banyak sekali lagi *bow.

.

Oia, untuk tdf kemungkinan jadwal update kepending Karena gw ada acara gathering dipuncak nginep dari besok baru pulang hari minggu…

So, tdf diupdatenya jadi hari rabu depan ya….;)

Dan akhir kata buat Last hope…apakah tisu anda terpakai? :"D

.

,

See yaaaa….happy reading and review…..

.

.