Chapter 2: Disaster

"Wah, ruang musik akademi. Sudah lama aku tidak kesini" kata Cosmin dalam perjalanan.

"Aku yakin 2 wanita itu pasti sudah lama menunggu kita" sahut Sonsane.

Ruang musik ada di lantai 3 tepat belok kiri dari tangga. Sebentar lagi kami akan segera sampai. Tak lama kami bertiga sudah sampai. Aku pun berinisiatif untuk membuka pintu. Tapi rupanya pintu masih terkunci.

"Eh, masih dikunci ya? Berarti Milia dan Celica belum datang dong?" kataku keheranan.

Sonsane yang melihat kearah jendela berkata "Kayanya mau hujan ,nih. Di luar awannya mendung sekali."

Cosmin yang penasaran lalu melihat ke jendela. Setelah membuka jendela dia berkata "Hujan di awal musim panas? Langka sekali, tuh."

"Sekarang bagaimana? Apa kita tunggu mereka saja?" kataku mengganti topik.

Mereka berdua mengangguk setuju. Tak lama hujan pun turun dengan deras. Tiba-tiba terdengar suara petir yang teramat keras sekali.

BLEGARRRRR!

PRANGGGG!

"KYAAAAAAAA!"

Aku beserta Cosmin dan Sonsane kaget mendengar suara kaca jendela pecah di lain ruangan. Lebih parah lagi suara wanita tadi adalah suara Milia. Tanpa membuang banyak waktu, kami bertiga pergi mencari sumber suara. Setelah 10 menit mencari, akhirnya diketahui bahwa asal suara tadi berasal dari kelas Spiritualist. Namun, betapa kagetnya kami melihat 2 Cora yakni seorang pria dan wanita tewas mengenaskan dengan tubuh tertancap kepingan pecahan kaca. Mengenaskan hingga darah mereka membajiri ruangan kelas.

"Sonsane, cepat kau hubungi petugas medis. Disini ada korban" perintahku kepada Sonsane. Tanpa buang waktu, Sonsane langsung menelpon medis. Cosmin yang daritadi kebingungan bertanya kepada Milia.

"Milia, sebenarnya apa yang terjadi?"

"Tadi aku sedang berbincang dengan teman-teman sekelasku. Tiba-tiba saja petir memecahkan kaca jendela dan mereka berdua menjadi korban karena posisi mereka yang paling dekat dengan jendela" jelasnya dengan perasaan trauma.

Tak lama petugas medis pun datang dan langsung mengevakuasi korban. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Cora selama sehari semalam. Untungnya karena wilayah Cora sebagian besar adalah dataran tinggi tidak ada tempat yang terkena banjir. Tapi dampaknya Pantai Crimson mengalami kenaikkan ketinggian air beberapa meter. Beberapa jam kemudian pemimpin bangsa mengumumkan bahwa Festival Academy Cora tahun ini terpaksa harus dibatalkan karena insiden tadi.

"Sayang sekali,ya. Festival harus dibatalkan." Kata Cosmin.

"Sisi baiknya karena kita belum latihan kita jadi tidak rugi waktu. Ujian praktek quest dilapangan dipercepat, lho." kataku.

"Dan kita harus bermalam di akademi?" Tanya Sonsane.

"Mau bagaimana lagi? Hujan baru berhenti pukul 11 malam. Tentu kita harus tidur disini. Jarak dari akademi menuju Markas Cora 'kan dekat. Jadi tidak perlu bangun lebih pagi" jelasku pada Sonsane. Dan kami bertiga memilih tidur di ruang kelas Warrior.

Keesokkan Harinya

Aku beserta kedua temanku sedang bersiap untuk berangkat ke Markas Cora. Seperti yang kukatakan kemarin, ujian praktek dipercepat jadi hari ini. Mungkin karena Cora sedang membutuhkan pasukan muda yang siap tempur. Setelah siap kamipun langsung berangkat. Sampai disana kami berkumpul di aula markas. Ujian praktek kali ini lebih sulit dibandingkan dengan ujian praktek kenaikkan Class awal karena kami akan menjalankan quest yang kebanyakan akan dilakukan di area netral. Akibatnya kans bertemu bangsa lain akan lebih besar. Ditambah rata-rata setiap calon prajurit akan mendapatkan misi yang berbeda-beda. Meski begitu apabila ada yang mendapat misi berbeda tapi dilakukan di tempat yang sama, maka mereka diizinkan untuk membentuk kelompok kerja sama. Bisa juga meminta bantuan para Elite senior meski hanya sebagai pengawas saja. Aku dan Cosmin walaupun sama-sama warrior tapi karena beda kelas sudah pasti mendapat misi yang berbeda. Aku Champion calon Templar sedangkan Cosmin Roty adalah calon Black Knight serta Stefano Sonsane Sansuo memilih Artist.

Setelah satu jam menunggu giliran, akupun masuk keruang pemimpin bangsa Cora, Yang Mulia Quaine Khan. "Slask Wizarski, hari ini adalah ujianmu untuk kelulusan. Apa kau sudah siap?".

Tanpa ragu aku pun menjawab "Saya siap, Yang Mulia".

Quaine Khan lalu memberikan sebuah dokumen kepadaku. Lalu Ia pun berkata "Misimu ada didalam dokumen ini. Bacalah setelah kamu keluar dari sini."

Aku pun menerima dokumen tersebut. Lalu aku pamit undur diri "Baik, Yang Mulia. Hamba mohon pamit dulu."

"Silahkan. Pastikan kau melaksanakannya dengan sungguh-sungguh."

Setelah keluar, aku langsung membaca dokumen tadi. Rupanya aku mendapatkan quest di Ether.

"Hmm, jadi aku diminta untuk mengumpulkan kalung Calliana apa saja sebanyak 50 buah. Gak salah, nih? Apa tidak terlalu banyak?"

Sialnya, rupanya aku satu-satunya yang ditugaskan ke Ether. Sementara yang lain kebanyakan di Gurun Sette atau Volcanic Couldron. Mau tidak mau aku berangkat sendiri. Akhirnya setelah mengurus administrasi dan mengisi perlengkapan, aku langsung naik pesawat dan berangkat ke Ether.

Disaat yang sama di Crag Mine Alliance

Wesley Krakow, yang merupakan seorang wakil archon sedang berjaga di Chip Cora bersama 2 orang anak buahnya dan beberapa penjaga Chip. Lalu salah satu dari penjaga melihat ada orang di jarak 800 meter. Dia pun menghampiri orang itu. "Maaf, tuan. Anda siapa dan darimana asal anda? Bisa tunjukkan identitasnya?".

Pria itu lalu berkata "Wah wah, seharusnya kau lebih sopan lagi kalau mau bertanya. Yah, tapi tidak apa-apa. Perkenalkan namaku Velez. Yang pasti aku bukan dari bangsamu."

Lalu ia mencabut dua pedangnya. Merasa terancam penjaga itu menghubungi Wesley

"Disini penjaga 13 ada ancaman di sebelah barat. Minta ban- ARGHHH!"

Merasa ada bahaya Wesley Coba menghubunginya "Hei, apa yang terjadi. Jawab, penjaga 13."

Tak mendapat jawaban, Wesley memerintah 2 orang anak buahnya untuk mengecek keadaan. Tapi tiba-tiba Velez muncul didepan mereka.

"Hei, siapa kau? Ada apa kau datang kesini?" kata Wesley mengancam.

"Ada apa? Itu bukan urusanmu." Kata Velez tenang. Lalu diapun menambahkan "Kudengar bangsa kalian adalah pengguna magic terbaik. Jadi aku menginginkan kekuatan magic kalian"

"APAAAA? KAU BERCANDA YA?" kata Wesley sambil mengeluarkan Dark Siege Bownya

"Nanti kau juga tahu aku bercanda atau serius. Nah, sekarang bersiaplah!"

"Gil, Versage, bersiap menyerang!" perintah Wesley.

"Siap!" kata keduanya. Mereka berdua langsung mengepung Velez.

"RASAKAN INI. PRESSURE BOMB!"

Tapi Velez mengeluarkan jurus debuffnya " FIELD OF FEAR".

Tiba-tiba Gil dan Versage menjadi tampak lemah dan ketakutan.

"Kenapa? Kenapa aku merasa gemetaran begini? Apa yang terjadi" kata Gil merinding.

"Kenapa? Kau takut? Tenang saja. Sebentar lagi, Aku akan membunuhmu. Jadi rasa takutmu akan segera hilang. Hihihihi." Kata Velez

"Tidak. Jangan bunuh aku. Siapa saja tolong aku."

"SLASH OF ILLUSION"

CRATTTT!

SPLASSSHHH!

Darah segar mengalir deras dari kepala Gil dan Versage. Tragis. Kepala mereka terpenggal akibat jurus tebasan ilusi Velez. Jurus yang sangat cepat. Orang biasa hanya melihat Velez diam tapi sebenarnya dia bergerak. Tapi jurus itu sangat cepat hingga tidak bisa ditangkap mata.

Setelah membunuh Gil dan Versage, Velez mengalihkan targetnya ke Wesley. Setali tiga uang. Wesley juga tampak ketakutan. Dia juga terkena efek Field Of Fear hingga membuatnya panik. Sambil berjalan kearah Wesley, Velez berkata

"Giliranmu, ya?"

"Ampun. Aku mohon ampun. Aku belum siap mati"

"Hmm? Aku tidak dengar" kata Velez. Lalu Velez bersiap untuk membunuhnya.

"Ada kata terakhir?" kata Velez sambil menyeringai mengerikan.

"AAARRRRGGGHHHH!"

To Be Continued

Chapter kedua dari saya. Sebenarnya tadi udah dapat ide tapi kayanya jadi berantakkan terutama dibagian akhir. Maaf kalau Fnfic saya tidak keren.