Chapter 3: I Could Be Rich in Ether

"Hmmm, kapan terakhir kali aku ke Ether,ya" gumamku sambil melihat-lihat isi pesawat. Seingatku ini bukan pertama kalinya aku ke Ether. Sekitar 2 tahun yang lalu aku pernah ditugaskan kesana ketika mendapat tugas mencari peta Armory Accretia. Itupun sebatas observasi saja karena aku dibantu prajurit senior waktu itu. Tidak lama kemudian pesawat transport dengan kode pesawat XTM S1000RR lepas landas dari Markas Cora menuju Cora Ether Wharf.

Sembari duduk, akupun mengeluarkan senjataku yang baru yakni Strong Intense Spadona. Senjata ini kudapat setelah menyelesaikan Battle Dungeon Mission bersama kedua temanku. Misi di Ether ini akan menjadi ajang pembuktian kekuatan pedang ini. Aku tidak sabar untuk menggunakannya. Lalu aku mengeluarkan lap dan alkohol dari inventoryku dan kutuangkan alkohol tersebut dilap. Setelah itu langsung kulap pedangku dengan hati-hati agar tanganku tidak terluka.

Semenjak naik menjadi Champion, pedang adalah senjata yang paling aku sukai. Tidak seperti kebanyakan Champion lainnya yang memilih tombak. Harus kuakui memang tombak adalah senjata yang paling mematikan bagi Champion maupun Templar. Namun, aku tidak cocok menggunakan tombak karena tombak terlalu berat untukku dan juga ukurannya juga terlalu panjang. Kata Sonsane, tombak juga bisa dibuat dari bahan yang ringan tanpa mengurangi daya rusakknya. Tapi, membuat tombak dengan bobot extraringan memerlukan biaya yang extraberat. Itu juga berlaku untuk senjata lainnya. Akhirnya, pedang menjadi senjata andalanku dari dulu hingga sekarang.

Setelah penerbangan selama 7 jam, pesawat pun tiba di Ether Wharf Cora. Akupun langsung keluar dari pesawat. Udara extradingin yang menyambut kedatanganku di Ether tidak membuat diriku tulang rusukku membeku. Kulihat jam menunjukkan pukul 7 malam.

"Terlalu berbahaya untuk keluar malam." Kataku pelan.

Aku memutuskan untuk istirahat di mes darurat Ether. Akan lebih bijak menyelesaikan misi hari esok saja ketimbang malam hari yang penuh dengan marabahaya. Karena terlalu lelah akupun terlelap dalam tidur.

Wharf Cora Keesokkan Harinya

Kringgggg!

Alarm dari ponsel membangunkanku di pagi hari. Untung saja aku selalu memasang alarm otomatis jadi tidak khawatir akan telat bangun di pagi hari. Tanpa buang waktu kurapihkan kasur dan sprei seperti keadaan semula. Setelah itu aku berlalu kekamar mandi untuk sekedar cuci muka.

Byurrr!Splashh!Byurrr!

"Brrrrr. Airnya dingin sekali. Kurasa aku tidak perlu mandi. Gosok gigi saja,deh"

Setelah gosok gigi, aku langsung mengambil inventoryku. Berhubung aku lapar, akupun mengeluarkan 2 bungkus mie rebus instant sebagai sarapanku. Sembari menunggu airnya panas,akupun menyiapkan bumbu-bumbunya berikut lauknya yakni berupa sayuran gunung kesukaanku. Terkadang mataku memperhatikan area sekeliling Wharf Cora. Pandanganku langsung tertuju kepada satu batalyon Cora yang baru saja datang. Ada beberapa diantara mereka yang kuketahui namanya. Salah satunya pemimpin batalyon itu, Black Knight Anclaime Sada.

"Ngapain mereka pada berkumpul? Apa mereka mau perang? Atau mau berburu Pitt-Boss?" ucapku dengan nada pelan.

Ssshhhh!

Tanpa kusadari mie yang kumasaksedari tadi ternyata sudah matang hingga membuat air rebusannnya sedikit tumpah. Karena panik, akupun langsung memegang tutup pancinya langsung dengan tangan kosong.

KLONTANG!

"AWW, PANASSSS!" teriakku kepanasan.

Regu cora tadi yang sedang mendengarkan instruksi langsung mengalihkan pandangannya kearahku. Anclaime Sada yang juga ikut melihat berkata dengan marah.

"HEI, BIASA AJA DONG. PAGI -PAGI SUDAH BUAT MASALAH. APA SIH YANG SEDANG KAU LAKUKAN,HAH?"

"Ma..maaf,pak. Sa…saya sedang buat sarapan." Jawabku sedikit ketakutan.

"HATI-HATI LAIN KALI. MAU CARI PERHATIAAN,YA? KALAU KITA KETEMU LAGI, SAYA HABISIN KAMU. PAHAM?"

"Siap,pak"

Diapun kembali melanjutkan briefingnya. Setelah itu mereka langsung pergi keluar Wharf Cora entah kemana.

"Sialan. Tidak perlu marah-marah juga kali. Pakai nuduh cari perhatiaan segala. Emang dia kira aku ini apa?" kataku pelan dengan perasaan jengkel.

Meski begitu, hal tersebut tidak mengurangi rasa laparku.

"Hmmm, aromanya mantap sekali" kataku dengan mata berbinar.

Langsung saja aku melahap mie instant buatanku.

SRUPUT!

"Hmm, lezat sekali. Memang, deh mie rebus dengan tambahan saus cabai dan sayuran gunung merupakan kombinasi makanan yang terhebat." kataku ketagihan.

Setelah sarapan, akupun langsung mengganti pakaianku dengan satu set armor warriorku. Tidak lupa perlengkapan lainnya dan inventoryku. Setelah dirasa sudah siap, akupun langsung keluar dari Wharf menuju White Hole.

Ketika berjalan di Ether, rupanya cuaca sedang kurang baik. Terbukti dengan adanya kabut tebal yang mengganggu pandangan. Tapi dengan bantuan GPS, masalah bisa diatasi. Aku tidak merasakan adanya ancaman di sekitarku. Kupercepat langkah kaki menuju White Hole yang jaraknya sudah dekat. Ternyata mendekati White Hole, kabut mulai menipis hingga aku bisa melihat keadaan didepan.

DUARR!

Tiba-tiba, sebuah bola api nyasar hampir saja mengenai diriku.

"Uwaa! Ada apa ini?" kataku panik.

Oh, sial. Rupanya sedang ada peperangan kecil antara Bellato dan Cora. Akupun langsung mencari tempat perlindungan dan kudapati ada gundukan salju yang cukup tinggi cocok untuk bersembunyi. Sejenak kuamati pertarungan mereka. Aku juga melihat Anclaime Sada yang sedang bertarung melawan pria Bellato berambut abu-abu yang memakai senjata jenis Dual Blade. Wah seru juga pertarungannya. Tak kusangka Bellato kecil itu sanggup menandingi Anclaime Sada yang bertubuh lebih tinggi.

Ah, aku baru ingat kalau aku sedang ada misi penting. Kuperhatikan area sekelilingku untuk mencoba mencari jalan untuk kabur agar tidak ketahuan. Akhirnya kutemui jalan disampingku yang kurasa cocok untuk kabur. Tanpa pikir panjang akupun langsung berjalan mengendap-endap agar mereka tidak melihatku. Setelah dirasa agak jauh barulah aku berlari kencang supaya tidak ketahuan. Kucek GPSku untuk memastikan dimana lokasiku. Karena White Hole sedang terjadi pertempuran, aku memutuskan untuk berburu Calliana di Tanah Lures saja. Akupun sampai di Ether Plat. Menurut GPS Tanah Lures ada dia arah Timur. Itu berarti aku harus mengambil jalan kekiri dari Ether Plat.

Semula tidak ada siapa-siapa disini. Hanya ad aku dan beberapa monster saja sepanjang jalan. Tapi tiba-tiba dari arah berlawanan muncul 2 orang wanita berlari melewatiku. Mereka memakai armor berwarna biru dengan corak putih. Yang satu model armornya seperti pakaian beladiri dengan bawahan seperti rok dengan 2 belahan dikiri dan kanannya, memakai syal panjang dan membawa 2 buah pedang bermata tunggal dipunggungnya. Satu orang lagi memakai armor ketat dengan jubah seperti dracula dam membawa busur panah seperti Beam Siege Bow. Bentuk panahnya sungguh indah sekali seperti kristal yang bersatu dengan cahaya force yang membuatnya tampak berkilauan. Sejenak aku berpikir kalau mereka juga adalah prajurit Cora yang mungkin saja datang mau membantu temannya di White Hole. Tapi, kupikir lagi seingatku armor dan senjata model tadi sepertinya tidak ada pernah ada yang pakai. Lalu kok aku merasa kalau mereka berbeda dari Cora kebanyakan? Siapa mereka sebenarnya?.

Ah, mungkin mereka adalah pasukan rahasia Cora? Akupun melanjutkan perjalananku ke Tanah Lures. Sesampainya disana, populasi Calliana tampak lebih sedikit dibandingkan di White Hole. Tapi bagiku itu sudah cukup. Tambah lagi disini tidak ada bangsa lain yang berburu jadi misiku bisa diselesaikan lebih cepat. Akupun langsung mengeluarkan SI Spadonaku. Tidak lupa langsung kuaktifkan buff skillku.

"Wild Rage!"

"Accuracy!"

"Power Up!"

"Faith!"

Oke, waktunya untuk berburu. Akupun melihat seekor Calliana Atroc yang terdekat dariku. Langsung saja kuserang dia.

"Terima ini, Power Cleave!"

ZRASSH!

Calliana Actroc itu nampak terluka parah. Namun, ia belum mati karena memang aku sengaja mengurangi powerku. Rencananya aku mau tarik semua Calliana yang ada disini. Sadar karena ia mulai bersiap menyerangku, akupun berlari dan ia mengejarku. Kulihat 700 meter didepanku ada banyak Calliana lainnya berkumpul. Tanpa ragu akupun memancing mereka dengan serangan.

"KALIAN! RASAKAN INI, DEATH BLOWWW!"

JEDAAARRR!

GRAAAA!

BRUAAKKK!

Marah karena diserang, mereka tanpa ampun langsung menyerbuku. Kuperhatikan ada sekitar 25 Calliana yang mencoba membunuhku. Akupun lari mencari tempat yang cocok untuk melakukan aksiku. Sudut di dekat tebingpun kupilih. Aku berhenti disana dan para Calliana itu nampak tidak membuang kesempatan untuk menghabisiku. Kubuka inventory untuk mengambil Burst Potion yang sudah kusiapkan dan langsung kuminum. Terasa ada aliran energy yang mengalir dalam tubuhku.

SYUUTT! WUUUSSHH!

Serangan dari Crue dan Atroc dengan mudahnya kuhindari. Lalu kukeluarkan jurus buffku.

"SUPERCHARGED"

"ART OF CHAMPION"

Dan kulanjutkan dengan serangan comboku.

"SHINING CUT! DEATH BLOW! THRUST! POWER CLEAVE!"

Setelah kulancarkan 4 skill berturut-turut, akupun melompat ke udara untuk melakukan skill penutup.

"TERIMA INI! ART OF CHAMPION, INFINITY SUPERFALL!"

DUAAAARRRR!

Para Calliana pun langsung berguguran tanpa sisa.

"Huh, akhirnya setengah dari misi selesai juga."

Akupun memungut kalung-kalung Calliana berikut dropan lainnya.

"Waw, dropannya banyak sekali. Pulang dari sini aku bias kaya raya, nih. Hahahaha!" ucapku bahagia.

Tiba-tiba, aku melihat sesuatu yang berkilauan. Dan ternyata itu adalah elemental grade high.

" Uwooooo, ini 'kan elemental tingkat dewa. Aku beruntung sekali. Sangat cocok dengan tipeku. Wah, ada juga tipe lainnya. Ini bisa dijual dengan harga tinggi. Sepertinya, impianku untuk memiliki Relic Man Eater tidak akan lama lagi. Huahahahah!"

Dan cara yang sama juga kulakukan untuk menyelesaikan sisanya. Hasilnya? Tidak perlu ditanya lagi. Berbagai harta karun kutemui disini. Sayang sekali kalau tempat ini tidak dieksplorasi sampai maksimal. Mungkin kapan-kapan akan kuajak temanku berburu hari ini.

Haripun sudah senja. Aku memutuskan untuk kembali ke Wharf Cora. Tapi tiba-tiba saja dadaku terasa sakit.

"UHUK-UHUK! UWARGH!"

Darah segar mengalir dari mulutku. Sial, kurasa ini adalah efek dari skill Supercharged dan Art Of Champion. Teryata rumor itu memang benar. Supercharged dan Art Of Champion tidak bisa dipakai bersamaan atau aku akan berakibat seperti ini. Akupun berjalan dengan tertatih-tatih. Meski begitu aku tetap senang karena misi disini ternyata sama sekali tidak buruk.

Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika aku sampai di Wharf Cora. Sesampainya aku membeli minuman ringan untuk menghilangkan rasa dahagaku. Sambil minum, aku mencoba untuk melihat sekitar. Mataku langsung tertuju kesosok wanita Cora yang berdiri sambil melihat bintang-bintang dilangit.

"Sedang apa malam-malam begini berdiri disitu? Apa dia tidak merasa kedinginan?" kataku pelan. Kalau tak salah gadis itu adalah Faranel Trinith. Salah satu dari keluarga bangsawan juga, setahuku.

Tak lama kemudian datang pria Cora yang sepertinya adalah spiritualist. Tampak mereka berdua sedang mengobrol panjang. Setelah itu mereka saling berpelukkan. Mungkin pria itu adalah pacarnya.

"Pacaran kok malam-malam? Ada setan lewat aja bisa gawat nanti" ucapku kembali dengan nada pelan.

Lagi-lagi datang 2 orang cora tapi kali ini sepasang Cora yang mana salah satunya adalah Anclaime Sada. Bahkan, bukan hanya berpelukkan mereka juga saling berciuman tanpa ragu seolah-olah dunia hanya milik sepasang Cora itu. Sepertinya, dua Cora yang tadi beserta diriku tidak dianggap ada oleh mereka.

"Nah, yang begini, nih yang sudah terkena bujuk rayu setan" kembali kuberkata dengan intonasi pelan.

Namun, tanpa terduga Anclaime Sada melihatku. Dan dengan kecepatan kilat akupun langsung membuang pandangan. Penasaran, Anclaime Sada bertanya kepadaku

"Oi, Kau yang disana. Ngapain berdiri disitu?"

"Ah, a..aku se.. sedang menunggu pesawat, pak?" kataku terbata-bata.

Lalu diapun datang mendekatiku.

"Jangan bohong. Kau tadi lihat kami 'kan?" tanyanya serius.

"Ti..tidak, pak. Aku tidak melihat anda berciuman, pak. Sungguh!" ups tanpa sadar aku mengucapkan sebuah fakta.

"OH, JADI KAU LIHAT TADI AKU BERCIUMAN, YA? BAGUS, BAGUS! TAMPAKNYA KAU HARUS DIKASIH HADIAH,YA?" katanya sambil mengepalkan tangan bersiap mau adu jotos.

'Gawat. Bisa abis diriku jika dihajar orang gila ini' batinku dengan nada cemas. Untung saja seorang Cora yang jadi pacarnya langsung mendinginkan suasana.

"Sudah, sudah. Jangan ribut disini, ah! Tidak baik." Katanya dengan kalem.

"Tapi, Raha sayang, si brengsek ini sudah kurang ajar. Berani-beraninya dia melihat kita bermesraan. Kurasa pria jelek ini merasa iri dengan kita karena dia tidak laku-laku." Kata Sada setengah mengejek.

"Hush. Jangan ngomong kaya gitu. Tidak baik. Yuk, kita pergi tidur saja. Besok kita masih harus mencari letak Etheron."

Sada pun mengalah. Namun, sebelum pergi dia bertanya kepadaku.

"Hei, kau. Siapa namamu?"

"Slask Wizaski seorang Champion" jawabku

"Akan kuingat baik-baik namamu, Wizaski!" dan iapun berlalu pergi.

'Sialan. Bisa-bisanya dia menyebutku pria tak laku-laku.' Batinku kesal.

Akupun memutuskan untuk langsung pulang ke markas daripada istirahat disini. Ogah rasanya berurusan dengan si brengsek itu. Setelah membeli tiket, akupun menunggu pesawat transport. Untung saja tidak lama kemudian pesawat transport menuju markas datang. Tanpa pikir panjang akupun langsung masuk dan mencari tempat duduk yang enak agar bisa sambil tiduran.

Sial, efek skill supercharged masih saja terasa. Kira-kira samapai kapan aku bisa menggunakannya. Kudengar skill ini juga bisa mengurangi umur seseorang meski itu baru sekedar kabar burung. Yah, namanya juga rumor pasti tingkat kepercayaannya masih tanda tanya.

Karena merasa lelah akupun langsung mencoba untuk tidur. Misi selesai dan tidak lama lagi aku akan benar-benar lulus dan menjadi Templar seutuhnya. Kuharap teman-temanku tidak menemui kesulitan berarti seperti halnya diriku. Oh iya, 2 wanita di Ether Plat tadi siang kira-kira siapa ya? Apa mereka kawan atau sebaliknya? Atau mungkin mereka adalah prajurit uji coba? Tapi sepertinya bukan, ah.

Ah, soal itu nanti kudiskusikan saja dengan Cosmin dan Sonsane. Siapa tahu mereka punya informasinya. Yang penting sekarang istirahat, tidur dan setelah sampai kita ke lelangan untuk menjadi orang kaya. Lalu setelah itu jadilah aku Templar kaya raya, Hahahaha.

To Be Continue

Chapter terbaru dari saya. Terima kasih kaka Baydzofi atas reviewnya dan juga senior atas kesediaanya telah meminjam karakter Anclaime Sada dan teman-temannya. Kuharap fanfic ini bisa jadi hiburan tersendiri bagi saya dan anda.

Regard's

Slask Wroclaw Wizarski