Chapter 5 : Parasite
Angin semilir di pagi hari menemani langkah kakiku. Sekarang adalah hari pelantikan kami sebagai prajurit Cora. Ujian sudah usai. Angkatanku tahun ini 100% lulus akademi. Meskipun ada 2 orang yang tewas, tapi tidak mengurangi rasa optimis kami untuk bisa maju membela bendera Holly Alliance. Mulai hari ini kami siap untuk perang.
Waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi. Masih ada waktu 1 jam lagi untuk upacara pelantikan. Waktu 1 jam itu kuputuskan untuk pergi ke pelelangan Istana Haram. Aku sampai lupa kalau kemarin sebenarnya aku ingin menjual barang-barang hasil farmingku di Ether. Aku berjalan menuju portal raksasa yang ada di markas. Setelah sampai, aku mengakses portal menuju Istana Haram. Tidak sampai lima menit aku sudah ada disana. Kucari-cari dimana letak mesin pelelangan umum. Ini pertama kalinya aku ada di Istana Haram. So, aku masih belum tahu dimana letak-letak NPC-nya.
Ah, akhirnya kutemukan juga. Setelah ketemu, aku langsung mengakses menu jual. Aku memasukkan beberapa barang-barangku ke msein lelangan. Setelah itu, akupun langsung mengetik nilai nominal barang yang ingin kulelang. Setelah dirasa sudah fix, akupun menekan tombol enter.
Ketika aku membalikkan badanku, tiba-tiba sesosok Cora berdiri tepat didepanku hingga membuatku kaget.
"Uwaaahh. Hei, kenapa kau berdiri disitu?" kataku kaget setengah emosi.
"Ngapain kau disini, Slask." Tanya orang itu.
"Itu bukan urusanmu. Suka-suka aku dong!" balasku. Oh, aku tahu siapa dia.
Darko Volkovic. Begitulah nama lengkap pria ini. Dia adalah seorang ranger yang menurut informasi berasal dari etnis Bisk. Kemampuan tempurnya menurutku biasa-biasa saja, tapi dia jago dalam pertarungan tangan kosong. Dan menurut kabar yang kudengar, dia sangat dibenci selain karena dia berasal dari etnis Bisk, dia juga suka membuat keributan dan suka main pukul sembarangan. Merupakan juara nasional beladiri Cora 6 kali berturut-turut dan 2 bulan yang lalu dia berhasil meraih gelarnya yang ketujuh.
"Jangan begitu. Bukankah kita ini cukup akrab?" katanya sambil tersenyum.
"Hah, sejak kapan, tuh? Aku tidak ingat."
"Kau? Mau kupukul, ya?" katanya mulai emosi.
Tak lama kemudian datanglah Cosmin dan Sonsane.
"Yo, Slask. Kau kucari-cari rupanya ada disini. Pelantikannya 15 menit lagi, lho." Kata Cosmin.
"Wow, rupanya ada Darko disini." Kata Sonsane.
"Sudahlah. Ayo kita pergi saja." Kataku mengakhiri percakapan.
Kami berempat lalu pergi ke portal dan menuju ke Markas Cora. Dan benar saja, suasana aula markas sudah ramai oleh hingar bingar para prajurit baru. Aku melihat suasana diluar juga sudah ramai karena prajurit baru yang dikirim dari Planet Cora sudah sampai. Hari ini 1600 prajurit baru ditambah 1600 prajurit yang baru datang dari Planet Cora akan melaksanakan upacara kelulusan. Dari info yang kudapat jumlah ini merupakan yang terbesar sejak 20 tahun terakhir. Dan ketika jam menunjukkan angka 9, Pemipin Bangsa Quaine Khan memberikan pidatonya.
"Saudara-saudariku tercinta, anak-anakku tersayang. Kini, tibalah saatnya kalian semua menjadi prajurit sesungguhnya. Bertahun-tahun kalian menjalani pendidikkan militer dan inilah saatnya pembuktian bagi kalian untuk menunjukkan pengabdian kalian di medan perang. Aku juga mengucapkan terima kasih kepada para instruktur dan guru-guru semua yang telah memberikan ilmunya kepada para calon prajurit hingga membuat mereka bisa berdiri disini. Mulai detik ini, kalian adalah masa depan Alliance. Kalianlah yang akan menentukkan nasib Alliance nanti. Berikanlah yang terbaik untuk bangsa ini. Semoga Decem memberkati kalian semua. Terima kasih."
PROKK! PROKK! PROKK!
Sambutan tepuk tangan menggema hingga memenuhi seluruh ruangan. Setelah pidato usai, kamipun saling bersalam-salam ke sesame prajurit maupun kepada Archon dan para wakilnya.
"Slask, selamat ya atas kelulusannya" kata seorang wanita bernama Milia Aldren.
"Terima kasih. Kau juga, Milia. Ngomong-ngomong kau mengambil class apa?"
"Setelah kupikir-pikir aku memutuskan untuk memilih Dark Priest saja. Aku ingin menjadi support untuk teman-temanku." Kata wanita berambut pirang bermata hitam itu.
"Wah, memilih job pertengahan,ya? Cosmin juga memilih job pertengahan sama sepertimu."
"Benarkah? Kukira dia akan jadi Black Knight. Oh iya, aku cari Celica dulu, ya? Nanti kita kumpul-kumpul lagi. Dah!" ujarnya sambil berlalu pergi.
"Oke."
Setelah mengobrol dengan Milia, tiba-tiba ponselku bergetar tanda ada pesan yang masuk. Rupanya sms dari Cosmin.
'Slask, ayo ketemuan di Pos Cora. Kita ngobrol-ngobrol. Oke?'
Akupun langsung pergi ke Pos Cora. Sesampainya disana, aku melihat Cosmin dan Sonsane sedang duduk-duduk diatas rumput. Akupun langsung menyusul kesana dan ikutan duduk bareng.
"Ada apa kalian mengajakku berbicara?" kataku membuka percakapan.
Cosmin yang sedang membersihkan senjata kapaknya lalu berkata "Waktu ujian kelulusan kau mendapatkan misi apa?"
"Mengumpulkan 50 Calliana Necklace sendirian. Lho, ngomong-ngomong senjatamu baru ya?" kataku sambil bertanya.
"Yosh. Ini hadiah dari misiku. Strong Intense Hora Axe Limited Edition. Spesial hanya untukku. Hehehe." ujarnya bangga.
"Memang kau mendapat misi apa?" tanyaku penasaran.
Sejenak dia memasang muka cemberut. Setelah itu dia berkata " Kau tahu? Dari sekian banyak kadet yang menjalani ujian praktek kelulusan, akulah satu-satunya yang mendapatkan misi yang paling susah. Mendapatkan tombak Belphegor."
"Ah, tidak mungkin. Kadet macam kita tidak mungkin dikasih yang misi tingkat SS seperti itu." Kataku tidak percaya.
"Dibilangin malah tidak percaya." Lalu Cosmin mengeluarkan Smartphonenya dan menunjukkan sebuah foto yang tersimpan di ponselnya.
"Nih, buktinya. Aku sudah memfoto dokumen misi itu sebagai bukti sahih. Asal kau tahu saja, tadinya aku ingin meminta bantuan prajurit senior. Tapi mereka ogah membantu karena mereka sok sibuk. Apa kau sekarang percaya padaku?" kata pria berambut cepak dan bertinggi 205 cm itu.
"Lalu, kau dan Sonsane mengalahkan Belphegor itu bersama-sama? Hebat sekali." Kataku surprise.
Cosmin menggelengkan kepalanya dan berkata " Apa kau ingat tentang Accretia Assaulter yang kuceritakan sebelumnya ?"
"Tentu. Aku masih ingat ceritamu itu. Kau terkagum-kagum dengan Assaulter itu hingga membuat kau banting setir memilih Guardian. Benar-benar Accretia yang kuat"
"Ya, kuakui memang kuat. Tapi itu hanya sesaat saja." Kata Cosmin sambil memasang wajah serius.
"Maksudmu ada yang lebih kuat lagi? Bellatokah"
"Bukan. Tapi sesuatu yang lain. Sosok misterius yang kami temui di Goa Belphegor." Kali ini giliran Sonsane yang berbicara.
"Ceritanya seperti ini." Kata Cosmin memulai cerita.
Beberapa hari yang lalu
Volcanic Couldron
"Akhirnya telur Infernal Grumble yang ke-50 berhasil kudapat. Nah, sesuai janji Sonsane, kau harus bantu aku Quest Belphegor."
"oke."
Aku dan Sonsane berjalan kearah timur. Menurut GPS, letak Goa Belhegor ada di arah timur sedikit keatas. Lalu setelah itu ada sesosok Accretia dating dan masuk kedalam Goa.
"Lho, ada satu Accretia yang masuk kesana? Mau apa ya?" kataku.
"Kita intip saja dulu. Kita ikut masuk. Siapa tahu dia mau membunuh Belphegor. Kita bisa memanfaatkan kesempatan itu, Cosmin" usul Sonsane.
"Wah, ide bagus tuh. Yuk, tunggu apa lagi. Kita masuk saja."
Diam-diam kami mengikuti dari belakang lalu kami mencoba mengintip ke dalam secara sembunyi-sembunyi. Benar saja. Accretia itu dengan mengandalkan tombak Black Lancenya sedang bertempur melawan Pit-Boss Belphegor. Gaya bertarungnya sungguh hebat sekali. Meski dikeroyok anak buahnya, Accretia itu tidak gentar. Malah boleh dibilang Accretia itu mendominasi pertarungan dengan perbandingan 70-30.
"Accretia itu kuat sekali. Sonsane, kira-kira Accretia itu masuk Class apa?" tanyaku pada Sonsane.
"Dilihat dari gaya tempurnya, Accretia itu adalah Class Assaulter. Merupakan warrior pertengahan dari bangsa Accretia. Seimbang antara serangan dan pertengahan." Jelas Sonsane.
"Class pertengahan ya? Kalau begitu aku juga ambil class pertengahan saja, ah."
"Peminat Class pertengahan dibangsa kita sangat sedikit, lho. Kau yakin akan mengambilnya? Tidak sayang statusmu sebagai Knight?"
"Ah, soal itu nanti saja. Aku mau jadi Cora yang anti-Mainstream. Paham?"
Namun, disaat pertempuran Accretia vs Belphegor, tiba-tiba muncul sosok misterius didepan Assaulter tadi. Accretia itu tampak kaget.
"Sonsane, pria itu siapa? Cora ya?" tanyaku.
"Tidak tahu. Aku belum pernah melihatnya. Lebih-lebih armornya."
Pria misterius itu memakai armor berwarna silver kecoklatan lengkap dengan jubahnya. Dipunggungnya terdapat sebuah pedang besar berwarna emas dengan ujungnya yang sedikit berwarna biru gelap. Accretia itu terlihat tidak senang dengan kehadirannya. Tanpa ampun, diapun mengeluarkan salah satu jurusnya.
"PRESSURE BOMB!"
DUAAARRR!
"Waw, hebat sekali. Aku yakin pria itu pasti sudah jadi debu." Kataku mencoba menganalisa.
Tapi yang terjadi sungguh diluar dugaan. Sosok misterius itu masih berdiri kokoh tanpa luka sedikitpun. Bahkan, armornya masih mulus mengkilap. Sayup-sayup kudengar percakapan mereka.
"Only this much just your ability ? This was not even enough for heating." Kata pria itu.
"Impossible. Why do you understand my language." Kata Accretia itu.
"I use magic translator. Now, let's continue this fight." Ujarnya sambil maju menyerang.
TRANG! TRANG! TRANG!
"POWER CLEAVE! BASH EXPLOSION!"
SLASSHH! DUAAARRR!
Tapi serangan Accretia itu tidak berdampak apa-apa bagi dirinya.
"My turn." Pria itu Nampak mengambil jarak kebelakang. Setelah mendapat jarak ideal iapun mengeluakan skillnya sambil melompat ke udara.
"ROLLING CRASHH!"
JEGERR!
Beruntung Accretia itu masih bisa menghindar. Tapi dia sudah kepayahan.
"Combo skill, activated" pria tampak mengucapkan sebuah skill.
"Be prepared for the barrage attack, Accretia."
Nampak pria itu mengeluarkan aura membunuhnya yang pekat. Aku yang bersembunyi saja merasa terancam apalagi Accretia yang ad didepanku ini. Kemudian pria itu maju untuk menyeranggnya lagi.
ROLLING CRASH! CASCADE BREAK! TERRA BREAK! SWORD CANNON! WHIRLWIND!
DUARR! JEGER! BLEGARR!
Luar biasa , serangan berantai tanpa putus yang dilancarkannya sukses membuat lawannya tak berkutik. Accretia itu terlihat hancur hingga hanya menyisakan bagian dadanya saja. Lalu pria itu berjalan mendekat ke Accretia yang kini mungkin sudah tidak aktif lagi. Lalu, dia mulai membelah dadanya bangkai Accretia itu dan mengambil semacam core dari dalamnya.
Setelah mengambil core tadi, dia melihat kearah Belphegor yang tadi sempat dilawan Assaulter yang telah dibunuhnya. Pria itu menunjukkan seringai menakutkannya. Nampak aura membunuhnya kembali bangkit dari dalam dirinya. Dia menggenggam erat pedangnya lalu maju untuk menghabisi Belphegor itu. Kemudian dia mengeluarkan jurusnya.
"AREA OF EFFECT! INFERNAL DESPAIR!"
Sebuah skill yang diawali dengan tebasan berkali-kali dan dilanjutkan dengan aksi akrobatik lompatan membuat seisi goa menjadi hancur lebur.
"Sonsane, ayo kita menjauh." Kataku
"Ya."
DUARRR!
Goa Belphegor yang terlihat berdiri kokoh kini sudah hancur rata dengan tanah akibat serangan pria tak dikenal tadi. Hebat, dengan satu serangan saja dia bisa meruntuhkan goa sebesar ini. Mungkin jika dialebih serius, dia bisa menghancurkan planet ini.
"Wah, gimana nih? Sepertinya misiku gagal total. Belphegornya sudah mati duluan." Kataku dengan wajah lesu.
"Yang dibutuhkan hanya tombaknya saja 'kan? Bukan Belphegornya?"
Sonsane pun berjalanmendekati reruntuhan itu. Dia lalu mencoba mengangkat puing-puing goa yang berserakkan berharap mendapatkan sesuatu. Tidak lama kemudian, Sonsane berteriak
"Cosmin, cepat kesini. Lihat apa yang kutemukan."
Aku berjalan kearah suara Sonsane. Dan aku kaget bahwa rupanya dia mendapatkan apa yang kucari yaitu tombak Belphegor.
"Wah, akhirnya misiku bisa selesai juga. Dengan aku bisa lulus ujian dan segera menjadi Guardian. Hahaha."
"Nah, sekarang karena kita sama-sama sudah selesai sebaiknya kita pulang saja yuk." Ajak Sonsane.
"Oke."
"Seperti itulah ceritanya. Akupun tidak tahu kemana pria itu karena setelah kami cari-cari, kami tidak menemukan mayat lagi selain Accretia itu dan Belphegor."
Aku hanya bisa terdiam saja setelah mendengar ceritanya. Akhir-akhir ini sering sekali didapatkan laporan-laporan janggal. Aku jadi berpikir apakah akan terjadi sesuatu nanti?
"Apakah kalian tahu kalau wakil Archon kita menghilang?" tanyaku pada mereka.
"Ya, aku sudah mendengar berita itu. Sekarang aku berpikir kalau kasus hilangnya wakil Archon mungkin ada hubungannya dengan cerita yang aku dan Cosmin alami." Jawab Sonsane.
"Ngomong-ngomong, bukankah kemarin kau meminjam buku yang kita baca di perpustakaan? Apa kau sudah baca semuanya?" kembali aku bertanya padanya.
Sambil mengeluarkan sebuah minuman ringan dan langsung meminumnya, dia menjawab " tentu. Semua isinya sudah kubaca. Tapi kebanyakan isinya mungkin fakta-fakta yang sudah kita ketahui. Tapi selain yang kita baca waktu itu, ada satu lagi yang membuatku penasaran."
Cosmin yang sedari tidak mengerti obrolan kami juga ikut penasaran dan lalu berkata "apa itu?"
"Nevarethian." Jawabnya singkat.
"Nevarethian? Siapa mereka?" tanyaku dan Cosmin berbarengan.
"Singkatnya mereka dahulunya adalah bangsa manusia penghuni bumi. Ada yang bilang mereka adalah bangsa Atlantis, tapi ada juga yang mengatakan bandsa Lemuria. Kabarnya mereka sudah ada sejak ratusan abad yang lalu. Mereka pergi meninggalkan akibat bencana alam yang maha dahsyat. Tapi tidak semuanya ikut pergi. Ya, perbandingannya kira-kira adalah 80-20 persen." Jelas Sonsane.
"Jadi, mereka manusia yang menciptakan Accretia?" tanya Cosmin.
Sonsane menggelengkan kepalanya sambil meminum minumannya. Setelah itu dia berkata "Itu beda kasus. Accretia diciptakan oleh manusia yang pergi meninggalkan bumi setelah wabah virus Arcane bukan akibat bencana alam. Jadi, Nevarethian tidak ada hubungannya dengan Accretia apalagi Bellato dan Cora."
"Tapi entah apa alasannya mereka turut ikut dalam Holly Grail War. Bisa jadi perang itu akan menentukan nasib dunia." Tambahnya.
"So, apa kemungkinan orang yang kalian temui di Volcanic itu adalah Nevarethian? Sebelumnya aku juga melihat orang asing di Ether. Mungkin mereka juga ada hubungannya dengan hal ini." Kataku.
"Kemungkinan besar iya. Dan mungkin kehadiran mereka akan menjadi pertanda bahwa Novus akan dalam bahaya meskipun aku tidak tahu tujuan mereka datang kesini." Kata Sonsane.
"Kalau begitu, apa tidak kita laporkan saja kasus ini pada pemimpin bangsa dan Archon?" tanya Cosmin.
"Untuk sementara jangan dulu sebelum kita punya bukti yang cukup kuat. Omongan saja tidak cukup untuk menjadi bukti sahih." Jawab Sonsane.
"Ngomong-ngomong setelah kita dilantik ada kemungkinan kita bisa ditugaskan kapan saja dan dimana saja 'kan?" kataku.
"Lalu?"
"Apa kita masih bisa kumpul-kumpul bareng seperti ini lagi, ya?"
"Pasti bisa. Tenang aja" ucap Sonsane sambil tersenyum bersama dengan Cosmin.
Cora Headquarter, Waktu Yang Sama
Siang itu di Hunter Cave, nampak ada dua orang sedang berdiri disana. Salah satunya adalah pria dari bangsa Cora, sedang satunya lagi seorang wanita yang tidak diketahui siapa. Dilihat dari pakaiannya kemungkinan dia adalah pengguna mage. Mereka nampak sedang merencanakan sesuatu.
"Jadi ini adalah area Holly Alliance Cora,ya?" tanya wanita itu.
"Ya. Inilah bangsa dimana aku dilahirkan. Sebenarnya aku suka tempat ini. Tapi tidak dengan orang-orangnya." Kata pria Cora itu.
"Jadi, apa yang membuatmu memilih untuk jadi penghianat."
"Mereka itu hanyalah bangsa sok suci. Aku dikecewakan oleh mereka karena… aku tidak sanggup mengatakannya. Pokoknya aku ingin mereka binasa. Mereka harus merasakan penderitaanku waktu itu" katanya dengan wajah sedih dan marah.
"Begitu. Oke, kalau kau ingin balas dendam, kau harus dengar instruksiku." Kata wanita itu sambil mengeluarkan sesuatu dari inventorynya.
"Baik, Stratigos Leana."
"Ini. Kuberikan botol ini padamu." Katanya sambil menyerahkan sebuah botol berisi cairan berwarna hijau.
"Apa ini?"
"Parasite. Siramkan cairan ini ke tanah. Tanah yang terinfeksi akan berubah menjadi merah dan apabila terkena makhluk hidup, maka mereka akan berubah menjadi ganas dan tubuh mereka akan ditumbuhi kromosom parasit tumbuhan. Tidak sampai 1 hari, sebuah populasi akan musnah tanpa sisa. Hati-hatilah menggunakannya. Mengerti?" jelas Leana.
"Saya paham, Stratigos."
"Bagus, kalau begitu aku pergi dulu. Ini kuberikan sebuah scroll untuk melarikan diri. Kau tidak bisa menggunakan warp Cora karena kau sudah dianggap Turncoat oleh mereka." Katanya sambil menyerahkan sebuah scroll. Leana pun pergi meninggalkan Cora itu.
"Hahaha. Sekaranglah saatnya hari dimana bangsa Cora akan binasa."
Diapun menyiram cairan tadi ketanah secara hati-hati. Benar saja, tanah yang tadinya dihiasi rerumputan hijau berubah menjadi merah darah. Pria Cora itu lalu pergi menggunakan scroll tadi. Seekor Splinter Brat yang kebetulan lewat ditanah merah itu mulai berubah menjadi ganas. Di sirip atasnya nampak bermunculan sel-sel tumbuhan berwarna hijau.
"Wah, hari ini kita mau berburu apa lagi?" kata seorang kadet Cora yang sedang lewat.
"Menurut laporan misiku, kita harus mengumpulkan cakar Splinter Brat yang rumornya bisa dijadikan obat alternatif." Kata temannya yang seorang wanita.
"Splinter Brat, ya?" sambil melihat sekeliling, tiba-tiba dia melihat ada satu Splinter Brat didepannya.
"Nah, itu ada satu disana." Mereka berdua berlari mengicar Splinter Brat itu. Sambil mengeluar panah dan amunisinya, dia membidik targetnya.
"Terima ini. Fast Shot."
SYUSH! SYUSH! JLEB!
Splinter yang sudah terinfeksi itu mulai agresif karena mendapat serangan. Seperti kesetanan, Splinter Brat itu langsung menerkam mereka berdua.
"AAAAHHHHHH!"
"KYAAAAA!"
GRAAAAUUUU!
Pos Cora
Hari ini aku memutuskan untuk ke tempat pelelangan. Rencananya aku mau melihat hasil jualanku dan apabila jualanku laku banyak, aku janji akan mentraktir Cosmin dan Sonsane. Aku bersama dua orang temanku berjalan menuju portal Pos. Sesampainya, kamipun mengakses ke markas. Sesudah itu, kami pun kembali berjalan ke Portal Rakasasa.
Ketika kami hendak pergi ke pelelangan, tiba-tiba saja seorang Cora wanita datang dengan wajah menangis.
"Hiks.. kakak-kakak semua, to.. tolong kami..hiks..hiks…" kata wanita itu sambil menangis.
"Hei, kenapa kau menangis. Apa ada yang mengganggumu? Kalau ada, biar kuhajar dia." Kata Cosmin.
"Bu.. .. itu. Temanku..hiks… berubah jadi mo..monster?"
"Jadi monster? Gimana ceritanya?" tanya Sonsane. Tak lama kemudian, temannya yang juga perempuan datang dengan tergesa-gesa.
"Kakak, tidak ada waktu lagi. Ini sudah gawat!"
"Oke,oke. Tunjukkan dimana tempatnya kita akan segera kesana." Kataku berusaha tenang.
"Di Hunter Cave!"
Kami berlima lalu pergi kesana dan betapa kagetnya aku melihat apa yang kulihat didepan mata. Tampak daratan yang selalu kulihat berwarna hijau kini sudah berubah menjadi merah darah. Lebih kaget lagi, ada seorang Cora yang nampak tubuhnya ditumbuhi semacam tumbuhan. Sepertinya dia sudah tidak bernyawa.
"Apa-apaan. Apa yang sebenarnya terjadi?"
"SLASK, AWAS!"
GRAAAUUU!
"UWAAAA. APA ITU?"
Seekor Splinter yang terlihat berbeda hampir saja menerkamku.
"Biar kuurus monster itu." Kata Cosmin sambil mengeluakan SI Hora Axe LE-nya.
"Super Lightweight, activated!"
GRAUUU!
"Rasakan ini monster. POWER CLEAVE!"
ZRASSHHH!
Splinter itu tewas dengan satu serangan.
"Beres. Hanya itu saja 'kan?" kata Cosmin dengan santai tanpa sadar kalau dibelakangnya ada ancaman lain. Sonsane yang sadar kalau dibelakang Cosmin ada bahaya hanya bisa berteriak.
"COSMIN! BELAKANGMU!"
Terlambat. Cosmin yang melihat kebelakang tidak sempat berbuat apa-apa. Dirinya diserang oleh Cora yang sudah terinfeksi hingga membuatnya parah.
"AAAARRRKKKKHHH!"
ZRASSHHH!
Kukeluarkan SI Hora Swordku. Aku akan membunuh mosnter itu. Tapi langkahku terhenti begitu melihat para kadet Cora yang juga sudah berubah menjadi mosnter setengah tumbuhan datang dalam jumlah banyak. Penampilan mereka seperti zombie yang sering kulihat di film-film horor.
Tak pelak kamipun terkepung oleh mereka. Tidak tahu apa yang bisa kuperbuat. Aku hanya bisa terdiam seribu bahasa.
'Sial. Bagaimana ini? Ponselku sudah habis baterainya' disaata begini aku hanya bisa membatin dengan kesal tanpa bisa berbuat apa-apa.
To Be Continued
(Finaly, I think I decided to choose a Dark Priest . I want to be a support to my friends. Quotes by : Milia Aldren in Chapter 5).
Akhirnya selesai juga Chapter 5. Sebelum kuakhiri, yuk kita kenalan dengan karakter-karakter Under Attack.
Slask Wizarski: Tokoh utama cerita ini. Warrior class Templar yang memiliki cirri-ciri berambut coklat belah pinggir. Memiliki mata kanan biru dan kiri hitam. Ahli dalam menggunakan pedang. Makanan favoritnya adalah mie instant dengan sayuran gunung. Skill andalannya adalah Supercharger, Art Of Templar dan Infinity Superfall.
Cosmin Roty: Salah satu sahabat dekat Slask. Memiliki tinggi 200 cm lebih. Paling tinggi diantara teman-temannya. Berambut cepak berwarna pirang. Awalnya ingin jadi Black Knight, tapi pilih Guardian karena ingin hebat dalam serangan dan bertahan. By the way dia adalah satu-satunya orang pilih Guardian diantara prajuri-prajurit seangkatannya. Skill andalannya adalah Super Lightweight.
Stefano Sonsane Sansuo: Teman Slask berikutnya. Memilih job Specialist karena sangat tertarik dengan perakitan armor dan senjata. Merupakan andalan bagi teman-temannya dalam hal support perbekalan. Sedikit agak pendiam dan dia juga sedikit tertarik membaca buku.
Milia Aldren : Teman wanita Slask sejak diakademi. Cukup periang dan tidak pernah mengharapkan imbalan ketika diminta tolong. Summoner yang memilih jadi Dark Priest.
Darko Volkovic : Prajurit Cora Etnis Bisk. Rival Slask dan temannya. orang yang sangat keras kepala dan mudah terpancing emosi. Dia mengambil job Ranger Hunter dan melanjutkan ke Stealer. Dia merupakan jagoan beladiri. Gaya bertempurnya lebih mirip perkelahian antar pelajar daripada pertarungan di medan perang. Hal itulah yang membuatnya menjadi di benci oleh hampir semua prajurit Cora. Senjata andalannya adalah pisau lempar yang terkadang justru dipakai sebagai senjata jarak dekat.
segitu dulu perkenalan para karakter. Terima kasih atas reviewnya. Semoga bias menghibur untuk anda semua. Terima kasih.
