Chapter 6 : Friends Who are Willing to Help Selflessly
Terdesak.
Baru kali ini aku merasa terdesak. Padahal aku sudah pernah menghadapi situasi semacam ini baik ketika aku masih diakademi maupun ketika aku menjalani ujian. Tapi itu berbeda karena waktu itu aku masih dibantu oleh para prajurit elit. Ah, aku juga pernah melakukannya sendirian waktu di Ether. Tapi mudah saja bagiku untuk melewatinya. Kalau waktu itu bisa kenapa sekarang tidak bisa?
Kupejamkan mataku sejenak sambil menarik nafas. Ya, aku tahu situasi ini tidak memungkinkan. Tapi aku harus bisa mengatasi hal ini mengingat hanya aku saja yang sedang dalam kondisi terbaik. Cosmin sedang terluka, sedangkan Sonsane sedang mengurus Cosmin. Dengan mantap, kubuka kembali mataku. Sekarang adalah giliranku. Kugenggam erat-erat SI Spadonaku. Aku tidak mau hanya Cosmin saja yang tadi terlihat keren.
"Wild Rage!"
"Art Of Templar!"
Setelah mengeluarkan buffku, akupun langsung maju menghadapi monster jadi-jadian itu.
DASH!
"HEAH, DEATH BLOW!
DUARR!
GWAAAAAAA!
"PRESSURE BOMB!"
BLEGAARRRR!
Bagus. Setidaknya cukup banyak yang mati karena seranganku.
ZRASSSHH!
Sabetanku sukses membelah salah satu Splinter Brat yang terinfeksi. Huh, tak kusangka ternyata cukup mudah. Akupun cukup percaya diri menghadapi mereka semua.
"DASAR PENGGANGGU!"
BRUAKHH!
Baiklah sekarang adalah waktu yang tepat untuk menguji skill andalanku. Masih ada kerumunan monster diarah jam 2. Akupun berlari untuk menyerang mereka. Sekitar 1-2 monster maju menghalangiku tapi itu tidak masalah buatku. Langsung saja kuhabisi mereka.
"MINGGIR!"
SRASSHH!
Kemudian, aku melompat tinggi di udara dan langsung melancarkan jurus mautku "INFINITY SUPERFALL!"
ZRASH! ZRASH! DUARR!
"Hosh! Hosh! Selesai sudah." Kataku sambil terengah-engah. Semua berhasil kuatasi tanpa sisa.
"Slask, kau hebat sekali." Kata Sonsane memujiku.
"Bagaimana keadaan Cosmin?" tanyaku padanya.
"Bahunya mengalami luka gigitan dan untungnya tidak terlalu dalam. Tadi aku menyegel lukanya dengan sihirku karena parasit mulai menggerogoti lengannya. Yah, setidaknya parasit di bahunya tidak akan menyebar." Jelas Sonsane.
"Berarti dia harus segera diobati, ya?"
"Masalahnya kita tidak tahu jenis parasit apa yang menyerang Cosmin. Jadi kita tidak tahu obat apa yang cocok." Kata Sonsane.
"Kalau begitu ayo lekas kita bawa Cosmin ke ruang medis sebelum terlambat." Kataku sambil berjalan menghapiri teman-temanku. Namun, tiba-tiba Sonsane berteriak "SLASK, AWAS DIBELAKANGMU!"
Begitu melihat belakangku, tampak sesosok Vafer raksasa menerjangku. Aku yang sudah kelelahan hanya bisa menatap kosong kearahnya.
"DESTRUCTIVE SHOT!"
ZLEB!
GUWAAA!
"METEOR!
BUUUMMM!
Vafer raksasa yang tadi menyerangku langsung mati terkena dua serangan barusan. Kulihat ada Darko Volkovic dan Milia Aldren yang berada 500 meter didepanku.
"Tidak biasanya kau lengah, Slask. Sudah kelelahan, ya?" kata Darko Volkovic.
"Tidak, kok. Hanya kebetulan saja aku tidak mengawasi keadaan. Bisa-bisanya kau sudi menolong musuhmu ini. Ada angin apa yang membuatmu ridho menolongku?" balasku acuh tak acuh.
"Hei, aku hanya menganggapmu sebagai rivalku saja bukan sebagai musuh. Jangan kau samakan rival dengan musuh. Kalau aku menganggapmu sebagai musuhku, sudah dari dulu kau kubunuh. Paham?" katanya sok bijak.
"APA KAU BILANG?" kataku marah.
"Sudah-sudah. Kalian ini sejak masih diakademi sampai sekarang selalu saja adu argumen. Kalian 'kan bukan anak kecil lagi." Kata Milia mencoba menengahi.
"Lagian kita punya masalah yang lebih penting lagi." Tambahnya. Lalu gadis berambut cokelat itu berjalan menuju ke tanah merah.
"Hei, kau mau apa, Milia?"
.
.
Yang ditanya tidak menjawab apa-apa. Dia terus berjalan menuju tanah yang sudah berwarna merah. Sesampainya, dia merapal sebuah mantra sihir.
"HEAVEN OF AEGIS SHIELD!"
Diangkatnya tongkat sihir Milia keatas lalu menancapkannya di tanah merah tersebut. Nampak ada gambar lambang Alliance Cora yang bersinar putih kebiruan. kemudian sinar itu menghilang secara perlahan.
"Milia, tadi itu apa?" tanyaku sambil menghampirinya.
"Segel. Itu hanya untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Sifatnya hanya sementara. Tanah ini harus diteliti dulu untuk dicari tahu lebih lanjut." Jelasnya singkat.
"Begitu, ya. Ngomong-ngomong Sonsane kemana ya?" tanyaku setelah tersadar kalau Sonsane dan Cosmin sudah tidak ada.
"Sudah pergi kerumah sakit." Kata Darko.
Setelah kejadian tadi, kami bertiga kembali ke Markas Cora. Lalu bersama-sama kami pergi kerumah sakit untuk mengetahui kabar Cosmin. Sesampainya, tampak kulihat Sonsane sedang duduk diruang tunggu.
"Sonsane, bagaimana keadaan Cosmin?" tanyaku padanya.
"Dokter sudah membius Cosmin dan sekarang dia sedang tertidur. Dan seperti yang kuduga bahwa tidak ada satu obatpun yang mampu menetralkan racunnya." Jelasnya datar.
"Apa ini berarti Cosmin tidak bisa ditolong? Kasihan sekali dia?" kata Milia sambil menundukkan kepalanya.
Diluar dugaan, Sonsane tersenyum sambil berkata "Bisa. Harapan masih ada, kok. Tenang saja."
"Apa maksudmu, Sonsane?" Darko yang merasa bingung coba bertanya.
"Tadi aku sempat meminta sampel darah Cosmin yang terkontaminasi parasit. Seperti yang tadi kukatakan bahwa tidak ada penawar yang tepat untuk parasit ini. Tapi tadi aku tanpa sengaja memasukkan kerikil Hollystone dan hasilnya positif. Parasit didalamya mati. Mungkin efek dari batu Hollystone ini mampu menjadi penawar yang tepat." Kata Sonsane panjang lebar.
"Wah, tidak salah mereka selalu menjulukimu Sonsane The Analyze. Segala macam analisa dan penelitian kau memang jagonya." Pujiku untuk Sonsane.
"Kyaa. Sonsane ternyata pintar, ya." Giliran Milia yang terpesona.
Merasa menjadi orang yang paling berguna, Sonsane menepukkan dadanya sambil berkata "Kalau Cuma segini, masih belum ada apa-apanya. Asal kalian tahu saja, demi teman aku rela melakukan apa saja. Siap membantu disaat senang maupun susah. Kecuali kalau masalah duit. Maaf-maaf aja, ya."
"Oke-oke cukup pertunjukkan analisisnya. Jadi sekarang bagaimana langkah berikutnya, Sonsane?" Tanya Darko.
"Kita pergi menambang untuk mengambil ore di Crag Mine." Kata Sonsane dengan nada tak suka.
"Ya sudah. Karena kita sudah menemukan pemecahan masalahnya, maka kuanggap masalah ini sudah selesai. Sekarang ,terserah kalian mau melakukan apa. Toh, aku tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini." Ucap Darko sambil berjalan pergi.
"Mau kemana kau?" kata Sonsane.
"Aku sudah tidak ada urusan lagi dengan kalian."
"Siapa bilang? Seenaknya saja kau main pergi. Kau harus bantu aku dulu." Tukas Sonsane.
"APA? KENAPA AKU HARUS REPOT-REPOT MEMBANTUMU? BUKANNYA MASIH ADA SLASK DAN MILIA?" teriak Darko sambil menunjukku dan Milia.
"Ssttt. Jangan ribut dirumah sakit." Ucap salah satu petugas rumah sakit.
"Sederhana. Pertama, Slask sudah kelelahan habis pertempuran. Kedua, Milia wajib ada menemani Cosmin karena dia punya sihir support yang cukup membantu disaat-saat seperti ini. Ketiga, karena kulihat dirimu masih sehat wal afiat. Jadi tenagamu dibutuhkan sekarang ini. Mengerti?" jelas Sonsane.
Sambil memasang muka bete dan bingung, Darko menyerah dan berkata "Baik-baik. Apa bisa langsung kita mulai? Aku harus cepat-cepat keluar dari masalah ini."
"Tentu. Ayo kita berangkat."
Mereka pergi ke markas. Setelah menyiapkan segala kebutuhan, merekapun berangkat menuju Crag Mine untuk menambang. Aku salut kepada mereka berdua. Sonsane setelah kupikir-pikir sekarang sudah mulai berubah. Dia yang dulu agak pendiam sekarang sudah menjadi prajurit yang aktif. Entah sejak kapan dia bisa berubah menjadi pintar begini. Padahal nilai akademisnya selalu dibawahku. Menjadi seorang Specialist memang merupakan pilihan yang tepat bagi dirinya. Sedangkan Darko, dia memang suka tidak mau ikut campur urusan orang lain. Baru kali ini dia mau ikut membantu walaupun dengan rasa terpaksa. Keberhasilan misi kali ini ada ditangan mereka berdua.
"Kita beruntung ya punya teman yang siap membantu seperti mereka?" kata Milia memulai percakapan.
"Benar. Aku merasa senang dengan ini semua. Kuharap medan perang bukan menjadi halangan untuk tetap bisa bersama." Kataku membalas ucapan Milia.
"Sonsane itu sudah lama kau kenal 'kan? Dia itu awalnya seperti apa, sih?"
Sambil memejamkan mata aku mencoba mengingat memori lama tentang Sonsane. Setelah mendapatkan ingatan, aku berkata " Dia itu waktu pertama kali bertemu orangnya agak dingin. Kupikir dia adalah orang yang sangat suka sendirian atau mungkin juga kesepian. Sebenarnya aku tidak terlalu tahu juga karena kau juga tahu aku dan Sonsane beda divisi."
Lalu aku mulai bercerita awal perkenalanku dengan Sonsane.
Flashback 8 tahun yang lalu
Musim semi di akademi merupakan musimnya penerimaan calon kadet baru. Sekarang aku sudah menjadi Champion yang sekarang ini sedang duduk di kursi taman. Musim semi tahun ini sungguh merupakan musim yang terbaik. Bisa kulihat dari banyaknya bunga dari pohon Cherry Blossom yang bermekaran. Mulai dari rumah, pinggir jalan, perkotaan, di akademi, markas, dan seluruh tempat di wilayah Cora dan mungkin juga dibeberapa tempat di Novus. Warna merah muda yang terang seolah memberikan semangat baru untuk kami memulai aktivitas. Seakan ada roh yang bersemayam dipohon-pohon ini. Meskipun bunga Cherry Bloosom hanya sanggup bertahan 3 minggu saja, tapi itu tidak mengurangi kecantikkannya. Aku tidak tahu asal usul bunga ini. Setiap kutanya semua orang, kebanyakan dari mereka menjawab kalau bunga ini bukan berasal dari Novus dan katanya nama asli bungan ini adalah Sakura.
Siang ini aku sedang menikmati pemandangan sakura layaknya kebanyakan orang saat ini. Sinar Lumen tidak terlalu panas dikarenakan ini masih awal musim semi. Sembari meminum minuman herbal tea, akupun mengeluarkan gitarku dan mulai bernyanyi.
JRENG! JRENG! JRENG
"So, everything that makes me whole
Ima kimi ni sasageyou
I'm yours"
"
"Nee, konna ni waraeta koto
Umarete hajimete da yo
Kitto watashi wa ne
Kono hi no tame ni machigai darake no
Michi wo aruite kitanda
Zutto hitori de"
Ketika aku sedang asik memainkan gitar, tiba-tiba lewat seorang pria yang asik menghitung menggunakan kalkulator. Sambil berjalan, dia berkata
"Hm, sebatang rokok bisa mengurangi usia seseorang sebanyak 5 menit. Jika dikalikan sebungkus hasilnya adalah 1 jam 30 menit. Dikali setahun lalu dibagi sekian kurang lebih sekitar 22 hari terbuang dalam satu tahun."
Kemudian pria itu memejamkan sambil memegang dagunya. Setelah itu dia melanjutkan penghitungannya "Tertawa dapat memanjangkan usia sebanyak 10 menit. Jika sepuluh menit itu sehari, kalau setahun minimal adalah 3650 menit."
"Tapi, aneh juga. Hidup dan mati seseorang kok bisa dikalkulasi begini,ya? Apa mungkin kedepannya kita bisa tahu kapan kita akan mati? "
Ketika dia selesai berhitung, dia melihat kearahku yang sedang duduk memainkan gitar. Lalu iapun berkata "Oh, ada orang rupanya. Selamat siang, apa aku mengganggu waktu santaimu?"
"Ah, tidak juga. Ngomong-ngomong tadi itu apa yang kau hitung." Tanyaku padanya.
"Hanya analisa kecil. Tadi pagi aku nonton tv yang acaranya seputar penelitian baru. Dan updatenya adalah sebatang rokok ternyata bisa mengurangi usia dan tertawa dapat memanjangkan usia." Jelasnya padaku.
"Oh, gitu. Oh iya, perkenalkan namaku Slask Wizarski seorang Champion." Kataku sambil mengulurkan tangan.
"Stefano Sonsane Sansuo. Panggil saja aku Sonsane. Seorang Craftsman. Salam kenal juga, Slask." Jawab Sonsane sambil membalas uluran tanganmu.
"Sebenarnya aku pernah melihat dirimu waktu pembagian Class. Kulihat kau orang yang pendiam. Apa kau dari keluarga bangsawan ternama, Sonsane?" tanyaku padanya.
"Tidak. Aku bukan dari bangsawan elit. Aku hanya dari keluarga biasa. Ayah dan ibuku hanya pekerja serabutan biasa. Soal aku orang yang pendiam itu memang benar. Maklum aku hanyalah orang pinggiran. Jadi aku tidak berani berteman dengan orang-orang kelas atas. Tapi akhirnya aku punya teman yang mau menerimaku meskipun sama-sama dari kalangan orang biasa dan beda divisi." Jelasnya.
"Wah, pasti asik sekali, ya. Aku saja masih kesulitan mencari teman." Kataku yang merasa takjub.
"Nanti aku kenalkan dia padamu. Orangnya asik, kok. Dia punya fisik yang luar biasa tinggi. Aku yang sebenarnya pendiam saja bisa berubah menjadi heboh kalau ada dia. Hahaha."
"Wah, aku menantikan kesempatan itu. Oh iya, mulai sekarang kita juga berteman, ya?" ucapku.
"Tentu saja, Slask." Ucapnya mantap.
End Of Flashback
"itulah sedikit kisahku tentang Sonsane. Setelah itu tak lama aku juga mengenal Cosmin."
"Sonsane itu unik, ya. Dia memang pintar dan dia cocok sekali menjadi Artist." Ucap Milia dengan pipi kemerahan.
"Benar. Akupun mendukung dia sebagai support team. Dia juga bisa menjadi otak serangan sebuah tim kemampuannya dalam menganalisa." Kataku.
"Slask, apa kau lapar? Aku mau cari makan, nih. Mau nitip, gak?" Kata Milia sambil berdiri.
"Boleh. Apa saja, deh asal bisa kenyang." Kataku.
"Oke." Ujar Milia sambil berlalu pergi.
Saat yang Sama di Portal Crag Mine Alliance
"Sudah sampai, nih. Ayo kita langsung jalan saja." Kata Darko tidak sabaran.
"Kita ambil rute kanan. Kalau lurus terlalu berbahaya karena rawan Accretia."
"Oke. Kalau begitu, biar aku yang jalan didepan. Mengingat ini adalah area netral, besar kemungkinan ada trap bangsa lain yang sengaja dipasang. Terakhir bangsa kita menang war 'kan?" Tanya Darko mulai bergerak.
"Ya. Tepatnya 2 bulan yang lalu. Masih ada waktu 4 bulan untuk perang selanjutnya. Aku juga sekalian menambang untuk membuat persediaanku sendiri. Kau tidak tertarik untuk menambang?" giliran Sonsane balas Tanya.
"Jika memungkinkan aku juga ikut." Jawabnya singkat.
Mereka berdua menuruni sebuah bukit lalu mengambil jalur kanan. Sejauh ini keadaan masih aman. Sepertinya tidak ada ancaman dari Accretia maupun Bellato. Monster-monster disinipun terbilang sepi dan hanya ada beberapa saja yang terlihat yang itupun jumlahnya bisa dijitung dengan jari.
"Pintu masuknya dimana, ya?" Tanya Darko yang kebingungan.
"Menurut GPS letaknya sedikit ambil kekiri." Kata Sonsane sambil menunjuk suatu arah.
"Ah, disitu rupanya. Pintu masuknya dihalangi pohon. Ayo kita masuk."
Mereka berdua lalu masuk kepintu tersebut. Setelah itu, mereka akhirnya sampai ditempat yang cukup luas.
"Aku baru pertama kali ke area tambang. Ternyata tempatnya luas sekali, ya?" kata Darko terpana.
"Sama, om. Ini juga pertama kalinya aku kesini. Nah, pintu menuju tempat orenya ada disitu, tuh." Tukas Sonsane menunjuk arah jam 1.
Setelah menemukan pintunya, mereka pun segera berlari kesana. Namun, tiba-tiba muncul seorang pria berarmor hitam dengan hiasan ornament hijau. Pria itu Nampak membawa seorang Bellato dipundaknya. Sementara dipunggungnya terdapat dua buah pedang berwarna merah bermata ganda. Karena wajah pria itu tertutup topeng, mereka tidak dapat mengenali siapa pria itu.
Darko yang melihatnya langsung menghampiri pria itu dan berkata "Hei, siapa kau? Apa kau dari bangsa kami?"
Pria itu lalu menurunkan Bellato yang sudah tak benyawa itu ke tanah dan melepas topeng di wajahnya. Terlihat wajahnya yang masih terlihat muda dengan rambut berwarna oranye dan ada tato yang menghiasi mata kirinya.
"Sama sekali bukan."
"Lalu kau siapa dan apa keperluanmu disini?" kembali Daro bertanya.
"Namaku Velez. Apa yang kulakukan disini bukanlah urusan kalian." Katanya sengit sambil menarik dua pedangnya bersiap untuk tempur. Nampak pedangnya mengeluarkan aura merah menyala. Begitu juga dengan armornya yang mengeluarkan aura kehijau-hijauan. Sepertinya dia adalah lawan yang tangguh.
"Heh, aku tanya baik-baik jawabnya juga baik-baik, dong. Mau kupukul, ya?"
Pria yang bernama Velez itu tersenyum sinis menatap Darko lalu iapun berkata "Memangnya kau bisa, hah?"
"Heh, kau tidak tahu siapa aku? Mau kuberitahu, gak?" kata Darko setengah sombong.
"Memang kau siapa?" balas Velez.
"Kenalin namaku Darko Volkovic. Aku adalah juara 7 kali beladiri nasional Cora. Mereka yang menghadapiku hanya sanggup bertahan yeah paling lama 4 ronde saja. So, tentu saja aku bisa menonjok wajah songongmu itu. Ga ada yang boleh lebih songong dariku. Paham?" ucap Darko yang mulai pamer.
"Beladiri? Menarik. Kalau begitu ayo kita bersenang-senang." Ujar Velez memasang kuda-kuda.
"Kapanpun kau mau!" kata Darko sambil mengeluarkan 2 buah Intense Throwing Beam Cutternya.
Sudah menjadi ciri-ciri Darko kalau dia memang menjadikan pisau lemparnya sebagai senjata jarak dekat. Setelah saling mengeluarkan senjata andalannya, mereka mengaktifkan skill-skill buffnya.
"Aura Barrier! Intense Blade! Soul Blade! Mirage Step! Precission!"
"Evasion! Blink Illusion! Precission! Speed Load! Untouchable!" Darko tidak mau kalah.
"Sonsane, kau langsung pergi menambang saja. Orang ini biar aku yang hadapi. Kalau kau sudah selesai, silahkan pulang duluan. Utamakan keselamatan Cosmin." Pesan Darko kepada Sonsane.
"Oke. Jaga dirimu, Darko." Ujar Sonsane sambil berjalan masuk area tambang.
"Cih, tidak perlu sok mengkhawatirkanku." Kata Darko dengan nada pelan.
Dan mereka pun mulai bertarung.
DASH!
"HEAH. RASAKAN INI. THRUST!"
TRANG!
Serangan Darko berhasil ditahan oleh Velez. Lalu Velez ganti menyerang.
"HASING DANCE!"
WUNG! WUNG! WUNG!
TRANG! TRANG! TRANG!
Darko mencoba mengatur jarak dari Velez dengan cara menjauh.
"Trikmu mudah kubaca."
DASH! Velez bergerak dengan cepat mengejar Darko. Begitu berhasil mendekat, Velez kembali mengeluarkan jurusnya.
"BLADE SCUD!"
Sebuah serangan kilat yang mengandalkan kecepatan dan kelenturan tubuh berhasil mengenai Darko dengan telak.
"ARRGGHH!" Darko pun terhempas ketanah.
"Cuma segitu saja kemampuanmu? Ternyata hanya omonganmu saja yang besar tetapi kemampuan tidak ada. Payah!"
Tapi diluar dugaan Darko tersenyum. Velez yang merasa tidak mengerti lalu berkata "Kenapa kau tersenyum? Apa karena dampak dari seranganku sudah membuatmu menjadi gila?"
"Sam..ping..mu!"
"Apa?"
BUKK! Sebuah pukulan sukses mengenai pipinya. Rupanya ada Darko lain disamping Velez.
"Yang kau hajar tadi hanyalah ilusiku saja. Inilah kemampuan Stealer. Permainan Illusi."
Setelah berkata, Darko berlari menyerang Velez namaun kali ini dengan tangan kosong. Kemudian dia melompat keudara lalu melancarkan tendangannya.
"SPINNING KICK!"
BUAGHH!
"Kuberitahu kau kalau yang tadi itu adalah tendangan. Dan iniā¦"
WUSSHH!
"HAMMER PUNCH!"
DUAGHH!
"Baru namanya pukulan." Kata Darko menyambung perkataanya.
Semua serangan Darko sukses mengenai Velez. Membuat Velez jatuh tersungkur.
"huhuhuHAHAHAHAHAHAHHAHHA. HEBAT, HEBAT. BARU KALI INI ADA ORANG NOVUS YANG BISA MENYENTUHKU." Kata Velez sambil bangkit berdiri.
"Apa yang tadi itu jurus andalanmu?" Tanya Velez kembali.
"Tidak juga, sih." Jawab Darko sambil bersiap menghadapi lawannya.
"Kau bilang tadi Stealer jagonya illusi. Berarti kau lawan yang cocok buatku."
"Apa maksudmu?" Tanya Darko.
"Akan kutunjukkan 2 buah skill andalanku."
Tiba-tiba nampak ada aura putih yang keluar dari tubuhnya.
"BATTLE AURA. WIND AURA!"
Lalu dia mengayunkan kedua pedangnya dan lompat keudara.
"BATTLE MODE 1. ILLUSIONIST!"
Kemudian dia berkata "Nah, ayo serang aku dari mana saja."
"Kalau itu maumu. HEAHHH!"
SYUTT! Diluar dugaan, gerakan Velez menjadi jauh lebih cepat. "Aku disini." Velez tiba-tiba muncul dibelakang Darko. "Vital Interferre!"
BUGHHH! Serangannya sukses mengenai perut Darko. Merasa belum kalah, Darko mencoba bala menyerangnya.
"HAMMERR PUNCH!"
SYUTT! Sayang serangannya gagal mengenai Velez. "Huh, dasar lamban." Kemudian dia balas menyerang. "LIGHTNING SLASH!"
SLASH! TRANG! SLASH! BOOOMMM!
Darko hanya sanggup menahan satu serangan. "Sial, kalau begini terus aku bisa kalah."
"Tidak ada waktu untuk menggerutu, Cora. Sekarang, sudah waktunya pertarungan ini kuakhiri." Setelah berkata, Velez langsung memusatkan seluruh force di kedua pedangnya.
"Sayonara, Stealer. SLASH OF ILLUSION!" Velez mengayunkan kedua pedangnya kea rah Darko. Tampak muncul beberapa bayangan illusi datang untuk menghabisinya.
ZRASHHH! ZRASHH! ZRASHH!
Pertarungan usai. Darko kalah telak. Meskipun ia mengklaim dirinya hebat dalam beladiri, tapi dia masih hijau dalam pertarungan senjata. Pertarungan tadi jelas menggambarkan perbedaan yang teramat signifikan. Meski kata Velez Darko adalah orang pertama yang berhasil menghajarnya di Novus, toh kalah tetaplah kalah.
Setelah pertarungan tadi, Velez kembali mengangkat mayat bellato yang tadi dibawanya. Setelah itu, diapun beranjak pergi dalam kegelapan. Meninggalkan Darko yang tadi dikalahkannya.
Setelah Kepergian Velez, Darko membuka matanya. Setelah berhasil berdiri dia berkata "Sial. Rupanya dia sangat kuat. Untung saja saat-saat terakhir aku sempat menggunakan Dead Illusion."
Ditengah Tambang
"2 jam kurasa sudah cukup. Persediaan ore disini tinggal sedikit tapi mungkin masih cukup untuk 3 bulan kedepan."
Sonsane yang daritadi sedang menambang tampak lelah. Namun, usahanya telah berhasil. Tinggal langkah terakhir yang harus dikerjakannya. Membuat penawar untuk Cosmin sahabatnya. Namun, mata Sonsane melihat sesuatu.
"Hmm, apa itu?" lalu iapun menghampiri benda itu. Setelah dilihat, benda itu ternyata sebuah pedang berwarna hijau bermata tunggal.
"Pedang apa ini. Aku belum pernah melihatnya. Ah lebih baik kumasukkan dulu saja deh. Nanti biar kuteliti lebih lanjut" kata Sonsane sambil memasukkan pedangnya ke dalam inventory. Tiba-tiba dari arah pintu masuk, datang Darko dengan kondisi babak belur.
"Yo, Sonsane. Bagaimana hasilnya?"
"Aku berhasil menambang banyak ore. Kurasa segini sudah cukup. Kau sendiri bagaimana pertarunganmu tadi?" kata Sonsane balik Tanya.
"Aku kalah telak. Tak kusangka dia begitu kuat. Bahkan aku haru memakai skill Dead Illusionku. Untung saja dia tidak mengecek apakah aku sudah tewas atau belum." Jelas Darko.
"Begitu, ya? Kalau begitu kita pulang saja, yuk. Kita masih harus memproses ore-ore yang kudapat ini. Setelah itu kita buat penawar racunnya." Ajak Sonsane.
"Kau masih punya Portal Markas? Aku tadi lupa membawanya."
"Tenang saja. Aku ada banyak, kok. Nih kuberi satu untukmu." Kata Sonsane sambil memberikan Scrollnya.
Lalu mereka berdua pulang ke markas menggunakan Scroll Cora HQ.
To Be Continued
(Hey , I just think of you as a rival rather than as an enemy . Do not identify with the enemy rivals. Quotes bye : Darko Volkovic in Chapter 6)
