Chapter 7 : Mission Success And Next Mission
Markas Cora
Sonsane dan Darko sampai di markas. Mereka berdua berjalan menuju rumah sakit untuk memastikan kondisi Cosmin. Setelah sampai mereka melihat Slask dan Milia kelihatan sedang makan bersama. Melihat pemandangan itu, Sonsane nyeletuk
"Woi, enak bener kalian berdua berpacaran!"
Slask yang kaget mendengar perkataan Sonsane balas berkata "Apa, sih? Kami hanya sedang mengisi perut saja. Tidak lebih, kok!"
"Eh, ngomong-ngomong bagaimana nambangnya? Apa kau sudah mendapatkan mineral yang kau cari?" kembali Slask bertanya.
"Tenang. Semua yang kucari sudah kudapat. Aku hanya tinggal memproses ore-ore yang kudapat." Kata Sonsane.
"Tapi sebelum itu aku harus mengecek kondisi Cosmin dulu. Sihir yang menyegel lukanya tidak akan bertahan lebih lama lagi." Tambah Sonsane sambil membuka pintu untuk masuk ke dalam ruang rawat Cosmin.
"Aku percayakan keselamatan Cosmin padamu, Sonsane." Kataku memberi semangat.
Sonsane pun menutup pintu. Sembari menunggu, aku yang sudah menghabiskan makananku lalu membuang sampahnya ke tempat sampah terdekat. Setelah membuang sampah aku kembali duduk di ruang tunggu.
"Milia, kau punya air minum tidak? Tenggorokanku seret sekali, nih." Kataku.
"Ada." Jawabnya sambil merogoh inventorynya. Setelah itu, Milia memberikan air mineralnya kepadaku
"Ini. Kau habiskan saja semuanya." Kata Milia sembari memberikan air minumnya padaku. Sesuai permintaanya, akupun menghabiskan satu botol air mineral tersebut.
Gluk! Gluk! Gluk! "Ahh, leganya."
"Bagaimana? Makanannya enak, gak?" tanya Milia dengan ekspresi manisnya.
"Mantap sekali. Pasti mahal, ya?"
"Ah, tidak kok." Kata Milia.
Darko yang dari tadi merasa dilupakan langsung angkat bicara.
"Hei, kalian berdua. Apa kalian sadar kalau ada aku disini? Aku juga membantu Sonsane pergi ke Crag Mine, tahu!"
"Heh, aku tidak ingat ada kau disini. Habis aku tidak merasakan hawa keberadaanmu, sih." Kataku dengan ekspresi yang dibuat-buat.
"APA KAU BILANG? AKU SUSAH PAYAH MEMBANTU KALIAN SAMPAI KEADAANKU SEPERTI INI TAPI APA YANG KUDAPAT? SEPERTI INIKAH RASA TERIMA KASIHMU PADAKU?" kata Darko sambil marah-marah gak jelas.
"Hoh, jadi kau ingin dipuji layaknya seorang pahlawan, ya? Kau harus mati dulu baru layak disebut pahlawan. Itu juga kalau pemimpin bangsa sudi memberikanmu gelar pahlawan." Ucapku sinis sambil berdiri meladeni Darko.
Merasa tersinggung dengan ucapanku, Darko tanpa pikir panjang langsung melayangkan tendangannya kearahku.
"MAKAN NIH PAHLAWAN!"
BUAGH!
Tapi untung saja aku sigap menangkis tendangannya. Aku lihat ada sela terbuka untuk membalas perlakuanya. Aku balas tendangannya tadi dengan pukulanku yang mengarah ke kepalanya.
"Nih, kau makan juga."
WHUSSS!
Sial, rupanya dengan mudahnya ia berhasil mengelak dari pukulanku. Lalu ia menangkap tanganku dan bersiap melakukan tendangan lutut.
"MASIH TERLALU CEPAT SERIBU TAHUN UNTUK BISA MENGALAHKANKU. AKAN KUBUAT RAHANGMU HANCUR, SLASK!"
Celaka. Rahangku menjadi incarannya. Aku yang dalam kondisi fatal ini tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika lutut Darko hampir mengenai rahangku, tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menangkis lututnya.
GREPPP!
"Apa?" kata Darko terkejut.
Dan pemilik tangan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Milia Aldren. Hebat, kuat sekali tangannya. Aku saja pasti akan kesakitan jika mencoba menangkis lutut Darko. Milia yang tidak suka sikap Darko yang sembarangan itu lalu menaangkap leher Darko dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Apa kau sadar saat ini kau berhadapan dengan siapa? Apa kau sadar atas sikap dan perbuatanmu itu? Apa kau tahu saat ini kau sedang berada dimana?" kata Milia dengan ekspressi dingin. Entah kenapa, rasanya ada aura mengerikan yang memenuhi area.
Gila, baru kali ini aku melihat sisi lain dari Milia. Dia yang kukira awalnya hanya gadis baik-baik rupanya bisa menjadi monster yang mengerikan. Terlebih, dia sanggup mengangkat Darko yang bertinggi 203 cm itu. Orang-orang yang tadinya hanya luntang-lantung di rumah sakit tampak mengerubungi area ruang tunggu karena takjub melihat pemandangan ini.
"UGH…OHOK-OHOK..SI..AL. LEPASKAN..AKU..WOI!" ucapnya kepayahan.
"Kalau itu maumu!" kembali dia berkata dengan nada datar.
Setelah berkata seperti itu, Milia melompat tinggi dan dihantamkannya Darko di atas salah satu meja ruang tunggu rumah sakit.
BRUAGHH! "ARRGHHH!" Teriak Darko dengan miris dan diapun langsung pingsan. Meja itupun hancur berkeping-keping. Setelah melakukan perbuatan tersebut, Milia berjalan kearah meja resepsionis. Sesampainya disana, Milia menulis sesuatu di selembar kertas. Lalu iapun berkata
"Tagihannya atas kerusakkannya mejanya kirimkan saja ke alamat ini. Aku yang akan bertanggung jawab sepenuhnya. Saya minta maaf atas keributan barusan" Ujarnya sambil menundukkan kepala dan memberikan selembar kertas tadi resepsionis.
Aku yang melihat kejadian barusan hanya bisa terdiam tidak mengerti. Mungkin kedepannya aku tidak mau mencari masalah dengannya kalau aku masih sayang nyawa. Lalu Sonsane yang tiba-tiba muncul dibelakangku kaget melihat tempat ruang tunggu pasien menjadi seperti kapal pecah ini.
"Wah-wah ada apa, nih? Apa ada maling ketangkep dirumah sakit?" tanya Sonsane.
"Bukan. Kalau kau ingin tahu sebabnya silahkan kau tanya ke wanita yang berdiri disana itu." Jawabku sambil menunjuk ke arah Milia. Yang ditunjuk langsung berjalan kearah kami berdua. Sonsane yang ingin tahu tentang semua ini baertanya kepada Milia.
"Ada apa, sih?"
"Darko kecelakaan." Kata Milia polos sambil menunjuk kearah Darko.
"Gimana ceritanya?"
"Haahh, dia susah dibilangin, sih. Jadinya kecelakaan, deh!"
Sonsane kelihatan tidak mengerti dengan penjelasan Milia. Aku yang berdiri disampingnya merasa ogah untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Akupun teringat akan Cosmin dan bertanya ke Sonsane.
"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Cosmin? Apa obat buatanmu manjur?"
"Hmm? Aku saja belum membuat obatnya? Bagaimana mau mengobati Cosmin?" jawabnya enteng.
"Jadi, dari tadi kau masih belum melakukan apa-apa?" kataku kaget.
"Kau ini bodoh, ya? Obat yang mau kuracik ini bahannya dari mineral ore yang harus diproses dulu. Disini 'kan rumah sakit. Mana ada mesin pengolah ore." Kata Sonsane sambil mengelengkan kepalanya.
Aku hanya bisa ngedumel dalam hati saja mendengar penjelasan Sonsane. Sungguh, aku baru sadar kalau Sonsane pun bisa menjadi sangat menyebalkan seperti ini. Kemudian dia kembali berkata
"Tadi aku hanya menengok Cosmin saja. Setelah ini, aku akan langsung memproses orenya dan membuat obat penawarnya. Tapi aku minta tolong pada kalian berdua."
"Apa itu?" kataku dan Milia bersamaan.
"Kalian pergilah ke Hunter Cave tempat dimana parasit itu mewabah. Walaupun tanah merah disana tidak menyebar, tapi kuminta awasi saja jangan sampai ada yang mendekat. Kalau ada monster kalian bunuh saja. Itu saja pesanku." Ujar Sonsane.
"Kami mengerti. Kau juga berjuanglah. Tolong Cosmin agar dia selamat dan bisa berkumpul lagi." Kata Milia. Sonsane mengangguk tanda mengerti. Lalu Sonsane berkata "Baiklah. Kalau begitu kita mulai saja operasi ini. Oh iya, Darko yang disana biar aku yang urus saja."
Kamipun bergerak sesuai jobdesk masing-masing. Aku dan Milia bergerak menuju Hunter Cave untuk berjaga-jaga. Seperti yang kuduga, tanah disana masih berwarna merah darah. Tapi tempat ini sudah sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang kulihat bahkan monsterpun tidak ada.
"Milia, jam berapa sekarang?" tanyaku.
"Jam setengah tujuh malam. Ada apa?" jawab Milia sekaligus balas bertanya.
"Heaven Of Aegis Shield milikmu bisa bertahan berapa lama?"
"Batasnya kurang lebih jam 12 malam ini." Jawabnya sambil melihat jam tangan.
Setelah Milia menjawab, kami berdua saling berdiam diri. Sebenarnya aku bingung mau berbicara tentang apa. Entah kenapa rasanya aku jadi mati kutu begini. Biasanya jika bersama Sonsane dan Cosmin gampang saja untuk mencari topik pembicaraan. Biasanya juga aku sering mengobrol dengan Milia waktu di akademi. Tapi kenapa sekarang jadi kaku begini. Apa karena kami sedang berduaan. Laki-laki dan perempuan ditempat yang sepi. Aku jadi teringat perkataan Sonsane tadi bahwa kami berdua disangka berpacaran. 'Ahh, apa sih yang sedang kupikirkan?'
30 menit kurasa sudah terlewat. Terasa lama sekali waktu berjalan jika tidak melakukan apa-apa. Lebih baik aku mencoba untuk mengobrol dengannya.
"Milia, soal tadi terima kasih, ya kau sudah menyelamatkanku." Kataku memulai pembicaraan.
"Hmm? Oh yang tadi, ya? Sama-sama, Slask. Aku juga benci dengan Darko. Habisnya dia suka main pukul sembarangan, sih. Mentang-mentang dirinya jagoan beladiri seenaknya saja dia bertindak semene-mena begitu." Kata Milia.
"Ngomong-ngomong waktu ujian praktek kelulusan kamu mendapat misi apa?" kataku bertanya.
"Aku bersama Celica mendapat misi di Elan yaitu mendapatkan sayap Draco."
"Elan? Disana kan tempat yang masih alami, buas dan berbahaya. Tentu saja itu bukan misi yang cocok untuk kadet macam kita. Resikonya terlalu besar." Ucapku tidak percaya.
"Memang. Tapi waktu itu kami dibantu seorang ketua guild kehormatan. Asal kau tahu saja tadinya aku mau diusulkan ke Ether untuk mencari Etheron bersama Batalyon Anlcaime Sada." Jelasnya.
"Etheron? Sepertinya aku pernah dengar. Tunggu dulu bukannya itu lebih berbahaya lagi. Kok kadet seperti kamu bisa-bisanya diusulkan dapat misi level SS itu?" kembali aku bertanya.
Kemudian dia mengeluarkan ponsel lipat miliknya dan menunjukkan sesuatu padaku. Rupanya itu adalah Report Nilai miliknya. Dan setelah kubaca aku kaget kalau ternyata nilai yang didapat semasa masih diakademi jauh diatas rata-rata alias mendekati sempurna. Memang kudengar katanya klan Aldren itu klan yang terlahir dengan bakat Spiritualist yang luar biasa. Jadi tidak heran kalau dia mendapatkan nilai tinggi dan mendapat rekomendasi misi level SS. Bahkan nilaiku saja jika digabung dengan Cosmin dan Sonsane pun masih tidak ada apa-apanya.
"Sekarang kau sudah tahu alasannya 'kan, Slask Wizarski?" tanyanya sambil menunjukkan senyum.
"Ah, iya. Oh, ngomong-ngomong ketua guild yang kau maksud itu siapa?"
"Black Knight Chamtalion Mirai Kasanic. Salah satu murid Anclaime Sada." Jawabnya.
Sejenak aku berpikir tentang Kasanic. Ah, aku ingat. Dia adalah ketua guild Black Hawk. Usianya hanya setahun lebih tua dariku. Rumor terbaru kabarnya dia diusulkan untuk mengisi posisi wakil Archon yang saat ini sedang lowong pasca hilangya Warchon Krakow. Saingannya kalau tidak salah adalah Templar Knight Chamatlion Nikola Yugovic dari guild Vhite Vojnici yang sama-sama dicalonkan mengisi posisi Warchon. Mereka berdua memang luar biasa. Mereka mampu meraih pangkat Chamtalion dalam usia 20 tahun. Meski begitu, mereka bukanlah orang pertama yang berhasil meraih pangkat tertinggi dalam usia muda. Contohnya Dain ibu dari Giz Kadasha meraih Chamtalion di usia 15 tahun atau Carina Fairlady Artemis di usia 19 tahun. Tapi itu sudah puluhan tahun yang lalu. Di era millenium ini mereka berdualah yang pantas mendapat gelar Chamtalion termuda.
"Kau sendiri mendapat misi apa?" giliran Milia yang bertanya.
"Mengumpulkan Calliana Diamond Necklace sebanyak 50 buah di Ether." Jawabku.
"Hmm, berarti berbarengan dong dengan batalyon Anclaime Sada yang juga sedang misi di Ether?"
"Memang benar. Tapi aku tidak meminta bantuan dia. Aku menjalankannya seorang diri."
"Oh, begitu. Ngomong-ngomong Sonsane lama sekali, nih. Kakiku sudah lelah berdiri terus." Ujar Milia.
"Kau istirahat dulu saja. Bisar aku yang berjaga. Toh sekarang ini sedang sepi." Kataku sambil meyuruh. Milia pun duduk sambil senderan disalah satu pohon.
Sementara itu di Markas Cora
Sonsane yang sedang memproses ore tampak cemas dikarenakan 3 jam lagi efek sihir penangkal racun yang diberikan ke Cosmin akan segera habis. Darko yang mendampingi Sonsane nampak bingung dan berkata "Tenang, Sonsane. Masih ada waktu, kok?"
"Tidak bisa. Efek penangkal akan habis setelah 3 jam. Untuk membuat penawarnya membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Selain itu, tidak sembarang ore bisa dipakai sebagai penawar."
"Memangnya ore apa yang kau butuhkan?" tanya Darko.
"Maaf sebenarnya bukan orenya tapi hasil pengolahan orenya itu yang penting. Tidak semuanya bisa dipakai. Satu bahan lagi susah sekali untuk didapat. Dari tadi gak dapet-dapet." Keluh Sonsane.
Namun, apa lacur. Semua ore-orenya sudah habis dan Sonsane masih belum mendapatkan item yang dibutuhkannya.
"ARHH TIDAK! ORE-OREKU SUDAH TIDAK BERSISA LAGI! APA YANG HARUS KULAKUKAN? MASA PERGI MENAMBANG LAGI? TIDAK AKAN SEMPAT!" teriaknya putus asa. Beberapa prajurit lain yang kebetulan lewat nampak bingung bin heran dengan kelakuan Sonne.
"Hei-hei, tenang dulu. Kita pikirkan dengan kepala dingin. Siapa tahu kita bisa cari jalan keluar." Kata Darko memberi nasihat.
Sonsane mulai tenang. Kini dia menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu, ia berkata "Benar-benar. Kita harus tenang. Begini, oreku sekarang sudah habis dan aku masih membutuhkan satu item lagi. Ya, minimal satu biji, deh.''
"Item apa yang kau maksud?" tanya Darko.
"Holymental Wave. Ya, itulah nama item tersebut." Jawab Sonsane.
"Tunggu dulu. Kalau tidak salah Holymental Wave didapat dari ore grade 4 'kan? Dan ore grade 4 Cuma bisa didapat dari proses rare ore 'kan? Tapi itu juga untung-untungan 'kan?" kata Darko meminta kepastian.
Mendengar perkataan Darko, Sonsane pun memejamkan matanya sambil berpikir. Setelah teringat sesuatu, dia berkata "Oh iya, benar. Holymental Wave Cuma bisa didapat dari rare ore atau Pitt Boss. Tapi apa kau punya rare ore? Stok milikku sudah lama habis."
"Sebentar biar kucek dibank dulu." Kata Darko sambil pergi menuju bank.
"Kalau kau memang punya , sekalian saja kau proses." Pesan Sonsane.
Tidak lama kemudian, Darko kembali sambil membawa ore+4. Rupanya Darko cuma punya 2 slot rare ore dan setelah diproses ternyata cuma dapat 30 pieces ore+4. Darko memberikan orenya kepada Sonsane untuk diproses lagi.
"30 buah, ya? Kuharap jumlah ini cukup?" ujar Sonsane. Lalu Sonsane memberikan ore+4 itu ke petugas pengolah ore. Setelah membayar biaya, ore langsung diproses. Sonsane dan Darko menunggu dengan harap-harap cemas. Semoga saja sukses. Kalau gagal entah apa lagi yang bisa mereka perbuat. 15 menit kemudian, hasil pemrosesan keluar.
''Yes, akhirnya kita dapat juga. Dengan ini kita bisa langsung memulai eksperimen di meja kerjaku." Kata Sonsane semangat.
"Syukurlah kalau begitu. Ayo kita bekerja. Oh iya, ore dariku tadi itu gratis, lho.'' Kata Darko.
"Tenang saja. Akan kuberikan kau hadiah yang pas." Jamin Sonsane.
Dua jam adalah waktu yang dibutuhkan Sonsane untuk membuat obat penawar. Dan tidak terasa waktu dua jam itu telah berlalu. Saat Sonsane mau melakukan uji coba, ia meminta Darko untuk keluar dari ruangannya. Dan tak lama kemudian, Sonsane keluar.
"Uji coba sukses!" kata Sonsane sambil mengacungkan jempol.
"Bagus. Jadi, bisa kita ke rumah sakit sekarang?" Tanya Darko.
"Harus. Karena waktu kita sudah hampir habis. Jika lewat, parasit ditubuh Cosmin akan menyebar dan merubahnya monster jenis tumbuhan." Jelas Sonsane sambil berjalan pergi. Darko pun mengikuti dari belakang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.20 waktu novus. Sonsane dan Darko sampai dirumah sakit. Setelah mendapat izin dari dokter, Sonsane masuk ke ruang tempat Cosmin dirawat. Sementara itu, Darko memilih untuk duduk di ruang tunggu dekat meja resepsionis. Sembari menunggu, Darko teringat akan kejadian tadi sore. Ya, ditempat inilah dirinya dibanting oleh Milia.
"Aduduh. Sial, sakit punggungku masih belum hilang. Kok bisa-bisanya Milia membatingku? Padahal dia itu perempuan. Baru kali ini ada perempuan yang bisa menjatuhkanku." Keluh Darko.
Tidak lama, Sonsane keluar dari ruang perawatan. Darko yang melihatnya coba bertanya "Bagaimana hasilnya?"
"Operasinya berjalan sukses. Jika tidak ada halangan, besok pagi dia sudah sembuh. Sekarang ayo kita pergi menuju Hunter Cave tempat dimana parasit itu mewabah." Ajak Sonsane sambil keluar dari rumah sakit.
"oke.''
Hunter Cave
Hamper tiga jam aku dan Milia menunggu Sonsane disini. Saat ini, Milia sedang tertidur di sebatang pohon. Waktunya sudah hampir habis. Segel yang dibuat Milia durasinya tidak akan lama lagi. Sonsane dan Darko masih belum dating. Aku jadi khawatir apakah eksperimennya gagal? Ah, tidak. Bagaimanapun aku harus tetap optimis. Aku yakin Sonsane dan Darko pasti akan datang.
Tapi dari kejauhan aku melihat ada dua orang yang sedang berlari kesini. Tidak salah lagi, itu adalah mereka. Jika mereka datang, pasti eksperimennya berhasil. Segera aku membangunkan Milia dari tidurnya.
Kluk! Kluk!
"Milia, bangun. Sonsane dan Darko sudah datang." Ucapku sambil menggoyangkan tubuh Milia.
"Uhm..uhm." Milia pun terbangun dan membuka matanya.
"Slask, Milia kami datang!" ujar Darko setengah berteriak. Milia yang sudah terbangun segera berdiri untuk menyambut mereka.
"Sonsane, bagaimana penawarnya?" Tanya Milia setelah Sonsane sampai.
"Cosmin sudah ditangani. Sekarang yang terakhirnya adalah ini." Kata Sonsane sambil mengeluarkan sebuah botol berukuran 2 liter dari inventorynya. Isinya adalah cairan berwarna biru muda.
"Cairan apa itu?" tanyaku.
"ini penawarnya hasil buatanku. Sekarang kita tinggal menyiramkan air ini ke tanah merah. Slask, kupercayakan ini padamu." Kata Sonsane sambil menyerahkan botol cairan itu.
Kuterima botol itu dan aku langsung menyiramkan air itu ke tanah merah. Setelah habis, aku mengembalikan botol itu ke Sonsane.
"Berapa lama ini akan pulih seperti semula?" tanyaku.
"paling cepat besok pagi." Jawabnya.
Setelah itu, kamipun langsung kembali ke markas. Sesampainya disana, aku memutuskan untuk pergi ke Istana Haram untuk mengecek lelanganku, sementara itu Milia memutuskan untuk kembali kerumahnya. Darko dan Sonsane masih bersama-sama di markas.
"Oke, sesuai janjiku. Ini kuberikan kau hadiah karena telah membantuku." Kata Sonsane sambil memberikan sebuah kotak.
"Apa ini?" Tanya Darko sambil menerima kotak itu.
"Kau buka saja kalau penasaran. Yang pasti kau tidak akan menyesal, deh. Sudah ya. Aku mau pulang dulu. Aku mau istirahat." Jawab Sonsane sambil membalikkan badan bersiap untuk pulang.
"Hati-hati dijalan." Darko langsung membuka kotak yang dikasih Sonsane. Setelah membukanya, dia takjub akan isinya. Didalam kotak itu ada sepasang pisau kembar berbentuk trisula yang mana bagian mata tengahnya lebih panjang dari mata kiri-kananya. Ada juga satu slot pisau lempar yang berbentuk hampir sama hanya bedanya pisau lempar itu berbentuk tunggal bukan trisula.
Sambil bersiul kegirangan dia berkata "Wow, menarik sekali. Senjata ini sangat cocok dengan gaya bertarungku." Kemudian Darko mengambil sepasang pisau itu. Tapi dia melihat ada secarik kertas yang ada tulisannya. Ia mulai membaca isi dari surat itu.
'Ini hadiah dariku. Kubuatkan khusus untukmu dari sisa-sisa ore yang kuolah. Pisau kembar itu kuberi nama Marlin 001C, sedang yang pisau lemparnya keberi nama Piranha MC-50. Tapi kau boleh memberi nama apa saja yang kau mau. Terima kasih karena sudah membantuku.'
Salam
Stefano Sonsane Sansuo
"Sonsane. Tidak perlulah. Nama itu sangat cocok, kok." Gumamnya sambil memasukkan hadiah itu ke inventorynya.
Istana Haram
Malam pukul 10.30 ini aku sedang mengecek mesin lelang. Aku mulai mengakses menu jual. Setelah kutemukan namaku, aku klik dan bisa kulihat kalau semua jualanku sudah ludes terjual. Hebat, dalam semalam ini aku bisa menjadi orang kaya. Aku menekan tombol konfirmasi dan muncul pesan yang mana adalah menu pengambilan uangnya. Ada 2 pilihan. Pertama mengambil uang secara tunai langsung dari mesin lelangnya dan yang kedua mentransfer uang penjualannya ke rekening bank. Aku memilih opsi nomor 2 karena lebih simple dan tidak repot harus membawa uang dalam jumlah banyak. Setelah selesai akupun langsung membalikkan badan untuk beranjak pergi.
"Taralom Slask Wizarski." Tiba-tiba ada orang yang memanggil namaku. Akupun menengok kebelakang untuk melihat orang yang memanggilku. Ternyata yang memanggilku adalah Chamtalion Mirai Kasanic.
"Ya. Ada apa, ya?" tanyaku padanya.
"Apakah besok kau sibuk?" katanya balas bertanya.
"Tidak, sih. Memangnya kenapa?"
"Begini besok kau kuminta untuk bantu berjaga di Istana Haram. Saat ini kami kekurangan orang." Ujar pria berambut merah itu.
"Boleh. Hanya menjadi penjaga saja 'kan?"
Kasanic menggelengkan kepalanya dan berkata "Kemungkinan bukan penjagaan biasa. Ada info belakangan wilayah kita sering mendapat serangan misterius. Kami masih belum tahu siapa pelakunya. Tapi menurut saksi mata pelakunya adalah Turncoat. Kami takut ini ada hubungannya dengan kasus penculikkan tuan Wakil Archon."
"Baik, Chamtalion. Saya bersedia ditugaskan." Jawabku mantap.
"Terima kasih. Oh iya, kalau bisa kau bawa juga teman-temanmu. Terserah kau punya berapa teman. Aku tidak memandang dia itu siapa atau jobnya apa. Yang penting dia mau dan tenaganya bisa dipakai. Itu saja pesan saya, Taralom." Pinta Kasanic.
"Baik. Saya akan mengirimkan pesan singkat ke teman-teman saya. Kalau begitu saya mohon pamit dulu." Kata meminta diri. Chamtalion Kasanic mengangguk tanda mempersilahkan.
Sambil berjalan menuju rumah, aku mengirim e-mail keteman-temanku termasuk Cosmin. Besok kami akan mendapat tugas yang sebenarnya. Mungkin juga besok adalah perang pertama untukku juga teman-temanku.
Semuanya, ayo kita berjuang.
To Be Continued
(Do you realise who is it you're dealing with this time? Are you aware of your bad attitude and what you've done? Are you aware of where the hell you are right now? Quotes From : Milia Aldren In Chapter 7)
Special Info
Pangkat Nevarethian : Hippotoxotes Hyparchos Hoplite Lochagos Tagmatarkhis Syntagmatarkhis Taxiarhos Stratigos.
New Character
Mirai Kasanic : Chamtalion termuda saat ini. Usia 20 tahun. Berambut merah model Mohawk. Pemimpin guild Black Hawk. Job Black Knight.
Nikola Yugovic : Chamtalion termuda kedua setelah Kasanic. Berambut hitam model Spike. Merupakan saingan dari Kasanic. Pemimpin guild Vhite Vojnici. Job Templar Knight.
Novaya Celica : Teman dekat Milia. Gadis berambut perak berjob Adventurer. Sama-sama benci Darko Volkovic. Lebih pendiam dari Sonsane. Akan muncul dichapter berikutnya.
Sutjeska Leana : Nevarethian berpangkat Stratigos. Job Wizard. Usia sekitar 32 tahun tapi masih terlihat sangat muda.
Velez Mostar : Nevarethian berpangkat Taxiarhos alias dibawah Stratigos. Usia 31 tahun meski terlihat muda. Job Blader.
Akhirnya Chapter 7 Under Attack berhasil dibuat. Kalau dipikir-pikir di Chapter 6 dan 7 perannya lebih banyak diambil oleh Sonsane daripada Slask. Tapi tidak apa-apa. Ada kalanya tokoh pendamping lebih hebat daripada tokoh utama. Untuk senjata baru Darko yang berupa dual knife, saya terinspirasi dari senjatanya Lake Karya . Hanya bedanya senjata Darko lebih pendek karena model knife. Untuk modelnya sendiri mirip dengan senjatanya Shijou Rikiya dari Visual Novel Koiken Otome. Nama senjata Marlin diambil dari sejenis ikan laut dan kode 001C adalah kode toko tempat saya bekerja. Satu senjata lagi yakni Piranha juga diambil dari nama ikan air tawar dan kode MC-50 adalah kode toko tempat saya dimutasi.
Satu lagi guild Nikola Yugovic adalah Vhite Vojnici artinya adalah Prajurit Putih diambil dari bahasa Serbia. Sekian sedikit informasi dari saya. Semoga Chapter ini bisa lebih menghibur dari Chapter sebelumnya.
Terima Kasih
Regard's
Slask Wroclaw Wizarski
