Chapter 8 : Conflict Which Almost Makes a Split
Ruang Pemimpin Bangsa Pukul 01:00 dinihari
"Jadi, ada informasi apa yang kau dapat seharian penuh?" tanya Quaine Khan.
"Yang Mulia ini soal Turncoat yang menjadi buronan kita.'' Kata seorang pria berambut spike yang tak lain adalah Nikola Yugovic.
"Jelaskan!" perintah Quaine Khan sambil meletakkan tangannya diatas meja.
"Seperti yang selama ini kita ketahui, pengkhianat terkeji Alliance yang bernama Cirus Gale 20 tahun yang lalu telah lolos dari penjara Cora. Diduga dalang dari serangan misterius yang meresahkan kita adalah dia. Berikut fotonya yang berhasil kami ambil." Jelas Yugovic sambil memperlihatkan 2 buah foto.
"Kalau diihat dari ciri-cirinya memang itu adalah Cirus Gale. Tapi yang lebih mengejutkan adalah ini." Tambahnya sambil mengeluarkan foto ketiga.
Terlihat di foto itu adalah orang asing yang sedang berdialog dengan buronan tersebut. Orang asing tersebut mengenakan armor biru-putih dengan jubah berwarna merah seperti dracula.
"Siapa orang itu?" tanya Quaine Khan penasaran.
"Masih belum diketahui dia siapa. Guild Vhite Vojnici sempat menduga kalau dia adalah Turncoat Alliance juga. Tapi semua itu berubah setelah salah satu anggotaku melakukan editing foto dengan penzooman beberapa kali lipat. Ini hasilnya." Jelasnya lagi sambil mengeluarkan foto keempat.
Quaine Khan yang melihat gambar itu kemudian terkejut dan berkata
"ini…tidak mungkin..bukankah dia itu..ras yang sudah.. punah?"
"Benar. Dia adalah manusia. Ras yang diduga sudah punah akibat virus Arcane. Telinganya yang bundar adalah alasan utama kita menyimpulkan itu." Kata Yugovic.
"Dimana foto ini diambil?" tanya Quaine Khan.
"Sektor Numerus. Kami meletakkan beberapa kamera tersembunyi disana." Jawab Yugovic.
"Kalau begitu, pagi nanti kau kuminta untuk melakukan penjagaan di Sektor Numerus. Bawalah anak buahmu untuk antisipasi kalau-kalau ada apa-apa."
"Siap, Yang Mulia!"
"Baiklah, kau boleh keluar sekarang."
Menara Elven di Waktu yang Sama
Di suatu wilayah Elven Land, seorang wanita terlihat berdiri di ujung sebuah menara. Tidak jauh dibelakangnya, seorang pria datang menghampiri dan berkata "Selamat malam, Nona Stratigos Sutjeska Leana."
Yang dipanggil lalu menengok ke arah sumber suara, kemudian Ia balas menjawab "Oh, Goldbet. Selamat malam juga. Ada apa malam-malam menemuiku?"
Pria yang bernama Goldbet itu kelihatan ragu untuk bicara. Merasa ada yang tidak beres, Leana coba bertanya "Kenapa kau tampak murung? Kalau ada masalah, ceritakan saja."
"Maaf, Stratigos. Parasit yang anda berikan kepada saya, rupanya gagal untuk memusnahkan Cora." Kata Goldbet sambil dihinggapi perasaan tidak enak hati.
"Hanya itu saja? Tenang saja untuk masalah itu aku tidak menuntut apa-apa. Jadi, kalaupun gagal, ya tidak apa-apa. Masih ada kesempatan lain bagimu untuk balas dendam." Jelas Leana dengan santai.
"Tapi, parasit itu 'kan.." belum selesai ucapannya, Leana langsung memotong pembicaraan.
"Sudah tidak perlu dibahas lagi. Daripada itu bagaimana kalau nanti siang kau kuajak untuk melaksanakan misi?"
"Apa misinya, Stratigos?" tanya Goldbet.
"Ini adalah daftar target yang harus kita dapatkan. Atasan yang memintaku." jawab Leana sambil mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya kepada Goldbet.
"Banyak juga targetnya."
"Tidak perlu mengeluh. Kau mau ikut atau tidak?"
"Ya. Aku ikut misi ini."
"Bagus. Besok kita akan bergabung dengan dua orang rekanku."
Rumah Slask
"Hoaammm…"
Kata pertamaku ketika aku secara tak sengaja membuka mata. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 3:30 pagi.
"Hahhh, kenapa pagi ini aku harus terbangun lebih dulu daripada alarmku?" gerutuku ketika melihat jam.
Yah, tidak seperti biasanya aku bangun di pagi buta. Biasanya aku bangun pukul setengah enam sesuai dengan alarm yang kupasang. Yah, apa boleh buat. Karena sudah terbangun gini lebih baik aku mandi saja. Perlu sekitar 30 menit untukku mandi. Oke mandi sudah sekarang tinggal membuat sarapan. Tapi ketika aku membuka lemari makanan, aku baru ingat kalau persediaan mie rebusku sudah habis. Tak ada apa-apa, aku beralih ke lemari pendingin. Setali tiga uang, tidak ada makanan sama sekali. Buah dan sayuran gunung juga kosong melompong. Hanya ada sekotak susu kemasan 1 liter dan itu juga isinya sudah seperempatnya.
Okelah kalau begitu. Aku memutuskan untuk makan diluar saja. Jika ada waktu nanti sore aku akan pergi berbelanja. Kuraih sepedaku dan kukayuh menuju markas Cora sambil berharap ada warung pinggir jalan. Sayang sepanjang perjalanan belum satupun ada warung yang buka. Sampai dimarkas Cora kantin rupanya tutup. 'aneh bukankah kantin dimarkas buka 24 jam?' batinku heran.
Waduh, malah perut sudah keroncongan lagi. Suasana markas lagi sepi dan tidak ada yang bisa diminta tolong untuk bertanya. Kemudian, aku memutuskan untuk pergi ke Istana Haram. Aku berjalan menuju portal raksasa markas. Lalu, aku mengakses portal menuju Istana Haram. Setelah sampai, suasana juga sepi tak jauh berbeda dengan markas. Wah, tapi aku beruntung karena aku menemukan kedai yang buka. Tanpa pikir panjang akupun berjalan menuju kedai itu.
"Permisi." Sapaku.
"Selamat pagi, tuan. Anda mau pesan apa?" kata seorang bapak pemilik kedai sambil tersenyum.
"Mie rebus, pak. Porsi dobel pakai telur dan sayuran." Pesanku.
"Baik, tuan. Mohon tunggu sebentar." Katanya sambil pergi ke dapur. Sepuluh menit kemudian pesananku datang.
"Silahkan, tuan. Ini pesanan anda. Minumnya apa, tuan?"
"Susu hangat saja, pak." Kataku. Bapak itu mengangguk dan kembali pergi ke dapur.
Wah mantap, nih. Kalau dilihat-lihat ini pasti mie buatan tangan. Teksturnya yang lurus tipis mengingatkanku akan varian mie ramen. Tanpa buang waktu, aku langsung memakan mie itu.
Slurp! Huwaa!
Hebat, mienya gurih sekali. Baru kali ini aku memakan mie seenak ini. Pedasnya juga nikmat, telurnya mantap, sayurannya tidak perlu ditanya lagi. Dan tak lama, susu yang kupesan datang.
"Silahkan susunya." Kata bapak pemilik kedai.
Akhirnya, sarapanku sudah habis. Kini saatnya meminum susu. Dan saat kuteguk susuku, rasanya enak sekali. Sepertinya ini susu tawar murni yang dihangatkan yang mana susu tersebut hanya bisa bertahan sekitar 5 hari saja. Bukan susu UHT yang dikemas dalam temperatur tinggi yang bisa bertahan selamat 1-2 tahun selama kemasan tidak kembung.
"Berapa semuanya, pak?" kataku sambil membuka dompet.
"Semuanya jadi 20 ribu Disena, tuan."
"Ini uangnya, pak. Oh iya, pak. Kok tumben ya kantin dimarkas tadi pagi tutup?" tanyaku sambil memberikan uang pas.
"Kemarin sedang dalam tahap renovasi. Sebenarnya masih buka, kok. Hanya didalamnya sedang ada bongkar-bongkar dulu." Jelasnya.
"Oh, begitu ya? Ya sudah, terima kasih atas sarapannya, pak. Aku permisi dulu." Kataku sambil melangkah keluar.
"Sama-sama. Terima kasih juga atas kunjungannya." Katanya sambil melambaikan tangan.
Setelah sarapan, aku memutuskan untuk duduk-duduk dulu. Pagi hari di Haram memang terasa dingin. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 4:30 pagi. Saat aku sedang duduk, tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mendekat.
TAP! TAP! TAP!
Saat aku menengok ke arah sumber suara, tampak dibelakangku ada seorang wanita tinggi berambut perak sebahu. Aku berdiri dari tempatku untuk melihat lebih jelas. Dan ternyata dia adalah Novaya Celica. Aku mencoba untuk menyapanya.
"Pagi, Celica."
".."
Sapaanku hanya dibalas tatapan dingin olehnya. Sejenak dia melihatku, tapi dia kembali mengalihkan pandangannya ke depan dan terus berjalan hingga pintu keluar Istana Haram. Seperti biasanya sifat dia memang tidak berubah. Tatapannya selalu dingin seolah-olah dia diciptakan dari es. Tapi aku memilih untuk tidak ambil pusing atas sifatnya itu. Yang aku pikirkan saat ini adalah kenapa dia ada disini? Seingatku aku tidak mengajak dia untuk misi di Istana Haram. Apa mungkin ada urusan lain, ya?
Tak lama kemudian, Sonsane dan Cosmin datang. Kulihat sepertinya Cosmin sudah sembuh. Tapi kulihat masih ada perban dilengannya. Melihat kondisi itu, akupun bertanya.
"Cosmin, bagaimana keadaan lenganmu?"
"Hmm,ini?" katanya sambil melihat perban dilengannya. Kemudian dia menambahkan " Tenang saja, aku sudah pulih total 'kok. Nih lihat."
Lalu ia melepas perbannya dan begitu semua perbannya terlepas aku melihat lukanya sudah sembuh dan hampir tak berbekas. Lalu ia berkata "Bisa kau lihat 'kan. Aku sudah tidak apa-apa. Dokter juga sudah mengizinkanku untuk kelua dari rumah sakit. Aku sudah mendengar semuanya kalau Sonsane dan kalian membantuku untuk mencari penawarnya. Aku ucapkan terima kasih, Slask."
"Sudahlah tidak perlu berlebihan. Sonsanelah yang lebih banyak bekerja sedangkan aku hanya membantu sebisaku." Kataku menepis pujiannya.
"Itu benar, Cosmin." Kali ini suara seorang wanita.
"Sonsane yang pertama kali menemukan penawarnya. Banggalah padanya." Dan sekarang makin jelas kalau pemilik suara tadi adalah Milia Aldren.
"Yah, memang benar juga, sih. Tapi jika tidak ada kalian, belum tentu aku bisa selamat. Dan Sonsane pasti akan berat jika bekerja sendirian. Hahaha." Tawa Cosmin. Mendengar perkataannya kami berempat tersenyum bahagia. Benar, hidup memang harus saling tolong-menolong. Mereka yang menemukan solusinyapun belum tentu bisa bekerja sendiri. Kalaupun bisa pasti hasilnya akan mengecewakan dan jika bersama-sama tentu hasilnya akan jauh lebih baik.
"Lho, Celica kau ada disini juga, ya?" kata Milia sambil berjalan mendekati Celica. Mereka berdua tampak sedang berdialog. Sekarang aku tahu siapa yang mengajak Celica kesini. Tapi ngomong-ngomong aneh juga,ya. Celica yang pendiam itu pasti selalu akrab jika dekat dengan Milia. Giliran denganku dan Cosmin, dia selalu saja memasang tampang dingin. Beda ketika dengan Sonsane, dia masih terlihat suka mengobrol jika ada Sonsane meski Sonsane harus bicara duluan.
"Apa yang kau lihat, Slask?" kembali ada suara dari belakangku yang kali ini adalah Darko Volkovic. Dilihat dari tampangnya, kemungkinan dia kurang tidur.
"Ah, , ngomong-ngomong kau 'kan Ranger. Apa kau akrab dengan gadis yang disana itu?" Tanyaku sambil menunjuk kearah wanita berambut perak.
"Oh maksudmu Novaya Celica? Aku hanya sebatas tahu namanya saja. Seperti Milia, Celica juga tidak suka padaku." Jelasnya jujur. 'Wew, tak kusangka kalau kau punya banyak musuh' pikirku.
"Ngomong-ngomong semalam kau tidur jam berapa? Mukamu lusuh sekali." Tanyaku.
"Jam 3 pagi. Semalam aku melakukan upgrade pada kedua senjata baruku." Jawabnya sambil mengeluarkan 2 jenis senjata miliknya.
"Dan hasilnya aku berhasil mengupgradenya sampai grade 5. Tapi imbasnya biaya yang kukeluarkan sangat besar. Hampir 30 juta Disena." Lalu ia mengalirkan force di kedua pisaunya. Terlihat ada aura biru di pisau kanan dan merah di pisau kiri.
"Wih, senjatamu rupanya ganti baru nih? Beli dimana?" kembali kubertanya padanya. Aku takjub melihat senjatanya yang bentuknya baru pertama kali kulihat. Terlebih pisau itu memiliki bentuk trisula. Tidak pernah ada konsep pisau seperti itu.
"Hadiah dari Sonsane. Dual Knife Marlin 001C." Jawabnya singkat.
Sonsane yang mendengar percakapan kami langsung mendekat sambil berkata "Wah, baru semalam kubuat sudah diupgrade aja, nih."
"Biar keren. Hahaha."
"Oh iya, Slask. Ada yang mau kutunjukkan padamu." Kata Sonsane sambil membuka inventorynya. Lalu ia mengeluarkan sebuah pedang berwarna hijau.
"Pedang apa ini? Apa kau yang membuatnya?"
Sonsane menggelengkan kepalanya dan berkata "Tidak. Aku menemukannya di Tambang Tengah. Setelah kuteliti pedang ini terbuat dari material bernama Osmium. Material itu tidak ada di Planet Novus."
Sejenak kuamati pedang ini. Lalu aku berkata "Jadi begitu ya? Bagaimana kalau pedang ini untukku saja?"
"Boleh. Kuberikan juga sarung pedang ini untukmu." Kata Sonsane sambil memberikan sarung pedang buatannya.
Setelah kami berbincang-bincang, dari arah portal datang sekelompok Cora. Penampilan mereka begitu gagah. Salah satu dari mereka membawa bendera berlambang burung hitam yang sepertinya adalah lambang sebuah guild. Di urutan terdepan bisa kulihat Chamtalion Mirai Kasanic.
"Terima kasih kau mau membantu kami, Taralom. Jadi berapa banyak personil yang kau bawa?" tanyanya padaku.
"Semuanya ada 6 orang, Chamtalion." Jawabku.
"Baiklah. Suruh teman-temanmu untuk berkumpul. Kita akan mulai briefing pagi dulu." Perintah Kasanic.
Akupun memanggil teman-temanku untuk berkumpul. Lalu briefing dimulai.
"Sebelumnya aku perkenalkan diri dulu. Namaku Mirai Kasanic, Black Knight Chamtalion. Dan dibelakangku ini adalah beberapa member dari guildku Black Hawk."
Terlihat dibelakangnya para member Black Hawk yang berjumlah enam orang yang tiga diantaranya adalah wanita.
"Teman-teman, silahkan kalian memperkenalkan diri." Perintah Chamtalion Kasanic.
"Aranel Milovan Sevisevic, Templar."
"Taralom Sanfrecce Anika, Assassin."
"Taralom Vegalta Shinshi, Adventurer."
"Elrond Son Lee Hon, Grazier."
"Elrond Zorya Lena, Grazier."
"Aranel Anastasya Levanovic, Black Knight."
Mereka saling bergiliran mengenalkan diri yang dimulai dari kanan ke kiri. Sanfrecce, Lena, dan Anastasya adalah wanita. Penampilan ketiganya gagah tapi cantik. Sama-sama bisa dijadikan calon pendamping yang ideal. Setelah mereka menyebutkan namanya, Chamtalion Kasanic juga menyuruh kami memperkenalkan diri.
"Namaku Slask Wizarski, Templar. Hajimemashite!" kataku sambil tersenyum.
"Cosmin Roty, Knight Guardian. Yoroshikuna!" kata Cosmin sambil melipatkan tangannya sambil berpose melihat kesamping.
"Stefano Sonsane Sansuo, Artist. Panggil saja Sonsane. Yoroshikuna juga!" Sonsane pun ikut-ikutan bergaya ala Cosmin.
"Darko Volkovic, Hunter Stealer." Darko juga iku ambil bagian.
"Milia Aldren, Summoner Dark Priest."
"Novaya Celica, Adventurer." Gayanya yang paling dingin.
"Oke, terima kasih sudah saling memperkenalkan diri. Sekarang langsung saja." Katanya sambil membenarkan armornya.
"Menurut laporan dari pasukan rahasia, ada sekelompok Turncoat yang belakangan melakukan penyerangan di Sektor Haram dan Numerus. Meskipun masih berupa asumsi, kami yakin bahwa pemimpinnya adalah Pengkhianat Cora bernama Cirus Gale berdasarkan bukti-bukti dari foto yang diambil secara diam-diam. Pengkhianat terkeji yang 20 tahun yang lalu lolos dari penjara Cora. Selama itu juga pasukan rahasia selalu melakukan pencarian hingga ke seluruh penjuru Novus." Jelasnya.
"Maaf, pak. Kira-kira apa yang membuatnya dilabeli penjahat terkeji?" tanya Sonsane.
"Chip War 21 tahun yang lalu. Saat itu bangsa kita berhasil memenangkan Chip War. Tapi tidak ada yang tahu kalau itu sebenarnya hanyalah rekayasa belaka. Waktu itu ketika prajurit-prajurit sedang menambang, tiba-tiba Archon Cirus Gale mengunci pintu masuk are tambang. Mereka mengira mungkin Archon berusaha mencegah agar bangsa lain tidak bisa menerobos masuk. Tapi yang terjadi sungguh diluar dugaan."
"Apa yang terjadi?" kembali Sonsane bertanya.
"Archon Cirus Gale beserta anak buahnya membantai semua Cora. Salah seorang saksi mata mengatakan kalau korbannya dibantai dengan menggunakan gas beracun yang racunnya merupakan gabungan virus ebola dan cacar yang dimodifikasi. Archon beserta anak buahnya waktu itu menggunakan pakaian khusus agar gas itu tidak menginfeksi dirinya."
"Ebola dan cacar? Kira-kira bagaimana kondisi korban yang terkena gas beracun itu?" giliranku bertanya.
"Mengenaskan. Rata-rata korban yang terkena virus tersebut kulitnya mengelupas dan keluar darah yang menjijikkan. Korban yang selamat hanya satu yaitu saksi mata tadi. Enam bulan kemudian pasukan rahasia bentukkan Archon yang baru berhasil menangkap Cirus Gale dan dia dijebloskan ke penjara. Menurut penuturannya dia tidak bekerja sendiri melainkan bersama mantan Archon Accretia dan Bellato. Tapi pada saat hari penentuan hukuman apa yang akan dijatuhkan, dia berhasil melarikan diri. "
Mendengar perkataannya, aku merasa jadi agak mual. Tak bisa kubayangkan gimana jadinya kalau aku yang mendapat musibah itu. Setelah mengobrol sedikit, Chamtalion Kasanic berkata "Oke. Kurasa segini sudah cukup. Sekarang kalian kubagi jadi tiga tim. Tim 1 Aranel Anastasya Levanovic jadi ketua, anggotamu adalah Slask Wizarski, Vegalta Shinshi dan Darko Volkovic. Kalian kutempatkan di area Pantai Crimson."
"Aku mengerti." Kata Anastasya sambil maju kedepan diikuti kami bertiga dibelakangnya.
"Tim 2 dipimpin oleh Aranel Milovan Sevisevic. Anggotamu adalah Milia Aldren, Zorya Lena dan Cosmin Roty. Area kalian adalah Hutan Bayangan."
"Siap." Jawab Sevisevic.
"Yang terakhir Tim 3 yang dipimpin oleh Taralom Sanfrecce Anika. Rekanmu adalah Son Lee Hon, Novaya Celica dan Stefano Sonsane Sansuo. Area kalian pintu keluar Istana Haram sampai Bukit Chily. Sementara aku akan berjaga sendirian di Rawa Kabut."
"Aku paham." Jawab Anika.
"Oke. Semua sudah masuk kedalam tim. Sampai disini ada yang masih belum paham?" tanya Kasanic meminta kepastian.
"Tidak ada, Chamtalion." Jawab kami serempak.
"Bagus. Aku harap kalian bisa saling bekerja sama. Tasya, Sevisevic, Anika bantulah teman baru kalian. Slask dan kawan-kawan juga kalau ada apa-apa, bicara saja. Jangan sungkan-sungkan."
Aku menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Kalau begitu, silahkan kalian bubar."
Setelah membentuk tim , kamipun berangkat ke daerah penjagaan masing-masing. Sesuai perintah, aku yang tergabung di Tim 1 ditempatkan di Pantai Crimson. Selama perjalanan, kami hanya diam tanpa bicara sementara kulihat Aranel Tasya dan Vegalta saling berdiskusi pelan. Mungkin karena dua rekanku itu orang yang baru kukenal, aku agak sungkan untuk bicara. Setelah perjalanan selama dua puluh menit, kami sampai di Pantai Crimson. Suasana disini sepi, tak ada seorangpun prajurit Cora selain kami. Kupandangi pantai biru itu. Indah sekali pemandangannya. Airnya biru jernih ditambah hembusan angin yang sejuk membuatku merasa ingin berenang. Cuaca yang cerah ditambah sinar Lumen yang tidak terlalu panas menambah gairah untuk liburan. Sayang sekali rasanya jika hari ini dilewatkan hanya karena lagi dinas.
"Oi, kau. Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya seseorang yang tak lain adalah Aranel Tasya.
"Ah, tidak. Aku hanya sedang menikmati angin laut saja. Ahahaha." Kataku sambil tertawa.
"Jangan hanya karena angin laut kau jadi lupa tugasmu disini. Kau tahu 'kan kita disini bukan untuk liburan." Katanya dengan nada tinggi. Aku yang mendengar perkataannya langsung merasa takut untuk berargumen. Sial, padahal kalau dilihat dia itu cukup cantik. Rambut hitamnya yang diikat model ekor kuda ditambah iris mata berwarna biru membuatnya menarik untuk dipandang.
"Ah, iya. Tentu saja aku tahu. Mana mungkin aku lupa akan tujuanku?" Kataku sungkan.
"Heh, perempuan. Jangan karena kau jadi ketua kau bisa bicara seenaknya. Kami berdua ini 'kan masih baru. Seenggaknya bisa ramah sedikitlah. Kita ini satu tim, loh." Kata Darko yang merasa perkataan Anastasya tadi kurang bisa diterima.
"Tidak ada yang memintamu bicara, Ranger. Kalau kau mau bicara setidaknya jaga ucapanmu itu. Apa kau tahu kau bicara dengan siapa? Aranel Anastasya adalah wakil ketua Black Hawk. Tunjukkan rasa hormatmu padanya." Kata Vegalta ketus.
Cih, entah kenapa aku merasa suasana jadi mencekam begini. Kurasa Adventurer yang bernama Vegalta juga tidak tahu siapa itu Darko.
"Masalah buatmu? Aku 'kan tidak kenal dia, untuk apa aku harus hormat pada gadis itu?" tanya Darko sambil menunjuk Anastasya.
"APA KAU BILANG? KURANG AJAR SEKALI, KAU? APA KAU TIDAK DIAJARKAN SOPAN SANTUN, HAH?" Vegalta mulai naik darah sambil mengeluarkan Golden Hora Bow miliknya. Kulihat senjata Adventurer itu mirip dengan Hora Bow hanya saja warnanya emas dengan aura yang juga berwarna keemasan.
"Hoh, mau ngajak berantem? Boleh saja." Kata Darko sambil mengeluarkan senjata barunya yang mana hadiah dari Sonsane.
"Aranel, izinkan aku menghajar si jangkung itu." Pinta Vegalta pada Tasya.
"Silahkan, buat dia babak belur." Jawab Tasya memberi izin.
DASH!
Vegalta lompat keudara sambil menembakkan anak panahnya.
"MULTI SHOT!"
ZWUNG! ZLEB!ZLEB!
Meleset. Darko mengeluarkan pisau lemparnya dan balik melakukan serangan.
"RASAKAN INI! DESTRUCTIVE SHOT!"
SWING! TRANG!
"Boleh juga. Kau mengandalkan pisau lempar sebagai senjata utamamu. Sejauh ini aku belum pernah melihatnya sama sekali." Kata Vegalta.
Lalu Vegalta melompat mundur untuk menjaga jarak. Darko yang melihat kesempatan itu langsung berlari maju.
"Jangan harap kau bisa kabur, pengecut."
Tapi, melihat Darko maju menyerang Vegalta hanya tersenyum dan berkata "Itulah yang kutunggu."
Lalu dia mengeluarkan skilnya " Fast Shot! Destrcutive Shot!"
"Percuma." Kata Darko berusaha menangkis serangannya.
TRANG! TRANG!TRANG!
"Hold!" tiba-tiba muncul force dibawah kaki Darko dan mengunci kakinya.
"Apa? Ada apa ini?" kata Darko frustrasi tidak bisa bergerak.
"Aku mengikat kakimu dengan Force Hold. Sekarang kau tidak akan bisa kemana-mana. Usaha apapun tidak akan memberikan hasil." Vegalta kemudian bersiap mengeluarkan anak panahnya. Setelah membidik sasaran, dia menembakkan anak panahnya.
"FIRST STRIKE SHOT!"
SYUUTTT! ZLEB!
"ARGH!" seranganny sukses menancap di bahu kanan Darko.
"FAST SHOT!" SYUTT! ZLEB! ZLEB!
"AWW! SAKIT!" serangan kedua menancap di bahu kiri dan lengan Darko.
"Sakit, kan? Sekarang coba kuakhiri dengan ini." Ucap Vegalta dengan nada sarkastik.
"DESTRUCTIVE SHOT!" sebuah tembakkan anak panah yang bercampur dengan force ditargetkan ke Darko.
DUARR!
Darko yang terkena serangan itu langsung terpental beberapa meter.
"Selesai sudah." Kata Vegalta dengan dingin. Luar biasa inikah kekuatan guild Black Hawk? Dengan mudahnya dia bisa mengalahkan Darko dengan membaca pola bertarungnya. Mungkin dia Adventurer terkuat saat ini.
Namun, kulihat Darko berdiri kembali. Rupanya dia menangkap anak panah yang ditembakkan Vegalta dan ia lalu membuangnya ke tanah. Melihat hal itu, Vegalta hanya tersenyum sambil berkata "Tidak terima kalah, ya? Percuma saja, kau tidak akan bisa menang dariku."
"Rasakan ini. THROWING WIND KNIFE!" dia melemparkan pisaunya ke arah Darko yang menurutku tidak lebih dari serangan seadanya. Dan bisa ditebak pasti Vegalta bisa menghidarinya. Namun, sesuatu yang janggal terjadi. Pisau lemparnya berubah jadi banyak.
"APA?"
ZLEB! ZLEB!ZLEB!
"TI..DAK..MUNG…KIN!" karena terkejut Vegalta tidak bisa menghindari terjangan pisau-pisau itu.
"Seribu bayangan pisau. Salah satu skill Stealer yang jarang diketahui orang. Menggunakan Force gelap ditambah kemampuan Stealer yang jago membuat ilusi maka tercipta jurus tersebut." Kata Darko.
Setelah berusaha berdiri, kembali ia berkata " Nah, sekarang giliranku."
WHUSHH!
Dengan kecepatan tinggi Darko melesat mendekati Vegalta yang dalam keadaan terluka. Setelah itu, Darko melakukan jurus tendangan andalannya.
"SPINNING KICK!"
BRANG! "APA?" kaget Darko setelah merasa tendangannya ada yang menahan.
Dan yang menahan tendangan Darko adalah Anastasya yang menggunakan perisai. Lalu dengan perisainya dia mendorong Darko hingga jatuh kebelakang. Anastasya mengeluarkan Intense Beam Saber dan mengerahkan skillnya.
"POWER CLEAVE!"
Melihat Darko dalam bahaya, akupun segera menangkis serangannya dengan pedang Osmium yang dikasih Sonsane.
TRANG!
Terkejut karena serangannya ditangkis, ia berkata dengan marah "APA YANG KAU LAKUKAN? JANGAN MENGHALANGIKU UNTUK MENGHABISI DIA, TARALOM!"
"Kuminta anda tenang, Aranel. Kita ini sedang menjalankan misi. Tidak ada gunanya kita saling berkelahi satu sama lain." Kataku mencoba mendinginkan keadaan.
"Satu sama lain? Taralom, kutanya kau satu hal. Apa kau tahu dia itu siapa?" kata Anastasya sambil menunjuk Darko.
Belum sempat aku menjawab, dia kembali berkata "Dia itu Bisk. Kaum kafir. Kaum rendah yang tidak pantas menjadi prajurit. Kaum yang harusnya sudah lama punah. Aku tidak mengerti kenapa kau membela dia?"
"Aranel, bagaimanapun hal itu sudah menjadi masa lalu. Sekarang Alliansi bisa hidup berdampingan dengan Bisk." Jelasku padanya.
"Kalau begitu, berarti kau sudah kuanggap kafir. Hukuman bagi mereka yang telah keluar dari jalan Decem adalah penggal kepala." Katanya dengan tatapan tajam kearahku.
"Wow-wow, tunggu dulu. Jangan hanya karena aku membelanya kau jadi seenaknya menganggapku kafir. Daripada kita ribut lebih baik kita mencoba untuk bekerja sama. Bagaimana?" kataku mencoba bernegosiasi.
"Hah, kerja sama? Emang kau dari klan mana? Punya hak apa kau memintaku bekerja sama?" ucapnya dengan nada merendahkan.
Ketika aku mau menjawab, tiba-tiba ada suara ledakkan dari arah hutan bayangan.
DUARRR!
Aku yang tadi sempat bersitegang, langsung mengalihkan pandanganku kearah Hutan Bayangan. Tanpa membuang waktu, akupun langsung berlari ke TKP. Sambil berlari, aku mengeluarkan ponselku karena seingatku Milia dan Cosmin berjaga disana. Kucoba untuk menghubungi Cosmin.
NUTTTT! TREKK!
"Halo!" Jawab Cosmin
"COSMIN, APA YANG TERJADI DISANA?"
"SLASK?Oh, untung saja kau menelponku. Cepat kesini, Slask!Kami disini mendadak mendapat serangan! Keadaan kami terdesak!"
"SIAPA PELAKUNYA? BERAPA JUMLAHNYA"
"Tidak diketahui. Jumlahnya tiga orang. Salah satunya tipe spiritualist. Cepatlah kau kesini, Slask!"
"OKE! SEBENTAR LAGI AKU SAMPAI!" kataku sambil mematikan ponselku.
Tidak lama aku sampai di hutan bayangan. Suasana disana sudah seperti habis perang. Bisa dilihat dari banyaknya area-area yang rusak maupun hancur. Kulihat juga di arah jam 2 Chamtalion Kasanic sedang bertarung dengan seorang wanita yang memakai pedang dan perisai. Kondisi Kasanic juga tidak bisa dibilang baik karena armor yang dipakainya tampak rusak parah. Meski begitu, Ia tetap gagah berdiri siap untuk lanjut bertarung. Sementara lawannya sendiri tidak mengalami luka apa-apa. Sepertinya dia lawan yang kuat. Milia Aldren dan Zorya Lena sibuk meladeni seorang wanita Spriritualist, sedangkan Cosmin bertarung melawan pria berpedang ganda yang tak lain adalah Velez Mostar.
"Hei, kau! Jangan main lari meninggalkan kami, dong!" omel seorang wanita yang berada dibelakangku. Rupanya Ia besama Vegalta dan Darko ikut menyusulku ke hutan bayangan.
"ASTAGA, CHAMTALION KASANIC!" teriak Vegalta begitu mengetahui kalau ketua guildnya terlihat babak belur.
"Tidak apa-apa, Vegalta. Aku masih sanggup bertarung." Kata Kasanic tenang.
Merasa kondisi kami terdesak, akupun langsung mengeluarkan SI Spadonaku dan bergabung dengan Cosmin.
"Cosmin, aku ikut denganmu."
"Terima kasih, Slask. Tadi Sonsane juga menghubungiku dan dia juga akan datang kesini." Kata Cosmin.
Tiba-tiba Darko mendekati kami sambil berkata "Aku juga ikut. Aku tahu siapa dia. Dialah yang membuatku babak belur waktu aku dan Sonsane pergi menambang di Crag Mine."
Melihat lawannya jadi tiga orang, Velez hanya santai.
"Tambah dua, ya? Tidak masalah. Aku masih bisa mengalahkan kalian apalagi orang yang disana itu." Kata Velez sambil menunjuk Darko dengan pedangnya.
"Akan kubuat kau menyesal dengan perkataanmu itu!" kata Darko sambil mengeluarkan Marlin 001C-nya. Lalu, iapun mengaktifkan buffnya
"SPEED LOAD! PRECISION! EVASION! CROSSFIRE! UNTOUCHABLE! BLINK ILLUSION!"
Setelah mengaktifkan buffnya, Darko langsung maju menyerang.
"HEAHH!"
Darko melompat ke udara dan disusul dengan terjangan "THRUSSTT!"
DUARR!
Serangan Darko bisa dihindari dengan lompat mundur untuk menjaga jarak. Melihat itu, Darko pun memakai cara yang sama ketika bertarung dengan Vegalta tadi. Ia melempar pisaunya yang lain yang tersembunyi di balik armornya. Kulihat pisau lemparnya itu memiliki bentuk yang hampir sama dengan Marlin 001C. Bedanya pisau lempar itu memiliki satu ujung pisau bukan tiga.
WHUSS! WHUSS! TRANG! TRANG! TRANG!
Meski ditangkis, Darko tidak menyerah. Diapun langsung melesat kearah Velez. Sambil melesat, Darko kembali mengeluarkan pisau lemparnya yang kini dijepit diantara jari-jari tangannya sehingga terlihat seperti cakar.
"CLAW KNIFE!"
TRANG!
Benturan antar kedua senjata begitu keras terdengar. Aku yang melihat pertarungan mereka berdua turut tegang seolah seperti aku yang melakukannya.
"Cih.. boleh.. juga. Kau.. jadi lebih..tanguh dibanding..ketika pertama.. kita bertemu." Puji Velez.
"Aku tidak butuh pujianmu. Cepat kau keluarkan skill andalanmu waktu itu. Akan kupatahkan denagn senjataku." Balas Darko.
"Kalau begitu akan kutunjukkan Special Skillku." Velez berkonsentrasi sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba muncul aura berwarna biru keunguan.
"BATTLE MODE 2!" ia memutar kedua pedangnya lalu melompat keudara lalu kembali ke tanah.
"Astral Claw. Grappler!"
Aku dan Cosmin yang pertama kali melihat skill itu merasa aneh dan tidak percaya. Baru kali ini ada jurus yang bisa merubah senjata. Melihat aku yang kebingungan, Velez pun menjelaskan.
"Sepertinya kalian cukup terkejut, ya? Biar kuberitahu, ini adalah kemampuan spesial bangsa kami yang disebut Astral Weapon. Dengan mempelajari force kuno, kami bisa mensummon Astral Weapon. Bentuk Astral Weapon sendiri berbeda-beda tergantung dari jobnya masing-masing."
Sial, aku merasakan aura Force yang kuat dari tubuhnya. Tidak diragukan lagi kalau senjata itu pasti sangat hebat.
"Darko, lebih baik kita bertarung bersama-sama. Jangan terlalu memaksakan diri bertarung sendirian." Kataku.
"Tidak usah. Aku sendiri sudah cukup menghadapi dia. Lagipula urusanku dengan dia masih belum selesai." Tolak Darko.
Lalu Darkopun kembali maju menyerang.
"HEAHH!"
Darko coba menendang Velez tapi tendangannya berhasil dihindari. Begitu juga dengan pisaunya yang masih bisa ditangkis.
"FORCE KICK!"
BUAGGHH!
"ARGH!" erang Darko setelah mendapat serangan Velez. Karena serangan Velez mengenai Darko, celah kelemahanpun terlihat. Lalu Velez melompat keudara untuk melancarkan skillnya.
"CRUSHING BLOW!"
BLEEEEGGGAAAAARRRRRR!
"UWAAA!"
Apa? Padahal jarakku tidak terlalu dekat tapi efek kerusakkannya sangat dahsyat sekali. Chamtalion Kasanic pun turut merasakan efeknya. Kalau akibatnya saja bisa separah ini, maka bisa dipastikan Darko mungkin sudah hancur. Tapi aku salah. Rupanya Darko selamat karena berhasil menghindari jurus malaikat maut tersebut namun pandangannya tertutupi abu ledakkan tadi.
"Wuih, untung saja refleksku bisa bekerja pada waktunya. Kalau saja tadi kena, maka…."
ZLEBBB!
"Dead End!"
"EH?"
Nampak Astral Claw Velez menembus rusuk Darko hingga tembus kebelakang. Kelihatannya Darko yang pandangannya terhalangi asap tidak bisa melihat dengan jelas. Hingga bisa membuat Velez menyerang dari balik asap. Kulihat darah segar mengalir dari mulutnya.
"ARGGGGGGHHHHH!"" teriakkan Darko terdengar sangat keras hingga membuatku menutup telinga. Pasti rasanya sakit sekali. Velez mengangkat tubuh Darko. Dengann pandangan dingin, ia berkata "Sekarang, kau pasti sadar kalau kekuatan kita berbeda jauh. Kau telah termakan oleh ambisimu sendiri. Dan sekarang, kau mendapatkan balasannya."
Setelah berkata itu, ia melempar tubuh Darko.
BRUGHH!
''DARKOOOO!''
Hanya teriakkan kencang yang bisa kulakukan melihat tubuhnya terhempas ke tanah denagn keras. Mata Darko yang terbelalak seolah tidak percaya dirinya akan kalah setragis ini. Kalau ditanya sedih, pastilah aku sedih. Meski aku dan Darko sering bertengkar, tapi ada kalanya kami bisa akur seperti sahabat. Tapi sekarang, Darko..
To Be Continued
"Now , you must realize that our power differ greatly. You've been consumed by his own ambition . And now , you get a result." (Velez Mostar In Chapter 8)
Special Information
1. Grappler merupakan skill Battle Mode 2 dari Job Blader. Bentuk fisiknya seperti cakar. Skill serangannya bernama Crushing Blow yang memiliki damage besar (bisa tembus 30k). Sayangnya, skill ini memiliki akurasi terburuk. Bisa dilihat ketika Darko bisa menghindarinya (akurasi -2000).
2. Diatas sudah dijelaskan kalau Darko berasal dari etnis Bisk. Ciri-ciri etnis Bisk adalah tanda berkat dikening biasanya hanya terlihat samar-samar atau kadang tidak ada sama sekali. Kebanyakan orang Bisk memang masyarakat kelas bawah yang bekerja sebagai pekerja kasar atau paling tinggi sebagai atlit. Sangat jarang etnis Bisk bisa diterima sebagai prajurit. (Hanya menurut author)
3. Kalau dilihat, ada beberapa karakter yang nama belakangnya berakhiran –vic. Ini disebabkan karena author sangat suka dengan nama-nama orang Balkan (Eks Yugoslavia) selain Jepang tentunya.
Akhirnya selesai juga Under Attack Chapter 8. Tentu aku tidak mau kalah ketika melihat author-author lain sudah memposting update terbarunya. Dan sesungguhnya ada hal kecil yang membuatku sedih dengan fanfic ini. Selain updatenya yang lama, karakter Darko Volkovic mungkin akan dihapus sehubungan dengan adanya karakter dari fanfic lain yang gaya bertarungnya hampir sama dengan Darko. Meski masih sebatas ide tapi demi menghormati, saya pun mungkin akan menghilangkannya. Mungkin jika ada sifat Darko yang tidak disenangi pembaca, mohon maafkanlah dia.
Regard's
Slask Wroclaw Wizarski
