Chapter 9 :

"DARKO…."

Darah merah terus mengalir keluar dari lukanya. Sebisa mungkin aku mencoba menutup lukanya. Keadaannya sangat parah dengan luka besar yang menembus dadanya.

"Darko, bertahanlah. Sebentar lagi Sonsane datang." Kata Cosmin harap-harap cemas. Tidak ada jawaban dari Darko. Kucoba mengecek urat nadinya. Denyutannya sangat lemah. Kalau begini terus dia akan mati. Bisa saja meminta bantuan Milia tapi dia sendiri sedang bertarung melawan seorang Spiritualist.

Akhirnya, Sonsane datang bersama Celica. Melihat hal itu, Cosmin pun menghampirinya.

"Sonsane. Akhirnya kau tiba juga. Ayo, cepat kesini. Darko terluka parah."

Cosmin dan Sonsane bersama Celica segera ketempat Darko. Sesampainya disana, Sonsane pun langsung menangani luka Darko.

"Astaga, kenapa luka ini parah sekali? Siapa pelakunya?" tanya Sonsane dengan nada kaget.

"Orang yang ada disana itu." Kataku sambil menunjuk Velez yang sedang bertarung melawan Milovan Sevisevic feat Anastasya Levanovic. Sonsane pun mellihat kearah yang aku tunjuk.

"Astaga. Dia itu orang yang kutemui di Crag Mine bersama Darko. Aku tidak percaya kalau dia yang melakukannya. Terlebih cakar yang dia pakai itu belumpernah kulihat."

"Aku juga tidak mengerti. Tapi katanya itu adalah Astral Weapon. Daripada itu apa kau bisa sembuhkan Darko?" kataku kembali ke topik.

"Akan kucoba." Kemudian Sonsane mensummon Sealed Inanna. Sonsane pun menyuruh Inannanya untuk menyembuhkan , Ia mengeluarkan skill Specialistnya.

"REBIRTH!"

DEGG!

"APA? TIDAK BISA? MUSTAHIL?"

Sonsane terlihat cemas begitu mengetahui kalau skillnya tidak bekerja. Aku mencoba untuk bertanya "Kenapa Sonsane?"

"REBIRTH! REBIRTH! REBIRTH!"

"SONSANE!" tak sengaja kalau aku berteriak kencang.

"REBIRTH!" berulang-ulang Sonsane merapal skill penyembuhnya tapi tidak ada perubahan berarti. Begitu juga dengan Sealed Inannanya yang juga tidak bisa menyembuhkan Darko.

"RE..BIRTH!" lagi-lagi percuma.

Aku yang merasa tidak sabaran langsung marah "SONSANE! KAU SEBENARNYABISA ATAU TIDAK, SIH? KALAU TIDAK BISA, BILANG DARI AWAL!"

BUAGH!

Kutendang kakinya hingga dia jatuh telentang. Lalu, aku tendang juga kepalanya agar dia bisa merasakan rasa sakit yang kurasa.

BUAGH!

Kesal sekali rasanya. Bagaimana rasanya jika ada orang yang sok bisa menyelesaikan masalah namun pada akhirnya dia malah tidak bisa mengerjakannya. Mungkin kebanyakan orang akan bilang 'maaf'. Tapi apa maaf saja semua masalah bisa kelar. Tidak 'kan? Tidak sama sekali. Jadi, boleh 'kan aku melampiaskannya sesuai dengan caraku?

"ARGH!" hanya itu ucapan yang keluar dari mulutnya. Iya, hanya itu. Akupun tentu belum merasa puas.

"JAWAB, SONSANE!" akupun bersiap menendangnya untuk yang ketiga kalinya.

.

.

.

PLAKKK!

Tapi sebuah tamparan keras menggagalkan rencanaku. Aku memegang pipi kiriku yang terasa panas akibat tamparan seseorang. Kucoba untuk melihat siapa pemilik tangan yang tidak sopan main tampar orang. Ternyata yang menamparku Celica. Mungkin dia tidak suka melihat Sonsane kutendang.

"APA? KAU JANGAN IKUT CAMPUR. INI URUSANKU DENGAN DIA. URUSANNYA LAKI-LAKI!" kataku sambil menunjuk Sonsane. Kemudian, aku menambahkan "PACARMU ITU TIDAK BECUS! SOK BISA TAPI TIDAK BISA! WAJAR DIA MENDAPAT HUKUMAN. PAHAM!?"

Tapi tiba-tiba dia meraih tangan kiriku. Aku yang merasa kaget berusaha melepas genggamanya.

"HEI, LEPAS TANGANKU. APA-APAAN INI!?"

Namu, bukannya melepaskan dia malah memelintir tanganku.

GRETEKKK!

"AAAAWWWWW!"

PLAK! PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!

Dan diapun menampar kedua pipiku bolak-bolak bak sebuah mesin fotocopy. Merasa sudah cukup, diapun membantingku hanya dengan satu tangannya.

BRUAKK!

"ARGG!"

Sakit sekali. Punggunggku serasa mau patah. Celica yang melihatku kesakitan lantas berkata "Sakit, gak?"

Wanita ini baik marah ataupun tidak memang tidak ada bedanya. Ekspresinya tidak bisa ditebak, datar seperti biasa.

"Kamu sadar, gak? Tadi itu kamu keterlaluan. Pakai nuduh kalau Sonsane sok bisa dan kamu malah main tendang begitu saja. Dia itu sudah berusaha. Akan lebih baik kalau kami tadi tanya dulu kenapa tidak bisa? Bukan malah marah dan main tendang. Jujur saja, setelah melihat kelakuanmu tadi kamu serasa jadi bukan dirimu. Kau bukan Slask Wizarski yang kukenal."

Aku berusaha untuk duduk meski punggungku terasa sakit. Sejenak aku menundukkan kepala untuk berpikir. Oh, begitu rupanya aku sudah keterlaluan. Jadi, apa yang kuperbuat tadi adalah kesalahan. Aku mengerti kalau terkadang orang bisa gelap mata. Dan terkadang juga kta butuh seseorang untuk menerangi pandangan kita agar tidak salah jalan. Tidak kusangka kalau hal ini terjadi padaku. Lebih sakit lagi ketika Celica mengatakan kalau aku bukan Slask Wizarski. Bukan menjadi orang yang harusnya dia kenal tapi sudah berubah menjadi hewan buas yang kesal karena makanannya telah direbut.

Aku pun bangkit dari tempat dudukku dan mulia berdiri berhadapan dengannya. Lalu aku menundukkan kepalaku.

"Maaf, Celica. Aku sudah khilaf. Aku sudah gelap mata. Sekarang, aku sudah sadar kalau perbuatanku tadi sudah kelewat batas. Tidak sepantasnya aku menendang Sonsane dan berkata kotor tentangnya. Kuharap kau mau memaafkanku. Tetaplah menjadi temanku meski kita tidak terlalu akrab." Ucapku dengan dengan perasaan menyesal.

"Huh, seharusnya kalau kau meminta maaf, mintalah pada Sonsane. Dia yang awalnya kau sakiti. Tapi okelah aku sudah memaafkanmu. Jangan lupa kau harus minta maaf pada Sonsanse. Nanti-nanti tidak apa, asal kau harus melakukannya. Aku cukup senang kau sudah kembali. Kau boleh menaikkan kepalamu."

Aku menaikkan kepalaku dan berjalan melewatinya. Sebisa mungkin aku menahan air mataku agar tidak keluar. Sudah dari tadi aku ingin menangis tapi selalu kutahan agar terlihat tegar. Meski aku yakin Celica pasti tahu aku menahan air mata.

Aku mendekati Cosmin lalu berkata "Cosmin, ayo kita lawan dia."

"Ya, mereka berdua sepertinya sudah kewalahan melawan si pengguna cakar itu." Kata Cosmin sambil memegang erat SI Hora Axe LE miliknya.

.

.

.

"CRUSHING BLOW!"

Velez menukik tajam dari udara sambil mengerahkan jurus andalannya. Anatasya yang dijadikan target Velez mengaktifkan skill bertahannya.

"BARRICADE!"

.

"PERCUMA!"

BLEGAAARRRRR! BRANG!

Diluar dugaan Barricade Anastasya bisa ditembus. Bahkan perisainya terbelah menjadi dua bagian. Untung saja Anastasya melepas perisainya diwaktu yang tepat. Andai telat sedikit saja minimal tangannya pasti terputus.

"Sial. Dia membelah perisaiku. Hora Knifeku juga rusak." Kata Anastasya.

"Hosh..hosh.. tombakku ujungya mulai menumpul. Tenagaku juga tinggal sedikit. Apa yang harus kita lakukan?" ujar Sevisevic.

Aku dan Cosmin menghampiri mereka berdua. "Kalian, ayo kita gantian. Kalian istirahat dulu saja biar aku dan Cosmin yang melawan dia."

"Hati-hati, kawan. Lawan kita ini sangat lincah. Seolah-olah tubuh dia itu ringan. Pengguna kecepatan." Kata Sevisevic memberi saran.

"Aku paham. Kami juga tidak selemah itu." kata Cosmin.

"Kalau begitu mohon kerjasamanya." kata Anastasya. Lalu, mereka berdua pergi mencari tempata yang aman.

"Cosmin apa kau siap?"

"Selalu siap, Slask.

Aku dan Cosmin saling mengeluarkan skill paketan masing-masing.

"POWER UP! FAITH! GRACE! ART OF TEMPLAR!"

Setelah mengaktifkan buffku, aku melihat Cosmin sebuah pedang. Dan pedang yang dikeluarkan dari inventorynya adalah Intense Estoc. Pedang yang dulu pernah keberikan padanya. Tak kusangka dia masih menyimpannya.

"QUICK CHANGE! SUPER LIGHTWEIGHT!" Cosmin juga mengaktifkan skillnya dan mulai memasang kuda-kuda.

Velez yang merasa melihat sesuatu yang berkata "Hmm, kau menggunakan sebuah kapak di tangan kanan dan pedang di tangan lainnya? Menarik. Aliran dual wield ya?"

"Guardian sejatinya bukan pengguna dual wield. Secara logika, mustahil menggunakan dua buah senjata berat di kedua tangan. Tapi, Guardian itu unik karena dengan menggunakan Super Lightweight, kau bisa menggunakan dua buah senjata extraberat." Jelas Cosmin.

Jujur, aku baru tahu kalau Guardian punya skill sehebat itu. Skill itu pastilah memiliki efek meringankan bobot senjata. Tak heran kalau Cosmin bisa menggunakan kapak dan pedang secara bersamaan.

"Sebelum bertarung bolehkah aku bertanya siapa nama kalian? Namaku sendiri Velez Mostar." kata Velez

"Cosmin Roty job Guardian!"

"Slask Wizarski job Templar!"

"Akan kuingat baik-baik nama kalian. BERSIAPLAH! HEAHH!" setelah memperkenalkan diri dia maju duluan untuk menyerang.

HERE WE GO!

"SPRINT!" aku menyerang secara frontal ke arahnya.

"POWER CLEAVE!"

SRINGG!

WHUSHH!

Dia menghindar ke arah , dia bersiap untuk ganti menyerang. Kembali Velez memakai skill Graplernya.

"CRUSHING BLOW!"

BRUANGGGG!

Tanpa kuduga, Cosmin dengan secepat kilat berhasil melidungiku dengan menangkis serangan maut Velez. Cosmin mendorong tubuh Velez dan Cosmin pun sigap melihat peluang. Tanpa buang waktu,Cosmin mengeluarkan skillnya.

"HEAVY PRESSURE BOMB!"

DUARRR!

Masih belum. Velez behasil menghindari serangan Cosmin. Ia membalas serangan Cosmin dengan Force Kick.

BRUGH! Tapi bagi Cosmin, ia mudah saja menangkis serangan Velez.

DASHH!

Cosmin balik menyerang Velez. Tubuh Cosmin yang tinggi bagaikan raksasa cukup membuat Velez kesulitan. Meski begitu, kecepatan Velez tidak berkurang. Justru ia menambah kecepatan serangnya. Tak pelak mereka pun saling bertukar serangan. Aku yang melihat duel mereka secara langsung seakan sedang menyaksikan adu kekuatan antara pengguna kecepatan melawan raksasa bersenjata ringan.

TRANG! TRANG! SRING! WHUSH! SRANG!

BUAGH! Cosmin sukses menendang dada Velez.

Akupun melihat kesempatan. Berkat bantuan skill Sprint, aku melesat dengan kecepatan penuh. Langsung kuserang tanpa buang waktu.

"THRUST!"

TRANGG! Cih, tak kusangka dia memiliki reflek yang bagus. Padahal 99% seranganku tadi pasti kena.

"SLASK, MENUNDUK!" Perintah Cosmin. Akupun menunduk sesuai instruksinya.

"HEAVY SLASHER!"

SRING! CRASH! CRASH!

Hebat Cosmin berhasil melukainya. Kini ditubuh Velez bersarang luka menyilang.

"SEKARANG, SLASK!"

Sejenak kupejamkan mataku untuk berkonsentrasi. Setelah mendapatkan pencerahan jiwa, akupun membuka mataku.

"SUPERCHARGED!" kuaktifkan skill yang seharusnya pantang untuk diaktifkan karena masih mode Art Of Templar. Langsung aku berlari kearah Velez. Ketika jarak kami, hampir dekat aku melompat ke udara.

"RASAKAN! PRESSURE BOMB!"

TRANG! Huh, masih bisa ditahan ,ya? Tapi masih belum.

"SHINNING CUT!''

BZZTT! BZZTT! BZZTT!

Berikutnya, kusambung dengan skill Templarku.

"FURY SWIPE!

WHUNG! DUARRR!

Masih belum. Waktunya kuakhiri dengan skill ini.

"INFINITY SUPERFALL" aura biru menyelimuti tubuhku. Skill diawali dengan tebasan sebanyak tiga kali dan diakhiri dengan melakukan lompatan keudara sambil melakukan rolling attack.

SRING! DARRR!

"ARGHHHH."

Selesai dan selesai. Aku yakin Velez tak sanggup menghadapi serangan beruntunku. Cosmin berjalan mendekatiku.

"Apa kita berhasil?" Tanya Cosmin.

"Ya." Jawabku.

Kini Velez sudah jatuh tertelungkup. Mungkin dia sudah mati. Cakar astral yang tadi dia pakai, sekarang sudah berubah kembali menjadi pedang kembar.

"Slask, Milia dan Zorya masih bertarung. Ayo kita bantu mereka." Ajak Cosmin.

"Ayo. Aku yakin mereka sedang kesulitan." Kataku.

Kami berdua langsung pergi ke tempat Milia.

.

.

Disisi lain Milia bersama Zorya masih kewalahan melawan seorang Spiritualist. Milia yang sudah mencapai batasnya terlihat tidak sanggup lagi bertarung, sementara Zorya sedang keteteran.

"Hanya segini saja kemampuan kalian?" ejek wanita Spiritualist itu. Lalu, ia merapal mantra untuk mengakhiri pertarungan.

"Akan kuakhiri dengan ini. EXTREME DUAL CANNON!"

Dua buah bola api langsung melesat cepat mengarah ke masing-masing target yakni Milia dan Zorya.

DUARR! DUARR!

Untung saja disaat yang tepat aku dan Cosmin berhasil menangkis bola api itu. Tapi serangannya barusan sangat kuat. Seperempat bagian Spadonaku patah akibat menahan bola api tadi.

"Milia, kau baik-baik saja?" tanyaku memastikan kondisinya.

"Tidak terlalu baik, Slask. Force ku hampir mencapai batasnya." Jawab Milia dengan wajah pucat. Aku membantu Milia untuk berdiri. Kemudian, aku melihat siapa lawan yang membuat Milia hamapir mencapai batasnya. Kulihat disana berdiri seorang wanita yang memakai topeng dan mengenakan armor yang kalau dilihat dari modelnya setipe denganVelez tapi mungkin yang ini khusus Spiritualist. Armor berwarna emas dengan kombinasi warna hitam yang seimbang.

Tapi yang paling mengejutkanku adalah dia tidak memakai tongkat untuk bertarung. Padahal aku yakin kalau dia adalah pengguna magic. Apakah mungkin dia pengguna sihir tanpa tongkat?

"Core."

"Hah?" kataku setelah mendengar ucapan Milia.

"Core. Di kedua tangannya ada semacam core yang bersinar. Kurasa itu adalah senjatanya." Jelas Milia.

Aku memperhatikan wanita itu. Memang benar ditangannya itu ada semacam core yang bercahaya. Aku pun menghampiri Cosmin untuk berdiskusi.

"Cosmin, menurutmu bagaimana?"

"Kita lawan. Mungkin kita tidak tahu kekuatan seperti apa yang dimilikinya atau apa tujuannya datang kesini."

"Yang pasti dia datang bukan untuk bersilahturahmi. Apa kau punya rencana?" kembali kubertanya.

Sejenak dia melihat wajahku, setelah itu Cosmin kembali melihat lawannya "Sebenarnya tidak ada. Tapi kita pakai saja cara yang tadi."

"Aku setuju." Kataku sambil mengangguk.

Aku dan Cosmin kembali memasang kuda-kuda.

"Hoo, dua orang laki-laki melawan seorang wanita? Kalian jahat sekali. Apa kalian tidak kasihan denganku?" katanya yang entah menyindir atau memang merasa terancam.

"Maaf saja, nona. Kau beserta teman-temanmu telah membuat kekacauan disini. Sudah kewajiban kami untuk membereskan masalah yang kalian perbuat." Ucapku.

Lalu, dia melihat jam ditangannya setelah itu dia berkata "Baiklah. Akan kuhibur kalian dalam dua menit."

Tidak peduli dengan ucapannya, kamipun langsung menyerangnya.

"TERIMA INI. DEATH BLOW!"

BLEGARR!

"Yes, kena!" kataku gembira. Tapi rasa gembiraku sirna setelah mengetahui kalau dia tidak ada.

"Tidak ada. Kau yakin tadi kena?" Tanya Cosmin.

"Yakin. Aku lihat dia tidak menghindar atau menangkis seranganku." Jawabku.

"Disini."

Aku menengok ke arah sumber suara dan mendapati kalau dia berdiri di sebuah tebing kecil.

"Apa? Sejak kapan dia ada disana?" kataku.

"Tidak penting. Yang penting kita serang dia." Kata Cosmin samba bergerak maju. Akupun mengikuti langkanya.

"Oke. Waktuku sudah habis." Kata wanita itu setelah kembali melihat jam ditangannya. Kemudian, dia merapal mantranya lagi.

"EXTREME DUAL CANNON!"

Kembali dia mengeluarkan dua buah bola api ke arah kami. Heh, serangan yang sama tidak akan berhasil. Kami pun menahan bola api itu

DUAR! DUAR!

"METEORITE!"

Dia kembali merapal mantranya. Muncul sebuah segel hitam diatas tanah lalu tiba-tiba dari langit muncul sebuah meteor raksasa.

"Bola apa raksasa? Gawat" aku segera menahannya dengan Spadonaku sementara Cosmin mencoba menahan meteor itu dengan kedua senjatanya.

BLEGGAARRRR!

"AAARRRGGHHHH!" E rang kami bersamaan akibat meteor tadi. Dampak dari serangan itu SI Spadonaku hancur sementara pedang Estoc Cosmin juga iku hancur tapi kapaknya tersisa separuhnya. Armor kami berdua juga rusak parah dan meninggalkan luka bakar yang cukup parah.

Sempat aku melihat wanita tadi bersama teman-temannya menghilang pergi. Keadaan yang lain hanya Celica yang tidak terluka sama sekali karena dia sibuk menangani Darko. Chamtalion Mirai Kasanic pingsan dan badannya dibopong oleh Vegalta.

Setelah kejadian ini, kami semua mendapatkan penanganan medis. Butuh waktu bagiku selama 2 minggu untuk menyembuhkan lukaku. Begitu juga dengan Cosmin sementara Milia menjalani terapi pemulihan Force karena dia terlalu memaksakan diri saat bertempur.

2 bulan lebih sudah waktu berlalu setelah kejadian itu. Selama itu pula tidak ada penyerangan lagi baik diwilaya Cora maupun area netral. Tapi selama dua bulan ini aku belum meminta maaf pada Sonsane. Ponselnya juga tidak aktif sama sekali. Ditambah kesibukanku menjalani setiap misi yang diberikan membuatku hampir tidak punya waktu senggang untuk sekedar kumpul-kumpul.

Hari ini aku mendapat cuti setelah bulan lalu permintaanku diterima. Rencananya aku mau mencari Sonsane. Kukelilingi setiap area markas tapi aku tidak menemukan Sonsane. Ketika aku melewati ruang Archon, tidak sengaja aku melihat sebuah keributan kecil.

PLAAK!

"KYAAA!"

Aku melihat seorang wanita menampa temannya. Kalau tidak salah dia Anclaime Raharata dan wanita yang ditamparnya itu Faranel Trinith. Sempat aku mendengar percakapan mereka. Singkatnya Anclaime Raha menuduh kalau Faranel lebih memilih berteman dengan seorang Bellato daripada berduka atas kejadian tewasnya Anclaime Sada. Hmm, jadi Anclaime Sada tewas, ya? Siapa kira-kira yang sanggup membunuhnya? Bellato berambut putih itukah?

Setelah melampiaskan amarahnya, dia berjalan pergi. Sempat aku dan Raha bertatap muka. Tapi dengan cepat dia kembali berjalan pergi. Kulihat gadis bernama Faranel itu sedih karena Raha tidak tahu cerita sebenarnya.

Kemudian, kau kembali fokus mencari Sonsane. Mau tidak mau aku harus bias bertemu dia. Agar aku bias terbebas dari rasa bersalah dan mengembalikan persahabatan kami seperti semula.

To Be Continued

''I'm Sorry , Celica . I 've been a blunder . Now , I 've realized that my actions had been too far. I do not deserve to kick Sonsane and say rude about it . I hope you will forgive me . Please continue to be my friend even though we are not too familiar" (Slask Wroclaw in Chapter 9)

Chapter 9 akhirnya update juga. Terima kasih senior Lake dan Baydzofi atas reviewnya. Dibagian akhir chapter ini saya memasukkan adegan Lake di Chapter 25. Semoga Senior Lake tidak marah karena lagi-lagi karyanya saya pinjam. Semoga kalian suka membaca chapter ini.

Terima kasih.

Slask Wroclaw Wizarski