Chapter 10 : Meet and Information
"Susah sekali mencarinya. Apa jangan-jangan dia menghindariku, ya?"
Sudah setengah jam aku mencari Sonsane tapi sampai detik ini aku masih belum menemuinya. Disaat aku sibuk melihat kanan-kiri, mataku langsung tertuju ke seseorang yang sedang membeli es krim.
"Kalau tidak salah, orang itu Gannza Qhadara. Salah satu anggota tim ekspedisi Ether."
Akupun segera menghampiri orang itu. Aku sekedar ingin tahu apa saja yang terjadi di Ether termasuk tentang tewasnya para anggota ekspedisi.
"Permisi." Kataku menghentikan langkahnya.
"Ya? Ada apa, ya?" balasnya.
"Sebelumnya perkenalkan namaku Slask Wizarski. Boleh kita bicara sebentar?" kataku sambil mengulurkan tangan. Gannza menyambut uluran tanganku.
"Slask Wizarski? Bukankah namamu Steven Peterson?" tanyanya dengan muka heran.
"Steven Peterson? Siapa dia?" balasku dengan muka yang tidak kalah bingung.
"Lho, masa kau tidak ingat namamu sendiri? Kau itu kan petugas bandara di Markas Cora. Aku bahkan tidak tahu kalau kau juga prajurit. Kerja sampingan, ya?" katanya sambil memasang muka sedikit tertawa tanpa dosa.
Aku berpikir sejenak tentang omongannya. Apa iya aku mengambil kerja sampingan? Masa sih orang bisa kerja sampingan tanpa disadari? Bagaimana caranya? Hal itulah yang terbayang di kepalaku. Akhirnya, aku ingat siapa orang yang jadi petugas bandara itu. Dia tak lain adalah orang yang bentuk mukanya persis seperti diriku bahkan aku sempat saling bertatap muka.
"HEH, asal kau tahu ya. Aku ini 100% prajurit! Aku tidak punya kerja sambilan dan orang yang kau sebut Peterson siapalah itu hanya kebetulan saja mukanya sama denganku! Aku ini sempat bertemu dengan Leader kalian waktu di Ether Wharf!" jelasku dengan nada sedikit emosi.
Gann menutup matanya untuk mengingat waktu itu. Tak lama dia membuka matanya. Mungkin dia sudah ingat.
"Ah, aku ingat sekarang. Kau yang waktu itu sempat cari perhatian dengan cara membanting panci itu 'kan. Tidak salah lagi kalau kau orang yang dimarahi Anclaime Sada waktu malam itu." Ucapnya enteng.
Aku yang lagi-lagi memasang wajah bete berkata "Terserah apa katamu lah?"
"Oke-oke namaku Gannza Qhadara job Grazier. Jadi, kau ingi bicara apa denganku?" kata Gann langsung to the point.
"Tentang misi kalian di Ether. Aku ingin tahu apa saja yang terjadi disana. Kenapa tim kalian bisa berakhir tanpa sisa?" ucapku dengan serius.
Sejenak dia melihat keadaan. Dia tengok kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah dengan hati-hati. Mungkin dia sedang memastikan kalau tidak ada orang lain selain kita berdua.
"Begini. Tim kami menjalankan misi mencari keberadaan sebuah batu yang dinamakan Etheron. Mungkin kau sudah tahu tentang hal itu. Intinya, ketika kami menemukan lokasi Etheron yang notabene ada di sarang Calliana, kami menunjuk Faranell untuk masuk ke dalam. Setelah itu tiba-tiba saja muncul beberapa sosok bermantel hitam. Semula kami tidak tahu siapa mereka, tapi kami berasumsi kalau mereka adalah Bellato karena mereka pendek. Lalu tanpa disangka mereka menghabisi kami secara brutal. Bahkan temanku sampai dibelah badannya. Aku yang merasa ketakutan langsung kabur secepat yang kubisa. Hanya aku dan Anclaime Raha yang berhasil selamat." Jelas Gann panjang lebar.
"Bellato mantel hitam? Apa mereka teman dari Bellato yang kalian hadapi?" kembali kubertanya.
"Aku tidak tahu. Sempat aku menengok beberapa saat. Beberapa dari mereka juga menghampiri tim Bellato yang jadi lawan kami. Tapi aku tidak melihat lebih jauh lagi." Kata Gann.
Aku pun berpikir sejenak. Apa mungkin Bellato bermantel hitam itu ada hubungannya dengan lawan yang kuhadapi di Istana Haram? Apa tujuan mereka sama?
"Ngomong-ngomong, kabar di Markas gimana? Kudengar Istana Haram diserang, ya?" giliran Gann yang bertanya kepadaku.
"Ya. Istana Haram diserang oleh Turncoat. Kebetulan aku mendapat misi itu. Salah seorang temanku juga tewas." Jawabku dengan perasaan menyesal.
PLEK!
"Aku turut berduka atas kematian temanmu meski aku tidak mengenalnya. Aku tidak tahu ada apa dengan semua kejadian yang kau dan aku alami tapi semoga kedepannya kita bisa mencari tahu misteri dunia ini." Kata Gann sambil memegang pundakku.
"Terima kasih, Gann. Oh iya, aku harus pergi dulu. Aku mau mencari temanku untuk meminta maaf karena aku punya salah dengannya."
"Hahaha kebetulan aku juga sedang mencari seseorang. Kalau begitu kita berpisah disini, ya." Ucap Gann.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Kataku sambil melambaikan tangan.
Gann pun mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu dia melanjutkan membeli es krim.
.
.
Sudah satu jam aku mencari Sonsane. Aku memutuskan untuk beristirahat dengan pulang ke rumah. Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Karena statusku masih libur, aku melakukan pekerjaan rumah secara total. Dimulai dengan menyapu, mengepel, mencuci baju, membereskan dapur dan kamar mandi serta tidak lupa juga untuk memperbaiki sepedaku. Tidak terasa 2 jam sudah berlalu dan karena aku lelah, akupun tertidur pulas.
Jam 7 malam aku terbangun. Segera aku pergi mandi karena tanpa kusadari aku tertidur sampai berkeringat. Setelah mandi aku memakai baju dan celana panjang plus jaket bekas akademi yang masih kusimpan dan kurawat karena modelnya yang keren. Setelah merasa cukup, aku memutuskan pergi keluar. Tujuanku adalah taman di alun-alun kota. Untuk berjaga-jaga aku juga membawa invetory 4 dimensi sekalian juga kubawa gitarku.
Kuraih sepedaku yang selalu setia menjadi partnerku sejak masih di akademi. Sepeda berwarna kombinasi hijau-hitam bertipe Cross dengan merek Samurai. Tidak lama aku sudah sampai di taman kota dan mencari tempat duduk yang cocok untukku. Udara dingin sama sekali tidak menjadi hambatan untuk sekedar melepas penat. Setelah duduk, kukeluarkan gitarku. Yah, aku punya hobi bermain gitar. Lagu yang biasa kumainkan adalah lagu-lagu dari Animasi Cora. Waktu di akademi aku sering bermain band dengan teman-temanku. Posisiku sebagai gitarist, Sonsane di bass, Cosmin di drum, Milia sebagai Vocalist dan Celica sebagai keyboardist. Kadang-kadang Darko juga ikut sebagai second Vocalist atau Programmmer.
"How many days have passed like this?
This city the crowd is fading, moving on
I sometimes have wondered where you've gone
Story carries on
Lonely, lost inside
I had this dream so many times
The moments we spent has past and gone away."
"Could there be an end to this,
What I'm feeling deep inside
You know there's no looking back."
"Glassy sky above,
As long as I'm alive,
You will be part of me
Glassy sky the cold
The broken pieces of me."
Aku menyanyikan sebuah lagi dari animasi terkenal berjudul City Ghoul. Lagu ini kurasa cocok untuk suasana sendiri seperti ini.
TAP! TAP! TAP!
Tak lama terdengar ada suara langkah kaki yang mendekat ke sini. Akupun menengok ke arah sumber suara untuk mengetahui siapa pemilik suara langkah kaki itu.
"Ketika aku sedang berjalan-jalan di malam hari, tiba –tiba ada suara orang yang sedang bernyanyi. Dan aku terkejut kalau orang yang bernyanyi itu adalah kau, Slask Wizarski." Kata orang itu.
Aku terkejut ketika melihat orang itu. Dia tak lain adalah Sonsane. Orang yang siang tadi selalu kucari-cari. Kulihat ada perban dikepalanya dengan noda merah. Mungkin itu akibat dari perbuatanku.
"Yo, Slask. Lama kita tidak jumpa." kata Sonsane sambil tersenyum.
Lalu Sonsane langsung berjalan ke arahku dan berkata "Boleh aku duduk?"
"…"
Tanpa menunggu jawaban dariku dia langsung duduk di sebelahku. Setelah itu dia mengeluarka thermos dan dua buah gelas plastik. Lalu dia menuangkan isi thermos itu ke gelas. Terlihat kalau yang dia bawa itu adalah minuman hangat.
CYUUURRRR!
Setelah itu dia menyodorkan salah satu gelasnya padaku.
"Nih, minum dulu. Malam-malam begini mantap banget kalau meminum minuman hangat."
"…"
Aku menerima gelas itu. Kuamati isinya sejenak lalu kelihat Sonsane langsung meminumnya.
"Sonsane, maaf aku…."
"Ng? kenapa?" tanya Sonsane.
"Waktu itu aku sudah…" aku tidak sanggup mengatakan lebih lanjut.
"Oh, maksudmu luka di kepalaku ini?" ujar Sonsane sambil memegang luka dikepalanya. Lalu dia melanjutkan "Sudahlah kau tidak perlu memikirkannya. Ini hanya luka kecil, kok. Ahahaha!"
SLURPPP!
"Jujur saja, aku juga sempat kesal waktu itu. Seenaknya saja kau main tendang kepalaku hanya saja aku sok bisa. Aku bukannya tidak bisa tapi aku juga baru ingat kalau aku belum 100% menguasai skill Rebirth. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Celica aku jadi berubah pikiran." Ujar Sonsane.
"Maksudmu?" tanyaku.
Sonsane lalu berdiri dari bangku.
"Celica menjelaskan setelah itu kau bangkit lalu bersama Cosmin kalian berhasil menghajar si Velez brengsek itu dan berhasil membalas dendam Darko. Kau melakukannya seperti ini lalu begini dan terakhir kau akhiri dengan ini. Hahahahha!" jelas Sonsane sambil memperagakan beberapa gerakan.
Mendengar dia menyebut kata "Darko", akupun langsung bereaksi.
"Tapi Darko…" namun perkataanku langsung dipotong.
"Ckckck kau tenang saja. Darko berhasil diselamatkan. Karena apa? Aku baru tahu kalau Celica punya jurus penyembuhan luar biasa. Dia bilang klan Novaya punya skill unik yaitu mentranferkan sebagian energi kehidupan ke tubuh seseorang yang sudah mati. Meskipun salah seorang klan itu bukan Spiritualist atau Artist, mereka tetap bisa mewariskan skill tersebut. Namanya kalau tidak salah 'Life Transfer'." Jelas Sonsane.
Namun, raut mukanya yang tadi bersemangat tiba-tiba berubah menjadi sedih "Hanya saja setelah dia melakukan Life Transfer, tubuhnya menjadi lemah. 4 jam setelah pertempuran itu dia pingsan, esoknya dia baru tersadar. Dokter bilang dia harus beristirahat hingga batas waktu yang belum ditentukan."
Akupun turut sedih mendengarnya. Aku tidak tahu siapa yang pantas disalahkan atas tragedi tersebut. Musuh yang menyerang? Atau Darko yang seenaknya main serang tanpa pikir panjang? Atau aku? Andai aku tidak ikut membantu mungkin Darko dan Celica masih sehat. Darko tidak terluka dan Celica tidak pingsan karena Life Transfer.
"Slask, boleh aku pinjam gitarmu?" akupun segera memberikan gitarku padanya dan ia langsung memainkannya.
JRENG! JRENG! JRENG!
"Darkness falls on another day
And the light just seems so far away
Am I here all alone?
Cause it just feels so cold, oh so cold."
"Is there more than what meets the eye?
Something higher keeping me alive
Maybe hope buried deep within
Here's what needed to begin again."
"Now I must believe
In something
I cannot see
For now
I'm on my own."
Lalu dia menghentikan permainannya. Kemudian ia berkata "Apa kau selama ini mencariku?"
"Ya, kemana saja kau? Kucari-cari kau tidak ada. Kupikir kau menghindariku." Jawabku.
"Maaf, selama ini aku sibuk. Divisi Specialist meminta bantuanku untuk beberapa pekerjaan seperti membuat armor dan senjata serta reparasi. Baru hari ini selesai."ujar Sonsane.
SLURP!
"Ngomong-ngomong kau sudah tahu berita tentang Ether?" kata Sonsane mengganti topik.
Aku menengok ke arahnya dan berkata "Maksudmu tentang pembataian satu batalyon Cora oleh sosok Bellato bermantel hitam?" kataku memastikan.
"Benar. Batalyon Cora yang ditugaskan ke Ether mencari Etheron dan hanya 2 orang yang kembali. Kejadian itu terjadi 3 bulan yang lalu. Kurang lebih itu waktu yang sama ketika Istana Haram diserang."
"Begitu, ya? Kira-kira apa ada hubungannya antara Bellato bermantel hitam dan musuh yang menyerang Istana Haram?"
"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Dan kau tahu beberapa hari yang lalu ada seorang lagi yang kembali dari Ether setelah dinyatakan hilang selama 2 bulan?" kembali Sonsane bertanya.
"Oh, maksudmu seorang gadis bernama Faranell Trinyth. Tadi siang aku melihatnya di depan ruang Archon. Temannya menampar dia karena dituduh bekerja sama dengan seorang Bellato." Kataku.
"Aku juga tadi bertemu dia di perpustakaan Istana Numerus. Waktu itu dia meributkan tentang perkamen yang berisi perang suci Sette 215 tahun yang lalu." Ucap Sonsane.
"Kau sendiri sedang apa di Perpustakaan?" tanyaku.
"Sebenarnya aku sedang iseng mencari buku. Lalu ketika mataku sibuk melihat-lihat daftar buku aku menemukan sebuah buku tanpa judul."
Lalu Sonsane mengeluarkan buku catatan dari inventorynya.
"Ada beberapa hal menarik dari buku itu. Aku sudah merangkumnya secara diam-diam."
Akupun melihat isi dari buku catatan itu. "Apa saja yang kau tulis?"
"Apa kau ingat Spiritualist yang pernah kau dan Cosmin hadapi?"
"Tentu. Aku masih ingat." jawabku
"Apa yang kau pikirkan ketika melihat dia?"
"Hmm, dia tipe pengguna magic tanpa tongkat." Jawabku setelah mengingat-ingat.
"Ya, sekilas dia memang terlihat tanpa tongkat. Tapi sebenarnya ada hanya bentuknya berbeda?" Sonsane membalik halaman catatannya. Terlihat disitu ada gambar sebuah benda berbentuk bulat dan terdapat sebuah core ditengahnya.
"Benda apa itu?" tanyaku.
"Orb. Senjata berupa alat pengendali force yang digunakan oleh Wizard dan Force Blader. Orb lebih berfungsi sebagai penguat force ketimbang pengontrol force." Jawab Sonsane.
Kembali Sonsane membalik halaman. Disana ada gambar seseorang yang memegang tongkat di tangan kiri.
"Orb bisa berubah menjadi tongkat yang disebut Astral Wand. Yang menarik tongkatnya selalu muncul di tangan kiri. Bisa dibilang mereka adalah Spiritualist kidal."
"Wah, aku tidak tahu kalau ada penjelasan seperti itu. Eh, tunggu dulu yang kau maksud dengan mereka itu siapa?"
"Nevarethian. Musuh yang saat ini dan nanti akan kita lawan."
Nevarethian? Begitu, ya? Selama ini aku tidak tahu apa nama musuh yang kulawan.
"Sebenarnya ada sebutan lainnya yakni Dranish. Nevareth sendiri adalah planet tempat mereka tinggal." Kata Sonsane.
Lalu dia berdiri dari tempat duduknya dan membereskan thermos beserta gelas kosong bekas kami minum.
"Sudah dulu ya, Slask. Malam sudah semakin larut. Aku mau pulang untuk tidur. Besok kita jenguk Celica, Milia dan Darko. Jangan lupa kau juga harus reparasi senjatamu."
"Ah, iya. Sebelumnya aku minta maaf karena sudah menendang kepalamu." Kataku sambil menundukkan kepala.
"Sudahlah, Slask. Yang lalu biarlah berlalu. Aku juga sudah memaafkanmu, kok."
Akupun ikut berdiri. Lega rasanya setelah permintaan maafku telah tersampaikan.
"Yah, kalau begitu aku pulang duluan, ya. Dah!" kata Sonsane sambil melambaikan tangan dan berjalan pulang. Akupun mengangguk tanda mempersilahkan.
Kemudian kumasukkan gitarku ke dalam inventory. Lalu kuraih sepedaku dan segera beranjak pulang. Pertemuan sungguh tidak terduga.
To Be Continued
"I'm sad for the death of your friend , though I do not know him . I do not know what's with all the events that you and I face but hopefully in the future we can solve the mystery of this world . " (Gannza Qhadara in Chapter 10).
Yes akhirnya Chapter 10 berhasil dibuat. Berikut beberapa informasi yang saya rangkum
Setting Chapter 9 & 10 sama seperti di Fanfic Lake Chapter 25. Meskipun dari semesta yang sama, saya pastikan musuh Bellato bermantel hitam dan Nevarethian tidak akan saling bertemu. Kalaupun mereka bertemu, mereka tidak akan saling kenal karena beda tujuan.
Di Chapter 9 disebutkan skill Cosmin berupa Super Lightweight. Fungsi dari skill itu adalah mengurangi berat senjata sehingga memungkinkan Cosmin untuk memakai dua senjata berat sekaligus. Saingan berat skill Rapid Logic milik Accretia. Skill Super Lightweight terinspirasi dari merek motor Kawasaki Z250 SL yang merupakan motor teringan dikelasnya.
Senjata Cosmin bernama Strong Intense Hora Axe LE. LE singkatan dari Limited Edition. Beda senjata LE dengan senjata biasa adalah bobotnya yang ringan namun memiliki damage yang lebih besar. Tapi harganya jauh lebih mahal karena material yang ringan sulit dicari. Diatas LE adalah SE (Special Edition).
Lagu yang dinyanyikan oleh Slask di Chapter 10 berjudul Glassy Sky adalah Insert Song dari anime Tokyo Ghoul. Lagu yang dinyanyikan Sonsane berjudul On My Own juga dari Tokyo Ghoul.
Demikian informasi dari saya. Yang terakhir Darko masih selamat sesuai permintaan teman-teman. Next Chapter adalah debut Bellato bernama Lech Kroznan. Ayo kita tunggu dan kita sambut dia.
Regard's
Slask Wroclaw Wizarski
