Chapter 11 : Bellato In Disguise
Disclaimer : RF Online by CCR and Cabal Online by ESTsoft.
Setting di Chapter 11 ini adalah beberapa hari sebelum Lake dan Slask mendapat misi di Ether.
Markas Bellato
Siang di Markas Bellato yang cukup panas tidak menghalangi para penduduk untuk beraktifitas. Terlihat dari banyaknya masyarakat Bellato yang giat bekerja. Di salah satu taman kota, terlihat seorang laki-laki Bellato sedang duduk di kursi taman. Berambut hitam pendek yang dibiarkan tertiup angin dan bermata biru yang sedang melihat ke atas langit. Tak lama datang seorang pria lain yang berjalan kearahnya.
"Lech, sedang apa kau disini?" tanya seorang pria berambut pirang agak panjang.
"Hahhhh, hanya sedang santai saja, bung." Jawab pria yang dipanggil Lech itu.
"Ngomong-ngomong kau sudah memutuskan mau masuk satuan divisi mana?" kembali pria itu bertanya sambil duduk disamping Lech.
"Hmm, aku sebenarnya ingin masuk divisi artileri yang dipimpin Maximus Izcatzin. Tapi satuan Join Task Force yang dipimpin Maximus Gatan juga sangat menarik. Aku jadi bingung pilih yang mana?" kata Lech sambil memejamkan mata menikmati angin siang. Lalu Lech membuka matanya sambil melihat ke temannya itu dan berkata "Kau sendiri bagaimana, Jansen?"
"Tadinya aku ingin masuk divisi Inteljen. Tapi tes kemarin nilaiku berantakan. Aku hanya meraih posisi ke 899 dari 1000 peserta yang mencoba daftar. Sementara yang diterima hanya sekitar seperempatnya saja." Kata Jansen dengan wajah bete.
"Kau kurang beruntung saja. Jadi, apa besok kau mau ikut aku untuk coba tes di divisi artileri?" tanya Lech.
Jansen menggelengkan kepala dan berkata "Tidak. Aku ingin coba daftar di satuan Join Task Force saja."
"Begitu? Aku dukung pilihanmu, deh. Kalau begitu besok kita berangkat bareng, ya?" ucap Lech.
"Oke. Kita saling dukung, ya? Kalau begitu aku pamit dulu. Aku masih ada misi yang harus kukerjakan."
"Hahaha, memang sibuk banget, nih. Mentang-mentang sudah jadi Hidden Soldier." Kata Lech sambil tertawa.
Mereka saling bertos-tosan dan diakhiri dengan adu kepalan sebagai tanda perpisahan. Mereka pun kembali melakukan aktifitasnya masing-masing.
Keesokkan harinya
Tok! Tok! Tok!
"Lech, bangun. Sudah pagi, nih. Katanya hari ini kau ada tes?" suara seorang wanita mencoba membangunkan Lech.
Lech yang masih dalam keadaan ngantuk tampak sedikit membuka matanya. Ia lihat jam disamping tempat tidurnya.
"Hoammm, sudah jam 5 pagi, ya?"
Lech bangkit dari tempat tidurnya. Dirapihkannya dahulu tempat tidur miliknya sebelum mandi. Setelah itu, Lech menyambar handuk yang digantung dipintu kamarnya dan bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, ia membuka lemari pakaiannya. Ia memilih baju putih dan celana panjang berwarna hitam. Tidak lupa memakai jaket bekas akademi yang masih disimpan dan dipakai sampai sekarang. Dan yang paling penting inventory 4 dimensinya.
Cklek!
Lech membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju meja makan. Tidak pakai lama dia habiskan jatah sarapannya hari ini.
"Jadi, benar hari ini kau mau ikut tes?" kata seorang wanita yang duduk didepannya.
"Iya, kak. Hari ini memang ada tes, tepatnya tes penerimaan tentara baru di divisi artileri." Jawab Lech.
"Kau sudah belajar?"
"Hehehe semalam sih sempat belajar. Tapi karena kantuk menyerang aku lebih memilih tidur." Kata Lech cengengesan.
"Dasar. Kau memang gak pernah berubah. Tak heran kalau nilai-nilai akademismu selalu jelek. Bagaimana bisa jadi prajurit hebat kalau nilai akademisnya saja amburadul?" Kata kakak sambil menyipitkan mata.
Yang dikomplein hanya bisa tertawa terpaksa saja karena bingung bagaimana menyikapinya. Setelah menghabiskan sarapannya, Lech segera beranjak dari tempat duduknya dan bersiap berangkat.
"Yosh, hari ini adalah hari besarku. Rasanya aku melihat pintu divisi artileri terbuka lebar. Federasi, bersiaplah memberi sambutan kepadaku dengan karpet merah. HOREEE!" teriak Lech sambil mengangkat tangannya.
"Wah, adikku semangat sekali, ya. Begitu, dong kalau mau maju harus dimulai dengan semangat tinggi."
"Ah, terima kasih. Kalau begitu kak Lechia, aku berangkat dulu ya. Sebelumnya aku minta maaf karena tidak bisa bantu kakak beres-beres untuk membuka toko."
"Tidak usah kau pikirkan, Lech. Aku 'kan punya beberapa karyawan. Kau tidak perlu khawatir." Kata kak Lechia.
Sebelum pergi, Lech pamitan sambil dicium keningnya oleh kak Lechia dan Lech balas mencium pipi kakaknya itu.
Jam ditangan Lech menunjukkan pukul 06.25 pagi. Sekarang dia hampir sampai dirumah Jansen anak pemilik kios buah-buahan dan sayur-sayuran. Setelah sampai, Lech masuk ke rumah Jansen.
"Permisi."
Tidak ada siapa-siapa di teras rumahnya padahal tokoh buahnya sudah buka tapi tidak ada sambutan. Pagi-pagi begini toko buah-buahan memang selalu dibuka lebih pagi daripada toko-toko lainnya. Sekaligus memberi jaminan kepada calon pembeli bahwa produk yang mereka jual memang segar dan sehat untuk dikonsumsi.
Lech tampak asik melihat aneka buah dan sayuran yang dipajang rapi sesuai tempatnya. Buah dan sayur yang dijual di toko Jansen adalah murni dari kebun sendiri. Lech merupakan salah satu pelanggan tetap di toko ini. Namun, saat asik melihat pajangan buah Lech melihat ada anggur merah segar yang masih belum dikemas. Ia dekati anggur itu dan sepertinya Lech tergoda untuk mencicipinya. Dia ambil sebiji anggur itu tanpa pikir pajang dan langsung dimakannya. Namun, nahas saat ia memakan anggurnya, Jansen yang kebetulan lewat memergokinya.
"WOOOO! HEH, SEMBARANGAN AJA MAEN MAKAN ANGGUR ORANG. DASAR MALING!"
"OHOK-OHOK!"
Lech yang masih mengunyah anggur tersedak dibuatnya.
"Ampun, deh. Aku 'kan hanya mencoba satu. Pelit amat, sih." Protes Lech.
"KAGAK BISA. KAU HARUS GANTI SEPULUH KALI LIPAT. TITIK!"
"Heh, kau sendiri juga sering mengambil kue brownies jualan kakakku. Apa kau bayar? Enggak 'kan? Jadi kita impas 'kan?" balas Lech tidak mau kalah.
Jansen yang merasa tidak bisa membalas serangan Lech akhirnya memilih mengalah.
"Iye-iye. Kali ini kau menang. Yaudah kalau begitu aku siap-siap dulu. Jangan kemana-mana." Kata Jansen dengan nada yang sedikit merendah.
Tak lama Jansen keluar dengan pakaian yang sudah rapih.
"Yo kita jalan. Ayah aku berangkat dulu, ya." Kata Jansen sambil pamitan dengan ayahnya. Ayah Jansen tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Sepanjang perjalanan mereka mengobrol macam-macam. Dari mulai manjadi prajurit terkuat hingga membahas soal prediksi ujian.
"Pokoknya begitulah. Hari ini aku merasa namaku sudah siap-siap akan ditulis dalam list prajurit divisi artileri."
"Itu tidak seberapa. Feelingku tidak lama lagi aku akan menggantikan posisi Gatan sebagai komandan resimen Join Task Force." Ujar Jansen menyombongkan diri.
Akhirnya mereka sampai di Markas Bellato. Ujian penerimaan prajurit divisi artileri akan dimulai pada pukul 07.30.
"Kalau begitu, kita berpisah disini. Kelas artileri ada disebelah kiri dari aula markas." Ucap Lech.
"Kita berjuang sama-sama, ya?" kata Jansen.
Mereka memasuki kelasnya masi-masing. Lech memasuki ruangan ujian divisi Artileri sedangkan Jansen menuju ke Satuan Join Task Force. Setelah Lech memasuki ruangan tersebut, nampak semua memperhatikan kehadirannya. Bisa ditebak alasannya, itu karena hanya Lech satu-satunya yang hanya mengenakan baju biasa sementara yang lain memakai armor lengkap dari kepala sampai ujung kaki.
Tidak lama kemudian, datanglah seorang wanita dengan jubahnya yang nampak anggun. Dia tidak lain adalah Maximus Izcatzin Kirxix kakak dari Archon Croiss Kirxix. Dia nampak melihat seluruh peserta ujian dengan matanya yang tajam. Kemudian tatapan matanya terkucni ke sosok Bellato berambut hitam pendek yang tak lain adalah Lech.
"Heh, kamu. Cepat berdiri!" perintah Izcatzin.
Yang disuruh langsung berdiri dengan wajah polos.
"Sebutkan nama, pangkat dan jobmu!" kembali Izcatzin memerintah dengan nada yang lebih tajam.
"Nama saya Lech Kroznan. Liutenant class Berserker. Terima kasih."
"Kenapa kau tidak memakai armor lengkap, Kroznan!? Apa orang tuamu adalah prajurit bangsawan elit hingga membuatmu seenaknya melanggar peraturan!? Kau tahu 'kan meski ini ujian tapi kau harus memakai armor lengkap sebagai syarat utama tak tertulis!?" tukas Izcatzin.
"Maaf, Maximus. Sebelumnya panggil saja saya Lech. Tidak apa-apa kok karena orang tua saya hanya pengusaha toko kue kecil-kecilan. Terus mengenai armor, aku belum punya armor yang baru karena yang lama sudah rusak. Belum ada uang buat beli yang baru. Hehehe." Jawab Lech sambil tertawa untuk mencairkan suasana.
Izcatzin menghela nafas panjang sambil berkata "Ya sudahlah. Kau kuizinkan ikut ujian. Maaf sudah menyinggung pekerjaan orang tuamu."
"Hahaha tidak masalah, Maximus. Ini sudah lumrah, kok." Ucap Lech dengan wajah yang terlihat santai-santai saja seolah tidak ada beban dipikirannya.
"Baiklah 1000 peserta yang hadir. Hari ini adalah ujian penerimaan prajurit divisi artileri. Kuperingatkan jika kalian meraih nilai tertinggi belum menjamin kalian akan diterima karena kami juga akan melihat track record kalian baik selama mengikuti misi maupun ketika kalian belajar diakademi. Semua yang ada disini aku anggap sederajat. Tidak ada yang dianakemaskan ataupun dianaktirikan." Kata Izcatzin membuka ujian.
"Saya akan berikan kertas ujian dan kertas jawaban. Jangan dikerjakan dulu, tunggu perintah dariku. Kalau ada yang ketahuan nyuri start, maka dia didiskualifikasi. Mengerti!?"
"Mengerti." Jawab semuanya kompak.
Maximus Izcatzin memberikan kertas ujiannya sambil berkeliling dari meja ke meja.
"Baik. Semua sudah mendapat kertas soal dan jawabannya. Begitu ujian dimulai silahkan balik kertas soalnya. Waktunya 4 jam. Kerjakan dengan sungguh-sungguh dan jangan ada yang nyontek!"
"Oke. Ujian dimulai…. SEKARANG!"
Ujian sudah berjalan. Nampak mereka sedang mengerjakan soal dengan beragam ekspresi. Ada yang serius, biasa saja, ada yang gelisah karena soalnya terlalu susah, ada juga yang coba-coba nyari kesempatan untuk menengok rekan disebelah. Ujian terdiri dari 100 soal campuran dari mulai matematika, bahasa Bellato, fisika, sastra Bellato sampai biologi. Lech sendiri tidak kalah stressnya dengan peserta yang lain. Berkali-kali dia membolak-balikkan kertas sambil berharap nemu soal yang gampang.
GREEGG!
Tiba-tiba pintu kelas digeser. Semua penghuni kelas langsung menatap ke arah pintu untuk melihat siapa pelaku yang membuka pintu. Ternyata yang masuk adalah Wakil Archon Gatan Valsynvis.
"Maximus Izcatzin, bisa bicara sebentar diluar?" kata Gatan.
Tanpa bicara Izcatzin pun keluar. Diluar kelas mereka nampak sekidit mengobrol tentang ujian.
"Kalau begitu kita sama. Karena dikelasku juga ada prajurit yang tidak memakai armor. Kalau tidak salah namanya Nicklas Jansen. Hidden Soldier yang pekerjaan sampingannya menjaga toko buah-buahan milik orang tuanya. Dia seangkatan dengan Lake Grymnystre bahkan yang namanya Jansen satu kelas dengan Lake. Hanya saja pangkat Jansen lebih rendah yakni Liutenant. Mungkin dia juga sibuk mengurus toko buahnya." Ucap Gatan.
"Menurutmu apa tidak apa-apa membiarkan orang seperti mereka memilih jalan sebagai prajurit? Mereka 'kan tidak memiliki latar belankang prajurit." Tanya Izcatzin agak sangsi.
"Menjadi prajurit tidak harus dari kelurga prajurit ataupun dari kalangan bangsawan. Mereka berdua sudah membuktikannya. Angkatan tahun ini, hanya mereka berdua yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Bahkan di tahun sebelum-sebelumnya tidak ada." Jawab Gatan.
"Yasudah. Kita akhiri obrolan ini karena sebentar lagi waktu ujian sudah habis." Kata Izcatzin sambil berjalan memasuki ruang kelas.
.
.
"Waktu ujian sudah habis. Silahkan balik lembar jawabannya. Jangan ada yang menulis lagi."
Izcatzin berjalan sambil mengambil kertas soal dan jawaban. Setelah semuanya sudah diambil, ia kembali kedepan.
"Semua kertas ujian sudah ada ditangan saya. Untuk hasil ujiaannya, silahkan tunggu pukul satu siang. Sekarang kalian semua boleh bubar." Tukas Izcatzin.
Lech beserta semua peserta ujian keluar meninggalkan ruang kelas. Sambil menunggu hasil ujian keluar, Lech memutuskan untuk mampir beli minuman di Vending Machines. Setelah membeli minuman, ia berjalan menuju tangga di markas untuk duduk-duduk.
"Oi, Lech. Gimana ujiannya?" kata seorang pria berjalan menuju Lech.
"Wow, susah banget. Materi yang kupelajari semalam hanya keluar 30% saja. Aku jadi pesimis akan hasil akhirnya." Jawab Lech.
"Aku juga berpikiran sama. Rasanya mustahil bagiku menggantikan posisi Maximus Gatan." Kata Jansen dengan wajah lesu.
Sambil meminum minuman yang baru dibelinya, Lech berkata "Ngomong-ngomong besok juga ada tes perekrutan untuk misi di Ether. Kau mau ikut atau tidak?"
"Kayanya sih gak ikut deh. Tes melulu bikin kepalaku pusing tujuh keliling." Ujar Jansen sambil mengeluarkan sebuah kotak makan dari inventorynya.
"Hari ini kau bawa apa?" giliran Jansen bertanya.
Lech pun ikut mengeluarkan kotak makannya dari inventorynya.
"Kue brownies rasa anggur. Kakakku yang membuatnya tadi pagi. Mau makan bersama?" tawar Lech.
Jansen yang mendapat tawaran langsung mengiyakan "Mau, dong. Nih, kau juga harus makan anggurku."
Mereka pun saling berbagi makanan sambil diselingi obrolan ringan. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Ini berarti hasil ujian akan segera keluar.
"Jansen, sudah jam satu. Ayo kita lihat hasilnya." Ajak Lech.
"Ayo."
Mereka berdua sampai di aula markas. Tak lama papan pengumuman hasil ujian keluar. Mereka pun mencoba mencari nama masing-masing meski berdesakkan dengan yang lainnya. Dan seperti yang diduga Lech dan Jansen tidak lulus ujian. Lech hanya menempati posisi ke 848 di list divisi artileri sedangkan Jansen lebih parah. Ia hanya menempati posisi ke 878 Join Task Force. Sangat jauh dari yang diharapkan. Sedangkan yang lulus hanya seperempatnya saja.
"Benar saja. Aku tidak lulus. Tidak ada karpet merah untuk diriku." Kata Lech.
"Sama, kawan. Gagal sudah impianku menggeser posisi Gatan." Ujar Jansen lapang dada.
Tap! Tap! Tap!
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah Lech dan Jansen.
"Liutenant Lech dan Liutenant Jansen?"
Mereka berdua menengok ke arah sumber suara. Seorang pria muda berambut cokelat berdiri dengan gagah.
"Ya, ada apa?" jawab Lech.
Bisa mereka berdua lihat kalau orang yang memanggil mereka adalah salah seorang dewan wakil Archon. Mereka pun ternganga dibuatnya.
"Sebelumnya perkenalkan namaku Maximus If Elsborg. Dewan bagian Supporting. Atas rekomendasi dari Archon, saya membawa pesan kalau kalian berdua ditempatkan di Divisi Supporting. Apa kalian bersedia?"
Masih dengan perasaan takjub, mereka berdua pun setuju "Y-ya, tentu saja. Itu tidak masalah bagi kami."
"Bagus. Kalau begitu kalian silahkan pergi ke Pos Bellato. Disana ada seorang rekanku yang mau bertemu dengan kalian." Ucap Maximus If.
"S-siap, Maximus."
Lech dan Jansen segera berjalan ke Portal utama Markas. Lalu mereka mengakses portal menuju Pos Bellato. Sesampainya seperti yang dikatakan Maximus If ada seorang wanita yang berdiri seperti sedang menunggu. Jika dilihat sepertinya dia juga anggota dewan.
"Ah, pasti kalian yang bernama Lech dan Jansen." Kata wanita berambut biru langit.
"Ya, benar. Aku Lech Kroznan dan ini temanku Nicklas Jansen." Balas Lech sambil memperkenalkan diri.
"Perkenalkan juga namaku Maximus Karina Elfsborg. Wakil Dewan Divisi Supporting class Wizard." Kata Karina dengan sikap yang dewasa.
"Elfsborg? Apakah anda…"
"Bukan. Aku bukan saudaranya. Aku istri dari Maximus If Elfsborg." Potong Karina sambil memasang senyum.
"Heh? Istri? Jadi Maximus… anda sudah menikah?" tanya Jansen dengan ekspresi sedikit kecewa.
"Iya. Ah, kita kembali ke topik. Alasanku ingin bertemu kalian adalah untuk memberikan ini." Ujar Karina sambil memberikan sebuah kartu yang mirip Credit Card.
"Kartu apa ini, Maximus?" tanya Lech.
"Armor Card. Tukarkan kartu itu di toko Armor. Maka kalian berdua akan mendapatkan satu set armor baru sesuai class masing-masing." Jawab Karina.
"Wih, keren sekali. Apa ini juga sebagai hadiah diterimanya kami?" ucap Jansen seperti mendapat pencerahan.
"Bisa dibilang seperti itu. Tapi tadi siang Maximus Izcatzin menemuiku. Dia bilang seandainya kalian lulus ujian tolong berikan armor baru karena katanya kalian tidak punya armor baru. Tapi meski kalian tidak lulus, setidaknya kalian diterima di divisi supporting. Jadi kalian tetep mendapat armor baru dariku." Jelas Karina.
"Hmm, begitu ya? baiklah, kalau begitu Maximus, kami balik ke markas dulu. Terima kasih atas hadiahnya." Kata Lech sopan.
"Silahkan. Untuk beberapa hari ini kalian belum mendapat tugas apa-apa jadi kalian bisa beraktifitas seperti biasa." Kata Karina.
Lech dan Jansen pun kembali teleport ke markas. Tak lama setelah mereka pergi, datang If dari portal yang sama.
"Bagaimana, Karina?"
"Seperti yang kau bilang. Mereka prajurit yang semangat. Terlihat dari wajah mereka yang terasa tanpa beban." Ucap Karina.
"Menurut informasi keluarga mereka adalah pemilik usaha toko. Si Lech kakaknya membuka usaha toko kue sedang si Jansen keluarganya membuka toko buah dan sayuran yang mana hasil dari kebun mereka sendiri." Jelas If.
"Toko kue dan toko buah, ya? kapan-kapan kita belanja disana ya, sayang?"
"Hahaha, tentu saja. Aku juga penasaran seperti toko mereka." Kata If.
.
.
Setelah menukarkan Armor Card, Lech dan Jansen sudah mendapat armor baru.
"Wuih, akhirnya aku punya Intense Double Core Full Sets. Special Edition lagi." Kata Lech bahagia.
"Benar. Lihat ini aku juga dapat Intense Special Edition Ell Sets. Ringan sekali dan lentur pula. Ini kalau dijual harganya bisa berlipat-lipat. Special Edition, bos!" balas Jansen tidak kalah bahagia.
"Nah, karena kita sudah mendapat armor baru bagaimana kalau kita coba hunt di Benteng Solus?" ajak Lech.
"Boleh. Tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat."
Lech dan Jansen kembali berjalan ke portal. Kali ini tujuan mereka Benteng Solus. Setelah sampai mereka berjalan menuju Crawler Forest. Sore hari ini, Lumen bersinar indah di ufuk barat. Jalanan juga tidak terlalu banyak orang. Hanya ada beberapa saja yang sedang hunting ataupun bersantai-santai.
Mereka sampai di Crawler Forest. Namun, ketika sampai mereka melihat ada kerumunan orang. Sepertinya sedang ada pertunjukkan. Benar saja disana ada sebuah pertunjukkan sihir. Seorang anak perempuan mempraktekkan beberapa spell. Penonton yang sebagian besar adalah penduduk setempat terkagum-kagum melihatnya.
"Hebat. Kecil-kecil udah jago sihir. Sepertinya dimasa depan dia akan menjadai prajurit yang hebat." Kagum Jansen.
"Keren, ya? orang tuanya pasti bangga dengannya." Balas Lech.
Lech dan Jansen juga terpukau. Membuat mereka jadi lupa akan tujuan. Diseberamg Lech juga melihat seorang prajurit Bellato yang ikut menonton. Tapi, tiba-tiba pria Bellato itu mengangkat tangan dan menjentikkan jarinya.
CTEKK! SRAK! SRAK! SRAK!
Terdengar suara seperti orang yang berlari. Tiba-tiba dari atas muncul kerumunan orang-orang misterius dan menyerang penduduk setempat.
SRASHHH! CRESSS!
Suara pedang yang memotong daging menggema di telinga.
"ARRGGHH!"
"UWAAA! ADA APA INI!? ARRGGHH!"
Tak kurang ada sekitar 20 sosok misterius dengan ciri-ciri memakai pakaian hitam dan penutup kepala serta topeng. Mereka membunuh habis semua penduduk yang menonton pentunjukkan sihir tadi. Tapi rupanya tujuan mereka adalah anak itu. Ketika salah satu dari mereka mendekati gadis itu, Jansen segera menembaknya.
"AIMING SHOT!"
RATATATATA!
BRUGH!
Dia pun mati ditempat.
"Lech, kau lindungi gadis itu. Mereka biar aku yang urus!" kata Jansen.
Lech pun mendekati gadis itu. Dia tampak ketakutan melihat keadaan sekitarnya.
"Jangan takut. Kami akan melindungimu." Kata Lech
Tiba-tiba datang 5 orang misterius itu hendak menyerang Lech. Lech mengeluarkan Intense Scale Sword +6 nya.
"Maju kalian!" tantang Lech.
Salah satu dari mereka menyerang Lech dari depan.
TRANG!
Suara dua pedang yang saling beradu menggema keras.
"DASAR LEMAH! TERIMA INI!" Lech mendorongnya dan mengeluarkan skillnya.
"DOUBLE CRASH!"
DUAGH! DUAGH! DUAGH!
Musuh pertama tumbang. Setelah itu Lech melompat tinggi dan melancarkan skill keduanya.
"PRESSURE BOMB!"
JDARRRR!
"UWARRGGGHHHH!"
Tidak hanya 3 tapi 10 sekaligus tewas akibat serangannya.
"Bagaimana?"
"Lumayan. Aku juga!" ujar Jansen. Jansen melompat tinggi ke udara dan mengeluarkan jurus andalannya.
"WILD SHOT!"
RATATATATA! DUAR! DUAR! DUAR!
"UWARGHH!"
"Huh, tak kusangka mereka lemah."
Kini lawan hanya tersisa 3 orang termasuk Bellato yang jadi dalang permasalahan ini. Lech pun mencoba bicara dengan mereka.
"Siapa sebenarnya kalian dan tujuan kalian membuat kekacauan ini?"
Bellato itu dari badannya keluar cahaya yang amat menyilaukan. Dan rupanya dia berubah. Sosoknya bukan Bellato lagi tapi seperti Cora. Dia memakai armor ketat berwarna biru-putih dengan jubah berwarna merah. Dipinggangnya terdapat sebuah pedang tipis melengkung berwarna biru kristal yang panjang.
"Namaku Santorini. Tujuanku gadis yang ada dibelakang kalian."
"Heh, memangnya mau kau apakan? Kau culik terus dijual ke pria hidung belang atau untuk kau nikmati sendiri, ya? DASAR MESUM!" Tukas Jansen songong.
"Kulihat gadis itu memiliki bakat sihir yang hebat. Di bisa kumanfaatkan." Kata Santorini sedikit menyeringai.
Melihat itu Lech dan Jansen memasang kuda-kuda siaga.
"Tidak akan kubiarkan kau mengambil gadis ini. Akan kubunuh kau!" kata Jansen.
"Menarik!" kali ini dengan lebih menyeringai lagi.
Jansen maju dua langkah.
"AIMING SHOT!"
ZWUNG! RATATATATATTA!
Diluat dugaan Santorini mampu menghindari tembakan Jansen.
"Masih belum! FAST SHOT!"
SWING! RATATAATATATA!
Kali ini Santorini menghidar ke arah kanan. Namun, sudah diprediksi oleh Jansen dan dengan cepat dia menembak lawannya.
"Kena kau! EAGLE CRUISER!"
RATATAATATA! DUAR! DUAR!
"Yes, berhasil." Girang Jansen.
Tapi dengan kecepata tinggi Santorini muncul dari balik kepulan asap dan mendekat ke Jansen. Ia lalu menarik pedang dari pinggangnya.
"Illusion Stab!"
ZLEBB!
"ARGHHH!"
Santorini berhasil menusuk Jansen. Jansen pun tumbang dengan luka tusuk yang parah.
"KAU! BERANINYA MENYAKITI TEMANKU! RASAKAN INI!" teriak Lech.
Lech pun maju menerjang.
BUAGH!
"ARGHH!" Lech ditendang Santorini hingga jatuh terguling.
"SIALAN!" Saat Lech hendak bangkit tiba-tiba ia tidak bisa bergerak.
"APA!? KENAPA INI!? AKU TIDAK BISA BERGERAK!?"
"Execration. Force pengikat yang membuatmu tidak bisa bergerak."
"KAU! AWAS KAU! AKAN KUBUAT KAU BABAK BELUR!" Lech menggenggam erat pedangnya.
"Masih mau melawan? Coba ini?" Santorini melempar spell ke Lech.
"Enervation!"
SWINGG!
"A-APA INI? TUBUHKU TERASA LEMAS. AKU TIDAK BISA BERDIRI." Lech pun bertekuk lutut didepan Santorini.
"Huhuhu, bagaimana rasanya dihadapkan dengan kematian? Nikmat 'kan?" kata Santorini dengan nada Sarkastik dibarengi dengan seringai iblis.
Lech tidak bisa membalas perkataan Santorini. Baru kali ini dia berada dalam situasi yang mana kematian lebih dekat dari keberuntungan bisa selamat.
"Huhuhu, tenang-tenang sebentar lagi aku akan membebaskanmu dari rasa pedih ini." Kembali Santorini berkata dan kali ini dibarengi dengan ayunan pedang siap menebas.
"Sayonara, Bellato!"
SRASSHHH!
To Be Continued.
"You do not ever change . That is why the values of your lessons are always bad . How it could be a great soldier if only academic value in shambles ?" (Lechia Kroznan in Chapter 11)
Hore akhirnya Chapter 11 berhasil diupdate. Chapter ini spesial karena debut Bellato berhasil. Mari kita berkenalan dengan karakter baru Under Attack.
Lech Kroznan : Prajurit Bellato Berserker berpangkat Liutenant. Orang yang selalu terlihat tanpa beban. Selain cukup berbakat dalam bertempur, dia juga bisa membuat kue yang enak. Memiliki seorang kakak perempuan yang cantik. Anak dari pemilik toko kue dan roti.
Nicklas Jansen : Prajurit Hidden Soldier yang orang tuanya membuka usaha toko buah dan sayur segar. Ingin menjadi prajurit agar dianggap pahlawan. Sangat jago mengupas buah-buahan dalam waktu singkat.
Lechia Kroznan : Kakak Lech yang meneruskan usaha orang tuanya membuat kue dan roti. Dia bekerja sambil kuliah di Klenson University cabang Novus. Usianya terpaut 4 tahun dengan Lech. Sangot jago membuat aneka kue.
If Elsborg : Wakil Archon divisi Supporting job Armsman. Memiliki istri yang juga dewan Supporting.
Karina Elsborg : Wakil Archon Suppor sekaligus Istri If Elsborg. Job Wizard dan kabarnya sedang menagndung 2 bulan.
Santorini : Nevarethian pangkat Stratigos job Force Blader. Lebih berbahaya daripada yang lain.
Bagaimana menurut kalian Chapter ini. Baguskah? Kutunggu jawabannya.
