Chapter 12 : Bloody Night

Disclaimer : RF Online by CCR and Cabal Online by ESTsoft

ZRASSHH!

"ARGHH!"

Lech beruntung karena dia berhasil sedikit mengelak sehingga tebasan Santorini tidak terlalu dalam mengenainya. Meski begitu, Lech tetap mendapat luka serius di dadanya.

"Masih bisa menghindar padahal kau sudah tertekan? Hebat juga kau." Ledek Santorini.

Lech coba untuk berdiri. Dia raih dan genggam erat Intense Scale Swordnya.

"Mana mungkin aku akan mati? Aku masih punya cita-cita, tahu!" balas Lech.

"Hmm, begitu? Oke kalau kau bilang begitu tapi aku akan tetap mengambil anak yang kau lindungi itu." Kata Santorini sambil menunjuk gadis kecil dibelakang Lech.

Santorini mengangkat tangan kirinya untuk menyuruh 2 orang anak buahnya.

"Ambil gadis itu!"

WHUSSHH!

2 anak buah Santorini bergerak cepat. Lech coba berusaha melawan mereka.

"Lewati aku dulu kalau mau gadis ini!" ancam Lech.

Tapi mereka benar-benar melewati Lech dengan cara melompati Lech.

WHUSSHH!

"APA!?" Kaget Lech.

Ketika salah seorang dari mereka hendak menangkap gadis itu, tiba-tiba terdengar suara tembakan.

DORR!

"ARGH!" peluru tepat mengenai kepalanya.

Pemilik suara tembakan itu adalah Jansen. Dia juga berusaha untuk berdiri walaupun luka diperutnya terus meneteskan darah.

"Jangan lupakan keberadaanku!" kata Jansen serius.

Jansen mengarahkan Gatling Gunnya ke suruhan Santorini yang terakhir. Kali ini Jansen mengeluarkan skillnya.

"AIMING SHOTT!"

WHUNG! RATATATATA!

"ARGHH!" tidak hanya kepala namun dada dan perutnya ikut berlubang akibat peluru dari Gatling Gun Jansen.

"Jansen!" panggil Lech.

"Tenang, Lech. Ini benar-benar aku. Aku masih hi…"

ZLEBBB!

"Dup?... ehh?"

Tiba-tiba sebuah pedang menembus dada Jansen dari belakang.

"Berani-beraninya kau menghalangi rencanaku. Sebagai balasannya kuberikan tusukan ini untukmu!" ucap Santorini dengan ekspresi benci yang tidak terlalu ditonjolkan.

Setelah itu Santorini mencabut pedangnya secara perlahan dari tubuh Jansen.

"AAARRGHHH!"

Hanya suara pilu yang bisa dikeluarkan dari mulut Jansen. Tanpa sadar air mata keluar dari matanya.

"JANSENNN!"

Lech yang tidak tahan melihat temannya disiksa langsung maju menyerang Santorini.

"KAU! LEPASKAN TEMANKU! KUBUNUH KAU!"

"Execration!" kembali Santorini mengeluarkan force pengikatnya.

"APA?" Lech tidak bisa bergerak karena serasa ditahan oleh force.

"LEPASKAN AKU! BERANINYA CUMA PAKAI JURUS PENGIKAT! DASAR PENGECUT KAU!"

Setelah melepaskan pedannya, Santorini lalu melempar pedangnya ke udara dan menangkapnya dengan posisi digenggam terbalik.

"Apa kau pernah melihat orang dibunuh tepat didepan matamu, Bellato?" Tanya Santorini sambil sedikit tersenyum.

"O… oi tunggu dulu apa maksudmu!?" kata Lech dengan muka pucat.

"Pernakah kau lihat ada orang yang yang dibunuh tepat dihadapanmu?" kata Santorini.

"A..apa..? a.. apa yang… mau..kau lakukan!?"

TRANGG!

Lech tanpa sengaja menjatuhkan pedangnya dan dibarengi dengan memegang kepalanya sendiri.

"Hmm, dilihat dari ekspresimu kemungkinan kau belum pernah mengalaminya."

Lalu Santorini mengarahkan pedangnya ke leher Jansen.

"Mau kutunjukkan?"

"JA…JANGAN..KAU..BUNUH…" kata Lech terbata-bata.

"Hmmm?" gumam Santorini.

Sejatinya Lech ingin menyelamatkan Jansen. Namun, apa daya untuk mengambil pedang yang jatuh saja tangannya gemetaran ditambah lagi force Execration mengikat kakinya.

.

.

.

ZRASHHH!

"Jan..senn..!"

Tepat didepan mata Lech, Santorini memotong kepala Jansen secara diagonal. Darahpun muncrat berhamburan hingga mengotori rumput yang tumbuh. Lech yang melihat kejadian itu nampak terkejut tidak percaya. Baru kali ini dia menyaksikan pemandangan yang begitu mengerikan. Melihat kepala temannya tidak utuh lagi tentu menimbulkan efek horror yang luar biasa. Benar-benar sore hari yang penuh dengan darah.

"..HUUUWWAAAAAAAA…..!"

Hanya teriakkan keras yang keluar dari mulutnya. Lech serasa melihat mimpi terburuk yang hadir dalam hidupnya. Tidak terasa air mata mengalir dari matanya.

"HUWAAAA! SIALANNNNN!"

Force yang mengikat Lech terlepas. Lech yang sedih sekaligus marah lalu mengambil pedangnya. Kemudian Lech pun menyerang Santorini secara membabi buta.

"SIALAN! SIALAN! RASAKAN INI!"

Namun, semua serangannya sia-sia karena dengan mudahnya Santorini bisa menghindarinya.

"DOUBLE CRASH!"

TRANG! TRANG! TRANG!

"FORCE KICK!"

DUAK!

Lech terpental akibat tendangan lutut Santorini. Ketika Lech hendak bangun kembali, Santorini langsung mengeluarkan skillnya.

"Akan kuakhiri pertarungan ini. ASSASSINATE!"

SRING! SRING! SRING! SRING! SRASH!

Jurus serangan segala arah sukses mendarat di tubuh Lech hingga membuatnya terluka disana-sini.

"ARRGGHH!"

Akibat luka tersebut, Lech tidak bisa bangun lagi. Dia hanya bisa menatap lawannya yang berjalan mendekat ke dirinya. Lech coba meraih pedang yang lepas dari tangannya. Tapi ketika Lech hampir menyentuh Scale Sword miliknya, pedang itu lebih dulu diambil Santorini.

"Hmm, pedang yang unik. Punyamukah? Berapa harganya?" ucap Santorini dengan senyum tanpa dosa.

Lech hanya diam mendengar perkataan Santorini. Lech hanya berharap kalau hari ini hanya mimpi saja. Apa yang dilihatnya hanya ilusi semata.

"Kenapa? Kau mau pedang ini?"

Santorini mengangkat Scale Sword milik Lech ke atas. Tanpa disangka Santorini menancapkan pedang Lech tepat di perut Lech.

ZLEBB!

"AAARRRGHH!" teriak Lech dengan nada pilu.

Rasa sakit yang dialami pastilah sangat luar biasa. Pedang bergerigi dengan panjang sekita 1,5 meter menembus perutnya dari ujung pedang hingga mendekati gagang pedang. Perlahan matanya tidak kuat lagi untuk melihat. Pelan tapi Lech menutup matanya. Hal yang terakhir dilihatnya sekelompok pasukan keamanan yang berjumlah sekitar 10 personil datang ke TKP. Gadis kecil yang tadi dilindunginya berhasil diamankan. Seorang personil menghampiri mayat Jansen untuk dievakuasi, satu prajurit wanita mengurus Lech, sementara tujuh lainnya mengejar sang pelaku Santorini.

.

.

.

"Kejar terus. Jangan sampai dia lolos!"

Tujuh orang prajurit nampak berlari mengejar seseorang. Perkiraan mereka target akan masuk ke Twin Cave.

"Twin Cave? Bagaimana ini? Goa ini sangat gelap. Apa kita akan masuk kedalamnya." Tanya salah seorang prajurit bawahan.

"Itu tidak masalah. Kita gunakan kacamata infrared. Sederhana bukan?"

"Ah, benar juga. Aku sampai lupa akan hal itu. Conquest Jorgensen memang hebat."

Mereka segera memakai kacamata infrared. Setelah merasa siap, merekapun segera masuk ke dalam.

"Sommerset, coba kau aktifkan GPSmu. Perbesar area Twin Cave dan scan menggunakan alat Scanner. Periksa keberadaan target!" perintah Conquest Jorgensen kepada wanita Shield Miller bernama Sommerset.

"Baik!"

Sommerset langsung menyalakan GPS dan mengaktifkan mode autoscan. Hasilnya Sommerset melihat ada titik merah berjumlah dua buah tidak jauh dari posisi mereka.

"Ada 2 titik merah di arah utara mendekati timur laut. Perkiraan jarak 20 meter. Konfirmasi." Jelas Sommerset.

"Oke. Posisi target sudah dipastikan. Persiapkan diri kalian. Ayo kita bergerak!" ajak Jorgensen.

Mereka bertujuh melanjutkan perjalanan ke tempat yang ditentukan. Rupanya tempat yang dituju adalah sebuah lapangan yang tidak terlalu luas. Sesampainya, mereka tidak melihat keberadaan target.

"Aneh. Menurut GPS seharusnya tempat itu ada disini." Kata Sommerset.

"Kau yakin analisamu tidak salah?" tanya seorang temannya.

"Aku yakin, Girsen. Perhitunganku tidak pernah meleset." Bantah Sommerset.

Girsen coba melihat area disekelilingnya. Dia juga coba melihat GPS milik Sommerset. Dan benar saja titik itu ada ditempat mereka berdiri.

PLOK! PLOK! PLOK!

Terdengar suara tepuk tangan tepat disamping mereka. Mereka pun menengok ke arah sumber suara.

"Tak kusangka kalian terus mengejarku hingga kesini. Kupuji kalian semua." Pemilik suara itu tidak lain adalah Santorini.

"Cora? Diakah orang yang kita kejar?"

"Mungkin iya. Jika dilihat dari ciri-cirinya memang dialah yang tadi kita kejar." Jawab Jorgensen.

"Hei kau, kenapa kau datang kesini? Kau mau memata-matai kami, ya? Dasar Cora penyusup!" kata Girsen emosi.

"Huhuhuhu, Cora? Sayang sekali aku bukan Cora." Jawab Santorini.

"Bukan Cora? Lalu kau siapa? Dan kenapa kau bisa mengerti ucapan kami?" giliran Sommerset yang bicara.

"Namaku Santorini dari bangsa Dranish. Kenapa aku bisa mengerti bahasa kalian? Itu karena aku menggunakan force penterjemah. Force yang sangat dasar sekali."

"Dranish!?" kata Girsen terkejut.

"Hati-hati, semuanya. Dia mungkin sangat kuat. Kerjasama tim kita akan diuji." Kata Jorgensen. Mereka pun memasang kuda-kuda bertempur.

"Girsen, aktifkan buff Holly Forcemu?" perintah Jorgensen.

"Baik. Holy Force, HOLY SHIE….."

"SILENCE!"

Namun, force yang hendak diaktfikan Girsen tidak muncul.

"A..APA? KENAPA TIDAK KELUAR?"

Berkali-kali Girsen mencoba merapal mantranya tapi berkali-kali juga tidak membuahkan hasil.

"Siapa saja yang sudah terkena skill Silence tidak dapat mengaktifkan skill apapun."

Mendengar perkataannya, mereka panik. Kekalahan sudah benar-benar berada didepan mereka. Terlebih mereka tidak tahu siapa yang sedang mereka hadapi. Kabur merupakan pilihan terkahir.

"Berpikir untuk kabur? Tidak akan kubiarkan. FIELD OF EXECRATION!"

Dari bawah kaki semua prajurit Bellato muncul aura hitam yang mengunci kaki mereka.

"UWAA APA INI?"

"AKU TIDAK BISA BERGERAK!"

"Bagiamana kalau ditambah dengan ini? MASS OF ENERVATION!"

Kembali Santorini melafalkan spellnya. Kali ini para prajurit Bellato nampak tidak sanggup untuk berdiri. Seolah-olah ada kekuatan yang memaksa mereka untuk bertekuk lutut. Mereka tampak tidak berdaya sambil meratap keputusasaan.

"Sekarang giliranmu, Sylvania." Ucap Santorini sambil menunjuk keatas.

Jorgensen sempat melihat arah tangan Santorini yang menunjuk keatas. Rupanya diatas mereka bergantung sesosok wanita berarmor biru dengan 2 pedang tersemat dipunggungnya. Lalu wanita bernama Sylvania turun diantara kumpulan prajurit Bellato itu.

"Habisi sepuas yang kau mau!" perintah Santorini.

Saat turun tadi Sylvania terlihat menutup matanya. Kini ketika dia diperintah untuk menghabisi, ia membuka matanya. Terlihat sepasang mata biru yang kalem namun mematikan sepadan dengan warna rambutnya yang juga biru.

"Nightmare Started! Combo Skill Activated!"

Sylvania mencabut pedang biru dari punggugnya. Kini ia siap melakukan pembantaian.

"MIRAGE GRIND!"

WUNG!

"ARGH!"

Baru serangan pertama saja lantai goa sudah dibasahi ceceran darah merah.

"LIGHTNING SLASH!"

SRING! SRING! SRING! DUAR!

"BLADE SCUD!"

SRASH! SRASH! SRASH!

"DEATH TEMPEST!"

SYUNG! SRASH! DUARR!

"UWAAAA!"

"ARGHH!"

"SAKIIIITTTT!"

Sylvania mengakhiri rentetan skill mautnya. Kini area goa telah berwana merah akibat pembantaian Sylvania. Dapat dipastikan tidak ada yang selamat dari tragedi itu. Korban yang dihabisi Sylvania rata-rata sudah tidak utuh lagi. Ada yang badannya sisa separuh, ada yang tanpa kepala bahkan daging hingga isi perut nampak berserakan dimana-mana. Lantai goa dibanjiri oleh genangan darah. Sungguh benar-benar malam yang mengerikan. Twin Cave telah menjadi saksi bisu akan pembantaian terkejam yang mungkin akan menjadi sejarah kelam Federasi. Namun, karena tragedi ini terjadi di dalam goa mungkin tidak akan banyak yang tahu.

.

.

.

Pukul 09.30 P.M Benteng Solus

Maximus If nampak berdiri di pintu keluar Benteng Solus. Wajahnya terlihat cemas karena tim penjaga yang dikirimnya mendadak hilang kontak sore pukul 05.45. Maximus Karina yang melihat If tidak tenang berjalan mendekat " bagaimana, sayang? Apa kau sudah mendapat sambungan dengan tim Jorgensen?".

"Sampai pukul setengah sepuluh malam, aku masih belum mendapat kontak. Aku harap mereka baik-baik saja." Jawab If dengan wajah cemas.

"Kita doakan yang terbaik, If." Sambung Karina.

Tiba-tiba disaat mereka berdua sedang mengobrol, mereka dikejutkan oleh suara langkah kaki yang terlunta-lunta. Sosok itu awalnya tidak kelihatan jelas karena suasana yang gelap diluar. Dan ketika sosok itu mulai memasuki pintu masuk Benteng Solus, makin jelaslah bahwa pemilik suara langkah kaki itu adalah Sommerset. Ironisnya keadaan Sommerset betul-betul amat mengenaskan. Sebelah tangannya putus, kaki kirinya nyaris hancur bahkan perutnya terdapat luka robek besar dengan darah terus mengalir.

"So..so..sommer? ke..kenapa denganmu? Siapa yang tega melakukan ini terhadapmu?" ucap If dengan wajah tidak percaya. Maximus Karina pun tidak kalah kagetnya. Ia coba menidurkan Sommerset dipangkuannya ketika dia tidak kuat berdiri.

"Dra..nish…" tepat pukul 09.45 malam, Sommerset menghembuskan nafas terakhirnya. Maximus Karina lalu menutup mata Sommerset. Tak lama setelah Sommerset meninggal, datang seorang Bellato yang mana adalah anak buah If.

"Ma… maximus? I..ini..apa yang ter…jadi?" katanya terbata-bata.

"Aku juga tidak tahu. Satu grup yang aku bentuk tadi mendadak hilang kontak di Twin Cave. Sommerset adalah salah satunya." Jawab If.

"Captain Kolbein, coba kau pergi ke Twin Cave. Cek apakah ada anggota yang selamat atau tidak. Laporkan juga keadaan disana!" Perintah Maximus Karina.

"Si..siap, Maximus."

Kolbein pun langsung berangkat ke tempat yang diperintahhkan. Namun, tidak lama kemudian datang lagi seorang Bellato. Kali ini wanita dengan pakaian perawat.

"Maximus Karina, pasien yang bernama Lech Kroznan mengalami kondisi kritis. Kami butuh bantuan!"

"Apa? Baik aku akan menyusul. If kau juga bawa jenazah Sommerset ke kamar mayat."

"Iya." Jawab If.

Di ruang rawat darurat, wajah Lech terlihat pucat. Nafasnya tidak beraturan dan tekanan darahnya terus menurun.

"Luka diperutnya terlalu parah. Hanya operasi yang menyelamatkan nyawanya. Itupun kemungkinannya kecil."

"Lakukan operasi transplantasi organ. Suster cepat bawakan beberapa kantung darah!" perintah Karina kepada beberapa perawat.

"Transplantasi organ? Tapi kita butuh persetujuan dari orang tuanya. Kalau terjadi apa-apa bagaimana?" kata seorang dokter spesialis.

"Aku yang akan bertanggung jawab sepenuhnya. Yang penting siapkan dulu peralatannya!" Tegas Maximus Karina.

"Organ siapa yang mau dipindahkan ke tubuh anak ini?"

"Organ Captain Sommerset."

Operasi pun dimulai. Butuh waktu sekitar 4 jam untuk melakukan transplantasi organ dari tubuh Sommerset ke tubuh Lech secara hati-hati. Setelah 4 jam berlalu, operasi selesai. Sekarang, detak jantung Lech sudah mendekati normal. Nafasnya pun sudah mulai teratur. Operasi berjalan sukses.

"Uwaa, akhirnya selesai juga operasi ini. Benar-benar sangat melelahkan." Kata salah seorang perawat pria.

"Kerja keras kita sudah membuahkan hasil. Ini semua berkat bantuan kalian. Orang yang kalian operasi ini adalah prajuritku yang baru. Aku tidak ingin ia tewas, maka akupun bekerja sungguh-sungguh. Aku ucapkan terima kasih." Ujar Maximus Karina sambil tersenyum bahagia. Setelah itu, ia merapihkan pakaiannya dan keluar dari ruang operasi.

Diluar Maximus If sudah menunggu dengan cemas. Begitu ia melihat Karina keluar, If segera bertanya tentang operasinya "Bagaimana hasilnya, Karina?"

"Operasi berjalan dengan sukses. Tapi mungkin dia akan mengalami sedikit shock. Tapi aku pastikan itu tidak akan lama." Jawab Karina.

"Syukurlah kalau begitu. Aku bahagia kalau dia sudah melewati saat krisis. Kuharap Lech akan baik-baik saja."

"Aku juga."

.

.

.

Sementara itu Kolbein sudah masuk kedalam Twin Cave. Semula tidak ada apa-apa disini tapi Kolbein terus masuk kedalam untuk mencari tahu.

SNIP! SNIP!

Kolbein mencium bau yang sangat pekat. Bau amis darah yang menyesakkan dada. Semakin lama bau amis ini semakin menyengat. Dan ketika Kolbein sampai ditempat yang cukup luas terjadi pemandangan mengerikan disana. Terlihat beberapa Crawler Rex memakan mayat-mayat prajurit Bellato yang sudah tak berbentuk lagi. Lantai goa juga dipenuhi genangan darah merah dan potongan-potongan daging. Kolbein yang melihat pemandangan yang begitu mengerikan menutup mulutnya yang merasa mual

"HOEKKKK!"

Kolbein yang merasa tidak kuat, mulai memuntahkan isi perutnya. Setelah itu dia lari ketakutan ke Benteng Solus. Disana Kolbein menceritakan apa yang dilihatnya kepada If dan Karina. Mereka berdua tampak tidak percaya dengan cerita Kolbein tetapi ia berusaha meyakinkan mereka.

.

.

.

"Hmm? Dimana aku? Kenapa disini semua tampak putih? Apa aku sudah mati? Inikah alam kematian?" gumam Lech setelah membuka sedikit matanya. Lech coba untuk duduk di atas kasur. Kini ia telah membuka matanya dan terlihat kalau dia berada di kamar pasien.

"Ng? kamar pasien? Kenapa aku ada disini?"

Tidak ada siapa-siapa disini. Lech coba mengingat-ingat alasan dia ada disini.

DEG!

"UGH!"

Lech nampak kesakitan sambil memegang kepalanya. Dikepalanya dia mulai mengingat semua kejadian yang dia alami. Awal di hutan Crawler sampai tewasnya Jansen tergambar jelas di otaknya. Tapi Lech tidak membiarkan rasa sakit itu menguasai tubuhnya. Dengan cepat rasa sakit itu mulai reda. Kemudian secara diam-diam Lech keluar dari kamar pasien setelah mencabut selang infuse ditangannya. Lalu Lech pergi ke portal dan mengakses menu ke Markas Bellato.

Sesampainya Lech tidak langsung pulang melainkan berjalan-jalan keluar markas. Tanpa sengaja langkah kakinya mengarahnya ke hangar Armada Udara Bellato. Disana dia melihat sekelompok prajurit yang mungkin akan pergi ke Ether. Matanya tertuju ke sosok Bellato berambut abu-abu.

"Lake Grymnystre." Gumamnya pelan. Setelah itu Lech membalikkan badannya kembali ke markas Bellato.

.

1 bulan sudah berlalu setelah tragedi tewasnya Jansen. Kini Lech telah menjadi lebih kuat. Pangkatnya pun sudah naik menjadi Captain. Ia siap untuk membalas dendam atas kematian sahabat terbaiknya itu. Lech menengadahkan kepalanya ke atas awan sambil memejamkan matanya. Tak lama ia membuka matanya. Setelah itu dia berjalan pergi menuju Elan untuk menjalankan misi sambil mencari sosok yang bernama Santorini.

To Be Continued

"have you ever seen anyone killed right in front of you" (Santorini in Chapter 12)

Akhirnya Chapter 12 berhasil saya buat. Mungkin Chapter yang agak sedikit kejam yang pernah saya buat. Tapi setidaknya dengan Chapter ini saya turut serta mengupdate cerita. Dan setelah saya lihat, rupanya ada Saudara Kanon yan turut ikut merivie cerita saya. Saya ucapkan terima kasih dan saya harap anda bisa jadi pembaca setia Under Attack. Jika Saudara ingin tahu jawabannya, anda dapat membacanya di Chapter ini.

Regard's

Slask Wroclaw Wizarski