Chapter 13 : Exciting Night

"Hm? Oh iya aku baru ingat kalau persediaan makananku sudah habis." Setelah pertemuan dengan Sonsane, aku memang berniat untuk pulang. Tapi aku baru sadar kalau aku mulai lapar. Ditambah lagi lemari makananku sudah kosong tidak ada apa-apa. Cepat sekali habisnya. Rasanya baru 2 bulan yang aku sudah stok mie instant sampai 2 kardus.

"Yasudahlah. Terpaksa harus keluar malam lagi." Akupun kembali mengeluarkan sepedaku. Kukayuh sepedaku menuju minimarket terdekat. Biasanya setengah jam menjelang tutup toko, minimarket akan melakukan diskon hingga 50%.

'Kadang-kadang aku mendapat keberuntungan. Keberuntungan karena masih ada toko yang buka dan keberuntungan karena aku bisa mendapat apa yang kumau dengan biaya minim.' Ucapku dalam batin.

Setelah sampai, ternyata minimarket telah dipenuhi oleh pengunjung. Mulai dari penduduk sipil hingga tentara semuanya ada.

"Selamat malam. Silahkan berbelanja." Ucap salah satu penjaga toko sambil memberikan keranjang belanja dibarengi dengan senyum.

"Ah, terima kasih." Ucapku sambil tersenyum.

Akupun segera mencari apa saja yang ingin kubeli. Meski aku sedang banyak uang, bukan berarti aku akan belanja besar-besaran. Pengiritan tetap nomor satu. Maklum sebagai prajurit, pengeluaran terbesar biasanya dihabiskan untuk membeli senjata maupun armor baru.

Aku berada di counter fresh food untuk mencari sayuran gunung favoritku dan beberapa buah-buahan. Setelah mendapatkan sayuran, akupun beralih menuju area mie instant. Terlihat ada banyak varian mie instant dengan berbagai rasa. Ada mie goreng, ada juga mie rebus. Dari yang teksturnya lurus seperti benang sampai yang keriting bahkan yang super keritingpun juga ada.

"Hmm, rasa sup kaldu flem. Sepertinya varian baru, nih. Bolehlah kucoba." Gumamku sambil meraih mie rebus tersebut. Namun ketika aku mencoba mengambilnya, tanganku ditahan seseorang.

"Slask, kau makan mie instant lagi?" kata wanita yang menahan tanganku.

Akupun mengalihkan pandangan untuk melihat siapa wanita yang bicara kepadaku. Dan ternyata wanita itu adalah Milia.

"Milia? Kok, kamu ada disini?" ucapku polos.

"Jangan mengalihkan pertanyaanku. Kutanya kau sekali lagi padamu. Apa kau makan mie instant lagi?" kata Milia dengan wajah sedikit ditekuk. Sial biasanya kalau sudah begini dia susah untuk diajak bernegosiasi.

"Ah, hanya hari ini saja kok. Besok juga aku makan nasi lagi. Hahahaha." jawabku sambil tertawa untuk mengurangi ketegangan.

"Slask, bagaimanapun kau tidak boleh terus-terusan makan yang instant-instant. Kau lupa kalau dulu waktu di akademi kau terkena penyakit tifus parah?"

Ugh sial, bisa-bisanya dia mengingatkanku tentang itu. Harus kuakui aku memang pernah kena penyakit tifus parah gara-gara keseringan makan mie. Tapi walau dihantui ancaman penyakit serius, itu tidak menghalangiku untuk terus makan mie.

"Oh ayolah, Milia. Mie itu 'kan sangat enak sekali. Wajar kalau aku sangat menyukainya. Kalau mau disalahkan, salahkan saja pabriknya. Siapa suruh bikin mie yang rasanya enak? Bikin orang ketagihan saja." Kataku berargumen sambil memasukkan beberapa mie ke keranjang.

Milia bukannya membalas ucapanku malah melipat kedua tangan didadanya ditambah dengan ekspresi muka yang tidak bersahabat. Seolah-olah dia berkata kalau dia tidak mau mendengar alasan apapun.

"Aduh iya-iya, deh. Nih, aku taruh lagi mienya." Kataku sambil mengembalikan mie ke rak seperti semula.

"Khusus hari ini aku akan masak untuk kita berdua. Kau harus bantu aku berbelanja." Ucap Milia.

"Oke." Jawabku singkat.

Singkat cerita malam ini aku menemani Milia belanja. Selama berbelanja terkadang mataku memperhatikan penampilan Milia. Malam ini dia cukup cantik. Rambut pirangnya yang diikat ekor kuda ditambah dia mengenakan t-shirt warna putih dan rok merah 2cm diatas lutut plus sepatu hitam dengan kaos kaki putih membuatnya terlihat ideal untuk dijadikan pendamping. Tanpa sadar wajahku menjadi memerah.

Selesai berbelanja, Milia memintaku untuk numpang masak dirumahku. Kami pulang sambil menaiki sepeda masing-masing. Setelah sampai Milia langsung mulai memasak. Aku juga ikut membantunya seperti mencuci beras dan memotong sayuran. 30 menit adalah waktu dibutuhkan kami untuk memasak.

"Ayo, Slask. Makanannya sudah jadi." Ajak Milia sambil duduk dimeja makan. Akupun ikut duduk berhadapan dengan Milia. Malam ini kami makan bersama dirumahku.

"Bagaimana? Enak 'kan?"

"Memang benar, deh. Masakanmu memang selalu enak. Hahaha." Jawabku.

Akhirnya makan malam telah usai. Milia memutuskan untuk tinggal dirumahku karena hari sudah mulai gelap. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Aku dan Milia duduk bersebelahan di sofa sambil mengobrol.

"Milia, apa kau sudah baikkan? Kudengar kau menjalani terapi pemulihan force?" tanyaku.

"Aku sudah sembuh, Slask. Tapi aku masih belum boleh menjalani misi. Mungkin sekitar 2 hari lagi aku akan benar-benar pulih." Jawab Milia.

"Aku senang kalau kau sudah baikkan. Kalau sudah benar-benar pulih kita akan misi bareng lagi, ya?"

"Iya, Slask."

"Um, Milia malam ini kau cantik sekali." Kataku sambil memandangi wajahnya. Milia melihat kearahku dengan dengan tatapan sayu.

"Slask juga. Ketika kau menanyakan keadaanku saat di Haram kau begitu keren. Dan malam ini kau terlihat tampan dimataku." Kata Milia.

Kulihat muka Milia mulai memerah. Sepertinya wajahku juga mulai memerah. Saat kami saling bertatap muka, pelan tapi pasti aku mendekatkan bibirku ke Milia. Dan ia pun mulai melakukan hal yang sama sehingga malam ini kami melakukan ciuman yang hangat dan lama. Malam yang dingin seolah tidak berpengaruh apa-apa pada kami. Akupun benar-benar menikmatinya dan kurasa Milia juga merasakan hal yang sama. Sesekali kupegang buah dadanya atau memasukkan tanganku kedalam roknya. Benar-benar malam yang panas. Tak kusangka kalau diriku yang hanya orang biasa bisa berhubungan mesra dengan seorang gadis yang notabene adalah salah satu bangsawan menengah keatas. Tak terasa kalau rasa kantuk menyerang kami berdua. Kamipun tidur terlelap dengan Milia tidur dipangkuanku.

Paginya ketika aku membuka mata, Milia sudah hilang dari pangkuanku. Kulihat jam menunjukkan pukul 6 pagi. Setelah beranjak dari sofa tak sengaja mataku melihat sepucuk surat tergeletak diatas meja. Kubuka isi surat itu untuk melihat apa isinya.

"Terima kasih telah memberikanku sebuah malam yang indah, Slask. Jujur aku sudah lama memperhatikanmu semenjak masih diakademi bahkan sebelum kita berkenalan aku sudah tahu siapa kau. Kuharap kita bisa berhubungan lebih jauh lagi. Sampai jenjang pernikahan. Tapi aku minta maaf karena aku pulang lebih dulu."

"Sekali terima kasih, Slask."

Milia Valentina Aldren.

"Malam yang indah? Maksudnya apa, ya?" gumamku kebingungan.

Aku mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Setelah aku mendapatkan ingatanku, mukaku langsung memerah.

"Tu..tunggu dulu. Kalau tidak salah…semalam itu..aku.." perkataanku terputus ketika kulihat kalau celanaku sedikit terbuka.

"A..APA? JA…JANGAN-JANGAN..SEMALAM..AKU SUDAH MENGAMBIL.. 'ITUNYA'. TIDAKKK!" teriakku setelah mengetahui fakta yang semalam terjadi. Untung saja tidak ada rumah lain selain rumahku dalam radius 500 meter.

.

.

.

Markas Cora 08.55 A.M.

Setelah mengalami 'mimpi indah' aku memutuskan untuk pergi kemarkas. Hari ini cutiku selama 2 hari sudah usai. Otomatis kegiatan militer siap-siap aku terima. Tapi sebelum itu aku ingin menjenguk teman-temanku terutama Celica dan Darko. Akupun segera pergi ke rumah sakit sambil membawa beberapa buah-buahan sebagai buah tangan. Dirumah sakit, aku segera menemui resepsionis untuk menanyakan kamar tempat Celica dan Darko dirawat.

"Nona Novaya Celica ada dikamar nomor 878. Sedang Tuan Darko Volkovic ada dikamar 888." Kata seorang resepsionis wanita.

"Mbak, khusus untuk Darko gak usahlah pake embel-embel 'tuan' segala. Orang kaya gitu gak pantes dipanggil tuan. Gak ada wibawanya sedikitpun." Ucapku dengan nada merendahkan.

"Hehehe, tapi itu sudah prosedurnya, tuan." Katanya sambil sweedrop.

Akupun segera menyusuri lantai demi lantai untuk mencari kamar mereka. Tak kusadari kalau ternyata rumah saki ini memiliki 8 lantai.

"Bangunan sekecil ini memiliki delapan lantai? Luar biasa. Segini saja masih kecil. Coba Kalau bangunan ini benar-benar besar mungkin bisa mencapai seribu lantai. Segitu, sih nelusurin dari subuh ketemu subuh juga gak bakalan kelar." Gumamku.

Akhirnya kamar 878 yang kucari sudah ketemu. Setelah memastikan dengan benar, akupun langsung membuka pintu itu.

"Sumima…sen?"

Ucapanku terputus ketika melihat ada pemandangan ganjil disana. Kulihat Celica duduk dipangkuan Sonsane, sementara Sonsane sendiri tampak sedang membenamkan kepalanya di dada Celica. Mereka berdua lalu melihatku dan kaget begitu tahu ada orang ketiga yang main masuk saja.

"SLASK!?" kata Sonsane kaget.

"Se..selamat pa..gi, teman-teman." Ucapku. Namun, tidak ada hujan tidak ada angin aku merasakan ada hawa negative memenuhi ruangan. Dan bias ditebak, aura itu berasal dari Celica yang geram sambil menahan malu.

"SLASK WIZARSKIII!"

Cellica yang marah lalu mengambil sebuah botol air mineral yang masih ada isinya yang tergeletak di meja pribadinya. Tanpa ampun doi melemparnya dan tepat mengenai jidatku.

BLETAK!

"AUUU!" Teriakku kencang.

.

.

.

Singkat kata karena aku sudah memastikan kalau Celica sudah sembuh, aku segera menuju kamar Darko. Sebenarnya ini hari apa, sih? Kok bisa-bisanya ada orang selain aku dan Milia yang melakukan 'itu'? ah, sudahlah lebih baik aku menjenguk Darko.

Tapi sesampainya dikamar Darko aku tidak melihat Darko disana. Kamarnya kosong melompong. Akupun segera bertanya ke petugas terdekat. Dia memberitahu kalau pasien yang bernama Darko, sudah 2 hari meninggalkan rumah sakit setelah mendapat izin dokter.

"Ya sudahlah. Aku pergi saja."

Kembali aku berada dimarkas. Karena sudah sampai disini, lebih baik aku mengecek papan pengumumuan. Siapa tahu ada misi yang bias kuambil. Tapi ketika aku hendak berjalan,suara dering RBT ponsel mengagetkanku.

JRENG! JRENG! JRENG!

Setelah kucek ternyata ada e-mail masuk. Ternyata Sonsane yang mengirim e-mail. Dia memintaku menemuinya di Pos Cora. Setelah membaca isi pesannya akupun segera pergi Pos Cora.

Setelah sampai aku segera mencari Sonsane. Rupanya dia sedang duduk diatas rumput bersama yang lainnya termasuk Milia dan Darko.

"Yo, Slask. Kami disini. Ayo kumpul-kumpul." Ajak Cosmin.

Akupun menghampiri mereka.

"Slask, ada yang ingin kubicarakan. Sebelumnya, aku minta maaf soal kejadian tadi pagi. Ahahaha. Tapi itu salahmu juga karena main masuk saja tanpa metuk pintu dulu." Kata Sonsane. Cih, biar begitu tetap saja dia menyalahkanku. Padahal salah mereka juga kenapa berhubungan di tempat umum.

"Okelah, aku juga minta maaf." Ucapku setengah terpaksa. Kulihat Celica masih melihatku dengan sedikit kesal. Tapi meski begitu, sama sekali tidak mengurangi kecantikkannya. Kulihat model rambutnya sedikit berubah. Kini rambut peraknya sedikit lebih pendek. Rambut model layered bob plus ditambah sebuah jepit rambut membuatnya menjadi agak manis tanpa mengurangi kekalemannya.

"Ehem, Slask." Ucap Sonsane ketika tahu aku terus memperhatikan Celica.

"Ah, maaf. Jadi ada apa, nih. Pada kumpul-kumpul disini?" ucapku.

"Begini, Slask. Yang pertama, Kami berlima berencana untuk membuat guild. Menurutmu bagaimana, Slask? Beberapa misi terkadang mewajibkan kita untuk memiliki guild apalagi misi yang berat." Kata Sonsane.

"Guild, ya? Aku, sih tidak masalah. Tapi membentuk guild harus butuh delapan orang. Kita kurang 2 orang lagi." Kataku.

"Soal itu nanti saja, Slask. Yang penting sepakatin dulu untuk membentuk guild. Kalau masalah anggota biar nanti aku yang mengurusnya." Kata Sonsane sambil meminum minumannya yang tadi berada disampingnya.

"Ya, kau atur-atur saja. Kalau aku pasti setuju."

"Oke kalau begitu kita sudah sepakat. Yang kedua adalah ini." Kata Sonsane sambil mengeluarkan sebuah pedang.

"Pedang apa ini? Kok mirip Hora Sword?" tanyaku.

"itu memang Hora Sword. Hanya ukurannya ¾ lebih pendek. Intense Hora Sword Special Edition namanya.'' Jawab Sonsane.

Memang kuperhatikan pedang ini lebih pendek dan bobotnya juga lebih ringan.

"Sengaja aku membuat lebih pendek agar bias kau gunakan dengan pedang Osmiummu." Tambah Sonsane. Kukeluarkan juga pedang Osmium dari inventoryku. Kuamati memang cocok sekali bila pedang ini dipakai bersamaan. Jadi terlihat seperti pedang kembar.

"Wow, kerja bagus Sonsane. Terima kasih atas pemberiannya." Kataku.

"Itu tidak gratis, lho. 20 juta Disena belum termasuk upgrade." Kata Sonsane.

Cih, ujung-ujungnya duit lagi. Terpaksa aku membayar biaya termasuk biaya upgrade yang mana kalau dijumlahkan totalnya mencapai 80 juta Disena. Material ringan selalu menjadi alas an kenapa dia mematok harga tinggi. Akupun segera mentranfer uangnya via ponsel.

"Sip. Uangnya sudah masuk. Kalau begitu pertemuan kita selesai." Kata Sonsane sambil berlalu pergi diikuti Celica

"Yah, aku juga ada misi yang harus dibereskan." Kata Cosmin.

"Aku juga. Sejujurnya pertemuan ini hanya membuang waktuku saja." Ucap Darko sambil berjalan membelakangi kami. Sifatnya dari dulu memang tidak pernah berubah.

Setelah pergi, sekarang tinggal aku dan Milia. Tiba-tiba tangan Milia menggenggam tanganku hingga membuatku bingung.

"Slask, ayo kita juga pergi." Ajak Milia.

"Pergi? Kemana?"

"Hehehe. Sudah kau ikut aku saja." Setelah berkata itu ia mengeluarkan teleport dan menteleportasikan kami ke suatu tempat.

Tempat yang dimaksud ternyata adalah kamar Milia.

"Milia, bukankah ini kamarmu?" tanyaku.

"Lalu?"

"kita mau apa disini?" kembali aku bertanya.

"Ayo, kita lakukan lagi seperti dirumahmu. Kau tenang saja orang tuaku sedang pergi ke Planet Cora. Jadi hanya ada kau dan aku saja." Jawab Milia sambil melepas armornya satu persatu. Aku yang tidak berdaya apa-apa hanya bisa mengikuti keadaan saja. Dan siang itu kembali aku dan Milia melakukan 'itu'.

Ether di Saat yang sama

Sekelompok pasukan Accretia Nampak berjalan diatas salju ether. Dilihat dari jumlahnya mereka seperti akan melakukan misi penyelidikan. Tak kurang ada 10 Accretia yang terdiri 5 warrior,3 Striker,1 Phantom Shadow dan sisanya Specialist.

"Kartella Bio Lab. Menurut laporan divisi Intelijen, buronan Trasho Gale ada disini." Kata seorang Specialist.

"Apa itu sudah dipastikan." Tanya salah seorang Striker.

"Masih tanda Tanya tapi menurut mereka, kabarnya Trasho beserta anak buahnya terlihat masuk ke Bio Lab."

"Kalau begitu tunggu apalagi. Ayo segera kita selidiki kedalam." Ucap seorang Assaulter.

"Ya."

Merekapun memasuki Bio Lab. Ruangan seperti laboratorium ini konon sudah lama ditinggalkan karena seringnya terjadi kegagalan eksperimen hingga membuat tempat ini sarangnya monster yang bermutasi.

"Bagaimana menurutmu misi ini, NP-88?" Tanya temannya yang berjob Assaulter.

"Ini hanya misi penyelidikan, NS-63. Jadi, sebisa mungkin tidak perlu ada perang." Jawab NP-88 yang berjob striker.

"Bisaan aja kau bilang begitu. Padahal kau ingin segera mencoba launcher barumu itu 'kan?"

"Hahaha. Ya, kau benar. Aku penasaran akan kekuatan launcher Augusto F4 CC ini. Disebut-sebut kalau launcher ini sanggup mengungguli Relic Judgedecker." Kata NP-88.

"Pembuatnya saja CC-44 adalah Specialist muda terbaik. Jadi wajar kalau dia memberi jaminan seperti itu." Kata NS-63 sambil menunjuk Specialist yang memimpin rombongan grup.

Kini mereka memasuki sebuah area yang luas di lab. incaran mereka adalah teroris bernama Legion Trasho Gale yang disebut-sebut memiliki kerjasama dengan Cirus Gale mantan Archon Cora. Misi ini hanyalah penyelidikian saja meskipun misi ini bisa menjadi misi level SS. Merekapun melanjutkan perjalanan mencari tahu lebih dalam lagi.

To Be Continued.

"Thank you for giving me a beautiful night, Slask. Honestly I've been watching you since he was in college even before we met I already know who you are. I hope we can relate much further. Until marriage. But I'm sorry I have to go home." (Milia Aldren in Chapter 13).

Saya update cerita ini untuk menemani pembaca mengisi waktu luang. Mungkin Chapter ini sedikit lebih "panas" dari chapter yang lain. Oh iya sebelumnya ada Special Information dari saya.

1. Rambu Celica modelnya mirip dengan karakter Ivy dari Soul Calibur.

2. Senjata NP-88 namanya terinspirasi dari merek motor MV Agusta F4 CC.

3. Code name dari Accretia. NP-88=Novi Pazar, NS-63=Novi Sad, CC-34=Claudio Cassarelli. Novi Pazar dan Novi Sad diambil dari nama kota di Serbia.

Sekian informasi dari saya. Mungkin Arc dichapter berikutnya campuran Accretia dan Cora. Masalah perbandingannya masih dirahasiakan.

Salam,

Slask Wroclaw Wizarski.