All New Chapter 14 : Three Nations Have One Goal

"Hmm, tak seperti yang kukira. Tempat ini ternyata sepi. Monster saja tidak terlihat disini." Ucap NP-88.

"Apa mungkin rencana kita sudah diketahui?" tebak salah seorang warrior.

"Tidak ada kemungkinan seperti itu kecuali ada penghianat di tim kita. Kita tidak akan keluar sebelum misi ini selesai." Tegas CC-44.

Kembali mereka melanjutkan perjalanan dan kali ini mereka berbelok ke kanan. Semakin ke dalam lab ini semakin gelap tapi karena mereka Accretia yang didukung peralatan canggih, hal itu bukanlah masalah.

"Stop dulu,semuanya." Perintah CC-44. Mereka menghentikan perjalanan. Setelah itu CC-44 berkata.

"Manipel FV-20, coba kau selidiki area dalam dengan mode stealth . Informasikan seperti apa keadaan area sana."

"Siap." jawab FV-20 yang berjob Phantom Shadow sambil mengaktifkan mode menghilangnya dan mulai menyusup.

Setelah 20 menit berlalu, CC-44 coba menghubungi FV-20.

"FV-20, segera laporkan !"

"Disini FV-20, sejauh ini keadaan masih… bzzztttt"

Tiba-tiba kontak terputus. Merasa ada yang tidak beres, CC-44 coba mengontak rekannya itu.

"FV-20, ada apa? jawab aku kalau kau ada disana."

"…"

Tidak ada jawaban apa-apa. Tidak lama terdengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat. CC-44 beserta anggota lainnya coba melihat kearah sumber suara untuk memastikan pemilik langkah kaki itu.

"FV-20, kaukah itu?" tanya NP-88.

Ternyata pemilik langkah kaki itu adalah satu unit Accretia berarmor putih yang berukuran sedikit lebih tinggi dari Accretia kebanyakan. Ditangan kanannya terlihat mencengkeram leher FV-20. Dapat dipastikan kalau FV-20 sudah tidak aktif lagi dilihat dari sinar optik matanya yang tidak menyala. Setelah memperlihatkan wujudnya, Accretia itu lalu melemparkan FV-20 ke lantai.

BRANG!

"I..itu TH-01. Lebih dikenal dengan julukan Thor." Kata NS-63 kaget.

"Semuanya persiapkan senjata kalian. Accretia ini kemungkinan juga ada hubungannya dengan Trasho Gale." Perintah CC-44.

Merekapun mengeluarkan senjatanya masing-masing. Tidak ketinggalan NP-88 mengeluarkan launcher Augusto F4 CC. Launcher tersebut memiliki warna kombinasi merah dan silver dengan tiga buah moncong launcher. Sejatinya kedua warna tersebut sama sekali tidak cocok jika dikombinasikan. Tapi lain ceritanya jika yang membuat adalah CC-44. Dia terkenal dengan julukkannya sebagai Maestro Battle Leader karena kehebatannya dalam membuat senjata dan armor yang dibalut dengan unsur seni. Nama Laucher buatannya adalah Art Sophisticated Augusto F4 Claudio Cassarelli yang disingkat menjadi ASAF.

Sementara itu NS-63 juga mengeluarkan senjatanya yang tidak kalah cantik. Senjata berbentuk tombak trisula dengan kombinasi 3 warna alias Tricolore yakni merah-hijau-putih. Mata tombaknya sendiri terdiri dari urutan hijau-putih-merah yang berkilau. Tombak itu juga dibuat oleh CC-44 dengan nama Art Sophisticated Reparto Corse F4 Claudio Cassarellidisingkat sebagai ARCORSE.

"Wow, jadi itu yang namanya Reparto Corse Spear?" kata NP-88

"Tentu. Dan pasti lebih hebat dari Name Of Vengeance." Jawab NS-63 bangga.

Mereka siap meladeni perlawanan Thor.

"Warrior, kepung dia dari segala arah. Striker bantu Warrior sebagai Back Up." Kata CC-44.

Para Warrior langsung maju sesuai intsruksi CC-44.

"MAGNETIC WEB!"Seru satu unit Punisher sambil melempar jaring magnetic.

"PRESSURE BOMB!"

DUAR!

"HYSTERIA!"

"BASH EXPLOSION!"

"DEATH BLOW!"

DUAR! JEGER! BLEGAR!

Rentetan serangan dari para Warrior membuat area Bio Lab menjadi hancur berantakan.

"Apa kita berhasil?" kata unit Punisher.

"Sepertinya iya."jawab unit Mercenary.

Ketika asap sudah mulai menipis, mereka terkejut karena target tidak mengalami kerusakkan berarti.

"Mu..mustahil! bagaimana bisa dia tidak rusak sama sekali?"

"Cuma segini?" kata Thor. "Segini, sih untuk menggores armorku saja masih belum cukup." Thor mengeluarkan Relic Soul Eater miliknya.

"Sekarang giliranku. Bersiaplah !"

Thor lalu menyerang unit Punisher dengan kecepatan tinggi.

"First. Kau, Punisher!"

DUAR!"

Dengan satu tebasan ringan unit Punisher tadi langsung meledak.

"Apa!?" kaget NP-88

"Cepat Sekali!? Kecepatan macam apa itu!?" tambah NS-63.

Setelah menghancurkan unit Punisher,Thor menargetkan unit Mercenary.

"PG-50, awas belakangmu!"

TRANG!

PG-50 berhasil menangkis tebasan menyerah, Thor kembali mengayunkan pedangnya.

TRANG! TRANG! DUAGH!

Thor menendang PG-50 dan ketika Thor melihat PG-50 lengah tanpa pikir panjang Thor langsung menebas PG-50 dengan skill.

"Heavy Slasher!

SRING! DUAR!

"HEAHHH!"

TRANG!

NS-63 coba memanfaatkan momen saat PG-50 meledak dengan melakukan usahanya berhasil ditangkis Thor.

"Apa!?"

"Mencoba mengambil kesempatan ketika aku menghabisi lawan? Pintar juga. Aku tak menyangka bakal diserang dari celah yang mungkin tidak terpikirkan oleh yang lain. Aku puji caramu itu tapi itu percuma." Puji Thor.

"Oh ya? NP-88 SEKARANG!"

NP-88 siap melakukan tembakan dengan tambahan siege kit. Rupanya aksi tadi hanya sebagai sandiwara belaka.

"Target Lock On."

Setelah mengunci target, NP-88 langsung menembak Thor.

"DOOM BLAST CHAIN ROCKET!"

BOOM! BOOM! BOOM! BOOM! BOOM! BOOM!

Rentetan 18 roket meluncur deras ke arah Thor setelah NS-63 lebih dulu menghindar. Saat kedelapan belas roket mengarah kearahnya, Thor coba menangkis roket dengan pedangnya.

DUAR! DUAR! DUAR!

Thor memang berhasil meledakkan tiga roket tapi lima belas roket berikutnya tidak sanggup ditahannya. Akibatnya, Thor terpental sejauh 800 meter. Melihat thor jatuh, kesempatan tersebut coba dimanfaatkan NS-63 untuk menghabisinya , ketika hendak menghancurkan Thor, tak disangka muncul sesosok gelap yang menendang NS-63.

DUAGH!

"UGH!" Erang NS-63

"Siapa lagi kali ini!?" kata NP-88.

Dan sosok gelap itu adalah Accretia yang lainnya yang kemungkinan datang untuk membantu Thor. Accretia itu memakai armor hitam dengan garis-garis berwarna orange menyala. Bentuknya mirip dengan armor Accretia warrior hanya saja bentuknya agak ramping.

"Semuanya, ayo kita keluar secepat mungkin. Kita tidak boleh melangkah lebih jauh lagi!" kata CC-44.

Lima Accretia termasuk CC-44 segera membalikkan badan dan berlari menuju portal keluar. Sementara NP-88 dan NS-63 menyusul tak lama kemudian.

"Mau melarikan diri? Silahkan saja?" kata Accretia berarmor hitam.

.

.

.

"Andai saja kita bisa menggunakan scroll kita tidak perlu berlari seperti ini!" ujar NP-88.

"Mau bagaimana lagi? Tempat ini diluar jangkauan scroll karena tempatnya yang tinggi." Kata NS-63.

Mereka pun berhasil menuju portal bio lab. Setelah itu mereka meneleportkan diri menuju Ether. Misi ini memang gagal tapi lebih baik gagal daripada harus kehilangan banyak anggota.

"Cohort CC-88, misi ini sudah gagal. Kita harus bagaimana menjelaskannya?" Tanya NP-88.

"NP-88 kau tidak perlu formalitas berbicara denganku. Bagaimanapun sejatinya usia kita sama. Tidak perlu canggung. Dan untuk masalah misi biar aku yang sepenuhnya bertanggung jawab." Jawab CC-44.

"Benar, nih? Aku jadi tidak enak. Apalagi kau sudah membuatkan senjata untukku dan NS-63. Tidak klop rasanya jika tidak dibarengi dengan penyelesain misi."

"Sudahlah yang penting semuanya selamat dulu. Misi bisa diambil kapan saja." Kata CC-44 sambil mengaktifkan booster dan terbang menuju Wharf.

WUNG!

NP-88 dan NS-63 beserta pasukan Accretia yang lainnya pun turut mengaktifkan booster dan kembali ke Wharf.

.

.

.

Hari Esok di Bellato Headquarter

"Elan lagi?" kaget Lech.

"Ya. Kau kuberi tugas untuk pergi ke Elan. Tepatnya di Lazhuwardian Agora. Carilah bunga Luminu sebanyak sepuluh buah saja. Ciri-cirinya adalah bunga tersebut berwarna putih keunguan." Kata Maximus Karina.

"Tapi kenapa harus aku? Dan lagi apa harus sepagi ini? Masih jam 06:30, lho?" protes Lech sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Mau bagaimana lagi? Anggota lain sudah kuberi misi yang lain. Jadi aku menugaskanmu yang sedang tidak ada kerjaan. Lagipula untuk menghindari kemungkinan bertemu Accretia atau Cora lebih dilaksanakan pagi seperti ini." Jelas Karina.

"Memangnya bunga itu untuk apa, sih?" Tanya Lech sambil garuk-garuk kepala.

"Kita membutuhkan beberapa bahan untuk membuat sebuah obat. Bahan yang kurang hanyalah bunga Lumina yang hanya tumbuh di Elan. Ada kurang lebih 5 pasien di rumah sakit yang membutuhkan obat tersebut." Kata Karina sambil membaja jurnal.

Lech merenungkan ucapan Karina barusan. Sambil menghela napas panjang, Lech berkata "Baiklah, aku terima misi ini."

"Usahakan jangan sampai bertemu bangsa lain. Hati-hati juga karena Lazhuwardian Agora adalah sarang Calliana Queen." Tambah Karina.

"Aku tahu. Kalau begitu aku bersiap-siap dulu." Kata Lech.

Sebelum pergi Lech berpamitan kepada Maximus Karina. Karina mencium pipi Lech dan Lech balas dengan mencium kening Maximus Karina. Lech mulai menyiapkan peralatannya yang berupa Intense Scale Sword dan beberapa potion. Tidak ketinggalan Lech juga mengecek armornya. Lech sebenarnya agak ciut untuk berangkat seorang diri tapi setidaknya dengan misi ini dia mungkin bisa mencari Santorini orang yang telah membunuh sahabatnya. Lech pun berangkat ke Elan.

.

.

.

Waktu yang Sama di Cora Headquarter

"Yo, Slask. Pagi-pagi udah lemes aja. Kurang tidur, ya?" kata Cosmin si orang pertama yang kutemui di pagi hari.

"Iya. Semalam aku mimpi buruk. Ketika terbangun aku sudah bermandi keringat." Jawabku seadanya sambil melangkah gontai.

"Ya sudah. Aku duluan, ya. Ada misi yang harus kuselesaikan." Kata Cosmin sambil berjalan pergi.

"Oke."

Sebenarnya bukan mimpi buruk yang aku alami. Penyebab kenapa aku lemas karena dari kemarin sore sampai dinihari aku 'begituan' dengan Milia. Tenagaku sampai dikuras habis olehnya. Heran kok dia kuat sekali 'bermain' nyaris tanpa henti? Staminanya sebanyak apa, ya? Tapi yang lebih kepikiran lagi Milia tidak mengeluarkan 'darah'. Berarti benar kalau yang pertama kali aku sudah mengambil keperawanannya. Waduh, kalau dia sampai hamil aku yang harus bertanggung jawab, nih.

Sejatinya kami bangsa Cora tidak diperkenankan untuk menikah. Menikah hanya bertujuan untuk menghasilkan keturunan dan setelah itu Cora wajib bercerai. Tapi bukan berarti mantan suami lepas dari tanggung jawab. Si pria tetap menafkahi anak dan wanita yang melahirkan anak hasil hubungan mereka sampai si anak dirasa sudah bisa mandiri. Haduh, aku belum pernah mengurus anak.

Ketika aku sedang melamun, tiba-tiba da yang memanggilku dari belakang.

"Permisi."

"Ya, ada apakah?" tanyaku setelah menengok melihat lawan bicara. Rupanya yang memanggilku adalah wanita.

"Taralom Slask Wizarski. Anda dipanggil Race Manager. Beliau menunggu anda di ruangannya." Jelasnya sambil dibarengi dengan senyuman.

"Oh, siap. Saya akan segera kesana." Jawabku.

Akupun segera menuju ke ruang Pemimpin Bangsa.

Tok Tok Tok

"Permisi."

"Silahkan masuk." Jawab sang tuan rumah.

Akupun segera membuka pintu setelah mendapat izin dari yang punya ruangan. Setelah masuk aku baru sadar kalau ternyata Race Manager tidak sendirian. Ada 2 orang yang kulihat sedang bekerja dengan beberapa tumpuk dokumen. Keduanya adalah perempuan. Sementara Race Manager sendiri sedang duduk sambil membaca kertas kerjanya.

"Slask Wizarski. Aku membutuhkan bantuanmu." Kata Race Manager setelah aku berjalan menuju meja kerjanya.

"Hamba siap, Yang Mulia. Bantuan apa yang bisa aku laksanakan?" tanyaku sopan.

Sambil merapatkan kedua tangannya Race Manager berkata "Aku menugaskanmu ke Elan untuk melakukan penyelidikan."

"Hmm penyelidikan apa, Yang Mulia?" kembali kubertanya.

"Ada laporan dari divisi Beli Orlovi kalau di Lazhuwardian Agora terdapat pancaran energi misterius. Meski kabarnya energi itu lemah, tapi usahakan agar jangan sampai jatuh ke tangan bangsa lain. Siapa tahu energi itu bisa dimanfaatkan." Jelas Race Manager.

"Initinya?"

"Ambil energi itu apapun resikonya!" tegas Race Manager.

"Dan dengan siapa saya berangkat?" kataku lagi.

"Kau berangkat sendiri. Aku yakin Bellato dan Accretia belum mengetahui info ini. Jadi kau sendiri pasti bisa."

Elan? Sendirian? Gak salah, nih? Apa dia tidak tahu kalau Elan itu tempat yang penuh bahaya? Iya, sih kalau bangsa lain belum tahu itu tidak masalah. Tapi kalau mereka sudah tahu lebih dulu pasti akan jadi masalah buatku. Kadang aku merasa sedih.

"Baik, Yang Mulia. Hamba terima misi ini. Kalau begitu saya pamit undur diri." Kataku sambil melangkah keluar.

"Silahkan!"

.

.

.

Elan Field, Queer Wood

"Queer Wood. Jalan sedikit lagi aku sampai di Rubyshy Tower." Gumamku sambil melihat GPS.

Elan adalah pulau alami yang beriklim tropis. Berbagai macam hewan dan tumbuhan dapat dijumpai disini. Tempatnya cukup indah karena masih belum dieksplorasi lebih jauh. Tapi disini banyak ditinggali berbagai monster kuat. Akupun harus menggunakan Stealth Potion agar terhidar dari monster agresif.

"Ah, Rubyshy Tower. Berarti kalau kesana adalah arah ke Lazhuwardian Agora. Berarti tujuanku sudah dekat." kataku mantap.

Akupun melanjutkan perjalanan sambil berlari. Tapi ketika aku sedang kencang-kencangnya berlari, tiba-tiba dari depanku datang seseorang yang juga berlari. Akibatnya aku saling bertabrakkan dengannya.

BRAKK!

"ARGH!" erangku kesakitan.

"AWW! AWW!"

Akupun berusaha berdiri sambil menahan rasa sakit.

"Maaf, aku terburu-buru. Aku kaget tiba-tiba ada yang lewat." Kataku sambil menundukkan kepala.

"Tidak, kok. Aku juga lengah dan terburu-buru jadinya aku menabrakmu, deh. Hehehe." Katanya sambil tertawa.

"Yasudah. Kalau begitu aku duluan, ya? Aku ada urusan penting." Kataku sambil melanjutkan jalan.

"Sama-sama. Aku juga masih sibuk."

Hah, syukurlah kukira aku menabrak monster ternyata aku hanya menabrak….. Bellato?

Entah kenapa aku langsung membalikkan badanku untuk melihat kebelakang. Ternyata yang menabrakku tadi adalah Bellato. Dan setelah aku menengok ke belakang, Bellato berambut hitam itu sudah menodongkan pedangnya ke arahku.

"Cora, huh!?" kata pria Bellato itu dengan tatapan tajam.

"Bellato? Sial sekali!"

"What are you doing here, Corite?" Tanya pria Bellato itu.

Aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Dilihat dari sudut matanya dia terlihat tidak senang. Eh, tunggu bukannya tadi aku sempat mengobrol dengannya? Kenapa tadi dia bisa mengerti ucapanku dan kenapa sekarang aku tidak mengerti ucapannya?

"Hei, tadi kau bicara dengan bahasaku 'kan?" iseng-iseng aku bertanya kepadanya.

"What are you talking? I don't understand your words." Jawab Bellato itu dengan tatapan merendahkan. Setelah itu dia menambahkan "I do not have time to talk . Now prepared you because I will kill you."

Kulihat dia menggenggam erat pedangnya. Pandanganya menatap diriku dengan tajam. Setelah dirasa mantap dia pun maju menyerangku.

"HEAHH!"

Mau tidak mau akupun mengeluarkan kedua pedangku. Ketika hendak beradu pedang, terdengar ada suara wanita.

"Kyaa. Ahahah."

Sontak akibat suara itu akupun memalingkan pandanganku mencari sumber suara. Bellato lawanku sepertinya juga mendengar suara yang sama.

"Waterfall?" gumam Bellato itu.

Lagi-lagi aku tidak mengerti omongannya. Tapi aku mendengar ada suara air tak jauh dari sini.

ZRASH! ZRASH!

Aku dan Bellato tak bernama itu saling bertukar pandang. Entah kenapa aku ingin mencari suara air itu dan sepertinya Bellato itu mengerti isi pikiranku. Kami berduapun mencari suara yang dimaksud. Akhirnya kami menemukan air terjun. Air terjunnya memang besar dan indah tapi ada hal lain yang membuat mata kami terpanah. Disana terlihat ada 2 orang wanita sedang duduk di pinggiran air terjun. Kami melihat mereka sambil sembunyi di sebuah batu besar agar tidak ketahuan. Kucoba pertajam penglihatanku untuk melihat lebih jelas.

Setelah kulihat, barulah aku sadar kalau 2 orang wanita itu adalah wanita yang dulu pernah kujumpai di Ether. Yang 1 memakai armor ketat berambut hitam panjang sedang satunya lagi memakai pakaian yang mirip baju beladiri dan berambut pirang. Mereka yang sempat kukira pasukan rahasia Cora.

"Mereka… tidak salah lagi pernah kulihat di Ether." Gumamku.

"Hei, you know who they are?" ucap Bellato itu sambil menunjuk ke wanita disana.

"Aku hanya pernah melihatnya di Ether." Jawabku setelah mengira-ngira pertanyaannya.

"Oh, oke." Katanya sambil menganggukkan kepala. "By the way my name is Lech Kroznan." Kata Bellato itu yang kuasumsikan sebagai pemberitahuan identitas.

"Slask Wizarski. Itulah namaku."

Saat kami sedang sibuk mengintip, wanita berambut hitam itu berdiri dari posisi duduknya. Sempat kukira kalau dia tahu ada mata-mata yang mengintip. Tapi dugaanku salah. Dia melepas ikat pinggangnya dan menurunkan celananya perlahan-lahan dan disusul dengan melepas celana dalamnya. Setelah itu dia melepas kancing dibajunya satu per satu hingga kancing terakhir. Dan terlihat sebuah pemandangan yang sangat indah lebih indah dari Elan sekalipun. Kemudian dia turun dan berendam di kolam air terjun itu.

"Hei. Hei, what the hell!?" kata Bellato itu sambil memegang hidungnya. Bisa kutebak kalau dia sedang menahan mimisan.

"Waw, dadanya besar. Lebih besar dari punya Milia." Kataku takjub.

"Huh!?" kata Lech cengo sambil melihatku.

Ketika temannya sudah berendam, wanita satu lagi memegang armornya dan perlahan-lahan dia mulai melepas armornya. Waw yang satu ini tidak kalah cantiknya. Dadanya sama besarnya dengan punya temannya tadi. Kulitnya kuning langsat pas denagn tubuhnya yang proporsional bak seorang model. Tapi menurutku yang berambut hitam tadi masih lebih oke dikarenakan rambutnya panjang dan wajahnya itu lho yang kalem misterius yang membuatku dag dig dug. Kulihat Bellato disebelahku melotot melihat pemandangan yang kedua.

"Wow, blonde woman was beautiful. I think he was my choice . I fell in love at first sight." Gumam Lech tanpa berkedip.

"Woi, biasa aja dong lihatnya. Inget dosa bos!" kataku mencoba mengingatkan.

Srett! Srett!

Aku merasa ada yang aneh. 'Kok seperti ada sesuatu dikakiku ya?' batinku. Saat kulihat kebawah, ada ular yang merayap dikakiku. Sontak aku kaget dibuatnya.

"UWAA! ULAR! ULAR! ULAR!" reflek aku angkat kakiku dan ular itu terbang ke Lech. Bisa ditebak dia juga tidak kalah paniknya.

"GRAA! SNAKE! SNAKE! SNAKE! KEEP THIS SNAKE OF MYSELF! I'M AFRAID TO SNAKE!"

Gara-gara ular, kamipun keluar dari persembunyian. Gara-gara ular juga mereka jadi tahu ada yang mengintip.

"KYAA! PERVERT!" kata wanita berambut pirang ketika tahu ada 2 laki-laki yang melihat.

"DIRTY PERVERT!" kata wanita berambut hitam sambil keluar dari kolam. Setelah itu dia mengambil sesuatu yang kupikir adalah senjatanya.

"DIED! EXPLOSION SHOT!"

DUAR!

"UARGH!" erang kami bersamaan. Akibat serangan tadi aku dan Lech terjatuh beberapa meter.

"EXPLOSION BOMB!"

JDARR!

"OH, SHIT!"

"KABUR ADALAH PILIHAN TERBAIK!" kataku.

Drap drap drap drap

"Hosh! Hosh! Hosh!"

Akupun menghentikan lariku setelah merasa aman. Sungguh lelah sekali rasanya. Belakangan ini aku sering melihat wanita telanjang. Semuanya bagus-bagus hingga membuatku bingung ingin pilih yang mana. Yah, mungkin aku memilih Milia saja karena aku sudah mengambil 'harta didalam tubuhnya'. Tapi andaikata salah satu dari wanita tadi mau denganku, tentu aku mau-mau saja.

"Hosh, The first.. time i.. saw a naked woman's… body." Ujar Lech dengan nafas terengah-engah.

"Kau ngomong apa, sih?" kataku tidak paham.

Diapun memperagakan perkataannya tadi dengan bahasa tubuh. Aku mengerti kalau ini adalah pertama kalinya dia melihat wanita telanjang.

"Hei, apa kau pernah jatuh cinta?" tanyaku sambil diikuti bahasa tubuh.

"No. I never falling in love. I never had a girlfriend. Only my sister who is close to me." Jawab Lech singkat seadanya.

"Begitu, ya?"

Ketika aku mau bicara, tiba-tiba suara dering ponsel mengagetkanku.

"Oshiete oshiete yo sono shikumi wo. Boku no naka ni dare ga iru no?"

kuambil dan kulihat layar ponsel untuk mengetahui siapa yang menelponku. Nomornya tidak kukenal tapi mungkin saja ada sesuatu yang penting. Akupun mengangkat teleponku.

"Halo, disini Slask Wizarski. Ada yang bisa kubantu?" kataku sambil mengangkat ponsel.

"Slask, ini aku Quaine Khan. Posisimu sekarang dimana?"

Kulihat GPSku sebentar untuk melihat lokasi.

"Aku berada di Lazhuwardian Agora. Ada apa?" kataku.

"Sementara kau kembali dulu ke markas Elan. Beberapa Accretia dilaporkan sedang menuju ke tempatmu. Ada kemungkinan mereka sudah tahu ada sesuatu disana."

"Oh, baik Yang Mulia. Aku akan balik secepat mungkin. Tapi misi ini bagaimana?"

"Penyelidikan ditunda sampai besok. Untuk jaga-jaga aku akan menyuruh teman-temanmu untuk membantumu besok."

"Siap, Yang Mulia. Kalau begitu aku kembali dulu." Kataku.

"Ya. Berhati-hatilah, Slask."Trek. Sambungan ponsel terputus.

Kulihat hari juga mulai gelap. Balik sekarang juga adalah keputusan yang bijak. Tapi sebelumnya aku pamitan dulu dengan Bellato bernama Lech yang dari tadi bersamaku.

"Oke. See you next time, Slask Wizarski." Kata Lech sambil menteleportkan diri entah kemana. Akupun tidak ketinggalan menteleporkan diri ke markas Elan.

.

.

.

Elan Field, 07:00 P.M.

Elan. Meskipun tempat ini sering dijadikan ajang perang kecil-kecilan, tapi disini juga ada tempat peristirahatan darurat lengkap dengan kamar tidur dan tempat makan. Tentu saja tempat istirahat Cora dipisah dengan Accretia dan Bellato.

"Uwaa. Tak kukira disini kasurnya tidak kalah empuk dengan di Ether." Kataku sambil rebahan di kasur.

Tak terasa kantuk menyerangku hingga membuatku tertidur pulas.

.

.

"Hmm, dimana ini?" gumamku dalam kegelapan. Kucoba membuka mataku untuk melihat keadaan.

"Hutan?" kudongakkan kepalaku keatas menatap langit.

"Mendung? Hujan? Ini… Beast Mountain?"

Hujan yang turun cukup deras hingga membuat air yang jatuh mengalir diatas tanah. Aku coba berjalan-jalan untuk memperhatikan lebih seksama. Sebuah tanjakan didepan kulalui tanpa ada perasaan apapun. Yang membuatku sedikit penasaran adalah kenapa aku ada disini dan kenapa sedari tadi tidak ada monster satupun yang terlihat. Atau mungkin memang disini lagi tidak ada?

Kuperhatikan tanah tempatku berpijak. Air hujan semakin lama semakin mengalir deras. Beast Mountain kalau tidak salah adalah daerah hutan hujan tropis yang sering dilanda hujan lebat. Mungkin letaknya juga sangat tinggi diatas permukaan laut.

Namun, saat aku memperhatikan air hujan mengalir, muncul warna merah yang bercampur dengan air. Semakin lama warna merahnya semakin banyak.

"Ini… Darah?" tidak salah lagi kalau yang kulihat ini adalah darah. Tapi darah siapa?

Kulihat arahnya dari atas tanjakan. Tanpa ragu aku ikuti aliran darah itu untuk mengetahui asalnya.

Tap! Tap! Tap!

Cepat. Semakin cepat langkah kakiku. Entah mengapa perasaanku tidak enak. Masih jauh? Tidak ini sudah hampir dekat. Darahnya semakin banyak, semakin merah. Dan kini aku sudah sampai.

Ada tubuh seseorang yang telentang ditanah. Kulihat kakinya jenjang, bisa kupastikan kalau orang ini perempuan. Tapi siapa? Kucoba melihatnya pelan-pelan dari kaki terus keatas.

"Ugh!" kututup mulutku ketika kulihat ada luka besar didadanya. Saking besarnya bahkan sampai tulang rusuknya mencuat keatas. Sedikit ada daging yang menempel dirusuknya. Jika diperhatikan kemungkinan ini seperti dibuka dengan paksa. Tapi rasa penasaranku belum habis. Kuubah pandanganku untuk melihat wajah pemilik tubuh malang ini.

"Ti..ti..tidak..mung..kin! ini.. bohong…'kan?"

Terjawab sudah pertanyaanku. Tidak dapat kupercaya kalau pemilik tubuh ini tidak lain adalah…. Milia Aldren?

"MILIAAAAAAA!" teriakku begitu tahu kalau dia adalah Milia.

Aku berjongkok untuk dapat melihat lebih jelas.

"MILIA! SIAPA YANG… TEGA MELAKUKAN…INI.. PADAMU? JAWAB… MILIA?"

Tidak ada gerakkan. Tidak ada jawaban. Hanya tubuh yang telah terbujur kaku yang ada dihadapanku. Matanya terbelalak pertanda dia tewas secara tak terduga. Aku tanpa terasa air mata mengalir membasahi pipiku. Kucoba menggoyangkan tubuhnya siapa tahu ini hanya sandiwara belaka. Berkali-kali kucoba memanggil namanya tapi sia-sia. Tidak ada pergerakkan alami darinya. Wanita yang kusayangi sudah meninggal?

Tiba-tiba disebelah tubuh Milia, muncul bayangan seseorang. Dia sepertinya pria. Kudongakkan kepalaku untuk melihat sosoknya. Pria tinggi dengan armor ketat warna biru-putih dengan jubah merah. Ditangan kirinya dia memegang sesuatu seperti bola yang bersinar. Sedang tangan kanannya di memegang pedang melengkung berwarna biru. Pasti dialah yang membunuh Milia.

"KAU! KENAPA KAU MEMBUNUH MILIA? SALAH APA DIA?" teriakku padanya.

"Aku? Aku Hanya mengambil apa yang kubutuhkan. Kebetulan dia memilikinya. Tadinya aku sempat memintanya baik-baik. Tapi dia ceroboh karena malah menyerangku. Dan tidak sengaja dia tertusuk pedangku. Terus mati, deh." Jawabnya enteng dibarengi dengan senyuman iblis paling terkutuk yang pernah kulihat.

"DASAR PEMBOHONG! MAMPUS SAJA KAU!" refleks aku serang dia tanpa senjata.

"Sayonara, Corite."

ZRASHHH!

.

.

.

"UWAAA!"

"Hosh! Hosh! Hosh!" kulihat pemandangan tadi sudah berubah dengan pemandangan kamar tidur di pagi hari.

"Mimpi?" kucoba memperhatikan sekitar dan aku yakin kalau ini memang kamar tidur.

"Oh, syukurlah. Decem jangan sampai mimpi tadi jadi kenyataan." Kataku sambil berdoa.

"Oshiete oshiete yo sono shikumi wo. Boku no naka ni dare ga iru no?"

Suara dering ponsel mengagetkanku ditengah perasaan was-was tak terkira. Kuambil ponselku untuk melihat layarnya. Ada 2 e-mail yang masuk. Kubaca isi e-mail pertama yang dari pengirimnya adalah Sonsane.

"Slask, nanti siang aku dan Celica akan ke Elan untuk membantumu. Kita ketemuan , ya? Beritahu juga misinya apa.

Thanks,

Sonsane"

Dikirim jam 12 malam.

"Wah dikirimnya sekitar 5 jam yang lalu. Yang berikutnya dari siapa, ya?"

Pesan yang kedua rupanya dari Milia. Langsung saja aku baca pesannya.

"Sayang, kamu sudah bangun belum? Kudengar katanya misimu ditunda, ya? Kalau sempat nanti aku bantu, deh. Tetap semangat, ya?

Aku sayang kamu

Milia Aldren"

"Oh, syukurlah dia masih ada. Berarti mimpi tadi hanya bunga tidur saja."

Pesan tadi setidaknya sudah menenteramku hatiku. Aku yakin sejauh ini tidak ada sesuatu yang buruk bakal terjadi. Kurapihkan tempat tidur tadi beserta bantal, guling dan selimutnya. Setelah itu akupun berlalu ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku.

.

.

.

Bellato Headquarter di waktu yang sama

"Maximus, ini aku bawakan bunga Luminu yang kemarin anda minta." Ucap Lech sambil menyerahkan sekantong bunga Luminu dengan jumlah yang cukup banyak.

"Terima kasih, Lech. Wah, banyak sekali kau membawakannya. Segini, sih sudah lebih dari cukup." Kata Maximus Karina.

"Heheh. Hanya untuk jaga-jaga saja, Maximus."

"Baiklah. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu." Lalu Maximus memanggil seseorang lewat ponselnya. Tak lama muncul 2 orang pria Bellato sambil membawa sesuatu.

"Nah, sebelumnya perkenalkan dulu diri kalian." Perintah Maximus Karina.

"Namaku Captain Ryan Adani. Specialist Mental Smith." Kata pria berkacamata bernama Ryan.

"Aku Captain Mark Ari Svargardson. Specialist Mental Smith." Kata pria berambut merah bernama Svargardson.

Setelah itu mereka menyerahkan hadiah yang mereka bawa kepada Lech. Ryan memberi sebuah pedang tipis panjang dan Svargardson memberinya sebuah Armorcard baru.

"Lech, setelah ini kau masih menerima misi ke Elan lagi. Kau mau?"

"Elan lagi. Apalagi kali ini?" kata Lech kaget.

"Ada laporan dari divisi Inteligen telah ditemukan adanya pancaran energi misterius. Karena kita masih belum punya informasi lain kau kuperintahkan untuk mengecek lokasi energi itu hari ini juga."

"Hah, baiklah. Aku ambil misi ini." Ucap Lech sambil bergegas pergi.

Accretia Headquarter

"Lazhuwardian Agora di pulau Elan." Kata NS-63.

"Jadi kau ambil bagian di misi ini?" tanya NP-88.

"Ya, aku juga penasaran seberapa misterius energi itu sampai bikin divisi Sains dan teknologi penasaran." Jawab NS-63.

"Kita berangkat berdua. CC-44 katanya sedang ada urusan."

"Kita berdua juga sudah cukup. Kan kita punya ini hahaha." Kata NP-88 sambil memamerkan Launcher ASAF-nya.

Setelah menyiapkan segala kebutuhan, merekapun berangkat ke Elan.

Ditempat lain

"Kemungkinan petunjuk berikutnya ada di Elan. Tapi aku tidak tahu letaknya dimana." Kata Santorini.

"Jadi?" tanya seorang pria berambut hitam.

"Kutugaskan kau dan Taxhiarhos Aegean untuk selidiki disana." Perintah Santorini.

"Bagaimana peluangnya, Stratigos?"

"95% pasti tepat."

"Laksanakan." Pria itu segera pergi menuju tempat yang diprediksikan.

"Cih, sebenarnya dimana Yuan menyembunyikan buku itu beserta Force Caliburnya?" gumamnya pelan.

To Be Continued

"Me ? I just took what All I needed . Incidentally have him . Had I was asked Alright. but she was careless because she tried to attack me . And she accidentally impaled by swords ." (Santorini in Chapter 14).

Sejatinya Chapter ini sudah terbit di tanggal 31 Juli 2015. Tapi karena mendapat kritikan pedas Chapter 14 terpaksa saya recall agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi hari ini sudah diperbaiki dan judulnya ditambah jadi All New Chapter 14. Saya mohon maaf apabila ada pembaca yang merasa tulisan saya sebelumnya sangat rusak. Jujur hal itu sempat membuat saya menjadi minder apalagi baru kali ini tulisan saya mendapat teguran keras. "Lebih baik saya hapus saja semua Under Attack dan berhenti menulis" itulah yang kira-kira saya pikirkan. Terlebih bikin nama karakter itu bagi saya sangat susah karena saya gak ada stok nama-nama keren sampai-sampai pernah ada keluhan karena nama-namanya banyak yang hampir sama-sama berakhiran -vic. Namun saya buang itu semua dan mulai menulis lagi. Saya tulis lagi kalimat-kalimat yang perlu perbaikkan hingga sekarang berhasil saya terbitkan.

Untuk Dzofi saya minta maaf karena telah meminjam karakter Ryan Adani untuk Fanfic saya. Untuk kk RhietaV selamat datang kembali setelah lama tidak terdengar kabarnya.

Untuk kali saya sengaja membuat satu unit Accretia yang berbeda yaitu CC-44. Meski Accretia itu ibaratnya bangsa pemunah, tapi pasti juga ada Accretia yang menyukai seni. Bagaimana jadinya sebuah senjata penghancur dikolaborasikan dengan seni? CC-44 adalah jawabannya.

Penasaran siapa 2 orang wanita yang dilihat Slask dan Lech di Elan (yang juga debut di Chapter 3).

Berikut linknya.

.?fbid=10203170637786233&set=pcb.10203170643986388&type=1&theater

.?fbid=10203170637906236&set=pcb.10203170643986388&type=1&theater

Tambahkan wwwfacebookcom?photo*php didepannya. (ganti "?" dengan/ dan * dengan titik)

Terima kasih atas saran dan kritiknya.

Salam

Slask Wizarski